Home Blog Page 22

Nikmat di Atas Sunnah

0

Berbicara kenikmatan yang Allah kasih, pasti tidak akan ada batasnya dikarenakan banyak dan besarnya. Tentunya nikmat paling agung dari semua kenikmatan adalah nikmat hidayah untuk memeluk agama islam.

Urutan nikmat teragung kedua adalah nikmat hidayah untuk berpegang teguh dengan sunnah nabi Muhammad ‘alaihis shalat was salam. Pada hakikatnya dua nikmat ini (islam dan sunnah) tidak bisa dipisahkan, karena tidak mungkin seorang muslim mampu menjalankan syareat agamanya dengan benar tanpa mengikuti dan taat kepada Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam, tiap kali Allah memerintahkanbhambaNya untuk taat kepadaNya pasti Dia juga memerintahkan untuk taat kepada Rasul-Nya.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu dirahmati. (QS Ali Imron: 132)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An Nisa’: 59)

Tidak dipungkiri lagi bahwa setiap hamba mukmin dia ingin benar-benar taat kepada Allah dan RosulNya tetapi tidak sedikit diantara mereka yang keblinger (salah) di dalam memilih jalur ketaatannya kepadanya, maka hamba yang benar-benar diatas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan memasuki lorong jalur yang benar-benar lurus hanya sedikit.

Nabi Muhammad ‘alaihis sholatu was salam telah memberikan kabar bahwa umat ini (umat islam) akan berpecah menjadi 73 golongan, dan semua masuk neraka kecuali satu saja.

ستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي

Umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan semua masuk neraka kecuali satu. Ditanyakan “siapa itu ya Rosulallah ? Beliau menjawab : siapa saja yang berpegang teguh dengan apa yang saya dan sahabatku (berpegang dengannya). HR Abu Dawud, Tirmidzi dll.
Begitu banyak perpecahan umat ini, maka nabi mewasiatkan untuk senantiasa berpegang dengan sunnah (ajaran) beliau.

وعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ

Dan (wajib) atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya para khulafa’ rosyidin, gigitlah ia (sunnah tersebut) dengan gigi geraham. HR Abu Dawud dan Tirmidzi
Hadits di atas sangat terang seterang matahari di siang hari yang tidak ada mendung, bahwa wasiat nabi ‘alaihis shalat was salam kepada umatnya untuk senantiasa berpegang dan istiqomah di dalam menjalankan sunnah beliau dan sunnah dari khulafa’ rosyidin.
Sunnah beliau adalah apa yang beliau diutus dengannya, ajarannya dan petunjuknya. Sungguh petunjuk beliau adalah sebaik-baik petunjuk.

Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita semua. Aamiin.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

 

donatur-tetap

Serial Ahlu Qiroat #20: Hamzah, Sang Penjual Minyak

0

Beliau adalah Abu Umarah Hamzah bin Habib bin Imarah bin Ismail Al-Kufi. Lahir pada tahun 80 Hijriyah di kota Kufah pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan dan sempat bersua dengan beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Hamzah adalah seorang pedagang minyak yang terkenal oleh karenanya beliau digelari dengan nama Az-Zayyat yang artinya penjual minyak. Dan gelar inilah yang melekat dan familiar hingga saat ini di telinga sebagian besar kaum muslimin saat ini ketika membahas biografi beliau, Imam Hamzah biasa mendatangkan minyak dari Irak dan dijual kepada penduduk Hulwan, selain itu beliau juga menjual keju dan kacang dari Hulwan dan dijual ke Kufah.

Dan demikianlah kedudukan mulianya dengan Al-Quran tidak mengendorkan dirinya untuk senantiasa bekerja mencari rezeki yang halal dengan berjualan.

Guru & Muridnya

Imam Hamzah belajar Al-Quran kepada Al-A’masy dari jalur sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu, Humran bin A’yan,Ibnu Abi Laila Al-Kufi, Muhammad bin Abdurrahman dan Thalhah bin Mushorrif.

Adapun diantara jajaran muridnya adalah Al-Kisai, Salim bin Isa keduanya merupakan sahabat dekatnya, Selin itu ada pula Abdurrahman bin Abi Hammad, Abid bin Abi Abid, Ubaidillah bin Musa, Khallad bin Khalid Al-Ahwal dan Khalaf bin Hiysam. Sifat dan

Pujian Ulama 

Beliau adalah sosok yang teguh dengan Al-Quran, hafal banyak hadis, pandai dalam ilmu faroid dan bahasa Arab. Rajin beribadah  • Syu’aib bin Harb berkata: Sufyan At-Tsauri belajar Al-Quran kepada Hamzah 4 kali

• Imam Abu Hanifah berkata kepada Imam Hamzah: Ada dua Hal yang dengannya engkau mengungguli kami dan tidak terbantahkan oleh kami, yaitu Al-Quran dan ilmu Faroid.

• Mindzil berkata: Jika disebutkan para ahli qiroat maka cukuplah dirimu dengan Hamzah, dia pandai dalam bacaan Al-Quran dan Ilmu Faroid

Dikisahkan bahwa Imam Hamzah menetap di Kufah satu tahun kemudian berpindah ke daerah Hulwan, ditempat ini ada yang seorang lelaki yang belajar kepada beliau dan khatam Al-Quran dalam bimbingan beliau. Maka lelaki tersebut mendatangai beliau dengan tujuan untuk memberikan Imam Hamzah 1000 Dirham. Maka beliau berkata: Aku kira dirimu telah memiliki akal? Apa engkau mengira aku mengambil upah dari mengajarkan Al-Quran ini? Aku hanya mengharap surga firdaus (dari mengajari Al-Quran)

Abdullah Al-Ajli berkata: “Beliau meninggal dunia dan meninggalkan hutang sebanyak 1000 Dirham, kemudian dilunasi oleh Yakqub bin Dawud.

Rajin Khatam Al-Quran

Imam Hamzah senantiasa menghabiskan waktu yang ia miliki untuk membaca Al-Quran, tidak ada seorang pun yang melihat beliau melainkan beliau pasti sedang membaca Al-Quran. Dan beliau mengkatamkan Al-Quran sebanyak 25 kali setiap bulannya bahkan dalam riwayat lain 90 kali setiap bulannya.

Teliti dalam Tajwid 

Imam Hamzah terkenal teliti dan tegas mengajarkan bacaan mujawwad (dengan tajwid) dan tartil kepada murid-muridnya

Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menemui Imam Hamzah ketika mengajar bacaan dengan tajwid dengan tegas seraya bertanya, wahai Hamzah apa ini Mad, Qoth dan Tasydid? Maka beliau menjawab: Wahai abu Abdillah, ini adalah untuk latihan dan pembelajaran bagi yang belajar kepadaku. At-Tsauri pun berkata: engkau telah benar (dalam mengajar)

Semua bacaan Imam Hamzah dengan riwayat tajwidnya semuanya beliau dapati dengan belajar dan dari atsar yang benar. Abdul Aziz bin Muhammad berkata: suatu ketika aku Bersama AlA’masy kemudian Hamzah melewati kami, maka Al-A’masy berkata: “Apa engkau melihat pemuda tadi? Sungguh ia tidak membaca satu huruf pun dari Al-Quran melainkan dengan atarr (riwayat yang shahih)

Ibnu Abu Ad Dunya mengatakan Imam Hamzah menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 150 hijriyah di kota Hulwan.

donatur-tetap

Makna Takwa

0

Takwa merupakan bekal penting untuk menghadapi hari akhir, karena takwa merupakan penentu kebermanfaatan segala hal di dunia, seperti harta dan kekuasaan. Disebut penentu kebermanfaatan karena harta atau kekuasaan yang tidak diliputi dengan takwa -sebagaimana realita yang ada- menjadi perusak seseorang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Qs. Al-Baqaran [2]: 197

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk bertakwa dimanapun berada, dalam riwayat At-Tirmidzi dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari dan Muadz bin Jabbal radhiyallahu ‘anhuma nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dimanapun engkau berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya (kejelekan). Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik.”[1]

Dalam hadis riwayat imam Bukhori dari sahabat Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu nabi Shalallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Takutlah akan neraka walau dengan (sedekah) sebiji kurma, jika tidak memilikinya maka (dengan) berkata yang baik.”[2]

PENGERTIAN TAKWA

Secara bahasa takwa berasal dari kata al-Ittiqa’ yang berarti mencegah, maksudnya menjadikan antara ia dan sesuatu yang ditakutinya sebuah penghalang. Maka maksud bertakwa kepada Allah adalah menjadikan antara ia dan murka Allah penghalang dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi apa yang Allah larang. Ada pula yang menjelaskan takwa hanya mencakup menghindari apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala[3].

Para ulama mendefinisikan takwa dengan berbagai pengertian. Penjelasan makna takwa terbaik menurut Ibnu al-Qayyim, Adz-Dzahabi, Syaikh al-Islam dan juga Ibnu Rajab adalah pengertian yang dipaparkan oleh Talq bin Habib[4]

التقوى عمل بطاعة الله رجاء رحمة الله على نور من الله و التقوى ترك معصية الله مخافة الله على نور من الله

“Engkau beramal/taat atas perintah Allah mengharap rahmat Allah dengan (memiliki) cahaya Allah dan engkau tinggalkan maksiat kepada Allah karena takut kepada Allah dengan (memiliki) cahaya Allah.”[5]

PENJELASAN PENGERTIAN

Definisi takwa yang dipaparkan Talq bin Habib memiliki beberapa point;

Pertama, takwa adalah beramal, melakukan perbuatan baik, melakukan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Kedua, tujuan dalam amal adalah mengharap pahala dari Allah

Ketiga, dalam melakukan ketaatan harus memiliki cahaya Allah, yang berarti 1) iman 2) ilmu

Keempat, takwa juga berarti meninggalkan yang Allah larang

Kelima, meninggalkan maksiat dengan dasar takut terhadap adzab Allah subhanahu wa ta’ala

 

Amal shaleh atau perbuatan baik yang tidak berdasarkan ilmu atau pelakunya tidak memiliki iman bukan disebut ketakwaan, atau ia beriman dan berilmu – mengetahuai bahwa amalan yang ia kerjakan ada tuntunannya, namun tujuannya untuk dipuji manusia, ini juga bukan takwa.

Hal serupa berlaku pada perbuatan buruk yang ditinggalkan oleh seorang hamba. Tidaklah disebut dengan takwa sampai ada dalam hatinya iman dan ia mengetahui bahwa apa yang ia tinggalkan adalah hal yang dilarang serta tujuan dari meninggalkan keburukan bukan karena manusia atau maslahat dunia, akan tetapi lillahi ta’ala karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Nabi menjelaskan tentang letak takwa dalam riwayat imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah

التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Takwa letaknya disini – beliau menuntuk dadanya 3x (tiga kali)”[6]

Baik dimata manusia, belum tentu baik disisi Allah, karena letak takwa ada di hati, tidak ada yang bisa mengerti isi hati seorang manusia kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka, takwa adalah melakukan ketaatan atau meninggalkan keburukan atas dasar iman dalam hati dan ilmu atas perkara tersebut, semua dilakukan dengan tujuan mengharap rahmat-Nya atau takut akan siksa-Nya. Bukan karena manusia, kesehatan atau perkara dunia lainnya, tapi lillahi ta’ala.

[1] Muhammad bin Isa al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, no. 1987

[2] Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhori, Shahih al-Bukhori, (Beirut: Dar Ibn Katsir), no. 1417, hlm. 344

[3] al-Ahmad Nukri, Dustur al-Ulama’ Jami’ al-Ulum fi Isthilahati al-Funun, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), Juz 1, hlm. 232

[4] Abd al-Razzaq bin Abd al-Muhsin al-Badr, Al-Tuhfatu al-Saniyah Syarh al-Mandzumah ibn Abi Dawud al-Haiyyah, Juz 1, hlm. 22.

[5] Abu Syaibah al-‘Absi al-Kufi, Al-Mushonnaf Libni Abi Syaibah, (Beirut: Dar al-Qurtubah), Juz 15, no. 30993, hlm 599.

[6] Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim, (Riyadh: Bait al-Afkar al-Dauliyyah), no. 2564, hlm. 1035.

Ditulis Oleh: Muhammad Fahmi Izzuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Sebab Agar Hati Menjadi Lapang Bag.4

0

Hati merupakan salah satu amanah yang dtitipkan Allah kepada manusia. Tugas manusia adalah menjaganya agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. Hati perlu dijaga dan dirawat agar tidak terjatuh pada hal yang keliru, seperti keyakinan yang menyimpang, mudah membenci, dendam, dan lain sebagainya. Salah satu bentuk penjagaan terhadap hati adalah dengan  berusaha membuatnya lapang.

Diantara sebab agar hati menjadi lapang adalah:

Merutinkan Dzikir Kepada Allah

         Merutinkan dzikir kepada Allah adalah salah satu sebab utama yang membuat hati menjadi lapang. Karena faktor yang membuat hati menjadi sempit seperti kegelisahan dan kesedihan bisa hilang dengan cara mengingat Allah. Bahkan seringkali kesusahan dan kesulitan yang dialami dalam hidup tidak bisa hilang kecuali dengan cara memperbanyak mengingat Allah. Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS Ar-Ra`d: 28)

Setelah mengetahui pentingnya mengingat Allah, maka seorang hamba yang benar-benar menginginkan kebaikan pada dirinya akan berdzikir sebanyak mungkin. Sebagaimana yang telah Allah perintahkan  kepada hambanya agar mereka sering mengingat Nya. Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman ingatlah kepada Allah dengan mengingat sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS Al-Ahzab: 41-42)

Kebalikan dari dzikir kepada Allah disebut lalai. Kelalaian merupakan salah satu bentuk kegelapan dalam hidup. Yang karenanya, hati menjadi tidak nyaman dan hidup penuh dengan keletihan. Sampai-sampai nabi Muhammad Shallallohu Alahi Wasallam menggambarkan orang yang lalai sama seperti orang mati. Beliau bersabda:

‌مَثَلُ ‌الَّذِي ‌يَذْكُرُ ‌رَبَّهُ وَالَّذِي لَا ‌يَذْكُرُ ‌رَبَّهُ، ‌مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ

“Permisalan antara orang yang mengingat Allah dan yang tidak mengingat Allah seperti orang hidup dan mati” (HR Bukhori: 6407)

Yang bisa didapatkan dari dzikir adalah bahwa dzikir dapat menjadi penyejuk hati, istirahat bagi badan, dan berlipatnya pahala yang akan didapatkan di hari kiamat kelak. Dalam dzikir juga terdapat manfaat-manfaat yang terpuji dan melimpah yang akan kembali kepada diri hamba baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan kelalaian dapat mendatangkan ketidaknyamanan di dalam hati dan mengakibatkan kegelisahan.

Dzikir merupakan alamat kebahagiaan dan jalan menuju kemenangan di dunia dan di akhirat. Maka segala kebaikan, kebahagiaan, kenyamanan dan ketenangan di dunia dan di akhirat tergantung bagaimana seseorang serius mengingat Allah.

Sebutan dzikir sebagai nyawa bagi hati sangat pantas. Dia menjadi hidup dengan nyawa tersebut.  Mengingat bahwa hati bisa berkembang dan kokoh disebabkan karena sering diisi dengan dzikir kepada Allah.  Oleh karenanya, Allah Subhanahu Wata`ala berpesan kepada Nabi ketika hati beliau terasa sesak agar bertasbih kepada Allah. Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ

“Dan sungguh kami telah mengetahui bahwa hatimu (Muhammad) terasa sesak karena perkataan mereka. Maka bertasbihlah kepada tuhanmu dan jadilah engkau bersama orang-orang yang bersujud.” (QS. Al-Hijr: 97-98)

Sebab lainya adalah:

Berbuat Baik Kepada Sesama Hamba Allah

Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Berbuat baiklah kalian, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Berbuat baik kepada sesama hamba Allah bisa dengan berbagai macam caranya. Seperti membantu dengan jabatan, harta, dan ide, serta bentuk-bentuk bantuan lainnya. Apabila seorang hamba berbuat baik kepada sesama hamba Allah, maka Allah akan lapangkan dadanya dan Allah akan memberikan kemudahan untuk urusannya. Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasallam bersabda:

“Barang siapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan meringankan baginya di dunia dan di Akhirat.”  (HR Muslim no.2699)

Maka berbuat baik kepada sesama manusia memberikan dampak baik kepada hati. Allah menjadikan kemudahan pada rezekinya, jalan keluar kesulitannya, dan mendapat ketenangan. Kemudahan-kemudahan inilah yang menjadikan hati seorang hamba semakin lapang.

