Home Blog Page 20

PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU HAMALATUL QURAN 2025-2026 TINGKAT SW/SMP

0

PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU

TINGKAT SW/SMP PONDOK PESANTREN HAMALATUL QURAN

TAHUN AJARAN 2025/2026

Bismillahirrahmanirrahim

Berdasarkan rapat Panitia Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren Hamalatul Quran, maka nama-nama yang tercantum dibawah ini dinyatakan DITERIMA sebagai calon santri baru Program Salafiyah Wustha Pondok Pesantren Hamalatul Quran Tahun Ajaran 2025/2026.

 

donatur-tetap

Serial Ahli Qiroat #23: Imam Al-Kisai Pakar Nahwu dan Bahasa Arab

0

Al-Kisai selain dikenal menjadi salah satu ahli qiroat, beliau juga pandai dalam ilmu bahasa Arab khususnya ilmu nahwu, terdapat kisah masyhur bahwa pakar bahasa Arab Bashrah kala itu yang Bernama Sibawaih ketika berkunjung ke kota Kufah yang dituju hanyalah Al-Kisai untuk berdiskusi dan berdebat terkait bahasa Arab. Kisah debat ini masyhur dan banyak diceritakan di berbagai kitab.

Abu Bakar Al-Anbari rahimahullah berkata,

اجتمعت في الكساءي أمور: (منها) كان أعلم الناس بالنحو، وكان أوحد الناس في القران

“Telah terkumpul pada Al-Kisai berbagai hal (diantaranya) beliau adalah orang yang paling pandai dalam nahwu (ilmu bahasa Arab), dan beliau pula satu-satunya yang pandai dalam Al-Quran (di masa itu)”

Kembali kepada Imam Al-Kisai, nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Utsman bin Bahman maula dari bani Asad. Beliau lebih dikenal dengan julukan Al-Kisai, julukan ini diberikan kepada beliau karena memakai baju ihram di kota Kisa. beliau lahir pada penghujung tahun 220 Hijriyah.

Beliau belajar Al-Quran kepada Imam Hamzah Az-Zayyad dan khatam sebanyak empat kali, setelah itu beliau pergi ke kampung Badui, beliau berbaur dan tinggal Bersama mereka serta mempelajari seluk beluk bahasa mereka, sehingga bia menjadi bagian dari mereka. Kemudian beliau Kembali ke kota dan menjadi ahli dalam bidang bahasa. Kenapa ke kampung orang badui dikenal sebagai orang yang bahasa Arabnya fashih dan murni. Selain itu beliau belajar pula bahasa Arab kepada Al-Khalil bin Ahmad.

Al-Kisai Lupa Surat Al-Kafirun

Salah satu kisah menarik yang patut untuk kita ambil pelajaran adalah, Suatu ketika Al-Kisai sedang Bersama Al-Yazid di hadapan khalifah Harun Ar-Rasyid. Ketika memasuki waktu maghrib imam Al-Kisai ditunjuk untuk menjadi imam shalat. Ketika ia membaca surat Al-Kafirun beliau terdiam sejenak karena lupa. Seusai shalat AL-Yazid menyindir Al-Kisai:

“Qori penduduk Kufah lupa membaca surat Al-Kafirun?”

Tak lama kemudian tibalah waktu shalat Isya. Kali ini Al-Yazid yang menjadi imam shalat. Shalat baru saja dimulai akan tetapi beliau terdiam karena lupa surat Al-Fatihah.

Seusah shalat Al-Yazid pun berkata:

“Jaganlah lisanmu, jangan engkau biarkan berkata seenaknya. Karena bisa jadi ia akan membawa petaka bagi dirimu. Sesungguhnya bencana bisa terjadi karena sebab ucapan lisan”.

Para salafus shaleh adalah teladan dalam hal ini. Abdullah ibnu Masud berkata: “Bencana itu terjadi karena ucapan-ucapan lisan, andai aku mengolok-olok anjing tentu aku akan khawatir kalau aku diubah mejadi seekor anjing” (Hasyiyah Ash-Shawi ala Tafsir Jalalain 4/143)

Qiroat Imam Al-Kisai

Bacaan atau qiroat imam Al-Kisai adalah ikhtiyar beliau dari qiroat jalur imam Hamzah beserta dengan qiroat lainnya yang tidan keluar dari atsar dan riwayat-riwayat ulama sebelumnya.

Guru & Murid

Beliau belajar dan berguru kepada Hamzah Az-Zayyad d, Isa bin Umar Al-Hamdani, Abu Bakar bin Ayyash, Sulaiman bin Mihran, Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Laila dan Hajjaj bin Arthah.

Adapun diantara jajaran muridnya adalah Abu Amr Ad-Duri, Abul Harits Al-laits, Nushair Ar-Rozi, Qutaibah bin Mihran, Ahmad bin Abi Suraij, Isa bin Sulaiman As-Syirazi, Muhammad bin Sufyan.

Wafat

Beliau menghembuskan nafas terakhrnya di Ray (salah satu daerah di Iran) pada tahun 189 Hijriyah. Beliau meninggal dunia berbarengan dengan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani pakar fiqih Hanafi. Maka Harun Ar-Rosyid berkata: “Hari ini kit kuburkan dua hali inlu di Ray”

Referensi: 

  • Ma’rifat Al-Qurro, Adz-Dzahabi
  • Ahasin Al-Akhbar, Abdul Wahhab Al-Hanafi
  • https://www.alukah.net/culture/0/87126/
donatur-tetap

The Real Hafidz, Potret Penghafal Al-Quran yang Sejati

0

Penghafal Al-Quran sejati bukanlah mereka yang pernah khatam lalu puas hanya sampai disitu saja. Bukan pula mereka yang jarang muroja’ah dan tak pernah istiqomah.

Penghafal Al-Quran sejati adalah mereka yang senantiasa menghiasi hari-harinya dengan muroja’ah. Bagi mereka Al-Quran merupakan santapan harian yang bahkan lebih urgen dari makanan sehari-hari.

