Home Artikel Serial Pendidikan Anak (Bag. 2)

Serial Pendidikan Anak (Bag. 2)

158
0
Source : unsplash

Bismillah…

Pembaca yang budiman, diserial yang lalu kita menyebutkan dua langkah pertama mendidik buah hati. Pertama kita berdoa agar mendapatkan anak2 yang shalih, kedua memperbanyak amalan shalih yang akan berdampak kepada anak-anak.

Baca : Serial Pendidikan Anak (Bag. 1)

Berikutnya tahapan pendidikan anak adalah:

Pertama, Melindungi anak sejak dalam kandungan.

Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia dan ia akan mencari berbagai cara untuk merusak manusia, salah satunya dengan turut campur ketika suami istri sedang melakukan hubungan intim (jima’). Maka, Rasulullah memberikan panduan agar terhindar dari gangguan setan yakni dengan cara berdo’a sebelum masuk kamar pengantin saat pernikahan dan ketika hendak jima’.

Disunnahkan setelah akad nikah untuk masuk ke tempat istri, memegang ubun-ubunnya dan berdo’a,

اللهم إني أسألك خيرها وخير ما جبلتها عليه وأعوذ بك من شرها وشر ما جبلتها عليه

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan yang Engkau ciptakan kepadanya dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau ciptakan kepadanya.” (HR. Abu Daud)

Juga ketika mendatangi istri (jima’) hendaknya membaca do’a,

باسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا

BISMILLAH, ALLAHUMMA JANNIB NAS SYAITON, WA JANNIBIS SYAITON MA ROZAQTANA.

“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami.”

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bila kalian membaca do’a tersebut ketika hendak mendatangi istri kemudian mempunyai anak, setan tidak bias memberi bahaya sedikitpun.”

(HR. Bukhari 9/228 dan Muslim 10/5)

Kedua, Membiasakan melindungi anak dari setan.

Banyak kaum muslimin yang belum mengetahui sunnah yang satu ini. Melindungi anak hendaknya dilakukan setiap pagi dan sore dengan cara meniup kedua telapak tangan, kemudian membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, setelah itu usapkan kedua telapak tangan ke seluruh badan anak sebanyak tiga kali. Juga dapat dengan membacakan do’a pada anak sebagaimana do’a yang dibacakan Rasulullah kepada cucunya Hasan dan Husein,

أُعِيذُكُمَا بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syaitan, binatang yang beracun dan dari pandangan mata yang jahat.” (HR. Bukhari)

Ketiga, Memberikan kasih sayang, cinta, dan canda pada anak-anak.

Orang tua pasti punya target-target yang mana mereka ingin agar anak-anaknya dapat mencapai target sesuai dengan yang mereka inginkan. Ada orang tua yang ingin anaknya pandai ini di usia sekian. Hafal ini diusia sekian, hafal itu di usia sekian, harus bisa ini dan harus menjadi begini.

Keinginanorang tua untuk anaknya pastilah keinginan yang baik. Namun, dalam pencapaian misi ini, terkadang orang tua tidak melihat kemampuan anak dan terus membebani mereka hingga membuat mereka justru menjadi stres karena beban-beban tersebut.

Hendaklah orangtua memperlakukan anaknya sesuai umur dan kemampuannya. Sebagaimana ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Perlakukan mereka seperti anak perempuan yang masih kecil.” Kalimat yang ringkas, padat, dan jelas. Anak kecil memiliki kadar tertentu, mempunyai pemikiran, akal, dan keinginan-keinginan.

Janganlah bersikap serius terus terhadap anak pada setiap waktu. Jangan membebaninya melebihi kemampuannya, dan jangan halangi haknya sebagai anak kecil yang butuh bercanda, bermain, dan santai. Sungguh Allah menjadikan segala sesuatu sesuai ukurannya.

Jangan biarkan anak bermain terus atau sebaliknya serius terus, tetapi perhatikan apa yang baik buat mereka. Perhatikan keinginan dan sesuaikan dengan umurnya. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Suatu hari aku menonton pasukan Islam yang sedang berlatih perang. Rasulullah melindungiku dari pandangan orang.

Setelahselesai, akupun pergi. Karena itu, perlakukanlah mereka (anak-anakmu) seperti anak perempuan yang masih kecil yang suka bermain-main.”

(HR. Bukhari 5190 dan Muslim 892)

Aisyah berkata, “Aku pernah bermain-main boneka bersama teman-temanku di dekat Nabi. Jika Nabi masuk, mereka sembunyi (di balik tabir), kemudian Nabi membiarkan mereka bermain bersama saya.”

Contoh kasih sayang Rasulullah terhadap anak kecil antara lain beliau menggendong Hasan bin Ali sambil mendo’akannya, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya maka cintailah dia.”

(HR. Bukhari 3749 dan Muslim 2422)

Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah pernah shalat, ketika beliau sujud, Hasan dan Husein naik ke punggung beliau. Beliau memberi isyarat pada sahabat agar membiarkan mereka tetap di punggung.

Setelah shalat, beliau merangkul Hasan dan Husein sambil berkata, “Barang siapa yang mencintai aku, maka cintailah dua anak ini!” (Musnad Abu Ya’la 8/434)

Sangat dianjurkan anak-anak bermain-main dengan mainan yang tidak diharamkan terutama yang memberi manfaat bagi kesehatan badan dan mencerdaskan akal seperti memanah, berenang, dan menunggang kuda. (Terdapat hadits dari Umar yang menganjurkan olahraga ini dengan sanad yang lemah)

Wallahu a’lam..

_______

Referensi :
– Tarbiyatul aulad karya syeikh Mustafa Al-adawi.

***

Ditulis oleh : Jeje Rijalul Haq Lc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here