Home Blog

Untukmu yang Ingin Istiqomah: Kuatkan Niat, Luruskan Langkah

0

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. [آل عمران: ١٠٢]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. [النساء: ١]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. [الأحزاب: ٧٠-٧١]

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Amma ba’du:

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Istiqomah adalah jalan keselamatan. Ia merupakan sikap pertengahan dalam segala hal, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, serta manhaj para salaf umat ini. Istiqomah berarti menempuh jalan yang lurus.

Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya dan kaum mukminin:

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah engkau (di jalan yang benar) sebagaimana diperintahkan, dan juga orang yang telah bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Ibnu Hajar رحمه الله berkata:

الِاسْتِقَامَةُ كِنَايَةٌ عَنِ التَّمَسُّكِ بِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى فِعْلًا وَتَرْكًا

“Istiqomah adalah ungkapan tentang berpegang teguh kepada perintah Allah, baik dalam melakukan maupun meninggalkan (larangan).”

Allah Ta’ala juga mendorong kaum mukminin untuk berpegang teguh pada istiqomah, sebagaimana firman-Nya:

 وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)

Dan firman-Nya:

 ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنْ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ * إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama), maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18-19)

Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi rahimahullah berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang tidak perlu lagi aku tanyakan kepada selain engkau.” Beliau bersabda: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah.” (HR. Muslim)

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

الِاسْتِقَامَةُ: أَنْ تَسْتَقِيمَ عَلَى الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ، وَلَا تَرُوغُ رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ

“Istiqomah adalah engkau tetap teguh pada perintah dan larangan, dan tidak berbelok seperti liciknya rubah.”

Kaum muslimin rahimakumullah, di antara sarana penting untuk istiqomah adalah:

  1. Memperbaiki hati

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh menjadi rusak. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

أَصْلُ الِاسْتِقَامَةِ: اسْتِقَامَةُ الْقَلْبِ عَلَى التَّوْحِيدِ.

“Asal dari istiqomah adalah istiqomahnya hati di atas tauhid.”

  1. Menjaga lisan dari kebatilan

Sufyan bin Abdillah pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

يَا رَسُولَ اللَّهِ! مَا أَكْثَرُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا

Wahari Rasulullah ﷺ apa hal yang paling engkau khawatirkan, lalu beliau memegang lisannya dan berkata: “Ini.” (HR. Ibnu Majah)

Beliau juga pernah bersabda:

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Tahanlah lisanmu, hendaklah rumahmu mencukupimu, dan menangislah atas kesalahanmu.”(HR. Tirmidzi)

Maka barang siapa ingin istiqomah, hendaknya menjaga lisannya dari kebatilan, karena hal itu bisa menyeret ke dalam neraka.

  1. Bersahabat dengan orang-orang shalih

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ؛ كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka lihatlah dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Mengikuti sunnah dan menjauhi bid’ah

Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah adalah sebab terbesar untuk istiqomah.

Allah Ta’ala berfirman:

 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi), niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31)

Dan firman-Nya:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Jika kalian berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa: 59)

  1. Menuntut ilmu syar’i

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Ilmu akan melahirkan rasa takut kepada Allah dan menjaga seseorang dari penyimpangan syahwat maupun syubhat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Istiqomah memiliki banyak buah di dunia dan akhirat, di antaranya:

  1. Keteguhan dalam agama

Siapa yang istiqomah akan diberi keteguhan, dan siapa yang teguh akan berbuah kebaikan.

  1. Kehidupan yang baik

Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka  Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.”(QS. An-Nahl: 97)

  1. Kabar gembira saat kematian

Allah berfirman:

 إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (saat wafat): ‘Jangan takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga.’” (QS. Fussilat: 30)

  1. Mendapat naungan Allah di hari kiamat

Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah dalam hadis riwayat Bukhari, di antaranya:

  • Pemimpin yang adil
  • Pemuda yang tumbuh dalam ibadah
  • Orang yang hatinya terpaut dengan masjid
  • Dan lainnya
  1. Masuk Surga

Allah Ta’ala berfirman:

 إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut dan tidak pula mereka bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Ahqaf: 13-14)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqomah hingga akhir hayat.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/0/160639/

donatur-tetap

Menjaga Api Iman Setelah Ramadhan di Bulan Syawal

0
Bulan Ramadhan telah berlalu, meninggalkan jejak kebaikan, air mata taubat, dan semangat ibadah yang begitu terasa. Di bulan itu, kita berlomba-lomba mendekat kepada Allah Ta’ala memperbanyak tilawah Al-Qur’an, menjaga shalat berjamaah, memperbanyak sedekah, serta menahan diri dari berbagai maksiat.
Namun, pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah: apakah semangat itu akan terus hidup, atau justru padam seiring berlalunya Ramadhan?
Jangan sampai amalan yang telah susah payah kita pupuk selama sebulan penuh menjadi hangus begitu saja karena kelalaian dan maksiat di bulan-bulan berikutnya. Sungguh merugi seseorang yang kembali jauh dari Allah setelah sebelumnya begitu dekat dengan-Nya.
Terdapat sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya dari para salaf:

بِئْسَ القَوْمِ الَّذِي لَا يَعْرِفُوْنَ رَبَّهُ إِلَّا فِي رَمَضَانَ

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan.”
Ungkapan ini menjadi peringatan keras bahwa seorang mukmin sejati tidaklah “musiman” dalam beribadah. Ia tidak hanya rajin ketika Ramadhan, lalu lalai di bulan lainnya. Karena sesungguhnya, Rabb yang disembah di bulan Ramadhan adalah Rabb yang sama di bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan seterusnya.
Syawal: Awal Baru, Bukan Akhir Perjuangan
Bulan Syawal seharusnya menjadi titik awal untuk melanjutkan perjalanan ruhani yang telah kita bangun di bulan Ramadhan. Di antara tanda diterimanya amal seseorang adalah ia dimudahkan untuk melakukan kebaikan setelahnya.
Para ulama mengatakan:

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”
Maka, jika setelah Ramadhan kita masih istiqamah dalam ibadah meskipun tidak sebanyak sebelumnya itu adalah pertanda baik bahwa amal kita diterima oleh Allah ﷻ.
Agenda Kebaikan Pasca Ramadhan
Agar semangat ibadah tetap terjaga, penting bagi kita untuk menyusun “agenda kebaikan” di bulan Syawal dan seterusnya, di antaranya:
•Menjaga shalat lima waktu berjamaah, terutama di masjid bagi laki-laki
•Melanjutkan tilawah Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat setiap hari
•Berpuasa sunnah, seperti puasa enam hari di bulan Syawal
•Memperbanyak sedekah, walau sedikit namun rutin
•Menjaga lisan dan pandangan, sebagai bentuk ketakwaan yang berkelanjutan
•Menghadiri majelis ilmu, agar iman terus terisi dan terjaga
Ramadhan bukanlah tujuan akhir, melainkan madrasah yang melatih kita menjadi hamba yang bertakwa. Maka jangan biarkan hasil didikan itu hilang begitu saja.
Mari kita perbanyak kebaikan selepas Ramadhan, dan terus berusaha istiqamah di atas ketaatan. Semoga amal ibadah yang telah kita lakukan diterima oleh Allah ﷻ, dan Syawal menjadi awal dari kehidupan yang lebih dekat dengan-Nya.

اللهم تقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم

donatur-tetap

Warisan Ramadhan: Tujuh Amalan yang Harus Dipertahankan

0

Bulan mulia itu memang telah berlalu, namun jangan sampai bulan tersebut tidak memberikan jejak sama sekali dalam hidup kita.

Amalan-amalan kebaikan yang telah kita rutinkan dan kita pupuk dengan baik di bulan ramadhan seharusnya senatiasa kita jaga pada 11 bulan berikutnya.

Berikut ini adalah 7 amalan yang hendaknya senantiasa kita jaga selepas ramadhan, sebagai bentuk komitmen kita menuju ketakwaan yang hakiki serta semoga menjadi pertanda amalan kita di bulan ramadhan Allah terima.

