Home Artikel Jangan Bersedih (Dampak Negatif Larut dalam Kesedihan)

Jangan Bersedih (Dampak Negatif Larut dalam Kesedihan)

1078
0

Kehidupan di dunia ini bagaikan roda yang terus berputar, sedih bahagia, suka duka, tangis tawa, semua berputar di sekeliling anak adam.

Ketika bahagia menghampiri bersyukurlah kepada Allah Ta’ala, Ketika ditimpa kesedihan dan kesusahan, maka bersabarlah dan jangan sampai larut dalam kesedihan dan kesusahan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengingatkan umatnya agar memohon perlindungan kepada Allah dari kesedihan dan kesusahan. Beliau mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdo’a,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas.” (HR. Bukhari no. 6363)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajari kita doa agar terhindar dari kesedihan yang mendalam, karena kesedihan dan kegalauan yang berlarut-larut dan mendalam itu emberikan dampak negatif dalam kehidupan seorang muslim.

 

Dampak Negatif Larut dalam Kesedihan

Syaikh Yusuf bin Utsman Al Huzaim hafidhahullah dalam kitab Syarh Al Wasail Mufidah lil Hayati As Saidah beliau berkata,

“Sesunguhnya orang yang sibuk dengan kesusahannya, larut dalam kesedihanya, larut dalam kegelisahan dan kecemasannya. Maka ia akan kehilangan banyak hal dan tidak memiliki kemampuan melakukan 5 hal

  1. Tidak mampu berperan dan beraktifitas. Maka ia sibuk memikirkan kesusahannya, pikirannya pecah kemana-mana Bahkan ia butuh peran dan belas kasih dari orang lain.
  2. Tidak mampu melakukan hal-hal yang beresiko dan hal-hal yang butuh keberanian serta hal yang harus segera dikerjakan, dan ia merasa lemah kemampuan dan lemah kemauan. Padahal kemauan dan kemampuan adalah kunci ada dan terwujudnya sebuah aktifitas atau sebuah amalan.
  3. Tidak bisa tersenyum, seandainya tersenyum bukan senyum lepas bahkan mungkin senyum kecut. Tidak pula bisa bahagia karena ia amatlah sedih. Ia tidak merasakan kenimatan dalam berbagai hal dalam hidupnya meskipun betapa nikmatnya hal tersebut.
  4. Tidak memiliki optimis, karena ia berpandangan bahwa musibah itu pasti akan menimpanya, dan ia berpandangan aka ada kesusahan hidup yang bertubi tubi, dan ia merasa itu adalah taqdir yang pasti akan menimpa dirinya, maka dalam pikiran orang tersebut tidak ada ruang untuk berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, bahkan berbaik sangka dengan dirinya sendiri pun tidak ada.
  5. Tidak bisa berkarya, masalah kecil dan remeh dalam hidupnya seakan menjadi besar dan melilitnya dari berbagai arah. Dia hidup dalam khayalan dan angan-angan, padahal hal tersebut tidak berdampak nyata kecuali maksimal hanya 15% saja.”

Seorang ahli santra ternama yang bernama Mustofa Shadiq rahimahullah berkata,

أهم أسباب الفشل والشقاوة هي ثلاثة: العجز، ضعف الهمة، اضطراب الرأي

“Pokok penyebab kegagalan dan kesengsaranan (hidup) adalah tiga hal, ketidak mampuan, lemahnya cita-cita dan tidak bisa mengambil keputusan (pikirannya goncang).”

Sungguh kesedihan yang mendalam pada diri amatlah sering membuat seseorang tersebut tidak mampu melakukan berbagai hal, membuat dirinya lemah dalam meraih cita-cita serta membuat dirinya tidak bisa mengambil keputusan akan hal-hal yang ia hadapi.

 

Referensi:

Syarh Al-Wasail Mufidah lil Hayati As-Saidah, karya syaikh Yusuf bin Utsman Al Huzaim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here