Sebaliknya, orang yang tidak suka membantu orang lain dan dia pelit dengan harta yang dia miliki, maka juga akan memberikan dampak yang tidak baik pada hati.  Setiap ada ajakan menyumbangkan harta, jiwanya merasakan sempit dan hidupnya seolah-olah terhimpit. Hal inilah yang menyebabkan hatinya sempit, karena dia selalu ingin menjauh dari berbuat baik ke sesama manusia.

Disadur oleh Ustadz Malki Hakim, S.H dari video kajian:

https://www.youtube.com/watch?v=EySaI4UnW1I

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Serial Ahli Qiroat #19: Hafsh, Riyawat Paling Banyak Tersebar di Dunia

0

Nama lengkapnya adalah Abu Umar Hafsh bin Abu Dawud Sulaiman bin al-Mughirah al-Bazzaz al-Asdi al-Kufi. Beliau adalah anak tiri dari Imam ‘Ashim sehingga beliau tinggal satu rumah dengannya, dan dari Imam Ashim inilah lah beliau banyak belajar Al-Quran berkali-kali. Abu Hisyam ar-Rifa’i mengatkan “Tidak ada yang paling terkenal meriwayatkan bacaan Imam Ashim di Kuffah kecuali Hafsh bin Abu Dawud dan Abu Bakar bin ‘Ayyasy (Syu’bah).

Beliau lahir pada tahun 90 hijriyah, Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa beliaunlahir pada tahun 91 hijriyyah. Setelah belajar lama kepada Imam ‘Ashim beliau pergi ke Baghdad dan mengajarkan Al-Quran disana kemudian ke Makkah dan mengajarkan Al-Quran pula disana.

Beliau meninggal dunia pada tahun 180 hijriyah dan dimakamkan di kota Makkah, inilah yang di shahihkan oleh Ibnul Jazari tentang tahun wafatnya beliau.

Bacaan Al-Quran Berbeda dengan Syu’bah Walau Gurunya Sama

Walau beliau belajar Al-Quran langsung kepada ‘Ashim sebagaimana Syu’bah juga belajar langsung kepadanya, namun terdapat banyak perbedaan antara bacaan Hafsh dan Syu’bah, oleh karena itu banyak ulama yang mendiskusikan masalah ini.

Diriwayatkan dari Abu Syu’aib bahwa Hafsh berkata kepadanya, bahwa Imam Ashim berketa kepadanya,

ما كان من القراءة التي أقرأتك بها هي القراءة التي قرأت بها على أبي عبدالرحمن عن علي، وما كان من القراءة التي أقرأتُ بها أبا بكر هي القراءة التي كنت أعرضها على زر بن حبيش عن عبد الله

Bacaan Al-Quran yang aku bacakan kepadamu adalah bacaan yang ku ambil dari Abu Abdurrahman as-Sulami (secara umum riwayat) dari Ali bin Abi Thalib, adapun bacaan yang aku ajarkan kepada Abu Bakar (Syu’bah) adalah bacaan yang ku ppelajari dari Zirr bin Hubaisy Al-Asdi (jalur) dari Abdullah bin Mas’ud.

Ibnu Mujahid berkata: “Antara Hafsh dan Syu’bah terdapat 520 perbedaan huruf dalam bacaannya”

Mengapa Riwayat Hafsh Tersebar di Penjuru Dunia?

Sebuah fakta dan data yang ada, riwayat imam Hafsh adalah riwayat bacaan Al-Quran paling banyak tersebar di penjuru dunia. Ada banyak sekali pendapat dan alasan mengapa riwayat Hafsh dari jalur ‘Ashim dapat tersebar di penjuru dunia, Sebagian pendapat benar dan sebagian pendapat lainnya kurang tepat, berikut ini rinciannya

1. Pendapat yang Kurang Tepat

Sebagian orang berpendapat bahwa diantara sebab tersebabnya riwayat hafs adalah :

a. Riwayat hafsh lebih kuat dan shahih dari sisi sanad. Pendapat ini tidaklah benar, pasalnya setiap qiroat dari qiroat ‘asyroh memiliki kedudukan sama dari segi kuatnya sanad.

b. Riwayat hafsh paling dekat dan mirip dengan dialek Bani Quraisy, dan Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam merupakan keturunan Quraisy. Hal ini kurang tepat. Sebab diantara ciri khas logat atau dialek Quraisy adalah melafadzkan mim jam’ seperti pada kata (عليهم) “‘Alaihim ” dibaca menjadi “ ‘Alaihimuu ”, sedangkan hal tersebut tidak terdapat pada riwayat hafsh.

c. Riwayat hafsh merupakan riwayat yang paling mudah untuk dilafadzkan. Pendapat ini pun kurang tepat. Sebab ada beberapa riwayat lain yang lebih mudah untuk dilafadzkan, seperti riwayat As-Susi dari jalur Abu ‘Amr Al Bashri.

2. Pendapat yang Tepat

Inilah beberapa pendapat yang insyaAllah lebih tepat seputar sebab tersebarnya riwayat hafsh ke penjuru dunia:

a. Al-Quran pertama yang diterbitkan di Almania pada tahun 1106 Hijriyah dicetak menggunakan riwayat hafsh

b. Imam Hafsh melakukan safar dari Kufah ke berbagai negrei sembari mengajarkan Al-Quran disana, diantaranya ialah kota Baghdad dan Makkah

c. Berdirinya Daulah Utsmaniyyah menjadi salah satu faktor tersebarnya riwayat hafsh, pasalnya mereka mengutus para Imam, Qodhi dan ahli Al-Quran dari daulah ini guna mengajarkan Al-Qhuran menggunakan riwayat hafs kepenjuru dunia.

Referensi:

  • Ahasin Al-Akhbar, Abdul Wahhab Al-Hanafi.
  • Mabahits fi ‘Ilmi Al Qiroat, Abdul Aziz bin Sulaiman Al Muzaini
  • Ma’rifat Al-Qurro, Adz-Dzahabi.
  • https://www.alukah.net/culture/0/85848

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Kemuliaan itu Bernama Islam

0

Allah menciptakan manusia dalam keadaan mulia dan terbaik dalam bentuk, tetapi Dia akan mengembalikan ke dalam tempat yang paling hina

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ * ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (QS. At Thin: 4-5)

Tetapi Allah memberikan hal yang bisa menjadikan hambaNya senantiasa mulia, yaitu dengan beragama islam, maka islam inilah yang akan memuliakan manusia dan satu hal yang dengannya seseorang itu bergembira.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)

Imam ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya :

بهذا الذي جاءهم من الله من الهدى ودين الحق فليفرحوا ، فإنه أولى ما يفرحون به

Hendaknya mereka bergembira dengan apa yang telah datang kepada mereka dari Allah, hidayah (petunjuk) dan agama yang hak (benar), sesungguhnya itu kegembiraan yang paling utama.

هو خير مما يجمعون ) أي : من حطام الدنيا وما فيها من الزهرة الفانية الذاهبة لا محالة)

“Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” yaitu dari rongsokan dunia dan apa saja yang ada di dalamnya dari perhiasan duniawi yang pasti fana dan hilang.

Apa yang Allah datangkan kepada manusia dari hidayah dan agama islam itu jauh lebih baik daripada segalanya, karena kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan dengan tampang yang baik atau titel yang diraih, bukan pula dengan kekayaan yang dimiliki tetapi dengan keislaman, keimanan, dan ketaqwaannya kepada Allah ta’ala. Allah berfirman :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al Hujurat: 13)

Islam itu tinggi, maka pemeluknya jika dia patuh kepada islam akan ikut tinggi derajatnya, islam akan terus memuliakannya sampai tidak ada yang bisa merendahkan orang yang tunduk kepada islam, semakin dia tunduk dan patuh kepada syareat islam semakin mulia di sisi Allah dan di sisi makhlukNya,  tetapi sebaliknya jika pemeluknnya tidak mengindahkan islam maka islam sendiri akan menghinakan dia di hadapan Allah dan di hadapan khalayak makhlukNya.

Sahabat Umar al faruq berkata :

نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة في غيره أذلنا الله

“kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan islam, bagaimanapun kita mencari kemuliaan di luar dari islam, pasti Allah akan hinakan kita.”

Tentunya mulianya seseorang dengan islam ketika dia memuliakan islam dengan menjalankan syareat yang ada didalamnya dan menjahui hal-hal yang diharomkannya.

Orang yang berakal pasti akan menjaga kemuliaannya, tidak serampangan dalam menjalankan kehidupan yang bisa mengakibatkan kehinaan. Orang muslin yang berakal sehat dan beraqidah lurus dia tidak akan sembrono dalam melakukan perbuatannya, akan selalu berfikir ketika ingin melakukan suatu amalan, semoga Allah selalu memberikan hidayahNya kepada penulis dan pembaca. Aamiiin

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Serial Ahli Qiroat #18: Syu’bah, Katam Al-Quran 18.000 Kali

0

“Dia mengkhatamkan Al-Quran sebanyal 18.000 kali di sudut rumah ini”

Beliau adalah Syu’bah bin ‘Ayyasy bin Salim al-Kufi al-Asdi salah satu Ahli Qiroat ternama yang lahir pada tahun 95 hijriyyah, adapun terkait nama asli beliau telah diperselisihkan oleh banyak ulama setidaknya terdapat 17 pendapat tentang nama asli beliau. Hanya saja yang paling masyhur dan dikenal banyak orang ada dua nama yaitu Abu Bakar dan Syu’bah. Oleh karenanya sebagia ulama merojihkan namanya adalah Abu Bakar dan sebagia lainnya merojihkan Syu’bah. Imam Ibnul Jazari sendiri merojihkan bahwa nama aslinya adalah Syu’bah dan ini pula yang paling masyhur dikalangan ahli qiraat begitu pula dengan imam Asy-Syatibhi.

Adapun pendapat bahwa nama asli beliau adalah Abu Bakar hal ini melalui riwayat dari Yazid bin Mihran bahwa ia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Bakar bin Ayyasy siapa namamu? Maka ia menjawab: hari dimana ibuku melahirkanku memberiku nama kepadaku Abu Bakar (al-Idhah hlm.86). Begitu pula Abu Hatim berkata “Aku bertanya kepada Ibrahim bin Abi Bakar bin ‘Ayyasy tentang nama asli ayahya maka ia menjawab; nama dan kunyahnya hanya satu (yaitu Abu Bakar).

Ulama yang Menentang bahwa Al-Quran bukan Makhluk

Imam Syu’bah dikenal sebagai sosok yang berilmu, ahli Al-Quran dan ahli ibadah, beliau senantiasa menjaga waktu yang dimiliki, jujur dalam bertutur kata seta senantiasa mendirikan shalat malam. Selain itu beliau juga dikenal sebagai salah satu ulama Ahlusunnah wal jamaah.

Imam Syu’bah berkata,

مَنْ زَعَمَ أَنَّ القُرانَ مَخْلُوْقٌ فَهُوِ عِنْدَنَا كَافِر زِنْدِيْق عَدُو الله لَا نُجَالِسُه وَلَا نُكَلِّمُه

“Barangsiapa berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah makhluk maka ia dalam pandangan kami adalah orang yang kafir, zindiq dan musuh Allah, kami tidak akan bermajlis dengannya dan tidak pula berbicara dengannya.”

Demikianlan akidah alusunnah wal jamaah terkait Al-Quran, bahwa Al-Quran bukanlah makhluk.

Semangat dalam Menuntut Ilmu

Semangat belajar beliau bagaikan bara api yang tak kenal padam, beliau belajar Al-Quran kepada Imam ‘Ashim selama 3 tahun, belajar lima ayat lima ayat setiap hari tak kenal lelah belajar siang dan malam, baik musim panas maupun musim dingin bahkan ketika turun hujan lebat. Dan demikianlah pula para sahabat dan tabi’in belajar Al-Quran, mereka semangat belajar satu, dua atau tiga ayat setiap harinya agar Al-Quran benar-benar melekat di hati mereka.

Imam Syu’bah berkata: “Aku meninggalkan imam ‘Ashim dan tidak ada satu huruf pun dari (bacaan) Al-Quran yang salah, dan aku khatam Al-Quran dalam bimbingannya sebanyak 3 kali”

Kegigihan dan semangat belajar beliau dalam menuntut ilmu amatlah besar sampai diriwayatkab bahwa beliau tidak pernah tidur di atas Kasur selama 50 tahun. Dalam suatu kesempatan beliau berkata: “Tidak ada yang aku jumpai lebih pandai dalam Al-Quran selain Imam Ashim maka aku belajar darinya (Al-Quran), dan tidak ada yang lebih faqih (ahli fiqih) dari Mughirah maka aku bermajlis kepadanya”

Diriwayatkan oleh Yahya al-Himani bahwa ketika Imam Syu’bah mendekati kematiannya saudarinya pun menangis bersedih, maka aku berkata: kenapa dirimu menangis? Lihatlah pojok rumahmu saudaramu (Imam Syu’bah) telah mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 18.000 kali di tempat ini.

Diriwayatkab bahwa beliau hidup selama 98 tahun (95-193 H), misalnya bila kita katakan beliau mulai khatam Al-Quran di usia 8 tahun maka dalam 90 tahun ia khatam 18.000 kali, jadi dalam 1 tahun beliau khatam 200 kali,dan dalam sebulan khatam 16 kali. Maka dapat kita peringkas dengan analogi sederhana bahwa beliau khatam Al-Quran setiap dua hari sekali. Subhanallah sungguh sangat jauh berbeda bila disbanding dengan kita.

Dan Imam Syu’bah meninggal dunia pada bulan Jumadil Awwal tahun 193 hijriyah di kota Kufah.

Referensi:

– Ma’rifat Al-Qurro, Adz-Dzahabi.
– Ahasin Al-Akhbar, Abdul Wahhab Al-Hanafi.

donatur-tetap

Hamalatul Quran Menggandeng Dinsos dan TAGANA Mengadakan Simulasi & Edukasi Tanggap Bencana

0

HamalatulQuran.Com-Bantul, Selasa 3 September 2024. Ditengah beredarnya isu terjadinya Megathrust yang menyebar luas di masyarakat, dimana hal tersebut menjadi keresahan bagi sebagian masyarakat, terkhusus bagi mereka yang bertempat di sekitar pesisir pantai.

Kami ikut merasakan kekahawatiran yang dirasakn oleh para wali santri yang putranya sedang mengennyam pendidikan di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta. Tentu kita harus menanamkan dalam diri bahwasannya apapun musibah yang menimpa seorang hamba adalah atas kehendak Allah, kita sebagai hambanya hanya dapat berikhtiar untuk mempersiapkan diri dalam menghadapinya.

Menyikapi hal tersebut dan juga sebagai upaya dalam pembekalan terhadap pengetahuan kebencanaan, Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta mengadakan Simulasi & Edukasi Tanggap Bencana. Dalam simulasi ini Pondok Pesantren Hamalatul Quran menggandeng Dinas Sosial dengan dibantu TAGANA (Taruna Tanggap Bencana) untuk memberikan edukasi sekaligus simulasi apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan ketika terjadi bencana.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh warga Pondok Pesantren Hamalatul Quran, meliputi seluruh santri, Asatidzah, Ummahat beserta keluarganya.

Kegiatan diawali dengan membagi peserta simulasi menjadi tiga kelompok dengan maksud agar materi dapat tersampaikan dan dipahami dengan baik oleh seluruh peserta.
Selanjutnya acara sambutan disampaikam oleh Bapak Jazim Ahmadi, S.Sos., M.H. selaku Kepala Seksi Pengelolaan Bantuan Sosial dan Penanganan Korban Bencana dilanjut dengan pemaparan materi oleh tim TAGANA.

Acara terakhir adalah simulasi utama, yang diikuti oleh seluruh warga pesantren. Diawali dengan dibunyikannya alarm atau tanda sedang terjadinya bencana, bagi yang sedang berada di ruangan untuk bersegera mencari perlindungan baik dibawah meja, disebelah almari yang lebih tinggi, atau pada struktur bangunan yang kuat (pojok bangunan atu pilar bangunan). Setelah dirasa kondisi sudah kondusif, kemudian seluruh yang berada didalam ruangan diminta untuk keluar secara teratur, dimulai dari yang terdekat dari akses keluar menuju titik kumpul yang telah disepakati bersama.

Kami berharap dengan diselenggarakannya kegiatan ini dapat menjadi bekal untuk santri, asatidzah serta seluruh stake holder Pondok Pesantren Hamalatul Quran dalam menghadapi bencana yang atas kehendak Allah dapat terjadi kapan saja. Dan pada akhirnya kita memohon kepada Allah semoga kita semuanya dalam lindungan-Nya serta dijauhkan dari segala marabahaya dan bencana.

Berikut ini Galeri kegiatan tersebut:

donatur-tetap

Sebab Agar Hati Menjadi Lapang Bag.3

0

Hati merupakan salah satu amanah yang dtitipkan Allah kepada manusia. Tugas manusia adalah menjaganya agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. Hati perlu dijaga dan dirawat agar tidak terjatuh pada hal yang keliru, seperti keyakinan yang menyimpang, mudah membenci, dendam, dan lain sebagainya. Salah satu bentuk penjagaan terhadap hati adalah dengan  berusaha membuatnya lapang.

Diantara sebab agar hati bisa menjadi lapang adalah:

Mendapatkan Ilmu yang Bermanfaat:

Setiap hamba yang mendapatkan tambahan ilmu syar`I yang bersumber dari Alquran dan sunnah Nabi maka akan bertambah juga kelapangan hati dan keadaan jiwanya. Karena mendapatkan ilmu hakekatnya menambah kebahagiaan serta keberhasilannya di dunia dan di akhirat Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ

“Allah akan  mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan juga orang-orang yang berilmu” (QS Al-Mujadilah:11)

Selain itu, keistimewaan di atas ilmu bagaikan sebuah taman yang teduh bagi orang yang beriman dia bisa bersenang-senang di sana sambil memetik buah-buahan. Sehingga yang dia rasakan di taman itu adalah suasana penuh kebahagiaan.

Saking menakjubkannya suasana sebuah taman,   sebagian ulama menamai kitab-kitab mereka dengan taman. Diantara mereka ada yang memberi nama Roudhotul `Uqola yang artinya taman bagi orang-orang yang berakal. Diantara mereka ada yang memberi nama kitabnya dengan Bustanul `Arifin yang artinya kebun bagi orang yang mengenal Allah. Diantara mereka ada yang menamakan kitabnya dengan Riyadhus Sholihin yang artinya taman-taman untuk orang sholeh.

Bagi seorang penuntut ilmu, janji mendapatkan surga yang penuh kenikmatan sangat lebih dari cukup sebagai hadiah atas perjuangannya mendapatkan ilmu. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasallam.

  وَمَنْ ‌سَلَكَ ‌طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ ‌طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga (HR Muslim : 2699)

Sebab lainnya agar hati menjadi lapang adalah:

Kembali Kepada Allah dan Memberikan Kepedulian yang Baik Kepada Nya

Kembali kepada Allah dan memberikan kepedulian Kepada Nya merupakan salah satu bentuk ibadah dan ketaatan. Sedangkan ibadah dan ketaatan adalah bentuk istirahatnya hati, kenyamanan dan kesejukan jiwa, serta kebahagiaan hati.

Ibnul Qoyyim Rahimahullohu Ta`ala mengatakan:

“Apabila kembali kepada Allah, mencintainya dengan sepenuh hati, memberikan kepedulian kepadanya, dan merasakan nikmat dalam beribadah kepadanya, maka sungguh tidak ada yang lebih berpengaruh terhadap lapangnya hati kecuali dengan hal-hal demikian itu.” (Zaadul Ma`ad: 2/23)

Jika bisa diibaratkan perasaan di atas seperti seseorang mengatakan “Jika suasana hatiku sekarang ini seperti suasana di surga, maka aku sedang dalam kehidupan yang baik.” Contohnya dalam sholat, betapa banyak di dalam sholat itu ada hal-hal yang menyejukkan diri, mengistirahatkan jiwa dan menenangkan hati seorang mukmin. Sampai-sampai nabi Shallallohu Alaihi Wasallam mengatakan bahwa sholat adalah salah satu bentuk istirahat:

“Kumandangkanlah iqomah wahai bilal dan istirahatkan kami dengan sholat.”  (HR Abu Dawud dalam Sunannya: 4986)

Dan dalam riwayat lain beliau bersabda:

“Dijadikannya kesejukan dalam diriku saat sedang sholat.”  (HR An-Nasai dalam Al-Mujtaba: 3940)

Ibnul Qoyyim Rahimahullohu Ta`ala telah merinci amalan orang-oang yang bertaqwa, diantaranya:

“yang pertama kali terbesit pada diri seorang yang bertaqwa setelah bangun dari tidurnya adalah bersegera mengambil wudhu dan mendirikan sholat sebagaimana yang Allah perintahkan. Apabila telah selesai melakukan kewajibannya tersebut, dia menggunakan waktunya untuk membaca Alqur`an dan berdzikir sampai terbit matahari kemudian melanjutkan dengan sholat duha. Kemudian dia bangkit dan berusaha mencari salah satu sebab (mendapatkan rezeki).

