Home Blog Page 31

Mutiara Faidah Juz 1

0

Juz 1 berisikan surat Al-Fatihah dan surat Al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 141. Berikut ini poin-poin pokok pembahasan dalam juz 1 beserta dengan beberapa faidah yang ada

Surat Al-Fatihah

Surat ini berisikan tentang pujian kepada Allah Ta’ala, mengingatkan akan hari akhir, pentingnya ikhlas dalam beramal, kewajiban mentauhidkan Allah, hakekat hidayah serta golongan yang mendapatkan hidayah serta golongan yang terhalang dari hidayah.

Surat Al-Baqarah Ayat 1-141

Poin pokok dalam surat ini adalah

1. Penegasan akan agungnya agama Islam dibandingkan agama-agama sebelumnya dan pondasi untuk penyucian jiwa bagi setiap insan.

2. Penjelasan terkait syariat-syariat Islam kepada Umat Islam serta sarana apa saja yang bisa digunakan untuk menuju islah (perbaikan) di masyarakat.

3. Surat Al-Baqarah menerangkan tentang 3 golongan manusia, yaitu:

  • Golongan Mukmin
  • Golongan Kafir
  • Golongan Munafik

Kemudian dijelaskan panjang lebar terkait golongan orang-orang munafik, sembari diberikan perumpamaan-perumpamaan terkait mereka. Dan ini adalah perumpamaan yang pertama muncul di dalam Al-Quran.

4. Dialog antara Malaikat dengan Allah Ta’ala, Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam.

5. Kisah Bani Israil, korelasinya dengan Rasulullah dengan adanya Wahyu dari Allah Ta’ala. Seperti kisah perintah menyembelih sapi dan larangan untuk ragu dalam menerima syariat dan perintah dari Allah Ta’ala, karena hal itu dapat menghitamkan hati.

6. Kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun baitullah (Ka’bah)

Faidah dari Juz 1

1. Diantara nikmat dari Allah Ta’ala adalah menampakkan pembinasaan musuh Allah di hadapan hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ فَرَقۡنَا بِكُمُ ٱلۡبَحۡرَ فَأَنجَيۡنَٰكُمۡ وَأَغۡرَقۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ وَأَنتُمۡ تَنظُرُونَ

Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun sedang kamu menyaksikannya. (QS. Al-Baqarah : 50)

2. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قُلۡتُمۡ يَٰمُوسَىٰ لَن نَّصۡبِرَ عَلَىٰ طَعَامٖ وَٰحِدٖ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja. (QS. Al-Baqarah: 61)

Salah satu perkara yang berbahaya adalah rasa bosan terhadap banyaknya nikmat yang ada, hal ini sejatinya muncul dan bentuk dari kurangnya rasa syukur kepada sang pemberi nikmat yaitu Allah Ta’ala.

3. Waktu beramal shaleh adalah waktu mustajab berdo’a. Dimana ketika Nabi Ibrahim membangun Ka’bah maka beliau berdoa dan meminta kepada Allah.

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِـۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 127)

Refersnsi: Hidayat Al-Ajza’ karya syaikh Umar bin Abdillah Al-Muqbil

donatur-tetap

Yuk Pelajari dan Tadaburi Al-Quran di Ramadhan Kali Ini

0

Diantara cara terbaik memaksimalkan keberkahan di bulan Ramadhan adalah dengan memperbanyak membaca Al Quran terlebih karena Al-Quran di turunkan di bulan tersebut. Selain membaca ayat demi ayatnya hal yang tak kalah penting adalah mempelajari dan mentadaburi Al-Quran, membaca arti ayat demi ayatnya kemudian merenungkan isi kandungannya.

Karena mentadaburi Al-Quran adalah suatu hal yang amat penting bagi setiap muslim maka hal ini di wajibkan oleh Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, Allah memerintahkan kita semua untuk mentadaburinya serta memahami isi dan makna yang terkandung di dalamnya dan menjadikan Al Quran sebagai ruh dalam kehidupan.

Allah ta’ala berfirman :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad :29)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :
“Allah ta’ala memerintahkan (hamba-Nya) untuk senantiasa mentadaburi Al Quran dan memahami isinya, serta melarang mereka berpaling darinya”

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?.” (QS. Muhammad : 24).

Namun terkadang membaca seluruh terjemahan Al-Quran serta mentadaburinya memang tidaklah mudah.

