Home Blog Page 35

Fiqih Asmaul Husna (Bag.11): Al-Baari’ dan Al-Mushawwir

0

Nama Allah ta’aala yaitu Al-Bari’ maknanya adalah Maha Pencipta, Dan nama Allah Al-Mushawwir maknanya adalah Maha Pembentuk, Berikut dalil-dalil yang menyebutkan nama Allah Al-Baari’ dan Al-Mushawwir,

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah Yang Merencanakan, Yang Menciptakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr : 24)

فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ

Maka bertobatlah kalian kepada Rabb yang menciptakan kalian, dan bunuhlah diri kalian, Hal itu lebih baik bagi kalian pada sisi Rabb yang menciptakan kalian. (QS. Al-Baqarah : 54)

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya, Tak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali ‘Imran : 6)

لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ

Dan sungguh kami telah menciptakan kalian kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakana kepada para Malaikat sujudlah kalian kepada Adam. (QS. Al-A’raf : 11)

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu). (QS. At-Tagabun : 3)

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ

Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (QS. Al-Infitar : 8)

Adapun jika Al-Bari’ disebut bergandengan dengan Al-Khalik, maka ada perselisihan antara para ulama diantaranya,

  1. Al-Khalik maknanya perencana (Makna ke tiga dari pembahasan Al-Khalik) adapun Al-Baari’ maknanya pencipta
  1. Al-Khalik maknanya pencipta secara umum adapun Al-Baari’ maknanya khusus penciptaan manusia
  1. Al-Khalik maknanya pencipta seluruhnya adapun Al-Baari’ maknanya pencipta yang bernyawa

Dan pendapat yang kuat menurut para ulama adalah yang pertama. Oleh karnanya Ibnu Katsir tatkala menafsirkan ayat

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ

beliau menerangkan maknanya dengan “Dialah Allah yang telah merencanakan terlebih dahulu, kemudian Allah menciptakan (dari ketiadaan menjadi ada) lalu Allah membentuknya.

Adapun Makna Al-Mushawwir yaitu Maha Membentuk, Allah membentuk segala sesuatu dengan berbeda dan berfariasi, tidak ada yang sama, bahkan dalam satu jenispun tidak ada yang sama, contohnya saudara kembar, pasti bisa dipastikan ada perbedaan antara keduanya.

Dan Allah maha hebat dalam membentuk, semua makhluknya sempurna sesuai Qudrah dan hikmah Allah ta’aala.

Termasuk adab kepada Allah adalah tidak menjadi tandingan dengan Allah dalam membentuk, seperti menggambar makhluk-makhluk yang bernyawa sebagaima hadits qudsy

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ شَعِيرَةً

Dari Abu Hurairah semoga Allâh meridhainya, dia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allâh Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Siapakah yang lebih zhalim dari orang yang ingin menciptakan seperti ciptaan-Ku! Maka silahkan mereka menciptakan seekor semut atau silahkan mereka menciptakan sebutir biji tanaman atau sebiji gandum (pasti mereka tidak mampu-pen)!” (HR. Al-Bukhari no. 7559, Muslim no. 2111)

Maka renungkanlah bagaimana Allah telah merencanakan seluruh ciptaanya dengan bentuk yang paling sempurna, maka haruslah kita hanya menyembah kepada Allah ta’aala karena dialah satu satunya Al-khalik Al-Barii’ dan Al-Mushawwir.

Semoga Allah memberikan manfaat dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Al-Maalik dan Al-Maaliik di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi: Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan juga penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu ta’ala.

Ditulis Oleh: Badru Zaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Rekreasi Asatiz Pondok Pesantren Hamalatul Quran sebagai Upaya Mempererat Ukhwah

0
Perjalanan menuju ke lokasi wisata

HAMALATULQURAN.COM – Yogyakarta, Rabu (26/11/2023) telah diadakan rihlah Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta yang diikuti oleh para stakeholder di Klaten. Acara rihlah atau rekreasi tersebut dinilai penting untuk diadakan secara berkala dalam suatu lembaga untuk menjalin ikatan antarrekan sejawat sehingga lebih erat. Para peserta rekreasi berangkat dari Jogja ke lokasi wisata pada pukul 08.00 WIB menggunakan satu unit bus. Perjalanan tersebut dikoordinasikan oleh Ustaz Ahmad Fathoni, Lc. selaku bagian personalia dalam lembaga. Acara tersebut dibersamai pula oleh mudir Pondok Pesantren Hamalatul Quran yaitu Ustaz Samhudi, S.Pd.

“Pada tahun ini Alhamdulillah para asatiz telah melaksanakan salah satu agenda rutin tahunan yaitu rekreasi. Acara rihlah diharapkan bisa menjadikan ukhwah para asatiz lebih erat dalam berorganisasi yang mana mungkin secara keseharian kita jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.” Tukas Beliau ketika perjalanan berlangsung. Acara rekreasi bersama para pengajar dan karyawan memang menjadi agenda rutin yang telah terjadwal di kalender pendidikan Pondok Pesantren Hamalatul Quran. Hal tersebut menjadi salah satu upaya yang dilakukan yayasan agar hubungan para pengajar dan karyawan terjalin lebih kuat lagi. Tiap anggota lembaga memiliki job desk yang berbeda-beda serta kesibukan di dalam maupun di luar pondok yang bermacam-macam sehingga kesempatan untuk berkumpul bersama-sama tidak selalu bisa dilakukan.

Ustaz Samhudi, S.Pd. menyampaikan bahwa kegiatan rekreasi dapat melonggarkan ikatan kencang dari beban kerja sehari-hari. “Hal ini juga diharapkan sebagai refresh setiap anggota karyawan yang telah menjalani keseharian yang padat dengan tugas-tugas pondok, dan mungkin rutinitas tersebut telah membuat dirinya penat,” ujar Beliau. Para ustaz selain memiliki tugas di madrasah, mereka juga harus membimbing para santri di Pondok Pesantren Hamalatul Quran. Selanjutnya, Mudir berharap pada acara rekreasi yang akan datang agenda  tidak hanya sekadar jalan-jalan melainkan ditambah dengan kegiatan-kegiatan khusus yang bisa mendorong semua anggota untuk turut berpartisipasi.

donatur-tetap

Khutbah Jum’at: Sebab-Sebab Mendapatkan Syafaat di Hari Kiamat

0

Silahklan unduh khutbah Jumat dalam bentuk Pdf DISINI

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Khutbah Pertama 

الحَمدُ لِـلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ وَأَظْهَرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ، هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا هُوَ أَهْلُهُ وَأَشْكُرُهُ شُكْرَ مَنْ يَسْتَزِيْدُهُ وَيَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ وَحْدَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَكَمَالِ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّداً عَبْدُهُ وَرُسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِينِ وَبَعْدُ

يَا أَيَّهَا النَاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Amma Ba’du

Jama’ah rahimani wa rahimakumullah…

Kaum muslimin yang semoga senantiasa dirahmati Allah ta’ala, ketahuilah bahwa sesungguhnya sebab terbesar dan utama untuk mendapatkan syafaat adalah memurnikan tauhid dan ikhlas kepada Allah ta’ala, serta ittiba’ atau mengikuti dan meneladani petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam beragama.

Di samping itu, dalam hadits-hadits yang shahih Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menyebutkan beberapa amalan shalih yang menjadi sebab untuk meraih syafaat pada hari kiamat nanti, diantaranya :

  1. Mentauhidkan Allah.

Sesungguhnya syafaat di hari kiamat hanya akan berlaku bagi orang-orang yang mentauhidkan Allah ta’ala.

ما كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.”  (QS. Al-Anfal: 113)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam;

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَة؟ِ فَقَالَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيث،ِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat kelak? ‘ Nabi shalallahu alaihi wa sallam menjawab: “Wahai Abu Hurairah, sungguh aku sudah menduga bahwa tak ada seorangpun yang lebih dahulu menanyakan hal ini kepadaku dibandingkan engkau, karena semangatmu dalam mencari hadits. Adapun manusia yang paling beruntung dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa-ilaaha-illa-llaah, dengan tulus dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari)

  1. Membaca Al Quran dengan Merenungi Kandungan Maknanya.

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

اقْرَأُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al Quran karena sesungguhnya bacaan Al Quran itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).” (HR Muslim).

  1. Memperbanyak Sujud (shalat).

Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَقَالَ لِي : سَلْ ، فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat).” (HR. Muslim)

  1. Memperbanya Puasa.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡ ﻭﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡ : ﺃﻱ ﺭﺏ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡ  ﻭﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭﻳَﻘُﻮﻝ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥ

“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” (HR. Ahmad)

  1. Berdoa Setelah Mendengarkan Kumandangn Adzan.

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kalian kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan membalasnya sepuluh kali kepadanya, kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena sesungguhnya ia itu adalah kedudukan yang tinggi di surga, yang tidak pantas (ditempati) kecuali oleh seorang hamba dari para hamba-hamba Allah1. Dan aku berharap akulah hamba tersebut. Barangsiapa yang memohon wasiilah untukku, maka dia berhak (mendapatkan) syafaatku.” (HR. Muslim).

  1. Jenazah yang Dishalatkan oleh Empat Puluh Orang Ahli Tauhid.

Dari Abdullah bin Abbas beliau berkata sungguh aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu (ahli tauhid), kecuali Allah akan menerima (mengabulkan) syafaat mereka terhadapnya.” (HR. Muslim)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فيِ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

 

donatur-tetap

Adab dan Keutamaan Mengiringi Jenazah (Bag.2)

0

Diantara adab mengiringi jenazah berikutnya adalah:

Baca artikel sebelumnya disini

  1. Berjalan cepat saat mengantar jenazah sebagaimana sabda nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam,

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ فإنها إن تَكُ صالحة: فخير تُقَدِّمُونَهَا إليه. وإن تَكُ سِوى ذلك: فشرٌ تَضَعُونَهُ عن رِقَابِكُمْ

“Bersegeralah kalian mengurus jenazah. Jika jenazah itu baik, maka itu merupakan kebaikan yang kalian persembahkan kepadanya. Jika selain itu, maka merupakan keburukan yang kalian letakkan dari Pundak-pundak kalian” (Muttafaqun ‘alaih)

Allah (pembuat syariat) Yang Maha Bijaksana memerintahkan untuk bersegera mengubur jenazah, Penjelasan lainnya bahwa yang dimaksud dengan bersegera dalam mengurus jenazah berupa memandikan, menyalatkan, membawa dan menguburnya. Sebab, jika jenazah itu baik, maka ia akan disegerakan kepada kebaikan dan keberuntungan, dan tidak boleh menghalanginya dari kebaikan itu. Jenazah itu berkata, “Segerakanlah aku! Segerakanlah aku!” Jika selain itu, maka dia merupakan keburukan di antara kalian, karena itu kalian harus berpisah dengannya dan kalian dapat menentramkan diri kalian dari kepayahan dan menyaksikannya, Karena itu ringankanlah diri kalian darinya dengan meletakannya di kuburnya.

عن أبي سعيد رضي الله عنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يقول: «إذا وُضِعت الجَنَازَة واحْتَمَلَهَا الناس أو الرجال على أَعْنَاقِهِم، فإن كانت صالحة، قالت: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وإن كانت غير صالحة، قالت: يا وَيْلها! أين تَذهبون بها؟ يسمعُ صوتها كل شيء إلا الإنسان، ولو سَمِعَه صَعِق

Dari Abu Sa‘īd Al-Khudry raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Apabila jenazah itu diletakkan, lalu diangkat oleh orang banyak atau kaum pria di pundak mereka; jika ia adalah orang yang saleh, maka ia akan mengatakan: ‘Segerakan aku! Segerakan aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Duhai celakanya! Ke manakah kalian akan membawanya?’ Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Andai ia mendengarnya, ia pasti akan pingsan” ( HR. Al-Bukhari)

  1. Tidak dibolehkan mengiringi jenazah dengan api dan anjuran Hening saat mengiringi jenazah,

عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” لا تتبع الجنازة بنار، ولا صوت

Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhai beliau, berkata, rasul shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, : “janganlah kamu mengiringi jenazah dengan api dan janganlah mengiringinya dengan suara” (HR. Ahmad, Derajatnya Hasan Lighairihi)

Hadits diatas melarang kita secara tegas untuk mengiringi jenazah dengan api, alasannya karena mengiringi jenazah dengan api merupakan ritual ibadah orang-orang kafir, yaitu mereka para penyembah api wallahu a’lam, dan kebiasaan mengiringi jenazah dengan mengangkat suara bisa merusak kekhusyu’an orang-orang yang sedang berusaha mengingat kematian,

 ادعوا ربكم تضرعا و خفية

“Berdoalah kepada rabb kalian dalam keadaan tunduk dan takut”

Maka praktek Masyarakat kita harus lebih di perhatikan lagi, karena mengiringi jenazah merupakan ibadah yang mulia bukan hanya sekedar duduk-duduk ngobrol, akan tetapi benar-benar merenungi hikmah dari kematian yang kita semua akan mengalaminya.

Ini adalah bagian terakhir dari artikel seri adab mengiringi jenazah, semoga coretan ini bermanfaat bagi penulis maupun pembaca didunia maupun diakhirat kelak, jika ada salah dalam penulisan kami mohon maaf, Wallahu a’lam bis-showaab.

Refrensi: Syarh Bulughul Marom Kitaabul Jaami’ hadis pertama oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. Ma

Ditulis Oleh: Badruz Zaman, Lc.

donatur-tetap

Tunaikan Hak Anakmu (Bag.2)

0

Pertumbuhan dan perkembangan hidupan anak sedikit banyak akan terikat dengan kedua orang tuanya, karena orang tua adalah orang yang paling banyak berinteraksi dengan anak-anaknya. Maka tidak heran orang tau dapat memberi pengaruh besar untuk anak-anaknya, karena semua anak yang baru dilahirkan sejatinya dia di atas fitroh yang lurus. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai orang tua wajib mengetahui apa saja hak anak-anaknya yang menjadi kewajiban orang tua untuk menjalankannya, berikut ulasan singkat tentang hak-hak anak.