Apabila telah datang waktu duhur, dia segera bersuci dan bersegera menuju ke shaf pertama lalu menunaikkan kewajiban sebagaimana yang diperintahkan baik itu syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, sunnah-sunnahnya, dan hak-hak yang berkaitan dengan hati baik itu kekhusyuan, merasa diawasi, dan menghadirkan segenap jiwa dihadapan Allah, maka ketika dia telah selesai dari shalatnya akan merasakan dampak pada hati dan jiwanya beserta seluruh keadaannya. Dan dampak itu itu akan terlihat dari wajahnya, lisannya,  dan anggota badannya.”

Disadur Oleh: Malki Hakim, S.H dari video:

https://www.youtube.com/watch?v=EySaI4UnW1I

donatur-tetap

Belajar Akidah dari Juz ‘Amma: An-Naba Ayat 1-5

0

An-Naba adalah salah satu surat yang agung, terkadang disebut juga dengan surat ‘amma, mengambil kalimat pertama dalam surat ini. Dalam surat An-Naba ini dapat kita ringkas isi pokok surat ini ke dalam tiga poin, yaitu:

  1. Pengagungan kedudukan Al-Quran’
  2. Penetakan akan iman dengan hari akhir
  3. Seruan untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman

عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ * عَنِ ٱلنَّبَإِ ٱلْعَظِيمِ * ٱلَّذِى هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ * كَلَّا سَيَعْلَمُونَ * ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini, Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.” (QS. An-Naba’: 1-5)

Allah Ta’ala memulai surat ini dengan sebuah kalimat tanya عَمَّ bentuk ikhtishar dari kata عَنْ مَاذَا  yang artinya tentang apakah orang-orang musyrik bertanya-tanya. Dalam ayat pertama ini Allah Ta’ala menggunakan kata tanya yang bersifat pengingkaran atau serig disebut dengan al-Istifham al-Inkari.

Kata النبأ  maksudnya adalah sebuah berita yang telah bertebaran dan tersebar luas, dan ini diambil dari dasar kata النَّبْوَة  yang memiliki arti “Apa yang menonjol dan tinggi diatas bumi” (semisal gundukan tanah). Kemudian Allah agungkan perkara berita ini dengan mensifatinya sebagai berita yang agung nan mulia.

Terdapat perselisihan pendapat diantara para ahli tafsir terkait an-Naba’ (berita) ini, ada yang ber[endapat maksudnya adalah Al-Qur’an dan ini adalah pendapat Mujahid, ada pula yang berpendapat bahnya berita yang dimaksud adalah kebangkitan setelah kematian, ini adalah pendapat dari Qatadah. Pendapat kedua inilah yang lebih cocok bila menilai korelasi ayat-ayat yang ada dalam surat ini dimana menerangkan tentang hari akhir, surga, neraka dan hisab.

Namun sekiranya kita merajihkan diantara kedua pendapat tersebut makan pendapat pertama lebih kuat, karena dia bersifat umum, karena Al-Quran itu bersifat umum di dalamnya mencakup perkara-perkara terkait hari kebangkitan setelah kematian.

Kemudian ketika Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang musyrik bertanya-tanya, maka Allah jawab dengan jawaban yang umum tanpa perincian, cukuk dijawab “Tentang berita besar, dimana meraka saling berselisih” dan tidak dijelaskan dengan rinci hal apa dan jawaban jelas terkait yang mereka perselisihkan. Seakan ini sebagai penjelas bahwa pertanyaan dan perselisihan akan hal ini tidak layak untuk diperselisihkan dan diperdebatkan.

Kemudian dua ayat setelahnya yaitu ayat 4-5 sebagai teguran celaan bagi orang musyrik

 ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ * ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ

Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.”

Kandungan Faidah

Pertama, Agungnya perkara Al-Quran dan iman terkait hari kebangkitan, serta keduanya merupakan asas pokok keimanan seorang hamba.

Kedua, Kebodohan dan kekeliruan orang-orang yang menentang perkara keyakinan

Ketiga, Bahwa orang-orang yang menentang para Rasul, mereka sendiri saling berselisih diantara mereka, mereka tidak berada dalam satu jalan dan satu kesepakatan. Allah Ta’ala berfirman

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ نَزَّلَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِى ٱلْكِتَٰبِ لَفِى شِقَاقٍۭ بَعِيدٍ

Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).” (QS. Al-Baqarah: 176)

Maka akan kita dapati setiap yang menyelisihi kebenaran mereka saling berselisih, terpecah belah dan bergolongan sendiri-sendiri. Karena kebenaran hanyalah satu dan tidak terpecah belah adapun kebatilan dan kesesatan itu banyak. Allah berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)

Maka jalan kebenaran hanyalah satu sedangkan jalan kebatilan dan kesesatan itu banyak dan bercabang.

Keempat, Penggunaan kalimat ancaman sebagai nasehat keimanan. Maka tidak mengapa bagi seorang dai dalam beberapa nasehatnya mengingatkan manusia dengan hukuman, ancaman dan adzab dari Allah Ta’ala semisal adzab di alam barzah dan juga adzab neraka.

Referensi: at-Tafsir al-“aqodi li Juz’i Amma karya Ahmad bin Abdirrahman al-Qadhi

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap