Home Blog Page 6

Sunnah Nabi dalam Pengobatan

0

Islam adalah agama yang sempurna, mencakup petunjuk dalam seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga memberi tuntunan dalam hal pengobatan yang berpadu dengan nilai-nilai tauhid dan kebergantungan penuh kepada Allah.

Dalam sejarah Islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai sosok yang penuh kasih, peduli terhadappenderitaan sahabat, serta mengajarkan cara-cara penyembuhan yang mengandung nilai spiritual, medis dan etika. Hadis-hadis berikut menggambarkan bagaimana Nabi mengajarkan umatnya untuk menghadapi sakit dengan sabar, ikhtiar dan doa yang benar.

Doa Nabi dengan Tanah dan Liur

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ

بِاسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan orang yang sakit, beliau bersabda: ‘Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan sedikit liur kami, disembuhkanlah orang sakit di antara kami, dengan izin Rabb kami.’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah mengajarkan bentuk pengobatan yang berpadu antara doa dan unsur alam, yakni debu/tanah dan liur. Kedua untus iin bukanlah sebab utama penyembuhan, tetapi perantara yang digunakan dengan menyebut nama Allah.

Ulama berbeda pendapat tentang makna turbatu ardhina; pendapat pertama menyebutkan tanah yang dimaksud khusus tanah/debu kota Madinah. Sedang pendapat kedua, debu di seluruh bumi bisa digunakan. Sehingga tidak perlu ziarah ke lokasi tertentu seperti Turbah asy-Syifa’ di Madinah. Semua debu bisa digunakan sebagai sarana doa, selama diyakini bahwa penyembuh hanyalah Allah.

Rasulullah mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar lahir dengan ikhtiar batin. Kedua hal ini tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam konsep thibbun nabawi (pengobatan Nabi)

Doa Nabi Saat Menjenguk

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :عَادَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ

اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدً

Dari Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku dan berdoa ‘Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad’ (diulang tiga kali).” (HR. Muslim)

Hadis ini memperlihatkan kelembutan dan akhlak mulia Rasulullah yang selalu menyempatkan diri menjenguk sahabatnya meskipun beliau sibuk. Doa beliau mengandung pengulangan tiga kali, menandakan kesungguhan dan harapan yang besar kepada Allah.

Doa nabi juga menjadi contoh bahwa mendoakan orang sakit termasuk sunnah saat menjenguk, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis.

Para ulama menjelaskan dua jenis doa; pertama, doa yang mencakup pendoa dan yang didoakan, seperti “Rahimani wa rahimakumullah” (Semoga Allah merahmatiku dan kalian). Kedua, doa khusus untuk orang lain, sebagaimana Nabi berdoa khusus untuk Sa’ad.

Hadis ini juga mengajarkan keutamaan mendoakan sesama, terutama dalam keadaan sakit, karena saat itu doa mudah diterima.

Nabi Mengajarkan Ruqyah Syar’iyyah

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ : بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ : أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ “

Dari ‘Utsman bin Abi al-‘Ash radhiyallahu anhu bahwa ia mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rasa sakit di tubuhnya. Maka Rasulullah bersabda: ‘Letakkan tanganmu di tempat yang sakit, lalu bacalah bismillah tiga kali, kemudian bacalah tujuh kali:

A’udzu bi ‘izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (Aku berlindung kepada keagungan dan kekuasaan Allah dari kejelekan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan). (HR. Muslim)

Dalam hadis ini, Nabi mengajarkan ruqyah syar’iyyah atau doa penyembuhan diri dengan cara:

  1. Meletakkan tangan di bagian tubuh yang sakit
  2. Mengucap bismillah tiga kali
  3. Membaca doa perlindungan sebanyak tujuh kali

Nabi tidak langsung meruqyah sahabat tersebut, melainkan mengajarkan agar ia berdoa sendiri. Ini menunjukkan keutamaan doa mandiri.

Kata bismillah dipandang dari kaidah ‘mufrod yang diidafahkan bermakna umum’ memiliki makna dengan seluruh nama Allah (aku mohon kesembuhan). Ini termasuk bentuk tawasul yang diperbolehkan.

Tawasul yang diperbolehkan adalah dengan cara:

  1. Menggunakan nama dan sifat Allah, hal ini tercantum pada surat al-A’raf ayat 180
  2. Menggunakan amal saleh yang telah dilakukan, sebagaimana yang termaktub dalam surat Ali Imran ayat 193
  3. Doa orang saleh yang masih hidup, dasarnya surat An-Nisa ayat 64

Faedah Praktis

  1. Sakit adalah ujian, dan doa adalah bentuk ikhtiar yang disyariatkan
  2. Nabi menganjurkan pengobatan yang berpadu antara unsur alam dan doa
  3. Mendoakan orang sakit adalah bagian dari sunah yang sangat dianjurkan
  4. Doa bismillahmenunjukkan makna tawasul dengan nama Allah yang penuh berkah
  5. Doa pribadi lebih utama adriapda bergantung peda orang lain
  6. Ruqyah syar’iyyah adalah doa perlindungan yang sesuai tuntunan Rasulullah, bukan jampi yang menyimpang
  7. Semua kesembuhan terjadi semata-mata dengan izin Allah

Ketiga hadis diatas menggambarkan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeimbangkan antara usaha medis dengan spiritual. Beliau mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya, tetapi kesembuhan sejati hanya datang dari Allah.

