Home Artikel Adab dan Akhlak Redaksi Hamdalah Setelah Bersin

Redaksi Hamdalah Setelah Bersin

273
0

Bersin adalah hal yang biasa dalam hidup kita, bahlan agama Islam membahas perihal bersin dengan detil, sehingga dengan hal yang biasa tersebut seseorang dapat meraih pahala dan kebaikan, diantara caranya adalah dengan mengucapkan hamdalah setelah bersin,

Terdapat beberapa redaksi hamdalah setelah bersin, setidaknya terdapat empat redaksi hamdalah setelah bersin yang diajarkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

  1. Redaksi tersingkat yaitu “Alhamdulillah” الحمد لله , Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا عطس أحدكم فليقل: الحمدلله، وليقل له أخوه أو صاحبه: يرحمك الله، فإذا قال له: يرحمك الله، فليقل: يهديكم الله ويصلح بالكم.

“Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan “Alhamdulillah”, dan saudaranya atau temannya (yang mendengar) hendaklah mengucapkan, “Yarhamukallah” (Semoga Allah merahmatimu).’ Jika saudaranya berkata ‘Yarhamukallah,’ maka hendaknya dia berkata, “Yahdikumullah wa yushlihu balakum” (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” (Muttafaqun ‘alaihi)

  1. Redaksi yang kedua adalah, “Alhamdulillah rabbil’alamiin” الحمدلله رب العالمين , Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang di bawakan oleh Ibnu Mas’ud,

إذا عَطَسَ أحدُكم فلْيقلْ : الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ ، و لْيقلْ له : يرحمُك اللهُ ، و لْيقلْ هو : يغفرُ اللهُ لنا و لكم

“Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “Alhamdulillahirabbil’alamiin” (yang mendengar) hendaklah mengucapkan kepada yang bersin, “Yarhamukallah” (Semoga Allah merahmatimu), dan ucapkanlah dia (yang bersin) “Yaghfirullahu lana wa lakum” (semoga Allah mengampuniku dan mengampuni kalian).( H. R. Ahmad no. 23853, Abu Dawud no. 5031, di shahihkan oleh AL-albany dalam “Shahi Al-jami”)

  1. Redaksi hamdalah yang ketiga adalah “Alhamdulillah ‘ala kulli haal” الحمد لله على كل حال , dalilnya dalam hadis yang di bawakan oleh Abdullah Ibnu ‘Umar,

أنَّ رجلًا عطَسَ إلى جنبِ ابنِ عمرَ فقال الحمدُ للهِ والسلامُ على رسولِ اللهِ قال ابنُ عمرَ وأنا أقولُ الحمدُ للهِ والسلامُ على رسولِ اللهِ وليسَ هكذا عَلَّمَنَا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ علَّمَنَا أن نقولَ الحمدُ للهِ على كلِّ حالٍ

“Bahwa seseorang bersin disamping sahabat Ibnu ‘Umar kemudian berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa roasulillah” (segala puji milik Allah dan keselamatan atas rosullullah) Ibnu ‘Umar berkata “Saya juga sering mengucapkan , “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa roasulillah” (segala puji milik Allah dan keselamatan atas rosullullah), akan tetapi bukan demikian yang Rasulullah ajarkan kepada kita, tetapi beliau mengajarkan kita untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” (segala puji milik Allah dalam setiap keadaan), (HR. At-Tirmidzi no. 2738, Di shahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa’ Al-Ghalil 3/245)

  1. Redaksi yang keempat, redaksi yang cukup panjang, dan memiliki faidah yang besar, dalam hadis yang dibawakan oleh sahabat Rifa’ah,

صليتُ خلفَ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم فعطستُ فقلتُ الحمدُ للهِ حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه مباركًا عليه كما يحبُّ ربُّنا ويرضَى ، فلمَّا صلَّى رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم انصرف فقال : مَن المتكلمُ في الصَّلاةِ ؟ فلم يتكلمْ أحدٌ ، ثمَّ قالَها الثانيةَ : مَن المتكلمُ في الصلاةِ ؟ فلم يتكلمْ أحدٌ ، ثمَّ قالَها الثالثةَ : مَن المتكلمُ في الصلاةِ ؟ فقال رِفاعَةُ بنُ رافِعِ بنِ عَفْراءَ : أنا يا رسولَ اللهِ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم : لقد رأيتُ بضعًا وثلاثينَ ملَكًا يبتدرونها أيُّهم يكتبُها أولًا

“Aku shalat di belakang rasul shallallahu ‘alaihi wasallam maka akupun bersin, dan aku mengucapkan “Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubaarokan fiih mubaarokan ‘alaih kamaa yuhibbu rabbunaa warardhaah” (segala puji milik Allah dengan pujian yang banyak lagi indah dan diberkahi di dalamnya, dan diberkahi atasnya, sebagaimana yang Allah cintai dan ridhai), maka tatkala rasul telah selesai shalat, menghadap kebelakang (ke arah sahabat) kemudian berkata “siapakah yang berbicara saat shalat”, maka semua sahabat terdiam, kemudian rasul bertanya kedua kali “siapakah yang berbicara saat shalat”, ”, maka semua sahabat terdiam, kemudian rasul bertanya ketiga kali “siapakah yang berbicara saat shalat”, maka berkata Rifa’ah Ibn Raafi’ Ibn ‘Afraa’ “saya wahai Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam,” maka rasulullah berkata “sunggu aku telah menyaksikan tigapuluh-an malaikat berebut siapakah diantara mereka yang lebih dahulu mencatat amalan tersebut” ( HR. At-Tirmidzi, dihasnkan oleh Al-Albany dalam kitab Ashlu shifatus shalaah 2/695 )

Semoga coretan ini bermanfaat bagi penulis maupun pembaca, wallahu a’lam bis-shawaab.

Refrensi : Syarh Bulughul Marom Kitaabul Jaami’ hadis pertama oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. Ma

Ditulis Oleh: Badruz Zaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here