Home Blog Page 5

Khutbah Jumat : Ketika Hidayah Menyapa

0

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. [آل عمران: ١٠٢]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. [النساء: ١]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. [الأحزاب: ٧٠-٧١]

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi. Karena sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal.

Sidang Jum’at yang berbahagia,

Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita merenungi sebuah karunia terbesar yang bisa Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada seorang hamba, yaitu hidayah. Hidayah adalah petunjuk menuju kebenaran, petunjuk menuju jalan yang lurus, yang dengannya seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya, mengesakan-Nya, dan beribadah hanya kepada-Nya dengan cara yang benar.

Hidayah bukanlah sesuatu yang dapat kita raih semata-mata dengan kekuatan akal atau usaha keras kita. Hidayah adalah murni karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang memegang kendali hati manusia, membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS. Al-Qashash: 56]

Ayat ini turun berkenaan dengan paman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib, yang sangat beliau cintai dan lindungi, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberinya hidayah untuk beriman. Ini menunjukkan bahwa bahkan seorang Nabi sekalipun tidak memiliki kemampuan untuk memberi hidayah kepada siapapun yang beliau kehendaki, kecuali atas izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, ketika hidayah menyapa hati seorang hamba, itu adalah anugerah yang tiada tara. Ia adalah permulaan dari segala kebaikan, kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanda-tanda hidayah mulai menyapa hati seorang hamba adalah timbulnya rasa cinta terhadap Islam, rasa rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, keinginan untuk mempelajari agama-Nya, dan semangat untuk mengamalkan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia akan merasa nyaman dan tenang ketika berada di majelis ilmu, hatinya lembut ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, dan jiwanya terpanggil untuk beramal shalih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu ia berada dalam cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang tidak demikian keadaannya)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Az-Zumar: 22]

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lapangkan dadanya untuk Islam, ia berada di atas cahaya dari Rabb-nya. Ini adalah buah dari hidayah.

Karena begitu agungnya karunia hidayah ini, maka sudah sepantasnya bagi kita untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan dalam setiap raka’at shalat kita, kita wajib membaca:

 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” [QS. Al-Fatihah: 6]

Ini adalah doa yang paling agung, memohon petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu Islam yang murni, jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri banyak berdoa memohon keteguhan di atas hidayah. Di antara doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 2140  dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengaruniai kita hidayah dan menetapkan hati kita di atas kebenaran hingga akhir hayat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Setelah hidayah menyapa hati kita, tugas berikutnya adalah menjaganya dan beristiqamah di atasnya. Hidayah bukanlah sesuatu yang statis, ia bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang bahkan hilang dengan kemaksiatan dan kelalaian. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berusaha untuk menjaga nyala api hidayah dalam hati kita.

Bagaimana cara menjaga hidayah? Yaitu dengan memperbanyak ketaatan, menuntut ilmu syar’i, membaca dan merenungi Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis ilmu yang mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih, serta menjauhi segala hal yang dapat memadamkan cahaya hidayah, seperti dosa-dosa dan kemaksiatan, apalagi kesyirikan dan kebid’ahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” [QS. Ali ‘Imran: 8]

Ayat ini adalah doa dari Ulul Albab (orang-orang yang berakal), yang menunjukkan bahwa mereka yang telah mendapatkan hidayah pun merasa khawatir hati mereka akan menyimpang. Maka, sangat penting bagi kita untuk terus-menerus memohon keteguhan dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang hamba yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah, kemudian ia berpaling darinya setelah kebenaran jelas baginya, maka ia akan berada dalam kerugian yang nyata dan ancaman yang berat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia bergelimang dalam kesesatan yang telah dipilihnya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisa’: 115]

Ayat ini merupakan peringatan keras bagi siapapun yang telah datang kepadanya hidayah, namun ia menolak atau berpaling darinya. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menetapkan hati kita di atas agama-Nya, di atas jalan yang lurus, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Ingatlah selalu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” [Fushshilat: 6]

Keteguhan di atas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tanda cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua termasuk golongan orang-orang yang senantiasa dijaga hidayahnya, diteguhkan di atasnya, dan wafat dalam keadaan Islam dan iman.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

donatur-tetap

Wisuda Huffadz ke-VI Pesantren Hamalatul Quran Tahun 2025: Mengukuhkan Generasi Penghafal Al-Qur’an

0

Bantul – Pondok Pesantren Hamalatul Quran menyelenggarakan Wisuda Huffadz ke-VI Tahun 2025 pada Ahad, 14 Desember 2025, bertempat di Hallroom Hotel Grand Rohan, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam meneguhkan komitmen pesantren dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang berakidah lurus, berakhlak mulia, dan berkontribusi bagi umat serta bangsa.

Acara wisuda dihadiri oleh unsur pemerintahan Kabupaten Bantul, Bapak Bupati Bantul atau yang mewakili beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bantul, Panewu Sanden dan jajaran Forkopimkap Sanden, para wali santri, serta donatur dan mitra Pondok Pesantren Hamalatul Quran. Kehadiran para tamu undangan tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan pendidikan Al-Qur’an.

Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan lancar, pelaksanaan wisuda dipimpin langsung oleh Direktur Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Ustadz Alfian Nurdiansyah. Rangkaian acara tersusun rapi dan penuh kekhusyukan, mencerminkan kesungguhan seluruh pihak dalam memuliakan para penghafal Al-Qur’an.
Pada kesempatan tersebut, pesantren juga memberikan penghargaan wisudawan terbaik kepada tiga wisudawan terbaik yaitu,

1. Ananda Adam Mubarok (Santri kelas 11 MA, Asal Lampung)
2. Ahmad Doni (Santri kelas 11 MA, Asal Padang)
3. Keyza Razin Alkafi (Santri kelas 11 MA, Asal Ogan Ilir)

Ketiganya meraih prestasi membanggakan dan mendapatkan hadiah umrah gratis sebagai bentuk apresiasi, yang didukung oleh PT Nur Ramadhan Wisata, PT Ameena Wisata, serta keluarga Ibu Hj. Amalia Pramadewi Johan. Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi para santri lainnya untuk terus meningkatkan kualitas hafalan dan pengamalan Al-Qur’an.

Rangkaian Wisuda Huffadz ke-VI ditutup dengan nasihat dan doa yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Abdullah Ahmad Mubarok Bawadi, dengan penerjemah Ustadz Abdussalam Busyra, Lc. Nasihat yang disampaikan menekankan pentingnya menjaga hafalan Al-Qur’an, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Melalui pelaksanaan Wisuda Huffadz ke-VI ini, Pondok Pesantren Hamalatul Quran menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang konsisten melahirkan generasi Qurani, sekaligus memperkuat sinergi antara pesantren, pemerintah, wali santri, dan para dermawan dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. (redaksihq/hamalatulquran.com)

 

donatur-tetap

Al-Quran Ruh Kehidupan

0

 

Pernahkah kita mendengar perkataan para ulama: “Kematian sebelum kematian”.

Kematian yang banyak dari kita tidak menyadrinya.

Kematian yang ditakutkan oleh para ulama.

Yaitu matinya hati seseorang dari mengingat Allah ta’aala.

Sering kali kita membaca Al-Qur’an, akan tetapi kita cepat merasa bosan, atau bahkan merasa tidak berguna lagi, buang buang waktu, jika kita merasa demikian maka mungkin kita telah mengalami “kematian sebelum kematian”.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Al-Qur’an adalah sumber kehidupan, bahkan Allah menggunakan kata “RUH” untuk menyebut Al-Qur’an, yang menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah obat dari “kematian sebelum kematian”, Al-Qur’an adalah ruh dalam kehidupan kita, Allah ta’aala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) sebagai ruh (yang menghidupkan) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52)

Penjelasan ulama diantaranya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

فسمَّى اللهُ الوحيَ روحًا لأنَّ به حياةَ القلوب كما أنَّ بالأرواح حياةَ الأبدان.

“Allah menyebut wahyu sebagai ruh karena dengan wahyu hati menjadi hidup, sebagaimana dengan ruh tubuh menjadi hidup.” (Madarij As-Salikin, 1/33)

Dan ketahuilah wahai saudaraku bahwa Al-Qur’an adalah sumber Cahaya dalam Kehidupan, Allah ta’aala berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan kepadanya cahaya (petunjuk) yang dengannya ia berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An’am: 122)

Tafsir Ibnu Katsir:

قال ابن عباس رضي الله عنهما: هذا مثل للمؤمن كان ميتًا في الضلالة فأحياه الله بالإيمان وجعل له نورًا وهو القرآن.

“Ini adalah perumpamaan bagi seorang mukmin: dahulu ia mati dalam kesesatan, lalu Allah menghidupkannya dengan iman dan menjadikan baginya cahaya yaitu Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/157)

Dan juga Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah Cahaya dan Penuntun Kehidupan

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ سَبَبٌ طَرَفُهُ بِيَدِ اللَّهِ، وَطَرَفُهُ بِأَيْدِيكُمْ، فَتَمَسَّكُوا بِهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَضِلُّوا وَلَنْ تَهْلِكُوا بَعْدَهُ أَبَدًا

Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Al-Qur’an adalah tali yang ujungnya di tangan Allah dan ujung lainnya di tangan kalian. Maka berpeganglah padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat dan tidak akan binasa selamanya.” (HR. Ath-Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani)

Sehingga kita sebagai seorang muslim harus benar benar memegang sumber dari kehidupan yang telah Allah berikan dan jangan pernah melepaskannya, sebagaimana para ulama mereka memandang Al-Qur’an sebagai Ruh Kehidupan diantaranya Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

القرآن هو روحُ الوجود، ونورُ الهداية، وشفاءُ الصدور، فمن لم يتغذَّ منه مات قلبه وإن كان جسده حيًّا.

“Al-Qur’an adalah ruh bagi kehidupan, cahaya petunjuk, dan obat bagi hati. Barang siapa tidak mengambil gizi darinya, maka hatinya akan mati walaupun tubuhnya masih hidup.” (Al-Fawaid, hlm. 67)

Kisah Para Ulama: Hidupnya Hati dengan Al-Qur’an

Kisah Imam Malik rahimahullah

Diriwayatkan bahwa Imam Malik jika membaca Al-Qur’an, wajahnya berubah karena khusyuk dan tunduk hatinya kepada firman Allah.

كان الإمام مالك إذا قرأ القرآن تغير لونه وخشع حتى يبكي، ويقول: هذا كلام ربي

“Imam Malik apabila membaca Al-Qur’an, wajahnya berubah (karena khusyuk) dan ia menangis seraya berkata: ‘Ini adalah firman Rabb-ku!’” (Diriwayatkan oleh Al-Qadhi ‘Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, 1/80)

Kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah

Al-Fudhail dahulu seorang perampok, kemudian mendengar satu ayat:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ (سورة الحديد: 16)

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka kepada peringatan Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (Al-Qur’an)?” (QS. Al-Hadid: 16)

Ayat ini mengguncang hatinya hingga ia bertaubat dan menjadi salah satu ulama besar ahli ibadah.

قال الفضيل: بلى يا رب، قد آن فتاب وأناب

Al-Fudhail berkata, “Ya Rabb, sungguh telah tiba waktunya!” Maka ia pun bertaubat dan kembali kepada Allah. (Siyar A‘lam An-Nubala’, 8/427)

Makna Ruh Al-Qur’an disebut ruh karena menghidupkan hati sebagaimana ruh menghidupkan jasad.

Makna Cahaya   Al-Qur’an menerangi jalan kehidupan agar manusia tidak tersesat.

Dampaknya bagi Para ulama terdahulu hidup dengan Al-Qur’an menangis, tunduk, dan bertaubat karenanya.

Bagi Mukmin     Siapa yang hidup dengan Al-Qur’an, hatinya hidup. Siapa yang jauh darinya, hatinya mati meski tubuhnya hidup.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

donatur-tetap

Keutamaan Surat dan Ayat Al-Fatihah: Keutamaan, Ruqyah dan Implementasi dalam Ibadah bag. 1

0

Surat Al-Fatihah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim. Al-Fatihah dibaca berulang-ulang dalam setiap rakaat salat dan hadir dalam berbagai praktik ibadah serta pengobatan syar’i. kumpulan hadis yang diriwayatkan para sahabat memberikan gambaran komprehensif tentang posisi istimewa surat pembuka ini. Artikel ini menyajikan tema-tema besar berkenaan dengan surat Al-Fatihah dalam tinjauan hadis-hadis nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan Al-Fatihah

Diantara pembahasan paling banyak ditemukan dalam hadis adalah penegasan kemuliaan Al-Fatihah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai surat paling agung dalam Al-Quran – Ummul Qur’an, As-Sab’u al-Matsani, dan Al-Qur’an Al-Adzim.[1] Penamaan ini menunukkan bahwa Al-Fatihan memiliki tempat khusus dibandingkan surat-surat lainnya.

Diantara redaksi hadis yang menyebutkan hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id bin Al-Mu’alla,

عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ كُنْتُ أُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي فَقَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ { اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } ثُمَّ قَالَ لِي لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Dari Abu Sa’id bin Al Mu’alla dia berkata, Suatu saat saya sedang melaksanakan salat di masjid, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku namun saya tidak menjawab panggilannya hingga salatku selesai. Setelah itu, saya menemui beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya pada waktu itu saya sedang salat.”

Beliau bersabda, “Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu.'”

Beliau bersabda lagi, “Sungguh, saya akan mengajarimu tentang surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al-Qur’an sebelum kamu keluar dari Masjid.” Kemudian beliau memegang tanganku, dan saat beliau hendak keluar Masjid, saya pun berkata, “Bukankah engkau berjanji, ‘Saya akan mengajarimu surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al-Qur’an.’ Beliau menjawab, (Yaitu surat) AL HAMDU LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam), ia adalah As Sab’u Al Matsani, dan Al-Qur’an Al Adzhim yang telah diwahyukan kepadaku.”[2]

Sementara itu, riwayat Ibnu Abbas menyebutkan turunnya malaikat khusus yang membawa kabar tentang dua cahaya yang diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Al-Fatihah dan penutup surat Al-Baqarah. Kedua cahaya ini dikatakan belum pernah diberkan kepada nabi sebelumnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ، فَقَالَ : هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ، فَقَالَ : هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَسَلَّمَ، وَقَالَ : أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ : فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ؛ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ.

Dari Ibnu Abbas ia berkata, Ketika malaikat Jibril sedang duduk di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka dari arah atas kepalanya. Lalu malaikat Jibril berkata, “Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini.”

Lalu keluarlah daripadanya malaikat. Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang hendak turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali pada hari ini saja.” Lalu ia memberi salam dan berkata, “Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelummu, yaitu pembuka Al Kitab (surah Al-Fatihah) dan penutup surah Al-Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari kedua surat itu kecuali pasti akan diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)[3]

Beberapa sahabat seperti Abu Sa’id bin al-Mu’alla dan Ubay bin Ka’b meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenegaskan tidak ada surat serupa Al-Fatihah dalam kitab-kitab terdahulu serprti Taurat, Zabur, maupun Injil[4].

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ، وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَهِيَ مَقْسُومَةٌ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “.

Dari Abu Hurairah dari Ubay bin Ka’b dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Tidaklah Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan dalam Taurat dan Injil seperti Ummul Qur’an. yaitu Sab ‘ul Matsani, yang terbagi antara Allah dengan hamba-Nya, bagi hamba-Nya apa yang ia minta.'” (HR. An-Nasa’i, no. 914)[5]

[1] HR. Bukhori no. 4704 oleh Abu Hurairah

[2] HR. Bukhori no. 4474

[3] HR. Muslim no. 806 dan An-Nasa’I no. 912.

[4] HR. Tirmidzi no. 2875

[5] Diriwayatkan juga oleh Ad-Darimi no. 3415, dan Ahmad

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.3

0

Ayat yang mengajarkan kita dalam beradab kepada Allah dan RosulNya, diantaranya adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al-Hujurat: 1)

Ayat di atas ada dua hal penting, yaitu: larangan kepada kaum mukminin mendahului Allah dan RosulNya dengan berbagai macam jenisnya, dan perintah Allah untuk menjaga ketakwaan kepadaNya.

Tulisan kali ini membahas sesi yang ke dua setelah membahas larangan mendahului Allah dan RosulNya; yaitu menjaga ketakwaan sebagaimana diperintahkan seperti dalam ayat di atas.

  1. Perintah untuk senantiasa bertaqwa

 وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيم

“Dan bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”

Apa itu takwa ?

Sering terdengar nasehat untuk menjaga ketakwaan dan meningkatkannya, tetapi tidak sedikit kaum muslimin yang masih jahil akan hakikat takwa, sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan tetapi susah untuk diterapkan dalam keseharian.

Takwa secara bahasa adalah perisai atau tameng, adapun secara istilah syar’i ada beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang makna takwa:

Seorang laki-laki bertanya kepada Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu tentang ketakwaan. Abu Hurairah bertanya kepadanya: “Pernahkah engkau berjalan di jalan berduri?” Laki-laki itu menjawab: “Ya.” Abu Hurairah bertanya: “Apa yang engkau lakukan ketika melihat duri?” Laki-laki itu menjawab: “Aku menghindarinya, atau melangkahinya, atau memperpendek langkahku.” Abu Hurairah berkata: “Itulah ketakwaan.” takwa adalah hati-hati dalam menjalankan roda kehidupan duniawi.

Takwa menurut sahabat Ali bin abi Tholib radhiyallahu ‘anhu:

 التقوى هي الخوف من الجليل ، والعمل بالتنزيل ، والقناعة بالقليل ، والإستعداد ليوم الرحيل

“Takwa adalah takut kepada Yang Maha Mulia, beramal sesuai wahyu ilahi, qona’ah (merasa cukup) dengan yang sedikit, dan bersiap menghadapi kematian”.

Takwa menurut Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

أن يطاع فلا يعصى ويذكر فلا ينسى وأن يشكر فلا يكفر

“Dia ditaati dan tidak didurhakai, diingat tidak dilupakan, dan disyukuri tidak dikufuri”.

Imam Abdullah bin Al-Mu’taz rohimahullah bersenandung:

خل الذنوب صغيرها  وكبيرها ذاك التقى

واصنع كماشٍ فوق أرض  الشوك يحذر ما يرى

لا تحقرن صغيرة  إن الجبال من الحصى

“Tinggalkanlah dosa-dosa, baik kecil maupun besar, itulah takwa. Dan bersikaplah seperti orang yang berjalan di tanah berduri, waspada terhadap apa yang dilihatnya. Janganlah meremehkan dosa (sekecil apapun), karena gunung tumpukan kerikil”.

Adapun menurut imam Tholq bin Habib Rohimahullah: “Beramal ketaatan kepada Allah, berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, dengan mengharap pahala kepadaNya, dan menjahui maksiat, berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, dengan rasa takut akan adzab Allah”.

Adapun makna takwa dalam ayat di atas adalah seperti yang ditafsirkan oleh mufassirin:

Syekh Muhammad Al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan: Bertaqwalah kalian kepada Allah, karena mendahului Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah amalan yang menyelisihi ketaqwaan.

Syekh ‘Abdul ‘Adzim bin Badawi dalam kitabnya “Ma’alimul mujtama’ muslim”: Takutlah kalian kepada Allah dan hati-hatilah dari murkaNya jika kalian mendahulukan perkataan siapa saja dari pada firmanNya atau sabda RosulNya, takutlah kepada Allah dari turunnya murka Allah dan hukumanNya jika tidak beradab dengan adab ini kepada Allah dan RosulNya. Sesungguhnya Allah maha mendengar semua ucapan yang keluar dari lisan, dan Allah maha mengetahui semua niat yang ada di dalam hati.

Imam Ath Thobari mengomentari ayat di atas: “Takutlah kalian wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dalam ucapan kalian, suatu perkataan yang tidak diizinkan oleh Allah dan rosulNya dan lain sebagainya dari semua perkara, dan senantiasalah kalian merasa diawasi oleh Allah, sesungguhnya Allah maha mendengar apa saja yang kalian katakan, dan Dia maha mengetahui apa yang kalian inginkan dari perkataan kalian, tidak ada yang tersembunyi dariNya apapun itu.

Semoga Allah menjadikan penulis dan pembaca hamba-hamba yang bertakwa yang istiqomah di atas jalan yang lurus. Aamiiin.

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Sosok Guru yang Ideal

0

Bismillah..

Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan nikmatnya kepada hamba-hambanya, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Dalam dunia pendidikan islam adanya sosok guru ideal yang berkompeten dalam ilmu agama adalah hal yang sangat urgen, karena dengan adanya sosok guru yang seperti ini maka langkah seorang penuntut ilmu itu menjadi benar dan terarah, sebab bila yang mengajar adalah guru yang salah maka kedepannya akan menghantarkan seorang penuntut ilmu menuju jalan yang salah dan tak terarah.

Lantas seperti apakah sosok guru ideal itu ?

Syaikh Shalih bin Abdillah Al-‘Ushoimi hadidzahullah dalam kitabnya “Ta’dzim Al-Ilm” menjelaskan bahwa sosok guru ideal adalah yang terkumpul pada dirinya 2 hal, yaitu:

1. Mufiid

2. Naasih

Sebagaimana juga disebutkan dalam sebuah syair;

بحفظ متن جامع للراجح, على مفيد ناصح

“Dengan menghapal matan (kitab ringkasan ilmu) yang paling unggul untuk setiap cabang ilmu.

Yang engkau pelajari dari seorang guru mufiid dan naashih .”

Maksud “mufid dalam syair di atas adalah : terkumpul padanya sifat “ifadah”,  maksudnya, guru tersebut memiliki kapasitas ilmu. Dari rekam jejaknya dapat diketahui bahwa dia pernah belajar kepada guru/alim/ulama yang berilmu pula.

Dalil untuk poin ini adalah hadist dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تسمعون، و يسمع منكم، و يسمع منمن يسمع منكم

“Engkau mendengar (ilmu), lalu didengar ilmu itu darimu, lalu ia didengar lagi dari orang yang mendengarnnya darimu.” (HR. Abu Daud)

Sedangkan “naasih yaitu pada sang guru terkumpul dua sifat :

1. Guru dapat menjadi teladan dalam perilaku, akhlak serta budi pekertinya.

2. Sang guru mampu mengetahui bagaimana kemampuan murid yang akan dia ajar,  mengetahui metode atau kurikulum (kitab) apa yang cocok untuk  sang murid, serta mengetahui ilmubyajg bermanfaat dan tidak manfaat untik muridnya.

Sehingga dengan demikian murid belajar tidak hanya bermodalkan semangat belajar, namun juga mengetahui bagaimana belajar yang baik.

Seorang guru keliru bila ia megira bahwa hubungannya dengan murid hanyalah sebatas menyampaikan materi pelajaran saja, padahal sebenarnya ada perkara lain yang tidak kalah penting dari itu, yaitu memberikan nasehat kepada murid. Bukankah telah sampai kepada kita sebuah hadits dari sahabat Tamim Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قلنا: لمن يا رسول الله؟ قال: لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama adalah nasehat.”

Kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”

beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin serta kalangan umum mereka.” (HR. Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan, “Diantara bentuk memberi nasehat adalah menepis gangguan dan kejelekan dari mereka, mengajari orang jahil serta menuntun orang yang menyimpang diantara mereka dari kebenaran baik dalam ucapan ataupun perbuatan.”

Maka dari itu sejatinya memberikan nasihat dalam pendidikan tidak kalah penting dari pelajaran itu sendiri, terlebih lagi nasehat sejatinya adalah tuntutan syar’i sebelum ia juga menjadi tuntutan pendidikan, karena memberikan nasehat kepada murid agar berjalan diatas jalan yang benar serta meluruskannya jika dia menyimpang dari jalan yang lurus, semua itu adalah tugas dan kewajiban seorang guru.

Semoga Allah karuniakan kaum muslimin sosok guru yang seperti ini, terutama di negeri kita ini.

Referensi:

– Al-Muallimu Al-Awwal, Syeikh Fuad Asy-Syalhub
– Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali
– Ta’dzim Al-Ilm, Syeikh Shaleh bin Abdillah Al-‘Ushoimi

***

Ditulis oleh : Muhammad Fatwa Hamidan

donatur-tetap

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SANTRI BARU TINGKAT MADRASAH ALIYAH (SMA) PONDOK PESANTREN HAMALATUL QURAN TAHUN AJARAN 2026/2027

0

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SANTRI BARU
TINGKAT MADRASAH ALIYAH (SMA)
PONDOK PESANTREN HAMALATUL QURAN TAHUN AJARAN 2026/2027

Berdasarkan hasil rapat Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Hamalatul Quran, dengan ini diumumkan bahwa nama-nama calon santri di bawah ini dinyatakan LULUS SELEKSI dan diterima sebagai calon santri Program Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Hamalatul Quran Tahun Ajaran 2026/2027:

donatur-tetap

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SANTRI BARU TINGKAT SALAFIYAH WUSTHA (SMP) PONDOK PESANTREN HAMALATUL QURAN TAHUN AJARAN 2026/2027

0

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SANTRI BARU TINGKAT SALAFIYAH WUSTHA (SMP) PONDOK PESANTREN HAMALATUL QURAN
TAHUN AJARAN 2026/2027

Berdasarkan hasil rapat Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Hamalatul Quran, dengan ini diumumkan bahwa nama-nama calon santri di bawah ini dinyatakan LULUS SELEKSI dan diterima sebagai calon santri Program Salafiyah Wustha Pondok Pesantren Hamalatul Quran Tahun Ajaran 2026/2027:

 

 

donatur-tetap

Menebar Kepedulian dan Kasih Sayang

0

Islam adalah agama rahmat dan kasih sayan gyang menuntun umatnya untuk senantiasa peduli terhadap sesama. Ibadah dalam Islam tidak hanya terbatas pada ritual yang bersifat individual seperti salat, puasa, dan zakat, tetapi juga mencakup amal sosial yang mempererat persaudaraan dan menumbuhkan empati di tengah masyarakat.

Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak tuntunan yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan, diantaranya perintah untuk menjenguk orang sakit, memberi makan orang yang kelaparan, dan membebaskan tawanan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah hablun minallah dan hubungan manusia dengan sesamanya hablun minannas.

Menebar Kepedulian

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَعُودُوا الْمَرِيضَ، وَفُكُّوا الْعَانِيَ

“Berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang sakit dan bebaskanlah tawanan.” (HR. Bukhori, no. 5373)

Hadis ini mengandung tiga bentuk amal sosial yang utama:

  1. Memberi makan orang yang kelaparan – baik muslim maupun non-muslim merupakan bentuk akhlak yang mulia. Allah ta’ala berfirman

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّه مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang mereka cintai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.” (QS. Al-Insan [76]:8)

Ayat ini menegaskan bahwa memberi makan bahkan kepada tawanan – yang pada masa nabi sering kali non-muslim – merupakan amal yang dicintai Allah.

  1. Menjenguk orang sakit merupakan ibadah yang disyariatkan, meskipun terhadap orang yang tidak dikenal. Tindakan ini menumbuhkan rasa empati dan memperkuat ukhwah Islamiyah.
  2. Membebaskan tawanan termasuk dalam amal saleh yang besa. Allah menjadikannya salah satu kategori penerima zakat dalam Qs. At-Taubah [9]:60 dengan istilah ar-Raqib (budah atau tawanan muslim). Ini menunjukkan perhatian Islam terhadap nilai kemanusiaan dan kebebasan

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Terkhusus untuk menjenguk orang sakit, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan dalam sabdanya,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

“Tidak ada seorang muslim yang menjenguk muslim yang lain pada waktu pagi, melainkan tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya hingga waktu sore. Jika ia menjenguk di waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya hingga pagi, dan baginya kebun di surga.” (HR. at-Tirmidzi, no. 969)

Hadis ini menggambarkan betapa besar pahala menjenguk orang sakit. Bukan hanya menunjukkan kasih sayang dan solidaritas, tetapi juga menjadi sebab turunnya rahmat Allah ta’ala.

Disebutkan bahwa tujuh puluh ribu (70.000) malaikat akan mendoakan orang yang menjenguk saudaranya yang sakit. Dalam redaksi hadis, lafadz sholla ‘alaihi berarti mendoakan kebaikan, menunjukkan kedekatan amal ini dengan doa malaikat dan keberkahan dari Allah

Faedah Praktis

  1. Menjenguk orang sakit adalah amalan yang sangat dianjurkan dan mendatangkan pahala besar
  2. Islam memerintahakan kepedulian terhadap sesama tanpa memandang latar belakang sosial atau agama
  3. Memebri makan kepada yang lapar dan menolong yang tertindas adalah bentuk nyata dari akhlak Islam
  4. Orang yang menjenguk orang sakit mendapatkan doa dari 70.000 malaikat dan balasan berupa kebun di surga
  5. Membebaskan tawanan dan menolong yang terzalimi mennjukkan komitmen Islam terhadap keadilan dan kemanusiaan
  6. Waktu pagi dan sore merupakan waktu mustajab untuk amal kebaikan dan doa

Kesimpulan

Dua hadis di atas menegaskan bahwa Islam adalah agama kasih sayang dan kepedulian. Menjenguk orang sakit, memberi makan orang lapar, dan membebaskan tawanan adalah bagian dari implementasi keimanan yang sejati. Amal-amal sosial ini tidak hanya memperkuat solidaritas antar manusia, tetapi juga mendatangkan doa malaikan dan ganjaran surga dari Allah ta’ala.

Dalam konteks kehidupan modern, semangat hadis ini dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kepedulian: mengunjungi orang sakit di rumah sakit, berbagi makanan kepada yang membutuhkan, membantu korban bencana, dan memperjuangkan hak-hak kemanusiaan. Dengan demikian, nilai-nilai luhur Islam akan senantiasa hidup dan terasa manfaatnya bagi seluruh umat manusia.

Wallahu a’lam

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.2

0

Masih berkenaan dengan adab kepada Allah dan Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam tentang firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)

Banyak para ulama’ yang memberikan penafsiran, semua berporos ke larangan mengambil keputusan atau melakukan perbuatan sebelum Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam mengatakannya atau memberi contoh. Bahkan larangan pula memberi saran kepada Allah dan Rasul-Nya dalam perkara agama. Sehingga apa yang diperbuat oleh orang mukmin dalam menjalankan syareat agamanya benar-benar tunduk pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hal ini telah dilaksanakan oleh para salafus sholeh (orang-orang yang telah terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in dan atba’ut tabi’in) terutama adalah sahabat ridhwanullahi ‘alaihim dan juga para imam besar. Para sahabat benar-benar telah melaksanakan tuntunan adab ini dengan sebaik-baiknya, tidak pernah memberikan ide (dalam hal agama), tidak pernah berkata dengan sebuah perkataan yang mendahului Allah dan RosulNya, tidak pernah memberikan fatwa yang mendahului Allah dan RosulNya, bahkan sesuatu yang mereka ketahui mereka tidak menjawab ketika di tanya oleh Rosul, karena mereka takut jika perbuatannya mendahului Allah dan RosulNya, sebagai contoh adalah kisah khutbah Nabi ‘alaihis sholatu was salam di waktu haji wada’, diantara isi khutbahnya beliau bertanya: “Hari apa ini?” para sahabat menjawab: “Allah dan RosulNya lebih mengetahui” beliau bersabda: “bukankah ini hari nahr (10 dzul hijjah)?” mereka menjawab: “Iya” beliau bersabda: “Bulan apa ini?” mereka menjawab: “Allah dan RosulNya lebih mengetahui” beliau bersabda: “bukankah ini bulan dzul hijjah?” mereka menjawab: “Iya” beliau bersabda: “Negri apa ini?” mereka menjawab: “Allah dan RosulNya lebih mengetahui” beliau bersabda: “bukankah ini negri harom (kota suci Makkah)? Mereka menjawab: “Iya” lantas beliau bersabda: “Sungguh darah, harta dan kehormatan kalian harom seperti haromnya hari ini, bulan ini dan negeri ini” HR. Bukhori dan Muslim

Para sahabat mereka mengetahui hari tersebut, bulan tersebut dan negeri tersebut, tetapi mereka menahan diri untuk tidak menjawab dikarenakan takut jikalau jawaban mereka mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i rahimahullah suatu hari di tanya, maka beliau menukilkan sebuah hadits dengan menyatakan qoola Rosulullah kadza (Rosulullah bersabda demikian) lantas penanya bertanya: “Bagaimana pendapat anda?” maka imam Syafi’i marah seraya berkata: “Apakah kamu lihat saya berada di gereja? Apakah kamu melihat saya sedang berada di sinagong? Kamu melihat tali pinggang, saya mengatakan : “Qoola Rosulullah malah kamu balik bertanya bagaimana pendapatmu (imam Syafi’i)? (Aqidah Thohawiyah)

Berikut bentuk mendahului Allah dan Rasul-Nya:

1. Lancang berpendapat dalam permasalahan agama tanpa merujuk kepada hukum syareat, tidak melihat bagaimana Allah dan Rasul-Nya menjelaskan tentang hukum permasalahan tersebut, tetapi mengambil pendapat dsri diri sendiri.

2. Mendahulukan pendapat diri sendiri atau orang lain meskipun imam besar di atas firman Allah dan sabda Rasul-Nya.

3. Membuatkan ide kepada Allah atau RosulNya dengan ucapan “coba saja Allah turunkan ayat atau Nabi bersabda tentang ini… Atau mengapa Allah tidak turunkan ayat atau Nabi tidak bersabda tentang ini… ” ide-ide seperti ini tidak diperbolehkan dan termasuk mendahului Allah dan Rasul-Nya, dikarenakan seakan-akan dia merasa bahwa syareat ini belum sempurna, sehingga merasa bahwa Al-Quran atau hadits perlu ada revisi.

4. Melakukan suatu amalan yang dianggap ibadah tetapi tidak ada sandaran dasar hukumnya dalam syareat Islam atau di sebut bid’ah. Melakukan kebid’ahan adalah suatu amalan yang mendahului Allah dan Rasul-Nya, bahkan hal ini lebih parah dari pada yang lainnya, dikarenakan orang yang melakukan kebid’ahan menyangka bahwa syareat Islam belum sempurna dan perbuatan bid’ah itu yang menyempurnakannya.

5. Tidak berhukum dengan hukum syareat Islam, siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum yang telah Allah syareatkan, maka sejatinya dia telah mendahului Allah dan RosulNya. Allah telah menyatakan bahwa hukumNya adalah sebaik-baik hukum, hal ini Dia sampaikan dalam beberapa ayat. Maka konsekuensinya tidak boleh berhukum dengan selain selain hukumnya Allah yaitu syareat Islam yang telah diturunkan.

6. Ta’asshub (taqlid buta) kepada ustadz, kiayi, habib atau orang yang dianggap ulama dengan tidak melihat dari mana dia mengambil suatu hukum.

Bersambung

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap