Home Blog Page 87

Tidak Sepele! Ternyata Seperti Ini Kedudukan Tauhid dalam Islam

0
@Pinterest

Kedudukan Tauhid dalam Islam

Bismillah…

Pembaca yang budiman…

Tujuan dari terciptanya manusia dan jin adalah mengesakan Allah, baik dalam perbuatanNya, peribadahan kepadaNya maupun dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, sebagaimana Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Az-Dzariyat : 56)

Makna ayat di atas dijelaskan oleh Syekh Muhammad at Tamimi -rahimahullah-,

و معنى يعبدون : يوحدون

Makna “menyembah-Ku adalah mentauhidkanKu”.

Mengesakan Allah di dalam perbuatanNya, peribadahan kepadaNya, nama dan sifat sifatNya di sebut tauhid.

Tauhid di dalam islam adalah pondasi dari semua peribadahan lahir maupun batin. Maka tauhid ini mempunyai kedudukan sangat tinggi dan urgen, hilang tauhid seseorang dari hatinya maka hilang pula agamanya.

Tauhid adalah dakwah pertama seluruh Rosul.

Allah berfirman,

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ}

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al Anbiya : 25)

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ} [النحل : 36]

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl : 36)

Kalimat لا إله إلا الله di sebut kalimat tauhid, karenanya Allah menciptakan jin, manusia, langit, bumi, dan semua makhluk. Jika di cermati ternyata tidaklah satu suratpun di dalam alquran melainkan dakwah ke tauhid, atau sebagai bukti tauhid atau meliputi kandungan tauhid, karena isi dari alquran meliputi :

Pertama, kabar tentang Allah, dan nama-namaNya serta sifat-sifatNya, inilah yang di sebut tauhid rububiyah dan asma’ was shifat.

Kedua, Dakwah untuk mengesakan Allah dalam semua peribadahan dan mengajak untuk meninggalkan apa-apa yang di sembah selain Allah, inilah yang di sebut tauhid uluhiyah dan ibadah.

Ketiga, Kabar tentang orang-orang yang Allah muliakan dari ahli tauhid, itulah balasan orang yang bertauhid, atau khabar tentang bagaimana siksa Allah untuk orang-orang yang jauh dari tauhid (ahli syirik) dan itulah balasan bagi orang yang keluar dari tauhid.

Perintah pertama kali dalam alquran adalah perintah untuk menyembah Allah/mentauhidkanNya, dan larangan pertama kali dalam alquran adalah larangan berbuat kesyirikan, maka tauhid adalah perintah paling besar dan syirik adalah larangan paling keras.

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (22)} [البقرة : 21-22]

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah :21-22)

Ayat inilah awal perintah dan awal larangan dalam alquran.

Ketika tauhid sudah menjadi darah daging mengakar dalam diri seseorang, maka apapun syareat yang Allah turunkan, pasti akan ringan mengamalkannya, seakan tidak ada penghambat antara dirinya dengan pengamalan syareat itu.

Keamanan, ketentraman, kedamaian dan kebaikan di dunia dan akherat di sebabkan tauhid.

{الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ} [الأنعام : 82]

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An’am : 82)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  -rahimahullah- menerangkan:

من تدبر أحوال العالم وجد كل صلاح في الأرض فسببه توحيد الله و عبادته و طاعة رسوله – عليه الصلاة و السلام- و كل شر و فتنة و بلاء و قحط و تسليط عدو و غير ذلك فسببه مخالفة الرسول و الدعوة إلى غير الله.

Barangsiapa yang mau melihat ke keadaan alam ini dia akan mendapatkan bahwa setiap kebaikan di bumi ini sebabnya adalah tauhid dan peribadahan kepada Allah semata serta ketaatan kepada rosulNya, dan juga akan menyaksikan setiap keburukan, musibah, bencana, paceklik dan penguasaan orang kafir terhadap kaum mukminin sebabnya adalah kesyirikan/peribadahan kepada selain Allah dan menyelisihi rosulNya.

Pembaca yang dimuliakan Allah..

Maka hendaknya setiap muslim melihat sejauh mana tauhid dalam dirinya, sehingga secepat mungkin berusaha untuk memperbaiki dan memupuk kembali keimanannya hingga tauhid itu benar-benar tertancap dalam dalam di hati dan terwujud dalam amal perbuatan sehari hari.

Sekian semoga bermanfaat

________

Rujukan :
– Durusul Yaumi wal Lailah
– Ushul stalastah dan syarhnya Syekh Haistam Sarhan

***

Ditulis oleh : Ahmad Fathoni, Lc

(Alumni Universitas Islam Madinah KSA. Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Keutamaan Ibadah Umrah

0

Keutamaan Umrah

Bismillah…

Melakukan aktivitas, akan lebih semangat saat kita tahu keutamaan atau manfaat besar yang ada di baliknya. Seperti juga ibadah, yang sudah barangtentu tersimpan manfaat besar di balik pensyaraitan-nya. Karena, Allah tidak memerintahkan kita aktivitas yang sia-sia. Seluruh perintahNya, pasti mengandung hikmah dan manfaat yang besar.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menungkapkan makna ini dalam bait syair indah yang beliau susun,

الدين مبنىّ على المصالح ** في جلبها والدرء للقبائح
فإن تزاحم عدد المصالح ** يقدم الأعلى من المصالح

“Agama ini dibangun di atas maslahat. Baik dalam rangka mendatangkan maslahat atau mencegah mudhorat.”

Bila terjadi pertemuan antara sejumlah maslahat. Maka dahulukan mana yang lebih besar maslahatnya.

Salahsatu ibadah istimewa yang Allah perintahkan, adalah ibadah umrah. Rasanya, berjuta-juta biaya yang harus dikeluarkan, akan terbayarkan oleh manfaat besar yang terkandung di baliknya. Bahkan, ganjaran Allah sangat jauh lebih besar, daripada rogohan kocek yang kita belanjakan, dan, peluh letih yang kita korbankan.

Apa sajakah gerangan keutamaan ibadah umrah ?

Berikut pemaparannya :

Pertama, Umrah dapat menghapus dosa.

Siapa diantara kita yang terjaga dari dosa?! Sudah sekian lama kita hidup di sunia, tentu banyak catatan dosa menodai catatan amal kita. Oleh karena itu, kita butuh pada amalan yang dapat menghapus kelamnya catatan dosa. Diantaranya adalah berumrah.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhudia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تابعوا بين الحج والعمرة ، فإنهما ينفيان الفقر والذنوب كما ينفي الكير خبث الحديد والذهب والفضة ، وليس للحجة المبرورة ثواب إلا الجنة

“Iringilah (perseringlah) melakukan ibadah haji dan umrah. Sungguh dua ibadah ini dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa. Layaknya seorang pandai besi dapat menghilangkan karat-karat besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji mabrur selain surga.”

(HR. Tirmidzi dan beliau berkata: hadits hasan shahih. Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahih mereka)

Tentu saja yang dapat terhapus oleh ibadah ini, dan amal sholih – amal sholih yang memiliki keutamaan yang sama, adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, hanya akan terhapus oleh taubat yang jujur.

Penjelasan tentang hal ini, selengkapnya bisa anda simak di :http://hamalatulquran.com/puasa-asyura-menghapus-dosa-setahun-sebelumnya.html

Namun, bila melihat teks hadis di atas, Nabi mempermisalkan kekuatan ibadah haji dan umrah dalam menghapus dosa, seperti kuatnya pandai besi membersihkan karat-karat yang menempel pada besi. Artinya, tak hanya sembarang dosa kecil yang terhapus, bahkan sampai dosa-dosa kecil yang kuat lengket menempel di hati kita, juga akan terhapus. Sebagaimana lengketnya karat akan hilang dengan kuatnya tempaan dan panasnya api sang pandai besi.

(Lihat penjelasan ini di : Mirqotul Mafaatih 5/437)

Kedua, jihadnya kaum wanita dan orang-orang lemah.

Jihad, adalah ibadah yang tak seorangpun meragukan keutamaannya. Bagaimana tidak, sementara untuk bisa melakukan ibadah ini, butuh pengorbanan luar biasa, harta dan nyawa. Namun, tak setiap orang bisa melakukan ibadah ini. Para wanita dan orang-orang yang lemah, tak bisa melakukannya. Allah maha adil kepada seluruh hambaNya. Bagi kaum yang lemah, ada jihad tersendiri, yang pahalanya tak kalah istimewa dengan pahala jihad fi sabiilillah. Yaitu beribadah umrah.
Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadis Ibunda Aisyah rahiyallahu’anha,

قلت يا رسول الله هل على النساء من جهاد ؟

“Aku (Aisyah) berkata: Ya Rasulullah, apakah perempuan ada kewajiban berjihad?
Beliau menjawab,

عليهن جهاد لا قتال فيه … الحج والعمرة

Bagi mereka jihad yang tidak ada perang di dalamnya…yakni haji dan umrah.”

Sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جهاد الكبير والصغير والضعيف والمرأة : الحج والعمرة

“Jihadnya orang-orang lanjut usia, anak-anak yang belum baligh, orang-orang lemah dan wanita, adalah haji dan umrah” (HR. Nasa-i dengan sanad hasan)

Imam Muhammad bin Amir As-Shon’ani menerangkan hadis di atas,

أي أنهما لهم كالجهاد وفي الأجر

Maksud hadis di atas adalah, mereka seperti melakukan ibadah jihad dan mendapatkan pahala yang sama dengan ibadah jihad.

(Lihat : At-Tanwin Syarh Al-Jami’ As-Shoghir 5/280)

Ketiga, dapat mengurangi kemiskinan.

Semua menusia ingin hidup sejahtera. Olehkarenanya, anda bisa dapati setiap negeri di muka bumi ini, sangat gencar memerangi kemiskinan. Bahkan menjadi misi utama mereka. Ternyata, ada satu solusi yang ditawarkan oleh Islam, yang sudah pasti ini sangat manjur. Karena solusi ini bersumber dari Tuhan yang menjaga mengatur semesta alam ini, serta maha tahu seluk beluk permasalahan setiap ciptaanNya.

Padahal kalau kita hitung secara logika, umrah yang harus merogoh kocek puluhan juta, akan mengurangi saldo kekayaan kita. Tapi, dari hadis yang akan anda resapi di bawah ini, akan membuat hati-hati insan yang beriman, percaya bahwa, besar biaya yang dikeluarkan, pasti akan Allah ganti dengan lebih baik dan berlipat-lipat.

تابعوا بين الحج والعمرة ، فإنهما ينفيان الفقر والذنوب كما ينفي الكير خبث الحديد والذهب والفضة ،

“Iringilah (perseringlah) melakukan ibadah haji dan umrah. Sungguh dua ibadah ini dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa. Layaknya seorang pandai besi dapat menghilangkan karat-karat besi, emas dan perak… (HR. Tirmidzi)

Kekayaan Apakah yang Didapat?

Syekh Ali Muhammad Al-Qori -rahimahullah- menerangkan hadis ini,

أي يزيلانه وهو يحتمل الفقر الظاهر بحصول غنى اليد ، والفقر الباطن بحصول غنى القلب

Maksudnya Haji dan umrah dapat menghilangkan kefakiran. Ini bisa bermakna miskin secara dzahir, dengan terwujudnya kekayaan harta. Bisa juga bermakna miskin batin, yaitu terwujudnya kekayaan hati.

(Lihat : Mirqotul Mafaatih 5/437)

Maka, umrahlah…berhajilah.. dan jangan takut miskin. Tak pernah tercatat dalam sejarah, ada orang miskin gara-gara mempersering haji atau umrah.
Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat..

Wallahua’lam bis showab.

***
Ditulis oleh : Ahmad Anshori, Lc

Hamalatulquran.com

Mau umrah? Nggak usah bingung, daftar di Nur Ramadhan ajaa…

donatur-tetap

Wakili DI. Yogyakarta, Tiga Santri Hamalatul Quran Ikuti MTQ Nasional 2018

0


HAMALATULQURAN.COM — Yogyakarta, Tiga santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran ikuti Musabaqoh Tilawatil Quran Nasional (MTQN) ke 27 mewakili provinsi DI. Yogyakarta yang dilaksanakan di kota Medan, Sumatera Utara pada 4 sd. 13 Oktober 2018.

Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) adalah perlombaan dalam bidang Al quran yang di kategorikan dalam 12 cabang perlombaan dengan 23 golongan perlombaan.

Perlombaan tersebut diikuti oleh berbagai peserta dan tingkatan umur dari perwakilan 34 Provinsi di Indonesia.

Adapun ketiga santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran yang mewakili DI.Yogyakarta dalam perlombaan Musabaqoh Tilawatil Quran Nasional (MTQN) adalah sebagai berikut:

1. Dandan Nir Ruasji, mewakili lomba tilawah Al quran golongan tartil Al quran.

2. Mukhlis, mewakili cabang lomba Tafsir golongan Bahasa Arab

3. Husnil, mewakili cabang lomba Tahfidz golongan 10 juz

Sebelum mengikuti Musabaqoh Tilawatil Quran ke tingkat nasional, keempat santri tersebut telah menyisihkan peserta MTQ di tingkat provinsi dengan meraih juara 1 dan 2.

 

Santri Utusan dari Hamalatul Qur’an Yogyakarta, di MTQ Nasional 2018.

Baca : Info Pendaftaran Santri Baru TA 2019 – 2020

Dalam persiapan menuju Musabaqoh Tilawatil Quran tingkat Nasional, mereka telah mengikuti diklat yang di gelar oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) DI. Yogyakarta. Diklat tersebut dilakukan untuk mempersiapkan kafilah dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam perlombaan Musabaqoh Tilawatil Quran tingkat Nasional.

(zuf/hamalatulquran.com)

 

donatur-tetap

Ayo Tadabburi Al-Quran

0
@by-YufidDocumentary

Bismillah…

Bagi setiap muslim memtadaburi Al Quran adalah suatu hal yang amat penting serta telah di wajibkan oleh Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, Allah memerintahkan untuk mentadaburinya serta memahami isi dan makna yang terkandung di dalamnya dan menjadikan Al Quran sebagai ruh dalam kehidupan.

Allah ta’ala berfirman :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad :29)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :

“Allah ta’ala memerintahkan (hamba-hamba-Nya) untuk senantiasa mentadaburi Al Quran dan memahami isinya, serta melarang mereka berpaling darinya, Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

 “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?.” (QS. Muhammad : 24).

Bahkan hati mereka telah terkunci secara keseluruhan dan tidak ada yang dapat mensucikan hatinya tersebut walau dengan memahami makna-makna Al Quran.”

Maka dari itu janganlah jadikan hati kita berpaling dari mentadaburi Al Quran karena bisa jadi lambat laut hati kita akan terkunci dan tidak dapat merasakan nikmatnya membaca dan mentadaburi Al Quran.

Syeikh As-Sa’di rahimahullah berkata :

“Apakah orang-orang yang berpaling dari Al Quran itu tidak sadar bahwa sekiranya mereka membaca dengan penuh perhatian serta mentadaburinya maka itu akan mrnunjuki mereka kepada segala kebaikan dan akan menghindarkan mereka dari segala keburukan, dan hatinya akan terpenuhi oleh keimanan.

Sehingga jelaslah bagi mereka jalan menuju keridhaan Allah ta’ala serta surgalah balasan bagi mereka. Dan jelas pula mana jalan salah yang dapat membawa dirinya kepada adzab Alla ta’ala, serta apa saja yang harus dihindari oleh seorang hamba.

Selain itu dengan mentadaburi Al Quran seorang hamba akan lebih kenal dengan Robbnya, dengan nama-nama indah-Nya, dengan sifat-sifat-Nya serta segala kemurahan-Nya.”

Maka mentadaburi Al Quran adalah wasilah terbaik untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah ta’ala sehingga sampailah derajat yakin yang sempurna.

Dan diantara manfaat terpenting mentadaburi Al Quran, adalah agar hati kita tidak terkunci dan menolak kebaikan, serta hati akan lebih mudah khusyu beribadah dan bermunajat kepada Allah ta’ala.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid : 16)

Membuat hati yang membacanya menjadi khusyu adalah salah satu keistimewaan tersendiri dari Al Quran.

Terkadang muncul sebuah pertanyaan, “Saya sudah sering membaca Al Quran namun tidak pernah merasakan kekhusyukan dan ketenangan?”

Jika demikian mungkin hati anda masihlah kotor dan butuh untuk disucikan terlebih dahulu.

Bagaimana cara saya mensucikan hati ?

Ikhlaskan niat, bedoa kepada Allah agar dimudahkan serta rutinkanlah diri anda membaca Al Quran.

Seberapa banyak saya harus membaca Al Quran ?

Itu semua berbanding lurus seberapa banyak kebaikan yang ingin anda dapatkan.

wallahu a’lam.

_____
Referensi :

-Tafsir Al Quran Al ‘Adhim

-Taisir Karim Ar Rahman

-At Taa’aat Al ‘Irsyrun li Tadabburi Al Quran

***

Ditulis oleh : Muhammad Fatwa Hamidan

donatur-tetap

Para Ustadz PP Hamalatul Quran dan Islamic Center Wadi Mubarak Ikuti Pembekalan Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah

0
@Nur Ramadhan Wisata

HAMALATULQURAN.COM — Yogyakarta, PT. Nur Ramadhan Wisata mengadakan pembekalan pembimbing ibadah haji dan umrah untuk para ustadz dari Pesantren Hamalatul Quran, Yogyakarta dan Islamic Center Wadi Mubarak, Bogor pada Rabu (16/10/2018).

Acara yang diadakan di aula Pondok Pesantren Hamalatul Quran ini dihadiri oleh 25 orang yang terdiri dari para ustadz Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Islamic Center Wadi Mubarok, dan staf manajemen PT. Nur Ramadhan Wisata. Turut hadir dalam acara ini komisaris Besar PT. Nur Ramadhan Wisata Bapak Awang Johan dan Direktur Utama PT. Nur Ramadhan Wisata Ustadz Mifdol Abdurrahman, Lc.

Dalam sambutannya Bapak Awang Johan selaku komisaris PT. Nur Ramadhan Wisata menyampaikan ajakan untuk bersama-sama membesarkan amal usaha pesantren ini.

“Mari kita bersama membesarkan Nur Ramadhan Wisata group ini, sebagai sebuah amal usaha yang terus dapat mensupport keberlangsungan pondok pesantren Tahfidz yang menjadi nanungannya. Yaitu PP Hamalatul Qur’an dan Islamic Center Wadi Mubarok.”

Pada sesi selanjutnya, materi pembekalan pembimbing ibadah haji dan umrah diisi oleh Ustadz Muslim dari kantor PT. Nur Ramadhan Wisata perwakilan Yogyakarta.

Diharapkan usai pembekalan, para ustadz dan staf manajemen PT. Nur Ramadhan Wisata bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan bisa memberikan pelayanan serta bimbingan ibadah terbaik untuk tamu-tamu Allah yang akan menjalan ibadah haji maupun umrah.

Dokumentasi

(zuf/hamalatulquran.com)

Baca informasi pendaftaran Tahun ajaran 2019 – 2020 di sini :  Info Penerimaan Santri Baru Tahun 2019

=====

Mau umrah? Nggak usah bingung, daftar di Nur Ramadhan ajah

©KLIK : www.nurramadhan.com dan

#NurRamadhan
#AnugerahCitraMulia

.

 

donatur-tetap

Menyambut Kedatangan Empat Santri Hamalatul Quran Di Madinah

0
@Gerbang utama Universitas Islam Madinah KSA

HAMALATULQURAN.COM — Madinah, Setelah tibanya empat santri almuni Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta, yang diterima di Universitas Islam Madinah tahun 2018, Ikatan Alumni Hamalatul Quran Madinah adakan penyambutan mahasiswa baru pada Kamis (7/8/2018)

Acara penyambutan yang berlangsung di salah satu asrama alumni yang berlokasi di distrik Robwah, ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah antar alumni, yang saat ini sama-sama melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah.

“Alhamdulillah acara malam ini kita adakan selain untuk mempererat ukhuwah antar alumni. Juga sebagai bentuk penyambutan kami terhadap adik-adik yang baru datang di kota Nabi untuk menuntut ilmu.”, ujar salah satu alumni.

Ada empat alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran yang diterima di Universitas Islam Madinah tahun 2018, yaitu:

1. Muhammad Irfan Syaifudin, alumni asal Sukoharjo.

2. Muhammad Yazid, alumni asal Bantul.

3. Syauqi Ahmad Labib, alumni asal Sukoharjo.

4. Muhammad Erik, alumni asal Pagar Alam-Sumatera Selatan.

Saat ini, alhamdulillah tercatat ada 12 santri Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta, yang sedang menimba ilmu di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. 11 diantaranya mahasiswa pada jenjang Bachelorius (strata 1) dan satu mahasiswa pada jenjang strata Magister (strata 2), prodi Ilmu hadis.

Baca :  Info Penerimaan Santri Baru Tahun 2019

Semoga di tahun-tahun yang akan datang, semakin banyak lagi alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran yang melanjutkan pendidikannya di Timur Tengah khususnya di Universitas Islam Madinah.

(zusuf/hamalatulquran.com)

 

donatur-tetap

Menghafal Al-Qur’an di Usia Tua

0
@unplash

Bismillah…

Baru saja (Masjid Nabawi, Ahad 14/10/2018) Syaikh Ali Al Huzaify -semoga Allah menjaganya-, Imam dan Khathib Masjid Nabawi melantunkan bacaan Al Quran yang begitu Syahdu dan khas. Beliau sudah lebih 40 tahun bertugas menjadi Imam di Masjid Nabawi. Yang mana anaknya beliau juga tahun 1439 H sempat menjadi Imam Tarawih di Masjid Nabawi. Sehingga Syaikh Ali Al Huzaify digelari dengan julukan Syaikhul Muqri’in atau Syaikhnya para Qari Al Quran.

Meski di usia beliau yang saat ini sudah 71 tahun, beliau masih kuat dan bagus hafalannya. Hal ini membuat saya tertarik untuk menelaah bagaimana beliau menghafal Al Quran dahulu di waktu muda? dan apakah ada kesempatan bagi orang tua untuk menghafalkan Al Quran?

Hingga saya mendapat sebuah rekaman wawancara Syaikh Ali Al huzaify, beliau menyebutkan bahwa dirinya menyelesaikan AlQuran pada umur 30 tahun dan melengkapi riwayat riwayat Qiro’ah pada umur setelahnya. Hal inilah yang cukup unik, karena hanya dalam waktu singkat selesai beliau menjadi Hafizh AlQuran langsung ditunjuk menjadi Imam dan Khathib di Masjid Nabawi.

Ternyata umur bukanlah syarat menjadi hafizh AlQuran, terbukti di Arab Saudi banyak sekali pria dan wanita yang sudah sepuh dan berjalan menggunakan tongkat, ikut dalam halaqah halaqah Tahfzih bahkan diantara mereka sudah bercucu.

Banyak sekali Ulama yang menuntut ilmu di usia tua, diantaranya adalah Abdullah bin Ahmad bin Abdullah al Marwazi -rahimahullah- atau yang dikenal dengan Al Qaffal, sebelum beliau menuntut ilmu ia berjualan kunci gembok, barulah di umur 30 tahun beliau mulai belajar agama dan dikemudian hari beliau menjadi Ulama Mazhab Syafiiyah.

Memang benar sebuah ungkapan dalam Bahasa Arab bahwa,

الحفظ في الصغر كالنقش على الحجر

‘’Menghafal di waktu kecil laksana mengukir di atas batu’’.

Akan tetapi, walaupun seorang yang gemar menghafal di waktu mudanya akan tetapi dia malas dan tidak bersemangat mengulang ulang hafalannya, maka pasti hafalannya akan lenyap.

Seperti batu yang sebelumnya telah diukir namun dibiarkan saja, maka lama kelamaan jika tidak dirawat akan kembali tertutupi debu dan lumpur sehingga hanya seperti batu batu yang lain.

Bahkan sebagian Ulama seperti yang dinukil oleh Imam As-Suyuthi -rahimahullah- mensyaratkan bahwa ahlul hadits hendaknya memulai Sima’ (mendengar) hadits di umur 30 tahun, ini juga pendapatnya Ulama Syam.

(Lihat Tadrib al Rawi 1/414)

Imam Al Bukhari -rahimahullah- meriwayatkan perkataan Umar Bin Al Khathab di dalam ‘’kitabul ‘Ilm’’ bahwasannya beliau berkata,’’Belajarlah agamamu sebelum engkau menampuk kepemimpinan’’. Lalu Imam Al Bukhari berkata,’’dan setelah kalian menampuk kepemimpinan maksudnya dahulu sahabat Rasulullah ﷺ mulai menuntut ilmu agama di umur tua mereka.’’

Diantara ulama yang menuntut ilmu di waktu tua adalah Asbagh bin Al faraj rahimahullah, Imam Az Zhahabi rahimahullah berkata tentang biografi beliau,’’ Syaikhul Imam al Kabir, Mufti Negeri Mesir dan Alimnya, beliau mulai menuntut Ilmu di umur yang sudah tua. ‘’

(Lihat Siyar A’lam An Nubala 10/656)

Mari simak nasehat syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah ketika ditanya tentang menuntut ilmu di waktu muda, beliau berkata:

‘’Kapan pun seorang muslim bisa dan mampu untuk menuntut ilmu serta memperdalamnya, maka hendaknya ia lakukan. Dan tidak boleh mundur dari menuntut ilmu dengan alasan umur yang tua.

Karena sebagian besar sahabat Rasulullah ﷺ menuntut ilmu di waktu tua mereka seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Al Abbas, Ibnu Auf, Abu Ubaidah, dan selain mereka. Kemudian diikuti pula oleh Ulama dari kalangan Tabiin seperti, Shalih bin Kisan, beliau belajar dari sahabat Ibnu Umar, dan Ibnu Zubair dan belajar kepada Imam Al Zuhri dan dianugrahi Umur yang Panjang sehingga beliau wafat pada tahun 140 Hijriah.

Karena ketika hukum menuntut ilmu itu wajib maka umur yang tua tidak keluar dari kewajiban tersebut begitu pula dengan anak kecil.

Seorang Ulama bernama Makhul rahimahullah meriwayatkan secara Mursal bahwa,’’ Tidak boleh seorang yang sudah tua merasa malu untuk mengambil ilmu dari yang muda.’’

Maksudnya ialah, karena jika orang tua tersebut tetap dalam kebodohoannya maka hal tersebut merupakan Aib dan kekurangan, dan mempelajari ilmu dari yang lebih muda bukanlah termasuk Aib dan kekurangan.’’

Adapun Pemuda, maka wajib baginya belajar di masa mudanya. Karena hal itu akan menguatkan pemahamannya, Al Hasan rahimahullah berkata,’’belajar hadits di waktu muda laksana mengukir di atas batu’’,

Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata,’’Tuntutlah Ilmu, karena jika kalian adalah orang orang kecil di kaumnya maka kalian akan menjadi pembesar pembesarnya di esok hari’’.

Imam Al Zuhri rahimahullah berkata,’’ Jangan merasa minder dengan mudanya umur kalian, karena dulu Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu jika mendapati perkara urusan yang sulit dan pelik, beliau memanggil para pemuda untuk diajak bermusyawarah.’

(lihat website beliau soal nomor 46 tentang ‘’bagaimana kamu menuntut ilmu’’).

***

Ditulis oleh : Syauqi Ahmad Labib

(Alumni PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta. Saat ini sedang Menuntut Ilmu di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, Fakultas Al-Qur’an)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Ada Saatnya Kita Bersyukur dan Bersabar

0
@unplash

Bismillah…

Sungguh menakjubkan sifat dari seorang mukmin, dia selalu terbungkus dengan akhlak mulia dan selalu berusaha untuk meraih keridhoan Robnya dan menghindari dengan sekuat tenaganya dari sifat sifat yang menjerumuskan ke murka Allah ta’ala
Rosulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.

Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya. (HR. Muslim)

Inilah keadaan orang mukmin yang semestinya selalu ada di dalam hatinya, selalu dalam keadaan bersyukur dan bersabar.

Pertama, bersyukur dalam segala keadaan.

Rasulullah shallallahu’alaihiwa sallam apabila melihat sesuatu yang menggembirakan beliau mengucapkan,

الحمد لله بنعمته تتم الصالحات

Segala puji bagi Allah dengan nikmatNyalah semua kebaikan bisa sempurna.

Dan apabila melihat sesuatu yang kurang menggembirakan beliau mengucapkan,

الحمد لله على كل حال

Segala puji bagi Allah dari segala keadaan.

(HR. Ibnu Majah)

Inilah yang di contohkan oleh panutan kaum mukminin Rosulullah shallallahu’alaihi wa sallam selalu memuji Allah dalam segala keadaan baik keadaan yang menggembirakan dia maupun keadaan yang tidak menyenangkan.

Syukur akan menambah nikmat yang ada. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

{وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ}

Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Dengan bersyukur akan terlindungi dari azab Allah

{مَّا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا}]

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nisa : 147)

Syekh as Sa’di rahimahullah mendefinisikan syukur :

والشكر هو خضوع القلب واعترافه بنعمة الله، وثناء اللسان على المشكور، وعمل الجوارح بطاعته وأن لا يستعين بنعمه على معاصيه.

Syukur itu ketundukan hati dan pengakuan akan nikmat Allah, dan lisan memuji yang memberi kenikmatan itu dan anggota badan beramal dengan taat kepadaNya dan tidak memakai kenikmatan itu untuk bermaksiat.

Kedua, sabar.

Orang mukmin hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat sabar yang menjadikan kecintaan Allah turun kepadanya.

{.. وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ}

Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran : 146)

Kehidupan di dunia tidak terlepas dari kesabaran bagaimanapun keadaannya, ketika seseorang sedang gembira dia butuh sabar untuk tetap bersyukur kepada Allah dan ketika dia sedang dalam keadaan susah dia butuh kesabaran untuk tidak berbuat sesuatu yang mendatangkan murka robnya.

Sabar adalah pondasi untuk bisa berdiri suatu perkara penting dan amal amal sholeh.

Sabar adalah menahan diri terhadap tiga perkara :

1- menahan diri untuk tetap taat kepada Allah dengan melaksanankan semua perintahNya semampunya

2- menahan diri untuk tidak bermaksiat dan melanggar syareat Allah

3- menahan diri untuk menerima takdir dan ketetapan dari Allah dengan tidak berkeluh kesah kepada selain Allah dari cobaan yang menimpanya.

Syekh Muhammad Soleh Utsaimin -rahimahullah- memberikan definisi sabar :

الصبر هو حبس النفس عما لا ينبغي فعله

Sabar adalah menahan diri dari sesuatu yang tidak sepantasnya di lakukan

Gembira, senang, susah, sedih semua itu cobaan dari yang maha kuasa, Allah berfirman :

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ} [الأنبياء : 35]

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.

Inilah sifat orang mukmin yang sejati selalu di antara sabar dan syukur, sabar di semua keadaan dan bersyukur serta lisan tetap memuji dalam keadaan apapun.

Semoga bermanfaat.

***

Ditulis oleh : Muhammad Fathoni Lc

(Alumni Universitas Islam Madinah KSA, fajulfas Dakwah wa Ushuluddin. Pengajar di PP Hamalatulquran Yogyakarta)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Ternyata Ulama Nusantara Beriman Allah Berada di Atas ‘Arsy (Part 2)

0
@unplash

Bismillah…

Prof. Dr. ‘Abdul Malik [bin] ‘Abdul Karim Amrullah 

Akrab disapa Buya HAMKA turut pula menjelaskan dalam Pelajaran Agama Islam hlm. 49,

“Tuhan telah menunjukkan sifat-sifat di dalam sabda yang disampaikan-Nya kepada Nabi-Nya. Sepintas lalu seakan-akan serupa sifat itu dengan sifat makhluk-Nya. Misalnya melihat, mendengar, berkata, hidup, dan lain-lain. Tetapi bila dijalankan fikiran selangkah lagi, akan kenyataanlah bahwasanya sifat itu mesti berbeda keadaannya.

Persamaan adalah mustahil. Bagaimanalah akan sama sifat yang dipunyai oleh zat Yang Maha Besar, dengan sifat yang dipunyai oleh zat yang terjadi hanyalah karena izin dari Yang Maha Besar itu. Kadang-kadang kita hendak tahu benar bagaimana perbedaan sifat itu. Padahal terlalu banyak hijab atau dinding yang membatasi kita di dalam jalan hendak menyelidiki dan memngupas hakikat itu.

Jangankah mengetahui perbedaan  sifat Dia dengan sifat alam, sedangkan alam itu sendiri belum lengkap kita ketahui, dan yang kita dapat hanya sejumput kecil saja. Jangan hakikat alam itu yang kita ketahui, sedang hakikat diri kira sendiri pun adalah satu perkara besar.

“Maka kalau dikatakan Tuhan Allah bersifat mendengar, bukanlah artinya pendengaranNya itu sama dengan pendengaran kita yang memakai telinga macam ini. Kalau Dia melihat bukanlah artinya alat penglihataNya adalah mata sebagai mata kita yang diberikanNya ini. Kalau Dia berkata tidaklah Dia berlidah dan bermulut sebagai kita. Dia membina langit, Dia menghamparkan bumi, Dia duduk di Arsy, dan lain-lain sebagainya.

Semuanya itu tidaklah serupa dengan yang kita pikirkan atau terdapat dalam kebiasaan kita. Kalau Dia berkata bahwa Dia bertangan yang terletak di atas tangan kita, bukanlah Dia beranggota tubuh sebagai anggota tubuh kita ini. Alhasil, sifat alam yang dijadikan oleh Tuhan tidaklah serupa dengan sifat Tuhan, sebab Tuhan bukan alam dana lam bukan Tuhan.

Bertengkar-tengkar dan kadang-kadang mengambil tempo berlama-lama, sampai berpisah kepada beberapa firkah dan mazhab diantara ahli-ahli fikir islam membicarakan sifat-sifat Tuhan itu, tentang Dia memandang dengan mataNya, Dia bertangan, Dia duduk di atas Arsy, Dia turun ke langit pertama di pertiga malam dan lain-lain.”

Buya HAMKA juga mengemukakan dalam Tafsir Al-Azhar (VIII/366) dalam kutipannya dari Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’i yang merupakan guru daripada Imam Al-Bukhari, yang tengah membahas tafsir ayat ke-54 dari Surat Al-A’raf,

“Dalam sifat Allah tentang diri-Nya, atau diterangkan oleh Rasul-Nya, tidaklah terdapat perserupaan dengan makhluk. Maka barangsiapa yang mengakui apa yang tersebut dalam Nash yang demikian jelasnya di dalam Al-Quran dan demikian pula dari kabar-kabar (Hadits) yang shahih, menurut keadaan yang layak bagi Kemuliaan Allah, serta menafikan daripada Allah segala kekurangan, maka orang itulah yang telah berjalan di atas garis petunjuk yang benar.”

Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir-nya, “Pembicaraan orang tentang soal ini memang banyak. Tetapi Mazhab yang baik ditempuh dalam hal ini ialah mazhab Salaf yang shahih, yaitu Imam Malik, dan Al-Auza’i, dan Al-Tsauri, dan Al-Laits bin Sa’d. dan Asy-Syafi’i, dan Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih, dan ulama-ulama ikutan kaum muslimin yang lain, yang dahulu dan yang kemudian.

Yaitu membiarkannya sebagaimana yang tersebut itu, dengan tidak menanyai betapa, dan tidak pula menyerupakan-Nya, dan tidak pula menceraikan-Nya dari sifat. Dan segala yang cepat terkenang di dalam otak orang yang hendak menyerupakan Allah dengan yang lain, sekali-kali tidaklah sesuai dengan keadaan Allah, sebab tidak ada makhluk yang menyerupai Allah. Tidak sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia adalah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.”

Selesai kutipan dari Buya HAMKA.

Drs. Bakri Syahid

Rektor IAIN Jogjakarta, dalam Tafsir Al-Quran Al-Karim “Al-Huda” ketika menafsirkan ayat ke-5 dari Surat Thaha berkata, “Panjenenga-Ne Pangeran kang  Maha Murah, kang pinarak siniwaka ana ing sadhuwure ‘Arsy.”

Selanjutnya beliau menerangkan lagi, “Kodos pundi tehnis pinarakipun Gusti Allah ing sanginggiling  ‘Arsy punika kawontenan ghaib, boten saged kekantha-kantha. Bab punika kuwajiban kita iman serta yakin bilih Kaagunganipun Allah serta Kesucianipun  trep kalayan anggenipun Maha Kawasa Murbeng – Jagad pinarak siniwaka ing ‘Arsy ingkang Agung.”

Pada tafsir ayat ke-54 dari Surat Al-A’raf, beliau juga berkata, “Sanyata Pengeranira iku Allah kang wus anitahake Langin lan Bumi sajeroning mangsa nem dina, tumuli PanjenengaNe lenggah ana ing ‘Arsy.”

Bey Arifin

Ulama penulis Surabaya asal Sumatera Barat, ketika akan menjawab pertanyaan tentang “dimanakah Tuhan atau Allah itu ?”, Beliau menjelaskan terlebih dahulu sebuah “kaidah umum” dalam memahami nash-nash yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah sebagai berikut,

“Sebelum menjawab pertanyaan ini, agar jangan timbul kekeliruan perlu kita ingatkan kembali akan apa yang kita tetapkan tentang (sifat-sifat, atribut-atribut, dan ketentuan-ketentuan) Allah menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yaitu berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang shahih.”

“Bahwa kita tetapkan dan yakinkan (imani) bahwa Allah itu ada, tidak membutuhkan tempat, Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, Maha Kekal tak berawal dan tak berakhir, berbeda dengan segala makhluk, tak ada persamaan dan bandingannya, Maha Kuasa menciptakan segala dan memberi bentuk, mengendalikan dan mengatur seluruh alam, Maha Mendengar, Melihat dan Mengetahui, tak satu pun di langit dan di bumi, yang bagaimana halusnya yang tersembunyi dari penglihatan, pendengaran, dan pengetahuan-Nya.”

“Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, suci dari segala kekurangan dan kesalahan, mempunyai Nama-Nama Yang Baik. Bagi-Nya ketinggian, pujian, dan sanjungan, berkedudukan di Arasy yang tak dapat dibayangkan dengan khayal, tidak terbatas dengan batas apapun, tak dapat dicapai dengan ilmu (akal atau faham), kecuali sekedar apa yang diajarkan-Nya dengan perantaraan Kitab-Kitab Suci-Nya dan para Rasul-Nya.”

“Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Ia. Yang hidup, Yang Berdiri mengendalikan segala yang ada, Maha Suci, Maha Besar, Maha Halus (teliti), Maha Pengasih, Penyayang, Berkata-kata, Berkehendak, Menciptakan apa saja yang Ia kehendaki, Mengambil dan Memberi, Suka dan Benci, Cinta dan Marah, Gembira dan Ketawa, Menyuruh dan Melarang, Mempunyai Wajah yang mulia, Telinga yang mendengar, Mata yang melihat, Dua Tangan dan dua genggaman, Kekuatan, dan Kekuasaan. Senantiasa demikian buat selama-lamanya, berkedudukan di Arasy-Nya, Mengatur segala perkara atau urusan dari langit, tidak dapat dilihat oleh mata dari dunia ini, tetapi dapat dilihat oleh mata dari Surga-nya, Maha Agung Ia dengan segenap Sifat dan Perbuatan-Nya itu.”

Ustadz Bey Arifin kemudian menegaskan kembali aqidah tersebut, di atas dengan kalimat yang lebih “keras” dengan mengatakan sebagai berikut, “Tuhan yang demikian itulah yang kita imani, terhadap Ia saja kita menyembah dan minta pertolongan, beribadat, rukuk dan sujud. Barang siapa yang menyembah kepada Tuhan yang lain sifatnya dari sifat-sifat yang tersebut di atas, berarti dia menyembah selain Allah, Maka inilah yang dinamakan syirk atau kafir, satu kekufuran dan kesyirkan yang tak dapat diampuni.”

Pada bagian yang lain, Ustadz Bey Arifin menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut, “Begitu juga dengan kata-kata lain yang dihubungkan dengan Allah di dalam ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an dan Hadis-Hadis. Misalnya kata-kata : tangan, mata, wajah, dll. Allah bermata, bertangan, dan berwajah, yaitu mata, tangan, dan wajah yang sesuai dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Mata, tangan, wajah yang tak sama dengan tangan, mata, wajah manusia atau lain-lain makhluk.”

Beliau rahimahullah kemudian melanjutkan sebagai berikut,

“Orang-orang yang dibukakan Allah hatinya akan dapat mengenal Tuhannya dengan ayat-ayat Kitab Suci-Nya yang disampaikan oleh Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari ta’wil, ta’thil, takyif, dan tamtsil, menghindarkan diri dari mengubah-ubah arti kata dari Kalamullah, membayangkan suatu cara atau bentuk bagi Allah, atau membayangkan suatu cara atau bentuk tertentu bagi Allah seperti bentuk makhluk.”

[1] Ungkapan, “Baginya Tangan…,” bermula tangan itu terjemah bagi lafal al-yad dengan bahasa Melayu. Maka adakah harus diterjemah akan segala shifat Allah Ta’ala yang mutasyabih seperti al-yad dan al-wajh denghan bahasa Melayu dan lain daripadanya atau tiada harus?

Jawab :

Berkata Al-Imam Abu Saiful Haq wad-Din Abul Mu’in An-Nasafi $ di dalam kitabnya, Bahrul Kalam:

و يجوز أن يقال بأن لله تعالى يدا بالعربية، لا يجوز بالفارسية. انتهى.

Artinya, “Dan harus bahwa dikatakan dengan bahwasanya ada bagi Allah Ta’ala yad dengan bahasa ‘Arab, tiada harus ia dengan bahasa Persi.

Dan berkata Al-Imam Abu Hanifah $ di dalam kitab Al-Fiqh Al-Akbar:

و كل ما ذكره العلماء بالفارسية من صفات الله تعالى عزت أسماؤه و تعالت صفاته فجاز القول به سوى اليد بالفارسية، و يجوز أن يقال بروى خدا (أي وجه الله)بلا تشبيه و لاكيفية.

Artinya, “Dan tiap-tiap barang yang menyebut akan dia oleh ulama dengan bahasa Persia daripada segala shifat Allah Ta’ala Mahamulia nama-Nya dan Mahatinggi segala shifat-Nya, maka harus berkata dengan dia, kecuali al-yad dengan bahasa Persia. Dan harus bahwa dikatakan بروي خدا (artinya: muka Allah) dengan ketiadaan menyerupakan dan ketiadaan kaifiyat.

Difaham daripada perkataan dua imam ini akan bahwasannya tiada harus diterjemah akan al-yad dan harus diterjemah ajan yang lain daripada yang lain daripadanya seperti al-wajhu. Tetapi berkata oleh Al-Imam Nashirus Sunnah Mulla ‘Ali bin Sukthan Muhammad Al-Qari di dalam Syarah-nya atas Al-Fiqh Al-Akbar pada halaman 93:

و إذا كان القول مقرونا بالتنزيه و نفي التشبيه فالفرق بين اليد و الوجه تدقيق يحتاج إلى تحقيق. انتهى.

Artinya, “Dan apabila adalah perkataan itu disertakan dengan menyucikan dan meniadakan menyerupakan, maka farq antara al-yad dan al-wajh tadqiq yang berhajat ia kepada tahqiq.”

Berkata aku, “Maka barangkali karenma ini menerjemah oleh ulama Melayu kita akan shifat mutasyabihah di dalam kitab-kitab mereka itu seperti Firidah Al-Faraid, dan kitab Ad-Durr Ats-Tsamin, dan kitab ‘Aqidah An-Najin.

Wallahua’lam.

***

Ditulis oleh : Firman Hidayat Mawardi, BA

(Alumni PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta, S1 Fakultas Syariah LIPIA Jakarta. Saat ini beliau mengajar di Islamic Centre Wadi Mubarok, Bogor)

Dikutip dari : Safinah.id

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Ternyata Ulama Nusantara Beriman Allah Berada di Atas ‘Arsy (Part 1)

0
@unplash

Allah Beristiwa di Atas Arsy

Bismillah…

Ahlussunah wal jama’ah meyakini bahwa Allah beristiwa di atas Arasy. Banyak dalil dalam Al-Qur’an maupun hadis yang menegaskan keyakinan ini.

Selengkapnya bisa anda pelajari di sini : Mengimani Allah Berada di Atas Langit

Bahkan fitrah atau naluri manusia mengakui, bahwa Allah beristiwa di atas Arasy. Hal ini ditunjukkan saat ia berdoa kemanakah tangan menengadah?!

Saat dia mendapatkan musibah atau permasalahan hidup, dia akan berucap pasrah dan mentabahkan diri, “Kita serahkan semuanya kepada yang di atas.”

Dan yang menarik, ternyata akidah ini bukanlah akidah yang baru di negeri kita tercinta. Para ulama Nusantara yang telah mendahului kita, menjelaskan akidah agung ini. Mari kita selengkapnya pada tulisan Ustadz Firman Hidayat Mawardi BA* berikut:

***

Syaikh Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqi, guru besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Aceh, menjelaskan dalam Tafsir Al-Quran Al-Majid “An-Nur” (II/123),

“Kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, menurut keadaan yang Allah sendiri lebih mengetahui, serta  keadaan itu suci dari menyerupai keadaan makhluk. Pernah ditanya kepada Malik tentang makna istiwa’=bersemayam, berketetapan.

Maka beliau menjawab, “Menurut bahasa istiwa itu terang. Bagaimana Tuhan bersemayam di atas ‘Arsy, kita tidak dapat mengetahuinya. Menanyakan tentang bagaimana Tuhan bersemayam di atas ‘Arsy adalah bid’ah.’ Demikian pendapat sahabat dan ulama salaf (klasik).

Ulama salaf menerima hal tersebut dengan tidak menjelaskan begini dan begitu, dan tidak menyerupakan keadaan itu dengan keagaan makhluk. Mereka menyerahkan hal itu kepada Allah sendiri.

Adapun Asy’ariyah mentakwil (baca: mentahrif/mengobah) makna itu dengan menyatakan bahwa sesudah menciptkan langit dan bumi, Allah mengatur segala urusan yang berkaitan dengan itu dan menentukan sistemnya menurut takdir dan hikmah yang telah ditentukan.”

Berkaitan dengan penjelasan ayat-ayat istiwa di atas, selain Ash-Shiddieqy sebagai pemberi penjelasan yang sesuai dengan pemahaman Salaf Shalih yang mewakili ulama-ulama .

Nusantara, ternyata ada pula ulama yang jauh hidup dari zamannya yang juga telah terlebih dahulu menjelaskan kepada masyarakat bahwa Allah berada di atas langit, bukan di mana-mana. Beliaulah Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Fanshuri As-Sinkili, Qadhi Kerajaan Aceh pengganti Al-Qadhi Nuruddin Muhammad Ar-Raniri.

Baiklah, untuk mempersingkat waktu, saya persilakan Anda mendengarkan penjelasan beliau dalam Tafsir Turjuman Al-Mustafid.

Pertama, pada (I/209) beliau mengatakan, “Bahwasanya Tuhan kamu, Allah, yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi pada sekira-kira enam hari daripada segala dunia. Kemudian, maka tetap Ia atas ‘Arsy dengan tetap yang patut dengan Dia.”

Kedua, pada (I/250) beliau megatakan, “Allah Ta’ala jua yang mengangkatkan tujuh petala langit dengan tiada tiang yang kamu lihat akan dia. Kemudian dari itu, maka disahjanya atas ‘Arsy dengan sahaja yang patut dengan dia dan dimudahkan-Nya matahari, dan bulan adalah tiap-tiap suatu dari keduanya pada peredarannya  datang kepada hari kiamat.”

Ketiga, pada (II/21) beliau menulis, “Yang menjadikan bumi dan tujuh petala langit yang tinggi itu, yaitu Tuhan yang bernama Rahman atas ‘Arsy tetap Ia dan yaitu dengan tetap yang berpatutan dengan Dia.”

Keempat, pada (II/74) beliau menuturkan, “Ia jua yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi dan antara keduanya pada sekira-kira enam hari dunia. Kemudian maka yaitu Tuhan yang bernama Rahman itu atas ‘Arsy dengan nyata yang laik (baca: layak) dengan Dia.”

Kelima, pada (II/124) beliau menjelaskan, “Allah Ta’ala jua yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi dan antara keduanya di dalam enam hari. Pertama menjadikan itu hari Ahad dan akhirnya hari Jum’at. Kemudian dari itu, maka tetaplah Ia dan nyata atas ‘Arsy dengan nyata yang berpatutan dengan Dia.”

Keenam, pada (II/247) beliau menulis, “Ia jua Tuhan yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi pada enam hari daripada segala hari dunia . Awal harinya Ahad dan akhirnya Jum’at. Kemudian dari itu, maka Ia mengrasa Ia dan nyata Ia atas Kursi dengan yang berpatutan dengan Dia.”

Ketujuh, pada (I/158) beliau pun menulis, “Bahwasanya Tuhan Kamu itu Allah yang telah menjadikan tujuh petala langit dan bumi di dalam enam hari daripada segala hari dunia. Kemudian maka diqashad-Nya atas ‘Arsy-Nya.”

Ringkasnya, Syaikh ‘Abdurrauf Al-Fanshuri yang merupakan ulama nomor wahid sebumi Aceh menjelaskan dengan gamblang,  bahwa Allah Ta’ala bersemayam di atas ‘Arsy dengan semayam yang bersesuaian dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Maksudnya ialah bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy itu tidak menyerupai sedikit pun dengan bersemayamnya makhluk di atas singgasananya.

Karena memang, “Tiada seperti-Nya suatu dan yaitu yang amat mendengar segala yang dikata lagi amat melihat  akan segala yang diperbuat oleh sekalian makhluk,” jelas beliau pada (II/193).

Apa yang dipaparkan di atas ini sekaligus sebagai bantahan tajam terhadap kaum bid’ah yang bersembunyi di balik nama mulia Ahlussunnah wal Jama’ah yang pada hakekatnya berfaham sekte Asy’ariyyah atau Asya’irah. Padahal Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri berlepas diri dari mereka yang menisbatkan diri kepada beliau.  Sebab pernyataan beliau dalam Al-Ibadah (II/105-113).

Sedangkan para ahli bid’ah Asy’ariyyah dan sekte-sekte yang sepaham dengan mereka dari kalangan Muktazilah dan lainnya berpendapat bahwa Allah Ta’ala tidaklah berada di atas ‘Arsy!

Artinya Allah tidak berada di atas. Lalu di manakah?

Di antara mereka ada yang menegaskan bahwa Allah berada di mana-mana. Sehingga menurut mereka Allah berada di tempat-tempat yang baik dan juga di tempat-tempat yang kotor sekalipun yang lisan saja enggan mengucapkannya!

Padahal mereka sendiri sedikit pun tidak mau bertempat di tempat-tempat yang kotor. Mereka pastilah lebih memilih di tempat-tempat yang bersih dan baik. Namun ketika mereka berbicara tentang Allah, mereka katakana,

“Allah ada di mana-mana!”

Subhanallah, Mahasuci Allah dari segala yang mereka katakana tentang Allah. Kita hanya mengatakan pada mereka:

تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ

“Kalau begitu, pembagian semacam itu tidak adil alias curang!” [QS An-Najm: 22]

Ini sama seperti sikap orang-orang musyrikin yang malu memiliki anak perempuan sehingga mereka tega mengubur mereka hidup-hidup. Namun ketika mereka bicara tentang Allah, mereka katakana bahwa Allah memiliki anak-anak perempuan, yaitu para mailakat! “Kalau begitu, pembagian semacam ini curang!”

Sebagian ahli bid’ah pula ada yang mengatakan tanpa rasa malu dan dosa, sebagaimana kawan sejawat mereka sebelumnya yang mengatakan Allah ada di mana-mana, bahwa Allah tidak layak dikatakan apakah di atas, di bawah, atau di arah tertentu yang diketahui manusia.

Bahkan mereka katakan, tidak layak dikatakan Allah berada di dalam atau di luar alam semesta!

Salah seorang imam mereka, yaitu Ibnu Faurak, pernah terjebak debat terkait masalah ini dengan seorang ulama Ahlussunnah yang sekaligus panglima perang terkenal bernama Mahmud bin Subuktikin.

Diantara yang dikatakan Ibnu Faurak ialah, “Saya tidak mengatakan bahwa Allah ada di atas, tidak pula di bawah, tidak pula di kanan, dan tidak pula di sebelah kiri.” Mendengar itu, Mahmud bin Subuktikin menimpali, “Sesungguhnya Tuhanmu tidak ada!”

[Majmu’ Al-Fatawa (III/37)]

Sebagaian ulama ada yang menyatakan bahwa Ibnu Faurak inilah sosok di balik semakin runyamnya akidah Asy’ariyyah. Sebab sekte Asy’ariyyah generasi awal masih meyakini Allah berada di atas ‘Arsy, bukan di mana-mana apalagi seperti keyakinan Ibnu Faurak di atas. Namun setelah Ibnu Faurak memodifikasi ‘aqidah Asy’ariyyah, pengikut sekte ini di kemudian hari justru lebih mengikutinya daripada mengikuti Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri selaku ‘pendiri’ sekte Asy’ariyyah ini.

Kemudian kenyataan di atas bahwa dua ulama senior Aceh, yang bahkan salah satunya qadhi atau mufti Kerajaan Aceh yang masyhur itu, sebagai tamparan keras untuk mereka-mereka kalangan Ahlul Bida’ wal Ahwa’ yang akhir-akhir ini mulai menampakkan kedunguan serta kebodohan mereka, dengan cara membubarkan dan memporak-porandakan setiap kajian yang jauh-jauh hari didakwahkan oleh pembesar ulama Aceh di atas.

Sehingga, amat sangat disayangkan sekali manakala orang-orang yang hanya berbekal semangat, tanpa sedikit pun mengerti apa sebetulnya corak Islam yang mewarnai bumi rencong itu. Kebodohan tersebut jelas-jelas terlahir lantaran malasnya belajar dan membaca peninggalan-peninggalan intelektual ulama mereka sendiri.

Ahlul Bida’ wal Ahwa’ tersebut justru lebih suka mengadopsi faham-faham asing yang diseludupkan ke dalam ajaran agama Islam. Sehingga wajarlah apabila mereka justru mendurhakai ‘orangtua kandung’ mereka sendiri, dan malah lebih berbakti mentaati ‘orangtua angkat’ yang datang tiba-tiba!

Sebetulnya ulama-ulama masa silam Aceh,  yang sefaham dengan ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Salafiyyah, tidak sedikit jumlahnya. Bahkan sebagiannya adalah pejuang kemerdekaan Indonesia penulis kisah Perang Sabi yang mampu membangkitkan dan membakar semangat jihad kaum muslimin Aceh melawan penjajah Belanda yang kafir.

Namun sebagaimana kata orang, “Orang yang cerdas sudah cukup hanya dengan singgungan saja. Sementara orang yang dungu tidak akan pernah faham meskipun dengan seribu bahasa sekalipun.”

Pernyataan Syaikh Daud bin ‘Abdullah Al-Jawi Al-Fathani

Syaikh Daud bin ‘Abdullah Al-Jawi Al-Fathani menulis dalam Sullam Al-Mubtadi fi Ma’rifah Thariqah Al-Muhtadi hlm. 3 menurut cet. Dar Ihya’ Al-Kutub Mesir yang dicoppy oleh Maktabah Bin Hullabi Pattani Thailand atau hlm. 7 menurut cet. Al-Hidayah Selangor:

“Maka adalah Ia sekarang seperti adaNya dahulu jua sebelum lagi diadakan kaun (baca: alam semesta) ini dan tiada adaNya itu dilalu atasNya zaman dan tiada meliputi pada makan (tempat), bersemayam di atas ‘Arsy bersamaan yang berpatutan dengan kebesaran-Nya seperti barang yang dikehendaki-Nya. Dan tiada mengambil akan Dia oleh mengantuk dan tidur.

Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada barang yang dikata oleh orang yang zalimun. Adalah Ia Tuhan yang amat ketinggian-Nya dana mat kebesaran-Nya.”

Syaikh Muhammad Sa’id bin ‘Umar Kedah

Beliau mengemukakan dalam tafsirnya yang bertajuk Nur Al-Ihsan pada ayat dalam Surat Thaha,

“Ialah Tuhan ar-Rahman itu atas ‘Arsy bersamaan yang layak dengan-Nya. Maka ‘Arsy pada logat itu tempat duduk raja. Ini jalan Salaf. Maka jalan khalaf makna istiwa itu memerintah.”

Sedangkan pada tafsir ayat dalam Surat Al-Furqan beliau mengatakan pula, “Kemudian bersamaan atas ‘Arsy oleh Tuhan Ar-Rahman akan sebagai bersamaan yang layak dengan-Nya. Maka makna ‘Arsy pada logat kursi raja. Dan dikehendaki di sini jisim yang besar yang meliputi dengan alam atas tujuh lapis langit.”

Syaikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul Muttalib Al-Indonesi Al-Mandili,

Beliau merupakan ulama Masjidil Haram asal Mandailing Indonesia, mengemukakan dalam Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah yang berjudul:  Perisai Bagian Sekalian Mukallaf,

“Dan bagi-Nya[1]tangan tiada seperti tangan hamba-Nya, dan baginya muka sabagai muka yang patut padanya dengan dia, dan bershifat ia dengan istiwa’ tetapi tiada seperti istiwa’ yang baharu.

Bertanya seorang laki-laki akan Imam Malik daripada ayat:

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ

Bermula Tuhan yang sangat pemurah tetap ia di atas ‘Arsy.”

Maka menundukkan Imam Malik kepalanya pada masa yang panjang kemudian berkata ia, “bermula ‘tetap’ itu diketahui akan dia, dan kelakuannya tiada dapat dengan akal, dan beriman dengan dia wajib, dan bertanya daripadanya bid’ah. Dan tiada aku sangka akan dikau melainkan sesat.”

Maka menyuruh oleh Imam Malik dengan menghalau laki-laki yang bertanya itu,maka dihalau akan dia.

Pendeknya, sifat Allah Ta’ala bersalah-salahan dengan sifat makhluk, seperti dzat Allah Ta’ala bersalah-salahan dengan dzat baharu. Dan tiada mengetahui oleh makhluk  akan hakikat shifat Allah ta’ala sekalipun rasul dan malaikat. Seperti tiada mengetahui oleh yang baharu akan hakikat dzat-Nya yang Maha Mulia. Dan kita serahkan akan hakikatnya kepada Allah Ta’ala serta kita i’tiqadkan bahwasannya segala shifat itu semuanya shifat kesempurnaan yang laik dan patut padan dengan kebesaran-Nya, seperti firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tiada seumpama-Nya sesuatu dan Ia jua yang sangat mendengar lagi sangat melihat.”(Qs Asy-Syura: 11)

Dan firman Allah Ta’ala:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

“Bersabda olehmu, hai Rasulullah, bermula Tuhan aku yang kamu bertanya daripada-Nya Allah Ta’ala,

Tuhan yang Maha Esa.

Dan Allah Ta’ala itu Tuhan yang diqasad pada segala hajat selama-lamanya, tiada ia beranak dan tiada diperanakkan,

dan tiada ada seorang yang menyamai dan sama tara dengan dia.” (Qs Al-Ikhlas: 1, 2, 3, 4)

Wallahua’lam.”

-Selesai kutipan dari Al-Mandili.-

Bersambung insyaallah…

***

Ditulis oleh : Firman Hidayat Mawardi, BA

*(Alumni PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta, S1 Fakultas Syariah LIPIA Jakarta. Saat ini beliau mengajar di Islamic Centre Wadi Mubarok, Bogor)

Dikutip dari : Safinah.id

Hamalatulquran.com

donatur-tetap