Siapakah yang dimaksud ahlul qur’an dan ahlullah (keluarga Allah) atau hamba-hamba khusus bagi Allah dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad)
“Yang dimaksud ahlul qur’an bukan orang yang sekedar menghafal dan membacanya saja. Ahlul qur’an (sejati) adalah yang mengamalkannya, meskipun ia belum hafal Qur’an. Orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an; menjalankan perintah dan menjauhi larangan, serta tidak melanggar batasan-batasan yang digariskan Al-Qur’an, mereka itulah yang dimaksud ahlul qur’an, keluarga Allah serta orang-orang pilihannya Allah. Merekalah hamba Allah yang paling istimewa.
Adapun orang yang hafal Al-Qur’an, membaguskan bacaan Qur’an nya, membaca setiap hurufnya dengan baik. Namun jika ia menyepelekan batasan-batasan yang digariskan Al-Qur’an, ia bukan termasuk dari ahlul qur’an. Tidak pula termasuk dari orang-orang khususnya Allah.
Jadi ahlul qur’an adalah orang yang berpedoman dengan Al-Qur’an (dalam gerak-gerik kehidupannya), ia tidak menjadikan selain Al-Qur’an sebagai panutan. Mereka mengambil fiqih, hukum-hukum dari Al-Qur’an, serta menjadikannya sebagai pedoman dalam beragama..”.
***
Sumber: Syarah Risalah Al-‘Ubudiyyah halaman: 64. Dar Ibnul Jauzi, Cetakan pertama; th 1435 H.
Allah subhanahu wata’ala menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, dimana mereka akan saling membutuhkan satu dengan lainnya. Oleh karena itu, syariat islam memberikan rambu-rambu penting dalam urusan bersosialisasi.
Salah satu poin penting dalam hubungan antar manusia adalah mencari teman yang baik lagi terpercaya, agar persahabatan tersebut dapat memuluskan jalan menuju surga, bukan malah sebaliknya. Sebab pertemanan yang tidak dilandasi ketakwaan akan berbuah pahit di akhirat nanti, sebagaimana tersirat dalam dalam firman Allah subhanahu wata’ala :
“Perumpamaan teman yang sholeh dan teman yang buruk adalah bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi, engkau akan mendapatkan bau harum dari penjual minyak wangi baik dengan membelinya ataupun tidak. Sedangkan pandai besi akan membuat badan atau bajumu terkena api atau seridaknya engkau mendapatkan bau yang menyengat.” (HR Al Bukhori)
Tips untuk Mengetahui Jati Diri Seseorang
Teman yang baik lagi amanah adalah sebaik-baik kawan di dunia serta di akhirat nantinya. Namun yang menjadi pertanyaan,
“Bagaimanakah kita mengetahui jati diri teman kita yang sesungguhnya?”
“Bagaimanakah caranya agar kita benar-benar mengenal orang tersebut?”
Sebab seringkali apa yang ditampakkan berbeda dengan kenyataan.
Khalifah Umar bin Khattab rhodiyallahu ‘anhu pernah memberikan tips khusus dalam masalah ini, sebagaimana diceritakan oleh salah seorang Tabi’in yang bernama Khorasyah bin Al hurr rohimahulloh :
شهد رجل عند عمر بن الخطاب رضى الله عنه فقال له عمر: إنى لست أعرفك ولا يضرك أنى لا أعرفك فائتنى بمن يعرفك , فقال رجل: أنا أعرفه يا أمير المؤمنين , قال: بأى شىء تعرفه؟ فقال: بالعدالة. قال: هو جارك الأدنى تعرف ليله ونهاره ومدخله ومخرجه؟ قال: لا. قال: فعاملك بالدرهم والدينار الذى يستدل بهما على الورع؟ قال: لا. قال: فصاحبك فى السفر الذى يستدل به على مكارم الأخلاق؟ قال: لا. قال: فلست تعرفه , ثم قال للرجل: ائتنى بمن يعرفك
“Ada seorang lelaki yang bersaksi dihadapan Umar bin Khattab rhodiyallohu ‘anhu, Umar berkata kepadanya : Aku tidak mengenalmu, dan tidak masalah meskipun aku tak mengenalmu, tapi datangkanlah seseorang yang mengenalmu.
Tiba tiba seorang laki-laki diantara hadirin berkata : Aku mengenalnya dengan baik wahai Amirul mukminin. Umar lantas bertanya : Bagaimana engkau mengenalnya?
Ia menjawab : Dia adalah orang yang bisa dipercaya.
Umar kembali bertanya : Apakah dia adalah tetanggamu hingga engkau ketahui keadaannya baik siang maupun malam?
“Tidak,” jawabnya.
Apakah engkau pernah berbisnis dengannya sehingga kau ketahui bahwa ia adalah seorang yang wara’?
“Tidak.”
Pernahkah engkau bersafar (berpergian) dengannya hingga engkau ketahui bahwa ia memiliki akhlak yang mulia?
“Tidak,” jawabnya lagi.
Itu berarti engkau tidak mengelanya.
Kemudian Umar berkata kepada pemuda yang bersaksi tersebut : Carikan aku orang yang benar-benar mengenalmu.
(Diriwayatkan oleh Al baihaqi dan dishahihkan oleh Albani dalam Irwaul gholil)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Khalifah Umar juga bertanya : “Apakah engkau pernah mengamanahkan sesuatu kepadanya?”
“Tidak”
Jika kita perhatikan kisah diatas, akan kita dapati bahwa untuk mengetahui jati diri seseorang dibutuhkan beberapa hal, yaitu :
Mengenal dengan baik gelagatnya baik siang hari maupun malam (seperti jika ia adalah tetangga sendiri), berbisnis dan bersafar dengannya serta mengamanahkan sesuatu kepadanya.
Rahasia Di balik Safar
Mengapa safar disebutkan oleh sahabat Umar? Jawabannya karena safar mampu mengungkap jati diri seseorang yang mungkin ia tutupi saat dalam keadaan mukim (tidak bersafar).
Hal ini bisa terjadi karena seorang yang bersafar seringkali menghadapi berbagai hal yang tidak menyenangkan, mulai dari rasa lelah, lapar, sulit tidur dan sebagainya yang akan memaksanya memunculkan sifat aslinya. Maka tak heran Nabi Muhammad pernah bersabda :
السفر قطعة من العذاب
“Safar adalah bagian dari adzab” (HR al Bukhori)
Berdasarkan kisah Umar diatas dapat kita simpulkan juga bahwa kriteria seorang sahabat yang baik adalah :
● Berakhlak mulia
● Wara’ (menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah)
● Amanah
Terakhir, jika kita menuntut untuk mendapatkan teman yang baik lagi amanah, tentu kita harus bercermin kepada diri kita sendiri, apakah sifat-sifat tersebut sudah melekat dalam diri kita atau malah sebaliknya.
Sebab, sebagaimana kita menginginkan sahabat yang baik, orang lain pun tentu menginginkan hal yang sama. Semoga Allah memilihkan kita sahabat-sahabat yang bisa menuntun kita menggapai Ridho-Nya.
Amiiin…
_______
Referensi :
– Irwaul Gholil
– Madarijus salikin
***
Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd
(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, yang saat ini sedang study S1 di Universitas Islam Madinah KSA, Fakultas Qur’an)
Talkshow Pendidikan : Mengenal Lebih Dekat Pesantren Hamalatul Quran Bersama Rodja TV
HAMALATULQURAN.COM — Bogor, Dalam rangka memenuhi panggilan dari Rodja TV dan Radio Rodja pada program acara Talkshow Pendidikan. Pondok pesantren Hamalatul quran berkesempatan hadir menyapa pemirsa dan pendengar setia Rodja TV dan Radio Rodja, pada Sabtu (22/12/2018).
Program acara yang dimoderatori langsung oleh Akh Supriadi ini menghadirkan narasumber Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Ustadz Syamhudi S.Pdi, Kepala Bagian Tahfidz, Ustadz Reza Nuruddin Lc. Bagian Kurikulum, Ustadz Ahmad Anshori Lc., serta Kepala Kordinator Penerimaan Santri Baru, Ustadz Nur Muhammad Sidik.
Pada sesi pertama Pondok Pesantren Hamalatul Quran dengan diwakili oleh narasumber mengenalkan tentang selayang pandang tentang Pondok Pesantren Hamalatul Quran, sistem pendidikan, metode tahfidz yang digunakan dan info seputar penerimaan santri baru (PSB) tahun ajaran 2019-2020.
Selanjutnya diakhir acara dibuka sesi tanya jawab bagi pemirsa Rodja TV dan pendengar Radio Rodja yang dijawab langsung oleh narasumber yang ada.
Dengan ini kami mewakili Yayasan Pondok Pesantren Hamalatul Quran mengucapkan terimakasih kepada pihak Rodja TV dan Radio Rodja yang telah memberikan kesempatan pada Pondok Pesantren Halamalatul Quran untuk mengenalkan selayang pandang tentang Pesantren kami. Semoga usaha yang sama-sama kita lakukan bermanfaat untuk pendidikan dan dakwah kaum muslimin.
Untuk menyimak kembali siaran ulang Acara Talkshow Pendidikan : Mengenal Lebih Dekat Pesantren Hamalatul Quran Bersama Rodja TV. Bisa di akses melalui klik :
2⃣ *Tajwid*
Mengkaji : *_Tuhfatul Atfal_* . Karya : Syekh Sulaiman Al Jamzuri
🎙 Bersama : *Ustadz Dio Anugerah Al Hafidz* (Peraih sanad matan Jazari, Tuhfatul Atfal dan Qiroah Hafs dari Ashim, serta mendapat kehormatan hadiah haji dari Kedubes Saudi Arabia 2017).
Hari itu Masjid Agung Kufah terlihat ramai seperti biasa. Masjid yang menjadi kebanggan penduduk Kufah tersebut nampak dikerumuni oleh manusia yang haus akan ilmu agama. Di salah satu sisi masjid terlihat seorang alim yang sedang mengajarkan al quran kepada para muridnya. Beliau sesikit menghela nafas, kemudian berkata :
Sahabat Utsman bin Affan rhadiyallohu ‘anhu pernah mengabarkan kepadaku bahwasanya Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
خيركم من تعلم القرآن وعلمه
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya (HR )
Selepas menyampaikan hadits mulia diatas beliau pun berkomentar : “Hadits inilah yang memotivasiku untuk tetap duduk disini mengajarkan al quran”.
Sosok ulama tersebut tak lain ialah Abu Abdirrahman As Sulamy rohimahulloh.
Putra dari seorang sahabat Nabi
Sosok ulama ahli Quran ini lahir saat Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam masih hidup ditengah kaum muslimin. Tak heran jika beliau terhitung sebagai seorang senior dikalangan para Tabi’in. Ayahnya yang merupakan sahabat Nabi lantas memberikan nama Abdulloh kepadanya. Di masa mendatang nantinya beliau akan lebih dikenal dengan kun-yah : Abu Abdirrohman As Sulamy.
Beliau pernah berkata:
“Aku belajar Al Quran dari ayahku yang merupakan salah satu dari sahabat Nabi, Ia bahkan ikut berperang bersamanya”
Diutus ke Kufah
Perang Armenia berkecamuk, kaum muslimin dari berbagai negri berkumpul, bersatu dan bahu membahu dengan tujuan yang sama, menegakkan kalimat Laa ilaa ha illallah. Diantara mereka terdapat sahabat Hudzaifah bin Al Yaman rhodiyallohu ‘anhu.
Ditengah peperangan, sahabat mulia tersebut dikagetkan dengan sebuah peristiwa yang amat mengejutkan dan menyesakkan dada.
Kaum muslimin saat itu berselisih pendapat dalam masalah qiroat (bacaan) al quran. Bahkan sampai kepada taraf saling menyalahkan dan mengkafirkan. Sebuah kejadian yang amat mengkhawatirkan tentunya di mata sahabat ini.
Oleh karenanya, saat api peperangan telah padam beliau segera menghadap Khalifah Utsman bin Affan rhodiyallohu ‘anhu guna mendiskusikan masalah pelik yang baru saja ia saksikan. Singkat cerita akhirnya Khalifah Utsman memerintahkan pembentukan panitia penulisan Al Quran yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit rhodiyallohu ‘anhu.
Saat penulisan al quran telah usai, beliau lantas mengirim beberapa mushaf tersebut ke penjuru negri dengan satu orang ulama yang akan mengajarkannya. Diantara mereka terdapat Abu Abdirrahman As Sulamy yang ditugaskan untuk mengajarkan Al Quran di negri Kufah. Beliau pun berangkat dan mengajarkan Al Quran di Masjid Agung Kota Kufah tak kurang dari 20 Tahun.
Ya, beliau habiskan 20 tahun dari umur yang dimiliki dalam rangka mengajarkan Al Quran, sungguh betapa indahnya pengorbanan beliau demi kitabulloh.
Guru dari Imam ‘Ashim
Imam ‘Ashim rohimahulloh adalah salah seorang Qori’ yang amat berjasa dalam mengajarkan Al Quran kepada kaum muslimin. Tak heran jika beliau terpilih menjadi salah satu dari 7 Imam Qiroat yang kita kenal dengan Qiroat Sab’ah. Qiroat yang kita baca atau kita kenal dengan Qiroat Hafs merupakan hasil dari kesungguhan beliau dalam mengajarkan al quran.
Jika kita lihat silsilah sanad Al Quran riwayat hafs ini (kami sertakan di akhir artikel), akan kita dapati bahwa Imam Hafs talaqqi al quran kepada Imam ‘Ashim, dan Imam ‘Ashim talaqqi al quran kepada Abdurrahman As Sulamy.
Sehingga dari setiap huruf al quran yang dibaca oleh kaum muslimin diberbagai penjuru dunia, beliau mendapatkan bagian pahala kebaikan didalamnya. Tak terbayang tentunya kebaikan yang beliau dapatkan hingga sekarang dan akan berlangsung hingga hari kiamat dengan izin Allah subhanahu wata’ala.
Enggan Menerima Hadiah
Suatu hari saat pulang kerumah, beliau dikejutkan dengan adanya hewan ternak berupa unta yang bukan miliknya. Merasa tak pernah membelinya beliau pun lantas bertanya kepada penghuni rumah, “Dari mana ini?”, Seorang yang bernama fulan menghadiahkannya kepadamu, sebab engkau mengajarkan Al Quran kepada anaknya, ucap keluarganya.
Beliau lantas memerintahkan untuk mengembalikan hadiah tersebut seraya menasehati keluarganya dengan perkataan yang nantinya cukup dikenal :
إِنَّا لاَ نَأْخُذُ عَلَى كِتَابِ اللهِ أَجْراً
“Sesungguhnya kita tidak mengambil upah dari mengajarkan Kitabulloh”
Tak sekedar Menghafal
Al Qur’an bagi beliau bukan sekedar susunan huruf yang dihafal diluar kepala. Akan tetapi harus dipahami serta diamalkan isi kandungannya. Oleh sebab itu, tak heran jika beliau berusaha menggabungkan hal tersebut sekaligus, menghafal, memahami dan mengamalkan. Mari kita simak langsung penuturan ulama satu ini :
“Kami mempelajari Al quran dari generasi (sahabat) yang berkata bahwa tidaklah 10 ayat mereka lewati dan berpindah ke 10 ayat yg lain kecuali setelah memahami isi kandungannya, maka kami pun mempelajari Al quran sekaligus mengamalkannya”.
Metode ini kemudian beliau terapkan kepada para murid beliau, salah satu diantara mereka pernah bercerita :
“Abu Abdirrohman As Sulamy biasa mengajarkan kami al quran 5 ayat kemudian 5 ayat selanjutnya.
Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita termasuk dalam ahli quran, amiin
Silsilah jalur sanad riwayat hafsh :
***
Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd
(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, yang saat ini sedang study S1 di Universitas Islam Madinah KSA, Fakultas Qur’an)
HAMALATULQURAN.COM — Bantul, Salafiah Wustha (SW) Pondok Pesantren Hamalatul Quran berhasil meraih akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF).
Pengumuman ini tertuang dalam surat edaran Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF) tentang penetapan hasil daftar satuan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terakreditasi Provinsi DI. Yogyakata tahap III tahun 2018, pada (17/12/1018).
Sebelumnya, tim asesor dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF) melakukan visitasi akreditasi Salafiah Wustha Hamalatul Quran, pada 19 Oktober 2018.
Disambut langsung oleh Ustadz Amri Suaji, LC. selaku pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Yogyakarta proses penilaian akreditasi ini memakan waktu kurang lebih 10 jam, dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 19.00 malam.
Kepala sekolah Salafiah Wustha Hamalatul Quran Ustadz Jarot Nugroho M.S.I mengungkapk rasa syukurnya atas pencapainya ini.
“Alhamdulillah ini prestasi kita semua”, ujarnya melalu pesan singkat yang diterima redaksi.
Semoga atas pencapain akreditasi ini, Pondok Pesantren Hamalatul Quran terus bisa memberikan khidmat terbaik kepada kaum muslimin dengan menyiapkan pendidikan yang lebih unggul.
Pembaca yang budiman, diserial yang lalu kita menyebutkan dua langkah pertama mendidik buah hati. Pertama kita berdoa agar mendapatkan anak2 yang shalih, kedua memperbanyak amalan shalih yang akan berdampak kepada anak-anak.
Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia dan ia akan mencari berbagai cara untuk merusak manusia, salah satunya dengan turut campur ketika suami istri sedang melakukan hubungan intim (jima’). Maka, Rasulullah memberikan panduan agar terhindar dari gangguan setan yakni dengan cara berdo’a sebelum masuk kamar pengantin saat pernikahan dan ketika hendak jima’.
Disunnahkan setelah akad nikah untuk masuk ke tempat istri, memegang ubun-ubunnya dan berdo’a,
اللهم إني أسألك خيرها وخير ما جبلتها عليه وأعوذ بك من شرها وشر ما جبلتها عليه
“Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan yang Engkau ciptakan kepadanya dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau ciptakan kepadanya.” (HR. Abu Daud)
Juga ketika mendatangi istri (jima’) hendaknya membaca do’a,
باسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا
BISMILLAH, ALLAHUMMA JANNIB NAS SYAITON, WA JANNIBIS SYAITON MA ROZAQTANA.
“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami.”
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bila kalian membaca do’a tersebut ketika hendak mendatangi istri kemudian mempunyai anak, setan tidak bias memberi bahaya sedikitpun.”
(HR. Bukhari 9/228 dan Muslim 10/5)
Kedua, Membiasakan melindungi anak dari setan.
Banyak kaum muslimin yang belum mengetahui sunnah yang satu ini. Melindungi anak hendaknya dilakukan setiap pagi dan sore dengan cara meniup kedua telapak tangan, kemudian membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, setelah itu usapkan kedua telapak tangan ke seluruh badan anak sebanyak tiga kali. Juga dapat dengan membacakan do’a pada anak sebagaimana do’a yang dibacakan Rasulullah kepada cucunya Hasan dan Husein,
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syaitan, binatang yang beracun dan dari pandangan mata yang jahat.” (HR. Bukhari)
Ketiga, Memberikan kasih sayang, cinta, dan canda pada anak-anak.
Orang tua pasti punya target-target yang mana mereka ingin agar anak-anaknya dapat mencapai target sesuai dengan yang mereka inginkan. Ada orang tua yang ingin anaknya pandai ini di usia sekian. Hafal ini diusia sekian, hafal itu di usia sekian, harus bisa ini dan harus menjadi begini.
Keinginanorang tua untuk anaknya pastilah keinginan yang baik. Namun, dalam pencapaian misi ini, terkadang orang tua tidak melihat kemampuan anak dan terus membebani mereka hingga membuat mereka justru menjadi stres karena beban-beban tersebut.
Hendaklah orangtua memperlakukan anaknya sesuai umur dan kemampuannya. Sebagaimana ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Perlakukan mereka seperti anak perempuan yang masih kecil.” Kalimat yang ringkas, padat, dan jelas. Anak kecil memiliki kadar tertentu, mempunyai pemikiran, akal, dan keinginan-keinginan.
Janganlah bersikap serius terus terhadap anak pada setiap waktu. Jangan membebaninya melebihi kemampuannya, dan jangan halangi haknya sebagai anak kecil yang butuh bercanda, bermain, dan santai. Sungguh Allah menjadikan segala sesuatu sesuai ukurannya.
Jangan biarkan anak bermain terus atau sebaliknya serius terus, tetapi perhatikan apa yang baik buat mereka. Perhatikan keinginan dan sesuaikan dengan umurnya. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Suatu hari aku menonton pasukan Islam yang sedang berlatih perang. Rasulullah melindungiku dari pandangan orang.
Setelahselesai, akupun pergi. Karena itu, perlakukanlah mereka (anak-anakmu) seperti anak perempuan yang masih kecil yang suka bermain-main.”
(HR. Bukhari 5190 dan Muslim 892)
Aisyah berkata, “Aku pernah bermain-main boneka bersama teman-temanku di dekat Nabi. Jika Nabi masuk, mereka sembunyi (di balik tabir), kemudian Nabi membiarkan mereka bermain bersama saya.”
Contoh kasih sayang Rasulullah terhadap anak kecil antara lain beliau menggendong Hasan bin Ali sambil mendo’akannya, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya maka cintailah dia.”
(HR. Bukhari 3749 dan Muslim 2422)
Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah pernah shalat, ketika beliau sujud, Hasan dan Husein naik ke punggung beliau. Beliau memberi isyarat pada sahabat agar membiarkan mereka tetap di punggung.
Setelah shalat, beliau merangkul Hasan dan Husein sambil berkata, “Barang siapa yang mencintai aku, maka cintailah dua anak ini!” (Musnad Abu Ya’la 8/434)
Sangat dianjurkan anak-anak bermain-main dengan mainan yang tidak diharamkan terutama yang memberi manfaat bagi kesehatan badan dan mencerdaskan akal seperti memanah, berenang, dan menunggang kuda. (Terdapat hadits dari Umar yang menganjurkan olahraga ini dengan sanad yang lemah)
Wallahu a’lam..
_______
Referensi :
– Tarbiyatul aulad karya syeikh Mustafa Al-adawi.
Salahpaham bisa fatal akibatnya. Karena mengenali ibadah umrah ini, kaitannya dengan diterima tidaknya ibadah umrah di sisi Allah. Maka sebelum kita melangkah jauh, mempelajari detail tatacara umrah, akan lebih runtut dan menghasilkan gambaran yang terstruktur, jika kita mengenal terlebih dahulu pengertian umrah secara umum. Baru kemudian kita bahas detailnya pada bab-bab berikutnya.
Apa itu umrah?
Dijelaskan dalam kitab-kitab mazhab Syafi’i :
قصد الكعبة للنسك الآتي بيانه : من احرام و طواف وسعي وحلق و تقصير
Umrah adalah, ibadah berupa kunjungan ke Ka’bah untuk melakukan rangkain ibadah berikut : ihram, towaf, sa’i, dan menggundul kepala (halaq) atau cukur pendek (taqshir).
(Lihat : i’anatut Tholibin 2/280, Syarhul Minhaj 2/372, Mughnil Muhtaj 1/460, dikutip dari : Footnote kitab Hidayatul Masalik hal. 1387)
Jadi inti dari ibadah umrah adalah empat ibadah di atas :
• Ihram adalah niat memasuki pelaksanaan ibadah Haji atau umrah.
• Towaf adalah mengelilingi Ka’bah dimulai dari sudut Hajar Aswad, sebanyak tujuh kali keliling.
• Sa’i adalah berjalan antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak tujuh kali, disertai berlari pada tanda lampu hijau.
• Menggundul kepala atau diistilahkan halaq, dan mencukur pendek disebut juga taqshir, adalah ritual penutup dari ibadah umrah. Halaq atau taqshir diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan “Tahalul”.
Mudah bukan?!
Sangat mudah dan simple, alhamdulillah…
Dari pengertian di atas bisa kita bisa pahami, bahwa umrah adalah ibadah yang berkaitan erat dengan tempat, yaitu ka’bah, bukit sofa dan marwah.
Artinya, tak ada ibadah yang wujudnya towaf (mengelilingi tujuh kali), atau sa’i (berjalan antara sofa dan marwah) kecuali di tanah suci Makkah saja, melalui ibadah umrah atau haji, atau towaf sunnah dan wajib. Sehingga bagi para jamaah haji dan juga umrah, untuk bermaksimal dalam ikhlas dan kualitas (berupaya untuk sesuai tuntunan Rasulullah) saat melakukan ibadah yang hanya bisa dilakukan di satu tempat di dunia ini.
HAMALATULQURAN.COM — Bantul, Baru-baru ini Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Yogyakarta dibikin resah dengan adanya modus penipuan yang dilakukan seseorang dengan mengaku staf atau ustad Pondok Pesantren Hamalatul Quran.
Aksi modus ini dilakukan pelaku dengan mengabarkan kepada wali santri bahwa anaknya sedang mengalami kritis dan berada di Rumah Sakit dikarenakan kecelakaan jatuh dari tangga. Dengan keadaan sedang panik ini pelaku melakukan aksinya dengan meminta terhadap korban (wali santri) untuk mentransfer sejumlah uang guna pengobatan santrinya.
“Para penipu menelepon korbannya (wali santri) sambil menangis terisak-isak dan mengaku sebagai ustadz di Pondok Pesantren tempat santri menuntut ilmu”,
Dengan ini kami mewakili Pondok Pesantren Hamalatul Quran menghimbau kepada wali santri untuk tenang dan waspada. Apabila ada telefon yg mencurigakan dengan mengaku ustadz dari Pesantren Hamatul Quran hendaknya mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada pihak pesantren.
(zusufaff/hamalatulquran.com)
Berikut kami cantumkan nomer telepon dan rekening pelaku sebagai bentuk kehati-hatian kita bersama:
Source by : ig_Hamza Dok_ atap masjid Nabawi Madinah An Nabawiyah.
Bismillah…
Untuk menjadi yang terbaik, dalam apa saja, modal utama yang harus dipunyai adalah ilmu. Tak terkecuali untuk meraih predikat hamba Allah yang terbaik, adalah dengan ilmu. Memgilmui tentang nama dan sifat Allah, memgilmui tentang Rasul Allah dan memgilmui tentang cara ibadah yang diridhoi Allah.
Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS. Fathir : 28)
Ukuran terbaik di sisi Allah, adalah takwa.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat :13)
Sementara takwa tak akan terbentuk kalau di hati seorang tidak ada khosyah (rasa takut kepada Allah). Dan khosyah terbentuk dari memgilmui tentang keanggunan dan agama Allah. Itulah mengapa ilmu adalah jalan termudah dan terbaik, untuk menjadi istimewa di sisi Allah.
Terlebih para jama’ah umrah, yang datang ke tanah suci membawa predikat sebagai tamu Allah, predikat yang sangat mulia. Betapa malunya kita di hadapan Allah, saat mendapat undangan berkunjung ke Baitullah, sebagai tamuNya, namun kita tak berbekal ilmu.
Para jama’ah haji ataupun umrah, adalah Tamu Allah. Sehingga, Allah pasti akan memberikan apapun yang mereka minta, mengabulkan apapun doa-doa mereka, dan mengganti apapun yang dibelanjakan mereka; satu dirham diganti dengan satu juta dirham.
(HR. Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman).
Maka sepatutnya kita persiapkan baik-baik, untuk menjawab undangan mulia ini. Dengan berbekal ilmu yang cukup, untuk dapat meraih ridhoNya melalui ibadah yang istimewa ini; ibadah umrah.
Kita tak bisa bayangkan bagaimana sibuknya persiapan seseorang, yang mendapat undangan dari kepala negara super power di dunia saat ini, anggap saja Amerika. Dia diundang sebagai tamu kehormatan dan didaulat untuk tampil di hadapan presiden dan jajarannya. Apa yang ada dibenaknya?
“Aku harus persiapan maksimal. Jangan sampai memalukan diri di hadapan orang-orang terpandang itu…”
Lantas bagaimana, jika kita diundang oleh Raja seluruh raja, raja alam semesta, sebagai tamu kehormatanNya, untuk tampil ibadah di hadapaNya, apakah kita tidak malu jika ibadah seadanya, tanpa persiapan tanpa berbekal ilmu?!
Padahal ridho Allah lebih sangat layak untuk diperjuangkan daripada ridho makhluk. Dan kehormatan di akhirat lebih layak untuk dikejar daripada kehormatan di dunia.
Allah berfirman,
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Namun kalian lebih mendahulukan kehidupan dunia,
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
(QS Al-A’la : 16 – 17)
Tak semua orang mendapatkan rizki untuk dapat menikmati syahdunya ibadah di tanah suci. Maka, kesempatan emas yang belum tentu berulang ini, kita manfaatkan baik-baik, dengan berbekal ilmu sebelum berumrah.
Dan tentu, kita tak ingin melanggar sabda yang mulia -shallallahualaihi wasallam- ini,
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
Siapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai tuntunan kami, maka amalan itu tertolak. (HR. Muslim)