A. Hak Anak Sebelum Terwujud (sebelum lahir)

  1. Memilihkan ibu yang baik dan shalehah, dengan tidak sembarang menikahi wanita yang dia temui, karena wanita (read ibu) kelak dia akan lebih banyak interaksi dan mengasuh anak-anak, maka sebelum terwujudnya anak harus ada calon ibu yang baik. Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam telah memberi solusi tentang ini.

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah yang baik agamanya niscaya tanganmu(usahamu) tidak rugi.” (HR. Muslim.)

Bagitu juga wanita hendaknya memilihkan calon ayah untuk anak-anaknya kelak dia yang shaleh, tidak melihat ke harta, ketampanan dan kegagahannya, tetapi berusaha untuk mencari calon ayah yang shaleh.

 إذا جاءكُم من ترضونَ دينَهُ وخلُقهُ فأنْكحوهُ

“Apabila datang kepada kalian sesorang yang kalian ridho terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkan (putri kalian) dengannya.” (HR. Tirmidzi)

Sebagian ulama mengatakan : jika ada seseorang laki-laki yang menikahi wanita padahal dia tau bahwa wanita ini tidak bisa baik dalam mendidik anak-anaknya kelak, maka Allah akan menghisabnya nanti di akherat, hukum ini  juga berlaku untuk seorang wanita.

  1. Memperbaiki diri bersama antara suami dan istri yang menjadi calon ayah dan calon ibu, berusaha menjadi hamba yang shaleh dan shalehah, hamba yang dekat dengan Allah sebelum mendapat hadiah sebuah amanah berupa anak. Orang tua yang sholeh akan membawa anak keturunan yang sholeh, ini berdasarkan firman Allah tentang kisah nabi Khidhir yang membangun sebuah rumah yang telah reyot (hampir rubuh) kemudian beliau (nabi Khidhir) menceritakan kepada nabi Musa sebab beliau membangun rumah yang reyot tersebut :

 وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَـٰمَیۡنِ یَتِیمَیۡنِ فِی ٱلۡمَدِینَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزࣱ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَـٰلِحࣰا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن یَبۡلُغَاۤ أَشُدَّهُمَا وَیَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةࣰ مِّن رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِیۚ ذَ ٰ⁠لِكَ تَأۡوِیلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَیۡهِ صَبۡرࣰا

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang salih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. al-Kahfi: 82)

Ibnu katsir rohimahullah mengomentari ayat ini pada lafadz  وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

وَقَوْلُهُ: ﴿وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا﴾ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ الصَّالِحَ يحفظ في ذريته، وتشمل بركة عِبَادَتِهِ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، بِشَفَاعَتِهِ فِيهِمْ وَرَفْعِ دَرَجَتِهِمْ إِلَى أَعْلَى دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ لِتَقَرَّ عَيْنُهُ بِهِمْ، كَمَا جَاءَ فِي الْقُرْآنِ وَوَرَدَتِ السُّنَّةُ بِهِ  . قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: حُفِظَا بِصَلَاحِ أَبِيهِمَا، وَلَمْ يُذْكَرْ لَهُمَا صَلَاحٌ، وَتَقَدَّمَ أَنَّهُ كَانَ الْأَبُ السَّابِعُ.

“Didalamnya dalil bahwa seseorang yang sholeh anak keturunannya akan dilindungi, mereka (keturunan) akan mendapat keberkahan dari seseorang yang  sholeh tersebut baik dunia maupun akherat, bisa mensyafaati mereka, dan bisa meninggikan derajat mereka sampai derajat paling tinggi di surga supaya mata dia sejuk dengan bisa melihat mereka, sebagaimana telah tertuang hal ini di dalam alquran dan assunnah. Sa’id bin Jubair berkata dari ibnu Abbas rodhiyallahu anhuma : mereka di jaga dengan kesholehan bapak mereka berdua, dan tidak tersebutkan kesholehan mereka berdua, dan telah lalu bahwa bapaknya itu adalah bapak ke tujuh”

  1. Senantiasa berdoa memohon kepada Allah anak dan keturunan yang sholeh dan sholehah.

Nabi Ibrohim berdoa kepada Allah memohon putra yang sholeh

 رَبِّ هَبۡ لِی مِنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ

“Ya Robku anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (QS. As-Shofaat: 100)

Dan juga nabi Zakariya berdoa kepada Allah memohon keturunan yang baik

 هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِیَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِی مِن لَّدُنكَ ذُرِّیَّةࣰ طَیِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِیعُ ٱلدُّعَاۤءِ

“dia (nabi Zakariya) berdoa, “Ya Robku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ‘Imron: 38)

Berdoa memohon anak dan keturunan yang sholeh tidak hanya dilakukan ketika belum punya anak, tetapi terus berkelanjutan selama hidup di kandung badan. Syareat yang hanif ini mengajarkan doa untuk menggapai anak yang sholeh hingga ketika hubungan suami istri dianjurkan untuk berdoa supaya diberi anak yang dijahui syaithon, Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda:

لو أنَّ أحَدَكم إذا أراد أن يأتيَ أهلَهُ قال: بسمِ اللهِ، اللَّهمَّ جنِّبْنا الشَّيطانَ، وجنِّبِ الشَّيطانَ ما رزَقْتَنا، ثمَّ قُدِّرَ أن يكونَ بينهما ولَدٌ في ذلك لم يضُرَّهُ شيطانٌ أبدًا

“Seandainya kalian jika mendatangi istrinya dan berdoa:

بسم الله اللهم جنبنا الشيطان و جنب الشيطان ما رزقتنا

“Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syaithon dan jauhkanlah syaithon dari rizki (anak) yang engkau kasihkan ke kami”

Kemudian dari hubungan tersebut Allah mentakdirkan seorang anak, maka syaithon tidak akan membahayakan anak tersebut selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah senantiasa memeberi kepada kita taufiq-Nya.

Wa Allahu a’lam.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Hamalatul Quran Yogyakarta Galang Donasi untuk Palestina

0

Kementrian Kesehatan di Gaza menyatakan, sampai dengan hari Kamis, 23/11/2023, 14.500 orang meninggal dunia akibat agresi penjajah israel pada Sabtu, 7 Oktober hingga hari ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Dan beliau merekatkan jari-jemarinya.” (HR. Bukhari no. 481, Muslim no. 2585).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa tiap musim dengan muslim yang lainnya memiliki ikatan yang kuat dan saling menguatkan. Apabila ada seorang muslim yang mengalami kesulitan, maka umat muslim yang lainnya akan merasa sulit. Bahkan, apabila saudara-saudara kita sesama muslim merasa sakit, maka kita juga akan merasa sakit.

Seperti yang kita ketahui, saat ini saudara-saudara kita di Palestina sedang mengalami musibah yang menimbulkan banyak korban dan sangat membutuhkan bantuan kita semua. Tidak hanya doa-doa yang kita panjatkan namun mereka juga butuh bantuan secara finansial. Oleh karena itu,  Pondok Pesantren Hamalatul Quran telah menggalang donasi kurang lebih  selama satu bulan untuk membantu saudara kita yang berada di Palestina.

 

Alhamdulillah telah terkumpul donasi sebesar Rp89.130.000,00 (delapan puluh sembilan juta seratus tiga puluh ribu rupiah). Dana tersebut berasal dari para santri, wali santri, jamaah kajian serta para muhsinin hafidzahumullah. Dan pada hari Kamis, 23 November 2023 donasi tersebut telah disalurkan melalui Yayasan Peduli Muslim.  

Segenap keluarga Pondok Pesantren Hamalatul Quran mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran kepada para muhsinin atas ketulusan hatinya yang bersedia turut mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita di Palestina. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima niat dan amal baik kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

donatur-tetap

Bolehkah Melihat ke atas Dalam Perkara Dunia

0

Diantara prinsip agama islam yang harus kita pegang adalah, antara dalil satu dengan dalil yang lainnya tidak mungkin bertentangan, akantetapi saling menjelaskan, dalilnya firman Allah ta’aala :

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ​ؕ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَيۡرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوۡا فِيۡهِ اخۡتِلَافًا كَثِيۡرًا

“‏ Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Alquran? Sekiranya (Alquran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya” (QS. Surah A-Nisaa: 82)

Begitu juga dengan hadits atau perkataan Rasulullah shalallah ‘alaihi wasallam tidak mungkin bertentangan dengan ayat maupun hadits yang lainnya, dalillnya firman Allah ta’alaa :

وَمَا يَنۡطِقُ عَنِ الۡهَوٰىؕ اِنۡ هُوَ اِلَّا وَحۡىٌ يُّوۡحٰىۙ

“‏‏dan tidaklah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut keinginannya” “Tidak lain (Alquran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm : 3-4 )

Harus difahami bahwa islam mengarahkan kita untuk menjadi muslim yang kuat sebagaiman sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallaam

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: “المؤمن القوي، خيرٌ وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف، وفي كلٍّ خيرٌ، احْرِصْ على ما ينفعك، واسْتَعِنْ بالله ولا تَعْجِزْ، وإن أصابك شيء، فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا، ولكن قل قَدَرُ الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing-masing memiliki sisi kebaikan. Maka fokuslah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah! Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan katakan, “Andai aku melakukan ini maka tentu hasilnya seperti ini,” tetapi ucapkanlah, “Ini adalah ketetapan Allah, apa yang dikehendaki-Nya, maka Dia melakukannya,” karena kata-kata “andai” bisa membuka peluang untuk setan” (HR. Muslim)

Penjelasan hadis : Seorang Mukmin yang kokoh keimanannya -maksudnya bukan kuat fisiknya- lebih baik daripada seorang Mukmin yang lemah, dan lebih dicintai Allah daripada seorang Mukmin yang lemah. Seorang Mukmin yang kuat dan Mukmin yang lemah jika kualitas keimanannya sama, maka kemanfaatan Mukmin yang kuat bisa menjangkau kepada orang lain. Sedangkan Mukmin yang lemah, maka kemanfaatannya hanya untuk dirinya sendiri. Dengan neraca seperti ini, Mukmin yang kuat tentu lebih utama daripada Mukmin yang lemah. Namun masing-masing dari keduanya memiliki potensi yang baik, ini dinyatakan agar tidak menimbulkan kesan bahwa Mukmin yang lemah tidak ada kebaikan sama sekali padanya, tetapi Mukmin yang lemah memiliki kebaikan dan tentu tidak diragukan lagi bahwa ia jauh lebih baik daripada orang kafir. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- memberi wasiat kepada umatnya dengan wasiat yang menyeluruh. Beliau memerintahkan mereka untuk bersungguh-sungguh menghasilkan dan melaksanakan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka, baik terkait urusan agamanya ataupun dunianya. Jika kepentingan agama dan kepentingan dunia bertentangan, maka yang harus dikedepankan adalah kepentingan agama, karena jika agamanya baik, maka dunianya ikut baik. Dan apabila urusan dunianya baik tetapi dibarengi dengan rusaknya agama, maka lambat laun duniapun ikut hancur. Hendaklah mereka memohon pertolongan hanya kepada Allah, meskipun untuk hal yang paling remeh. Dan hendaknya mereka tidak condong untuk berleha-leha dan bermalas-malasan. Beliau juga mengingatkan agar tidak berandai-andai saat tujuannya tidak sesuai dengan keinginan dengan berkata, “Andai saya melakukan ini pasti hasilnya seperti ini”, karena masalah hasil itu di luar kemampuan mereka. Seseorang hanya menjalankan apa yang diperintahkan dan Allah yang menentukan hasil akhirnya. Berandai-andai seperti di atas bisa membuka peluang was-was, sedih, penyesalan dan gelisah. Tetapi dia harus mengucapkan hal-hal yang bisa menumbuhkan optimisme baru, “Sungguh ini adalah ketetapan Allah dan apapun yang dikehendaki-Nya pasti Dia lakukan”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda di hadits yang lain :

عن أَبِي كَبْشَةَ الْأَنْمَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مَثَلُ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْمَلُ بِهِ فِي مَالِهِ فَيُنْفِقُهُ فِي حَقِّهِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يُؤْتِهِ مَالًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ مَا لِهَذَا عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِيهِ يُنْفِقُهُ فِي غَيْرِ حَقِّهِ وَرَجُلٌ لَمْ يُؤْتِهِ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مَالٌ مِثْلُ هَذَا عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُمَا فِي الْوِزْرِ سَوَاءٌ

Dari Abu Kasybah Al Anmari ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan umat ini adalah seperti empat orang; Pertama, seorang laki-laki yang diberi harta dan ilmu oleh Allah, lalu ia menerapkan ilmunya dalam (mengolah) hartanya, maka ia pun menafkahkan apa yang menjadi hak hartanya. Kedua, seorang laki-laki yang telah diberi ilmu oleh Allah namun ia tidak diberi harta. Lalu ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta seperti yang telah diberikan kepada orang itu tentu aku akan melakukan seperti yang telah ia lakukan.'” Abu Kabsyah Al Anmari berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka keduanya memiliki pahala yang sama. Ketiga, seorang lak-laki yang diberikan harta oleh Allah namun tidak diberi ilmu, sehingga ia membelanjakan harta tersebut kepada sesuatu yang layak. Dan keempat, seorang laki-laki yang tidak dikaruniai Allah harta dan tidak pula ilmu. Lalu ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta seperti yang telah diberikan kepada orang itu tentu aku akan melakukan seperti yang telah ia lakukan.'” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka keduanya memiliki dosa yang sama” (HR. Ahmad : 17336)

Dari dua hadits di atas menunjukan bahwa islam juga menganjurkan kita untuk memandang keatas tatkala memandang keatas bermanfaat, tidak berlebihan atau bahkan dengan kerakusan, akantetapi dengan rasa cukup, Adapun tatkal akita telah berusaha dan qadarullah belum diberikan kesuksesan, maka lihatlah kebawah.

Sehingga bisa disimpulkan, bahwa anjuran memandang kebawah bukan berarti kita tidak boleh melihat ke atas (dalam perkara dunia).

Refrensi :

  • Syarh Bulughul Marom Kitaabul Jaami’ hadis kedua oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. M.A
  • https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/5493

Ditulis Oleh: Badru Zaman, Lc.

donatur-tetap

Khutbah Jum’at: Target Hidup Muslim

0
Silahkan unduh khutbah Jumat dalam bentuk Pdf DISINI

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Khutbah Pertama  

الحَمدُ لِـلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ وَأَظْهَرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ، هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا هُوَ أَهْلُهُ وَأَشْكُرُهُ شُكْرَ مَنْ يَسْتَزِيْدُهُ وَيَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ وَحْدَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَكَمَالِ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّداً عَبْدُهُ وَرُسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِينِ وَبَعْدُ

يَا أَيَّهَا النَاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

Amma Ba’du

Jama’ah rahimani wa rahimakumullah…

Kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada istri beliau –Ummahatul Mukminin– para sahabat radhiyallahu‘anhum, serta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Kaum muslimin rahimakumullah ketahuilah bahwa diantara kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengawali harinya beliau senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Sekiranya kita memperhatikan doa yang agung di atas. Beliau shallallahu alaihi wa sallam meminta dan memohon kepada Allah ta’ala agar dalam hari beliau terkumpul tiga hal yaitu, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal ibadah yang diterima.

Sekiranya kita memperhatikan tiga pokok isi doa tersebut maka kita akan sadar bahwa tigal hal di atas adalah tujuan terpenting seorang muslim dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Apabila seorang muslim dalam hari-harinya tidak mendapatkan kecuali tiga hal tersebut maka sungguh telah cukup dan telah terkumpul banyak kebaikan pada dirinya.

Berikut ini beberapa faidah kandungan doa di atas:

  1. Membuat Target Harian.

Dalam hadis di atas secara tersitat menganjuran setiap muslim untuk menentukan target atau tujuan hariannya, karena diantara kunci kesuksesan adalah dengan senantiasa membuat target-target dan tujuan, sehinnga terget tersebut seakan selalu ada di depan matanya dan ia tahu langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut.

  1. Meminta Bantuan Kepada Allah.

Hendaknya seorang muslim senantiasa memohon dan meminta bantuan kepada Alllah ta’ala dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ia buat diawal harinya, dan hendaknya ia jadikan hal ini (meminta bantuan kepada Allah) sebagai rutinitas harian bagi dirinya.

Tidakkah kita perhatian Nabi Muhammad shalallhu alaihi wa sallam meminta dan memohon bantuan kepada Allah ta’ala dalam menggapai tujuan hidup dan ia tidak menyandarkan segala tujuan tersebut kepada usahanya sendiri, padahal beliau adalan Nabi yang paling mulia, pemimpin anak Adam, kekasih Allah ta’ala, lantas bagaimana dengan kita?

  1. Meminta Ilmu yang Bermanfaat.

Hal ini menunjukkan bahwa ilmu adalah suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan seorang hamba, karena segal hal yang dilakukan seorang muslim sejatinya harus berdasarkan ilmu. dan ini pun dllil bahwa ilmu itu harus di dahulukan dari amal. Allah ta’ala berfirman,

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Dengan ilmulah seorang muslim dapat membedakan mana rezeki yang baik dan mana rezeki yang buruk, mana yang halal mana yang haram, mana amal yang shaleh dan amal yang buruk, dan bila seorang muslim tidak memiliki ilmu maka bisa jadi ia terjerumus kepada apa-apaa yang Allah larang tanpa dia menyadarinya.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata,

مَنْ عَبَدَ اللّٰهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa ynng beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu maka keursakan yang ia perbuat akan lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.”

Para ulama pun mengatakan bahwa selain seorang muslim berdoa meminta ilmu maha harus diiringin dengan usaha yaitu thalibul ilm, bila ia berdoa namun tidak pernah menuntut ilmu, tidak hadir di majelis ilmu, tidak pernah membaca maka sungguh harapannya atas do’a yang ia panjatkan tidak akan pernah terwujud.

  1. Meminta Rezeki yang Baik

Hal ini sebagai anjuran dann perintah untuk mencari rezeki yang thayyib, maka seorang muslim harus memoelajari tentang hukum pekerjaan yang ia miliki, muamalah yang ia kerjakan. sehingga ia benar-benar mendapatkan hasil rezeki yang baik atas kerja kerasnya dalam sehari dnnbterhindar dari rezeki yang khabits atau buruk. Karen apabila rezeki yang ia makan dan ia kenakan adalah rezeki yang khabits atau haram maka do’a-do’a yang ia panjatkan tidak akan diijabahi oleh Allah ta’ala. Nabi shallallhu alaihi wa sallam telah menerangkan hal tersebut dalam sabdanya,

الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Seorang lelaki yang bersafar jauh, hingga penampilannya menjadi kusut dan lalu ia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berkata: ‘Ya Rab, Ya Rab,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dahulu ia diberi makan dari makanan yang haram, maka mana mungkin permohonannya dikabulkan.” (HR. Muslim)

  1. Meminta Agar Amal Ibadah Diterima

Seorang muslim hendaknya meminta agar amal ibadahnya diterima oleh Allah ta’ala, dan sungguh amal ibadah itu tidak akan pernah diterima oleh Allah bila tidak memenuhi dua syarat, yaitu:

  • Ikhlas mengerjakan karena Allah ta’ala
  • Sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam

Maka apabila terkumpul dua syarat ini dalam ibadah seorang muslim niscaya amal ibadahnya akan diterima oleh Allah ta’ala. Allah berfirman

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Mengenai ayat diatas Fudhail bin Iyadh menjelaskan bahwa maksud dari ahsanu amala (amal yang paling baik) adalah amalan yang paling ikhlas kearena Allah ta’ala dan paling sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فيِ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

donatur-tetap

Tunaikan Hak Anakmu (Bag.1)

0

Setiap orang tentunya akan mendambakan keturunan yang baik nan shaleh shalehah, dengan keturunan tersebut dia bisa meneruskan amal yang telah dibangunnya sedari lama, terutama ketika itu adalah amal kebaikan, maka akan menjadi pahala yang senantiasa mengalir walaupun tubuh telah hancur di makan masa.

Anak adalah pemberian dari Allah ta’ala

يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ

“Dia (Allah) memberi anak perempuan bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan memberi anak laki-laki bagi siapa saja yang Dia kehendaki” (QS. as-Syuro: 49).

 أَوۡ یُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانࣰا وَإِنَـٰثࣰاۖ وَیَجۡعَلُ مَن یَشَاۤءُ عَقِیمًاۚ إِنَّهُۥ عَلِیمࣱ قَدِیرࣱ

“atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. as-Syuro: 50)

Manusia tidak mempunyai keberhakan untuk menentukan memiliki keturunan anak laki-laki atau perempuan atau sekaligus keduanya atau malah menjadi mandul tanpa anak sama sekali, karena anak itu pemberian dari Allah semata.

Mempunyai anak adalah suatu kebanggaan dan dambaan bagi orang tua, tetapi ia juga menjadi amanah besar yang terpikul di atas pundaknya. Sebagaimana orang tua punya hak untuk dijalankan oleh anak, begitu pula anak punya hak yang wajib ditunaikan oleh orang tuanya. Boleh jadi kedurhakaan anak ketika besar cerminan dari hak anak yang tidak tertunaikan oleh orang tuanya.

Dikisahkan ada seorang bapak mengadu kepada kholifah Umar bin Khotob radhiyallahu ‘anhu tentang kedurhakaan anaknya, maka kholifah Umar mendatangkan anak tersebut dan ingin menjeranya dikarenakan kedurhakaannya kepada bapaknya, lantas anak tersebut bertanya kepada khalifah “wahai amirul mukminin (read: khalifah Umar) bukankah seorang anak punya hak yang harus dipenuhi oleh bapaknya ?” Kholifah menjawab “tentu”, apa saja haknya ya amirul mukminin ? Umar menjawab : “memilihkan ibu yang baik untuknya, memilihkannya nama yang baik, dan mengajarinya alquran.” lantas ana itu berkata “semua itu tidak ada yang ditunaikan, ibuku dahulu adalah seorang budak milik orang majusi, memberiku nama ju’la (nama hewan yang suka di kotoran), dan tidak pernah mengajariku alquran walaupun satu huruf.” Maka Umar menengok kepada bapak dan berkata : “kamu datang kepadaku mengadu kedurhakaan anakmu, sedangkan kamu sudah durhaka kepada anakmu sebelum anakmu durhaka kepadamu dan kamu telah berbuat buruk kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”

Wahai para bapak dan ibu, anda adalah orang pertama kali yang bertanggung jawab atas anak-anak anda, ketika Allah telah mengamanahkan kepada anda seorang anak yang menjadi buah hati, berarti anda telah memikul beban pertanggung jawaban di sisi Allah yang harus anda persiapkan jawaban ketika kelak diminta pertanggung jawabannya.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Bukhari).

Seorang bapak akan dimintai pertanggung jawaban kelak atas apa yang telah diamanahkan kepadanya oleh Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” (QS at Tahrim: 6)

Semoga penulis dan pembaca senantiasa di beri hidayah untuk menunaikan hak-hak anak keturunannya. Aamiiin.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

 

donatur-tetap

PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU HAMALATUL QURAN 2024-2025 TINGKAT SMA/MA

0

PENGUMUMAN PENERIMAAN SANTRI BARU

TINGKAT MA/SMA PONDOK PESANTREN HAMALATUL QURAN

TAHUN AJARAN 2024/2025

Berdasarkan hasil seleksi dan musyawarah pengurus pondok pesantren yang tidak dapat diganggu gugat, kami selaku Panitia Penerimaan Santri Baru Pondok Pesantren Hamalatul Quran menerangkan bahwa nama-nama yang tercantum di daftar berikut ini dinyatakan DITERIMA sebagai calon santri baru Program Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Hamalatul Quran Tahun Ajaran 2024/2025.

donatur-tetap