Oleh karena itu, demi memudahkan kaum muslimin dalam mentadaburi Al-Quran dan mendalami kandungan Al-Quran insyaallah HamalatulQuran.Com selama ramadhan tahun 1445 H ini akan membagikan artikel dengan tema Mutiara Faidah Juz 1-30.

Artikel tersebut insyaallah akan di share setiap hari selama Ramadhan, yang nantinya berisikan ringkasan pokok pembahasan yang ada di setiap juz dalam Al-Quran. Semoga dengan hadirnya artikel-artikel seperti ini dapat menjadi wasilah bagi kaum muslimin untuk lebih dekat dan mudah dalam mentadaburi dan mempelajari Al-Quran.

donatur-tetap

Hikmah dari Penindasan di Palestina (Bag.1)

0

Ketidakmampuan seorang muslim untuk melindungi saudaranya yang tertindas sering membuat gelisah. Bagaimana tidak, ikatan persaudaraan atas dasar iman membuat hati turut merasakan kepedihan saudaranya. Ketika mereka tidak bisa makan dan minum, tidak bisa beristirahat dengan tenang, tidak bisa beribadah dengan nyaman, selalu menimbulkan bayang-bayang bagaimana kalau berada pada kondisi yang sama seperti mereka.

Bertebaran pengakuan di media sosial bahwa rata-rata muslim yang tidak bisa membantu sudaranya di Palestina bertekad untuk mendoakan. Doa yang dipanjatkan pun berbeda-beda, ada yang ingin agar saudara-saudara di palestina kembali diberikan kehidupan yang layak seperti sebelumnya. Ada yang berdoa agar musuh-musuh Islam yang menindas tersebut diberikan hidayah. Dan di belahan bumi lainnya juga banyak yang mendoakan agar mereka yang menindas itu dibinasakan.

Jika dihitung secara angka jumlah doa yang dipanjatkan umat islam jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kaum penindas tersebut. Karena secara fakta jumlah muslim jauh lebih banyak dibandingkan dengan israel. Tapi mengapa doa yang sangat banyak itu tidak membuat keadaan di palestina berubah lebih baik sampai hari ini.

Ada dua sebab minimal kenapa doa-doa itu belum merubah keadaan:

1. Allah lebih tau kapan doa itu perlu dikabulkan.

Tidak semua doa dapat terkabulkan sesegera mungkin. Bisa jadi Allah menunda terkabulnya doa orang terdzolimi di waktu yang tepat. Karena Allah mempunyai pengetahuan yang tidak dimiliki makhluqnya seperti pengetahuan tentang kejadian yang akan datang. Nabi Musa dan nabi Harun pernah berdoa karena kedzoliman Firaun yang sudah membuat sengsara kaumnya nabi Musa:

رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَة وَأَمۡوَٰلا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ

“Ya Tuhan kami, engkau telah memberikan kepada Fir`aun dan juga pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibatnya) mereka menyesatkan manusia dari jalanmu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka dan kuncilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat adzab yang pedih”. (Q.S Yunus:88)

Setelah nabi musa memohon dengan permohonan kebinasaan atas Firaun dan harta-hartanya, Allah mengabulkan do’anya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikutnya:

قَالَ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا فَٱسۡتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ

“Dia (Allah) berfirman, sungguh telah diperkenankan permohonan kamu berdua sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui” (Q.S Yunus:89)

Menurut pendapat banyak ahli tafsir, jarak antara doa yang dipanjatkan nabi Musa dengan terkabulnya adalah empat puluh tahun. Sebagaimana dikutip dalam tafsir Al-Jalalain bahwasannya setelah nabi Musa berdoa, Fira’un masih hidup sampai empat puluh tahun hingga terjadi penenggelamannya di laut  (Tafsir Al jalalain : 280). Bisa disimpulkan bahwa waktu yang dinanti-nantikan oleh umatnya nabi Musa untuk terkabulnya doa beliau tidak sebentar.

2. Murka Allah bisa menghalangi tekabulnya doa.

Banyaknya lantunan doa yang dipanjatkan tapi belum terkabul sesuai harapan mengingatkan kita atas dosa yang pernah kita perbuat. Terlebih lagi pada zaman sekarang ini, banyak hal baru dengan keanekaragamannya yang tidak disadari bahwa hal itu adalah suatu dosa. Sehingga secara tidak sadar, banyak yang menjadikan perbuatan terlarang itu justru menjadi ladang mencari rezeki.  Akibatnya tanpa disadari terbiasa mencari rizki yang haram, maka terbiasa juga mengkonsumsi yang haram. Hal ini lah yang membuat doa sangat sulit untuk dikabulkan. Sebagaimana yang pernah disebutkan dalam suatu hadis:

ثم ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ ‌أَشْعَثَ ‌أَغْبَرَ، ‌يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِك   .