Dengan mengikuti tuntunan beliau – menjaga ikhtiar, berdoa dan bersbar – seorang muslim tidah hanya memperoleh kesembuhan jasmani, tetapi juga ketenangan hati dan kedekatan dengan Rabb-nya.

Wallahu a’lam

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Buah dari Kesabaran

0

Seringkali kita meminta saran dari teman, keluarga, kerabat atau orang terdekat kita, dan tidak sedikit dari mereka yang menjawab “Sabar Bro” “Sabar Kak” dan lain sebagainya, dan bahkan kita sendiri pernah menjawab dengan jawaban yang senada dengan mereka.

Sehingga kita harus benar-benar mengerti ap aitu kesabaran yang sesungguhnya, bukan sekedar ucapan “Sabaarrr” saja.

Sabar (الصبر) secara bahasa berarti menahan diri.

Secara istilah, para ulama menjelaskan bahwa sabar adalah:

“Menahan diri dari keluh kesah, menahan lisan dari ucapan yang dibenci Allah, dan menahan anggota badan dari perbuatan dosa.”

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

“الصبر حبس النفس عن الجزع، وحبس اللسان عن التشكي، وحبس الجوارح عن المعاصي.”

“Sabar adalah menahan diri dari rasa gelisah, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan anggota badan dari maksiat.”(Madarij As-Salikin, 2/156)

Sehingga kesabaran yang harus ada dalam benak kita adalah sebuah perjuangan menghadapi diri kita sendiri secara khusus, agar bisa menjadi seorang hamba yang lebih baik,  Sebagai mana penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله

الصَّبْرُ مَنْزِلَةٌ مِنْ مَنَازِلِ الدِّينِ، وَمَقَامٌ مِنْ مَقَامَاتِ السَّائِرِينَ، لَا يُمْكِنُ لِلْعَبْدِ أَنْ يَسْلُكَهَا إِلَّا عَلَى بَابِ الْعُبُودِيَّةِ

“Sabar adalah salah satu tingkatan dalam agama, dan salah satu kedudukan para penempuh jalan menuju Allah. Seorang hamba tidak akan mampu menempuhnya kecuali dengan penghambaan yang sempurna kepada Allah.” (Madarij As-Salikin, 2/156)

Maksud dari penjelasan Ibnul Qayyim di atas adalah, seseorang tidak akan mampu bersabar kecuali dia benar-benar ikhlash hanya mengharapkan balasan dari Allah ta’aala.

Sebagaimana kisah Ibn Taymiyyah Ketika beliau berhadapan dengan banyak musuh sehingga beliau harus merasakan hari-hari beliau di penjara, akan tetapi betapa menakjubkan kesabaran yang didasari dengan keikhlasan, ketika Al-Imam Ibn Taymiyyah dipenjara, beliau berkata:

مَاذَا يَفْعَلُ أَعْدَائِي بِي؟ جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي، أَيْنَمَا ذَهَبْتُ فَهِي مَعِي، سِجْنِي خَلْوَةٌ، وَقَتْلِي شَهَادَةٌ، وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ

“Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku, ke mana pun aku pergi ia bersamaku. Penjaraku adalah khalwat (menyepi bersama Allah), kematianku adalah syahid, dan pengusiranku adalah wisata di jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib)

Beliau tidak lagi merasa musibah yang kebanyakan manusia kalang kabut disebabkan musibah yang mereka hadapi, justru membuat Ibn Taymiyyah merasa tenang dengan musibah tersebut yaitu di penjara.

 

Buah-Buah dari Kesabaran (ثمرات الصبر)

  1. Mendapatkan Cinta Allah

Dalil dari Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)

Al-Imam As-Sa’di رحمه الله menjelaskan:

أي: يحبهم محبة خاصة تقتضي ثناءه عليهم، ورفعة درجاتهم، وجزيل ثوابه لهم.

“Yaitu Allah mencintai mereka dengan cinta khusus, yang berimplikasi pada pujian-Nya terhadap mereka, meninggikan derajat mereka, dan memberi mereka pahala besar. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 153)

  1. Dijanjikan Pahala Tanpa Batas

Dalil dari Al-Qur’an:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Penjelasan Ulama:

Ibn Katsir رحمه الله berkata:

أي لا يوزن لهم عمل ولا يُكال، وإنما يُغرف لهم الأجر غرفًا.

“Artinya, amal mereka tidak ditimbang dan tidak dihitung, melainkan pahala mereka dicurahkan dengan curahan yang besar.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/88)

  1. Mendapat Pertolongan dan Kemenangan dari Allah

Dalil dari Al-Qur’an:

نَعَمْ إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Ya, jika kamu bersabar dan bertakwa, maka tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun.” (QS. Ali ‘Imran: 120)

Penjelasan Ulama:

Ibnul Qayyim berkata:

فالنصر مع الصبر، والعز مع الصبر، والنجاة مع الصبر.

“Kemenangan bersama kesabaran, kemuliaan bersama kesabaran, dan keselamatan bersama kesabaran.” (Uddatush Shabirin, hlm. 36)

  1. Kesabaran Menghapus Dosa dan Meninggikan Derajat

Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, atau kesempitan — bahkan duri yang menusuknya — melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 2573)

  1. Mendapatkan Kebersamaan Allah

Dalil dari Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Penjelasan Ulama:

Ibn Katsir رحمه الله berkata:

أي معهم بعونه وتأييده ونصره وهدايته.

