Home Artikel Teks Khutbah Idul Fitri 1447 H: Ramadhan Mendidik, Idul Fitri Membuktikan

Teks Khutbah Idul Fitri 1447 H: Ramadhan Mendidik, Idul Fitri Membuktikan

1132
0
campaign psb PPHQ 26-27

Unduh teks Khutbah Idul Fitri Versi PDF disini

Khutbah Idul Fitri 1447H:

Ramadhan Mendidik, Idul Fitri Membuktikan

(Disusun Oleh Muhammad Fatwa Hamidan, B.A., M.A)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ.

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illâh Allâhu Akbar Qalillâhil ḥamd ….

donatur-tetap

Ma’âsyiral muslimin jamaah salat idulfitri rahima- kumullâh ….

Khatib berwasiat khususnya kepada dirinya pribadi dan umumnya kepada jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Takwa adalah sebaik-baik belak menuju akhirat nan kekal.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Untuk meraih ketakwaan jugalah Allah mewajibkan puasa kepada kita.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Ma’asyiral muslimin, rahimahukumullâh ….

Kita telah melalui bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan dan berkah. Kita berpuasa di siang harinya dan salat tarawih di malam harinya serta mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan beragam ibadah demi mengharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya.

Hari-hari itu pun berlalu dan kita telah melalui satu waktu dalam hidup yang tidak akan mungkin kembali lagi. Hari-hari yang telah berlalu itu akan merekam semua yang kita kerjakan di dalamnya, yang baik maupun yang buruk.

Begitulah hari-hari dalam umur kita berlalu. Hari demi hari kita lalui sambil berjalan menuju negeri akhirat nan abadi. Hari-hari itu sejatinya mengurangi umur kita dan semakin mendekatkan kita kepada ajal, menyimpan amalan kita agar kelak dibalas di negeri akhirat nan kekal.

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوٓءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُۥٓ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُۥ  وَٱللَّهُ رَءُوفٌ بِٱلْعِبَادِ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang jauh antara dia dan hari itu.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 30).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ….

Bulan Ramadan menghampiri kita agar kita kembali kepada Allah, bertobat kepada-Nya dan beramal saleh untuk-Nya. Juga, agar kita terdidik dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan yang haram serta mengenyam pelajaran kesabaran dan perjuangan agar menang malawan hawa nafsu yang selalu mendorong kepada keburukan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ….

Oleh karena itu, tidaklah bulan yang penuh berkah ini berlalu melainkan kita telah terbiasa menjalankan ketaatan dan membenci kemaksiatan serta terdidik dengan akhlak terpuji. Kita pun terbangun dari kelalaian dan hadir beribadah setelah absen sekian lama darinya. Dengan bulan mulia ini, kita juga dapat mengetahui nilai kehidupan dan nikmat beribadah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ….

Kini bulan Ramadan telah berlalu. Maka jangan sampai kita kembali berbuat maksiat, karena Tuhan pemilik bulan- bulan itu hanya satu. Jangan sampai kita merusak amal saleh yang kita bangun selama bulan Ramadan dengan amal salah setelahnya, karena tanda diterima amalan adalah kebaikan yang diikuti dengan kebaikan, sedangkan kembali berbuat maksiat setelah bertobat, dosanya lebih besar daripada dosa yang dilakukan sebelum bertobat. Selain itu di depan kita kelak ada mizan yang akan menimbang amal baik dan buruk kita.

فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُولَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُولَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاأَنفُسَهُمْ فِى جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ

“Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang beruntung. Siapa yang ringan timba- ngan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri. Mereka kekal di dalam (nera- ka) Jahanam.” (QS. Al-Mu’minūn [23]: 102-103)

Bulan-bulan sepanjang tahun merupakan ladang beramal dan waktu ajal.

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illâh Allâhu Akbar Qalillâhil ḥamd ….

Ma’asyiral muslimin jamaah salat idul fitri rahimakumullah ….

Bila bulan Ramadan tahun ini telah berlalu, di hadapan kita masih ada musim kebaikan lainnya yang berulang sepanjang tahun. Ada yang berulang lima kali dalam sehari semalam, yaitu salat lima waktu yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala kepada hamba-Nya.

Di hadapan kita ada musim kebaikan yang berulang sepekan sekali, yaitu salat jumat. Hari jumat yang dikhususkan oleh Allah Ta’la bagi umat ini, di dalamnya ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim mendapatkan waktu itu seraya memohon suatu kebaikan kepada-Nya kecuali Allah Ta’ala akan memberikannya.

Di hadapan kita ada pula musim kebaikan yang berulang di setiap pertengahan malam dan di waktu sahur yang pada saat itu Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبُ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ ، مَنْ يَسْتَغْفِرُني فَأغفرُ لَهُ

“Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.”[1] (HR. al-Bukhari no. 1145)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ….

Perbendaharaan kebaikan Allah Ta’ala sangatlah melimpah dan tidak akan pernah habis. Tangan-Nya selalu terbuka siang dan malam menerima amalan dan pertobatan para hamba-Nya, karena kita selalu membutuhkan-Nya setiap saat dan tidak dapat lepas dari-Nya barang sekejap.

Kita membutuhkan Allah bukan di bulan Ramadan saja. Maka bagaimana keadaan orang-orang yang bersemangat dalam ketaatan di bulan Ramadan, tetapi ketika Ramadan berlalu, mereka berubah dan meninggalkan ketaatan? Telah ditanyakan kepada sebagian salaf tentang orang-orang seperti ini, lalu dia berkata:

ﺑﺌْﺲَ ﺍﻟﻘَﻮْﻡ ﺍﻟﺬﻳْﻦَ ﻻَ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻻَّ ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥ

“Seburuk-buruk kaum adalah yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan.”[2]( Laṭāiful Ma’ārif karya Ibnu Rajab, hal 390).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ….

Di bulan Ramadan, masjid-masjid ramai dengan mereka yang salat lima waktu. Namun, ketika Ramadan berlalu, mereka menghilang. Jejak mereka di masjid pun pudar, dan mereka lebih banyak tinggal di rumah mereka.

Seolah-olah mereka tidak butuh kepada Allah, seakan- akan kewajiban mereka telah gugur dan seolah hal-hal yang haram dibolehkan untuk mereka di luar Ramadan. Kita berlindung kepada Allah dari tersesat setelah mendapat petunjuk, dari kebutaan setelah melihat kebenaran, dan dari kekufuran setelah keimanan. Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَطِيعُوا ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوٓاأَعْمَٰلَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu!” (QS. Muhammad [47]: 33)

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illâh Allâhu Akbar Qalillâhil ḥamd ….

Ma’asyiral muslimin rahimahukumullâh ….

Sebagaimana kebaikan bisa menghapus keburukan, pun

sebaliknya, keburukan bisa menghapus kebaikan. Oleh karena itu dikatakan:

ذَنْبٌ بَعْدَ التَّوْبَةِ أَقْبَحُ مِنْ سَبْعِيْنَ قَبْلَهَا

“Dosa yang dilakukan setelah bertobat lebih jelak tujuh puluh kali lipat daripada dosa yang dilakukan sebelumnya.” [3]

Sebagian salaf menangis saat akan meninggal dunia. Ketika ditanya sebabnya, ia menjawab, “Aku menangisi malam yang tidak kulalui dengan salat malam dan siang yang tidak kumanfaatkan dengan siam (puasa)”.

Jika ada orang yang menyesal saat sakaratul maut lanta- ran meninggalkan ibadah sunah, maka bagaimana kiranya penyesalan orang yang menyia-nyiakan kewajiban.

Ma’āsyiral muslimin rahimahukumullah ….

Saat berpisah dengan Ramadan, kita wajib beristigfar dan memohon kepada Allah agar amalan kita diterima. Dahulu para salaf saleh berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar dipertemukan dengan bulan Ramadan. Dan bila Ramadan itu tiba dan mereka beramal saleh di dalamnya, mereka berdoa kepada Allah Ta’ala agar menerima amal saleh tersebut. Oleh karena itu, bagi mereka waktu semuanya adalah Ramadan.

Ma’âsyiral Muslimin rahimahukumullâh ….

Banyak orang saat ini berpisah dengan bulan Ramadan namun setelah itu mereka lanjutkan dengan berbuat maksiat, meninggalkan kewajiban dan mengerjakan yang haram.

Ma’âsyiral Muslimin rahimahukumullâh ….

Allah memerintahkan kita agar menutup bulan Ramadan dengan bertakbir dan bersyukur kepada-Nya atas disempurna- kannya nikmat. Allah Ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita agar mengiringi puasa Ramadan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Abu Ayûb al-Anshāri Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian dilanjut dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, seolah-olah dia berpuasa selama setahun”[4]

Ma’asyiral muslimin rahimahukumullah ….

Sebab puasa Ramadan ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal sebanding dengan puasa satu tahun karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Jadi berpuasa di bulan Ramadan pahalanya sama dengan berpuasa sepuluh bulan dan berpuasa enam hari di bulan Syawal sama dengan berpuasa dua bulan.

Ma’âsyiral muslimin rahimahukumullah ….

Selain itu, membiasakan puasa sunah setelah Ramadan memiliki banyak manfaat, di antaranya:

  • Puasa enam hari di bulan Syawal ibarat salat sunah bakdiah sehingga dapat menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa Ramadan. Karena ibadah wajib akan ditambal dan disempurnakan dengan ibadah sunah pada hari kiamat.

Sebagian besar orang punya kekurangan saat melaksanakan puasa wajib, maka perlu berpuasa sunah untuk menambal kekurangan itu dan menyempurnakannya.

  • Membiasakan puasa sunah setelah Ramadan juga me- nandakan bahwa puasa Ramadan yang dikerjakan diterima oleh Allah Ta’ala. Sebab bila Allah menerima amalan seorang hamba maka Allah akan memberinya taufik untuk beramal saleh Hal itu sebagaimana dikatakan oleh sebagiansalaf

ثَوَابُ الحَّسَنَة الحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Balasan kebaikan adalah malakukan kebaikan setelah- nya.”[5]

Sebaliknya, orang yang mengerjakan kebaikan namun dilanjut dengan kejelekan maka itu pertanda amal baik yang dia kerjakan tertolak dan tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

  • Manfaat puasa sunah lainnya, sebagaimana diketahui bahwa puasa Ramadan mendatangkan ampunan atas dosa yang telah lalu, maka membiasakan puasa setelah berbuka/idul fitri merupakan bentuk syukur atas nikmat tersebut.

Di antara bentuk syukur seorang hamba kepada Allah atas taufik yang Dia berikan sehingga dapat menunaikan ibadah puasa dan atas pertolongan serta ampunan-Nya atas dosa yang telah lalu adalah berpuasa karena Allah setelah Ramadan sebagai rasa syukur.

  • Manfaat puasa sunah lainnya, bahwa kembali berpuasa setelah berbuka menunjukkan kecintaannya kepada ibadah puasa dan ia tidak bosan serta tidak terbebani dalam

Allahu Akbar …. Allahu Akbar …. Ibadallah ….

Membalas nikmat taufik dari Allah sehingga bisa ber- puasa di bulan Ramadan dengan melakukan kemaksiatan setelahnya sejatinya termasuk bentuk kufur nikmat. Barang siapa berniat kembali melakukan maksiat setelah bulan Ramadan maka pertanda puasanya tertolak dan pintu rahmat di hadapannya tertutup.

Sesungguhnya bulan, tahun, malam dan siang, semuanya merupakan ajal yang telah ditentukan dan waktu untuk beramal. Semuanya akan habis dan berlalu dengan cepat. Sedangkan Allah Ta’ala Tuhan yang mengadakan dan menciptakan waktu-waktu itu serta mengkhususkannya dengan berbagai keutamaan akan tetap abadi dan tidak akan pernah sirna.

Allah Ta’ala di setiap waktu akan selalu menjadi Tuhan Yang Esa, akan selalu mengawasi dan melihat amalan para hamba-Nya. Maka bertakwalah kepada-Nya dan selalu taat kepada-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya.

Karena setiap waktu yang dihabiskan seorang hamba tanpa ketaatan kepada Allah Ta’ala maka dia sungguh merugi. Setiap saat yang dilalaikan seorang hamba dari zikir kepada Allah kelak akan menjadi penyelasan pada hari kiamat.

Ibnu Masud Radhiyallahu ‘anhu  berkata:

 مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْئٍ نَدْمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيْهِ أَجَلِيْ وَلَمْ يَزِدْ فِيْهِ عَمَلِي

“Tidaklah aku menyesali sesuatu melebihi penyesalanku atas satu hari saat matahari terbenam dan ajalku ber- kurang namun amalku tidak bertambah”

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah ….

Sesungguhnya karunia Allah Ta’ala atas kita akan terus menerus tercurah dan tidak akan berhenti. Musim-musim ampunan akan selalu ada bagi siapa pun yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk memanfaatkannya, karena setelah berlalu bulan Ramadan akan datang bulan-bulan haji ke baitullah.

Sebagaimana orang yang berpuasa dan salat malam di bulan Ramadan (karena iman dan mengharap pahala dari Allah) akan diampuni dosanya yang telah lalu, pun orang yang berhaji ke baitullah seraya tidak berbuat rafats (perbuatan keji) dan keafasikan, maka akan kembali dari dosanya seperti saat dilahirkan oleh ibunya.

Hadirin Rahimakumullah ….

Tidaklah berlalu beberapa saat dari umur seorang mukmin melainkan di dalamnya ada tugas (sebagai seorang hamba) berupa ketaatan yang harus ditunaikan kepada Allah Ta’ala Seorang mukmin akan selalu berpindah dari satu tugas (ketaatan) ke tugas yang lainnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang besar ini. Manfaatkan nikmat tersebut dalam rangka menaati Allah Ta’ala dan jangan sia-siakan dengan kelalaian dan berpaling dari-Nya.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم
عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

[1] HR. al-Bukhari no. 1145

[2] Laṭāiful Ma’ārif karya Ibnu Rajab, hal 390

[3] ar-Risālah al-Qusyairiyyah, 1/214.

[4] HR. Muslim no.1164

[5] Majmū’ Fatāwā Syaikhil Islām Ibn Taimiyyah, 8/396, 10/11.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here