Diantara contoh penghafal Quran sejati adalah Syaikh Muhammad Sidiya Walad Ujdud hafidzahullah, seorang Ulama besar di Mauritania.

Setelah menyelesaikan hafalan pada usia yang terbilang masih belia, beliau tidak lantas berleha-leha ataupun berpesta pora. Sebab beliau tahu betul bahwa perang melawan malasnya muroja’ah baru saja memasuki babak utama. Mari kita simak bersama penuturan beliau sendiri :

ووافق ذلك دخول شهر رمضان، فعملتُ لنفسي جدولا للمراجعة؛ وهو أني كنت أُصَلِّي الفجر في المسجد، ثم أخرج إلى البَرِّ على قدمي وأقصد شجرةً ذاتَ ظل ظليل أعرفها، فأجلس تحتها إلى صلاة الظهر فيتيسر لي قراءة عشرين جزءًا، ثم أرجع فأرتاح قليلا، ثم أستأنف التلاوة من جديد قبيل العصر، وبعد العصر، وبعد المغرب قليلا، وبعد العشاء قليلًا، وآخرالليل، فيتيسر لي قراءة عشرين جزءًا أخرى! وهكذا كل يوم وليلة يتيسر لي قراءة أربعين جزءًا

“Hari selesainya hafalanku bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan. Aku pun segera membuat jadwal muroja’ah pribadi. Setiap pagi setelah shalat shubuh di masjid, aku akan menuju sebuah pohon yang cukup rindang dan berteduh dibawahnya hingga waktu dhuhur. Selama waktu tersebut aku berhasil murojaah sebanyak 20 juz. Setelah itu aku beristirahat sejenak.

Jadwal selanjutnya adalah menjelang shalat Ashar hingga beberapa menit setelah shalat Isya. Lalu dilanjutkan kembali pada akhir malam. Pada kisaran waktu tersebut aku berhasil menyelesaikan 20 juz juga. Seperti itulah Allah subahanahu wata’ala mudahkan diriku untuk murojaah sebanyak 40 juz tiap hari di bulan ramadhan.”

Beliau melanjutkan:

فأحمد الله وأشكره، تيسر لي في رمضان من ذلك العام أن أختم القرآن أربعين ختمة، نفعتني في ضبط حفظي إلى يومنا هذا بفضل الله

“Alhamdulillah selama bulan ramadhan aku dimudahkan untuk bisa mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 40 kali khatam di tahun tersebut. Dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap hafalanku hingga hari ini, atas karunia dari Allah Ta’ala”

Ya, begitulah seharusnya penghafal Al-Quran, tak puas hanya karena telah khatam satu atau dua kali. Akan tetapi selalu haus untuk murojaah Al-Quran hingga akhir hayat nanti.

Teringat pula dengan perkataan Syaikh Al Albani rahimahullah dimana brliau berkata,

“Dahulu sewaktu aku masih bekerja di toko untuk memperbaiki jam, aku selalu menyimpan mushaf di depanku. Dan aku selalu berusaha, bukan hanya membacanya, tapi juga menghafalnya sambil aku bekerja. Aku melakukan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تعاهدوا بالقرآن

“Sering-seringlah berinteraksi dengan Al-Quran”. (Su`aalatu ‘Aliyyi Al Halaby lis Syaikh Al Albani, hal. 335)

Semoga Allah subahanahu wata’ala memudahkan kita untuk menjadi penghafal Al-Quran yang sesungguhnya.

Referensi : Shuwa wa Kuwa karya Muhammad bin Sulaiman Al Mihna

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.2: Antara Amal Hati dan Amal Jasmani

0

Kita masih berada dalasm bahasan komparasi yangan akan nampak bahwa ibadah yang dilakukan oleh hati itu lebih utama daripada ibadah yang dilakukan oleh anggota tubuh. pada tulisan sebelumnya telah kita bahas bahwa Kerusakan ibadah hati akan menghancurkan ibadah anggota tubuh. sekarang kita lanjutkan pada bahasan berikut ini

2. Ibadah-ibadah hati merupakan landasan yang menyebabkan kita selamat dari neraka dan beruntung dengan mendapatkan surga.

Contoh dalam hal ini adalah:

a. Tauhid merupakan ibadah hati semata.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ اِنَّ عِيْسَى عَبْدُاللهِ وَ رَسُوْلُُهُ وَ كَلِمَتُهُ اَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَ رُوْحٌ مِنْهُ وَ الجََنَّةُ حَقٌّ وَ النَّارُ حَقٌّ أََدْخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ عَلَى مَا كََانَ مِنَ العَمَلِ

Barangsiapa bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Juga bersaksi bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya, tercipta dari kalimat yang Allah berikan kepada Maryam dan ruh istimewa yang Allah ciptakan. Serta bersaksi bahwa surga itu suatu yang nyata dan neraka itu suatu yang nyata maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal yang dia lakukan. (HR Bukhari).

Dari Abu Said al Khudri, beliau mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الجَنَّةِ لََيَتَرَاءََوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّى الغَابِرَ مِنَ الأُفُقِ مِنَ المَشْرِقِ أَوِ المَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ

Sesungguhnya penduduk surga melihat orang yang derajatnya lebih tinggi dari mereka yang berada pada kamar-kamar sebagaimana kalian melihat bintang kejora yang meninggalkan ufuk dari arah timur atau barat. Hal itu disebabkan adanya perbedaan derajat antar amereka.

Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah itu merupakan kedudukan para nabi yang tidak bisa didapatkan oleh selain mereka? Nabi bersabda: Bahkan demi dzat yang jiwaku ada di tanganNya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul (HR Muslim).

b. Tidak memiliki kedengkian terhadap sesama muslim.

Ini merupakan ibadah hati yang sangat sulit untuk dilakukan. Dari Anas bin Malik beliau mengatakan, “Kami duduk di dekat Rasulullah. Rasulullah tiba-tiba bersabda: Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang calon penghuni surga”. Benarlah muncul seorang sahabat anshar yang dari jenggotnya bertetesan air bekas wudhu… Esok harinya Nabi mengucapkan ucapan yang sama dan orang tersebut muncul dengan keadaan sama persis sebagaimana kemarin. Pada hari yang ketiga, beliau mengucapkan ucapan yang serupa dan orang tersebut juga muncul sebagaimana kemarin.

Setelah Nabi pergi, Abdullah bin Umar mengikuti orang tersebut dan berkata kepadanya: Aku bertengkar dengan ayahku lalu aku bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari. Aku berharap anda bias memberi tempat untukku hingga batas waktu tersebut berakhir. Dia menjawab: ya silahkan.

Anas mengatakan bahwa Abdullah bercerita bahwa beliau menginap di rumah orang tersebut selama tiga hari namun beliau sama sekali tidak melihat orang tersebut melaksanakan sholat malam namun bila dia terbangun pada saat tidur beliau mengingat Allah dan bertakbir. Demikianlah yang dia lakukan hingga waktu sholat subuh tiba. Abdullah bin Umar berkata Namun aku tidak pernah mendengarnya mengucapkan kata-kata yang tidak baik.

Setelah tiga malam hampir berakhir dan aku hampir saja meremehkan amalnya. Aku berkata kepadanya, Wahai hamba Allah sebenarnya tidak ada rasa marah dan boikot antara diriku dan ayahku. Namun aku mendengar Rasulullah bersabda di hadapan kami sebanyak tiga kali: Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang calon penghuni surga, engkau lalu muncul sebanyak tiga kali. Oleh karena itu aku ingin tinggal di rumahmu agar aku mengetahui amal yang kau lakukan sehingga aku bisa mengikutimu. Namun aku tidak melihatmu melakukan suatu amal yang berarti. Lalu apa sebenarnya yang menyebabkanmu bisa mencapai derajat sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah? Dia berkata: Tidak ada amal yang kulakukan kecuali sebagaimana yang kau saksikan.

Setelah aku hendak pergi, dia memanggilku seraya berkata: Tidaklah amal yang kulakukan selain yang kau lihat, namun aku tidak pernah memiliki rasa dengki dan iri terhadap seorangpun kaum muslimin karena kenikmatan yang Allah karuniakan kepadanya (Kata Imam Haitsami, hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Bazzar…Para rawi yang terdapat dalam riwayat ImamAhmad merupakan para perawi yang terdapat dalam kitab Shahih. Lihat Majmu’ Zawaid 8/81-82).

c. Derajat tinggi di surga hanya didapat dengan ibadah-ibadah hati.

Berbagai dalil syar’i menunjukkan bahwa ibadah hati memiliki pahala yang besar dan orang yang melakukannya memiliki kedudukan yang tinggi di dalam surga. Hal ini tidak terdapat dalam ibadah badaniah meskipun ibadah badaniah tetap merupakan ibadah yang urgen dan sangat berfaedah. Diantara ibadah hati adalah cinta dan rindu kepada Allah, tawakal, inabah (kembali kepada-Nya) dan isti’anah (meminta bantuan kepada-Nya). Itu semua termasuk perkara efektif yang akan mengantarkan kita untuk mendapatkan derajat dalam surga yang paling tinggi.

Misal rasa cinta karena Allah. Ini merupakan murni ibadah hati. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda:

إِنَّ ِللهِ جُلَسَاءُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى يَمِيْنِِِِ العَرْشِ – وَ كِلْتَا يَدَيْ اللهِ يَمِيْنٌ – عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ وُجُوْهُهُمْ مِنْ نُوْرٍ لَيْسُوْا بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ وَلاَ صِدِّيْقِيْنَ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ: مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمُ المُتَحاََبُّوْنَ بِجَلاَلِ اللهِ تَبَارَكَ وَ تَعَالَ

Sungguh Allah memiliki teman-teman duduk yang berada di sebelah kanan Arsy pada hari kiamat. Kedua belah tangan Allah adalah kanan. Mereka berada di mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya. Wajah-wajah mereka itu dari cahaya. Mereka bukanlah nabi, syuhada’ dan tidak bula shiddiqin. Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Rasulullah bersabda: Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan Allah”.(Diriwayatkan oleh Thabrani dan para perawinya adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Lihat Majmu’ Zawaid 10/280)

Contoh yang lain adalah akhlak yang bagus. Akhlak kita kategorikan ibadah hati karena akhlak mengandung beragam ibadah hati semisal tawadhu’ (rendah hati), hati yang terbebas dari dengki, berbaik sangka, kasih sayang dengan sesama dan lain-lain.

Dari Abu Darda’, Nabi bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

Tidak ada sesuatu yang lebih berat pada timbang amal seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. (HR Tirmidzi. Beliau berkata: hadits hasan shahih).

Sabda Nabi:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلََيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا

Sesungguhnya diantara kalian yang paling kucintai dan memiliki kedudukan yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang terbagus budi pekertinya. (HR. Tirmidzi dan beliau berkata hadits hasan ghorib).

Para nabi pun berhasil memperoleh derajat yang tinggi disebabkan kelebihan yang mereka miliki dalam hal ibadah hati. Ibrahim adalah orang yang sangat bertawakal. Ayub adalah orang yang sangat penyabar. Adam juga sangat menyesali kesalahan yang telah dia lakukan. Isa juga merupakan nabi yang sangat zuhud. Zuhud merupakan murni ibadah hati. Sedangkan nabi kita Muhammad telah menghimpun seluruh ibadah di atas dan berbagai ibadah hati lainnya dalam diri beliau dalam bentuk yang paling bagus dan paling sempurna. Oleh karena itu para nabi mendapatkan kedudukan dan derajat yang tinggi.

d. Ibadah hati lebih berat daripada ibadah badaniah.

Karena lebih berat, ibadah hati lebih utama dan lebih mulia daripada ibadah badaniah. Demikian juga, dosa besar yang berkaitan dengan hati semisal syirik dan nifak itu jauh lebih besar dosanya daripada dosa besar yang berkaitan dengan anggota tubuh.

Untuk menjelaskan betapa berat ibadah hati, berikut ini kami bawakan pernyataan Yunus bin ‘Ubaid al Bashri, seorang imam, teladan, seorang yang ucapannya merupakan hujah, termasuk ke dalam golongan tabi’in kecil dan tabi’in yang istimewa. Ada seorang yang mengirim surat kepada beliau untuk menanyakan beberapa masalah. Surat balasan Yunus bin’Ubaid adalah sebagai berikut:

Suratmu telah kuterima. Kau bertanya mengenai keadaan diriku. Perlu kuberitahukan kepadamu bahwa telah kutawarkan kepada jiwaku agar menyukai untuk orang lain hal-hal yang dia sukai dan tidak mengharapkan orang lain mendapatkan keburukan sebagaimana hal tersebut tidak dia harapkan untuk dirinya, namun ternyata jiwaku masih sangat jauh dari sifat tersebut. Pernah suatu kali kuminta jiwaku agar hanya menyebutkan hal-hal yang baik yang terdapat dalam diri orang lain, ternyata berpuasa saat cuaca sangat terik itu lebih ringan daripada hal tersebut. Inilah keadaan diriku yang sebenarnya wahai saudaraku, wassalam. (Nuzhatul Fudhola’ 1/539)

e. Ibadah hati lebih nikmat daripada ibadah badaniah. Bahkan ibadah hatilah yang menyebabkan ibadah badaniah terasa nikmat.

Sebagaimana telah dipaparkan di muka, ibadah badaniah itu sangatlah penting namun hal tersebut tidaklah menghalangi kita untuk menyatakan bahwa ibadah hati terasa lebih nikmat dan lebih manis untuk dilakukan dan dirasakan buahnya daripada ibadah badaniah. Inilah yang dirasakan oleh seseorang dalam jiwanya jika dia memiliki hati yang shahih dan berhubungan dengan tuhannya.

Seorang ulama’ salaf pernah berkata: Penghuni dunia yang miskin adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dan belum merasakan kenikmatan dunia yang paling nikmat. Orang-orang pun lantas bertanya: Kanikmatan dunia yang paling nikmat itu apa? Belia menjawab: rasa senang dan cinta kepada Allah, rindu untuk bersua dengan-Nya, memberikan perhatian kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya.

Ibadah hati menyebabkan ibadah badaniah terasa nikmat. Terdapat perbedaan besar antara sholat yang dikerjakan dengan penuh perhatian hati dengan sholat yang dilakukan dengan hati yang lalai dan main-main, antara puasa yang dilandasi keikhlasan, perhatian dan mengharap pahala dengan puasa yang tidak diiringi hal-hal tersebut, antara haji yang dikerjakan dengan penuh merendahkan diri dengan haji yang dikerjakan dengan penuh kesombongan dan seterusnya.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.1: Antara Amal Hati dan Amal Jasmani

0

Amal anggota badan merupakan suatu hal yang sangat penting karena amal tersebut merupakan rukun Islam, ia adalah tanda iman dan tangga menuju ihsan. Amal anggota badan merupakan tanda nyata yang menunjukkan seberapa jauh keislaman seseorang. Namun hal ini tidak menghalangi kita untuk menyatakan bahwa ibadah hati itu memiliki kedudukan yang lebih mulia, pengaruh yang lebih kuat dan lebih indah untuk dilaksanakan, karena hatilah yang merasa berbahagia dekat dengan Allah. Pada hakekatnya hatilah yang mentaati Allah, sedangkan ibadah yang dilakukan oleh anggota tubuh merupakan pancaran cahaya hati yang tersebar.

Demikian pula pada hakekatnya hatilah yang durhaka kepada Allah. Sedangkan kemaksiatan yang dilakukan oleh anggota tubuh adalah pengaruhnya yang tersebar.

Hati merupakan wadah ilmu, takwa, rasa cinta, benci, was-was dan berbagai lintasan. Hatilah yang mengenal Allah dan berusaha untuk menuju-Nya. Sedangkan anggota tubuh merupakan pengikut dan pelayan hati.

Para salaf mendapatkan keberuntungan besar dan terdepan dalam perjalanan menuju Allah diusahakan melakukan berbagai ibadah hati secara paripurna. Keunikan mereka dalam hal ini tak tertandingi sebagaimana nanti akan dijelaskan.

Dengan memperhatikan komparasi berikut ini akan nampak bahwa ibadah yang dilakukan oleh hati itu lebih utama daripada ibadah yang dilakukan oleh anggota tubuh.

1. Kerusakan Ibadah Hati Akan Menghancurkan Ibadah Anggota Badan.

Kerusakan ibadah hati merupakan perkara besar lagi berbahaya. Kerusakan ikhlas, misalnya, bisa mengantarkan kepada kesyirikan atau kenifakan. Syirik atau nifak merupakan penghancur seluruh ibadah yang dilakukan oleh anggota tubuh. Sedangkan menurut mayoritas ulama’ kerusakan ibadah anggota tubuh tidaklah mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Berikut ini merupakan bentuk-bentuk ibadah anggota tubuh yang lebur diusahakan kerusakan ibadah hati.

a. Keikhlasan yang rusak.

Ini merupakan bentuk yang paling gawat dan paling berbahaya. Karena hal ini bisa menyeret seseorang ke dalam syirik besar ataupun nifak besar. Rincian tentang ibadah hati yang penting ini akan disampaikan dalam bab tersendiri.

b. Sombong

Kesombongan merupakan pertanda tawadhu’ yang telah rusak, padahal tawadhu’ merupakan ibadah hati yang sangat vital.