“Artinya, Allah bersama mereka dengan pertolongan, dukungan, kemenangan, dan petunjuk-Nya.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/189)

  1. Kesabaran Adalah Cahaya dalam Kehidupan

Hadis Nabi ﷺ:

وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Dan kesabaran itu cahaya.” (HR. Muslim no. 223)

Penjelasan Ulama:

An-Nawawi رحمه الله berkata:

أي: فيه نور عظيم يهدي صاحبه في ظلمات البلاء والمحن.

“Maknanya, sabar adalah cahaya yang besar yang menuntun pemiliknya di kegelapan ujian dan cobaan.” (Syarh Shahih Muslim, 2/5)

  1. Kesabaran Mengantarkan ke Surga

Dalil dari Al-Qur’an:

سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Keselamatan atasmu karena kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (surga).” (QS. Ar-Ra’d: 24)

Penjelasan Ulama:

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

الصبر باب الله الأعظم الذي يدخل منه الداخلون إلى رضاه وجنته.

“Sabar adalah pintu terbesar menuju keridaan dan surga Allah.” (Uddatush Shabirin, hlm. 27)

Kesimpulan Para Ulama Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:

الصبر نصف الإيمان، فإن الإيمان نصفان: نصف صبر ونصف شكر.

“Sabar adalah separuh dari iman. Karena iman itu terbagi dua: separuhnya sabar dan separuhnya syukur.” (Majmu’ Al-Fatawa, 10/38)

 

Ditulis Oleh : Badruz Zaman, Lc

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Sampai Kapan Dirimu Lalai Dari Shalat

0

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. [آل عمران: ١٠٢]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. [النساء: ١]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. [الأحزاب: ٧٠-٧١]

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, suri teladan terbaik bagi umat manusia, beserta keluarga beliau yang suci, para sahabat beliau yang mulia, dan seluruh kaum muslimin yang istiqamah mengikuti jejak beliau hingga akhir zaman.

Wahai hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam artian menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi. Dengan takwa, semoga kita semua mendapatkan kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.

Kaum Muslimin yang berbahagia,

Pada kesempatan yang mulia ini, kami ingin mengajak kita semua untuk merenungi kembali betapa pentingnya salah satu rukun Islam yang agung, yaitu shalat. Shalat adalah tiang agama, pembeda antara seorang muslim dengan orang kafir, dan amalan pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا.

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisa’: 103]

Ayat ini menegaskan bahwa shalat bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang harus ditunaikan pada waktu-waktu yang telah ditetapkan. Shalat adalah pondasi utama dalam bangunan Islam kita. Tanpanya, bangunan itu akan rapuh dan mudah roboh.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ.

“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah.” [HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16]

Hadis yang agung ini dengan gamblang menunjukkan posisi shalat sebagai pilar kedua setelah dua kalimat syahadat. Ini menunjukkan betapa vitalnya kedudukan shalat dalam agama kita. Ia adalah ruh dari keberislaman seseorang.

Bahkan, perbedaan antara seorang muslim dan orang kafir pun terletak pada shalat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.

“Batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” [HR. Muslim no. 82]

Hadis ini adalah peringatan yang sangat keras bagi kita semua. Meninggalkan shalat dapat menyeret seseorang ke dalam jurang kekafiran atau kesyirikan. Para ulama dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir dan keluar dari Islam. Ini adalah masalah yang sangat serius dan tidak boleh kita anggap remeh.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa shalat itu adalah pertolongan besar bagi seorang hamba untuk mengatasi berbagai persoalan hidup, baik masalah duniawi maupun masalah agama. Beliau mengatakan bahwa shalat adalah penenang hati, pelipur lara, dan penolong dari kesempitan.

Maka, sudah sepatutnya kita menjadikan shalat sebagai prioritas utama dalam hidup kita. Jadikanlah ia sebagai kebutuhan rohani, bukan sekadar kewajiban yang memberatkan. Shalat adalah jembatan penghubung kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalamnya ada ketenangan, kedamaian, dan kekuatan yang tidak bisa didapatkan dari hal lain.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan hidayah-Nya agar kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjaga shalat dan menjadikannya sebagai penyejuk mata dan hati kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Setelah kita memahami betapa agungnya kedudukan shalat dalam Islam, marilah kita jadikan momen ini sebagai pengingat dan motivasi untuk lebih giat lagi dalam menunaikannya. Jangan biarkan kesibukan dunia melalaikan kita dari kewajiban yang sangat fundamental ini.

Mari kita muhasabah diri, sudahkah kita menunaikan shalat dengan baik dan benar? Sudahkah kita shalat tepat waktu? Sudahkah kita menunaikannya dengan khusyuk, mengingat setiap gerakan dan bacaannya adalah bentuk penghambaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Jika kita memiliki anak, istri, atau anggota keluarga yang masih lalai dalam shalat, maka kewajiban kita sebagai kepala keluarga atau sesama muslim adalah untuk menasihati dan membimbing mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ.

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [QS. At-Tahrim: 6]

Para ulama tafsir seperti Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan bahwa menjaga diri dan keluarga dari api neraka salah satunya adalah dengan mengajarkan mereka ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan yang terpenting adalah shalat.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” [HR. Abu Dawud no. 495 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah]

Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya Islam dalam mendidik generasi untuk menjaga shalat. Perintah dan pembiasaan shalat harus dimulai sejak dini. Ini adalah amanah yang besar bagi kita semua.