“Kemudian beliau (Rasulullah Shallallohu Alahi Wasallam) menyebutkan tentang seorang laki-laki  yang melakukan perjalanan panjang dalam kondisi kusut dan kotor, kemudian dia mengadahkan tangannya ke langit dan berdoa “wahai tuhanku” “ wahai tuhanku” namun makanannya harom, minumannya harom, dan pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram. Lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?.” (H.R Muslim no:1015)

Hadis di atas menunjukkan bahwa rezeki yang didapat dan digunakan dalam hal yang haram membuat Allah enggan mengabulkan doa. Lebih dari tidak dikabulkannya doa, ternyata ada perbuatan yang lebih  mengerikan lagi dampaknya yaitu dosa yang diperangi oleh Allah dan Rasulnya. Karena orang yang melakukan perbuatan yang mengerikan ini hakikatnya sedang mengumumkan perang kepada Allah dan Rasulnya. Perbuatan tersebut adalah riba.  Allah berfirman:

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡب مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ

“ Jika kamu tidak melaksanakannya (meninggalkan riba), maka berilah pengumuman perang dari Allah dan Rasulnya” (QS Al-Baqarah: 279)

Dalam ayat ini sangat jelas bahwa yang mengumumkan perang kepada pelaku riba adalah Allah sang pencipta semesta alam dan juga Rasulnya. Allah dzat yang bisa mengabulkan permohonan hambanya diposisikan sebagai lawan oleh pelaku riba. Maka bisa direnungkan bagaimana mungkin Allah mengabulkan permohonan hamba yang secara terang-terangan justru menjadi poros lain yang diperangi Allah.

Sayangnya perbuatan ini sudah merajalela di berbagai negara muslim.  Praktiknya mulai dari kota hingga pelosok desa. Tidak hanya tersebar tapi sudah menggurita seolah-olah sulit terlepas dari perbuatan hina tersebut karena merasa sudah terlilit dengan system yang berjalan.

Semoga umat muslim di segala penjuru dunia dijauhkan dari murka Allah.

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Rahasia Dibalik Isti’adzah (Bag.2)

0

Isti’adzah yaitu dengan mengucapkan a’udzubillahi minas syaithanir rajiim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Ucapan isti’adzah ini bukan termasuk ayat Al-Qur’an, hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya karena mewujudkan perintah Allah dalam ayat Al-Quran, maka ini adalah perintah robbani dan sunnah nabawi

 فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ ٱلرَّجِیمِ

 “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur`ān, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An Nahl: 98).

Ayat di atas dan disertai lafadz nabawi di dalam isti’adzah keduanya meliputi lima risalah, bagi hamba yang ingin berjalan menuju Allah wajib mempelajarinya kalau tidak maka tidak akan sampai.

Risalah pertama

Bahwasanya tidak mungkin memulai di jalan Allah dan tidak akan membuka bagi hamba pengetuk pintu-pintu masuk ke dalam Al-Quran, kecuali dengan mengumandangkan keloyalan dan kesetiaan kepada Allah ta’ala dan masuk ke barisan para hamba yang mentauhidkan Allah semata, dan juga sebaliknya dengan mengumandangkan permusuhan dan keterlepasan diri dari setan yang telah nyata menjadi musuh Allah, dan juga berlepas diri dari golongannya dan pengikutnya. Allah telah mengumandangkan kepada hambaNya bahwa syaiton adalah musuh manusia

 إِنَّ ٱلشَّیۡطَـٰنَ لَكُمۡ عَدُوࣱّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا یَدۡعُوا۟ حِزۡبَهُۥ لِیَكُونُوا۟ مِنۡ أَصۡحَـٰبِ ٱلسَّعِیرِ

“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir: 6)

Sungguh isti’adzah menjadi pembuka mata hati untuk melihat ilmu Al-Quran yang agung, maka ia tidak boleh dilupakan. Isti’adzah bukanlah sekedar lafadz yang diucapkan ke udara begitu saja, tetapi ia mempunyai makna yang mendalam, maka tadabburilah..!

Risalah kedua

Bahwa manusia tidak mempunyai kekuatan untuk berjalan di jalan Allah atau mengenali jalan Allah itu sendiri kecuali dimulai dari mohon perlindungan kepada Allah terlebih dahulu. Hamba tidak akan sampai kepadaNya dengan hanya bermodal semangat dan usaha dirinya sendiri, tetapi harus memohon kepada Allah curahan taufiq dan hidayah-Nya.

Terwujudnya makna isti’adzah di dalam jiwa seseorang adalah suatu akhlak yang sangat mendalam, dan tidak sah suatu amal kecuali dengan memunculkan keimanan hati, kemurnian niat ibadah. Tidak bisa memurnikan amal dari hal-hal yang bisa merusaknya kecuali dengan hanya kembali kepada jalan Allah dan untukNya semata.

Risalah ketiga

Beribadah dengan Al-Quran membacanya, mempelajarinya, mengajarkannya, mentadabburinya dan mengamalkannya, tidak akan memanen buahnya dan tidak akan menyingkap cahaya dari alquran itu kecuali dengan berlepas diri dari setiap daya dan kekuatan, isti’adzah diletakkan sebelum membaca menunjukkan kebutuhan pembaca kepada Allah dzat yang maha kaya dan maha mulia. Seorang pembaca alquran belum tentu dia membaca secara hakiki, pembaca yang hakiki ialah yang membaca alquran dengan penuh penghayatan.

Mewujudkan maksud isti’adzah adalah salah satu syarat untuk menjadi pembaca alquran yang hakiki, barangsiapa yang salah dalam mewujudkan atau dia meremehkan isti’adzah maka tidak terwujud buah dari isti’adzah itu dan terhalang cahaya alquran masuk ke dalam jiwa pembaca. Betapa banyak orang yang membaca alquran tetapi buta terhadapnya

   قُلۡ هُوَ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ هُدࣰى وَشِفَاۤءࣱۚ وَٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ فِیۤ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرࣱ وَهُوَ عَلَیۡهِمۡ عَمًىۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ یُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۭ بَعِیدࣲ

“Katakanlah, ” Al-Qur`ān adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan ( Al-Qur`ān) itu merupakan kegelapan bagi mereka.Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS Fusshilat: 44)

Risalah keempat

Sungguh setan akan mengelabuhi dalam hati pembaca Al-Quran sehingga menyesatkan pemahaman pembaca atau merusak niatnya atau memalingkan pikirannya dari melihat petunjuk Allah yang ada dalam Al-Quran, sehingga setelah membaca tidak mendapatkan apa yang seharusnya di dapat oleh pembaca atau malah tersesat, sebagaimana keadaan orang-orang sesat dari dulu hingga sekarang.

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّة

ِ”Di akhir zaman nanti, akan mucul suatu kaum yang umur mereka masih muda belia dan akal mereka pun masih bodoh. Mereka mengatakan sesuatu yang baik (namun untuk tujuan keburukan). Mereka juga membaca Al Qur`an, namun tidak sampai melewati batas kerongkongan. Mereka keluar dari Din Islam sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya.” (HR. Muslim)

Risalah kelima

Bahwa seorang hamba yang berlindung kepada Allah niscaya dia akan dilindungi oleh Allah dari hal-hal yang membahayakan itu, karena dia berlindung kepada dzat yang Maha Agung yang perlindungan-Nya tidak akan bisa ditembus oleh siapapun.

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap

Tuduhan Orientalis Terhadap Poligami yang Dilakukan Nabi

0

Nabi Muhammad adalah Nabi yang terakhir petutup atas nabi-nabi sebelumnya. Ia diutus oleh Allah Ta’ala untuk mendakwahkan agama Islam. Orang-orang diluar Islam khususnya Yahudi dan Nashrani tidak menerima hal tersebut bahkan mereka selalu berupaya untuk menjatuhkan dan memusuhi agama Islam. Di antara upaya mereka dalam menjatuhkan agama Islam adalah dengan membuat tuduhan-tuduhan tidak benar yang dilontarkan kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam. Pandangan dan tuduhan orientalis banyak berkisar pada pribadi Nabi Muhammad. Seperti maniak seks, harus peperangan dan kekuasaan, memiliki penyakit epilepsy dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Padahal Nabi Muhammad adalah manusia yang mulia dan ma’shum, beliau terhindar diri aib-aib baik fisik atau psikis. Tuduhan yang dilontarkan oleh para orientalis angs ai memaluli dasar ilmiyah namun dengan sumber rujukan yang dipelintirkan (diselewengkan) ada pula tuduhan yang tidak bersumber dan hanya sekedar mencaci maki Nabi Muhammad. Gustav Weil salah seorang orientalis kebangsaan Jerman berpendapat bahwa Nabi Muhammad terkena penyakit epilepsi dan seorang maniak seks yang memiliki banyak istri (Ghurab, 1993).

