Home Artikel Selektif dalam Memilih Guru Serta Jauhi Ahli Bid’ah

Selektif dalam Memilih Guru Serta Jauhi Ahli Bid’ah

491
0

Dalam menuntut ilmu, guru menjagi salah satu komponen utama dalam keberhasial seorang murid meraih kesuksesan. Oleh karenanya seorang penuntut ilmu haruslah bijak dalam memilih guru, terutama guru dalam mempelajari dan mendalami ilmu agama ini. Karena ilmu agamalahyang akan membawa kesuksesan yang hakiki di akherat nanti.

Para ulama telah memberikan peringatan kepada kita semua bahwa ilmu agama ini tidaklah dituntut dan diambil secara sembarangan kepada setiap orang tanpa seleksi atau memilih terlebih dahulu. Hal ini tercermin dalam pesan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhuma,

يَا بن عُمَر دِيْنُكَ دِيْنُكَ انَّمَا هُوَ لَحْمكَ وَدَمكَ فَانْظُر عَمَّنْ تَأْخُذ، خُذْ عَن الذِيْنَ اسْتَقَامُوْا وَلَا تَأْخُذ عَن الذِيْنَ مَالُوا

“Wahai Ibnu Umar, agamamu! agamamu! Ia adalah darah dan dagingmu. Maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqamah (terhadap sunnah), dan jangan ambil dari orang-orang yang melenceng (dari sunnah).” (Al Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah hlm. 81)

Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

أنْظُر عَمَّنْ تَأْخُذُوْن هَذا العِلْم فَإِنَّمَا هُوَ دِيْنٌ

“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama.” (Mauqif Ahli Sunnah wal Jamaah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ hlm. 686)

Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian”, Beliau juga berkata: “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka tatkala terjadi fitnah mereka mengatakan: sebutkan kepada kami sanad kalian, sehingga mereka melihat kepada Ahlussunnah lalu mereka menerima haditsnya dan melihat kepada ahlul bid’ah lalu menolak haditsnya.”

Dari perkataan di atas kita dapatkan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta para shahabat dan tabi’in agar kita mengambil ilmu dari orang yang alim, ‘adil (terpercaya dalam agamanya) dan istiqamah, serta melarang mengambil ilmu dari orang-orang jahil dan fasiq.

Imam Malik rahimahullah berkata :

لَا يُؤْخَذُ الْعِلْمَ عَنْ أَرْبَعَة: سَفِيْهٍ مُعْلِن السَّفَهِ, وَصَاحِبِ هَوَى يَدْعُوْ إِلَيْهِ وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالكَذِبِ فِي أَحَادِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لَا يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلَاحٌ لَا يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, (3) Orangyang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadits yang dia sampaikaan.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilmi hlm. 348)

 

Jangan Jadikan Ahli Bidah Sebagai Guru

Imam Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan ghibah yang dibolehkan: “Di antaranya adalah jika seseorang melihat ada penuntut ilmu sering mengambil ilmu dari ahli bid’ah atau orang fasik, dan dia khawatir hal itu akan membahayakan penuntut ilmu tersebut, maka dia wajib menasihatinya, dengan menjelaskan keadaan (guru) nya, dengan syarat dia berniat menasihati.” (Al-Minhaj 16/143)

Mahmud Muhammad Khatib As-Subki dalam Fatawa Aimmatil Muslimin menyambahkan bahwa,

نقل الإجماع على عدم جواز أخذ العلم عن أهل البدع

“Seluruh Imam mujtahidin telah sepakat, bahwa tidak boleh mengambil ilmu dari ahli bidah.”

Syaikh Ibrahim Ar-ruhaili hafidhahullah menjelaskan maksud pernyatana para ulama akan tidak bolehnya mengambil ilmu dari ahli bid’ah, yaitu

  1. Menjaga penuntut ilmu dari kerusakan akidah, karena terpengaruh dengan perkataan dan perbuatan ahli bid,ah.
  2. Memboikot (mengisolir) ahli bi’dah yang menyerukan bid’ahnya, dengan niat mencegah dan menghentikan mereka dari bid’ah.

Larangan ini berlaku saat situasi memungkinkan. Adapun dalam keadaan terpaksa boleh belajar kepada ahli bid’ah dengan tetap waspada dari kesesatan mereka.

Kita seharusnya tidak hanya mencukupkan diri dengan satu guru saja, karena ilmu itu sangat luas, sampai-sampa Hammad bin Zaid rahimahullah berkata,

إنك لا تعرف خطأ معلمك حتى تجالس غيره

“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui kesalahan gurumu sampai engkau berguru dengan yang lain” (Jamiul Bayan ‘Ilm wa Fadhlihi 1/414)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa mudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu, serta anugrahkan kepada kita guru-guru yang baik dan lurus agamanya.

 

Referensi:

  • Kilauan Mutiara Ilmu dan Ulama, karya Ali Ahmad bin Umar
  • Mauqif Ahli Sunnah wal Jamaah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, karya Syaikh Ibrahim Ar-ruhaili
Previous article3 Santri Berhasil Simakkan Hafalan Al-Qur’an 30 Juz Dalam Dua Hari
Next articleJangan Bersedih (Dampak Negatif Larut dalam Kesedihan)
Pengajar di Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta. Alumni Universitas Islam Madinah, Fakultas Syariah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here