Home Akidah Serial Akidah Islam #2: Tujuan Mempelajari Akidah Islamiyah

Serial Akidah Islam #2: Tujuan Mempelajari Akidah Islamiyah

168
0

Apa Tujuan Mempelajari Akidah Islamiyah?

Para pembaca sekalian, ketahuilah bahwa mempelajari akidah islamiyah adalah sangat penting dan menjadi kewajiban bagi semua orang muslim. Agar seorang muslim mengetahui makna aqidah islamiyah yang benar dan mengetahui pembatal-pembatalnya atau yang menguranginya.

Adapun Tujuan Mempelajari Akidah Islamiyah Bisa Dilihat dari Beberapa Hal Berikut:

1. Memurnikan Segala Bentuk Ibadah.

Ibadah adalah hak mutlak yang ditujukan untuk Allah semata tidak boleh dipalingkan kepada selainNya. Ibadah yang dipalingkan kepada selain Allah maka itu masuk ke perbuatan syirik kepadaNya.

Allah subhanahuwata’ala berfirman:

{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ} [البينة: 5]

“Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)

Dalam Ayat lain disebutkan:

{اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ } [التوبة: 31]

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah: 31)

2. Memerdekakan Akal dan Pikiran dari Kesesatan yang Menyimpang.

Hal tersebut muncul dikarenakan kosongnya hati dari aqidah islamiyah, karena hati yang kosong dari aqidah yang benar akan muncul dua macam hati:

Pertama, Hati yang tidak sama sekali punya keimanan.
Kedua, Hati yang beraqidah salah.

Dari dua macam hati yang beraqidah bathilah (salah) maka muncul darinya kesesatan-kesesatan dan kerancuan yang tidak karuan.

3. Menentramkan Jiwa, Pikiran dan Membuang Keraguan serta Kecemasan dalam Hati.

Karena akidah islamiyah menjadikan seorang mukmin dapat terhubung dengan RabbNya. Maka ia akan ridho denganNya sebagai pengatur dan sebagi hakim yang membuat syari’ah, dengan hal tersebut hati tenang dan dadanya lapang dalam menerima islam sebagai agamanya dan tidak akan mencari ganti dari semuanya.

4. Menyelamatkan Tujuan dan Amal dari Penyelewengan di Dalam Ibadah Kepada Allah atau Muamalah Sesama Makhluk.

Dikarenakan pondasinya adalah keimanan kepada Rasulullah yang mempunyai konsekwensi harus mengikuti jalan beliau dalam beribadah kepada Allah dan bermuamalah sesama makhluk.

5. Akidah Ilamiyah Mewujudkan Keamanan dan Hidayah di Dunia dan Akherat.

Allah subhanahuwata’ala berfirman:

{الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ} [الأنعام: 82]

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al An’am: 82)

6. Memberi Semangat dalam Mengamalkan Ketaatan dan Meninggalkan Kemaksiatan.

Tidaklah seseorang beramal ketaatan melainkan ia mengetahui bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya dan akan muncul pengharapan pahala dariNya. Sedangkan ketika ingin bermaksiat akan muncul rasa muroqobah merasa selalu di awasi oleh Allah. Ketika seseorang terjerumus dalam kemaksiatan akan selalu takut dalam hatinya, sebab dosa yang telah ia lakukan hingga benar-benar bertaubat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

Allah subhanahuwata’ala berfirman:

{وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ} [الأنعام: 132]

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al An’am: 132)

7. Menjauhi Kesyirikan.

Orang yang berakidah islamiyah dan beribadah kepada Allah dengan aqidah yang benar maka itulah orang yang paling jauh dari kesyirikan, karena telah terwujud di dalam dirinya pengetahuan tentang Allah subhanahuwata’ala.

***
Ditulis oleh: Ahmad Fathoni, Lc.
(Pengajar PP. Hamalatul Quran Yogyakarta)

Artikel: www.HamalatulQuran.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here