Marilah kita jaga shalat kita, karena shalatlah yang akan menjadi cahaya bagi kita di dalam kubur, penolong kita di Hari Kiamat, dan pembuka pintu surga. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena telah menyia-nyiakan amalan yang sangat berharga ini.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa teguh dalam menjalankan perintah-perintah-Nya, khususnya shalat lima waktu. Semoga kita dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintai-Nya di surga Firdaus.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.15): Ash-Shamad

0

Nama Allah ta’aala Ash-Shamad terdpat pada surat Al-Ikhlash ayat ke 2 secara khusus

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Allah tempat bergantung segala sesuatu.”

Rasulullah ﷺ bersabda tentng surat Al-Ikhlash :

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ”

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhārī no. 5013, Muslim no. 811)

Makna dari nama Allah Ash-Shamad di jelaskan oleh para ulama diantaranya :

  • Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata:

الصمد: السيد الذي كمل في سؤدده، الشريف الذي كمل في شرفه، العظيم الذي كمل في عظمته، الحليم الذي كمل في حلمه، الغني الذي كمل في غناه، الجبار الذي كمل في جبروته، العالم الذي كمل في علمه، الحكيم الذي كمل في حكمته.

“As-Shamad adalah Tuhan yang sempurna dalam kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, kebijaksanaan-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan kekayaannya.”

  • Al-Imām Ibn Jarīr ath-Ṭabarī رحمه الله

هُوَ السَّيِّدُ الَّذِي لا نَقْصَ فِيهِ، الْكَمَالُ فِي جَمِيعِ أَوْصَافِهِ، الَّذِي يُصْمَدُ إِلَيْهِ فِي الْحَوَائِجِ.

Dialah Tuhan yang sempurna tanpa kekurangan sedikit pun, sempurna dalam seluruh sifat-Nya, dan menjadi tempat bergantung segala kebutuhan. (Tafsir ath-Thabari, 24/692)

  • Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Tariq al-Hijratayn:

الصَّمَدُ الَّذِي قَدِ انْتَهَى سُؤْدُدُهُ، وَكَمُلَ فِي سُؤْدُدِهِ، وَهُوَ الَّذِي يُصْمَدُ إِلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ، وَلَيْسَ فَوْقَهُ أَحَدٌ.

Ash-Shamad adalah Dzat yang kesempurnaannya dalam kemuliaan dan keagungan telah mencapai puncak tertinggi, kepada-Nya seluruh makhluk bergantung, dan tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya (Tariq al-Hijratayn, hlm. 48)

  • Dalam Tafsir As-Sa‘dī disebutkan:

الصَّمَدُ هُوَ الْكَمَالُ فِي عِلْمِهِ وَرَحْمَتِهِ وَقُدْرَتِهِ وَعِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ، الَّذِي تَصْمِدُ إِلَيْهِ الْخَلَائِقُ فِي جَمِيعِ حَوَائِجِهَا.

Ash-Shamad adalah Dzat yang sempurna dalam ilmu, rahmat, kekuasaan, kemuliaan, dan keagungan-Nya; kepada-Nya semua makhluk bergantung dalam seluruh kebutuhan mereka. (Tafsir As-Sa‘dī, hlm. 934)

Dan masih banyak lagi penjelsan dari makna nama yang Agung Ash-Shamad, yang seluruh penjelasan para ulama tersebut tidak ada satupun yang bertentangan satu dengan yang lain, akan tetapi saling menguatkan.

Yang bisa disimpulkan secara singkat, seluruh musibah yang kita hadapi adalah surat dari Allah yang seakan menuntun kita atau memaksa kita untuk kembali, yang seakan berkata kepada kita “kamu memiliki Allah maka mintalah kepadanya bergantunglah kepadanya jangan bergantung pada diri sendiri”.

Dari seluruh penjelasan ulama, “Ash-Shamad” memiliki makna:

  1. Dzat tempat bergantung seluruh makhluk.
  2. Dzat yang sempurna dalam segala sifat dan tidak memiliki kekurangan.
  3. Dzat yang tidak butuh kepada siapa pun, tetapi seluruh makhluk butuh kepada-Nya.
  4. Dzat yang tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak membutuhkan apa pun.

Inti Perenungan

Nama Ash-Shamad mengajarkan bahwa Kita ini makhluk yang fakir, lemah, dan bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Hanya Allah yang sempurna, tidak membutuhkan siapa pun, dan menjadi tempat kita bersandar dalam segala urusan.

Semoga Allah memberikan manfaat dan keberkahan dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Al-Hadyy di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala.

Oleh : Badruz Zaman

donatur-tetap

Belajar Kandungan Surat AL-Hujurat

0

Surat Al-Hujurot adalah salah satu surat yang Allah turunkan setelah Nabi ‘alaihis sholatu was salam hijroh ke Madinah, surat ini diturunkan di tahun ke sembilan hijriyah, tahun ke sembilan hijriyah di kenal dengan sebutan ‘aamul wufuud yaitu tahun yang banyak kabilah di sekitar jazirotul arab datang kepada Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam untuk menyatakan masuk Islam dan untuk lebih mengenal beliau lebih dekat.