1. Membaca Al-Quran Setiap Hari

Ramadhan menyampaikan kepada kita bahwa membaca 1 Juz dari Alqur’an setiap hari, itu sangat mudah; tapi selama ini kita memang sangat dikuasai oleh pikiran tentang dunia!

Banyak orang pada bulan-bulan biasa merasa berat membaca Al-Qur’an secara rutin, bahkan satu juz pun terasa sulit. Namun ketika datang bulan Ramadhan, sebagian besar kaum muslimin mampu membaca satu juz bahkan lebih setiap hari. Hal ini menunjukkan bahwa kesulitan itu sebenarnya bukan pada kemampuan, tetapi pada prioritas hati dan kesibukan pikiran.

Allah Ta‘ala berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Namun kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘la: 16–17)

2. Berpuasa Minimal 3 Hari Sebulan

Ramadan seakan menyampaikan kepada kita bahwa berpuasa 3 hari dalam sebulan, bukanlah sesuatu yang sulit, tapi kita memang sepanjang tahun, terlalu sibuk dengan apa yang diciptakan oleh Allah; bukan sibuk dengan untuk apa kita diciptakan oleh Allah.

Selama satu bulan penuh kita mampu menahan diri dari makan, minum, dan berbagai syahwat sejak fajar hingga matahari terbenam. Jika seseorang mampu menjalani puasa selama 29 atau 30 hari, maka secara logika ibadah puasa sunnah tiga hari setiap bulan tentu jauh lebih ringan.

Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan amalan ini:

صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

“Puasa tiga hari setiap bulan itu seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. al-Bukhari no. 1979, Muslim no. 1162)

3. Tetap Shalat Malam

Ramadan menyampaikan kepada kita bahwa pada waktu malam ada waktu untuk salat minimal 3 rakaat; itu tidak berat, tapi memang hati kita yang perlu terus diperkuat

Jika seseorang tidak mampu melakukan qiyamul-lail yang panjang, ia tetap dianjurkan untuk menjaga salat witir, minimal tiga rakaat.

Nabi shalallahu alaihi wasallam berwasiat kepada sebagian sahabat salah satunya sahabat Abu Hurairah.

أَوْصَانِي خَلِيلِي ﷺ بِثَلَاثٍ … وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku Rasulullah ﷺ berwasiat kepadaku dengan tiga perkara… dan agar aku melaksanakan witir sebelum tidur.” (HR. al-Bukhari no. 1981, Muslim no. 721)

4. Gemar Berderma

Ketika seseorang berpuasa, ia merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari. Pengalaman ini membuat hati lebih mudah memahami keadaan orang-orang yang setiap hari hidup dalam kekurangan.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)

Ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang beriman tidak hanya merasakan penderitaan orang lain, tetapi juga berusaha membantu mereka.

5. Shalat Subuh Berjamaah

Pada bulan Ramadhan, banyak kaum muslimin mampu bangun malam untuk sahur dan melaksanakan berbagai ibadah. Setelah itu mereka tetap mampu pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Hal ini menunjukkan bahwa bangun pagi dan pergi ke masjid bukanlah sesuatu yang mustahil.

Kesulitan yang sering dirasakan pada hari-hari biasa sebenarnya lebih disebabkan oleh kebiasaan dan kurangnya semangat iman, bukan karena benar-benar tidak mampu.

6. Langkah Ke Masjid Berpahala Besar

Pada bulan Ramadhan, masjid menjadi lebih hidup. Kaum muslimin berkumpul untuk salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan melakukan berbagai ibadah lainnya.

Suasana ini menumbuhkan rasa kebahagiaan ketika berada di rumah Allah.
Bahkan orang yang hatinya terpaut dengan masjid termasuk golongan yang mendapat keistimewaan besar di hari kiamat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya … di antaranya adalah seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid.” (HR. al-Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)

Ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada masjid merupakan tanda kemuliaan iman.

7. Selalu Memuliakan Wanita

Ramadan seakan mengabarkan kepada kita bahwa rumah kita itu sesungguhnya tegak di atas kesabaran perempuan; dan bahwa betapa sering kaum laki-laki sudah merasa lemah pada waktu setelah Asar, sementara kaum perempuan masih bekerja keras di dapur mempersiapkan hidangan berbuka dan menu makan malam. Ini mengajarkan kepada kaum laki-laki agar mereka semakin memuliakan, semakin lembut dan semakin sering membantu kaum perempuan!”

Syariat Islam sangat menekankan pentingnya bersikap lembut dan memuliakan perempuan, terutama dalam hubungan rumah tangga.

Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi no. 3895)

Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang laki-laki dalam Islam diukur dari sikapnya terhadap keluarganya, terutama kepada istri dan anggota keluarganya di rumah.

Sumber: https://t.me/adhamsharkawii

donatur-tetap

Merayakan Hari Raya dengan Adab dan Ketaatan

0

Lebaran tinggal menghitung hari. Suasana khas hari raya mulai terasa—aroma masakan dari dapur, stoples kue yang tertata, dan rencana silaturahmi yang mulai disusun. Namun di tengah semua persiapan itu, mari sejenak kita berhenti dan bertanya pada diri sendiri:

Apakah Lebaran nanti sekadar menjadi seremonial tahunan yang melelahkan raga, atau benar-benar hadir sebagai momentum yang mencerahkan jiwa?

Banyak yang terjebak pada anggapan bahwa Idul Fitri adalah garis akhir yang membebaskan kita dari segala “beban” ibadah. Seolah-olah begitu takbir berkumandang, semangat taat pun perlahan menghilang, disiplin ibadah ikut merenggang.

Padahal Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”(QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini mengingatkan bahwa penghambaan tidak mengenal kata usai—termasuk pada hari raya. Jangan sampai pahala puasa yang kita jaga dengan susah payah selama sebulan penuh justru luntur dalam sekejap, hanya karena kita lengah menjaga adab dan sikap.

Karena itu, Idul Fitri tidak cukup disambut sebagai tradisi tahunan. Ia adalah saat yang penuh keberkahan dan pengagungan. Agar hari raya benar-benar menenangkan hati dan mendekatkan kita kepada Allah, ada beberapa hal sederhana yang perlu kita perhatikan.

  1. Mensucikan Lahir dan Batin

Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, waktu terbaik bagi seorang hamba untuk membersihkan dosa dan memperbaiki diri. Ketika Ramadhan berlalu dan Idul Fitri tiba, harapan setiap hati tentu ingin menjadi pribadi yang lebih taat, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah.

Karena itu, Idul Fitri bukan sekadar kegembiraan lahiriah. Hari raya bukan hanya tentang pakaian baru, hidangan istimewa, atau kemeriahan suasana. Para ulama sering mengingatkan dengan sebuah bait hikmah:

ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد
ليس العيد لمن تجمَّل باللباس والركوب إنما العيد لمن غُفِرت له الذنوب

“Bukanlah hari raya itu milik orang yang memakai pakaian baru, tetapi milik orang yang ketaatannya bertambah. Bukan pula milik orang yang memperindah diri dengan pakaian dan kendaraan, tetapi milik mereka yang dosa-dosanya telah diampuni.”

Artinya, yang paling penting dari Idul Fitri adalah hati yang bersih dan ketaatan yang semakin bertambah.

Beberapa sunnah yang dianjurkan pada hari raya di antaranya:

  • Mandi sebelum shalat Id
  • Memakai pakaian terbaik
  • Makan sebelum berangkat shalat Idul Fitri
  • Berjalan ke tempat shalat dan pulang melalui jalan yang berbeda
  1. Melangitkan Takbir: Membesarkan Allah, Mengecilkan Diri

Sejak matahari terbenam di akhir Ramadhan hingga shalat Id dimulai, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak takbir. Allah berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“…dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Takbir bukan sekadar suara yang memeriahkan hari raya. Kalimat اللّٰهُ أَكْبَرُ  mengingatkan kita bahwa Allah benar-benar Maha Besar, sementara manusia hanyalah hamba yang lemah.

Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللّٰهِ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia selalu membutuhkan Allah dalam segala hal. Bahkan ibadah di bulan Ramadhan—puasa, shalat malam, dan membaca Al-Qur’an—tidak akan mampu kita lakukan tanpa pertolongan-Nya.

Karena itu, takbir adalah pengakuan bahwa Allah Maha Besar, sementara kita hanyalah hamba yang lemah. Idul Fitri bukan saatnya membesarkan ego, tetapi merendahkan hati di hadapan-Nya.

  1. Saling Mendoakan, Bukan Sekadar Formalitas

Idul Fitri sering identik dengan ucapan “mohon maaf lahir dan batin.” Namun jangan sampai ucapan itu hanya menjadi formalitas lisan saja. Hari raya seharusnya menjadi momen membersihkan hati dari dendam, saling memaafkan, dan saling mendoakan kebaikan.

Allah mendorong hamba-Nya untuk memiliki hati yang lapang dan mudah memaafkan. Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Bahkan Allah juga memuji orang-orang yang mampu menahan marah dan memaafkan kesalahan orang lain:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa memaafkan orang lain tidak akan merendahkan seseorang. Justru Allah akan meninggikan derajatnya. Beliau bersabda:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim no.2588)

Karena itu, saat berjabat tangan di hari raya, sebaiknya kita juga saling mendoakan. Para sahabat Nabi dahulu memiliki kebiasaan indah ketika bertemu di hari Id, mereka saling mengucapkan:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

(Taqabbalallāhu minnā wa minkum)
“Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.”

Ucapan ini mengingatkan kita bahwa setelah sebulan berpuasa dan beribadah, kita tetaplah hamba yang lemah. Kita sudah berusaha beramal, tetapi hanya rahmat Allah yang bisa membuat amalan itu benar-benar diterima.

  1. Prioritas Shalat: Jangan Terlena di Perjalanan

Hari raya sering diisi dengan berbagai agenda silaturahmi. Dari satu rumah ke rumah lain, dari satu kota ke kota yang lain. Namun di tengah padatnya perjalanan dan hangatnya pertemuan keluarga, jangan sampai kita lalai dari kewajiban yang paling utama: shalat lima waktu.

Idul Fitri adalah hari syukur atas ketaatan yang telah kita jalani selama Ramadhan. Karena itu, jangan sampai kesibukan silaturahmi membuat kita lengah hingga menunda atau melalaikan panggilan shalat.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.”(QS. An-Nisa: 103)

Bahkan ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah, beliau menjawab:

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا

“Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.”(HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85)

Di tengah kesibukan silaturahmi di hari raya, ingatlah bahwa shalat tetap kewajiban yang utama. Silaturahmi boleh saja padat, namun jangan sampai membuat kita lalai dari shalat.

Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Panduan Ringkas Hari Raya Idul Fitri

0

Segala puji hanya bagi Allah, Dzat yang dengan kasih sayang-Nya menjadikan dalam kehidupan umat ini berbagai musim kebaikan dan kesempatan beramal sepanjang tahun. Pada saat-saat itulah pahala dan keberkahan mengalir bagi hamba-hamba-Nya. Ini adalah anugerah yang sangat besar dari Allah, setelah nikmat Islam dan iman yang semestinya senantiasa kita syukuri.

Ketika bulan Ramadhan salah satu musim kebaikan yang paling agung telah berlalu dengan tampaknya hilal pada awal malam bulan Syawal, maka datanglah hari yang sangat dinanti oleh kaum Muslimin. Sebuah hari yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang telah menunaikan puasa selama sebulan penuh. Pada hari itu, seorang yang berpuasa merasakan salah satu dari dua kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya. Hari itu adalah hari Idul Fitri, hari raya bagi kaum Muslimin sekaligus hari berbuka setelah sebulan berpuasa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabbnya karena puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun kebahagiaan di hari raya bukanlah alasan untuk melepaskan diri dari ibadah lalu larut dalam kesenangan yang berlebihan. Demikian pula bukan itu yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Islam memang mengajarkan umatnya untuk bergembira pada hari raya, tetapi kegembiraan itu tetap berada dalam batas yang wajar dan penuh adab. Dengan menjaga adab-adab tersebut, kebahagiaan yang kita rasakan justru akan bernilai pahala di sisi Allah.

Karena itu, penting bagi seorang Muslim untuk mengetahui bagaimana tuntunan Islam dalam menyambut dan merayakan hari raya, agar kegembiraan yang dirasakan tidak hanya menjadi kebahagiaan sesaat, tetapi juga menjadi ladang pahala.

Makna Hari Raya (‘Ied)

Dalam bahasa Arab, hari raya disebut dengan kata ‘ied (العيد), yaitu hari ketika manusia berkumpul dan merayakannya bersama. Kata ‘ied berasal dari kata ‘aada–ya‘uudu yang berarti “kembali”, seakan-akan hari tersebut datang kembali setiap tahun. Ada pula yang mengatakan bahwa kata ini berkaitan dengan kata ‘aadah yang berarti kebiasaan, karena hari tersebut menjadi kebiasaan yang selalu dirayakan oleh manusia.

Para ulama menjelaskan bahwa hari raya dinamakan demikian karena ia selalu kembali setiap tahun dengan membawa kebahagiaan yang baru. Sebagian ulama juga mengatakan bahwa pada hari itu kebahagiaan seolah kembali hadir di tengah-tengah manusia, atau karena orang-orang berharap dapat kembali menjumpai hari tersebut di masa mendatang.

Secara istilah, hari raya adalah hari berkumpulnya kaum Muslimin untuk merayakan suatu momen yang membahagiakan. Dalam Islam terdapat dua hari raya besar, yaitu Idul Fitri, hari raya setelah berakhirnya puasa Ramadhan, dan Idul Adha, hari raya yang berkaitan dengan ibadah kurban. Selain itu, kaum Muslimin juga memiliki hari berkumpul setiap pekan, yaitu hari Jumat.

Hukum Shalat ‘Ied

Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hukum pelaksanaan shalat ‘Ied, baik shalat ‘Idul Fitri maupun ‘Idul Adha. Secara umum, terdapat tiga pendapat utama dalam masalah ini.

Pendapat pertama menyatakan bahwa shalat ‘Ied hukumnya fardhu kifayah. Artinya, jika shalat tersebut telah dilaksanakan oleh sebagian kaum Muslimin dalam suatu daerah dalam jumlah yang mencukupi, maka kewajiban itu gugur dari yang lainnya. Pendapat ini merupakan salah satu pendapat yang kuat dalam mazhab Imam Ahmad rahimahullah.

Pendapat kedua menyatakan bahwa shalat ‘Ied hukumnya fardhu ‘ain, yaitu wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat taklif, yakni telah baligh dan berakal. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah rahimahullah, juga merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Imam asy-Syafi’i rahimahullah, serta diriwayatkan pula sebagai salah satu pendapat dari Imam Ahmad rahimahullah.

Pendapat ketiga menyatakan bahwa shalat ‘Ied hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan namun tidak sampai pada derajat wajib. Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik rahimahullah serta mayoritas ulama dalam mazhab Imam asy-Syafi’i. Mereka berdalil dengan sebuah hadits ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan kepada seorang Arab Badui tentang kewajiban shalat lima waktu. Orang tersebut kemudian bertanya, “Apakah ada kewajiban shalat lain bagiku selain itu?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin melaksanakan shalat sunnah.”

Meskipun demikian, pendapat yang dinilai lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran—wallahu a‘lam—adalah bahwa shalat ‘Ied hukumnya fardhu ‘ain, yaitu wajib bagi setiap Muslim kecuali bagi mereka yang memiliki uzur.

Pendapat ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya:

1. Dalil dari Al-Qur’an, yaitu firman Allah Ta‘ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Sebagian besar ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perintah shalat dalam ayat tersebut adalah shalat ‘Ied.

2. Dalil dari sunnah Nabi ﷺ, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata bahwa Nabi ﷺ memerintahkan kaum Muslimin pada dua hari raya agar keluar menuju tempat pelaksanaan shalat ‘Ied. Bahkan beliau memerintahkan agar para gadis remaja dan perempuan yang biasanya berada di rumah juga ikut keluar. Adapun wanita yang sedang haid tetap dianjurkan hadir untuk menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin, namun mereka diminta menjauh dari tempat pelaksanaan shalat.

Perintah yang begitu luas ini menunjukkan betapa besarnya perhatian syariat terhadap pelaksanaan shalat ‘Ied, sehingga banyak ulama memandang bahwa hukumnya mendekati kewajiban bagi kaum Muslimin.

Adab-adab pada Hari Raya (‘Ied)

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan kepada umatnya mengenai berbagai adab yang dianjurkan pada hari raya, baik yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan shalat ‘Ied maupun amalan lainnya. Beberapa adab tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Mandi pada hari raya. Mandi ini dilakukan dengan tata cara sebagaimana mandi junub. Anjuran ini didasarkan pada atsar yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat, seperti Ibnu Umar dan Ali radhiyallahu ‘anhum. Praktik ini juga diikuti oleh banyak tabi’in serta para ulama setelah mereka, di antaranya Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i rahimahumallah.

2. Memakai wewangian, dan bersiwak. Hal ini dianjurkan sebagaimana yang disyariatkan pada hari Jumat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda bahwa apabila seseorang memiliki minyak wangi maka hendaknya ia memakainya, dan dianjurkan pula untuk bersiwak.

3. Mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang menunjukkan bahwa kaum Muslimin dianjurkan memakai pakaian terbaik ketika menghadiri shalat ‘Ied.

4. Makan sebelum berangkat menuju shalat ‘Iedul Fitri. Disunnahkan untuk memakan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil sebelum menuju tempat shalat. Adapun pada hari ‘Iedul Adha, dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu hingga selesai melaksanakan shalat ‘Ied, sehingga seseorang dapat memakan sebagian dari daging hewan kurbannya.

5. Berjalan kaki menuju tempat pelaksanaan shalat ‘Ied jika memungkinkan, serta berjalan dengan tenang tanpa tergesa-gesa. Anjuran ini diriwayatkan dari beberapa sahabat, seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhum.

6. Melaksanakan shalat ‘Ied di lapangan terbuka. Ini merupakan sunnah Nabi ﷺ, kecuali jika terdapat halangan atau uzur tertentu, maka shalat dapat dilaksanakan di masjid. Hal ini didasarkan pada riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

7. Menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat shalat ‘Ied, jika memungkinkan. Artinya seseorang berangkat melalui satu jalan dan kembali melalui jalan yang lain. Hal ini berdasarkan riwayat dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu.

8. Bagi makmum dianjurkan untuk datang lebih awal ke tempat shalat ‘Ied, yakni beberapa saat setelah shalat Subuh. Sementara itu, imam dianjurkan datang mendekati waktu pelaksanaan shalat. Hal ini dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

9. Bertakbir sejak keluar rumah menuju tempat shalat ‘Ied hingga pelaksanaan shalat dimulai, terutama bagi laki-laki dengan suara yang jelas. Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta‘ala:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Agar kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, sehingga kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Selain itu, praktik ini juga mengikuti kebiasaan Nabi ﷺ ketika beliau keluar menuju tempat pelaksanaan shalat ‘Ied.

Sebagian ulama memahami dari ayat tersebut bahwa takbir pada ‘Iedul Fitri dapat dimulai sejak malam hari raya, yaitu setelah dipastikan bahwa keesokan harinya adalah hari ‘Ied. Penetapan ini bisa melalui terlihatnya hilal bulan Syawal atau dengan disempurnakannya jumlah hari Ramadhan menjadi tiga puluh hari.

Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied

Waktu dimulainya shalat ‘Ied adalah ketika matahari telah terbit dan naik kira-kira setinggi tombak atau sekitar beberapa saat setelah matahari terbit. Hal ini didasarkan pada riwayat Yazid bin Humair ar-Rahabi yang menceritakan bahwa Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, pernah keluar bersama masyarakat pada hari Idul Fitri atau Idul Adha. Ketika itu beliau menegur imam karena dianggap terlambat memulai shalat. Beliau berkata, “Dahulu kami sudah selesai melaksanakan shalat pada waktu seperti ini,” yaitu pada saat masuknya waktu shalat tasbih, yang dimaksud adalah waktu shalat sunnah Dhuha.

Para ulama juga menjelaskan bahwa shalat ‘Ied tidak boleh dilaksanakan sebelum matahari terbit atau ketika matahari sedang terbit. Ibnu Baththal menyebutkan bahwa para ahli fiqih telah sepakat mengenai hal ini. Shalat ‘Ied hanya boleh dilakukan pada waktu yang diperbolehkan untuk melaksanakan shalat sunnah.

Adapun batas akhir waktu pelaksanaan shalat ‘Ied adalah hingga matahari tergelincir (zawal), yaitu ketika masuk waktu zhuhur. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu ‘Umair bin Anas dari para pamannya yang termasuk sahabat Rasulullah ﷺ dari kalangan kaum Anshar.

Dalam praktiknya, para ulama menganjurkan agar shalat ‘Iedul Fitri sedikit diakhirkan, sehingga memberi kesempatan bagi kaum Muslimin untuk menunaikan zakat fitrah sebelum berangkat ke tempat shalat. Sebaliknya, shalat ‘Iedul Adha dianjurkan untuk dilaksanakan lebih awal, agar setelah shalat kaum Muslimin dapat segera menyembelih hewan kurban.

Tata Cara Shalat ‘Ied

Sebelum memulai shalat ‘Ied, imam dianjurkan untuk meletakkan sutrah di hadapannya, yaitu sesuatu yang menjadi pembatas di depan tempat shalat, seperti tongkat atau benda sejenis. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Para ulama sepakat bahwa shalat ‘Ied, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Kesepakatan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Pelaksanaan shalat ‘Ied dilakukan sebelum khutbah, berbeda dengan shalat Jumat yang khutbahnya dilakukan terlebih dahulu. Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, termasuk takbiratul ihram. Setelah takbiratul ihram, imam membaca doa istiftah, kemudian dilanjutkan dengan enam takbir tambahan.

Adapun pada rakaat kedua terdapat lima kali takbir, tidak termasuk takbir ketika bangkit dari rakaat pertama menuju rakaat kedua. Ketentuan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dan juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma.

Di antara takbir-takbir tersebut tidak terdapat bacaan dzikir khusus yang ditetapkan secara pasti, selain doa istiftah setelah takbiratul ihram. Oleh karena itu, jika imam berhenti sejenak tanpa membaca dzikir tertentu di antara takbir-takbir tersebut, maka hal itu tidak mengapa.

Pada rakaat pertama, setelah takbir selesai, imam membaca isti‘adzah, kemudian membaca surat Al-Fatihah, lalu dianjurkan membaca surat Qaf. Sedangkan pada rakaat kedua, setelah lima takbir, imam membaca isti‘adzah, kemudian Al-Fatihah, lalu membaca surat Al-Qamar.

Terdapat pula riwayat lain yang menyebutkan bahwa pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah dibaca surat Al-A‘la, dan pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah dibaca surat Al-Ghasyiyah. Namun demikian, seorang imam juga diperbolehkan membaca surat lain dari Al-Qur’an yang dianggap mudah baginya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil: 20)

Khutbah Setelah Shalat ‘Ied

Setelah imam mengucapkan salam dan shalat ‘Ied selesai dilaksanakan, imam kemudian berdiri di tempat yang lebih tinggi untuk menyampaikan khutbah di hadapan jamaah. Dalam khutbah tersebut, imam memberikan nasihat dan peringatan yang disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan masyarakat yang hadir.

Khutbah biasanya diawali dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Setelah itu, imam mengingatkan kaum Muslimin agar senantiasa meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah. Ia juga mengajak jamaah untuk mensyukuri berbagai nikmat yang telah Allah karuniakan, mendorong mereka untuk memperbanyak sedekah dan berinfak di jalan Allah, serta menyampaikan berbagai nasihat lain yang bermanfaat bagi kehidupan agama dan sosial mereka.

Adapun bagi para jamaah yang mengikuti shalat ‘Ied, mereka diberi pilihan apakah ingin tetap duduk untuk mendengarkan khutbah atau meninggalkan tempat setelah shalat selesai. Hal ini karena mendengarkan khutbah ‘Ied tidak diwajibkan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin as-Saib radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ memberikan kelonggaran kepada jamaah dalam hal tersebut.