Penelitin ini akan membahas tentang mulianya sosok Nabi Muhammad dengan dalil dan fakta yang ada. Kemudian dijelaskan pula tuduhan keliru bahwa Nabi Muhammad adalah seorang maniak seks karena menikahi banyak wanita beserta dengan bantahannya.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library reseach). Metode dalam penelitian ini adalah analisis teks pada sumber-sumber yang relevan, buku-buku dan juga tulisan ilmiyah yang menunjang dalam pengumpulan data terkait tuduhan Nabi Muhammad adalah maniak seks.

Pembahasan

Nabi Muhammad Manusia yang Mulia

Nabi Muhamad merupakan manusia yang agung dan mulia. Beliau memiliki akhlak yang mulia serta budi pekerti yang luhur. Hal ini telah Allah terangkan dalam Al-Quran Q.S al-Qalam: 4. Segala aspek kehidupan Nabi Muhammad diteladani dan dijadikan sebagai role model kehidupan Islam yang sejatinya. Oleh karena itu keteladanan terhadap Nabi Muhammad Allah jadikan sebagi syarat agar seseorang mendapatkan rahmat darinya (al-Ashbahani, 2017). Hal ini telah Alah terangkan dalam Q.S. al-Ahzab: 21.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.

Segapa aspek kehidupan Nabi adalah kebaikan dan patut untuk diteladani. Kita sering menyebut keteladanan dengan uswatun hasanah. Dan ini merupakan nikmat agung yang tidak ada dalam agama lain. Bangsa Amerika sampai menyebut Thomas Jeferson sebagai “The prophet of This Country” atau Nabi angs aini tapi apakah mererka mengikuti seluruh hidup Thomas jeferson ini?  Tidak. Orang komunis sangat bangga dengan Karl Max Namun apakah mereka mengikuti seluruh kehidupan Karl max? tidak. Dalam buku yang ditulis oleh Paul Jhonson judulnya “Intellectuals” buku ini menggambarkan para cendekiawan di Barat salah satunya Karl Max ternyata dalam buku tersebut disebutkan bahwa Karl Max ini orang yang jarang mandi, kotor. Apakah perilaku seperti ini dicontoh? Tentu saja tidak. Berbdeda dengan Nabi Muhammad segala aspek kehidupan beliau patut di contoh dan diteladani, inilah yang menjadikan beliau sebagai manusia terbaik dan mulia disisi Allah.

Allah Ta’ala muliakan Nabi Muhammad dengan diberikan akhlak dan budi pekerti yang luhur, bahkan Allah sebutkan kemualian sifat dan akhlak Nabi di dalam Al-Quran di berbagai s urat dan ayat.

NoSuratAyatPenjelasan Kemuliaan Nabi Muhammad
1Ali Imran159Memiliki Sifat Penyayang
2Al-An’am14Menjadi Muslim Pertama
3At-Taubah128Kemuliaan Nasab Nabi
4Al-Anbiya107Nabi sebagai sahmat untuk semesta alam
5Al-Ahzab21Nabi sebagai suri teladan terbaik
6Al-Ahzab 4545Nabi sebagai saksi
7Saba’28Pemberi kabar gembira
8Shad44Penyabar
9Al-Fath1-2Nabi sebagai pemimpin ke jalan yang benar
10Al-Hujurat3Mukmin lain dilarang meninggikan suara di hadapan beliau
11Al-Qalam4Memiliki akhlak mulia

 

Pernikahan Nabi Muhammad dengan beberapa wanita (poligami) pun merupakan kemuliaan tersendiri bagi beliau, beliau menikah dengan Khadijah, Aisyah, Zainab, Shafiyyah dan istri-istri lainnya. Dalam pandangan syariat seluruh pernikahan beliau terdapat hikmah yang agung, bukan karena hawa nafsu.

Poligami dalam Islam

Poligami sejatinya sudah dilakukan oleh orang-orang terdahulu sejak ratusan bahkan ribuan tahun sebelum datangnya Islam. Kemudian syariat Islam muncul dan menerangkan pembatasan jumlah istri bagi yang hendak berpoligami. Adanya poligami sebagai suatu solusi dari kondisi darurat bukan tanpa alasan, yang oleh orientalis sering dianggap sebagai pemuasan nafsu semata. Menilik sejarah Nabi, sebenarnya beliau berpoligami setelah istri pertamanya, yakni Khadijah binti Khuwailid meniggal pada usia 65 tahun sedangkan Nabi berusia 50 tahun. Selang tiga atau empat tahun setelah kematian Khadijah barulah Nabi menikah lagi. Selain Aisyah, para istri yang telah Nabi nikahi berstatus janda. Nabi pun memiliki alasan tertentu untuk menikahi mereka. Seperti; Saudah binti Zam‘ah, Hindun atau Ummu Salama, Ramlah, dan Juwairiyah binti Al-Haris adalah tawanan pasukan Islam. Hafsah, putri Umar bin Khattab, adalah seorang janda, seperti halnya Shafiyah binti Huyay, dan yang lainnya. Fakta ini tidak diketahui oleh sebagian pendukung poligami. Bahkan sebagian mereka tidak mau tahu atau enggan mengetahui latarbelakang pernikahan tersebut (Haikal, 1993).

Bahkan dalam Islam selain batasan jumlah istri dalam poligami disyaratkan pula keadilan, dalam artian lelaki yang hendak berpoligami harus bisa berlaku adil kepada seluruh istrinya (Syarifah, 2023). Hal ini telah Allah terangkan dalam Q.S an-Nisa: 3. Nabi Muhammad pun telah menekankan tetang kewajiban adil dalam poligami ini, beliau bersabda:

مَنْ كانت له امرأتان فَمَالَ إلى إحْداهُما جاء يومَ القيامةِ وشِقُّهُ مَاِئلٌ

Artinya: Barangsiapa mempunyai dua istri kemudian condong kepada salah seorang dari keduanya, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan pundak yang miring sebelah. (HR. at-Tirmidzi no.1141)

Tuduhan Bahwa Nabi Muhammad Maniak Seks dan Bantahannya

1. Nabi Maniak Seks Menikah dengan Banyak Wanita (Poligami).

Tudahan orientalis terhadap Nabi Muhammad sebagai maniak seks tidak beralasan karena beliau tidak melakukan itu. Bahkan Mahmud Hamdi Zaqzouq menyatakan dengan tegas bahwa Muhammad adalah seorang pengumbar syahwat adalah salah, sangat tidak mungkin seorang Muhammad Saw. yang pada masa remajanya dikenal sebagai pemuda yang sangat menjaga kehormatan diri, ketika mencapai usia lebih dari setengah abad tiba-tiba berubah menjadi seorang pemuja seks. Padahal, seandainya ia mau, kesempatan untuk mengumbar syahwat dapat dilakukannya sewaktu masih muda dan gagah, sebagaimana banyak dilakukan oleh pemuda-pemuda Quraisy seusianya. Hujatan dan tuduhan bahwa Nabi Muhammad sebagai pemuja seks juga semakin tak masuk akal jika ketahui, bahwa diantara istri-istri yang dinikahinya dalam status gadis hanyalah Aisyah seorang. Selebihnya adalah para janda (Mansyur, 2020). Selain itu, beliau menikahinya karena alasan kemanusiaan yang luhur atau karena faktor yang berkaitan dengan hukum syariat. Tak seorangpun dari mereka dinikahi karena dorongan nafsu syahwat dan pemuasan seks semata.

Berikut ini beberapa bantahan bahwa poligami Nabi Muhammad bukanlah karena beliau Maniak seks dan dorongan nafsu semanat:

1. Nabi Muhammad menikahi Khadijah saat permulaan umur dewasanya, sedangkan Khadijah Ketika itu berumur lebih tua dari beliau serta Nabi pun tidak menambah istri (poligami) sampai Khadijah meninggal dunia. Hal ini menu njukkan bahwa Nabi bukanlah maniak seks, karena hanya mencukupkan diri dengan satu istri di masa mudanya.

2. Nabi Muhammad tidak menikawi perawan kecuali Aisyah. Selainnya sudah berumur bahkan ada yang sudah memiliki anak.

3. Menikah lebih dari satu istri bukanlah sesuatui yang tercela dalam sejarah paraNabi. Kaum orientalis paham betul bahwa dalam sejarah Nabi mereka, bahwa nabi Ibrahim menikasi Sarah dan Hajar, Nabi Ya’kub memiliki 4 istri, Nabi Daud memiliki banyak istri (Chotban, 2017). Maka tuduhan kepada Nabi Muhammad ini hanyalah hasad dan kebencian tanpa bukti ilmiyah yang selama ini digaungkan oleh mereka.