Surat ini adalah surat yang sangat spesial karena surat yang paling lengkap berisi tentang pengajaran adab seorang mukmin, baik adab kepada Allah, RosulNya, sesama kaum mukminin baik yang fasik maupun yang sholeh, yang hadir di depannya atau yang sedang ghoib tidak hadir didepannya, dan juga kepada kaum mukminin yang sedang bertikai, serta kepada sesama hamba.

Tentunya pembahasan adab sangatlah penting, bahkan lebih penting dari pada ilmu itu sendiri, sebagaimana perkataan Abdullah bin al Mubarok:

نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم

“Sedikit adab lebih kita butuhkan dari pada banyaknya ilmu”

Terutama di zaman yang modern ini dengan kecanggihan teknologi, setiap orang membawa HP yang dengannya bisa mengakses berbagai kabar dan tontonan, maka tidak sedikit kaum muslimin yang menonton adabnya orang kafir dan mengikutinya, sedangkan adab yang Allah dan RosulNya ajarkan ditinggalkan dan tidak dihiraukan.

Berikut pelajaran yang bisa diambil dari surat Al-Hujurot:

  1. Adab kepada Allah dan Rasul-Nya
  2. Tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Hujurot: 1)

Setiap ayat yang dimulai dengan seruan kepada kaum mukminin mempunyai dua kemungkinan, hal ini seperti yang dinyatakan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu. Dua kemungkinan itu adalah: perintah kebaikan untuk dijalankan atau keburukan yang dilarang darinya. Maka kaum mukminin diperintah untuk mendengarkan dengan seksama, dan hal yang terkandung dalam ayat tersebut menjadi salah satu konsekuensi dari keimanannya dan yang menyelisihinya menjadi tanda berkurannya iman.

Ayat pertama ini berisi dua hal, yaitu:

  1. Larangan kepada hambaNya dari mendahului Allah dan RosulNya, hal ini merupakan akhlak yang Allah ajarkan kepada hambaNya.

Larangan ini bersifat pendidikan dari Allah kepada hambaNya kaum mukminin yang mereka berinteraksi dengan Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam di dalam memuji, menghormati dan mengagungkannya.

Allah melarang hambaNya kaum mukminin melakukan kelancangan dalam berbicara atau perbuatan sebelum Allah dan RosulNya menyatakannya, tetapi Allah memerintahkan untuk mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam semua perkara.

Ini adalah bentuk ihtirom (pemuliaan) dan ta’dzim (pengagungan) kepada Allah dan RosulNya

Ibnu Katsir rohimahullah membawakan sejumlah pendapat dari para salafus sholeh tentang ayat

لا تقدموا بين يدي الله و رسوله

“Janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya”

Ibnu ‘Abbas menyatakan: “Janganlah kalian berkata yang menyelisihi Allah dan RosulNya”

Imam Mujahid: “Janganlah kalian mengada-ada sesuatu atas Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam sampai Allah memutuskan lewat lisan RosulNya

Imam Adh-Dhohak: “Janganlah kamu memutuskan sesuatu pun dari hukum-hukum agamamu tanpa campur tangan Allah dan Rasul-Nya”

Imam Sufyan Ats-Tsauri: “Janganlah kalian mendahului Allah dan RosulNya” baik dengan perkataan maupun perbuatan

Ibnu Jarir rahimahullah mengomentari: “Janganlah kamu tergesa-gesa memutuskan suatu perkara dalam peperangan atau dalam agamamu, sebelum Allah dan Rasul-Nya memutuskannya bagimu. Karena hal itu, bisa memberi keputusan yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya”.

Bersambung

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Menjenguk Orang Sakit dan Dakwah dengan Kasih Sayang

0

 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَمَرِضَ، فأتَاهُ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقالَ له: أسْلِمْ، فَنَظَرَ إلى أبِيهِ وهو عِنْدَهُ فَقالَ له: أطِعْ أبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فأسْلَمَ، فَخَرَجَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو يقولُ: الحَمْدُ لِلَّهِ الذي أنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ.

“Seorang pemuda Yahudi yang biasanya melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. Beliau duduk di dekap kepalanya dan berkata kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam Islam.’ Pemuda itu menatap ayahnya yang berada di sisinya, lalu ayahnya berkata: ‘Turutilah Abu Qasim.’ Maka anak itu pun masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sembari bersabda: ‘ Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.’” (HR. Bukhari, no. 1356)

Konteks dan Riwayat Singkat

Perawi hadis ini adalah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sahabat pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun di Madinah. Anas dikenal dengan kesetiaannya, kelembutan akhlaknya, dan banyak meriwayatkan hadis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan Anas dengan empat doa:

Ya Allah, berikanlah kepada Anas harta yang banyak, anak yang banyak, panjangkan umurnya, dan ampunilah dosanya.”[1] (HR. Bukhari, no. 1982 dan Muslim no. 2481)

Doa itu dikabulkan oleh Allah, sehingga Anas menjadi sahabat Anshar yang paling kaya dengan sebab kebun kurmanya berbuah dua kali dalam satu tahun, ia dikarunia banyak keturunan, dan beliau termasuk sahabat yang terakhir wafat di Bashrah.

Anas sendiri berkata: “Allah telah mengabulkan tiga doa Nabi untukku, dan aku berharap Allah juga mengabulkan yang keempat (ampunan dosa).”

Penjelasan Kandungan Hadis
  1. Hadis ini menjelaskan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap non-Muslim,

Menunjukkan keluhuran akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meski pelayannya adalah seorang Yahudi, beliau tetap menjenguknya dengan penuh kasih, tidak membeda-bedakan keyakinan dalam urusan kemanusiaan.

Hal ini menjadi teladan universal, bahwa dakwah Islam dilakukan dengan kelembutan dan kasih sayang, bukan kekerasan atau paksaan.

  1. Bolehnya Memperkerjakan non-Muslim

Fakta bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pelayan Yahudi menunjukkan bolehnya memperkerjakan orang non-Muslim, selama tidak ada unsur merendahkan agama atau keyakinan. Namun, seorang muslim tidak boleh bekerja kepada orang non-Muslim dalam pekerjaan yang merendahkan kehormatan dirinya atau menyalahi syariat.

  1. Bolehnya Menjenguk non-Muslim

Hadis ini menjadi dalil bolehnya menjenguk non-Muslim yang sakit, terutama jika bertujuan dakwah atau menunjukkan akhlak Islam yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah pemuda itu, duduk di dekat kepalanya, lalu mengajaknya masuk Islam dengan lembut.

  1. Adab Saat Menjenguk Orang Sakit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di dekat kepala orang yang sakit – ini termasuk sunnah adab menjenguk.

Kedekatan posisi melambangkan perhatian dan kasih sayang, serta memudahkan untuk berbicara lembut dan mendoakan kebaikan.

  1. Pemuda Yahudi dan Hidayah

Pemuda itu memandang ayahnya untuk meminta izin sebelum menjawab ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahnya berkata ‘Turutilah Abu Qasim (yakni Rasulullah).”

Ini menunjukkan pengaruh besar keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga bahkan seorang ayah Yahudi pun mempercayai kebaikan beliau.

Setelah pemuda itu mengucapkan syahadat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersyukur dengan mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

Ucapan ini mencerminkan kegembiraan seoranga da’i ketika seseorang memperoleh hidayah.

  1. Keterkaitan dengan Al-Qur’an

Peristiwa ini menjadi ilustrasi nyata dari firman Allah ta’ala

اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ

“Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?” (Qs. Al-Baqoroh[2]:44)

Nabi tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi mencontohkan langsung kebaikan dan kasih sayang kepada semua kalangan.

 

Analisis Bahasa

Dalam redaksi hadis disebutkan bahwa pemuda itu “menatap ayahnya” (نَظَرَ إِلَى أَبِيهِ).
Kata kerja نَظَرَ (nadzara) memiliki tiga bentuk makna dalam bahasa Arab:

  1. نَظَرَ إِلَى → melihat dengan mata kepala.
  2. نَظَرَ فِي → merenungi atau memperhatikan dengan hati dan pikiran.
  3. نَظَرَ (maf’ul) → berarti menunggu.

Makna dalam hadis ini adalah bentuk pertama: melihat dengan mata kepala untuk meminta pertimbangan ayahnya.

 

Perbedaan Pendapat Ulama

Sebagian ulama membahas hukum menyebut seseorang kafir telah masuk neraka.
Ada dua pandangan:

  1. Pendapat umum: Orang kafir yang mati dalam kekafirannya tidak akan masuk surga, sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an menjelaskan hal itu.
  2. Pendapat kehati-hatian: Tidak menyebut secara spesifik individu tertentu masuk neraka, karena tempat akhir seseorang hanya Allah yang tahu.

Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersyukur kepada Allah karena pemuda itu masuk Islam sebelum meninggal, bukan karena menghakimi orang lain.

 

Faedah Praktis
  1. Menjenguk orang sakit adalah sunnah yang penuh pahala, bahkan kepada non-Muslim
  2. Dahwah selayaknya dilakukan dengan kasih sayang dan keteladanan
  3. Boleh mempekerjakan non-Muslim dalam hal yang tidak terkait akidah
  4. Salah satu adab menjenguk adalah berada dekat kepala orang yang sakit, berbicara lembut, dan mendoakannya.
  5. Hidayah adalah milik Allah
  6. Hadis ini menunjukkan keseimbangan antara kemanusiaan dan dakwah. Menjenguk, membantu, dan mengajak kepada kebaikan adalah satu kesatuan dalam Islam.

 

Kesimpulan

Hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menggambarkan indahnya akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah – lembut, manusiawi dan penuh kasih sayang.

Beliau tidak hanya menyampaikan Islam dengan lisan, tetapi menunjukkan Islam melalui perbuatan. Dari hadis ini, umat Islam diajarkan untuk menjadikan setiap interaksi soaial sebagai sarana dakwah, dengan cara yang santun, tulus, dan membawa rahmat bagi semua.

Wallahu a’lam

[1] Dikeluarkan pula oleh Ibn Sa’d dalam al-Thobaqat al-Kubro (19/7) no. 8451

 

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Pena Santri: Aku Sabar Disini

0

Di pondok ini jauh dari kota

Hati berdebar penuh kerinduan

Suka dan duka bergantian dating

Membangun karakter, membentuk jiwa

 

Dinding kusam, tempat bersandar dan berguman dalam hati

Malam yang sunyi, bintang bersinar terang

Sahabat sejati, teman seperjuangan

Bersama menutu jalan kehidupan

 

Sukan dan duka tan pernah terpisahkan

Seperti malam dan siang, yang bergantian datang

Nmaun di pondok ini aku temukan

Kedamaian jiwa dan hati terasa lega

 

Pondok ini tempat aku belajar

Membangun mimpi, menggapai cita

Suka dan duka akan selalu ada

Tapi, jiwa ini siap menjalaninya dengan sabar

 

Ananda : Zuhal Santri Kelas VII C

 

donatur-tetap

Kenalilah Hak Tetanggamu Bag.2

0

Tetangga adalah orang yang paling dekat secara rumah, dengan mereka saling menjaga keamanan kampung dan kepada mereka meminta bantuan jika ada keperluan, maka sudah menjadi sepantasnya sasama tetangga mengenal hak dan kewajiban masing-masing.

Berikut dalil tentang hak tetangga:

  1. Allah berfirman dalam kitabNya

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An Nisa’ 36)

Dalam ayat tersebut Allah sandingkan antara perintah untuk mentauhidkanNya dan perintah berbuat baik kepada tetangga dan hambaNya yang lain.

  1. Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam bersabda dalam haditsnya:

ما زال يوصيني جبريل بالجار حتى ظننت أنه سيورثه

“Jibril ‘alaihis salam senantiasa memberiku wasiat (untuk berbuat baik) kepada tetangga, sampai saya mengira bahwa tetangga akan mewarisi”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن». قيل: “من يا رسول الله؟” قال: «الذي لا يأمن جاره بوائقه

“Demi Allah tidak beriman 3x, ditanya “siapa ya Rosulallah?” beliau menjawab: “orang yang tetangganya tidak merasa aman dari tingkah lakunya”. (HR. Muslim)

Pernah beliau ‘alaihis sholatu was salam diceritakan kepadanya tentang seorang wanita yang siang harinya selalu puasa dan malamnya selalu sholat, tetapi dia mengganggu tetangganya, maka Nabi menjawab: لا خير فيها، هي في النار (tidak ada kebaikan baginya, dia masuk neraka) diceritakan pula seorang wanita yang sholat wajib dan puasa Romadhon  dan shodaqoh hanya dengan sepotong keju (pas-pasan dalam ibadah), tetapi dia tidak mengganggu tetangganya, Nabi menjawab:  هي في الجنة (dia di dalam surga). (HR Ahmad, Bukhori dalam adabul mufrod, ibnu Hiban dan Hakim)

  1. Seorang ahli hikmah berkata:

ثلاث إذا كن في الرجل لم يشك في عقله وفضله: إذا حمده جاره وقرابته ورفيقه

“Tiga hal apabila ada di seseorang, maka akal dan keutamaannya tidak diragukan lagi, yaitu: apabila tetangga, kerabat dan temannya selalu memujinya (karena kebaikan akhlaknya)” (adabus syar’iyah)

Adapun adab kepada tetangga sebagai berikut:

  1. Tidak mengganggu tetangga baik dengan lisan maupun perbuatan

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan RosulNya, maka janganlah mengganggu tetangganya”. HR Bukhari dan Muslim

  1. Memberi hadiah walaupun sederhana, sebagaimana wasiat Nabi ‘alaihis sholatu was salam kepada abu Dzar rodhiyallahu ‘anhu

يا أبا ذرٍّ، إذا طبختَ مرقةً فأكثر ماءها، وتعاهَدْ جيرانك

“Wahai abu Dzar, jika kamu masak maroqoh (kuah bercampur daging), maka perbanyak airnya, dan bagi-bagikan ke tetanggamu”. HR Muslim

  1. Memberi perhatian kepada tetangga, sebagaimana wasiat Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi ‘alaihis sholatu was salam

ما زال يوصيني جبريل بالجار حتى ظننت أنه سيورثه

“Jibril ‘alaihis salam senantiasa memberiku wasiat (untuk berbuat baik) kepada tetangga, sampai saya mengira bahwa tetangga akan mewarisi”. HR Bukhari dan Muslim

Juga Nabi bersabda:

ليس المؤمن الذي يشبع وجاره جائع

“Tidaklah beriman orang yang kenyang padahal (dia mengetahui) tetangganya kelaparan”. HR Bukhari dalam Adabul Mufrod)

  1. Bersabar atas sikap tetangga yang kurang baik, imam al Hasan al Bashri rohimahullah berkata:

ليس حُسنُ الجوار كفَّ الأذى عن الجار، ولكن حسن الجوار الصبر على الأذى من الجار

“Bukanlah hakikat berbuat baik kepada tetangga yang hanya sekedar menahan diri dari menyakitinya, tetapi baik kepada tetangga adalah sabar menghadapi perilaku tetangga yang kurang baik”.

Semoga Allah memberi penulis dan pembaca rizki berupa beradab kepada tetangga dan menjadikan tetangga yang baik. Aamiiin

Sumber :

  • alukah.net
  • ar.islamway.net
  • saaid.org

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta Ikuti Multaqo PULDAPII ke-15 di Batam: Optimalisasi Peran PULPADII dalam Mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045

0

Batam (23/10/2025) – Multaqo Perhimpunan Lembaga Dakwah dan Pendidikan Islam Indonesia (PULDAPII) ke-15 digelar pada Selasa hingga Kamis, 21–23 Oktober 2025, bertempat di Hotel Harmoni One, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Kegiatan berskala nasional ini dihadiri oleh ratusan tokoh dan pimpinan lembaga pendidikan Islam dari berbagai daerah di Indonesia.

Multaqo PULDAPII merupakan ajang silaturahmi dan konsolidasi tahunan bagi 124 lembaga Islam yang tergabung dalam forum tersebut. Gelaran ke-15 ini menjadi wujud komitmen bersama untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Islam di tanah air.

Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Optimalisasi Peran PULDAPII dalam Mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.” Suasana pembukaan berlangsung khidmat, diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh santri PPIT Imam Syafi’i Batam, pembacaan sari tilawah, lagu Indonesia Raya, serta pemutaran video profil PULDAPII dan Yayasan Islam Al-Kahfi Batam selaku tuan rumah kegiatan.

Pesantren Hamalatul Quran turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan bergengsi ini. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang fokus pada pengajaran dan pengamalan Al-Qur’an, Dalam Mulataqa PULDAPII Ke-15 ini Pondok Pesantren Hamalatul Quran diwakili oleh Ust Abdussalam Busyro, Lc selaku pembina Yayasan Hamalatul Quran serta Ust Abu Hamam Samhudi, S.Pd.I selaku pimpinan Yayasan Hamalatul Quran Yogyakarta.

Perwakilan Pesantren Hamalatul Quran menyampaikan Terimakasih kepada tuan rumah atas keramahan dan kemurahan hati sepanjang pelaksanaan Multaqo dan terimakasih kepada Panitia yang telah melaksanakan amanat dengan baik dan menyelenggarakan Multaqo ke-15 ini dengan sukses.

donatur-tetap

Kenalilah Hak Tetanggamu

0

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, dari semenjak lahir hingga mati membutuhkan bantuan orang lain. Setiap orang mempunyai hak dan kewajiban masing-masing, dia mendapatkan hak yang diberikan oleh orang lain dan dia mempunyai kewajiban untuk memberikan hak kepada orang lain, hal ini telah menjadi sunnatullah yang Allah ciptakan manusia dalam keadaan demikian.

Islam telah membuatkan peraturan untuk menata masyarakat supaya hidup berdampingan dengan rasa damai, aman dan sentausa. Setiap individu harus mengetahui kewajiban-kewajibannya yang ditunaikan untuk orang lain. Sesuatu yang telah menjadi peraturan walaupun tak tertulis namun semua telah memahaminya adalah dimana orang berada di situ dia harus saling menghormati, seperti puisi yang sangat populer menyatakan di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Orang paling dekat yang di luar dari kekeluargaan adalah mereka yang menjadi tetangga kanan kiri atau depan belakangnya. Syareat Islam telah memberikan hak setiap individu yang harus dijaga dan dihormati, diantara hak yang diatur dalam syareat Islam adalah hak tetangga.

Mewujudkan hak-hak orang lain bisa menjadi salah satu sebab diraihnya kebahagiaan bagi individu maupun masyarakat, karena sejatinya kehidupan dunia ini adalah ujian bagi semua manusia.

Berikut beberapa hal yang harus difahami tentang sesama tetangga:

  1. Kebutuhan tetangga kepada tetangganya

Orang yang paling dekat setelah kerabatnya adalah tetangga yang ada di sebelah kanan atau kirinya atau sebelah depan atau belakangnya, adakalanya tetangga lebih dekat dan lebih akrab dari pada kerabatnya, ketika terdapat musibah dengan tiba-tiba maka pertama kali yang dimintai bantuan adalah mereka yang menjadi tetangga dekatnya, merekalah orang yang paling banyak interaksi dan membantu, dari sini maka terlihatlah dengan jelas kebutuhan seseorang kepada tetangga, pentingnya bertetangga dengan baik dan tingginya hak-hak tetangga.

Tetangga bisa menjadi jalan untuk amar ma’ruf nahi mungkar, berlomba-lomba dalam kebaikan, gotong royong, saling membantu, saling meringankan musibah atau kesulitan yang datang menghampiri dan lain sebagainya dari amal kebaikan bersama.

  1. Jenis tetangga

Tentunya hidup bermasyarakat tidak dalam satu status yang sama, maka tetangga terbagi menjadi tiga bagian berikut:

  1. Tetangga, muslim dan kerabat
  2. Tetangga dan muslim
  3. Tetangga

Setiap jenis tetangga mempunyai hak masing-masing, tiga hak untuk tetangga, muslim dan kerabat, dua hak untuk tetangga, muslim, satu hak untuk tetangga saja.

  1. 3 hak, yaitu: hak sebagai tetangga, hak sebagai seorang muslim dan hak sebagai kerabat
  2. 2 hak, yaitu: hak sebagai tetangga dan hak sebagai saudara sesama muslim
  3. 1 hak, yaitu: hak sebagai tetangga semata, meskipun tetangga kafir tetaplah mempunyai hak yang wajib dipenuhi.
  4. Batasan tetangga

Allah berfirman

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An Nisa’ 36)

Berbagai penafsiran dari salaf

الجار ذي القربى tetangga dekat, tetangga muslim, tetangga yang masih kerabat, perempuan

الجار الجنب tetangga jauh, tetangga non muslim, tetangga luar kerabat, teman perjalanan

Adapun ketentuan jarak ada beberapa pendapat sebagai berikut:

  1. 40 rumah dari semua arah (kanan, kiri, depan, belakang)
  2. Rumah yang mesih mendengar adzan dari masjid yang sama
  3. Rumah yang masih mendengar iqomah dari masjid yang sama
  4. Rumah yang masih satu komplek/kampung
  5. Ketentuannya dikembalikan ke ‘Urf (adat) masyarakat setempat, inilah pendapat yang rojih/kuat

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap