Home Artikel Adab Ketika Turun Hujan, Apa Saja?

Adab Ketika Turun Hujan, Apa Saja?

405
0

Adab Ketika Turun Hujan, Apa Saja?

Ketika kemarau panjang panas menyengat orang bilang “kapan hujan turun..?” Ketika datang banyak hujan orang bilang “kok hujan terus dak panas panas”, inilah sifat manusia yang selalu mengeluh atas keadaannya kecuali yang Allah berikan rahmat.

Allah berfirman:

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al Ma’arij : 19)

Syekh as sa’di berkata dalam tafsirnya

وهذا الوصف للإنسان من حيث هو وصف طبيعته الأصلية  أنه هلوع.

“Inilah sifat asli tabiat manusia yaitu sering berkeluh kesah.”

Pembaca yang budiman, hujan adalah ni’mat dari Allah subhanahu wata’ala. Dia turun sesuai kehendakNya, Allahlah yang menurunkannya dan Dia juga yang menahannya. Maka ketika suatu nikmat di syukuri akan menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Dalam tulisan kali ini kami akan membahas beberapa diantara adab-adab ketika turun hujan, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas diturunkan salah satu nikmatnya berupa hujan:

1. Berdoa

Di antara doa yang ada ketika turun hujan adalah

اَللَّهُمَّ صَيِّباً ناًفِعاً

ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAFI’AN

Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat.

Doa di atas diriwayatkan oleh imam bukhori dalam kitabnya adabul mufrod dengan sanad yang shohih.

Begitu juga doa secara umum karena waktu hujan adalah termasuk waktu yang mustajab, sabda rosul ‘alaihi sholatu was salam :

( ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، وتحت المطر)

“Dua hal yang tidak ditolak: doa pada saat adzan (atau setelahnya) dan sedang hujan. ” (HR. Al hakim dan At thobroni)

2. Menisbatkan Hujan Kepada Allah

عن زيد بن خالد  قال: «صلى لنا رسول الله ﷺ صلاة الصبح بالحديبية على إثر سماء كانت من الليل، فلما انصرف أقبل على الناس فقال: هل تدرون ماذا قال ربكم؟ قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: قال: أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر، فأما من قال: مطرنا بفضل الله ورحمته فذلك مؤمن بي كافر بالكوكب، وأما من قال: مطرنا بنوء كذا وكذا فذلك كافر بي مؤمن بالكوكب.

Dari shahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami ketika shalat shubuh di Hudaibiyyah setelah turunnya hujan tadi malam. Tatkala selesai salam beliau menghadap ke arah para shahabat kemudian bersabda:

“Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan Rabb kalian?” Para shahabat mengatakan: “Allah dan Rasul-Nya  lebih mengetahui.”

Nabi bersabda: Allah berfirman “Pada pagi hari ini ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir, adapun orang-orang yang mengatakan: Kami diberi hujan dengan karunia  Allah dan rahmat-Nya, maka dia telah beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Adapun orang yang mengatakan: Kami diberikan hujan dengan sebab bintang ini dan bintang itu, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.”

Termasuk tanda syukur seorang hamba adalah menisbatkan nikmat kepada dzat yang memberi nikmat, yaitu Allah ta’ala. Dan termasuk tanda kekufuran seorang hamba adalah menisbatkan nikmat kepada selain Allah.

3. Tidak Berkeluh Kesah

Orang yang sering berkeluh kesah menunjukkan kurangnya dia bersyukur kepada Allah, tidak memiliki sifat qonaah dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang Allah beri, sifat ini termasuk sifat yang rendah karena Allah tatkala menyebutkannya dalam posisi yang tidak mulia:

{۞ إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا} [المعارج : 19]

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al Ma’arij : 19)

Di ayat itu Allah memberi kabar tentang sifat tabiat manusia dengan sifat yang rendah yaitu banyak berkeluh kesah.

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. Al Ma’arij : 20-21)

إِلَّا الْمُصَلِّينَ} [المعارج : 22]

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al Ma’arij : 22)

Itulah sifat tabiat manusia yaitu banyak berkeluh kesah, kecuali orang-orang yang di rahmati dan dijaga serta mendapat hidayah dari Allah, yaitu merekalah yang senantiasa menjaga sholatnya.

4. Tidak Menolak Hujan

Hujan adalah rahmat Allah, tidak pantas seorang hamba meminta untuk diputus dari rahmatNya, seakan ia sudah tidak butuh lagi akan rahmat Allah. Maka ketika dirasa cukup dari suatu rahmat hendaknya tidak meminta untuk diputus tetapi dipalingkan ke yang lebih membutuhkan.

Seperti apa yang Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam lontarkan dalam doanya ketika seorang sahabat meminta kepada beliau ’alaihis sholatu was salam untuk meminta kepada Allah memberhentikan hujan yang sudah turun selama satu pekan, maka Rosulullah berdoa:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ“

“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, tidak di kami. Ya, Allah! turunkanlah hujan di dataran tinggi, di bukit-bukit, di perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

Sekian paparan kami tentang adab-adab ketika turun hujan. Semoga kita selalu di atas naungan rahmat Allah dan dijadikan termasuk hamba yang pandai mensyukuri nikmatNya. Aamiin.

***

Ditulis oleh : Muhammad Fathoni, Lc.
(Alumni fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah dan Pengajar di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta)

Artikel: hamalatulquran.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here