Home Artikel Fikih Umrah 1 (Pendahuluan) : Pentingnya Memgilmui Ibadah Umrah

Fikih Umrah 1 (Pendahuluan) : Pentingnya Memgilmui Ibadah Umrah

156
0
Source by : ig_Hamza Dok_ atap masjid Nabawi Madinah An Nabawiyah.

Bismillah…

Untuk menjadi yang terbaik, dalam apa saja, modal utama yang harus dipunyai adalah ilmu. Tak terkecuali untuk meraih predikat hamba Allah yang terbaik, adalah dengan ilmu. Memgilmui tentang nama dan sifat Allah, memgilmui tentang Rasul Allah dan memgilmui tentang cara ibadah yang diridhoi Allah.

Allah berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS. Fathir : 28)

Ukuran terbaik di sisi Allah, adalah takwa.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat :13)

Sementara takwa tak akan terbentuk kalau di hati seorang tidak ada khosyah (rasa takut kepada Allah). Dan khosyah terbentuk dari memgilmui tentang keanggunan dan agama Allah. Itulah mengapa ilmu adalah jalan termudah dan terbaik, untuk menjadi istimewa di sisi Allah.

Terlebih para jama’ah umrah, yang datang ke tanah suci membawa predikat sebagai tamu Allah, predikat yang sangat mulia. Betapa malunya kita di hadapan Allah, saat mendapat undangan berkunjung ke Baitullah, sebagai tamuNya, namun kita tak berbekal ilmu.

Nabi mengatakan,

الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، يُعْطِيهِمْ مَا سَأَلُوا، وَيَسْتَجِيبُ لَهُمْ مَا دَعَوْا، وَيُخْلِفُ عَلَيْهِمْ مَا أَنْفَقُوا الدِّرْهَمَ أَلْفَ أَلْف

Para jama’ah haji ataupun umrah, adalah Tamu Allah. Sehingga, Allah pasti akan memberikan apapun yang mereka minta, mengabulkan apapun doa-doa mereka, dan mengganti apapun yang dibelanjakan mereka; satu dirham diganti dengan satu juta dirham.

(HR. Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman).

Maka sepatutnya kita persiapkan baik-baik, untuk menjawab undangan mulia ini. Dengan berbekal ilmu yang cukup, untuk dapat meraih ridhoNya melalui ibadah yang istimewa ini; ibadah umrah.

Kita tak bisa bayangkan bagaimana sibuknya persiapan seseorang, yang mendapat undangan dari kepala negara super power di dunia saat ini, anggap saja Amerika. Dia diundang sebagai tamu kehormatan dan didaulat untuk tampil di hadapan presiden dan jajarannya. Apa yang ada dibenaknya?

“Aku harus persiapan maksimal. Jangan sampai memalukan diri di hadapan orang-orang terpandang itu…”

Lantas bagaimana, jika kita diundang oleh Raja seluruh raja, raja alam semesta, sebagai tamu kehormatanNya, untuk tampil ibadah di hadapaNya, apakah kita tidak malu jika ibadah seadanya, tanpa persiapan tanpa berbekal ilmu?!

Padahal ridho Allah lebih sangat layak untuk diperjuangkan daripada ridho makhluk. Dan kehormatan di akhirat lebih layak untuk dikejar daripada kehormatan di dunia.

Allah berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

Namun kalian lebih mendahulukan kehidupan dunia,

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

(QS Al-A’la : 16 – 17)

Tak semua orang mendapatkan rizki untuk dapat menikmati syahdunya ibadah di tanah suci. Maka, kesempatan emas yang belum tentu berulang ini, kita manfaatkan baik-baik, dengan berbekal ilmu sebelum berumrah.

Dan tentu, kita tak ingin melanggar sabda yang mulia -shallallahualaihi wasallam- ini,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Siapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai tuntunan kami, maka amalan itu tertolak. (HR. Muslim)

Sekian…

***

Jogjakarta Tercinta, 20 November 2018

Ditulis Oleh : Ahmad Anshori

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here