Refernsi: Shalatul ‘Iedain karya Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahathani

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Menutup Ramadhan dengan Amal Terbaik

0

Khutbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari demi hari, tanpa terasa bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini mulai berlalu. Malam-malam yang di dalamnya terdapat ampunan Allah dan pembebasan dari api neraka semakin berkurang. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan rahmat, bulan ampunan, dan bulan pembebasan dari api neraka bagi hamba-hamba-Nya.

Sungguh beruntung orang-orang yang mendapatkan ampunan Allah pada bulan ini. Dan sungguh merugi orang-orang yang melewati Ramadhan namun tidak mendapatkan ampunan tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjelaskan tentang keutamaan bulan Ramadhan:

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari api neraka, dan itu terjadi setiap malam.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Seorang yang berakal dan bijak tentu sangat berharap termasuk di antara orang-orang yang diampuni oleh Allah dan dibebaskan dari api neraka tersebut. Karena itu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas di bulan Ramadhan ini. Ia akan bersungguh-sungguh memperbanyak ibadah, memperbanyak doa, memperbanyak istighfar, serta memperbaiki amalnya, dengan harapan Allah menerima amal-amalnya dan mengampuni dosa-dosanya.

Namun kenyataannya, tidak semua orang yang menjumpai Ramadhan mendapatkan keberuntungan. Ada pula orang-orang yang justru merugi ketika Ramadhan berlalu. Mereka menjalani Ramadhan tanpa kesungguhan, tanpa taubat, tanpa perubahan. Akibatnya, bulan yang seharusnya menjadi sebab ampunan justru menjadi sebab kecelakaan bagi mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian bulan tersebut berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni.”
(HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadis ini merupakan peringatan yang sangat keras bagi kita semua. Betapa meruginya seseorang yang hidup di bulan yang penuh rahmat dan ampunan, namun ia tetap keluar dari bulan tersebut dengan membawa dosa-dosanya.

Padahal di bulan Ramadhan ini Allah telah menyediakan begitu banyak sarana untuk mendapatkan ampunan.

Taubat adalah penghapus dosa.
Istighfar adalah penghapus dosa.
Puasa adalah penghapus dosa.
Qiyamul lail adalah penghapus dosa.
Sedekah dan amal shalih adalah penghapus dosa.
Bahkan dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya juga menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Namun jika dengan semua kesempatan dan fasilitas yang besar ini seseorang tetap saja tidak mendapatkan ampunan, maka sungguh ia termasuk orang yang sangat merugi sebagaimana yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, marilah kita memanfaatkan sisa hari-hari Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Perbanyak taubat kepada Allah. Perbanyak istighfar. Perbanyak membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan melakukan amal shalih. Jangan sampai Ramadhan berlalu sementara hati kita tetap keras dan dosa-dosa kita tetap menumpuk.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sekali lagi marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manfaatkan sisa Ramadhan yang masih Allah berikan kepada kita. Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir dalam hidup kita. Banyak orang yang tahun lalu bersama kita di bulan Ramadhan, namun tahun ini mereka telah berada di dalam kubur.

Karena itu jangan tunda taubat. Jangan tunda memperbaiki diri. Jangan sampai Ramadhan berlalu dan kita termasuk orang-orang yang disebut oleh Rasulullah sebagai orang yang celaka.

Perbanyaklah doa kepada Allah agar kita termasuk orang-orang yang diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka.

 

إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ

اللَّهمَّ نَسألُكَ حُبَّكَ ، وحَبَّ مَن يُحِبُّكَ ، وحُبًّا يُبَلِّغُني حُبَّكَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا ، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ

donatur-tetap

Teks Khutbah Idul Fitri 1447 H: Ramadhan Mendidik, Idul Fitri Membuktikan

0

Unduh teks Khutbah Idul Fitri Versi PDF disini

Khutbah Idul Fitri 1447H:

Ramadhan Mendidik, Idul Fitri Membuktikan

(Disusun Oleh Muhammad Fatwa Hamidan, B.A., M.A)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ.

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illâh Allâhu Akbar Qalillâhil ḥamd ….

Ma’âsyiral muslimin jamaah salat idulfitri rahima- kumullâh ….

Khatib berwasiat khususnya kepada dirinya pribadi dan umumnya kepada jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Takwa adalah sebaik-baik belak menuju akhirat nan kekal.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Untuk meraih ketakwaan jugalah Allah mewajibkan puasa kepada kita.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Ma’asyiral muslimin, rahimahukumullâh ….

Kita telah melalui bulan Ramadan yang penuh dengan kebaikan dan berkah. Kita berpuasa di siang harinya dan salat tarawih di malam harinya serta mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan beragam ibadah demi mengharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya.

Hari-hari itu pun berlalu dan kita telah melalui satu waktu dalam hidup yang tidak akan mungkin kembali lagi. Hari-hari yang telah berlalu itu akan merekam semua yang kita kerjakan di dalamnya, yang baik maupun yang buruk.

Begitulah hari-hari dalam umur kita berlalu. Hari demi hari kita lalui sambil berjalan menuju negeri akhirat nan abadi. Hari-hari itu sejatinya mengurangi umur kita dan semakin mendekatkan kita kepada ajal, menyimpan amalan kita agar kelak dibalas di negeri akhirat nan kekal.

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوٓءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُۥٓ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُۥ  وَٱللَّهُ رَءُوفٌ بِٱلْعِبَادِ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang jauh antara dia dan hari itu.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 30).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ….

Bulan Ramadan menghampiri kita agar kita kembali kepada Allah, bertobat kepada-Nya dan beramal saleh untuk-Nya. Juga, agar kita terdidik dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan yang haram serta mengenyam pelajaran kesabaran dan perjuangan agar menang malawan hawa nafsu yang selalu mendorong kepada keburukan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ….

Oleh karena itu, tidaklah bulan yang penuh berkah ini berlalu melainkan kita telah terbiasa menjalankan ketaatan dan membenci kemaksiatan serta terdidik dengan akhlak terpuji. Kita pun terbangun dari kelalaian dan hadir beribadah setelah absen sekian lama darinya. Dengan bulan mulia ini, kita juga dapat mengetahui nilai kehidupan dan nikmat beribadah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ….

Kini bulan Ramadan telah berlalu. Maka jangan sampai kita kembali berbuat maksiat, karena Tuhan pemilik bulan- bulan itu hanya satu. Jangan sampai kita merusak amal saleh yang kita bangun selama bulan Ramadan dengan amal salah setelahnya, karena tanda diterima amalan adalah kebaikan yang diikuti dengan kebaikan, sedangkan kembali berbuat maksiat setelah bertobat, dosanya lebih besar daripada dosa yang dilakukan sebelum bertobat. Selain itu di depan kita kelak ada mizan yang akan menimbang amal baik dan buruk kita.

فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُولَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُولَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاأَنفُسَهُمْ فِى جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ

“Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang beruntung. Siapa yang ringan timba- ngan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri. Mereka kekal di dalam (nera- ka) Jahanam.” (QS. Al-Mu’minūn [23]: 102-103)

Bulan-bulan sepanjang tahun merupakan ladang beramal dan waktu ajal.

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illâh Allâhu Akbar Qalillâhil ḥamd ….

Ma’asyiral muslimin jamaah salat idul fitri rahimakumullah ….

Bila bulan Ramadan tahun ini telah berlalu, di hadapan kita masih ada musim kebaikan lainnya yang berulang sepanjang tahun. Ada yang berulang lima kali dalam sehari semalam, yaitu salat lima waktu yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala kepada hamba-Nya.

Di hadapan kita ada musim kebaikan yang berulang sepekan sekali, yaitu salat jumat. Hari jumat yang dikhususkan oleh Allah Ta’la bagi umat ini, di dalamnya ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim mendapatkan waktu itu seraya memohon suatu kebaikan kepada-Nya kecuali Allah Ta’ala akan memberikannya.

Di hadapan kita ada pula musim kebaikan yang berulang di setiap pertengahan malam dan di waktu sahur yang pada saat itu Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبُ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ ، مَنْ يَسْتَغْفِرُني فَأغفرُ لَهُ

“Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.”[1] (HR. al-Bukhari no. 1145)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ….

Perbendaharaan kebaikan Allah Ta’ala sangatlah melimpah dan tidak akan pernah habis. Tangan-Nya selalu terbuka siang dan malam menerima amalan dan pertobatan para hamba-Nya, karena kita selalu membutuhkan-Nya setiap saat dan tidak dapat lepas dari-Nya barang sekejap.

Kita membutuhkan Allah bukan di bulan Ramadan saja. Maka bagaimana keadaan orang-orang yang bersemangat dalam ketaatan di bulan Ramadan, tetapi ketika Ramadan berlalu, mereka berubah dan meninggalkan ketaatan? Telah ditanyakan kepada sebagian salaf tentang orang-orang seperti ini, lalu dia berkata:

ﺑﺌْﺲَ ﺍﻟﻘَﻮْﻡ ﺍﻟﺬﻳْﻦَ ﻻَ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻻَّ ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥ

“Seburuk-buruk kaum adalah yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan.”[2]( Laṭāiful Ma’ārif karya Ibnu Rajab, hal 390).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ….

Di bulan Ramadan, masjid-masjid ramai dengan mereka yang salat lima waktu. Namun, ketika Ramadan berlalu, mereka menghilang. Jejak mereka di masjid pun pudar, dan mereka lebih banyak tinggal di rumah mereka.

Seolah-olah mereka tidak butuh kepada Allah, seakan- akan kewajiban mereka telah gugur dan seolah hal-hal yang haram dibolehkan untuk mereka di luar Ramadan. Kita berlindung kepada Allah dari tersesat setelah mendapat petunjuk, dari kebutaan setelah melihat kebenaran, dan dari kekufuran setelah keimanan. Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَطِيعُوا ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوٓاأَعْمَٰلَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu!” (QS. Muhammad [47]: 33)

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illâh Allâhu Akbar Qalillâhil ḥamd ….

Ma’asyiral muslimin rahimahukumullâh ….

Sebagaimana kebaikan bisa menghapus keburukan, pun

sebaliknya, keburukan bisa menghapus kebaikan. Oleh karena itu dikatakan:

ذَنْبٌ بَعْدَ التَّوْبَةِ أَقْبَحُ مِنْ سَبْعِيْنَ قَبْلَهَا

“Dosa yang dilakukan setelah bertobat lebih jelak tujuh puluh kali lipat daripada dosa yang dilakukan sebelumnya.” [3]

Sebagian salaf menangis saat akan meninggal dunia. Ketika ditanya sebabnya, ia menjawab, “Aku menangisi malam yang tidak kulalui dengan salat malam dan siang yang tidak kumanfaatkan dengan siam (puasa)”.

Jika ada orang yang menyesal saat sakaratul maut lanta- ran meninggalkan ibadah sunah, maka bagaimana kiranya penyesalan orang yang menyia-nyiakan kewajiban.

Ma’āsyiral muslimin rahimahukumullah ….

Saat berpisah dengan Ramadan, kita wajib beristigfar dan memohon kepada Allah agar amalan kita diterima. Dahulu para salaf saleh berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar dipertemukan dengan bulan Ramadan. Dan bila Ramadan itu tiba dan mereka beramal saleh di dalamnya, mereka berdoa kepada Allah Ta’ala agar menerima amal saleh tersebut. Oleh karena itu, bagi mereka waktu semuanya adalah Ramadan.

Ma’âsyiral Muslimin rahimahukumullâh ….

Banyak orang saat ini berpisah dengan bulan Ramadan namun setelah itu mereka lanjutkan dengan berbuat maksiat, meninggalkan kewajiban dan mengerjakan yang haram.

Ma’âsyiral Muslimin rahimahukumullâh ….

Allah memerintahkan kita agar menutup bulan Ramadan dengan bertakbir dan bersyukur kepada-Nya atas disempurna- kannya nikmat. Allah Ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita agar mengiringi puasa Ramadan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Abu Ayûb al-Anshāri Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian dilanjut dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, seolah-olah dia berpuasa selama setahun”[4]

Ma’asyiral muslimin rahimahukumullah ….

Sebab puasa Ramadan ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal sebanding dengan puasa satu tahun karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Jadi berpuasa di bulan Ramadan pahalanya sama dengan berpuasa sepuluh bulan dan berpuasa enam hari di bulan Syawal sama dengan berpuasa dua bulan.

Ma’âsyiral muslimin rahimahukumullah ….

Selain itu, membiasakan puasa sunah setelah Ramadan memiliki banyak manfaat, di antaranya:

  • Puasa enam hari di bulan Syawal ibarat salat sunah bakdiah sehingga dapat menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa Ramadan. Karena ibadah wajib akan ditambal dan disempurnakan dengan ibadah sunah pada hari kiamat.

Sebagian besar orang punya kekurangan saat melaksanakan puasa wajib, maka perlu berpuasa sunah untuk menambal kekurangan itu dan menyempurnakannya.

  • Membiasakan puasa sunah setelah Ramadan juga me- nandakan bahwa puasa Ramadan yang dikerjakan diterima oleh Allah Ta’ala. Sebab bila Allah menerima amalan seorang hamba maka Allah akan memberinya taufik untuk beramal saleh Hal itu sebagaimana dikatakan oleh sebagiansalaf

ثَوَابُ الحَّسَنَة الحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Balasan kebaikan adalah malakukan kebaikan setelah- nya.”[5]

Sebaliknya, orang yang mengerjakan kebaikan namun dilanjut dengan kejelekan maka itu pertanda amal baik yang dia kerjakan tertolak dan tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

  • Manfaat puasa sunah lainnya, sebagaimana diketahui bahwa puasa Ramadan mendatangkan ampunan atas dosa yang telah lalu, maka membiasakan puasa setelah berbuka/idul fitri merupakan bentuk syukur atas nikmat tersebut.

Di antara bentuk syukur seorang hamba kepada Allah atas taufik yang Dia berikan sehingga dapat menunaikan ibadah puasa dan atas pertolongan serta ampunan-Nya atas dosa yang telah lalu adalah berpuasa karena Allah setelah Ramadan sebagai rasa syukur.

  • Manfaat puasa sunah lainnya, bahwa kembali berpuasa setelah berbuka menunjukkan kecintaannya kepada ibadah puasa dan ia tidak bosan serta tidak terbebani dalam

Allahu Akbar …. Allahu Akbar …. Ibadallah ….

Membalas nikmat taufik dari Allah sehingga bisa ber- puasa di bulan Ramadan dengan melakukan kemaksiatan setelahnya sejatinya termasuk bentuk kufur nikmat. Barang siapa berniat kembali melakukan maksiat setelah bulan Ramadan maka pertanda puasanya tertolak dan pintu rahmat di hadapannya tertutup.

Sesungguhnya bulan, tahun, malam dan siang, semuanya merupakan ajal yang telah ditentukan dan waktu untuk beramal. Semuanya akan habis dan berlalu dengan cepat. Sedangkan Allah Ta’ala Tuhan yang mengadakan dan menciptakan waktu-waktu itu serta mengkhususkannya dengan berbagai keutamaan akan tetap abadi dan tidak akan pernah sirna.

Allah Ta’ala di setiap waktu akan selalu menjadi Tuhan Yang Esa, akan selalu mengawasi dan melihat amalan para hamba-Nya. Maka bertakwalah kepada-Nya dan selalu taat kepada-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya.

Karena setiap waktu yang dihabiskan seorang hamba tanpa ketaatan kepada Allah Ta’ala maka dia sungguh merugi. Setiap saat yang dilalaikan seorang hamba dari zikir kepada Allah kelak akan menjadi penyelasan pada hari kiamat.

Ibnu Masud Radhiyallahu ‘anhu  berkata:

 مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْئٍ نَدْمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيْهِ أَجَلِيْ وَلَمْ يَزِدْ فِيْهِ عَمَلِي

“Tidaklah aku menyesali sesuatu melebihi penyesalanku atas satu hari saat matahari terbenam dan ajalku ber- kurang namun amalku tidak bertambah”

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah ….

Sesungguhnya karunia Allah Ta’ala atas kita akan terus menerus tercurah dan tidak akan berhenti. Musim-musim ampunan akan selalu ada bagi siapa pun yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk memanfaatkannya, karena setelah berlalu bulan Ramadan akan datang bulan-bulan haji ke baitullah.

Sebagaimana orang yang berpuasa dan salat malam di bulan Ramadan (karena iman dan mengharap pahala dari Allah) akan diampuni dosanya yang telah lalu, pun orang yang berhaji ke baitullah seraya tidak berbuat rafats (perbuatan keji) dan keafasikan, maka akan kembali dari dosanya seperti saat dilahirkan oleh ibunya.

Hadirin Rahimakumullah ….

Tidaklah berlalu beberapa saat dari umur seorang mukmin melainkan di dalamnya ada tugas (sebagai seorang hamba) berupa ketaatan yang harus ditunaikan kepada Allah Ta’ala Seorang mukmin akan selalu berpindah dari satu tugas (ketaatan) ke tugas yang lainnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang besar ini. Manfaatkan nikmat tersebut dalam rangka menaati Allah Ta’ala dan jangan sia-siakan dengan kelalaian dan berpaling dari-Nya.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم
عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

[1] HR. al-Bukhari no. 1145

[2] Laṭāiful Ma’ārif karya Ibnu Rajab, hal 390

[3] ar-Risālah al-Qusyairiyyah, 1/214.

[4] HR. Muslim no.1164

[5] Majmū’ Fatāwā Syaikhil Islām Ibn Taimiyyah, 8/396, 10/11.

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Disiplin Beribadah di Bulan Ramadhan

0

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ كَمَا كَتَبَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا لَعَلَّنَا نَتَّقُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah Ta’ala, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh dengan keberkahan, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Rasa syukur yang mendalam kita panjatkan ke hadirat Allah Ta’ala atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada hari Jumat yang mulia ini kita masih dapat melangkahkan kaki menuju masjid untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa istiqamah meniti jalan sunnah beliau hingga akhir zaman.

Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah Subhaanahu Wata’ala. Takwa yang bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan kesadaran penuh untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan sunyi maupun ramai, dalam keadaan lapang maupun sempit.

Hadirin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Allah Subhaanahu Wata’ala telah menetapkan tujuan utama dari ibadah puasa Ramadhan dalam firman-Nya di Surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa output atau hasil akhir dari madrasah Ramadhan adalah “La’allakum Tattaqun”, agar kita menjadi insan yang bertakwa. Namun, derajat takwa ini tidak bisa diraih secara instan atau otomatis hanya dengan menahan lapar dan dahaga. Takwa diraih melalui proses penempaan diri dan disiplin ibadah yang ketat selama satu bulan penuh.

Ramadhan sesungguhnya mengajarkan kita tentang “disiplin”. Tanpa disiplin, ibadah puasa kita akan menjadi sia-sia dan hanya menyisakan rasa lapar semata, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. At-Thabrani).

Lantas, bentuk disiplin ibadah seperti apa yang harus kita tegakkan di bulan ini untuk meraih takwa?

Pertama, Disiplin Menjaga Kualitas Puasa.

Puasa bukan hanya sekadar memindahkan jam makan. Puasa adalah disiplin menahan diri dari segala hal yang membatalkan dan mengurangi pahala puasa. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita untuk mendisiplinkan anggota tubuh dari perbuatan dosa. Mata berpuasa dari pandangan maksiat, telinga berpuasa dari mendengar ghibah dan adu domba, lisan berpuasa dari berdusta dan mencaci maki.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan hausnya.” (HR. Bukhari no.1903).

Disiplin ini melatih kita untuk jujur pada diri sendiri dan sadar akan pengawasan Allah Subhaanahu Wata’ala. Jika di bulan Ramadhan kita mampu mendisiplinkan hawa nafsu yang halal (seperti makan dan minum), maka seharusnya kita lebih mampu lagi mendisiplinkan diri dari hal-hal yang haram di luar bulan Ramadhan.

Kedua, Disiplin Waktu melalui Ibadah Shalat Fardhu dan Tarawih

Ramadhan melatih kita untuk sangat menghargai waktu. Kita bangun sebelum fajar untuk sahur, menahan diri hingga waktu maghrib untuk berbuka, dan melaksanakan shalat Tarawih di malam hari. Semua memiliki waktu yang terukur.

Disiplin dalam melaksanakan shalat lima waktu berjamaah dan menghidupkan malam dengan Qiyamul Lail (Tarawih dan Witir) adalah sarana penghapus dosa yang sangat efektif. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانَا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْذنْبِه

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Momentum ini harus kita gunakan untuk memperbaiki disiplin shalat kita. Jika selama Ramadhan kita bisa tepat waktu ke masjid, maka semangat inilah yang harus menjadi karakter kita paska Ramadhan untuk meraih derajat takwa.

Ketiga, Disiplin Berinteraksi dengan Al-Quran.

Bulan Ramadhan adalah Syahrul Quran, bulan diturunkannya Al-Quran. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Para salafus shalih memberikan teladan luar biasa dalam disiplin membaca Al-Quran di bulan ini. Imam Syafi’i rahimahullah bahkan dikisahkan mengkhatamkan Al-Quran hingga 60 kali selama Ramadhan. Kita mungkin tidak sanggup sebanyak itu, namun kita harus memiliki target disiplin. Misalnya, One Day One Juz (satu hari satu juz).

Kedekatan dengan Al-Quran akan melembutkan hati yang keras dan menerangi jiwa yang gelap. Orang yang bertakwa adalah orang yang menjadikan Al-Quran sebagai imam dalam setiap langkah hidupnya.

Keempat, Disiplin Sosial melalui  Infak, dan Sedekah.

Takwa tidak hanya hubungan kepada Allah Ta’ala, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Rasa lapar yang kita rasakan saat berpuasa seharusnya menumbuhkan empati kepada saudara-saudara kita yang kelaparan bukan karena puasa, melainkan karena ketiadaan makanan.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi saat berada di bulan Ramadhan bagaikan angin yang berhembus. Disiplin menyisihkan sebagian harta di bulan ini melatih kita untuk tidak cinta dunia berlebihan dan membersihkan jiwa dari sifat kikir.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Jika keempat disiplin ini—disiplin menahan nafsu, disiplin waktu shalat, disiplin membaca Al-Quran, dan disiplin berbagi harta—kita jalankan dengan sungguh-sungguh dan *istiqamah* selama satu bulan penuh, insya Allah karakter takwa akan terbentuk dalam diri kita.

Takwa inilah yang akan menjadi bekal terbaik kita saat menghadap Allah Ta’ala. Marilah kita manfaatkan hari-hari di bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan ia berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas kebaikan pada jiwa kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا، وَقِيَامَنَا، وَرُكُوعَنَا، وَسُجُودَنَا، وَتِلَاوَتَنَا، وَسَائِرَ أَعْمَالِنَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعُتَقَاءِ مِنْ النَّارِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْكَرِيمِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

donatur-tetap

Wanita di Bulan Ramadhan

0

Ramadan bagi wanita bukanlah sekadar perlombaan jumlah rakaat atau banyaknya bacaan ayat, melainkan tentang ketulusan pelayanan (khidmah) dan ketaatan. Islam adalah agama yang adil; setiap butir nasi yang disiapkan dan setiap peluh yang menetes saat melayani keluarga tidaklah sia-sia. Hal itu adalah sedekah yang bernilai tinggi di sisi Allah.

Bahkan, bagi wanita yang sedang uzur syar’i (haid/nifas), kepatuhan mereka untuk tidak salat dan tidak puasa adalah bentuk ibadah dalam ketaatan. Ia tidak sedang “libur” beribadah, melainkan sedang beribadah dengan cara menaati dan ridho terhadap ketetapan Allah atas fitrah dirinya.

Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira yang sangat memudahkan jalan wanita menuju surga melalui sabda beliau:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita melaksanakan salat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadannya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad no. 1661, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 660)

Kemuliaan Melayani Orang yang Berpuasa

Menyiapkan sahur dan berbuka bukan sekadar pekerjaan dapur yang melelahkan. Di balik aktivitas itu, tersimpan pahala besar dari Allah ﷻ. Seorang wanita yang menyiapkan makanan untuk suami, anak, atau keluarganya yang berpuasa, sejatinya sedang meraih pahala yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا»

“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746)

Hadits ini menunjukkan bahwa melayani orang yang berpuasa adalah ibadah yang besar nilainya. Maka jangan merasa tertinggal dari ketaatan ketika sibuk di dapur. Niatkan semua sebagai ibadah, karena setiap tenaga dan waktu yang dikeluarkan bisa bernilai pahala di sisi Allah.

Ibadah Wanita Saat Masa Haid atau Nifas

Bagi seorang Muslimah, datangnya siklus bulanan (haid) atau masa nifas di tengah Ramadan seringkali mendatangkan rasa sedih karena merasa “terputus” dari ibadah. Namun, keyakinan ini perlu diluruskan. Berhenti salat dan puasa saat haid adalah bentuk imtitsalul amr, yakni menjalankan perintah Allah dengan penuh keridhoan untuk tidak beribadah dalam keadaan tersebut.

Rasulullah ﷺ pernah menenangkan Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menangis karena haid saat melaksanakan ibadah haji dengan bersabda:

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

“Sesungguhnya (haid) ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan bagi putri-putri Adam.” (HR. Bukhari no. 5549)

Amalan Pengganti yang Tetap Bisa Dilakukan

Meski tidak melaksanakan salat dan puasa karena uzur syar’i, pintu amal sholeh tetap terbuka lebar bagi wanita untuk meraih kemuliaan Ramadan melalui amalan-amalan berikut:

1. Perbanyak do’a dan dzikir (mengingat Allah): Membasahi lisan dengan tasbih, tahmid, tahlil dan iringi dengan doa di sela kewajiban rumah.

لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Hendaklah lidahmu senantiasa basah dengan zikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375, dan Ibnu Majah no. 3793).

2. Tetap menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an melalui mendengarkan murattal, baik saat beristirahat maupun ketika aktivitas ringan. Dengan demikian, hati tetap terhubung dengan Al Quran dan suasana Ramadan tetap terasa.

3. Memperbanyak Istighfar dan Taubat meminta ampunan kepada Allah di setiap waktu luang. Istighfar adalah kunci ketenangan hati dan penggugur dosa yang sangat dianjurkan bagi wanita.

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (memohon ampunan)…” (HR. Muslim no 79, Ibnu Majah no. 4003, Abu Dawud no. 4679, Ahmad no. 5343, semuanya dengan sedikit perbedaan redaksi)

4. Menjaga Lisan dan Hati, Walaupun tidak sedang berpuasa, menjaga lisan dan hati tetap menjadi ibadah besar di bulan Ramadan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Tantangan wanita sering muncul saat lelah mengurus rumah: mudah mengeluh, terpancing emosi, atau terjatuh dalam ghibah. Karena itu, Ramadan menjadi momentum terbaik untuk melatih kesabaran dan pengendalian diri.

Manajemen Waktu: Antara Pekerjaan Rumah dan Ibadah

Bulan Ramadan sering membuat seorang wanita semakin sibuk. Aktivitas dapur bertambah, kebutuhan keluarga meningkat, dan waktu terasa cepat berlalu. Jika tidak pandai mengatur waktu, Ramadan bisa habis untuk urusan rumah, sementara ibadah pribadi terabaikan.

Padahal, mengurus keluarga dan beribadah tidak perlu dipisahkan. Keduanya bisa berjalan bersama. Yang dibutuhkan adalah pengaturan waktu yang baik agar rumah tangga tetap terurus dan ibadah tetap terjaga.

  1. Luruskan Niat dalam Setiap Aktivitas: Pekerjaan rumah tangga bukan sekadar rutinitas, melainkan ladang pahala jika diniatkan untuk mencari rida Allah. Memasak dan membersihkan rumah agar keluarga nyaman beribadah adalah amal saleh yang nyata.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 & Muslim no. 1907)

  1. Gabungkan Ibadah dengan Aktivitas Rumah: Kesibukan di dapur tidak menghalangi lisan untuk terus berzikir. Manfaatkan waktu mencuci atau memasak untuk memperberat timbangan amal dengan kalimat yang dicintai Allah.

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallah wa bihamdih, Subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari no. 6406 & Muslim no. 2694)

  1. Sederhana dalam Hidangan: Kesederhanaan dan tidak berlebihan dalam menyajikan menu berbuka membantu menjaga tenaga dan menghemat waktu agar tidak habis hanya di dapur. Contohlah kesederhanaan Rasulullah ﷺ saat berbuka.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa butir kurma basah (ruthab) sebelum melaksanakan salat. Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan beberapa butir kurma kering (tamr). Dan jika tidak ada kurma kering, beliau meminum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud No. 2356 dan HR. Tirmidzi No. 696)

  1. Libatkan Anggota Keluarga: Mengurus rumah di bulan Ramadan bukan beban satu orang. Meminta bantuan anggota keluarga adalah bagian dari menghidupkan sunnah Nabi dalam tolong-menolong di dalam rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ

 ‘Beliau (Rasulullah ﷺ) biasa membantu pekerjaan keluarganya’.” (HR. Bukhari no. 676 dan At Tirmidzi no. 2489)

Sebagai penutup, sadarilah bahwa kemuliaan Ramadan tidak hanya diukur dari banyaknya rakaat salat atau lembar tilawah. Ramadan adalah madrasah keikhlasan. Allah Ta’ala melihat ketulusan hati setiap Muslimah—baik saat sedang bersujud, saat ridho menerima uzur syar’i, maupun saat bersusah payah melayani keluarga.

Jangan merasa kehilangan kemuliaan hanya karena kesibukan rumah atau keterbatasan biologis. Jika setiap lelah diniatkan karena Allah dan lisan tetap basah dengan zikir, maka setiap detik rutinitas adalah ibadah. Semoga seluruh usaha tersebut menjadi pemberat timbangan amal di akhirat, serta menjadi tiket menuju pintu surga mana saja yang disukai.

Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc

donatur-tetap

Jangan Santai Meskipun Setan Dirantai

0

Datangnya bulan ramadhan adalah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Karena ia adalah bulan yang penuh ampunan dan penuh dengan pelbagai kebaikan.

Namun walaupun pintu-pintu kebaikan terbuka lebar dibulan ini kita masih sering merasa heran, kenapa kemaksiatan tetaplah banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin ? Bukankah setan dibelenggu dan dirantai di bulan ini ?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari)

Anda Tahu kenapa ? Karena saat setan dirangtai dan dibelenggu, hawa nafsulah yang menghasud manusia untuk berbuat maksiat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Robbku…” (Yusuf: 53)

Maka boleh jadi setan tidak menggoda, namun hawa nafsu manusialah yang mengajak untuk berbuat maksiat sehingga walaupun di bulan ramadhan tetap ada yang berbuat kemaksiatan.

Disisi lain yang menjadikan kemaksiatan tetaplah ada walaupun sudah memasuki bulan ramadhan adalah bisa jadi kemaksiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan seseorang, sebagai contoh adalah seorang wanita yang kebiasaanya adalah keluar rumah tidak memakai jilbab maka ketika ramadhan tiba tidak semerta-merta dia akan mengenakan jilbab karena itu sudah menjadi kebiasaan..

Karena sesuatu yang menjadi kebiasaan itu menjadi seperti watak yang tentunya sulit untuk dihilangkan dengan seketika waktu.

Sebagaimana Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitabnya Iqtidha Sirath Al-Mustaqim :

العَادَةُ طَابِعَةٌ ثَانِيَة

“Kebiasaan itu adalah watak kedua (setelah watak asli).”

Maka dari itu setelah Allah Ta’ala kurangi satu sebab kemaksiatan seorang hamba denga dirantainnya setan, maka sepatutnya kita hilangkan pula sebab-sebab lainnya baik itu dengan menjaga hawa nafsu ataupun juga meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita, sehingga kita dapat benar-benar memaksimalkan keberkahan bulan ramadhan ini.

Dan akhir kata.. Semoga pada bulan ramadhan ini kita dapat berbenah dan menjadi pribadi muslim yang apik nan taat kepada Robb semesta, dan semoga Allah mudahkan kita untuk mampu menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan kedurhakaan di bulan ini dan hari-hari yang akan kita lewati disisa umur kita.

donatur-tetap