Pernahkah kita mendengar perkataan para ulama: “Kematian sebelum kematian”.
Kematian yang banyak dari kita tidak menyadrinya.
Kematian yang ditakutkan oleh para ulama.
Yaitu matinya hati seseorang dari mengingat Allah ta’aala.
Sering kali kita membaca Al-Qur’an, akan tetapi kita cepat merasa bosan, atau bahkan merasa tidak berguna lagi, buang buang waktu, jika kita merasa demikian maka mungkin kita telah mengalami “kematian sebelum kematian”.
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Al-Qur’an adalah sumber kehidupan, bahkan Allah menggunakan kata “RUH” untuk menyebut Al-Qur’an, yang menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah obat dari “kematian sebelum kematian”, Al-Qur’an adalah ruh dalam kehidupan kita, Allah ta’aala berfirman:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) sebagai ruh (yang menghidupkan) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52)
Penjelasan ulama diantaranya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
فسمَّى اللهُ الوحيَ روحًا لأنَّ به حياةَ القلوب كما أنَّ بالأرواح حياةَ الأبدان.
“Allah menyebut wahyu sebagai ruh karena dengan wahyu hati menjadi hidup, sebagaimana dengan ruh tubuh menjadi hidup.” (Madarij As-Salikin, 1/33)
Dan ketahuilah wahai saudaraku bahwa Al-Qur’an adalah sumber Cahaya dalam Kehidupan, Allah ta’aala berfirman:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan kepadanya cahaya (petunjuk) yang dengannya ia berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An’am: 122)
Tafsir Ibnu Katsir:
قال ابن عباس رضي الله عنهما: هذا مثل للمؤمن كان ميتًا في الضلالة فأحياه الله بالإيمان وجعل له نورًا وهو القرآن.
“Ini adalah perumpamaan bagi seorang mukmin: dahulu ia mati dalam kesesatan, lalu Allah menghidupkannya dengan iman dan menjadikan baginya cahaya yaitu Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/157)
Dan juga Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah Cahaya dan Penuntun Kehidupan
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ سَبَبٌ طَرَفُهُ بِيَدِ اللَّهِ، وَطَرَفُهُ بِأَيْدِيكُمْ، فَتَمَسَّكُوا بِهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَضِلُّوا وَلَنْ تَهْلِكُوا بَعْدَهُ أَبَدًا
Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Al-Qur’an adalah tali yang ujungnya di tangan Allah dan ujung lainnya di tangan kalian. Maka berpeganglah padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat dan tidak akan binasa selamanya.” (HR. Ath-Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani)
Sehingga kita sebagai seorang muslim harus benar benar memegang sumber dari kehidupan yang telah Allah berikan dan jangan pernah melepaskannya, sebagaimana para ulama mereka memandang Al-Qur’an sebagai Ruh Kehidupan diantaranya Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
القرآن هو روحُ الوجود، ونورُ الهداية، وشفاءُ الصدور، فمن لم يتغذَّ منه مات قلبه وإن كان جسده حيًّا.
“Al-Qur’an adalah ruh bagi kehidupan, cahaya petunjuk, dan obat bagi hati. Barang siapa tidak mengambil gizi darinya, maka hatinya akan mati walaupun tubuhnya masih hidup.” (Al-Fawaid, hlm. 67)
Kisah Para Ulama: Hidupnya Hati dengan Al-Qur’an
Kisah Imam Malik rahimahullah
Diriwayatkan bahwa Imam Malik jika membaca Al-Qur’an, wajahnya berubah karena khusyuk dan tunduk hatinya kepada firman Allah.
كان الإمام مالك إذا قرأ القرآن تغير لونه وخشع حتى يبكي، ويقول: هذا كلام ربي
“Imam Malik apabila membaca Al-Qur’an, wajahnya berubah (karena khusyuk) dan ia menangis seraya berkata: ‘Ini adalah firman Rabb-ku!’” (Diriwayatkan oleh Al-Qadhi ‘Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, 1/80)
Kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah
Al-Fudhail dahulu seorang perampok, kemudian mendengar satu ayat:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ (سورة الحديد: 16)
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka kepada peringatan Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (Al-Qur’an)?” (QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini mengguncang hatinya hingga ia bertaubat dan menjadi salah satu ulama besar ahli ibadah.
قال الفضيل: بلى يا رب، قد آن فتاب وأناب
Al-Fudhail berkata, “Ya Rabb, sungguh telah tiba waktunya!” Maka ia pun bertaubat dan kembali kepada Allah. (Siyar A‘lam An-Nubala’, 8/427)
Makna Ruh Al-Qur’an disebut ruh karena menghidupkan hati sebagaimana ruh menghidupkan jasad.
Makna Cahaya Al-Qur’an menerangi jalan kehidupan agar manusia tidak tersesat.
Dampaknya bagi Para ulama terdahulu hidup dengan Al-Qur’an menangis, tunduk, dan bertaubat karenanya.
Bagi Mukmin Siapa yang hidup dengan Al-Qur’an, hatinya hidup. Siapa yang jauh darinya, hatinya mati meski tubuhnya hidup.
Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc







