Home Artikel Adab dan Akhlak Bolehkah Melihat ke atas Dalam Perkara Dunia

Bolehkah Melihat ke atas Dalam Perkara Dunia

282
0

Diantara prinsip agama islam yang harus kita pegang adalah, antara dalil satu dengan dalil yang lainnya tidak mungkin bertentangan, akantetapi saling menjelaskan, dalilnya firman Allah ta’aala :

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ​ؕ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَيۡرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوۡا فِيۡهِ اخۡتِلَافًا كَثِيۡرًا

“‏ Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Alquran? Sekiranya (Alquran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya” (QS. Surah A-Nisaa: 82)

Begitu juga dengan hadits atau perkataan Rasulullah shalallah ‘alaihi wasallam tidak mungkin bertentangan dengan ayat maupun hadits yang lainnya, dalillnya firman Allah ta’alaa :

وَمَا يَنۡطِقُ عَنِ الۡهَوٰىؕ اِنۡ هُوَ اِلَّا وَحۡىٌ يُّوۡحٰىۙ

“‏‏dan tidaklah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut keinginannya” “Tidak lain (Alquran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm : 3-4 )

Harus difahami bahwa islam mengarahkan kita untuk menjadi muslim yang kuat sebagaiman sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallaam

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: “المؤمن القوي، خيرٌ وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف، وفي كلٍّ خيرٌ، احْرِصْ على ما ينفعك، واسْتَعِنْ بالله ولا تَعْجِزْ، وإن أصابك شيء، فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا، ولكن قل قَدَرُ الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing-masing memiliki sisi kebaikan. Maka fokuslah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah! Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan katakan, “Andai aku melakukan ini maka tentu hasilnya seperti ini,” tetapi ucapkanlah, “Ini adalah ketetapan Allah, apa yang dikehendaki-Nya, maka Dia melakukannya,” karena kata-kata “andai” bisa membuka peluang untuk setan” (HR. Muslim)

Penjelasan hadis : Seorang Mukmin yang kokoh keimanannya -maksudnya bukan kuat fisiknya- lebih baik daripada seorang Mukmin yang lemah, dan lebih dicintai Allah daripada seorang Mukmin yang lemah. Seorang Mukmin yang kuat dan Mukmin yang lemah jika kualitas keimanannya sama, maka kemanfaatan Mukmin yang kuat bisa menjangkau kepada orang lain. Sedangkan Mukmin yang lemah, maka kemanfaatannya hanya untuk dirinya sendiri. Dengan neraca seperti ini, Mukmin yang kuat tentu lebih utama daripada Mukmin yang lemah. Namun masing-masing dari keduanya memiliki potensi yang baik, ini dinyatakan agar tidak menimbulkan kesan bahwa Mukmin yang lemah tidak ada kebaikan sama sekali padanya, tetapi Mukmin yang lemah memiliki kebaikan dan tentu tidak diragukan lagi bahwa ia jauh lebih baik daripada orang kafir. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- memberi wasiat kepada umatnya dengan wasiat yang menyeluruh. Beliau memerintahkan mereka untuk bersungguh-sungguh menghasilkan dan melaksanakan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka, baik terkait urusan agamanya ataupun dunianya. Jika kepentingan agama dan kepentingan dunia bertentangan, maka yang harus dikedepankan adalah kepentingan agama, karena jika agamanya baik, maka dunianya ikut baik. Dan apabila urusan dunianya baik tetapi dibarengi dengan rusaknya agama, maka lambat laun duniapun ikut hancur. Hendaklah mereka memohon pertolongan hanya kepada Allah, meskipun untuk hal yang paling remeh. Dan hendaknya mereka tidak condong untuk berleha-leha dan bermalas-malasan. Beliau juga mengingatkan agar tidak berandai-andai saat tujuannya tidak sesuai dengan keinginan dengan berkata, “Andai saya melakukan ini pasti hasilnya seperti ini”, karena masalah hasil itu di luar kemampuan mereka. Seseorang hanya menjalankan apa yang diperintahkan dan Allah yang menentukan hasil akhirnya. Berandai-andai seperti di atas bisa membuka peluang was-was, sedih, penyesalan dan gelisah. Tetapi dia harus mengucapkan hal-hal yang bisa menumbuhkan optimisme baru, “Sungguh ini adalah ketetapan Allah dan apapun yang dikehendaki-Nya pasti Dia lakukan”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda di hadits yang lain :

عن أَبِي كَبْشَةَ الْأَنْمَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مَثَلُ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْمَلُ بِهِ فِي مَالِهِ فَيُنْفِقُهُ فِي حَقِّهِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يُؤْتِهِ مَالًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ مَا لِهَذَا عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِيهِ يُنْفِقُهُ فِي غَيْرِ حَقِّهِ وَرَجُلٌ لَمْ يُؤْتِهِ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مَالٌ مِثْلُ هَذَا عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُمَا فِي الْوِزْرِ سَوَاءٌ

Dari Abu Kasybah Al Anmari ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan umat ini adalah seperti empat orang; Pertama, seorang laki-laki yang diberi harta dan ilmu oleh Allah, lalu ia menerapkan ilmunya dalam (mengolah) hartanya, maka ia pun menafkahkan apa yang menjadi hak hartanya. Kedua, seorang laki-laki yang telah diberi ilmu oleh Allah namun ia tidak diberi harta. Lalu ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta seperti yang telah diberikan kepada orang itu tentu aku akan melakukan seperti yang telah ia lakukan.'” Abu Kabsyah Al Anmari berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka keduanya memiliki pahala yang sama. Ketiga, seorang lak-laki yang diberikan harta oleh Allah namun tidak diberi ilmu, sehingga ia membelanjakan harta tersebut kepada sesuatu yang layak. Dan keempat, seorang laki-laki yang tidak dikaruniai Allah harta dan tidak pula ilmu. Lalu ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta seperti yang telah diberikan kepada orang itu tentu aku akan melakukan seperti yang telah ia lakukan.'” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka keduanya memiliki dosa yang sama” (HR. Ahmad : 17336)

Dari dua hadits di atas menunjukan bahwa islam juga menganjurkan kita untuk memandang keatas tatkala memandang keatas bermanfaat, tidak berlebihan atau bahkan dengan kerakusan, akantetapi dengan rasa cukup, Adapun tatkal akita telah berusaha dan qadarullah belum diberikan kesuksesan, maka lihatlah kebawah.

Sehingga bisa disimpulkan, bahwa anjuran memandang kebawah bukan berarti kita tidak boleh melihat ke atas (dalam perkara dunia).

Refrensi :

  • Syarh Bulughul Marom Kitaabul Jaami’ hadis kedua oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. M.A
  • https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/5493

Ditulis Oleh: Badru Zaman, Lc.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here