Ayat yang mengajarkan kita dalam beradab kepada Allah dan RosulNya, diantaranya adalah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al-Hujurat: 1)
Ayat di atas ada dua hal penting, yaitu: larangan kepada kaum mukminin mendahului Allah dan RosulNya dengan berbagai macam jenisnya, dan perintah Allah untuk menjaga ketakwaan kepadaNya.
Tulisan kali ini membahas sesi yang ke dua setelah membahas larangan mendahului Allah dan RosulNya; yaitu menjaga ketakwaan sebagaimana diperintahkan seperti dalam ayat di atas.
- Perintah untuk senantiasa bertaqwa
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيم
“Dan bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”
Apa itu takwa ?
Sering terdengar nasehat untuk menjaga ketakwaan dan meningkatkannya, tetapi tidak sedikit kaum muslimin yang masih jahil akan hakikat takwa, sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan tetapi susah untuk diterapkan dalam keseharian.
Takwa secara bahasa adalah perisai atau tameng, adapun secara istilah syar’i ada beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang makna takwa:
Seorang laki-laki bertanya kepada Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu tentang ketakwaan. Abu Hurairah bertanya kepadanya: “Pernahkah engkau berjalan di jalan berduri?” Laki-laki itu menjawab: “Ya.” Abu Hurairah bertanya: “Apa yang engkau lakukan ketika melihat duri?” Laki-laki itu menjawab: “Aku menghindarinya, atau melangkahinya, atau memperpendek langkahku.” Abu Hurairah berkata: “Itulah ketakwaan.” takwa adalah hati-hati dalam menjalankan roda kehidupan duniawi.
Takwa menurut sahabat Ali bin abi Tholib radhiyallahu ‘anhu:
التقوى هي الخوف من الجليل ، والعمل بالتنزيل ، والقناعة بالقليل ، والإستعداد ليوم الرحيل
“Takwa adalah takut kepada Yang Maha Mulia, beramal sesuai wahyu ilahi, qona’ah (merasa cukup) dengan yang sedikit, dan bersiap menghadapi kematian”.
Takwa menurut Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :
أن يطاع فلا يعصى ويذكر فلا ينسى وأن يشكر فلا يكفر
“Dia ditaati dan tidak didurhakai, diingat tidak dilupakan, dan disyukuri tidak dikufuri”.
Imam Abdullah bin Al-Mu’taz rohimahullah bersenandung:
خل الذنوب صغيرها وكبيرها ذاك التقى
واصنع كماشٍ فوق أرض الشوك يحذر ما يرى
لا تحقرن صغيرة إن الجبال من الحصى
“Tinggalkanlah dosa-dosa, baik kecil maupun besar, itulah takwa. Dan bersikaplah seperti orang yang berjalan di tanah berduri, waspada terhadap apa yang dilihatnya. Janganlah meremehkan dosa (sekecil apapun), karena gunung tumpukan kerikil”.
Adapun menurut imam Tholq bin Habib Rohimahullah: “Beramal ketaatan kepada Allah, berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, dengan mengharap pahala kepadaNya, dan menjahui maksiat, berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, dengan rasa takut akan adzab Allah”.
Adapun makna takwa dalam ayat di atas adalah seperti yang ditafsirkan oleh mufassirin:
Syekh Muhammad Al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan: Bertaqwalah kalian kepada Allah, karena mendahului Allah dan Rasul-Nya adalah sebuah amalan yang menyelisihi ketaqwaan.
Syekh ‘Abdul ‘Adzim bin Badawi dalam kitabnya “Ma’alimul mujtama’ muslim”: Takutlah kalian kepada Allah dan hati-hatilah dari murkaNya jika kalian mendahulukan perkataan siapa saja dari pada firmanNya atau sabda RosulNya, takutlah kepada Allah dari turunnya murka Allah dan hukumanNya jika tidak beradab dengan adab ini kepada Allah dan RosulNya. Sesungguhnya Allah maha mendengar semua ucapan yang keluar dari lisan, dan Allah maha mengetahui semua niat yang ada di dalam hati.
Imam Ath Thobari mengomentari ayat di atas: “Takutlah kalian wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dalam ucapan kalian, suatu perkataan yang tidak diizinkan oleh Allah dan rosulNya dan lain sebagainya dari semua perkara, dan senantiasalah kalian merasa diawasi oleh Allah, sesungguhnya Allah maha mendengar apa saja yang kalian katakan, dan Dia maha mengetahui apa yang kalian inginkan dari perkataan kalian, tidak ada yang tersembunyi dariNya apapun itu.
Semoga Allah menjadikan penulis dan pembaca hamba-hamba yang bertakwa yang istiqomah di atas jalan yang lurus. Aamiiin.
Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A







