Home Blog Page 7

Khutbah Jumat : Ketika Doa Orang Tua Menjadi Jalan Surga Bagi Anak-Anaknya

0

Ketika Doa Orang Tua Menjadi Jalan Surga Bagi Anak-Anaknya

Unduh versi PDF disini 

Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Khutbah Pertama 

الحَمدُ لِـلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ وَأَظْهَرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ، هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا هُوَ أَهْلُهُ وَأَشْكُرُهُ شُكْرَ مَنْ يَسْتَزِيْدُهُ وَيَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ وَحْدَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَكَمَالِ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّداً عَبْدُهُ وَرُسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِينِ وَبَعْدُ

يَا أَيَّهَا النَاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 

Amma Ba’du

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Hidup ini adalah anugerah terindah dari Allah Ta’ala. Di antara sekian banyak anugerah itu, keberadaan orang tua adalah sebuah nikmat agung yang seringkali luput dari kesadaran kita. Mereka adalah sebab adanya kita di dunia ini, gerbang pertama kehidupan, dan pelita yang tak pernah padam menerangi jalan kita. Sejak pertama kali kita hadir ke dunia, tangisan pertama kita disambut dengan linangan air mata haru dan senyuman penuh cinta. Mereka membesarkan kita dengan tulus, dengan peluh yang tak terhitung, dengan pengorbanan yang tak terbatas, dan dengan kasih sayang yang tak mengharap balasan.

Saudaraku, pernahkah kita merenung, di balik setiap langkah kesuksesan kita, di balik setiap ujian yang berhasil kita lewati, ada kekuatan doa yang tak terlihat, yang senantiasa mengalir dari bibir suci kedua orang tua kita? Doa mereka, sungguh, adalah jembatan emas yang menghubungkan kita dengan kebaikan, dengan keberkahan, bahkan dengan Surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” [QS. Al-Isra: 23-24]

Ayat ini bukan sekadar perintah, ia adalah penegasan posisi orang tua yang begitu agung di sisi Allah Ta’ala. Setelah tauhid, perintah yang paling mendasar adalah berbuat baik kepada orang tua. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka.

Dan ketahuilah, bahwa doa orang tua untuk anak-anaknya adalah salah satu doa yang tidak akan ditolak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ.

“Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan), tidak ada keraguan padanya: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.” [HR. Abu Dawud no. 1536]

Hadis yang mulia ini adalah kabar gembira sekaligus peringatan. Kabar gembira bagi anak yang senantiasa berbakti, karena doa kebaikan dari orang tuanya akan melesat menembus langit dan menjadi sebab kebahagiaan dunia akhiratnya. Peringatan bagi anak yang durhaka, karena doa keburukan dari orang tuanya, meskipun jarang terjadi dari hati yang penuh cinta, bisa menjadi malapetaka. Namun fokus kita pada hari ini adalah bagaimana doa itu menjadi jalan surga.

Ketika seorang ibu atau ayah mengangkat kedua tangannya, memohon kebaikan, keberkahan, dan hidayah untuk buah hatinya, saat itu, sungguh, pintu-pintu langit terbuka lebar. Doa itu menjelma menjadi perisai yang melindungi anak dari bahaya, menjadi bekal yang membimbingnya menuju kebaikan, dan menjadi investasi yang tak pernah rugi untuk kehidupan akhirat. Betapa banyak kisah orang-orang saleh yang mencapai derajat tinggi di sisi Allah, yang keberhasilannya tak lepas dari ketulusan doa orang tua mereka.

Maka, tanyakan pada diri kita, apakah kita telah menjadi anak yang pantas menerima doa-doa terbaik itu? Apakah setiap perbuatan kita telah menyejukkan pandangan mereka, atau justru menggores luka di hati mereka yang suci?

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kita telah memahami betapa agungnya doa orang tua. Ia adalah karunia tak ternilai yang dapat menjadi penentu kebahagiaan kita di dunia dan keselamatan kita di akhirat. Lantas, bagaimana kita sebagai anak dapat meraih doa kebaikan ini semaksimal mungkin? Dan bagaimana pula sebagai orang tua, kita dapat mengoptimalkan doa kita untuk anak-anak?

Bagi Anak-anak, Raihlah Doa Mereka dengan:

  1. Berbakti (Birrul Walidain): Ini adalah kunci utama. Berbakti bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi mereka, tetapi lebih dari itu, tentang menghormati, mendengarkan, taat dalam kebaikan, merawat mereka di kala tua, dan senantiasa berbuat ihsan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal apa yang paling utama, beliau bersabda:

    الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا ، ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ، ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Shalat tepat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian jihad di jalan Allah.” [HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 85]

  1. Menjaga Perkataan dan Perbuatan: Jaga lisan dan tingkah laku kita dari hal-hal yang menyakiti hati mereka. Perkataan “ah” saja dilarang, apalagi yang lebih kasar dari itu. Jadilah penyejuk mata dan hati mereka, bukan penyebab kesedihan dan kekecewaan.
  2. Mendoakan Mereka: Ini adalah bentuk bakti yang terus berlanjut, bahkan setelah mereka tiada. Doa anak yang saleh adalah salah satu amalan yang tidak terputus pahalanya bagi orang tua yang telah meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” [HR. Muslim no. 1631]

Mendoakan orang tua adalah bukti cinta dan balas budi kita yang tak terhingga.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

Bagi Orang Tua, Optimalkan Doa untuk Anak-anak dengan:

1. Penuh Keikhlasan dan Keyakinan: Doalah dengan hati yang tulus, yakinlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.

2. Doa yang Spesifik dan Berulang: Mohonkan kebaikan dunia dan akhirat bagi anak-anak. Mohonkan hidayah, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, dan kekuatan dalam beribadah. Jangan pernah lelah berdoa untuk mereka.

3. Mendidik Anak dalam Ketaatan: Doa yang tulus akan lebih efektif jika diiringi dengan usaha mendidik anak-anak di atas jalan Islam yang lurus, membimbing mereka mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anak yang saleh lebih mungkin mendapatkan doa yang baik dari orang tuanya, dan doa mereka sendiri juga lebih mustajab.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Mari kita jaga amanah ini, baik sebagai anak maupun sebagai orang tua. Jadikanlah hubungan kita dengan orang tua sebagai ladang amal kebaikan yang tak pernah kering. Biarkanlah doa-doa orang tua kita menjadi permadani yang menghampar,

membimbing langkah kita menuju Surga Firdaus. Jadikan pula doa-doa kita sebagai orang tua, perisai dan bekal terbaik bagi buah hati kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan orang tua yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi anak-anak kita.

Janji ini mencakup jalan keluar dari segala kegalauan, kesedihan, dan kesulitan hidup. Maka, mari kita mulai hijrah gaya hidup kita, dari kegalauan yang menyelimuti, menuju taqwa yang membara dalam hati!

 

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

donatur-tetap

Ayat-Ayat Perintah untuk Mentadaburi Al-Quran

0

Al-Quran menjadi salah satu pedoman utama dan bersifat abadi bagi kaum mukminin, dengannya dia mengenal Rob dan syareatNya, maka wajib bagi kaum mukminin mentadabburi dan mempelajari Al-Quran agar hidupnya terarah sesuai rambu-rambu syareat.

Seorang mukmin jika membaca Al-Quran dan berusaha memahaminya, maka akan dijumpainya ayat-ayat yang memerintahkan atau anjuran untuk mentadabburi Al-Quran, dan itu cukup untuk menjadikan kewajiban mentadabburi Al-Quran bagi kaum mukminin. Berikut ayat-ayat tentang tadabbur Al-Quran:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An-Nisa 82)

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS. Al-Mukminun 68)

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS. Shod: 29)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” QS Muhammad 24

Al-Quran datang dengan perintah untuk mentadabburi ayat-ayatnya di empat tempat, seperti yang telah disebutkan di atas. Tetapi ada yang mengherankan bahwa dua ayat tersebut konteksnya ditujukan kepada mereka orang-orang munafiq, yaitu:

  1. أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. QS An-Nisa 82

  1. أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” QS Muhammad 24

Dan dua yang lain konteksnya ditujukan kepada mereka orang-orang kafir, yaitu ayat berikut:

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS Al-Mukminun 68)

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS. Shod: 29)

Ayat-ayat tentang perintah untuk mentadabburi Al-Quran walaupun konteksnya kepada non mukmin, bukan bermakna bahwa orang mukmin tidak diperintahkan untuk mentadabburinya, tetapi justru kaum mukmininlah yang diperintahkan, bahkan lebih utama dari pada non mukmin, karena kaum mukminin yang senantiasa dan ahli di dalam mengambil manfaat dari Al-Quran.

Ayat yang memerintahkan untuk mentadabburi Al-Quran ada yang bersifat umum, seperti:

 كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS. Shod: 29)

Dan ada pula yang bersifat khusus, seperti:

 أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An-Nisa 82)

Semoga Allah memberi karuniaNya kepada penulis dan pembaca untuk senantiasa mentadabburi Al-Quran dan mengamalkannya di kesehariannya.

Sumber: At taa-aatul ‘isyruun li tadabburil Quran

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Kasih Sayang Sebagai Barometer Keimanan: Tafsir Surat Al-Ma’un

0

Kita mengetahui bahwa iman seseorang dapat naik dan turun, sebagaimana perkataan Imam al-Syafi’i rahimahullah:

“الإيمان قول باللسان، واعتقاد بالقلب، وعمل بالجوارح، يزيد بالطاعة، وينقص بالمعصية.”

“Iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”(Diriwayatkan dalam Syarḥ al-Sunnah oleh al-Baghawī, 1/38)

Dan Allah ta’aala menyebutkan dalam surat Al-Ma’un diayat pertama,

 أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?”

Ayat ini di tujukan kepada nabi Muhammad secara khusus dan kepada kaum muslimin secara umum, bahwa Allah ta’aala memberikan pertanyaan untuk menguatkan pernyataan setelahnya yaitu tanda orang-orang yang tidak beriman kepada hari pembalasan di ayat setelahnya,

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

“Itulah orang yang menghardik anak yatim”.

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Dan tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin”.

Allah ta’aala memberikan tanda tidak imannya seseorang dari segi perasaan (isi hati) yang bersifat umum, baik orang islam maupun kafir masuk kedalam ayat tersebut, dan point penting dalam hal ini adalah jika ada seorang muslim yang tidak memiliki empati kepada anak yatim atau orang miskin atau orang-orang lemah lainnya, maka hal ini menjadi tanda lemahnya keimaman orang tersebut.

Perkataan Imam Ibn al-Qayyim (ابن القيم رحمه الله)

“كلما قوي إيمان العبد بالله، قوي حبّه لعباد الله ورحمته لهم، وكلما ضعف إيمانه ضعف حبه ورحمته، حتى لا يبقى في قلبه رحمة.”

“Semakin kuat iman seorang hamba kepada Allah, semakin kuat pula cintanya dan kasih sayangnya kepada sesama hamba Allah. Namun, semakin lemah imannya, semakin lemah pula cinta dan kasih sayangnya — hingga akhirnya tidak tersisa rahmat sedikit pun di hatinya.” (Ibn al-Qayyim, Madarij as-Sālikīn, jilid 2, hlm. 308)

Perkataan Imam Ibn Rajab al-Hanbali (ابن رجب الحنبلي رحمه الله)

“إذا ذهبت الرحمة من القلب، ذهبت حقيقة الإيمان منه، فإن الرحمة من شعب الإيمان.”

“Apabila kasih sayang telah hilang dari hati, maka hakikat iman pun telah hilang darinya, karena kasih sayang termasuk cabang dari cabang-cabang iman.” (Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, hlm. 322)

Perkataan Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa‘di (الشيخ السعدي رحمه الله)

“من ضعف إيمانه ضعفت رحمته، وإذا قسا قلبه نُزعت منه الرحمة، فدل على أن ضعف الإيمان سبب في ذهاب الرحمة.”

“Barang siapa imannya lemah, maka lemahlah kasih sayangnya. Jika hatinya menjadi keras, maka rahmat akan dicabut darinya. Ini menunjukkan bahwa lemahnya iman adalah sebab hilangnya kasih sayang.” (Tafsīr as-Sa‘dī, tafsir QS. al-Ḥadīd [57]: 16), dan masih banyak lagi perkataan para ulama yang lainnya.

Dan menariknya lagi, nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam juga menjadikan salah satu obat hati yang keras adalah dengan menyantuni anak yatim, berbagi kepada orang-orang miskin dan lemah, sebagaimana sabda beliau

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ قَسْوَةَ قَلْبِهِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ

“أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يُلِنْ قَلْبُكَ، وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ.”

“Apakah engkau ingin hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usap kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu, niscaya hatimu akan menjadi lembut dan engkau akan memperoleh kebutuhanmu.” (HR. Ahmad, 2/263; Ath-Thabrani; dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 854)

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (رحمه الله) Dalam kitab Ighātsatul Lahfān (2/729), beliau berkata:

“من أراد علاج قسوة قلبه فليُكثر من ذكر الله، وليُرْفِقْ باليتامى والمساكين، وليُطعمهم، فإن ذلك مما يلين القلب ويذهب القسوة.”

“Barang siapa ingin mengobati kerasnya hati, hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada Allah, berlemah lembut kepada anak yatim dan orang miskin, serta memberi mereka makan. Karena hal itu dapat melembutkan hati dan menghilangkan kekerasannya.”

Kesimpulan Para Ulama:

الرحمة من ثمار الإيمان، فإذا ذهبت الرحمة دل على ضعف الإيمان.

Kasih sayang adalah buah dari iman; jika kasih sayang hilang, maka itu tanda lemahnya iman.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Hak dan Adab Sesama Muslim

0

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

عن الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، يَقُولُ : أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعِ الْجَنَازَةِ، وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ، وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ – أَوِ الْمُقْسِمِ – وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِي، وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami tujuh perkara; menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menjawab orang yang bersin, membantu orang yang bersumpah, menolong orang yang teraniaya, memenuhi undangan dan menebarkan salam.” (HR. Bukhari, no. 1239 dan Muslim no. 2066)

Penjelasan Hadis

Hadis ini termasuk panduan adab sosial Islam yang sangat komprehensif, mengatur hubungan antarindividu dalam masyarakat dengan berlandaskan kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tujuh perintah yang mencerminkan karakter muslim sejati – yaitu muslim yang peduli pada saudaranya

Pertama, Menjenguk Orang Sakit

Kata ‘iyadah dalam redaksi hadis secara bahasa berarti menjenguk berulang kali. Berbeda dengan lafadz ziyarah yang berarti menjenguk atau berkunjung sekali waktu.

Artinya, menjenguk orang sakit bukan hanya dilakukan sekali, tetapi dianjurkan berulang kali sesuai kebutuhan dan kondisi.

Menjenguk orang sakit memiliki banyak hikmah; memperkuat hubungan, menumbuhkan empat, serta mengingatkan tentang nikmat kesehatan dan kematian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَائِدُ الْمَرِيضِ فِي مَخْرَفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia senantiasa berada di taman surga hingga ia kembali.” (HR. Muslim no. 2568)

Kedua, Mengantar Jenazah

Lafadz ittiba’ memiliki makna mengikuti, hal ini menunjukkan bahwa posisi yang tepat adalah berada di belakang jenazah, karena yang diikuti selayaknya didahului.

Para ulama menjelaskan; jika pengantar berjalan kaki, boleh berada di depan, di beakang, atau di samping. Namun, jika pengantar jenazah dalam kondisi berkendara, maka sebaiknya berada di belakang jenazah, sesuai adab yang diajarkan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini menanamkan nilai tawadhu’ atau kerendahan hati dan penghormatan terhadap jenazah serta mengingatkan akan akhir kehidupan dunia.

Ketiga, Menjawab Orang Bersin

Apabila seseorang bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka wajib bagi orang yang mendengar untuk menjawab dengan yarhamukallah (semonga Allah merahmatimu).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap. Jika salah seorang di antara kalian bersin lalu mengucap ‘alhamdulillah’, maka menjadi kewajiban bagi yang mendengar untuk menjawab ‘yarhamukallah’.” (HR. Bukhari, no. 6223)

Namun, apabila orang yang bersin tidak mengucap tahmid, maka tidak ada kewajiban menjawab sebagaimana penegasan para ulama fikih.

Keempat, Membebaskan Sumpah Orang Lain

Makna membebaskan sumpah adalah membantu seorang agar tidak melanggar sumpahnya. Contohnya, jika seorang berkata, “Demi Allah, mampirlah ke rumahku!”, maka dianjurkan untuk memenuhinya, agar orang tersebut tidak harus membayar kafarah sumpah.