Kesombongan merupakan penghalang untuk segera bisa masuk surga meskipun amal shaleh yang dimiliki dan pahala yang dipunyai oleh seseorang banyak sekali. Hal ini hanya tidak berlaku untuk orang yang Allah kehendaki untuk mendapatkan ampunan-Nya atau orang yang Allah beri taufik untuk bertaubat. Nabi bersabda:

لاََ  يََدْخُلُ الجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْْبِهِ مِثْقَاُل حَبَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji. (HR Muslim 2/267).

c. Dengki

Dengki merupakan indikator perasaan menghendaki kebaikan untuk sesama umat  Islam telah rusak. Padahal hal ini merupakan ibadah hati yang sangat luhur. Sifat dengki itu mampu menghilangkan kebaikan/pahala yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini diusahakan karena dalam hati orang tersebut terdapat api dengki terhadap saudaranya sesama muslim yang selalu berkobar-kobar. Padahal Nabi kita manusia pilihan yang paling agung pernah bersabda:

إِيَّاكُُمْ وَ الحَسَدَ فَََإِِِنَّ الحَسَدَ يَأْكُلُ الحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الحَطَبَ اَوْ قَالَ العُشْبَ

Waspadai sifat dengki karena dengki itu akan melahap pahala sebagaimana api melahap kayu bakar. Atau beliau (Nabi) mengatakan melahap rumput. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits hasan)

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

donatur-tetap

PKPPS Wustha Hamalatul Qur’an Bantul Menjalani Visitasi Akreditasi, Harapkan Peningkatan Kualitas Pendidikan

0

HamalatulQuran.Com-Bantul, 14 November 2024. Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS) Wustha Hamalatul Qur’an yang berikutnya ditulis PPS Hamalatul Qur’an baru saja menjalani proses visitasi akreditasi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (BAN-PDM). Visitasi yang berlangsung selama dua hari 11 – 12 November 2024 bertujuan untuk menilai berbagai aspek penting terkait kualitas pendidikan di sekolah, mulai dari kurikulum, sarana prasarana, hingga pengelolaan administrasi.

Tim akreditasi yang diketuai oleh Drs. Muhammad Khoirudin dan beranggotakan Dra. Anita Sri Madumurti, M.M melakukan serangkaian wawancara dengan pihak sekolah, mengamati proses belajar mengajar di kelas, serta menilai fasilitas yang ada. Kegiatan ini adalah bagian dari penilaian akreditasi yang diharapkan dapat memberikan gambaran objektif mengenai tingkat kualitas pendidikan yang diberikan oleh PPS Hamalatul Qur’an.

Kepala satuan pendidikan PPS Hamalatul Qur’an, Muhammad Fahmi Izzuddin, S.Ag. menyatakan bahwa visitasi akreditasi ini merupakan kesempatan penting bagi pihak sekolah untuk melakukan evaluasi diri dan perbaikan dalam berbagai aspek. Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an ustadz Amri Suaji, Lc dalam sambutannya menyebutkan harapan proses akreditasi ini membawa manfaat bagi semua pihak. Drs. Muhammad Khoirudin memaparkan kegiatan yang akan dilakukan asesor kepada asesi bertujuan untuk mengetahui secara detail dan objektif proses pendidikan yang dilakukan satuan pendidikan.

Kegiatan Visitasi

Selama proses visitasi, asesor mengajukan sejumlah pertanyaan dan melakukan observasi terkait berbagai faktor yang menjadi penilaian utama. beberapa diantaranya adalah:

1. Kualitas Pembelajaran: Asesor mengevaluasi bagaimana kurikulum diterapkan di sekolah dan apakah metode pengajaran yang digunakan sudah sesuai dengan standar nasional.

2. Pengelolaan Sumber Daya Manusia: Pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan menjadi salah satu titik perhatian utama. Asesor ingin memastikan bahwa PPS Hamalatul Qur’an memberikan perhatian terkait pengembangan kompetensi pendidik.

3. Fasilitas dan Infrastruktur: Asesor juga memeriksa berbagai fasilitas pendukung, serta ruang kelas, dan ruang olahraga yang berperan penting dalam menunjang proses belajar.

4. Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat: Proses pendidikan tidak hanya melibatkan peserta didik dan pendidik, tetapi juga orang tua dan masyarakat. Asesor mengajukan pertanyaan terkait sejauh mana keterlibatan orang tua/wali peserta didik PPS Hamalatul Qur’an dalam proses pendidikan anak-anak mereka.

Harapan dan Langkah Selanjutnya

Setelah proses visitasi selesai, pihak sekolah berharap bisa memperoleh hasil akreditasi yang baik serta dapat memperbaiki kekurangan yang ada selama evaluasi. Hasil visitasi akreditasi ini akan ditindaklanjuti oleh asesor lain dari BAN-PDM untuk uji validitas, data yang dikumpulkan dari wawancara atau observasi akan di uji kesinambungannya dengan bukti-bukti yang ada.

Masa Akreditas

BAN-PDM Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan visitasi akreditasi ke sejumlah satuan pendidikan kesetaraan PKBM maupun PKPPS sejak 23 Oktober hingga 13 November. Setiap satuan pendidikan divisit selama dua hari jika hanya memiliki satu jenjang pendidikan dan tiga hari apabila memiliki lebih dari dua jenjang pendidikan.

Selain PPS Hamlatul Qur’an, pendidikan kesetaraan pondok pesantren salafiyah lain yang divisit akreditasi adalah; PPS An-Nur Bantul, PPS Harun Asy-Syafi’I Putri Bantul, PPS Al-Kandiyas Bantul, PPS HPA Internasional Sleman, PPS Al Manar Muhammadiyah Pengasih Kulon Progo, PPS Fadlun Minalloh Bantul, PP Al Mubarak Sleman, Roudlotuth Tholibin Sleman dan PPS Ic Bin Baz.

Link dokumentasi klik ini

donatur-tetap

Serial Ahli Qiroat #22: Khallad bin Khalid

0

Nama lengkap beliau adalah Khallad bin Khalid bin Isa Asy-Syaibani Al-Kufi, adapu kunyahnya ada yang mengatakan Ibnu Isa, Abu Isa dan juga Abu Abdillah.

Imam Khllad lahir pada tahun 129 H adapula pendapat yang menyataka  bahwa beliau lahir pada tahun 130 H.

Beliau adalah salah satu rowi masyhur dari qiraat imam Hamzah dan sempat mendengar qiraat Hamzah dari Imam Hamzah sendiri hanya saja beliau tidak talaqi langsung kepada Imam Hamzah melaikan bertalaaqi qiraat Imam Hamzah dari jalur Sulaim bin Isa Al-Kufi. Sejak itu beliau dikenal sebagai salah satu murid yang paling bagus bacaanya dan paling dhabt serta diakui kapasitas keilmuannya.

Abul Abbas bin Muhammad Ad-Duri berkata:

ما رأيت أقرأ للقرآن من خلف، ما خلال خالد بن خالد المقرىء

“Tidak ada yang paling pandai tentang Al-Quran dari Khalaf kecuali Khallad bin Khalid Al-Muqri”

Ibnul Jauzi berkata, “beliau adalah seorang imam ahli qiraat yang tsiqqoh, pandai, tajwidnya bagus serta menjadi guru quran dalam beberapa dekade”

Ad-Dani berkata: “Khallad adalah murid Sulaim bin Isa yang paling bagus dan pandai”

Padangan Ahli Hadis

Khallad bin Khalid meriwayatkan hadis dari Zuhair bin Mu’awiyah, Al-Hasan bin Shalih bin Hay, Muhammad bin Abdulaziz At-Taimi, Qois bin Ar-Robi’,

Adapun diantara yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi dan Abu Hatim Ar-Rozi.

Abu Hatim mengatakan bahwa: “Khallad bin Khalid adalah seorang yang shoduq”

Guru & Muridnya

Diantara gurunya adalah Sulaim bin Isa dari jalur imam Hamzah, Husain bin Ali Al-Ju’fi dari jalur imam Ashim, Abu Ja’far Ar-Rowasi.

Adapun diantara jajaran muridnya adalah Ahmad bin Yazid Al Hilwani, Muhammad bin Syadzan Al-Jauhari, Al-Qasim bin Isa, Abu Ja’far Al-Bazzaz (salah satu guru imam Ath-Thabari), Muhammad bin Isa Al-Asbahani.

Beliau meninggal dunia di kota Kuffah pada tahun 220 H pada zaman Khalifah Mu’tashim.

Referensi:

  • Ma’rifat Al-Qurro, Adz-Dzahabi.
  • Ahasin Al-Akhbar, Abdul Wahhab Al-Hanafi.
  • https://www.alukah.net/culture/0/86800/
donatur-tetap

Tadabbur Surat an-Naas Bag.1

0

Surat an-Naas adalah surat terakhir dalam penulisan di mushaf, sedikit ayat, mudah di hafal, mudah di ingat. Tidaklah ada seorang muslim kecuali dia hafal surat ini, kecil, muda, tua semua hafal. Meskipun surat ini pendek dan mudah tetapi mempunyai kandungan yang sangat tinggi. Dalam tulisan ini penulis mengajak para pembaca untuk mentadaburi di sela-sela ayat yang ada dalam surat an-Naas.

Surat an-Naas adalah risalah paling akhir di dalam alquran, dan ketiga dari surat yang di mulai dengan kata قل yang di sebut dengan qowaqil قواقل yaitu surat al ikhlash, al falaq dan an-Naas. Tiga surat ini menjadi benteng pertahanan yang kokoh dan menjadi tameng yang menjaga pembacanya.

Surat an-Naas ini memberi peringatan kepada manusia untuk senantiasa berlindung dari keburukan makhluk yang selalu membisiki manusia dan menjerumuskan ke dalam neraka. Dan memperingatkan manusia dari makhluk yang terang-terangan dalam memerangi dan memusuhi manusia, Allah berfirman menceritakan apa yang dikumandangkan oleh iblis laknatullah

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’rof: 16-17)

Surat an-Naas adalah surat makkiyyah yaitu surat yang diturunkan sebelum Rssulullah ‘alaihis shalatu was salam hijrah ke Madinah

Inti pembahasan dalam surat an-Naas adalah mencari perlindungan kepada Allah dari syaithon yang senantiasa membisiki dan tersembunyi.

Allah menutup kitabNya (Al-Quran) dengan surat an-Naas, dikarenakan surat ini menfokuskan pada permasalahan yang sangat penting dalam kehidupan yaitu tauhid, hendaknya seorang muslim tidak boleh bodoh akan hal ini.

Seorang mukmin tatkala membaca Al-Quran dari al-fatihah sampai an-Naas, dia akan mendapatkan bahwa di setiap ayat-ayat yang dia baca menunjukkan atas kemaha kuasaan Allah dan Dia Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Sering kali Allah menceritakan bahwa Dia menghancurkan raja atau kaum yang dzolim dan menolong orang-orang mukmin, menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan, ini semua menunjukkan bahwa Allah maha kuasa. Datanglah surat an-Naas ini untuk menguatkan keyakinan bahwa Allahlah yang benar-benar melakukan itu semua. Sehingga hambaNya benar-benar mencari perlindungan hanya kepada Allah.

Surat an-Naas memberi perlindungan dari sisi dalam diri manusia sedangkan surat al falaq memberi perlindungan dari sisi luar diri manusia.

Allah ta’ala menggabungkan antara kebaikan awal (alfatihah) dan kebaikan akhir (an-Naas), Allah membuka kitabnya dalam surat al fatihah dengan tiga macam tauhid (Rububiyah, Uluhiyah, Asma’ was Shifat) yaitu firmannya

الحمد لله رب العالمين. الرحمن الرحيم. مالك يوم الدين

dan Dia menutup kitab-Nya dengan tiga macam tauhid juga, yaitu firman-Nya

قل اعوذ برب الناس. ملك الناس. اله الناس

juga Allah membuka kitab-Nya dengan mengajari hamba untuk minta perlindungan (isti’anah) kepada-Nya, yaitu firman-nya اياك نعبد واياك نستعين”hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan” Dia juga menutup dengan mengajari hamba untuk beristi’anah (isti’anah termasuk jenis isti’adzah) kepadaNya.

Inti dari surat al fatihah adalah mewujudkan peribadahan hanya kepada Allah, dalam firman-Nya إياك نعبد واياك نستعينisti’anah termasuk ibadah yang paling tinggi, dan dua surat terakhir (Al-falaq dan an-Naas) berisi isti’anah, maka seakan-akan dua surat terakhir perwujudan pengamalan dari surat al fatihah. Wa Allahu a’lam.

Bersambung…

Sumber: tadabbur-alquran.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Hukum Musik dalam Islam: Pandangan Para Ulama Tentang Musik

0

Dalam Islam, topik tentang hukum musik telah menjadi pembicaraan di kalangan ulama sejak dahulu. Banyak ulama telah menjelaskan bahwa telah menjadi ijma bahwa musik adalah haram berdasarkan berbagai alasan syar’i. Berikut adalah beberapa dasar pemikiran mereka:

1. Dalil dari Al-Qur’an

Beberapa ulama menggunakan ayat-ayat dalam Al-Qur’an untuk mendukung pandangan mereka. Salah satunya adalah surah Luqman ayat 6:

 وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یَشۡتَرِی لَهۡوَ ٱلۡحَدِیثِ لِیُضِلَّ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِ بِغَیۡرِ عِلۡمࣲ وَیَتَّخِذَهَا هُزُوًاۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمۡ عَذَابࣱ مُّهِینࣱ

“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”

Sebagian mufassir menafsirkan (lahwal hadist) atau “perkataan yang tidak berguna” ini sebagai musik atau nyanyian yang melalaikan. Pendapat ini dipegang oleh banyak ulama, dan menyatakan bahwa musik bisa mengalihkan manusia dari ibadah.

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan nyanyian (ghinaa’) dan seruling (mazaamir).

Syu’aib bin Yasar berkata : ”Aku pernah bertanya kepada ’Ikrimah tentang Lahwul-Hadiits ; maka ia menjawab : ”Ia adalah nyanyian” (Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir no. 2556)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

 أَفَمِنۡ هَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ تَعۡجَبُونَ * وَتَضۡحَكُونَ وَلَا تَبۡكُونَ * وَأَنتُمۡ سَٰمِدُونَ

Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu tertawakan dan tidak menangis, sedang kamu lengah (darinya). (QS. An-Najm: 59-61)

Al-Qurthubi menjelaskan: “Samada lanaa ; artinya adalah : ghanna lanaa (bernyanyilah untuk kami). Yaitu, jika mereka mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan, maka mereka akan bernyanyi-nyanyi dan bermain-main hingga mereka tidak mendengarkannya (Al-Qur’an)”

2. Hadis tentang Alat Musik

Ada beberapa hadis yang sering dirujuk dalam masalah ini, salah satunya adalah:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr, dan alat musik.” (HR. Bukhari no.5590)

Dari hadis ini, beberapa ulama menyimpulkan bahwa alat musik adalah hal yang dilarang dalam Islam, setara dengan hal-hal yang jelas diharamkan seperti zina dan khamr. Hadis ini menjadi landasan bahwa penggunaan alat musik adalah haram.

Tiga sisi pengharaman musik dari hadis di atas:

  1. Kalimat “menghalalkan” tentunya penghalalan ini digunakan untuk sesuatu yang sejatinya telah diharamkan.
  2. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyandingkan penghalalan musik ini dengan  penghalalan khamr, zina dan sutra. Dimana hal-hal ini telah diketahui bersama keharamannya dikalangan kaum muslimin
  3. Adanya hubungan bentuk kalimat yang mengarah pada celaan kepada pelakunya, yaitu orang-orang yang menghalalkan alat musik.

Ada sebagian ulama yang mendhaifkan hadis ini, semisal Ibnu Hazm dan para pengikutnya. Adapaun dizaman ini salah satu yang mendhaifkanya adalah Yusuf Al-Qoradlawi. Namun pendapat ini adalah lemah dari berbagai sisi, bahkan para ulama hadis menshahihkannya diantaranya, Al-Bukhari, Ibnu Hibban, An-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Sholah, As-Shakhawi, Ibnu Rajab dan ulama lainnya.

Kesepakatan Ulama dalam Mengharamkan Musik

Di antara ulama yang menegaskan adanya ijma ulama tentang haramnya nyanyian adalah sebagai berikut:

1.  Abu Bakar al-Ajurri yang wafat tahun 360 H. beliau mengatakan

نقل إجماع العلماء على تحريم سماع آلات الملاهي

“Telah ada ijma ulama akan haramnya mendengarkan alat musik”

2. Abu Thayyib al-Thabari asy-Syafii yang wafat pada tahun 450 H. Beliau menukil,

الإجماع على تحريم آلات اللهو وقال: إن استباحتها فسق

Adanya ijma mengenai haramnya alat musik. Beliau juga mengatakan “Bahwa memainkan atau mendengarkan alat musik adalah kefasikan”

3. Ibnu Qudamah al-Maqdisi yang wafat pada tahun 540 H. Beliau mengatakan, “Tidak ada hukuman potong tangan untuk orang yang mencuri gendang, seruling dan gitar. Alasan kami adalah mengingat bahwa benda-benda merupakan alat untuk bermaksiat dengan sepakat ulama”.

4. Al-Hafizh Ibnu Shalah yang wafat pada tahun 643 H. Dalam buku kumpulan fatwanya, beliau mengatakan, “Mengenai adanya anggapan bahwa nyanyian untuk mubah dan halal maka ketahuilah bahwa rebana, gitar dan nyanyian jika bercampur menjadi satu maka hukum mendengarkannya adalah haram menurut para imam mazhab dan seluruh ulama umat Islam selain mereka. Tidaklah benar ada ulama yang memiliki pendapat yang diakui yang membolehkan nyanyian semisal ini”.

5. al-Qurthubi yang bermazhab Maliki dan wafat pada tahun 656 H. Beliau mengatakan,

وأما ما أبدعه الصوفية اليوم من الإدمان على سماع المغاني بالآلات المطربة فمن قبيل ما لا يختلف في تحريمه

“Adapun bid’ah yang dibuat-buat oleh orang-orang sufi saat ini yaitu hobi mendengarkan nyanyian yang dipadu dengan alat musik adalah termasuk perbuatan yang tidak diperselisihkan oleh para ulama sebagai perbuatan yang hukumnya haram”.

6. Ibnu Taimiyyah yang wafat pada tahun 728H. Beliau mengatakan,

ولم يذكر أحد من أتباع الأئمة في آلات اللهو نزاعاً

 “Tidak ada satu pun ulama mazhab empat yang menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hukum alat musik”.

Beliau juga mengatakan,

مذهب الأئمة الأربعة أن آلات اللهو كلها حرام

“Pendapat imam mazhab yang empat adalah haramnya semua bentuk alat musik”.

Dalam kitab al-Minhaj as-Sunah beliau mengatakan:

والمقصود هنا أن آلات اللهو محرمة عند الأئمة الأربعة ولم يحك عنهم نزاع في ذلك

“Intinya, alat musik itu hukumnya haram menurut empat imam mazhab. Tidak ada yang menyebutkan adanya perbedaan di antara empat imam mazhab”.

7. Tajuddin as-Subaki salah seorang ulama bermazhab Syafii yang meninggal pada tahun 756 H mengatakan,

ومن قال من العلماء بإباحة السماع فذاك حيث لا يجتمع فيه دف وشبابة ولا رجال ونساء ولا من يحرم النظر إليه

“Ulama yang membolehkan nyanyian maksudnya adalah nyanyian yang tidak diiringi dengan rebana atau gitar, campur baur laki-laki dan perempuan serta orang-orang yang haram dipandangi”.

8. Ibnu Rajab al-Hanbali yang wafat pada tahun 795 H. Beliau mengatakan,

وأما استماع آلات الملاهي المطربة المتلقاة من وضع الأعاجم فمحرم مجمع على تحريمه ولا يعلم عن أحد منهم الرخصة في شيء من ذلك، ومن نقل الرخصة فيه عن إمام يعتد به فقد كذب وافترى

“Hukum mendengarkan alat musik yang pada asalnya berasal dari orang kafir adalah haram dengan sepakat ulama. Tidak diketahui adanya seorang ulama yang membolehkannya. Siapa yang mengatakan bahwa ada ulama besar yang diakui keilmuannya yang membolehkan alat musik adalah seorang yang berdusta dan membuat fitnah”.

Referensi:

  • https://www.islamancient.com/ما-حكم-الموسيقى-والمعازف-للرجال-والنس/
  • https://www.islamancient.com/تذكير-الخائفين-الغيورين-بأن-الموسيقى/
donatur-tetap

Hendaknya Seperti ini Membaca dan Memahami Al-Quran

0

Sungguh Al-Quran itu ibarat taman nan indah, jika selesai dari satu surat dan pindah ke surat lainnya ibarat memanjat satu pohon yang elok dan matang buahnya, setelah menikmati buah dari pohon tersebut lalu pindah panjat pohon yang sama eloknya tapi beda. Jika selesai satu juz lalu pindah ke juz setelahnya ibarat masuk ke taman yang ada suara merdu lalu, setelah menikmati taman itu lalu pindah ke taman yang semisalnya tapi beda, itulah ibarat orang yang sudah ada dalam hatinya kecintaan kepada Al-Quran, tidak bisa hidup tanpa Al-Quran, tidak bisa istirahat kecuali setelah menyelesaikan tilawahnya, lelah menjadi segar ketika mendengar lantunan Al-Quran, sedih menjadi bahagia ketika membaca ayat-ayat Al-Quran, sakit tidak terasa ketika menghayati Al-Quran. Dia bisa merasakan setiap surat mempunyai rasa manis tersendiri, setiap juz ada keindahan sendiri, maka cobalah merasakan kemanisan dan keindahan tersebut !

Al-Quran ini adalah hidangan Allah yang Dia turunkan ke bumi untuk hamba-hamba-Nya yang cinta kepadaNya, tapi ternyata manusia yang hidup disekelilingnya terbagi menjadi tiga kelompok:

  1. Lapar tapi terhalang darinya
  2. Sakit dan makan dari hidangan itu tapi tidak merasakan lezat dan nikmatnya
  3. Sehat dan bisa melihat bahwa dalam hidangan tersebut ada 114 macam, sehingga dia bisa menikmatinya dengan kelezatan yang sempurna di setiap macam-macamnya.

Lantas bagaimana cara membaca yang benar supaya bisa menikmati keindahan dan kelezatan Al-Quran ini?

Berikut caranya:

1. Hendaknya setiap kali baca Al-Quran jadikan di depanmu kitab tafsir yang ringkas, sehingga jika ada ayat yang tidak bisa dipahami bisa langsung membuka tafsir tersebut. Seperti tafsir muyassar, tafsir jalalain, dan zubdatut tafsir.

2. Hadirkan hatimu tatkala membaca Al-Quran dan gerakkan hatimu dengan Al-Quran, jika dia lepas maka segera dikejar, hal ini memang melelahkan diawal tetapi akan mengalir dikemudian hari, dan akan membutuhkan kehadiran hati disetiap membaca Al-Quran seperti kebutuhan jasat kepada ruhnya.

3. Jadikan dirimu cerminan untuk Al-Quran, sehingga anda bisa melihat perbuatan dan perkataanmu, dan bisa menyaringnya; ini yang perlu ditinggalkan dan ini yang perlu dipertahankan, maka ketika membaca Al-Quran seakan-akan pesannya tertuju kepada anda.

4. Sebelum pindah ke surat lainnya, berhentilah sejenak dan renungkan nama dari surat yang akan dibaca. Hal ini menjadi kunci masuknya dalam mentadabburi surat tersebut karena sebuah nama pastinya ada kaitannya dengan pemilik nama tersebut.

Ya Allah bukakan hati kami untuk melihat keindahan, kelezatan Al Quran, dan ilhamkan kepada kami pentingnya tadabbur Al Quran, dan hilangkan kegelapan yang ada dalam hati kami dengan cahara ayat-ayat Al QuranMu, ampunilah kami, orang tua kami, dan segenap kaum muslimin… Aamiiin.

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

Artikel : HamalatulQuran.Com

donatur-tetap