4. Semenjak Nabi Muhammad diutus oleh Allah menjadi Nabi maka beliau tidam memiliki banyak waktu luang, beliau berdakwah secara totalitas. Serta mengisi waktu longgarnya untuk banyak beribadah kepada Allah. Maka tidak mungkin beliau menjadi maniak seks karena waktu yang beliau miliki dominan habis untuk dakwah.

2. Pernikahan Nabi Muhammad dengan Zainab binti Jahsy.

Tuduhan lain oleh para orientalis dalam memelintirkan fakta adalah dimana mereka berkata bahwa pada tahun keempat hijriyah Nabi Muhammad menemui Zaid bin Haritsah maka Nabi bertemu pula dengan Zainab binti Jahs dan Nabi merasa takjub dengan kecantikannya. Maka Nabi memerintahkan Zaid untuk menceraikan Zainab agar bisa dinikahi oleh Nabi Muhammad, padahal Zaid adalah anak angkat beliau sendiri (al-Qasim, 2010). Dengan narasi inilah para orientalis mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang bernafsu tinggi suka banyak wanita.

Sungguh tuduhan yang dilontarka n kepada Nabi ini adalah salah, Ketika Zaid bin Haritsah ingin menceraikan Zainab bahkan Nabi Muhammad adalah orang yang menyarankan agar Zaid tetap mempertahankannya, beliau berkata kepada Zaid: “Bertakwalah engkau kepada Allah dan pertahankanlah istrimu”. Hal ini pun telah Allah jelaskan dalam Al-Quran Q.S al-Ahzab: 37.

  وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِىٓ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخْفِى فِى نَفْسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَىٰهُ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. (al-Asqalani, 2015).

Para ulama menjelaskan bahwa pernikahan Nabi dengan Zainab memiliki hikmah yang agung, diantaranya adalah membantah status anak angkat yang ada di zaman jahiliyah, bahwa anak angkat status hukumnya sama persis seperti anak kandung maka menikahi mantan istri anak angkat itu haram sebagaimana menikahi mantan istri anak kandung. Maka pandangan ini bantah dengan perbuatan Nabi Muhammad menikahi Zainab binti Jahs.

3. Pernikahan Nabi Muhammad dengan Saudah

Para orientalis juga berpendapat bahwa ketika Nabi Muhammad sudah merasa bosan dengan Saudah maka beliau menghabiskan jatah waktunya bersama Aisyah. Padahal realitanya berbeda bukan Nabi merasa bosan dan berlaku zalim dengan menggunakan jatah malam Saudah Bersama Aisyah. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan Ibnu Katsir bahwa ketika Saudah binti Zam’ah semakin tua dan khawatir akan dicerai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagianku (jatah bermalamku) untuk Aisyah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya (Ibnu Katsir, 2008). Setelah itu turunlah Q.S an-Nisa ayat: 128 dimana Allah berfirman:

وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ

Artinya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)

Kesimpulan

            Para orientalis menyelewengkan dan memutar balikkan fakta yang ada untuk membuat syubhat dan menyerang pribadi Nabi Muhammad selaku penerima wahyu dari Allah Ta’ala. Diantara tuduhan orientalis yang keji adalah dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad maniak seks. Namun berbagai argument dan tuduhan tersebut tidaklah terbukti bahkan banyak celah diberbaagai sisi.

Ketika Allah Ta’ala memuji Nabi Muhammad dengan menyebutkan nama, sifat dan kepribadian beliau di dalam Al-Quran maka secara tidak langsung semua itu adalah bantahan bagi siapa saja yang mencela kepribadian Nabi Muhammad. Ditambah dengan berbagai fakta sejarah dan pernyataan para ulama’ maka tuduhan bahwa Nabi adalah maniak seks dengan berbagai argument mereka dalah salah, baik Ketika disandingkan dengan nash-nash shahih yang ada atau pun dengan penalaran yang lurus.

