Surat Al-Ikhlas adalah surat yang pendek dan semua kaum muslimin pasti hafal, sering diulang-ulang, surat yang sangat agung maknanya meskipun hanya empat ayat, surat yang seharusnya umat islam ini bersatu di atasnya.
Surat Al-Ikhlas adalah surat yang menceritakan tentang diri Allah sendiri, dari keesaan-Nya, kesempurnaan-Nya, dan peniadaan selain-Nya yang sekufu (setara) dengan-Nya baik segi dzat, shifat maupun perbuatan. Berbicara tentang kemurnian tauhid, dan juga bantahan untuk kelompok yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan keturunan seperti kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin Arab dahulu.
Mari pada tulisan kali ini kita lanjutkan Tadabbur surat al-Ikhlas
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
اللَّهُ الصَّمَدُ
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
(لم يلد و لم يولد)
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Dalam artikel sebelumnya dijelaskan bahwa ayat ini menjadi bantahan terhadap tiga golongan, yaitu: Yahudi, Nashoro, dan Musyrikun. Mereka semua menganggap bahwa Allah ta’ala mempunyai anak. Allah maha suci dari apa yang mereka anggap dan mereka yakini.
Dalam surat maryam Allah menginformasikan perihal keadaan langit, bumi dan gunung-gunung ketika mereka mendengar perkataan sebagian manusia yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak, Allah berfirman:
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا (88) لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا
“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. (QS. Maryam: 88-92)
Nabi Muhammad ‘alaihis sholatu was salam menyatakan dalam hadits qudsi yang dibawakan oleh sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللهُ: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لَا أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا
“dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Anak Adam (manusia) telah mengatakan kebohongan tentang Aku padahal ia tidak berhak melakukannya. Ia juga mencela-Ku, padahal ia tidak berhak melakukannya. Kebohongan yang ia perbuat tentang-Ku adalah ia menganggap Aku tidak mampu menghidupkannya kembali sebagaimana sebelumnya. Adapun celaannya kepada-Ku, yaitu ia mengatakan bahwa Aku mempunyai anak. Mahasuci Aku, sama sekali Aku tidak memiliki istri dan juga anak’.” (H.R. Bukhari)
Allah maha sempurna (غني عن العلمين) tidak butuh apapun dan tidak butuh bantuan dari siapapun, Dia pencipta alam semesta dan apa saja yang ada padanya, Dia yang ada tanpa ada yang mengadakan.
(ولم يكن له كفوا أحد) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.
Tidak ada yang serupa dengan Allah, tidak satupun selain Dia yang setara denganNya, karena selainNya adalah makhluk ciptaan Allah.
Imam ibnu Katsir rohimahullah menyatakan dalam tafsirnya: “Dia adalah raja diraja dari segala yang ada dan penciptanya, maka bagaimana ada sekutu bagiNya atau semisal denganNya ?!, maha tinggi dan maha suci bagi Allah subhanahu wa ta’ala.
Ayat di atas senada dengan firman Allah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan maha Melihat”. (QS Asy-Syuro: 11)
Ibnu Sa’di rohimahullah berkata dalam tafsirnya: “Tidak ada sekutu dan semisal dengan Allah, baik dari dzat, nama, sifat maupun perbuatanNya, sungguh semua namaNya husna (puncak keindahan dan baik), sifatNya sempurna dan agung, dengan perbuatanNya Dia menciptakan semua makhluk tanpa sekutu yang membantuNya, maka tidak ada yang semisal dengan Allah dikarenakan keesaanNya dalam kesempurnaan dari segala segi”.
Pelajaran amaliyah dari surat Al-Ikhlas ini adalah seorang muslim wajib bersungguh-sungguh dalam mengenal Allah, dan wajib berlandaskan keikhlasan kerena Allah semata dalam ketaatan peribadahan kepadaNya, semakin mengenal Allah maka semakin ikhlas dalam beribadah dan semakin mendekat kepadaNya.
Semoga Allah senantiasa memberikan ramatNya kepada penulis dan pembaca. Aamiin.
Referensi:
- Tafsir ibnu Katsir
- Tafsir ibnu Sa’di
- tadabbur-alquran.com
- taftaq.com
Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A
Artikel: HamalatulQuran.Com








