Home Artikel Corona dan Ujian Keimanan

Corona dan Ujian Keimanan

2339
0

Di antara hikmah mengapa Nabi shalallahu alaihi wa sallam terkena sihir adalah agar manusia menyadari bahwa manfaat dan tidaknya sebuah usaha (baca: amal amal penolak gangguan sihir, seperti dzikir dan baca Al Quran) itu sepenuhnya adalah kewenangan Allah Ta’ala. (Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily hafidzahullah)

Pun demikian dengan virus Corona, kita tetap harus menjaga diri dengan mengambil sebab-sebab baik secara syar’i maupun medis. Disisi lain kita juga harus tetap yakin dan mengimani bahwa kewenanngan dan ketetapan hanya milik Allah semata.

Allah Ta’ala berfirman,

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 51)

Syeikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin hafidzahumallah dalam situs resminya memberikan beberapa nasehat terkait virus corona, diantaranya:

Nasehat Pertama, Hendaknya setiap muslim dalam kondisi apapun senantiasa  memohon perlindungan dari Allah Ta’ala dan bertawakkal kepada-Nya, dengan berkeyakinan bahwa segala sesuatu (nikmat maupun musibah) itu berada di tangan Allah Ta’ala, jika Allah berkehendak maka terjadi, jika Allah tak berkehendak maka tidak akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidaklah suatu musibah datang kecuali atas izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, akan diberi petunjuk hatinya”. (QS. At-Taghabun: 11)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Ketahuilah, sekalipun seluruh umat manusia bersatu padu untuk memberikan manfaat kepada dirimu, mereka tidak akan bisa kecuali sebatas apa yang Allah telah tuliskan, dan jikalau seliruh umat manusia bersatu untuk mencelakaimu, niscaya mereka takkan mampu kecuali sebatas apa yang telah Allah tuliskan, pena telah diangkat, dan lembaran telah kering”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Nasehat Kedua, Wajib bagi setiap muslim untuk menjaga Allah, dalam artian menjaga perintahnya dengan cara mengamalkannya, dan menjaga larangannya dengan cara menjauhinya, karena hal tersebut dapat menjadi sebab perlindungan dan penjagaan Allah Ta’ala terhadap kita semua dari segala marabahaya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kau dapati Allah berada di sisimu” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Nasehat Ketiga, Syariat Islam datang dengan menyeru untuk mengambil sebab dan berobat tatkala sakit, dan keduanya tidaklah menghilangkan tawakkal kepada Allah Ta’ala.

Dan Islam mengajarkan, berobat itu ada dua cara:
1. Berobat sebelum sakit, yakni menjaga kesehatan diri dan mengantisipasi penyakit.
2. Berobat ketika tertimpa penyakit. (Baca kitab “Thibbu An-Nabawy” karya Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah).

Diantara obat yang dianjurkan untuk kita konsumisi demi menjaga kesehatan dan stamina adalah dengan menkonsumsi kurma Ajwah setiap hari minimal 7 butir.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةٍ لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barang siapa setiap pagi mengkonsumsi 7 butir kurma ajwa maka pada hari itu ia akan terhindar dari racun dan sihir”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dan diantara bentuk pencegahan lainnya yang banyak ditinggalkan oleh banyak orang adalah rutinitas membaca dzikir pagi dan petang.

Nasehat keempat, Sejatinya musibah terbesar adalah musibah yang menimpa agama seseorang, dan itu adalah musibah yang terbesar baik di dunia maupun di akherat, juga itu merupakan kerugian yang tidak ada keuntungan sama sekali di dalamnya. Dan musibah yang menimpa fisik maupun harta benda, bukanlah apa-apa.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitabnya “Syuab Al Iman” bahwa Syuraih Al Qadhi rahimahullah berkata:

إني لأصاب بالمصيبة فأحمد الله عليها أربع مرات: أحمده إذ لم تكن أعظم مما هي , وأحمده إذ رزقني الصبر عليها، وأحمده إذ وفقني للاسترجاع لما أرجو فيه من الثواب، وأحمده إذ لم يجعلها في ديني

“Sungguh ketika aku tertimpa oleh suatu musibah, maka akupun memuji Allah atas musibah tersebut empat kali: Aku memuji karena tidak ditimpakan kepadaku yang lebih dahsyat darinya, Aku memuji karena Dia telah memberikan karunia kesabaran kepadaku atasnya, Aku memuji karena Dia telah memberikan taufiq kepadaku untuk istirja’ (ucapan kembali; inna lillahi wa inna ilaihi roji’un) dan mengharapkan pahala dengannya, Aku memuji karena Dia tidak menjadikan musibah tersebut pada agamaku.”

Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga diri kita dari segala marabahaya, baik pada kesehatan kita maupun agama kita, dan semoga Allah selalu mengampuni dosa dan kekhilafan kita, sungguh Allah Maha mendengar atas semua pengaduan hamba-Nya.

Wallahu ta’ala a’lam

Referensi:
http://www.al-badr.net/muqolat/3157

Disusun Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here