Perbuatan ini termasuk bentuk kebaikan sosial, karena membantu saudara muslim menjaga lisannya dan menepati sumpahnya.

 

Kelima, Menolong Orang yang Teraniaya

Menolong orang yang terzalimi merupakan kewajiban moral dan agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا “. قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا ؟ قَالَ :  تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

“Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zalim atau dizalimi.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami paham jika menolong ornag yang terzalimi, namun bagaimana menolong orang yang berbuat zalim?” Beliau menjawab, “Dengan mencegah ia berbuat kezaliman.” (HR. Bukhari, no. 2444)

Menolong dalam konteks ini mencakup bantuan fisik, moral, maupun hukum, sesuai kemampuan masing-masing.

Keenam, Memenuhi Undangan

Mendatangi undangan termasuk tanda ukhuwah dan penghormatan terhadap sesama.

Jika undangan adalah walimah pernikahan, maka hukumnya adalah wajib selama tidak ada kemungkaran didalamnya. Namun, jika undangan bukan walimah pernikahan, maka hukumnya dianjurkan tidak wajib.

Ketujuh, Menebarkan Salam

Makna “salam” menurut ulama ada dua; as-Salam berarti keselamatan, as-Salam juga berarti salah satu nama Allah.

Sehingga makna Assalamu ‘alaikum menjakup doa; ‘‘semoga keselamatan bersamamu dan semoga Allah menyertaimu.’’

Menebarkan salam menumbuhkan rasa cinta dan aman antar sesama muslim, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amal jika kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim, no. 54)

Faedah Praktis

  1. Islam menekankan solidaritas sosial
  2. Menjenguk orang sakit meningkatkan empati dan ukhuwah
  3. Mengiringi jenazah mengingatkan tentang kematian
  4. Menjawab orang bersin adalah adab kecil dengan pahala besar
  5. Melepas sumpah orang lain termasuk amal baik
  6. Menolong orang teraniaya wajib bagi yang mampu
  7. Menghadiri undangan mempererat hubungan sosial
  8. Menebarkan salam adalah pintu kasih sayang

Kesimpulan

Hadis al-Barra bin Azib radhiyallahu ‘anhu merupakan pedoman adab sosial bagi umat Islam. Tujuh perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalamnya mencerminkan prinsip Islam yang menekankan kasih sayang, solidaritas, dan kebersamaan daam masyarakat.

Dengan melaksanakan ajaran-ajaran ini, seorang muslim tidak hanya mempererat hubungan antar sesama, tetapi juga meraih kasih sayang Allah di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Lisanku Membahayakanku

0

Betapa banyak kesalahan yang kita lakukan yang disebabkan oleh lisan kita, dan pada akhirnya kita sendiri yang mendapatkan dampak terburuk dari ucapan lisan kita.

Banyak kedurhakaan anak kepada orang tua bukan dengan tangan ataupun kaki, akan tetapi disebabkan oleh lisan, juga sebaliknya banyak orang tua menyakiti anaknya dengan lisannya, juga kepada saudara, kerabat, teman, tetangga, dan masih banyak lagi kesalahan disebabkan lisan yang kita sadari maupun tidak kita sadari, yang pada akhirnya kita sendiri yang mendapat dampak terburuk dari lisan kita.

Allah menegaskan bahwa semua ucapan kita akan di catat oleh malaikatnya

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18).

Sadarkah kita bahwa ucapan demi ucapan, kata demi kata, setiap huruh yang keluar dari lisan kita akan di catat oleh malaikat, yang berarti kita akan menanggung semua ucapan ucapan kita, maka bertakwalah kepada Allah dalam menjaga lisan, dan jangan-lah kita bermudah-mudahan dalam berucap  (cepls-ceplos), karena Rasul salallahu ‘alaihi wasallam besabda :

 إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Karena ada orang yang terjerumus kedalam api neraka dikarenakan lisannya yang tidak ia jaga, oleh karnanya para ulama adalah orang-orang yang sangat menjaga ucapan mereka, diantaranya :

 يَنْبَغِي لِكُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي كَلَامِهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ

(Imam Nawawi) – “Hendaknya setiap orang yang berbicara merenungkan dalam dirinya sebelum berucap.”

Yang menunjukkan bahwa setiap orang yang baligh dan berakal sudah semestinya untuk menjaga ucapannya, karena dia tau bahaya yang di akibatkan oleh lisannya akan menimpa dirinya sendiri.

 مَا مِنْ شَيْءٍ أَحَقُّ بِطُولِ سِجْنٍ مِنْ لِسَانِي

(Ibnu Mas’ud) – “Tidak ada yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama melainkan lisanku ini.”

Perkataan ibnu mas’ud menunjukan bahwa sering kali ucapan kita berakhir dengan penyesalan yang Panjang, seandainya aku bisa mengulang waktu maka akan aku rubah ucapanku yang telah lalu, atau lebih baik aku diam dan tidak mengucapkannya, dan penyesalan-penyesalan lainnya.

Rasul mengingatkan kepada kita orang-orang beriman, agar berkata baik, jika tidak mampu maka diam lebih baik,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang beriman seakan disifati dengan hadits diatas dengan sifat pendiam, tidak sembarang dalam berucap, tidak masa bodo dengan ucapannya, dan tidak-lah berucap kecuali kebaikan saja.

Dan jika ternyata perkataan kita menyakiti orang lain maka ingatlah perkataan Sufyan bin Uyainah berikut,

لأنْ تلقى الله تعالى بسبعين ذنباً فيما بينك وبينه؛ أهونُ عليك من أن تلقاه بذنب واحد فيما بينك وبين العباد

“Andai anda bertemu Allah dengan memikul 70 dosa yang kaitannya antara anda dan Dia, itu lebih ringan daripada engkau bertemu Allah, dengan membawa satu dosa, namun dosa itu kaitannya antara dirimu dengan manusia.”

Sufyan bin Uyainah menekankan bahwa dosa kepada manusia lebih berat daripada dosa kepada Allah karena dosa kepada manusia dapat menyebabkan kerugian dan kesulitan dalam hubungan sosial, serta memerlukan proses permintaan maaf dan pengampunan dari orang yang bersangkutan terlebih lagi manusia memiliki sifat membalas atau dendam.

Jika kita memiliki kesalahan kepada orang lain yang di akibatkan lisan kita atau hal yang lain, segeralah meminta maaf.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Kewajiban Mentadaburi Al-Quran

0

Al-Quran diturunkan menjadi pedoman kehidupan manusia supaya tertata hidupnya, siapa yang ingin hidup dalam kebaikan dan mendapat kebahagiaan yang hakiki, maka Al Quran jawabannya.

Mempelajari Al Quran, berusaha memahami dan mentadabburinya termasuk kewajiban seorang muslim, dengannya dia mengenal Allah dan apa yang Dia inginkan dari hambaNya.

Al Quran adalah kitab kebahagiaan dan hanya dengan Al Quran hidup seorang muslim akan lurus di dalam berjalan menuju akheratnya. Di antara tujuan Allah menurunkan Al Quran adalah supaya ditadabburi kandungan isinya, seperti Allah nyatakan dalam ayat berikut:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS Shod: 29)

Dan firmanNya

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci ?” (QS. Muhammad: 24)

يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه ، وناهيا عن الإعراض عنه

Imam ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: “Allah berfirman (dalam bentuk) perintah untuk mentadaburi Al Quran dan berusaha memahaminya, Dia juga melarang dari berpaling darinya”.

Syekh Sa’di menyatakan: “Tidakkah mereka yang berpaling dari kitab Allah itu mentadabburi Al Quran, dan memperhatikannya dengan sebenar-benarnya .?! Jikalau mereka mau mentadabburinya, niscaya Al Quran akan menunjukan kepadanya semua kebaikan dan memperingatkan dari hal-hal yang buruk, dan pasti hatinya akan dipenuhi keimanan dan keyakinan, dan akan mengantarkannya ke derajat yang sangat tinggi, dan akan menerangkan kepadanya jalan yang lurus menuju Allah dan surgaNya, dan juga akan menerangkan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam adzab Allah, dan sungguh Al Quran akan mengenalkannya dengan Allah, nama dan sifat-sifatNya, dan akan menjadikannya rindu dengan pahala yang melimpah, dan akan menjadikannya takut terhadap adzab yang besar “.

Tadabbur Al Quran adalah wasilah untuk memetik isi kandungan dalam ayat-ayat Al Quran, keistiqomahan dalam berfikir, dan lurusnnya pemahaman tentang Allah. Mentadabburi Al Quran juga menjadi pintu kekhusyuan hati, menghadirkan keagungan Allah dan menyampaikan ke derajat tertinggi dari pengetahuan dan keyakinan. Begitu pentingnya mentadabburi Al Quran, hingga Allah memberikan peringatan kepada orang yang lalai dari khusyu’ dalam mengingat Allah, sebagaimana dalam ayat berikut:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)”. (QS. Al-Hadid: 16)

Khusyu’ menjadi kekhususan Al Quran, dan diantara tabiat Al Quran adalah memberi ta’tsir (dampak) kepada jiwa manusia dan semua makhuk juga kepada benda-benda mati, Allah berfirman:

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah”. (QS> Al-Hasyr: 21)

Imam ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas: “Jika gunung yang besar dan kokoh memahami Al Quran dan mentadabburinya, niscaya dia akan khusyu’ dan pecah karena takut kepada Allah, lantas bagaimana keadaan kalian wahai manusia mengapa hati kalian tidak melembut dan khusyu’ serta pecah (menangis) karena takut kepada Allah ? Sedangkan kalian bisa memahami tentang Allah dan perintahNya dan kalian bisa mentadabburi Al Quran”.

Dalam rangka supaya hati dan jiwa menjadi tenang dan bersih, maka penulis mengajak kepada pembaca untuk senantiasa berusaha memahami dan mentadabburi isi ayat-ayat Al Quran setiap kali membacanya. Semoga Allah memberikan taufiqNya… Aamiiin.

Sumber: At ta-aatul ‘isyruun li tadabburil Quran

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Hijrah Gaya Hidup Dari Galau Menuju Taqwa yang Membara

0

Teks Khutab Jumat pdf unduh disini

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Khutbah Pertama 

الحَمدُ لِـلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ وَأَظْهَرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ، هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا هُوَ أَهْلُهُ وَأَشْكُرُهُ شُكْرَ مَنْ يَسْتَزِيْدُهُ وَيَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ وَحْدَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَكَمَالِ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّداً عَبْدُهُ وَرُسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِينِ وَبَعْدُ

يَا أَيَّهَا النَاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 

 

Amma Ba’du

Jama’ah rahimani wa rahimakumullah…

Hidup di zaman yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, seringkali kita merasakan kegelisahan, kekosongan, bahkan istilah anak muda menyebutnya “galau”. Padahal, mungkin secara materi kita berkecukupan, media sosial kita penuh senyum, dan kehidupan kita tampak sempurna di mata orang lain. Namun, di balik itu semua, hati kita seringkali merasakan hampa, bingung mencari makna, dan mudah putus asa.

Fenomena “galau” ini sejatinya adalah indikasi bahwa ada sesuatu yang hilang dari diri kita, ada bagian penting yang tidak terisi. Dan ketahuilah, wahai kaum muslimin, kekosongan itu tidak akan pernah bisa diisi dengan harta, popularitas, atau pujian manusia. Kekosongan itu hanya akan terisi oleh kedekatan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, tema khutbah kita hari ini adalah “Hijrah Gaya Hidup: Dari Galau Menuju Taqwa yang Membara”.

Ketika kita mendengar kata “hijrah”, mungkin yang terbayang adalah perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, seperti hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Itu benar. Namun, ada bentuk hijrah lain yang tak kalah penting, bahkan jauh lebih mendasar, yaitu hijrah gaya hidup. Hijrah yang bersifat internal, perpindahan dari keadaan yang tidak baik menuju keadaan yang lebih baik, dari maksiat menuju ketaatan.

Inilah inti dari mengatasi kegalauan hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa ketenangan sejati berasal dari dzikrullah, mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah fondasi hijrah gaya hidup kita.

Lalu, apa itu hijrah gaya hidup secara praktis? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan definisi yang sangat indah:

الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Orang yang berhijrah itu adalah siapa saja yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” [HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 39]

Ini adalah hijrah sejati! Meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan beralih kepada apa yang diperintahkan-Nya. Jika kita ingin hijrah dari kegalauan menuju taqwa yang membara, maka ada beberapa langkah nyata yang perlu kita ambil:

 

Pertama: Menggeser Prioritas dari Duniawi ke Ukhrawi.

Bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi menempatkan akhirat sebagai tujuan utama, sementara dunia sebagai sarana. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya, Allah akan kumpulkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dengan tunduk. Dan barangsiapa menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan jadikan kemiskinan di antara kedua matanya, Allah akan cerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR. Tirmidzi no. 2465, Ibnu Majah no. 410)

 

Kedua: Memilih Lingkungan dan Teman yang Shalih/Shalihah.

Lingkungan dan teman sangat berpengaruh pada gaya hidup kita. Jika kita berada di lingkungan yang baik, kita akan terbawa kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk akan menyeret kita pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung pada agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dijadikan teman.” 9HR. Abu Dawud no. 4832).

 

Ketiga: Mendalami Ilmu Syar’i.

Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan. Dengan ilmu, kita tahu mana yang haq dan mana yang batil, mana yang bermanfaat dan mana yang mudarat. Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya tentang Ar-Ra’d: 28 menjelaskan bahwa hati menjadi tenang dengan mengingat Allah karena tidak ada yang lebih agung dari-Nya dan tidak ada yang lebih patut untuk diibadahi selain-Nya. Ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, syariat-Nya, dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengisi kekosongan hati dan memberikan arah hidup.

 

Keempat: Memperbaiki Kualitas Ibadah.

Shalat tepat waktu dan khusyuk, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, memperbanyak dzikir pagi dan petang, serta ibadah-ibadah sunnah lainnya. Inilah “charger” spiritual kita. Semakin kuat koneksi kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ibadah, semakin redup rasa galau dan semakin membara semangat taqwa di hati kita.

Ingatlah janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang bertaqwa:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Janji ini mencakup jalan keluar dari segala kegalauan, kesedihan, dan kesulitan hidup. Maka, mari kita mulai hijrah gaya hidup kita, dari kegalauan yang menyelimuti, menuju taqwa yang membara dalam hati!

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

donatur-tetap

Kasih Sayang Terhadap Sesama

0

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

 قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا، فَقَالَ الْأَقْرَعُ : إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ، مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا. فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ : ” مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ “.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Saat itu Aqra’ bin Habis at-Tamimi sedang duduk di sisi beliau, lalu ia berkata: ‘Aku memiliki sepuluh anak, tetapi tidak pernah mencium salah satu dari mereka.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi (oleh Allah).’” (HR. Bukhori, no. 5997 dan Muslim no. 2318)

Identitas Perawi

Hadis ini diriwayatkan oleh sahahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang memiliki nama asli Abdurrahman bin Sakhr Ad-Dausi ad-Dimasyqi sebagaimana dikuatkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Isbah fi Tamyiz Ash-Shahabah[1]

Beliau mendapatkan julukan Abu Hurairah (bapak kucing) karena suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seekor anak kucing di lengan beliau, lalu bersabda:

‘Wahai Abu Hurairah (wahai bapak kucing)!’

Sejak saat itu, panggilang tersebut melekat hingga akhir hayatnya.

Abu Hurairah masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriah ketika terjadi perang Khaibar serta hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun. Walau singkat, beliau termasuk tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis yaitu; Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Aisyah binti Abu Bakar, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, dan Abu Said al-Khudri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan Abu Hurairah dengan dua doa mulia; mendoakan agar orang yang mendengar namanya mencintainya serta mendoakan agar ibu Abu Hurairah masuk ke dalam Islam.

Makna Hadis

Hadis ini menggambarkan kelembutan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak hanya menjadi suri teladan dalam ibadah akan tetepi juga dalam kasih sayang terhadap anak-anak.

Ketika beliau mencium cucunya, Hasan bin Ali, hal itu mengundang komentar dari Aqra’ bin Habis – seroang pemimpin dari suku Arab badui – yang mengaku tidak pernah mencium anak-anaknya sama sekali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dengan sabda beliau yang singkat namun sangat mendalam:

“Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”

Ucapan ini bukan sekadar teguran kepada Aqra’, tetapi juga pelajaran umum bagi seluruh umat manusia agar menumbuhkan rasa kasih sayang, karena kasih sayang merupakan sebab turunnya rahmat Allah.

 

Keras dan Lembutnya Hati

Orang-orang Arab badui pada masa itu dikenal memiliki watak keras dan sedikit menunjukkan kasih sayang, bahkan kepada keluarga sendiri. Hal ini disebabkan lingkungan hidup mereka yang keras dan nilai budaya yang menganggap kelembutan hati adalah kelemahan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk mengubah paradigma tersebut. Islam mengajarkan bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah tanda keimanan dan kemuliaan hati.

 

Rahmat Allah dan Jenisnya

Hadis ini juga berkaitan dengan sifat rahmat (kasih sayang) Allah. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَّعِلْمًا

“Ya Tuhan kami, sungguh ilmu dan rahmat-Mu meliputi segala sesuatu.” (Qs. Ghafir [40]:7)

 

Sekilas, hadis ‘tidak disayangi oleh Allah’ tampak bertentangan dengan ayat ini. Namun para ulama menjelaskan bahwa rahmat Allah terbagi menjadi dua jenis.

  1. Rahmat ‘Ammah (umum) – mencakup seluruh makhluk, baik mukmin maupun kafir. Rahmat ini berupa nkmat kehidupan, kesehatan, rezeki dan berbagai karunia
  2. Rahmat Khassah (khusus) – rahmat ini hanya diberikan kepada hamba-hamba yang beriman, bertakwa dan memiliki kasih sayang terhadap sesama.

Dengan demikian, hadis ini bermakna bahwa orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang tidak akan memperoleh rahmat khusus dari Allah, yakni rahmat yang membawa kebahagiaan abadi di akhirat.

Faedah Hadis

  1. Kasih sayang adalah ciri orang beriman
  2. Kelembutan bukan kelemahan, tetapi kekuatan moral
  3. Anak-anak membutuhkan kasih sayang, bukan hanya pengajaran
  4. Rahmat Allah diberikan kepada orang yang menyayangi
  5. Jangan biarkan budaya menghapus rasa kasih
  6. Mencintai sahabat dan meneladadi akhlak termasuk bagian dari kasih dalam iman

Hadis ini menegaskan bahwa kasih sayang adalah nilai unversal Islam yang tidak hanya diwujudkan dalam ucapan, tetapi juga dalam tindakan nyata seperti perhatian, kelembutan, dan empati terhadap sesama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi teladan bagi umat manusia dalam menumbuhkan cinta dan kasih sayang, terutama kepada anak-anak. Maka, siapa yang menebar kasih sayang di bumi, akan disayangi oleh Allah yang Maha Pengasih.

Wallahu a’lam

[1] Ibnu Hajar al-Asqolani, Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995) vol. 7, hlm. 349.

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Husnudzan Kepada Allah

0

Kita telah diajarkan untuk berbuat baik semenjak kecil, dari pebuatan tangan dan lisan kita, dan syariat melengkapinya dengan kebaikan dari dalam hati, yaitu berbaik sangka kepada orang lain.

Secara naluri manusia akan cenderung berbuat baik khususnya Ketika dia telah mendapatkan kebaikan dari orang lain, sebagai balas budi, lalu bagaimana dengan Allah ta’aala, tidak ada satupun dari makhluk Allah kecuali telah mendapatkan kebaikan dari Allah subhanahu wata’aala.

Berikut dlil-dalil tentang rizki Allah kepada seluruh makhluknya:

  1. وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها و يعلم مستقرها و مستودعها كل في كتاب مبين

“Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi ini melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan penyimpanannya, semua itu (tertulis) dalam kitab yang nyata (lauh mahfudz)”. (QS. Hud : 6)

  1. وكأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها و إياكم وهو السميع العليم

“Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak mampu membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberikan rezeki kepadanya dan kepadamu, Dia maha Mendengar Maha Mengetahui”. (QS. Al-Ankabut : 60).

  1. ياأيها الناس اذكرو نعمت الله عليكم هل من خالق غير الله ير زقكم من السماء و الأرض لا إله إلآ هو فأنى توءفكون

“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, adakah pencipta selain Allah yang dapat memberimu rezeki dai langit dan bumi? Tidak ada sesembahan selain Dia, maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)”. (QS. Fathir : 3)

Husnudzan kepada Allah merupakan kewajiban, sehingga kita sebagi seorang hamba harus memahami posisinya, untuk bisa memperbaiki prasangka kita kepada Allah, agar mendapatkan lebih banyak kenikmatan dengannya, dan terpenting menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.

Pengertian Husnudzan kepada Allah :

Husnudzan (حُسْنُ ظَنٍّ) secara harfiah berarti “berbaik sangka” atau “berprasangka baik”. Dalam konteks berhubungan dengan Allah, husnudzan kepada Allah berarti meyakini bahwa segala ketetapan, perbuatan, dan takdir yang Allah tentukan adalah yang terbaik untuk hamba-Nya, meskipun terkadang kita tidak memahami alasan di baliknya.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam bukunya “Madarij as-Salikin” menyatakan: “Husnudzan adalah keyakinan bahwa segala yang terjadi adalah terbaik, baik itu menyakitkan atau menyenangkan, karena Allah tidak akan memberikan sesuatu kepada hamba-Nya yang tidak bermanfaat untuknya, bahkan dalam kesulitan pun ada kemudahan yang terkandung di dalamnya.”

Husnudzan bukan hanya tentang menerima kebahagiaan, tetapi juga memahami bahwa setiap ujian hidup kita adalah bagian dari rencana Allah yang lebih besar. Allah selalu mengatur segala sesuatu dengan penuh hikmah.

 

Pengaruh Husnudzan dalam Kehidupan Seorang Mukmin

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليهِ وَسَلَّمَ: “أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

Artinya: Dari Abu Hurairah , beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah sangat memperhatikan prasangka hamba-Nya. Jika kita berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah, maka Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita, membantu kita, dan selalu mendampingi kita dalam setiap langkah hidup, terutama saat kita mengingat-Nya.

Husnudzan dan Pengampunan Dosa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا دَعَا عَبْدِي وَهُوَ يَحْسِنُ الظَّنَّ بِي، فَإِنِّي سَأُجِيبُهُ وَأَغْفِرُ لَهُ مَا سَبَقَ

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu., beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang hamba berdoa dan berprasangka baik kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya dan mengampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menekankan bahwa husnudzan kepada Allah dapat membuka pintu ampunan. Ketika seorang hamba berdoa dengan penuh keyakinan dan berprasangka baik kepada Allah, Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan memberikan apa yang ia mohonkan. Ini mengajarkan kita bahwa berbaik sangka kepada Allah adalah salah satu cara untuk mendapatkan rahmat dan pengampunan-Nya.

Husnudzan mengundang Kebaikan Takdir Allah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِعَبْدٍ شَيْئًا، فَأَمَّا إِنْ كَانَ فِي خَيْرٍ فَيُسَرُّ لَهُ، وَإِنْ كَانَ فِي شَرٍ فَيَجْعَلُهُ فِي مَا هُوَ أَفْضَلُ لَهُ”

Artinya: Dari Anas bin Malik قadhiyallahu anhu ., Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika Allah menilai sesuatu takdir untuk seorang hamba, jika itu baik, Allah akan memberikannya dengan kemudahan, dan jika itu buruk, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik bagi hamba-Nya.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan kita bahwa segala takdir yang Allah tentukan pasti mengandung kebaikan, meskipun terkadang kita tidak memahaminya. Bahkan jika sesuatu yang tampak buruk terjadi, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, baik dalam bentuk pahala, hikmah, atau sesuatu yang lebih menguntungkan kita di akhirat.

Husnudzan yang Mencegah Pemberian Ujian yang Berat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا أَمَرَ اللَّهُ بِالْبَلَاءِ لِعَبْدِهِ وَهُوَ يَحْسِنُ الظَّنَّ بِي، فَإِنِّي سَأَجْعَلُهُ مِمَّنْ تَمَّ فِيْهِ رَحْمَتِي”

Artinya: Dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah memutuskan suatu ujian untuk hamba-Nya dan dia berprasangka baik kepada-Ku, maka Aku akan menjadikannya termasuk orang yang mendapatkan rahmat-Ku.”(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa husnudzan dapat mencegah ujian yang terlalu berat. Jika seseorang berbaik sangka kepada Allah, meskipun dalam kondisi sulit, Allah akan menggantinya dengan rahmat-Nya dan memberikan kemudahan. Dengan sikap husnudzan, kita tidak hanya menerima ujian, tetapi juga berharap bahwa Allah akan memberikan pertolongan-Nya dengan cara yang terbaik.

Masih sangat banyak dalil-dalil tentang kebaikan dalam Husnudzan kepada Allah yang belum kita sebutkan karena keterbatasan penulis, dan semoga kita senantiasa mendapatkan hidayah untuk selalu berperasangka baik kepada Allah, dan memberikan keberkahan dalam coretan ini kepada penulis maupun pembaca, Aamiin…

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Pelajaran Singkat dari Surat An-Nisa Bag.2

0

Telah dijelaskan dalam tulisan pertama bahwa kandungan dalam surat an-Nisa’ lebih banyak ke bab hukum, suatu hukum pastinya harus ditegakkan dengan keadilan.

Allah menyuruh kepada kaum mukminin secara tegas untuk berbuat adil

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا ۚ وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (QS. an-Nisa’: 135)

Allah mengakhiri surat an-Nisa’ dengan hak kalalah yaitu orang yang tidak ada anak dan tidak punya orang tua.

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. an-Nisa’ : 176)

Ketika membaca surat an-Nisa’ ini, hendaknya qori’ (pembaca) menimbang antara dirinya dengan apa yang dia baca  dan menanyakan kepada dirinya sendiri bagaimana dirinya berbuat adil kepada diri sendiri, kewajiban apa yang telah ditunaikan yang menjadi hak orang-orang lemah dan apa yang telah diperbuat kepada:

Wanita, baik ibu, nenek, putri, muslimat maupun kafir,

Anak yatim yang sudah tiada ayahnya tatkala mereka kurang terurus,

Orang yang terhalang dari hak warisannya dikarenakan pembagian yang tidak adil,

Pembantu yang tidak mendapat haknya,

Orang sakit yang tidak mendapat pelayanan dengan baik,

Orang yang ketakutan dikarenakan tertindas,

Dan masih banyak lagi orang-orang lemah lainnya yang seharusnya mendapat hak, tetapi terdzolimi sehingga terhalang dari hak yang semestinya.

Renungkanlah ancaman Allah kepada orang-orang yang tidak menunaikan hak orang dhoif (lemah) وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”. (QS. an-Nisa’ 13-14)

Dengan ini, maka hendaknya setiap membaca al-Quran tidak hanya sekedar membaca dengan lisan, tetapi hendaknya lisan membaca hati merenungkan, jiwa membandingkan antara kandungan ayat dengan keadaan dirinya.

Semoga Allah senantiasanya memberikan taufiqNya kepada penulis dan pembaca.

Sumber: kitab tsalaatsuuna majlisan fit tadabbur

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap