Home Blog Page 4

Serial Keutamaan Surat dan Ayat: Al-Baqarah Bag.1

0

Surat Al-Baqarah merupakan surat kedua dalam susunan mushaf Al-Qur’an dan sekaligus menjadi surat terpanjang. Surat ini terdiri atas 286 ayat yang tersebar dalam tiga juz. Di dalamnya terdapat ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yaitu ayat 282, yang dalam mushaf standar mencapai sekitar 15 baris dan membahas hutang-piutang. Selain itu, Surat Al-Baqarah juga memuat ayat-ayat yang memiliki keutamaan khusus, di antaranya Ayat Kursi serta dua ayat terakhir, yang dikenal luas karena kandungan akidah, perlindungan, dan doa yang agung bagi kaum beriman.

Kajian hadis yang membahas keutamaan Surat Al-Baqarah menunjukkan keragaman tema sekaligus variasi kualitas periwayatan. Sejumlah keutamaan surat ini bersumber dari hadis-hadis sahih yang menjadi landasan utama dan kokoh dalam penetapan fadhilahnya. Di samping itu, terdapat pula riwayat dengan sanad yang tergolong baik dan para perawi yang tsiqah, namun disertai catatan ilmiah, seperti berstatus mauquf atau berupa atsar yang sanadnya tidak bersambung secara sempurna. Selain itu, dijumpai pula hadis-hadis daif yang mengulas keutamaan Surat Al-Baqarah, yang secara metodologis tidak dapat dijadikan hujah secara mandiri, melainkan sebagai penguat hadis-hadis sahih maupun hasan.

Keutamaan Al-Baqarah Berdasarkan Hadis Sahih atau Hasan

  1. Rumah dijauhi oleh Setan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ ؛ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ “.

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim)[1]

Hadis Abu Hurairah diatas menjelaskan seorang yang membaca Al-Baqarah maka ruhamnya akan jauh dari setan. Selain menjelaskan keutamaan tersebut, nabi secara tersirat menegaskan bahwa rumah selaiknya tidak sunyi dari ibadah. Pemilik rumah haruslah menjadikan rumah juga sebagai tempat untuk beribadah didalamnya. Mengerjakan salat sunnah, membaca Al-Qur’an, kajian keluarga atau yang lainnya.

  1. Keberkahan, Syafaat dan Perlindungan

حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” اقْرَءُوا الْقُرْآنَ ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ : الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا. اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ “. قَالَ مُعَاوِيَةُ : بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ : السَّحَرَةُ

Abu Umamah al-Bahili, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari Kiamat.

Bacalah az-Zahrawain, yaitu surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua gumpalan awan, atau dua naungan besar, atau dua kelompok burung yang berbaris, membela pembacanya.

Bacalah Al-Baqarah, karena membacanya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.”

Mu’awiyah berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa ‘al-Bathalah’ adalah para tukang sihir.” (HR. Muslim)[2]

Hadis diatas menegaskan secara eksplisit kedudukan Al-Qur’an sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk membaca Al-Qur’an, dengan penegasan bahwa interaksi aktif dengan Al-Qur’an di dunia akan berbuah pembelaan dan pertolongan di akhirat. Pernyataan ini menjadi fondasi teologis bagi pemahaman bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah ritual, melainkan investasi eskatologis yang berimplikasi langsung pada keselamatan akhirat.

Keutamaan tersebut dipertegas secara khusus melalui anjuran membaca az-Zahrawain yaitu surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran. Kedua surat ini digambarkan akan datang pada hari Kiamat dalam bentuk yang memberikan perlindungan nyata kepada pembacanya, seperti dua gumpalan awan, dua naungan besar, atau dua kelompok burung yang berbaris dan membentangkan sayap. Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan bahwa pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an beserta parakar yang telah beramal dengannya. Surat yang pertama didatangkan adalah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran yang akan menjadi dua tumpuk awan tebal ditengah-tengahnya ada cahaya, atau seperti burung yang hendak membela pembacanya.[3]

Metafora ini menunjukkan fungsi protektif dan pembelaan aktif dari kedua surat tersebut, sekaligus menegaskan posisi istimewa Al-Baqarah dan Ali ‘Imran dibandingkan surat-surat lainnya.

  1. Pahala Bacaan Dikonkritkan sebagai Lelaki Pucat

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : ” تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ “. ثُمَّ سَكَتَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ : ” تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ ؛ فَإِنَّهُمَا الزَّهْرَاوَانِ ، وَإِنَّهُمَا تُظِلَّانِ صَاحِبَهُمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ غَيَايَتَانِ ، أَوْ فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ ، وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ، فَيَقُولُ لَهُ : هَلْ تَعْرِفُنِي ؟ فَيَقُولُ : مَا أَعْرِفُكَ. فَيَقُولُ : أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ، وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ، وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ، وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ. فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يُقَوَّمُ لَهُمَا الدُّنْيَا، فَيَقُولَانِ : بِمَ كُسِينَا هَذَا ؟ فَيُقَالُ لَهُمَا : بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ. ثُمَّ يُقَالُ لَهُ : اقْرَأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجِ الْجَنَّةِ وَغُرَفِهَا. فَهُوَ فِي صُعُودٍ مَا دَامَ يَقْرَأُ هَذًّا كَانَ أَوْ تَرْتِيلًا “

Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ia berkata, Aku pernah duduk di sebelah Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam, aku mendengar beliau bersabda, “Pelajarilah surah Al-Baqarah sebab mempelajarinya adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah kerugian. Para penyihir tidak mampu mengalahkannya.”

Kemudian beliau diam sesaat, lalu bersabda, “Pelajarilah surah Al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran, sesungguhnya kedua surat itu dinamakan ‘az zahrawan’ dan kedua surat itu juga akan menaungi pembacanya pada hari kiamat. Seakan-akan kedua surat itu seperti dua buah awan atau dua benda yang biasa menaungi manusia atau dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya.

Sesungguhnya Al-Qur’an akan menemui pembacanya pada hari kiamat ketika kubur terbelah seperti seorang laki-laki pucat karena takut. Ia berkata kepada pembacanya; Apakah engkau mengenalku? Ia menjawab, Aku tidak mengenalmu. Ia berkata, Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang menghilangkan haus pada siang hari yang panas dan membuatmu begadang di malam hari.

Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapatkan laba dari perdagangannya. Sesungguhnya hari ini engkau mendapatkan pahala dari setiap perdagangan (yang telah engkau lakukan).

Lalu kerajaan diberikan di tangan kanan pembaca Al-Qur’an itu dan keabadian di tangan kirinya, serta diletakkan mahkota ketenangan di kepalanya. Sementara kedua orang tuanya diberi dua perhiasan yang tidak ternilai harganya di dunia. Kedua orang tuanya berkata, Karena apa kami diberi perhiasan ini? Dikatakan kepada keduanya; Karena anak kalian mempelajari Al-Qur’an.

Kemudian dikatakan kepadanya; Bacalah dan naiklah ke tangga-tangga surga dan kamar-kamarnya. Maka ia pun terus naik selama ia membaca, baik secara cepat maupun secara lambat.” (HR. Ad-Darmi)[4]

Hadis riwayat Ad-Darimi tersebut tidak hanya menyebutkan keutamaan surat Al-Baqarah sebagai keberkahan, perlindungan dari sihir serta syafaat kelak di hari kimamat. Nabi menvisualkan syafaat tersebut tidak hanya seperti awan, burung namun juga beliau jelaskan menjadi seperti lelaki yang akan menemani pembacanya di hari kiamat.

Kemudian disebutkan pula keutamaan membaca dan mengamalkan Al-Quran secara global bahwa akan diberikan kepada pembacanya mahkota begitu pula kepada kedua orang tuanya. Serta derajat di surga akan naik sejauh bacaan yang dia miliki.

[1] HR. Muslim no. 780, At-Tirmidzi no. 2877 dan Ahmad

[2] HR. Muslim no. 804, At-Tirmidzi no. 2883 dan Ahmad

[3] HR. Muslim no. 805

[4] HR. Ad-Darimi no. 3434 dikatakan sanadnya hasan

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Bersaing dalam Kebaikan: Menghafal Al-Quran adalah Ibadah Terbaik

0

Saudaraku seiman yang semoga senantiasa Allah rahmati, perhatikanlah betapa agungnya Allah dalam menciptakan makhluk-Nya. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Adam ‘Alaihissalam, Dia memerintahkan seluruh malaikat untuk bersujud hormat kepadanya. Namun, ada satu keistimewaan yang Allah berikan secara khusus kepada Nabi Adam, yaitu Allah “Mengajarkan kepada Adam Asma’ (nama-nama) semuanya” (Surah Al-Baqarah: 31).

Inilah modal utama yaitu: ilmu. Dalam Islam, tidak ada ibadah yang lebih agung selain menimba ilmu syar’i, khususnya ilmu Al-Qur’an. Di antara bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah adalah menjadi Hafidzul Qur’an (penjaga Al-Qur’an).

Tapi, seringkali kita bertanya: mengapa harus bersaing? Bukankah Islam mengajarkan kompetisi? Benar. Islam memang mengajarkan kompetisi, namun bukan kompetisi harta, jabatan, atau hiasan duniawi. Melainkan kompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Allah berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Di antara lomba kebaikan yang paling utama adalah berlomba menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Mengapa dikatakan sebagai ibadah terbaik? Mari kita bedah satu per satu dengan hujjah dan dalil yang shahih.

1. Al-Qur’an: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Untuk memahami mengapa menghafal Al-Qur’an adalah ibadah terbaik, kita harus terlebih dahulu memahami martabat Al-Qur’an di sisi Allah.

Al-Qur’an bukanlah buku biasa. Ia adalah Kalamullah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang keutamaan Al-Qur’an:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga (khusus) dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapa mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah Ahlul Qur’an (para penghafal Al-Qur’an), mereka adalah keluarga Allah dan kaum-Nya yang khusus.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani).

Bayangkan! Dikatakan “Ahlul Qur’an” (Kelurga Allah). Ini adalah taqarrub (pendekatan diri) yang luar biasa. Rasulullah bersabda dalam hadits Qudsi yang menerangkan apa yang Allah firmankan:

وَمَا تَعَرَّضَ لِعِبَادَتِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْقُرْآنِ

“Dan tidaklah seseorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya (sholat), dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari).

Di dalam hadits ini, Al-Qur’an disebutkan sebagai sarana mendekatkan diri yang paling utama setelah shalat fardhu.

2. Menghafal Al-Qur’an adalah Ibadah Badaniyah (Fisik) yang Menyeluruh

Menghafal Al-Qur’an bukan hanya ibadah hati dan lisan, tetapi juga melibatkan fisik. Mengapa ini istimewa?

Lisan: Terus menerus membaca ayat-ayat Allah.
Telinga: Memperhatikan bacaan sendiri atau guru.
Hati: Menghafal dan merenungkannya.

Allah berfirman menggambarkan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh:

وَيَتْلُونَ آيَاتِهِ وَيَزَكُّونَهَا وَيُؤْمِنُونَ بِهِ

“Dan mereka membaca ayat-ayat-Nya dengan tartil (seksama), mensucikan jiwa mereka dengan Al-Qur’an, dan mereka beriman kepadanya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dalam tafsiran para ulama, kata “yuzakkunahā” (mensucikannya) bermakna mereka memurnikan bacaan mereka dan mempraktikkan hukum-hukumnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا

“Dikatakan kepada pemilik Al-Qur’an (penghafalnya): ‘Bacalah dan naiklah (derajatmu), dan tartilkanlah (baca dengan indah) sebagaimana engkau membaca di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu di sisi Allah adalah pada ayat terakhir yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani).

Sungguh, sebuah janji yang menggetarkan hati. Naiknya derajat di akhirat nanti disesuaikan dengan ayat terakhir yang dibaca. Bayangkan jika kita menghafal seluruh Al-Qur’an dan membacanya setiap malam, maka akhir bacaan kita pada suatu malam adalah surat Al-Ikhlas, dan pada malam berikutnya surat An-Nas, maka itulah kedudukan kita.

3. Kisah Para Sahabat: Cinta yang Tulus Kepada Al-Qur’an

Untuk memahami semangat ini, kita harus melihat contoh nyata dari generasi terbaik.

Kisah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu: Sahabat ini adalah salah satu guru besar Al-Qur’an. Ketika beliau masih muda, ia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat.” Lalu, ia sering mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca Al-Qur’an. Ia pun mendekat dan mulai menghafalnya dengan sungguh-sungguh hingga menjadi mu’adzin pertama di sisi Nabi.

Ada kisah menarik ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu menasehati putranya, Abdullah bin Umar, agar memperbanyak menghafal Al-Qur’an. Umar berkata: “Hai anakku, pelajarilah Al-Qur’an. Karena ia adalah kemuliaan bagimu di dunia dan akhirat.”

Kisah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu: Anas menceritakan: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مِنْ حَفِظَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَهْدِيَ مِائَةَ فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Barangsiapa yang menghafal satu ayat dari Kitab Allah, maka itu lebih baik baginya daripada memberi sedekah seratus ekor kuda yang dijejakkan di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bayangkan! Satu ayat saja lebih baik daripada sedekah 100 ekor kuda. Apalagi jika satu Juz, atau 30 Juz penuh!

Para Tabiin pun mengikuti jejak ini. Sebutlah Sa’id bin Jubair, Al-Hajjaj bin Yusuf, Ath-Thauri, Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Mereka adalah para hafidz Qur’an yang mengorbankan tidur dan waktunya hanya untuk menghafal dan memahami Al-Qur’an.

4. Fungsi Menghafal: Obat dan Pelita Hati

Kita hidup di zaman yang penuh dengan godaan. Gadget, media sosial, dan hiburan malam menyita perhatian. Hati menjadi keras dan lupa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَوَ مَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Apakah orang yang dahulunya mati lalu Kami hidupkan dia dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya di dalam kegelapan yang dia tidak dapat keluar daripadanya?” (QS. Al-An’am: 122).

Cahaya yang dimaksudkan di sini oleh para ulama, di antaranya adalah Al-Qur’an. Ketika seseorang menghafal Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjadi cahaya baginya di dalam rumahnya, di jalanan, dan di kuburnya nanti.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ… وَمَثَلُ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah (jeruk/pokak), rasanya enak dan baunya harum… Sedangkan perumpamaan orang yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Tamr (kurma), rasanya enak tetapi tidak ada baunya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sungguh, kita tidak mau menjadi seperti kurma yang enak (mungkin baik secara fisik/ibadah umum) tetapi tidak memiliki aroma wangi Al-Qur’an. Menghafal adalah proses menjadikan hati ini beraroma harum.

5. Pahala Menghafal: Tidak Terputus Meski Tiada Amalan

Salah satu keistimewaan terbesar menghafal Al-Qur’an adalah pahalanya yang istiqomah (terus mengalir).

Bayangkan, seseorang shalat malam (Qiyamullail), pahalanya terputus ketika ia tidur. Orang berpuasa, pahalanya terputus ketika ia makan (di luar puasa wajib). Orang bersedekah, harta yang disedekahkan habis.

Tapi, pahala menghafal Al-Qur’an?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يُتْوَى بِالْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ فِي قُبُورِهِمْ… فَيَقُولُ: أَنَا الْقُرْآنُ أَنَا الْفُرْقَانُ أَنَا الْمُنِيرُ أَنَا الشَّافِعِي الْيَوْمَ

“Al-Qur’an dan Ahlul Qur’an akan didatangkan ke dalam kubur-kubur mereka pada malam Jumat… Maka Al-Qur’an akan berkata: ‘Aku adalah Al-Qur’an, aku adalah Furqan (pembeda), aku adalah penerang. Aku yang akan menjadi pemberi syafa’at hari ini…” (HR. Al-Baihaqi, Ibnu Hibban).

Dan sabda beliau:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Maka, orang yang hafidzul Qur’an dan mengajarkannya di pesantren, masjid, atau kepada anak-anaknya, ia mendapat pahala terus menerus. Meskipun ia sedang tidur, sedang makan, atau sedang bekerja, muridnya yang membaca Al-Qur’an akan mengalirkan pahala kepadanya (sesuai dengan hadits tentang orang yang mati dan amalannya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya ilmu yang bermanfaat).

6. Tantangan Saat Ini & Bagaimana Memulainya?

Di akhir zaman ini, musuh-musuh Allah berusaha keras mengalihkan perhatian generasi dari Al-Qur’an. Mereka membuat gadget yang canggih, game yang adiktif, dan tontonan yang melalaikan. Mereka tahu, bangsa yang kehilangan Al-Qur’an adalah bangsa yang lemah.

Oleh karena itu, Mari kita duduk di majelis-majelis ilmu. Jangan berbangga dengan hafalan dunia. Banggalah jika kita hafal satu surat pendek, lalu kita amalkan isinya.

Bagi yang belum bisa menghafal, mulailah dari hal yang kecil:

Niatkan karena Allah.
Pilih waktu yang mustajab, sepertiga malam terakhir atau setelah shalat Shubuh dan Ashar.
Tetapkan target harian, misalnya 5 ayat, lalu naikkan menjadi 1 halaman.
Ikuti kajian tafsir, agar hafalan tidak menjadi beban, tetapi menjadi pemahaman.

Ingatlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَنْزِلُ الْقُرْآنُ عَلَى أَهْلِهِ فِي قُبُورِهِمْ… يَأْتِيهِمْ آيَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ فَيَسْتَبْشِرُونَ بِهَا

“Al-Qur’an turun kepada Ahlul Qur’an di dalam kubur mereka… Maka datanglah kepada mereka satu ayat dari Al-Qur’an, lalu mereka bergembira karenanya…” (HR. Al-Baihaqi).

Saudaraku, tugas kita berat. Tapi pahala di baliknya sangat besar. Menghafal Al-Qur’an adalah ibadah terbaik karena ia meliputi segala sisi kehidupan: fisik, mental, spiritual, dan sosial. Ia adalah perisai dari api neraka, penolong di alam kubur, dan pemberi syafaat di hari pengadilan.

Jangan biarkan kesempatan berlalu. Jangan sampai nanti di akhirat, Al-Qur’an menjadi saksi yang menyalahkan kita karena kita telah meninggalkannya.

Marilah kita jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia kita, di kala sunyi, di kala ramai, dan di kala sepi.

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Menjaga Pandangan dan Aurat di Era Digital

0

Khutbah Pertama

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، أَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ،

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memperbanyak memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat Iman dan Islam, nikmat kesehatan, dan nikmat kesempatan untuk berkumpul di masjid yang mulia ini guna menunaikan shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang telah membawa kita dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya iman, termasuk di dalamnya memberikan petunjuk tentang bagaimana menjaga diri dari berbagai fitnah yang merusak.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita hidup di era yang disebut oleh para ahli sebagai era digital . Sebuah zaman di mana dunia berada di dalam genggaman tangan. Informasi mengalir deras tanpa henti, sosial media menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian, dan pintu-pintu hiburan terbuka lebar dengan satu ketukan jari. Kemudahan ini adalah bagian dari nikmat, namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan bahaya yang sangat besar, terutama bagi kehormatan mata (pandangan) dan kehormatan tubuh (aurat).

Mari kita duduk dengan tenang, dan renungkan bersama betapa pentingnya menjaga dua perkara fundamental ini: Hifz al-Basar (Menjaga Pandangan) dan Hifz al-Aurat (Menjaga Aurat), yang kedua-duanya sedang diuji dengan sangat berat di tengah gempuran teknologi yang serba canggih ini.

Ma’asyiral Muslimin,

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan mata manusia sebagai anugerah yang luar biasa. Melalui indera ini, kita bisa melihat indahnya ciptaan Allah, membaca Al-Qur’an, dan mengenali jalan kebenaran. Namun, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengingatkan kita bahwa pandangan mata adalah salah satu peluru syaitan yang paling berbahaya.

Dalam hadits yang sangat masyhur, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَتْبَعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّمَا لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَ لَكَ الْآخِرَةُ”

Artinya: “Janganlah kamu mengikuti pandangan yang pertama (pandangan haram yang tidak disengaja) dengan pandangan yang kedua. Karena bagimu yang pertama (diampuni), sedangkan yang kedua tidak (diampuni).” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدَّاً وَلَا يَتَجَاوَزُهُ، فَالزِّنَا بِالْعَيْنِ النَّظَرُ، وَالزِّنَا بِالْأَلْسِنَةِ الْمُنْطِقُ، وَالزِّنَا بِالْأُذُنَيْنِ السَّمَعُ، وَالزِّنَا بِالْيَدَيْنِ اللَّمْسُ، وَالزِّنَا بِالْقَدَمَيْنِ الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ”

Artinya: “Telah dituliskan bagi anak Adam bagian dari zina yang akan menimpanya. Zina mata adalah dengan pandangan, zina lisan adalah dengan bicara, zina telinga adalah dengan mendengar, zina tangan adalah dengan menyentuh, zina kaki adalah dengan berjalan (mendekati), dan hati berhasrat dan berangan-angan, sedang kemaluan yang membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadirin yang semoga senantiasa Allah rahmati,

Di era digital, bahaya pandangan ini menjadi sedemikian rupa, melebihi bayangan kita pada zaman-zaman sebelumnya. Jika dahulu untuk melihat sesuatu yang haram, seseorang harus pergi ke tempat tertentu atau menunggu momen tertentu, maka kini keharaman itu berada di dalam saku baju kita, siap muncul kapan saja ketika kita membuka gawai.

Bukankah ini ujian yang berat? Ketika kita sedang duduk di masjid menunggu adzan, atau bahkan dalam perjalanan menuju masjid, gawai berdering, notifikasi media sosial berbunyi, dan tanpa sadar pandangan kita terarah pada gambar atau video yang mengandung unsur aurat atau kemaksiatan.

Para ulama telah mensifati pandangan mata ini sebagai ‘anak panah’ syaitan. Syaitan tidak akan pernah berhenti berusaha menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam neraka melalui indera penglihatan. Syaitan memulai dengan pandangan pertama yang enteng, namun berujung pada kehancuran rumah tangga dan kemerosotan iman.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا، قَالَ: “إِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا أَنْ تَجْلِسُوا، فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ”. قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ؟ قَالَ: “غَضُّ الْبَصَرِ، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ”

Artinya: “Jauhilah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah tempat duduk kami itu adalah tempat kami duduk untuk berbincang?” Beliau menjawab: “Jika kalian terpaksa harus duduk di pinggir jalan, maka berilah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya: “Apakah hak jalan itu?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menjawab salam, menyuruh yang makruf, dan mencegah yang mungkar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa pentingnya Ghoddu Bashar (Menundukkan Pandangan). Dalam konteks digital, ini berarti kita harus memiliki filter batin dan teknis. Filter batin adalah ketakwaan, sedangkan filter teknis adalah memanage aplikasi, akun media sosial, dan lingkungan pergaulan digital kita.

Selain menjaga pandangan, menjaga aurat adalah kewajiban yang tidak kalah gentingnya. Di era digital, aurat tidak lagi hanya soal celana panjang atau jilbab menutup dada, tapi juga soal apa yang kita tayangkan di layar kaca. Apakah yang kita unggah di media sosial telah memenuhi syariat?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ…

Artinya: “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, agar mereka menjaga pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hempaskanlah khimar (penutup kepala) mereka ke atas dada mereka…” (QS. An-Nur: 31)

Dalam tafsir para ulama, “menampakkan perhiasan” ini mencakup segala bentuk keindahan yang sengaja ditampilkan untuk umum. Di era digital, ini menjadi pertanyaan krusial: Berapa banyak wanita Muslimah yang memposting foto-foto yang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya, atau bahkan berpose dengan pakaian yang tipis dan ketat, yang seharusnya tidak dilihat oleh selain mahramnya?

Tidak hanya wanita, laki-laki pun demikian. Laki-laki juga memiliki aurat yang harus dijaga. Tidak pantas seorang laki-laki memposting foto auratnya atau melakukan live streaming yang tidak mencerminkan adab seorang Muslim.

Di era digital, istilah “pamer” menjadi viral. Banyak orang berlomba-lomba mencari perhatian (validation) dengan menampilkan aurat atau keindahan tubuh. Inilah yang disebut sebagai tabarruj (menampakkan kecantikan/aurat) yang sangat dilarang dalam syariat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْيَابِ الشَّيَاطِينِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَمْثَالِ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا”

Artinya: “Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: 1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor syaitan untuk memukul manusia, dan 2) Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang (memakai pakaian tipis/terbuka), yang berjalan dengan lenggokan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak yang sangat jauh.” (HR. Muslim).

Perhatikan sabda beliau “berpakaian tetapi telanjang”. Ini sangat relevan dengan gadget. Banyak wanita di media sosial memakai pakaian, namun tipis atau ketat, atau memotong gambar sehingga aurat terlihat. Kita, para lelaki, diwajibkan untuk memejamkan mata kita dari melihat hal seperti ini. Tapi, bagaimana dengan para wanita yang mempostingnya? Mereka akan mendapatkan dosa yang berat, sebagaimana dosa orang yang menampakkan auratnya tersebut.

Kita harus paham, bahwasanya menyebarluaskan aurat di media sosial sama halnya dengan mendistribusikan kemaksiatan kepada jutaan mata yang melihatnya. Mereka yang memposting aurat akan mendapatkan dosa, dan setiap orang yang melihatnya pun berpotensi berdosa kecuali dia menundukkan pandangannya.

Ma’asyiral Muslimin, kita tidak bisa menolak kemajuan zaman. Teknologi internet adalah sarana. Sarana bisa digunakan untuk kebaikan (dakwah, ilmu, silaturahmi) atau untuk keburukan (maksiat, pornografi, gosip).

Bagaimana kita menjaga pandangan dan aurat di era digital?

Memperbanyak Ilmu (Literasi Digital): Kita wajib mempelajari apa yang boleh dan tidak boleh di dunia maya. Ulama kontemporer telah banyak membahas masalah ini. Hukum-hukum syariat yang berlaku di dunia nyata berlaku pula di dunia maya.
Muroqabah (Merasa Diawasi Allah): Kunci utamanya adalah selalu merasa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat apa yang kita lihat, apa yang kita tulis, dan apa yang kita tayangkan. Sebagaimana firman Allah:

وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَظِيمٌ * لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah kitab yang agung. Yang batil tidak datang kepadanya dari hadapan dan tidak pula dari belakangnya, sebagai wahyu dari Yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji.” (QS. Fussilat: 41-42).

Bergaul dengan Orang Shalih, Pergaulan digital juga menentukan. Jika lingkungan pertemanan di media sosial hanya berisi konten hiburan kosong dan aurat, maka hati akan keras dan gelap.

Gantilah dengan mengikuti akun-akun yang mendidik, ulama, dan aktivis kebaikan.

Bertaubat: Bagi yang telah terlanjur terjerumus, jalan taubat terbuka lebar. Allah Maha Pengampun. Taubat yang sebenar-benarnya adalah meninggalkan perbuatan tersebut, menyesalinya, dan berazam tidak akan kembali melakukannya.

Ingatlah wahai saudaraku, kematian bisa datang tanpa diundang, dan saat itu kita akan mempertanggungjawabkan setiap sudut pandangan mata dan aurat yang kita tampilkan. Jangan sampai kita mati dalam keadaan terjerumus dalam dosa zina mata dan aurat ini.

Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk menjaga diri, pandangan, dan aurat kita, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

أَلْحَمْدُ لِلهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَاجْتَنِبُوْا فِيْمَا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ نَفْسَهُ، وَثَنَّاهُ بِمَلَائِكَتِهِ، وَحَمَّلَهُ بِرَحْمَتِهِ، وَاسْتَحَبَّهُ بِكَرَمِهِ، وَجَعَلَهُ ذِكْرًا لِعِبَادِهِ، وَبَشِّرِ الْمُسْلِمِيْنَ

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

donatur-tetap

Mencari Hidayah di Awal Tahun

0

Apa yang menjadi kebutuhan pokok seorang muslim diawal tahun, pertengahan maupun akhir tahun sekalipun, seyogyanya kita mengetahui kebutuhan kita tersebut, karena kita sebagai seorang muslim ingin selmat di dunia maupun di akhirat, sehingga kebutuhan terpenting seorang muslim Adalah hidayah untuk mendapatkan keselamatan kita tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku beri kalian petunjuk.” (HR. Muslim no. 2577)

Dan pihak yang mampu memberikan hidayah kepada kita hanyalah Allah ﷻ sebagaimana firmannya :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 56)

Allah ta’aala menegaskan bahwa nabi Muhammad ﷺ seklipun tidak memiliki wewenang dalam maslah hidayah(taufiiq) sehingga satu-satunya jalan Adalah pemberian dari Allah ﷻ .

Pengertian Hidayah adalah petunjuk dari Allah yang mengantarkan seorang hamba kepada kebenaran, keimanan, dan ketaatan.

Para ulama menjelaskan bahwa hidayah terbagi menjadi:

Hidayah bayan wa irsyad (penjelasan dan pengarahan)

Hidayah taufiq (kemampuan untuk menerima dan mengamalkan kebenaran)

Diantara sebab datangnya hidayah dari Allah ta’aala Adalah :

  1. Ikhlas Mencari Kebenaran, Allah ﷻ berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Kesungguhan hati dan kejujuran dalam mencari kebenaran menjadi sebab utama Allah menurunkan hidayah.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

مَنْ صَدَقَ اللَّهَ صَدَقَهُ اللَّهُ

“Barang siapa jujur kepada Allah, maka Allah akan jujur (memberinya pertolongan dan hidayah).” (Madarijus Salikin)

  1. Doa dan Ketergantungan kepada Allah, Allah ﷻ berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Ayat ini dibaca minimal 17 kali sehari, menunjukkan bahwa hidayah hanya dari Allah dan harus selalu diminta dan keseriusan dalm meminta harus selalu kita hadirkan Ketika kita membaca ayat tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, shahih)

Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata:

إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُسْلَبَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ

“Aku takut imanku dicabut ketika ajal datang.”

Ini menunjukkan pentingnya doa untuk menjaga dan menambah hidayah sampai datangnya kematian, sehingga kita membutuhkan hidayah disetiap kehidupan yang kita jalani.

  1. Mempelajari dan Mentadabburi Al-Qur’an Allah ﷻ berfirman :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Dan juga Allah ﷻ berfirman :

قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas.” (QS. Al-Ma’idah: 15)

Alqur’an seluruhnya Adalah petunjuk dari Allah ﷻ untuk menjalani kehidupan ini, siapa yang berpegang dengannya Allah tuntun jalannya dengan hidayah.

  1. Taqwa dan Amal Shalih Allah ﷻ berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (pembeda antara hak dan batil).”

(QS. Al-Anfal: 29)

Furqan adalah cahaya hidayah yang membuat seseorang mampu membedakan kebenaran dari kesesatan.

  1. Menjauhi Dosa dan Maksiat Allah ﷻ berfirman :

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Ketika mereka menyimpang, Allah pun memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Shaff: 5)

Imam Malik رحمه الله berkata:

مَا فَسَدَ عِلْمُ أَحَدٍ إِلَّا بِذَنْبٍ

“Tidaklah rusak ilmu seseorang kecuali karena dosa.”

  1. Duduk Bersama Orang-Orang Shalih, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ

“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud, shahih)

Lingkungan shalih menjadi sebab kuat datang dan bertahannya hidayah.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

donatur-tetap

Keutamaan Surat dan Ayat Al-Fatihah: Keutamaan, Ruqyah dan Implementasi dalam Ibadah bag. 2

0

Al-Fatihah sebagai Rukiah

Tema penting lainnya adalah penggunaan Al-Fatihah sebagai rukiah. Rukiah (ruqyah) adalah penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an atau doa-doa tertentu. Oleh karena itu, hakikat dari rukiah adalah seseorang berdoa kepada Allah ta’ala untuk meminta kesembuhan. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan

الرقية وهو نوع من السؤال

“Rukiah merupakan salah satu bentuk permintaan (doa).” (Majmu’ Fatawa, 1/78)

Kisah paling masyhur adalah ketika sekelompok sahabat merukiah kepala suku yang tersengat hewan berbisa dengan membaca Al-Fatihah. Kondisi kepala suku pulih seketika, hingga disebutkan seakan penyakit itu ‘lepas seperti ikatan tali’.[1]

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلَاءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوا يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنْ الْغَنَمِ فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ قَالَ فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمْ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اقْسِمُوا فَقَالَ الَّذِي رَقَى لَا تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ فَقَالَ وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَقَالَ شُعْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ سَمِعْتُ أَبَا الْمُتَوَكِّلِ بِهَذَا

Dari Abu Sa’id radhiallahu’anhu berkata, Ada rombongan beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab penduduk setempat mereka meminta agar bersedia menerima mereka sebagai tamu peenduduk tersebut namun penduduk menolak.

Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil. Lalu diantara mereka ada yang berkata, “Coba kalian temui rombongan itu semoga ada diantara mereka yang memiliki sesuatu. Lalu mereka mendatangi rombongan dan berkata, “Wahai rombongan, sesungguhnya kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun belum berhasil, apakah ada diantara kalian yang dapat menyembuhkannya?”

Maka berkata, seorang dari rombongan, “Ya, demi Allah aku akan mengobati namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian namun kalian tidak berkenan maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah. Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillah rabbil ‘alamiin (QS. Al-Fatihah) seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apapun.

Dia berkata, “Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata, “Bagilah kambing-kambing itu!” Maka orang yang mengobati berkata, “Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan kita tunggu apa yang akan beliau perintahkan kepada kita.” Akhirnya rombongan menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mereka menceritakan peristiwa tersebut.

Beliau berkata, “Kamu tahu dari mana kalau Al-Fatihah itu bisa sebagai ruqyah (obat)?” Kemudian beliau melanjutkan, “Kalian telah melakukan perbuatan yang benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai orang yang menerima upah tersebut.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa.

Riwayat serupa juga datang dari Ibnu Abbas yang menceritakan seorang lelaki tersengat binatang berbisa dan sembuh setelah sahabat merukiah dengan Al-Fatihah[2]. Bahkan ada kisah yang disebutkan seorang yang menderita gangguan kejiwaan, diikat dengan besi, kemudian sembuh setelah dibacakan surat yang sama.[3]

Dari berbagai hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Al-Fatihah diakui sebagai rukiah syar’iyyah yakni pengobatan yang dibenarkan
  2. Efektivitasnya tidak bergantung pada media ain selain bacaan yang benar dan keyakinan kepada Allah
  3. Penggunaan Al-Fatihan untuk merukiah memiliki landasan normatif yang kuat dalam sunnah

Hadis diatas juga menyinggung tentang upah rukiah. Para sahabat yang melakukan rukiah dengan Al-Fatihah kerap menerima imbalan, mulai dari beberapa ekor kambing hingga seratus ekor kambing[4]. Ketika kejadian ini dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menegaskan bahwa upah tersebut halal.

Hal ini menunjukkan bahwa;

  1. Rukiah dengan bacaan Al-Qur’an memiliki nilai yang dihargai
  2. Praktik pemberian upah tidak bertentangan dengan adab syar’i selama tidak mengandung unsur manipulasi atau kesyirikan
  3. Penolakan sebagian sahabat terhadap upah lebih bersifat kehati-hatian, bukan larangan

 

Al-Fatihah sebagai Rukun Salat

Kedudukan Al-Fatihah dalam ibadah salat juga ditegaskan melalui berbagai riwayat. Hadis Abu Hurairah menyatakan bahwa ‘salat seorang tidak sempurna’ dalam banyak riwayat juga dijelaskan bahwa tidak (sah) salat jika tidak membaca Al-Fatihah,

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada salat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR. Bukhori dan Muslim)[5]

Riwayat lain menyebutkan bahwa Allah membalas setiap bacaan ayat Al-Fatihah yang dibaca seorang hamba. Misalnya, ketika hamba membaca ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.’ Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Dialog Ilahi ini menegaskan kualitas spiritual khusus yang hadis ketika Al-Fatihah dibaca dalam salat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ – ثَلَاثًا – غَيْرُ تَمَامٍ “، فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ : إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ، فَقَالَ : اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ : { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : حَمِدَنِي عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ : { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ : { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }، قَالَ : مَجَّدَنِي عَبْدِي. وَقَالَ مَرَّةً : فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي. فَإِذَا قَالَ { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }، قَالَ : هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ : { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } { صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }، قَالَ : هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barang siapa salat tanpa membaca Ummul Qur’an, maka salatnya tidak sempurna, tidak sempurna, tidak sempurna.” Abu Hurairah di Tanya; ‘Bagaimana bila kami berada di belakang imam?’ Dia menjawab, ‘Bacalah Al-Fatihah dengan suara lirih, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah berfirman: ‘Aku membagi salat antara Aku dengan hamba-Ku setengah-setengah, dan hambaku mendapatkan apa yang dia minta. Apabila seorang hamba membaca, ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.’ Allah menjawab, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ (ketika) seorang hamba membaca; ‘Arrahmaanir rahiim.’ Allah berfirman; ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ (ketika) seorang hamba membaca; ‘Maaliki yaumid diin.’ Allah berfirman; ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’

(ketika) seorang hamba membaca; ‘Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin.’ Allah berfirman; ‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, sedangkan bagi hamba-Ku apa yang di mintanya.’

(ketika) seorang hamba membaca; ‘Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdluubi ‘alaihim waladl dllaallliin.’ Allah berfirman; ‘Inilah bagian dari hamba-Ku, dan baginya apa yang di minta.’” (HR. Muslim, no. 395)[6]

Penutup

Hadis-hadis tentang Al-Fatihah memberikan gambarang komprehensif mengenai kedudukan surat ini, baik dalam ibadah ritual, pengobatan, maupaun ajaran dasar kesilaman. Al-Fatihah bukan sekadar pembuka mushaf, tetapi juga inti dari seluruh pesan Al-Qur’an. Keutamaannya tidak hanya diakui secar aspiritual, tetapi juga dibuktikan melalui praktik sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami tema-tema utama dari hadis-hadis tersebut, kita memperoleh prespektif yang lebih menyeluruh tentnag fungsi Al-Fatihah sebagai doa, petunjuk, penyembuh, dan rukun ibadah.

Wallahu a’lam

[1] HR. Bukhari, no. 2276, Muslim, no. 2201

[2] HR. Bukhari, no. 5737

[3] HR Abu Dawud, no. 3896

[4] HR. Abu Dawud, no. 3896

[5] Bukhari, no. 756, Muslim no. 394, diriwayatkan pula oleh ashabus sunan

[6] Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan lainnya.

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Bahaya Gosip dan Larangannya dalam Syariat Islam

0

Gosip atau desas-desus adalah selentingan berita yang tersebar luas di tengah masyarakat, namun kebenarannya belum jelas dan masih diragukan. Umumnya, gosip berkaitan dengan keadaan, perilaku, atau peristiwa yang menimpa seseorang atau sekelompok orang. Ia menyebar melalui pembicaraan dari mulut ke mulut, hingga akhirnya dianggap sebagai pengetahuan umum, meskipun tidak memiliki dasar yang kuat dan valid.

Dalam KBBI gosip berarti obrolan tentang orang-orang lain; cerita negatif tentang seseorang; pergunjingan. Adapun dalam perspektif Islam, fenomena gosip tidak dipandang sebagai perkara sepele. Syariat Islam berdiri di atas tujuan-tujuan agung (maqaṣid al-syarī‘ah), salah satunya adalah ḥifẓ al-a‘raḍ, yaitu menjaga kehormatan dan martabat manusia. Oleh karena itu, membuat gosip, menyebarkannya, bahkan sekadar mempercayainya tanpa klarifikasi, termasuk perbuatan yang tercela dan dikecam oleh syariat.

Gosip memiliki potensi besar mengandung kebohongan, baik sebagian maupun seluruhnya. Padahal, kebohongan sendiri merupakan dosa besar. Apabila kebohongan tersebut menyebar luas dan menjadi konsumsi publik, maka dosanya menjadi lebih besar dan dampak kerusakannya semakin fatal. Rasulullah ﷺ menggambarkan dengan sangat tegas akibat dari kebohongan yang tersebar luas melalui sebuah mimpi, dan mimpi para nabi adalah wahyu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«رَأَيْتُ رَجُلًا مُسْتَلْقِيًا عَلَى قَفَاهُ، وَرَجُلًا قَائِمًا عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ، فَيَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيَشُقُّهُ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ…»

“Aku melihat seorang laki-laki terbaring telentang di atas punggungnya, sementara ada seorang lain berdiri di atasnya dengan sebuah pengait (kait) dari besi. Orang itu mendatangi salah satu sisi wajahnya, lalu merobeknya hingga mencapai bagian belakang kepalanya; demikian pula hidungnya dirobek hingga ke belakang kepalanya, dan matanya dirobek hingga ke belakang kepalanya…”

Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan:

«أَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ، فَيَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ»

“Adapun laki-laki yang engkau lihat itu, ia keluar dari rumahnya lalu mengucapkan satu kebohongan, kemudian kebohongan itu disebarluaskan darinya hingga mencapai berbagai penjuru (penjuru dunia). Maka ia akan diperlakukan demikian hingga hari Kiamat.” (HR. al-Bukhari)

Artinya, orang tersebut keluar dari rumahnya lalu berdusta dengan satu kedustaan, kemudian kedustaannya itu tersebar luas, maka ia akan terus disiksa hingga hari kiamat.

Tidak hanya membuat gosip, ikut menyebarkannya pun termasuk perbuatan terlarang. Rasulullah ﷺ dengan tegas memperingatkan:

«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Larangan berikutnya yang sangat penting terkait gosip adalah tergesa-gesa mempercayainya. Dalam peristiwa besar ḥadis al-ifk (berita dusta) yang menimpa Ummul Mukminin ‘Āisyah radhiyallahu ‘anha, Allah ﷻ langsung menegur kaum mukminin agar tidak mudah mempercayai isu yang beredar, serta mendidik mereka untuk berbaik sangka dan menolak berita yang tidak jelas sumbernya.

Allah ﷻ berfirman:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Mengapa ketika kamu mendengar berita itu, orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri dan berkata: ‘Ini adalah dusta yang nyata’?” (QS. An-Nur: 12)

Ayat ini menunjukkan bahwa sikap seorang mukmin ketika mendengar gosip bukanlah menyebarkannya, melainkan menolak, mengklarifikasi, dan berbaik sangka.

Apabila membuat, menyebarkan, dan mempercayai gosip adalah perbuatan tercela, maka sebaliknya, membantah, mengklarifikasi, dan berusaha mematahkan gosip merupakan perbuatan yang sangat terpuji. Hal ini mengandung beberapa nilai luhur:

  1. Menumbuhkan sikap ḥusnuẓ-ẓan (berbaik sangka),
  2. Menjauhi syubhat dan potensi kedustaan,
  3. Membela kehormatan seorang muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Barang siapa membela kehormatan saudaranya (sesama muslim), Allah akan memalingkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Kerusakan yang ditimbulkan oleh kebiasaan mengonsumsi dan menyebarkan gosip sangatlah besar. Persaudaraan sesama muslim bisa hancur, kepercayaan hilang, dan perpecahan menjadi tak terelakkan. Padahal, perpecahan adalah sebab melemahnya umat. Allah ﷻ memperingatkan:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Janganlah kamu berbantah-bantahan, karena itu akan menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal: 46)

Permusuhan akibat gosip juga akan menghambat tersebarnya kebaikan di tengah umat serta menimbulkan kerugian besar bagi masa depan kaum muslimin.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap muslim berhati-hati terhadap setiap berita yang ia dengar, tidak tergesa-gesa mempercayainya, apalagi menyebarkannya. Menjaga lisan dan kehormatan sesama muslim adalah bagian dari keimanan dan akhlak mulia yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam.

donatur-tetap

Tahun Baru, Resolusi Baru: Menjadikan Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup

0

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Khutbah Pertama 

الحَمدُ لِـلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ وَأَظْهَرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ، هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا هُوَ أَهْلُهُ وَأَشْكُرُهُ شُكْرَ مَنْ يَسْتَزِيْدُهُ وَيَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ وَحْدَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَكَمَالِ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّداً عَبْدُهُ وَرُسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِينِ وَبَعْدُ

يَا أَيَّهَا النَاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Dalam rentetan waktu yang terus berputar, kita kembali disuguhkan oleh realita bahwa usia kita semakin berkurang, sementara beban amal dan persiapan menuju akhirat semakin mendesak. Tidak terasa, kita telah melewati satu fase ke fase berikutnya. Fenomena yang kerap muncul di awal tahun adalah euforia tentang “Resolusi Tahun Baru”. Banyak orang berbondong-bondong membuat catatan target, perubahan gaya hidup, dan pencapaian duniawi. Namun, sebagai seorang Muslim, kita wajib bertanya: Apakah resolusi kita hanya sekadar mengikuti arus zaman, ataukah kita memiliki pedoman yang kokoh?

Surah Al-An’am, ayat 156, memberikan peringatan tegas:

أن تَقُولُوا إِنَّمَا أَنْزَلَ الْكِتَابَ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ

“Dan agar mereka tidak berkata: ‘Sesungguhnya Al-Kitab (Al-Qur’an) ini diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami benar-benar tidak mengetahui apa yang mereka pelajari’.”

Ayat ini mengingatkan kita, jangan sampai kita berdalih bahwa Al-Qur’an hanya untuk generasi terdahulu. Jangan sampai kita menjadi orang yang “ghafil” (lalai) dari mempelajari petunjuk ini. Tahun baru adalah momentum yang tepat untuk memperbarui hubungan kita dengan Al-Qur’an.

Pertama: Kembali kepada Khittah (Pedoman)

Saudaraku seiman, seringkali kita melangkah tanpa peta. Kita sibuk bekerja, namun lupa tujuan akhir. Kita sibuk merencanakan bisnis, namun lupa aturan transaksinya. Kita sibuk membangun rumah tangga, namun lupa cara menghiasiinya dengan sirr (rahmat).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) yang berisi peringatan bagimu. Maka apakah kamu tidak berakal? .” (QS. Al-Anbiya: 10)

Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan. Al-Qur’an adalah “Dzikrukum” (peringatan bagi kalian). Ia adalah panduan hidup. Jika kita ingin resolusi tahun baru ini diberkahi, maka fondasinya haruslah Al-Qur’an.

Bayangkan, jika sebuah kapal besar dengan mesin canggih, namun nahkodanya tidak membaca peta arah angin dan arus laut, kapal tersebut akan berputar-putar di tengah lautan bahkan bisa karam. Begitulah kita tanpa Al-Qur’an.

Kedua: Memuliakan Al-Qur’an (Izzah)

Untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, kita harus memulai dengan menghormatinya. Bagaimana caranya?

  1. Membaca dengan Tartil (Benar dan Berurutan). Firman Allah:

…وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“…dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan dengan memperhatikan hukum tajwid dan makna).” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Kita harus memperbaiki bacaan kita. Tidak cukup sekadar bisa, tapi harus menghayati setiap kata yang keluar dari lisan kita.

  1. Tadabbur (Menghayati Makna). Membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya bagaikan seseorang yang mendengar pidato dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Ia hanya mendengar suara, tapi tidak dapat mengambil pelajaran. Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidaklah mereka mentadabbur Al-Qur’an? Ataukah di atas hati mereka ada kunci?” (QS. Muhammad: 24)

Jadikan tahun ini tahunnya kita memahami pesan Allah. Mulailah dengan tafsir, atau mendengar ceramah yang menjelaskan ayat-ayat yang kita baca.

  1. Amalan (I’timad). Kita harus bergantung padanya. Dalam segala aspek kehidupan: Muamalah, Munakahah, Jinayah, Ibadah, hingga Akhlak. Ketika kita bingung mengambil keputusan, kembalilah kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita harus yakin, solusi terbaik ada di dalam sana.

Ketiga: Menghidupkan Malam dengan Al-Qur’an

Sahabat yang dirahmati Allah, di antara resolusi terbaik adalah menghidupkan malam hari. Tidakkah kita rindu untuk berbicara langsung dengan Rabbul ‘Izzati di waktu malam, di saat dunia tengah sunyi?

Allah memuji hamba-Nya yang berbicara dengan-Nya di malam hari:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajadah: 16)

Ayat ini menggambarkan orang-orang yang shalih, mereka meninggalkan tidur nyenyak demi menghadap Tuhannya. Mereka membaca Al-Qur’an, memohon ampun, dan berinfaq.

Jika kita ingin resolusi tahun baru ini diterima, kita harus membangun “tunanetra spiritual” kita di malam hari. Tidur sejenak, lalu bangunlah untuk shalat malam dan membaca Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Keempat: Menjadikan Al-Qur’an Penyembuh (Penawar)

Tahun lalu, mungkin kita dilanda stres, cemas, dan masalah. Al-Qur’an adalah penawar (Syifa’).

Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)

Resolusi baru kita adalah: Jangan mencari pelarian di media sosial saat bersedih. Tapi, buka Al-Qur’an. Dengarkan bacaannya. Hati yang bergolak akan tenang dengan izin Allah.

Kelima: Peringatan Keras Bagi Yang Meninggalkan Al-Qur’an

Marilah kita sadar, betapa beratnya beban jika kita meninggalkan pedoman ini. Allah Ta’ala mengancam:

وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَزِجْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila mereka dipalingkan ke arah neraka, mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama kaum yang zalim’.” (QS. Al-A’raf: 47)

Mereka yang tidak peduli dengan Al-Qur’an adalah orang-orang yang dzalim terhadap diri mereka sendiri.

Sahabatku, bayangkan jika seorang dokter memberikan resep obat yang sangat mujarab, lalu kita membuangnya begitu saja. Betapa bodohnya kita. Al-Qur’an adalah resep hidup kita.

Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah, jadikanlah tahun ini sebagai tahun Al-Qur’an.

  1. Pasang niat: “Aku akan menamatkan bacaan Al-Qur’an tahun ini dengan tadabbur.”
  2. Pasang jadwal: “Aku akan luangkan 30 menit setiap pagi untuk membaca dan memahami.”
  3. Aplikasikan: “Aku akan rubah makananku, hubunganku, dan usahanku sesuai dengan Al-Qur’an.”

Janganlah kita termasuk orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

كَلَّا ۖ بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka usahakan telah menutup hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14)

Mari kita bersihkan hati kita dengan Al-Qur’an.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Wasiat Taqwa yang singkat: Sesungguhnya kebahagiaan hakiki tidak terletak pada bertambahnya harta atau panjangnya umur, namun pada bertambahnya taqwa dan ketaatan kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الْقُرْآنِ وَجَعَلَهُ إِمَامًا وَدَلِيلًا

“Beruntunglah orang yang dijadikan Al-Qur’an sebagai imam (pemimpin) dan penunjuk jalan.” (HR. At-Tirmidzi)

Maka, mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai Imam dalam setiap langkah kita. Apa yang dilarangnya, kita jauhi. Apa yang diperintahkannya, kita laksanakan. Apa yang dijanjikannya, kita nanti.

Jangan lupa, saudara-saudaraku, untuk terus memperbanyak shalawat kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya.

Jangan pula kita lupa untuk mendoakan saudara-saudara kita yang sedang diuji, dan mendoakan kebaikan untuk bangsa dan negara kita.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

 

donatur-tetap

Dosa itu Bernama Suap

0

Penyakit berbahaya yang sangat merusak tatanan masyarakat itu bernama suap atau dalam habasa Arab sering disebut dengan  risywah. Kerusakan dan kezaliman akan merebak dalam suatu masyarakat yang terbiasa dengan penyakit tersebut. Suap adalah tradisi orang-orang Yahudi. Allah berfirman mencela orang-orang Yahudi,

سَمَّٰعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحْتِ

“Mereka senantiasa mendengar kedustaan dan memakan as-suht.” (QS. Al-Maidah: 42)

Al Hafidz Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya, “As-Suht” adalah perkara yang haram, ia adalah suap, sebagaimana penafsiran Ibnu Mas’ud dan yang lainnya.

Sebuah hadis diterima dari sahabat Abdullah bin Amr bin al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ

“Rasulullah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dengan sanad yang shahih)

Dalam lafadz yang lain, “Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerimanya.” Laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allah. Laknat Allah dan Rasul-Nya hanya dijatuhkan kepada kemungkaran yang besar. Ini menunjukkan bahwa memberi dan menerima suap termasuk dosa besar. Pengarang kitab “Az Zawajir ‘an Iqtiraaf al Kabair” memasukkan suap ke dalam kategori dosa besar dan orang yang melakukannya menjadi berstatus fasik, sedikit atau banyak suap tersebut.

Perbuatan suap sangat dilarang keras dan pelakunya akan mendapat laknat karena suap adalah perbuatan yang akan mendatangkan kerusakan di muka bumi. Dengan suap harta manusia dimakan dengan cara yang batil, hukum Allah dirubah, hak-hak diabaikan, kebatilan dibenarkan dan kebenaran dinegasikannya. Suap merusak tatanan masyarakat, menyia-nyiakan amanat dan menzalimi jiwa.

Suap adalah jalan yang menyebabkan pemilik hak kehilangan haknya, sementara orang yang tidak berhak mendapatkannya. Kezaliman dan permusuhan akan timbul darinya. Jika suap sudah merajalela, akan merebaklah segala penyimpangan, penipuan, sikap khianat, rasa takut dan khawatir. Berbagai kemaslahatan pun akan hilang disebabkannya.

Lihatlah sebuah negeri yang telah merebak di dalamnya suap-menyuap. Kekacauan dan keburukan mencengkeram kehidupan mereka. Hingga setiap orang tidak dapat mendapatkan haknya atau memudahkan urusannya kecuali dengan melakukan suap. Orang-orang zalim mendapat tempat yang aman di negeri tersebut. Karena jika ia ditangkap karena kejahatannya, ia akan dengan mudah keluar dari tahanan dengan suap. Jika pun ia terjerat hukum, maka hukumannya pun dapat dibuat ringan dengan suap.

Suap dapat masuk dalam beragam lini kehidupan manusia. Diantaranya suap-menyuap dalam hukum dan peradilan. Disebabkan suap banyak manusia yang tidak bersalah dihukum dan yang seharusnya mendapat hukuman justru bebas darinya. Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ: اثْنَانِ فِي النَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ: رَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ، فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَلَمْ يَقْضِ بِهِ، وَجَارَ فِي الْحُكْمِ، فَهُوَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ لَمْ يَعْرِفِ الْحَقَّ، فَقَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ، فَهُوَ فِي النَّارِ

“Hakim ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Yang disurga adalah hakim yang mengetahui kebenaran dan ia memutuskan perkara dengannya. Hakim yang mengenal kebenaran namun berbuat jahat di neraka, dan hakim yang memutuskan perkara manusia dengan kebodohan di neraka.” (HR Abu Dawud degan sanad yang shahih)

Suap-menyuap juga terjadi dalam urusan proyek. Ketika tender suatu proyek dibuka, salah seorang peserta tender akan memberi uang suap agar ia memenangkan proyek tersebut, padahal yang lain mungkin lebih baik dalam pekerjaannya. Suap juga terjadi dalam kasus kriminal, hukum pidana dan perdata. Para penegak hukum lemah dalam menegakkan hukum gara-gara suap. Diantara bentuk suap adalah suap yang diberikan kepada pegawai pemerintahan, polantas, pegawai imigrasi untuk melangkahi peraturan-peraturan yang berlaku.

Suap juga dilakukan sebagian orang untuk mendapat pekerjaan. Seseorang menjadi calo untuk orang yang ingin bekerja di suatu tempat dengan uang suap yang besar. Terkadang mereka menamainya dengan “menjual jasa.” Namun hakikatnya adalah suap. Bahkan, suap juga terjadi dalam bidang pendidikan. Siswa yang seharusnya tidak lulus ujian menjadi lulus, atau memberi jawaban saat ujian dengan uang suap.

Hadiah dalam Pekerjaan

Termasuk ke dalam praktik suap, hadiah dalam pekerjaan. Dari Abu Humaid As Sa’idy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah-hadiah para pekerja adalah korupsi.” (HR Ahmad dan yang lainnya, shahih dengan syawahidnya)

Dari Abu Humaid As Sa’idy radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan seorang laki-laki untuk mengumpulkan harta sedekah. Ketika orang itu datang, ia berkata, “Ini untuk mu dan ini hadiah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhotbah di atas mimbar, setelah memuji Allah beliau bersabda, “Ada seorang amil yang kami utus, ia datang dan berkata, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku.” Tidakkah ia duduk di rumah bapaknya atau ibunya lalu melihat apakah ia akan diberi hadiah atau tidak? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun diantara kalian yang mengambil sesuatu dari yang demikian melainkan akan datang pada hari kiamat sambil memanggulnya.” (HR Bukhari Muslim)

Jika seorang amil menerima hadiah karena sedekah yang dikumpulkannya dengan perintah penguasa termasuk korupsi, maka demikian juga jika seorang karyawan menerima hadiah dari pemberian orang lain karena pekerjaannya, baik dinamai dengan hadiah, imbalan, uang terima kasih dan yang lainnya. Karena seorang pegawai wajib untuk mengerjakan pekerjaannya sesuai kesepakatannya dengan orang yang mempekerjakannya dan menggajinya. Maka apa yang diterimanya dari selain itu termasuk bentuk khianat. Karena jika orang ini hanya duduk di rumah, tidak akan mendapat hadiah apa pun.

Jika seorang pegawai ini mengambil imbalan atas pekerjaannya menunaikan hak orang lain, ini termasuk perbuatan korup. Jika ia mengambil imbalan untuk memberikan hak orang lain kepada orang yang tidak berhak menerimanya, maka ia telah mengambil harta tanpa hak dan zalim. Sebagaimana ia tidak boleh mengambil imbalan tersebut, orang yang berkepentingan dengannya pun tidak boleh memberi imbalan itu kepadanya.

Sebagian orang melakukan praktik suap-menyuap dan menyebutnya dengan imbalan, hadiah atau uang terima kasih. Nama-nama ini tidak merubah hukum perbuatan tersebut sedikit pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak akan ada di kalangan umatku yang meminum khamr dan mereka menamainya dengan selainnya.”

Dalam masalah hadiah ini, Rasulullah telah menjelaskan kepada kita sebuah kaidah, “Jika seseorang diantara kalian duduk di rumah bapak atau ibunya, apakah ia akan mendapat hadiah atau tidak?” Jika kita merasa bingung dengan masalah hadiah atau imbalan ini, maka terapkan lah kaidah tersebut. Apakah jika kita tidak menjabat jabatan ini atau menjadi pegawai ini kita akan mendapatkan hadiah itu atau tidak? Bertakwalah kepada Allah, karena suap-menyuap adalah dosa besar dan akan menghancurkan keberkahan harta kita.

Wallahu Ta’ala A’lam

donatur-tetap

Shalatlah Sebelum Dirimu Dishalati: 10 Keutamaan Shalat

0

Allah Ta`ala menjadikan shalat sebagai ibadah yang agung, memiliki kedudukan yang tinggi. Shalat adalah rukun kedua dalam Islam serta ia adalah tiang agama, ia adalah batas pemisah antara keislaman dengan kekufuran dan kemunafikan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan perhatian yang mendalam terhadap masalah shalat. Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan contoh pelaksanaannya dari takbir sampai salam, sangking pentingnya hingga sedemikian detail.

Tentu ini semua menunjukkan pentingnya shalat dalam Islam. Mestinya  ini sudah cukup sebagai motivasi bagi kita, bagi kaum Muslimin, untuk selalu bersemangat dalam melaksanakan ibadah shalat. Terlebih jika kita memperhatikan berbagai keitimewaan shalat, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk bermalas-malasan dalam melaksanakannya.

DI ANTARA KEUTAMAAN SHALAT ADALAH:

1. Shalat merupakan amalan terbaik setelah dua kalimat syahadat

Ini berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu yang mengatakan:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ : الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا. قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ : الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ.

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: Apakah amalan yang paling afdhal (terbaik)?, Beliau shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: Shalat pada waktunya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu `anhu mengatakan: Lalu aku bertanya lagi: Lalu apa?, Beliau -shallallahu `alaihi wa sallam- menjawab: Berbakti kepada kedua orang tua. Ibnu Mas’ud radhiyallahu `anhu mengatakan lagi: Lalu aku bertanya lagi: Lalu apa?, Beliau -shallallahu `alaihi wa sallam- menjawab: Jihad di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 7534 dan Muslim no. 85).

2. Shalat bisa menghapuskan dosa yang telah lalu

Dari ‘Utsman, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah seorang Muslim yang ketika memasuki waktu shalat wajib lalu ia memperbagus wudhu’ untuk shalat tersebut, juga memperbagus kekhusyu’annya dan ruku’nya melainkan itu sebagai penghapus dosa sebelumnya selama seseorang itu tidak melakukan dosa besar dan ini berlaku sepanjang waktu”. (HR. Muslim no. 228).

3. Shalat itu bisa mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah Ta`ala berfirman:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Quran) dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadath-ibadah yang lain). dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut: 45).

4. Shalat membersihkan dosa-dosa

Dari Jabir radhiyallahu `anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ

“Shalat (fardhu) yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir melimpah di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali”. (HR. Muslim no. 668).

5. Allah mengangkat derajat dan menghapuskan dosa (kesalahan) dengan sebab shalat.

Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda kepada Tsauban radhiyallahu `anhu:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud! Karena engkau tidaklah sujud kepada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan akan menghapuskan satu kesalahan dengan sebab sujud itu”. (HR. Muslim no. 488).

6. Shalat bisa menggugurkan dosa

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat yang lima waktu, Jum`at yang satu ke Jumat lainnya, Ramadhan yang satu ke Ramadhan lainnya, itu bisa menjadi penghapus dosa di antara keduanya selama pelakunya menjauhi dosa-dosa besar”. (HR. Muslim no. 233).

7.  Dengan Shalat, Allah Azza wa Jalla menghapuskan dosa diantara shalat yang satu ke shalat berikutnya.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari  ‘Utsman radhiyallahu `anhu , dia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا

“Tidaklah seorang Muslim berwudhu’, dia memperbagus wudhu’nya, lalu ia mengerjakan shalat melainkan Allah mengampuni baginya dosa di antara shalat tersebut dan shalat berikutnya”. (HR. Al-Bukhari no. 160 dan Muslim no. 227).

8. Shalat adalah cahaya di dunia dan akhirat bagi orang yang melakukannya

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam membicarakan tentang shalat lalu Beliau bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

“Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu, maka shalat itu akan menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Dan pada hari kiamat, orang yang tidak menjaga shalatnya itu akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf. (HR. Ahmad dalam kitab al-Musnad 2/169 dan ad-Darimi 2/301)

Disebutkan dalam hadits Abu Malik Al-Asy’ari -radhiyallahu `anhu-:

وَالصَّلاَةُ نُورٌ

“Shalat itu adalah cahaya”. (Muslim no. 223).

Juga dalam hadits Burairah radhiyallahu `anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam , Beliau -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِى الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan ke masjid dalam keadaan gelap, bahwa ia akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud no. 561 dan At-Tirmidzi no. 223)

Maksudnya adalah cahaya pada wajah.

9. Shalat termasuk faktor terbesar yang menyebabkan seseorang masuk surga menemani Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam-

Dari Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu `anhu, ia berkata:

فأتَيْتُهُ بوَضُوئِهِ وحَاجَتِهِ فَقالَ لِي: سَلْ فَقُلتُ: أسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ في الجَنَّةِ. قالَ: أوْ غيرَ ذلكَ قُلتُ: هو ذَاكَ. قالَ: فأعِنِّي علَى نَفْسِكَ بكَثْرَةِ السُّجُودِ.

“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Aku mendatangi Beliau shallallahu `alaihi wa sallam dengan membawakan air wudhu dan keperluan Beliau shallallahu `alaihi wa sallam, lalu Beliau -shallallahu `alaihi wa sallam-bersabda: Mintalah!. Aku berkata: Aku meminta kepadamu supaya dapat bersamamu di surga.  Beliau shallallahu `alaihi wa sallam berkata: Mungkin ada permintaan selain itu? Aku menjawab: Itu saja yang aku minta. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Tolonglah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 489)

Memperbanyak sujud di sini maksudnya memperbanyak sujud dalam shalat.

10. Berjalan menuju shalat akan dicatat sebagai kebaikan, bisa meninggikan derajat dan menghapuskan dosa.

Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu`anhu , dia mengatakan: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu ia berjalan menuju salah satu rumah Allâh untuk menunaikan salah satu shalat fardhu yang yang Allâh wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan kesalahan dan langkah kaki yang lainnya meninggikan derajat. (HR. Muslim no. 666)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَمْ يَرْفَعْ قَدَمَهُ الْيُمْنَى إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ حَسَنَةً وَلَمْ يَضَعْ قَدَمَهُ الْيُسْرَى إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ سَيِّئَةً

“Jika salah seorang diantara kalian berwudhu’, dia berwudhu dengan baik dan benar, kemudian dia keluar menuju ke masjid, maka dia tidak mengangkat kaki kanannya (untuk melangkah) kecuali Allah k menuliskan satu kebaikan untuknya dan dia tidak menurunkan kaki kirinya kecuali Allah menghapus satu dosa darinya”. (HR. Abu Daud no. 563).

Semoga bermanfaat. Segala puji untuk Allah yang dengan nikmat-Nya terselesaikan amal-amal shalih.

donatur-tetap

Obat Kebodohan

0

Khutbah Pertama

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama`ah Shalat Jum`at Yang Dimuliakan Oleh Allah.

Marilah kita bersyukur dan meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah, atas seluruh nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita, dengan seluruh kelemahan kita dalam ketaatan ternyata Allah masih beri kita kesempatan hidup untuk menambah amal, dengan seluruh kelemahan kita dalam meninggalkan kemaksiatan ternyata Allah masih beri kita kesempatan hidup untuk memohon ampunan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, nabi yang telah menjelaskan semua risalah kenabian yang Allah Allah amanahkan, hingga setiap perkara yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Surga Allah pasti sudah beliau jelaskan, dan setiap perkara yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Neraka Allah pun sudah beliau peringatkan. Beliau tidaklah meninggalkan ummatnya melainkan dalam keadaan agama ini telah terang benderang, sampai malamnya pun seperti siang.

Jama`ah Shalat Jum`at Yang Dimuliakan Oleh Allah.

Marilah kita meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan menjalankan perintah Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam-dan menjauhi apa-apa yang beliau larang.

Karena takwa adalah wasiat Allah untuk orang pertama hingga yang terakhir nanti.

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah”. (Surat An-Nisa: 131).

Jama`ah Shalat Jum`at Yang Dimuliakan Oleh Allah.

Dikisahkan bahwa: “Al-Hakim Tauma (atau Tauma Al-Hakim) adalah orang jahil yang tidak merasa bahwa ia jahil. Sehingga ia sering kali berfatwa dan berbicara masalah agama tanpa ilmu. Diantara kejahilan Al-Hakim Tauma adalah ia memfatwakan bolehnya para orang tua bersedekah dengan anak perempuannya kepada para pemuda. Ia meng-qiyaskan sedekah anak perempuan ini seperti sedekah uang kepada orang faqir. Disebutkan bahwa ia berkata:

تصدق بالبنات على البنين يريد بذاك جنات النعيم

“Bersedekahlah dengan anak-anak perempuan kalian, untuk para pemuda, niatkan itu untuk mengharap surga yang penuh nikmat”.

Lihatlah ia berfatwa tanpa ilmu, namun merasa telah mengajarkan kebaikan.

Karena kejahilannya ini, seorang penyair membuat sya’ir tentangnya:

قال حمار الحكيم توما لو أنصف الدهر كنت أركب

لأنني جاهل بسيط و صاحبي جاهل مركب

Keledainya Al-Hakim Tauma berkata: andaikan zaman itu adil tentu aku yang menungganginya, Karena aku jahil basith, sedangkan pemilikku jahil murakkab

Kejahilan itu semuanya tercela, namun minimal jangan jadi jahil murakkab!. Jahil (kebodohan) itu ada dua:

  1. Jahlun basith (kebodohan ringan), yaitu ketika seseorang tidak berilmu tentang sesuatu dan ia tahu dia jahil
  2. Jahlun murakkab (kebodohan kuadrat), yaitu ketika seseorang tidak berilmu tentang sesuatu namun ia tidak merasa bahwa ia jahil (merasa berilmu).

(Disarikan dari Kitab Syarah Al-Ushul min Ilmil Ushul, Karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, hal. 71-72).

Sidang jama`ah shalat jum`at yang dimuliakan oleh Allah.

Jangan seperti Tauma Al-Hakim!!!, tidak tahu tapi tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu, ia merasa tahu dan mengajarkan ketidaktahuannya. Padahal berbicara agama tanpa ilmu itu dosa.

Allah berfirman:

قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Surat Al-A’raf: 33).

Inilah bahayanya kejahilan, bahaya ketidak-tahuan tentang agama Islam, yang pertama yaitu:

1). Berbicara agama tanpa ilmu, dan itu merupakan dosa.

Dari kejahilan inilah kemudian ada orang yang menerjang kesyirikan, berdoa kepada jimat, meminta kepada dukun, percaya dengan hari sial, jual beli dengan cara haram, dll.

Seseorang tidak akan diterima alasannya jika ia menyangkal dengan alasan “saya kan tidak tahu”, -misalnya-. Orang yang jahil dalam perkara agama yang disebabkan karena ketidakpeduliannya terhadap perkara agama padahal dia berada di daerah yang terdapat orang yang berilmu dan memungkinkan baginya untuk bertanya tentang perkara agama yang tidak diketahuinya, maka alasannya ketika mengatakan tidak tahu tidaklah bisa diterima, karena ia hakikatnya tidak mau tahu, bukan tidak tahu. Dia juga pada dasarnya adalah orang yang tidak mencintai dan menginginkan kebenaran. Maka orang yang seperti ini keadaannya tidak diberikan uzur (maaf) atas kejahilannya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ala:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya: “Sungguh Kami telah jadikan untuk (isi neraka) Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Surat Al-A`raf: 179).

Sidang jama`ah shalat jum`at yang dimuliakan oleh Allah.

Orang yang boleh beralasan “saya kan tidak tahu” hanyalah dibenarkan bila ia jahil dalam perkara agama karena bertempat tinggal di daerah yang tidak ada orang yang memahami tentang perkara agama (seperti daerah pelosok dan pedalaman) yang bisa dijadikan sebagai tempat bertanya. Ataupun sama sekali tidak terlintas di pikirannya bahwa apa yang dilakukannya adalah haram sehingga dia tidak bertanya, sedangkan dirinya adalah termasuk orang-orang yang mencintai agama dan menginginkan kebenaran. Orang yang seperti ini keadaannya diberikan uzur (maaf) atas kejahilannya.

Allah Ta`ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah”. (Surat Al-Baqarah: 286).

Sidang jama`ah shalat jum`at yang dimuliakan oleh Allah.

2). Kejahilan juga menyebabkan seseorang melakukan amalan yang paling dicintai iblis, yaitu melakukan ibadah dengan tata cara sesuai selera.

3). Menjalani hidup tanpa petunjuk yang jelas sehingga hatinya tidak tenang.

4). Pasrah dengan seruan syahwat dan syubhat.

5). Berkubang dalam dosa.

6). Berakhlak rendah, keji dan tercela.

7). Melemahnya iman.

8). Kejahilan adalah sumber segala keburukan.

-Bila dia seorang ustadz, kiyai, tokoh, maka ia akan berbicara tanpa ilmu.

-Bila ia seorang pemimpin, maka ia akan bertindak dzalim.

-Bila ia seorang awam jelata, maka ia akan terjangkit sikap fanitis terhadap ajaran nenek moyang meskipun salah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْد

Sidang Jama`ah Shalat Jum`at Yang Dimuliakan Oleh Allah.

Dengan mengetahui betapa buruknya akibat dari kejahilan, maka sudah tentu kita ingin terhinndar darinya. Nah, dengan cara apa kita bisa terhindar dari kejahilan?

  1. Mencari ilmu syar`i.

Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (Riwayat Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).

Sidang Jama`ah Shalat Jum`at Yang Dimuliakan Oleh Allah.

Nabi Musa saja, seorang Nabi, namun tetap melakukan sebuah usaha untuk mencari ilmu, safar dengan perjalanan yang amat jauh untuk menghilangkan kejahilan.

Dari Ubay bin Ka`ab, Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda: “Pada suatu ketika Musa berbicara di hadapan Bani Israil, kemudian ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai itu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’

Dengan ucapan itu, Allah mencelanya, sebab Musa tidak mengembalikan pengetahuan suatu ilmu kepada Allah. Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, ‘Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba yang berada di pertemuan antara laut Persia dan Romawi, hamba-Ku itu lebih pandai daripada kamu!’

Musa bertanya, ‘Ya Rabbi, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya?’ Maka dijawab, “Bawalah seekor ikan yang kamu masukkan ke dalam suatu tempat, di mana ikan itu menghilang maka di situlah hamba-Ku itu berada!’

Sidang Jama`ah Shalat Jum`at Yang Dimuliakan Oleh Allah.

Salah satu bentuk mencari ilmu adalah dengan bertanya. Rasulullah -shallallahu `alaihi wasallam- bersabda:

أَلا سَأَلُوا إِذَا لَمْ يَعْلَمُوا ، فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ

“Tidakkah mereka bertanya jika tidak mengetahui. Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah dengan bertanya….” (Hasan, HR Abu Dawud: 336, Ibnu Majah: 572, dan lainnya).

2. Berteman dengan orang-orang shalih.

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah ta`ala:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْـمُرْسَلِينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَـمِينَ

donatur-tetap