Home Artikel Alquran Belajar Qiroat #7: Isti’adzah dalam Kacamata Ilmu Qiroat

Belajar Qiroat #7: Isti’adzah dalam Kacamata Ilmu Qiroat

403
0

Alhamdulillah washolatu wassalam ‘ala Rasulillah, Amma Ba’du.

Pembahasan pertama yang biasa dipaparkan oleh para ulama qiroat setelah muqoddimah adalah pembahasan seputar isti’adzah. Sebab saat seseorang hendak membaca Al-Quran, maka ia diperintahkan untuk membaca isti’adzah terlebih dahulu, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)

Artikel kali ini merupakan gerbang pembuka dalam membahas salah satu dari 2 bab inti dalam kajian ilmu qiroat, yaitu Ushul. Jika anda belum memahami apa yang dimaksud ushul, silahkan baca terlebih dahulu artikel kami sebelumnya: Belajar Qiroat #6: Pahami 2 Hal Ini agar Mudah Mempelajari Qiroat Apapun.

Lafadz Isti’adzah

Terdapat berbagai riwayat yang disebutkan oleh para ulama seputar lafadz dari bacaan isti’adzah ini. Adapun lafadz yang paling masyhur adalah lafadz yang diambil dari surat An-Nahl ayat 98 diatas:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Imam As-Sakhowi rohimahulloh sendiri bahkan menukilkan ijma’ kaum muslimin terhadap lafadz ini sebagaimana beliau jelaskan dalam kitab Jamal Al-Qurro.

Lafadz diatas juga pernah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:

اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوسٌ وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدْ احْمَرَّ وَجْهُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَقَالُوا لِلرَّجُلِ أَلَا تَسْمَعُ مَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي لَسْتُ بِمَجْنُونٍ

Ada dua orang yang saling memaki di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kami duduk-duduk di samping beliau, salah seorang darinya mencerca temannya sambil marah, hingga wajahnya memerah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya saya mengetahui suatu kalimat yang apabila ia membacanya, niscaya kemarahannya akan hilang, sekiranya ia mengatakan; “A’uudzubillahi minasy syaithaanir rajiim.”

Lalu orang-orang berkata kepada laki-laki itu;

“Apakah kamu tidak mendengar apa yang di katakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Justru laki-laki itu menimpali; “Sesungguhnya aku tidaklah gila.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun beberapa lafadz lain yang juga disebutkan oleh para ulama adalah:

١. أعوذ بالله العظيم من الشيطان الرجيم

٢. اللهم إني أعوذ بك من الشيطان الرجيم

٣. أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم

٤. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم . إن الله هو السميع العليم

٥. أعوذ بالله العظيم من الشيطان الرجيم إن الله هو السميع العليم

٦. أعوذ بالله العظيم وبوجهه الكريم وسلطانه القديم من الشيطان الرجيم

٧. أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم ، إن الله هو السميع العليم

Bolehkah Mengurangi Lafadz أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ?

Jika kita perhatikan pada berbagai macam lafadz isti’adzah diatas, kita dapati bahwa lafadz yang paling pendek sekaligus paling masyhur adalah (أعوذ بالله من الشيطان الرجيم). Namun bolehkah kurang dari itu? Imam Al-Hulwani rohimahulloh menjelaskan bahwa hal tersebut dibolehkan berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Imam Abu Dawud dalam sunannya, bahwasanya sahabat Jubair bin Muth’im mendengar Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dalam sholatnya membaca:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ثَلَاثًا أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

Dalam riwayat diatas, nampak bahwa bacaan isti’adzah dalam hadits tersebut tidak menyertakan lafadz (الرجيم).

Kesimpulannya: lafadz minimal untuk isti’adzah adalah (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ) tanpa lafadz (الرجيم). Adapun kurang dari itu maka dianggap tidak memenuhi.

Tata Cara Membaca Isti’adzah

Saat hendak membaca Al-Quran, terdapat beberapa metode membaca isti’adzah yang bisa kita praktekkan:

1. Waslu Al-Jami’

Yaitu menyambung bacaan isti’adzah dengan basmalah dan awal surat dengan satu nafas. Contohnya adalah:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

(semuanya dibaca sambung dengan satu nafas)

2. Qoth’ul Jami’

Yaitu membaca isti’adzah, basmalah serta awal surat dengan terpisah, alias bernafas diantara ketiganya. Contoh:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم 

(ambil nafas)

بسم الله الرحمن الرحيم 

(ambil nafas)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

3. Qoth’ul Awwal wa Washlu Ats-Tsani bi Ats-Tsalits

Membaca isti’adzah secara terpisah, kemudian menggabungkan basmalah dengan awal surat. Contoh:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

(ambil nafas)

بسم الله الرحمن الرحيم قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

4. Washlul Awwal bi Ats-Tsani wa Qoth’uhu bi Ats-Tsalits

Menggabungkan isti’adzah dengan basmalah dan memisahkannya dari awal surat. Contoh:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم

(ambil nafas)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

Madzhab Qurro Sab’ah dalam Membaca Isti’adzah

Para ulama qiroat menjelaskan bahwasanya Qurro Sab’ah biasa membaca isti’adzah dengan keras (jahr) pada kondisi-kondisi yang dianjurkan membacanya dengan keras. Namun terdapat riwayat yang menyatakan bahwasanya Imam Nafi’ dan Hamzah biasa membaca isti’adzah dengan pelan dalam setiap kondisi. Oleh karenanya, para ulama yang berpegang dengan pendapat ini biasanya tidak mengeraskan ta’awwudz saat membaca Al-Quran menggunakan Qiroat Nafi’ dan Hamzah.

Adapun secara umum, maka isti’adzah dianjurkan untuk dibaca dengan keras kecuali dalam 4 keadaan:

1. Dalam sholat.

2. Saat sendirian alias tak ada orang lain di sekitarnya.

3. Saat hendak membaca Al-Quran dengan pelan meskipun ada orang lain di sekitarnya.

4. Saat sedang membaca Al-Quran secara bergantian (tadarus), dan ia bukan yang pertama kali membaca.

Namun perlu dicatat bahwa maksud dari membacanya dengan pelan adalah dengan tetap menggerakkan mulut, bukan membacanya dalam hati.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu. Amiin.

Referensi:

– Jamal Al-Qurro, As-Sakhowi

– An-Nasyr, Ibnul Jazari

***

Ditulis oleh: Afit Iqwanuddin, Lc. 

(Alumni PP. Hamalatul Quran Yogyakarta dan mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Qiroat, Fakultas Al Qur’an, Universitas Islam Madinah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here