Home Akidah Ternyata Ulama Nusantara Beriman Allah Berada di Atas ‘Arsy (Part 2)

Ternyata Ulama Nusantara Beriman Allah Berada di Atas ‘Arsy (Part 2)

305
0
@unplash

Bismillah…

Prof. Dr. ‘Abdul Malik [bin] ‘Abdul Karim Amrullah 

Akrab disapa Buya HAMKA turut pula menjelaskan dalam Pelajaran Agama Islam hlm. 49,

“Tuhan telah menunjukkan sifat-sifat di dalam sabda yang disampaikan-Nya kepada Nabi-Nya. Sepintas lalu seakan-akan serupa sifat itu dengan sifat makhluk-Nya. Misalnya melihat, mendengar, berkata, hidup, dan lain-lain. Tetapi bila dijalankan fikiran selangkah lagi, akan kenyataanlah bahwasanya sifat itu mesti berbeda keadaannya.

Persamaan adalah mustahil. Bagaimanalah akan sama sifat yang dipunyai oleh zat Yang Maha Besar, dengan sifat yang dipunyai oleh zat yang terjadi hanyalah karena izin dari Yang Maha Besar itu. Kadang-kadang kita hendak tahu benar bagaimana perbedaan sifat itu. Padahal terlalu banyak hijab atau dinding yang membatasi kita di dalam jalan hendak menyelidiki dan memngupas hakikat itu.

Jangankah mengetahui perbedaan  sifat Dia dengan sifat alam, sedangkan alam itu sendiri belum lengkap kita ketahui, dan yang kita dapat hanya sejumput kecil saja. Jangan hakikat alam itu yang kita ketahui, sedang hakikat diri kira sendiri pun adalah satu perkara besar.

“Maka kalau dikatakan Tuhan Allah bersifat mendengar, bukanlah artinya pendengaranNya itu sama dengan pendengaran kita yang memakai telinga macam ini. Kalau Dia melihat bukanlah artinya alat penglihataNya adalah mata sebagai mata kita yang diberikanNya ini. Kalau Dia berkata tidaklah Dia berlidah dan bermulut sebagai kita. Dia membina langit, Dia menghamparkan bumi, Dia duduk di Arsy, dan lain-lain sebagainya.

Semuanya itu tidaklah serupa dengan yang kita pikirkan atau terdapat dalam kebiasaan kita. Kalau Dia berkata bahwa Dia bertangan yang terletak di atas tangan kita, bukanlah Dia beranggota tubuh sebagai anggota tubuh kita ini. Alhasil, sifat alam yang dijadikan oleh Tuhan tidaklah serupa dengan sifat Tuhan, sebab Tuhan bukan alam dana lam bukan Tuhan.

Bertengkar-tengkar dan kadang-kadang mengambil tempo berlama-lama, sampai berpisah kepada beberapa firkah dan mazhab diantara ahli-ahli fikir islam membicarakan sifat-sifat Tuhan itu, tentang Dia memandang dengan mataNya, Dia bertangan, Dia duduk di atas Arsy, Dia turun ke langit pertama di pertiga malam dan lain-lain.”

Buya HAMKA juga mengemukakan dalam Tafsir Al-Azhar (VIII/366) dalam kutipannya dari Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’i yang merupakan guru daripada Imam Al-Bukhari, yang tengah membahas tafsir ayat ke-54 dari Surat Al-A’raf,

“Dalam sifat Allah tentang diri-Nya, atau diterangkan oleh Rasul-Nya, tidaklah terdapat perserupaan dengan makhluk. Maka barangsiapa yang mengakui apa yang tersebut dalam Nash yang demikian jelasnya di dalam Al-Quran dan demikian pula dari kabar-kabar (Hadits) yang shahih, menurut keadaan yang layak bagi Kemuliaan Allah, serta menafikan daripada Allah segala kekurangan, maka orang itulah yang telah berjalan di atas garis petunjuk yang benar.”

Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir-nya, “Pembicaraan orang tentang soal ini memang banyak. Tetapi Mazhab yang baik ditempuh dalam hal ini ialah mazhab Salaf yang shahih, yaitu Imam Malik, dan Al-Auza’i, dan Al-Tsauri, dan Al-Laits bin Sa’d. dan Asy-Syafi’i, dan Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih, dan ulama-ulama ikutan kaum muslimin yang lain, yang dahulu dan yang kemudian.

Yaitu membiarkannya sebagaimana yang tersebut itu, dengan tidak menanyai betapa, dan tidak pula menyerupakan-Nya, dan tidak pula menceraikan-Nya dari sifat. Dan segala yang cepat terkenang di dalam otak orang yang hendak menyerupakan Allah dengan yang lain, sekali-kali tidaklah sesuai dengan keadaan Allah, sebab tidak ada makhluk yang menyerupai Allah. Tidak sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia adalah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.”

Selesai kutipan dari Buya HAMKA.

Drs. Bakri Syahid

Rektor IAIN Jogjakarta, dalam Tafsir Al-Quran Al-Karim “Al-Huda” ketika menafsirkan ayat ke-5 dari Surat Thaha berkata, “Panjenenga-Ne Pangeran kang  Maha Murah, kang pinarak siniwaka ana ing sadhuwure ‘Arsy.”

Selanjutnya beliau menerangkan lagi, “Kodos pundi tehnis pinarakipun Gusti Allah ing sanginggiling  ‘Arsy punika kawontenan ghaib, boten saged kekantha-kantha. Bab punika kuwajiban kita iman serta yakin bilih Kaagunganipun Allah serta Kesucianipun  trep kalayan anggenipun Maha Kawasa Murbeng – Jagad pinarak siniwaka ing ‘Arsy ingkang Agung.”

Pada tafsir ayat ke-54 dari Surat Al-A’raf, beliau juga berkata, “Sanyata Pengeranira iku Allah kang wus anitahake Langin lan Bumi sajeroning mangsa nem dina, tumuli PanjenengaNe lenggah ana ing ‘Arsy.”

Bey Arifin

Ulama penulis Surabaya asal Sumatera Barat, ketika akan menjawab pertanyaan tentang “dimanakah Tuhan atau Allah itu ?”, Beliau menjelaskan terlebih dahulu sebuah “kaidah umum” dalam memahami nash-nash yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah sebagai berikut,

“Sebelum menjawab pertanyaan ini, agar jangan timbul kekeliruan perlu kita ingatkan kembali akan apa yang kita tetapkan tentang (sifat-sifat, atribut-atribut, dan ketentuan-ketentuan) Allah menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yaitu berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang shahih.”

“Bahwa kita tetapkan dan yakinkan (imani) bahwa Allah itu ada, tidak membutuhkan tempat, Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, Maha Kekal tak berawal dan tak berakhir, berbeda dengan segala makhluk, tak ada persamaan dan bandingannya, Maha Kuasa menciptakan segala dan memberi bentuk, mengendalikan dan mengatur seluruh alam, Maha Mendengar, Melihat dan Mengetahui, tak satu pun di langit dan di bumi, yang bagaimana halusnya yang tersembunyi dari penglihatan, pendengaran, dan pengetahuan-Nya.”

“Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, suci dari segala kekurangan dan kesalahan, mempunyai Nama-Nama Yang Baik. Bagi-Nya ketinggian, pujian, dan sanjungan, berkedudukan di Arasy yang tak dapat dibayangkan dengan khayal, tidak terbatas dengan batas apapun, tak dapat dicapai dengan ilmu (akal atau faham), kecuali sekedar apa yang diajarkan-Nya dengan perantaraan Kitab-Kitab Suci-Nya dan para Rasul-Nya.”

“Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Ia. Yang hidup, Yang Berdiri mengendalikan segala yang ada, Maha Suci, Maha Besar, Maha Halus (teliti), Maha Pengasih, Penyayang, Berkata-kata, Berkehendak, Menciptakan apa saja yang Ia kehendaki, Mengambil dan Memberi, Suka dan Benci, Cinta dan Marah, Gembira dan Ketawa, Menyuruh dan Melarang, Mempunyai Wajah yang mulia, Telinga yang mendengar, Mata yang melihat, Dua Tangan dan dua genggaman, Kekuatan, dan Kekuasaan. Senantiasa demikian buat selama-lamanya, berkedudukan di Arasy-Nya, Mengatur segala perkara atau urusan dari langit, tidak dapat dilihat oleh mata dari dunia ini, tetapi dapat dilihat oleh mata dari Surga-nya, Maha Agung Ia dengan segenap Sifat dan Perbuatan-Nya itu.”

Ustadz Bey Arifin kemudian menegaskan kembali aqidah tersebut, di atas dengan kalimat yang lebih “keras” dengan mengatakan sebagai berikut, “Tuhan yang demikian itulah yang kita imani, terhadap Ia saja kita menyembah dan minta pertolongan, beribadat, rukuk dan sujud. Barang siapa yang menyembah kepada Tuhan yang lain sifatnya dari sifat-sifat yang tersebut di atas, berarti dia menyembah selain Allah, Maka inilah yang dinamakan syirk atau kafir, satu kekufuran dan kesyirkan yang tak dapat diampuni.”

Pada bagian yang lain, Ustadz Bey Arifin menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut, “Begitu juga dengan kata-kata lain yang dihubungkan dengan Allah di dalam ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an dan Hadis-Hadis. Misalnya kata-kata : tangan, mata, wajah, dll. Allah bermata, bertangan, dan berwajah, yaitu mata, tangan, dan wajah yang sesuai dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Mata, tangan, wajah yang tak sama dengan tangan, mata, wajah manusia atau lain-lain makhluk.”

Beliau rahimahullah kemudian melanjutkan sebagai berikut,

“Orang-orang yang dibukakan Allah hatinya akan dapat mengenal Tuhannya dengan ayat-ayat Kitab Suci-Nya yang disampaikan oleh Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari ta’wil, ta’thil, takyif, dan tamtsil, menghindarkan diri dari mengubah-ubah arti kata dari Kalamullah, membayangkan suatu cara atau bentuk bagi Allah, atau membayangkan suatu cara atau bentuk tertentu bagi Allah seperti bentuk makhluk.”

[1] Ungkapan, “Baginya Tangan…,” bermula tangan itu terjemah bagi lafal al-yad dengan bahasa Melayu. Maka adakah harus diterjemah akan segala shifat Allah Ta’ala yang mutasyabih seperti al-yad dan al-wajh denghan bahasa Melayu dan lain daripadanya atau tiada harus?

Jawab :

Berkata Al-Imam Abu Saiful Haq wad-Din Abul Mu’in An-Nasafi $ di dalam kitabnya, Bahrul Kalam:

و يجوز أن يقال بأن لله تعالى يدا بالعربية، لا يجوز بالفارسية. انتهى.

Artinya, “Dan harus bahwa dikatakan dengan bahwasanya ada bagi Allah Ta’ala yad dengan bahasa ‘Arab, tiada harus ia dengan bahasa Persi.

Dan berkata Al-Imam Abu Hanifah $ di dalam kitab Al-Fiqh Al-Akbar:

و كل ما ذكره العلماء بالفارسية من صفات الله تعالى عزت أسماؤه و تعالت صفاته فجاز القول به سوى اليد بالفارسية، و يجوز أن يقال بروى خدا (أي وجه الله)بلا تشبيه و لاكيفية.

Artinya, “Dan tiap-tiap barang yang menyebut akan dia oleh ulama dengan bahasa Persia daripada segala shifat Allah Ta’ala Mahamulia nama-Nya dan Mahatinggi segala shifat-Nya, maka harus berkata dengan dia, kecuali al-yad dengan bahasa Persia. Dan harus bahwa dikatakan بروي خدا (artinya: muka Allah) dengan ketiadaan menyerupakan dan ketiadaan kaifiyat.

Difaham daripada perkataan dua imam ini akan bahwasannya tiada harus diterjemah akan al-yad dan harus diterjemah ajan yang lain daripada yang lain daripadanya seperti al-wajhu. Tetapi berkata oleh Al-Imam Nashirus Sunnah Mulla ‘Ali bin Sukthan Muhammad Al-Qari di dalam Syarah-nya atas Al-Fiqh Al-Akbar pada halaman 93:

و إذا كان القول مقرونا بالتنزيه و نفي التشبيه فالفرق بين اليد و الوجه تدقيق يحتاج إلى تحقيق. انتهى.

Artinya, “Dan apabila adalah perkataan itu disertakan dengan menyucikan dan meniadakan menyerupakan, maka farq antara al-yad dan al-wajh tadqiq yang berhajat ia kepada tahqiq.”

Berkata aku, “Maka barangkali karenma ini menerjemah oleh ulama Melayu kita akan shifat mutasyabihah di dalam kitab-kitab mereka itu seperti Firidah Al-Faraid, dan kitab Ad-Durr Ats-Tsamin, dan kitab ‘Aqidah An-Najin.

Wallahua’lam.

***

Ditulis oleh : Firman Hidayat Mawardi, BA

(Alumni PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta, S1 Fakultas Syariah LIPIA Jakarta. Saat ini beliau mengajar di Islamic Centre Wadi Mubarok, Bogor)

Dikutip dari : Safinah.id

Hamalatulquran.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here