Daftar Pustakan

  • al-Asbahani, M. A. (2017) Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu. Riyadh: Dar at-Tauhid lin Nasyr.
  • al-Asqalani, A. H. (2015) Fathul Bari. Kairo: Maktabah as-Salafiyah.
  • al-Qasim, K. A. (2010) Muftarayat wa Akhtha’ Dairah al-Ma’arif al-Islamiyyah al-Istisyraqiyah.
  • Riyadh: Dar ash-Shumai’i.
  • al-Jizani, Q. H. (2013) Attitude of the Orientalists to the Prophetic Chronicle (Concordant in
  • Form Incongruous in Content). Al-Ameed Journal, Volume 2, Issue 5, 257-291.
  • an-Nadwi, A. A. (2008) as-Sirah an-Nabawiyah. Jeddah: Dar asy-Syuruq.
  • Chotban, S. (2017) Nilai Keadilan dalam Syariat Poligami. Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam. Vol.4(1), 173-184.
  • Ibnu Katsir. (2008) Tafsir al-Quran al-Adzhim. Dar at-Thayibah.
  • Ghurab, A. A. (1993) Menyingkap Tabir Orientalisme. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
  • Zaqzouq, M. H. (2004) Haqaiq Islamiyyah Fi Muwajahat Hamalilt at-Tasykik. Kairo: Maktabah
  • Syuruq ad-Dauliyah.
  • Khoiriyyah, R. L. (2018) Poligami Nabi Muhammad Menjadi Alasan Legitimasi Bagi Umatnya
  • serta Tanggapan Kaum Orientalis. Jurnal Living Hadis, vol. 3(1), 1-21.
  • Mansyur, S. (2020) Memetakan Tuduhan Orientalis Terhadap Nabi Muhammad SAW. Pusat
  • Penelitian Dan Penerbitan Lp2m UIN Banten.
  • Syarifah, N. (2023). Poligami Dalam Pandangan Mohammad Khalifa Dan Orientalis. HUMANIS:
  • Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol.15, 1-6.

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Mahrom Saat Safar di Era Transportasi Serba Cepat

0

Transportasi modern membuat perjalanan lima hari dengan jalan kaki dapat ditempuh selama beberapa jam saja. Dulu Jarak yang terdengar jauh kini dapat dijangkau dengan mudah. Dulu proses perjalanan yang melelahkan dapat dibuat nyaman dengan duduk manis sambil menyantap camilan. Dulu perempuan merasa was-was ketika pergi tanpa pendamping kini, banyak perempuan yang membuat jadwal rutin ke luar kota walaupun sendirian.

Syariat Islam menempatkan perempuan pada posisi terhormat. Dalam urusan bepergian jauh perempuan selalu dikaitkan dengan mahram. Bukan untuk mengekang kebebasannya, tapi justru perempuan mendapatkan penjagaan dalam mengekspresikan keinginannya. Oleh karenanya, sepenting apapun urusan perempuan sehingga harus safar, mahrom tetap menjadi  prioritas untuk diikutkan dalam perjalanan.

Saking pentingnya urusan mahrom ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah memerintahkan sahabatnya yang akan berperang untuk kembali agar bisa menemani istrinya yang akan bersafar. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu `Anhu:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ: «لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ»، فَقَامَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ‌إِنَّ ‌امْرَأَتِي ‌خَرَجَتْ ‌حَاجَّةً، وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali ada mahrom yang menemani perempuan tersebut. Dan janganlah seorang perempuan bersafar kecuali bersama mahrom. Seorang laki-laki tiba-tiba berdiri dan mengatakan: Wahai Rasulullah sesungguhnya istriku pergi untuk haji sementara aku diperintahkan untuk ikut perang ini dan itu. Maka Rasululloh menjawab: pergilah engkau dan berhajilah bersama istrimu.” (HR. Muslim no. 2391)

Ternyata menemani haji sang istri lebih diprioritaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dibanding ikut berperang. Padahal berjihad di medan pertempuran perkara yang diwajibkan ketika ada komando dari ulil amri. Jika haji yang merupakan kewajiban dengan tetap melibatkan mahrom untuk perempuan, maka terlebih lagi untuk urusan yang levelnya bukan wajib seperti liburan, kunjungan, dan lain-lain.

Larangan perempuan safar tanpa mahram banyak yang mengaitkan dengan hikmah – hikmah di baliknya. Di antaranya agar dihindarkan dari gangguan dan agar tidak was-was ketika di perjalanan panjang. Hikmah inilah yang digunakan oleh sebagian pihak untuk membolehkan perempuan melakukan safar tanpa mahram dengan kendaraan moderen. Karena yang dikawatirkan di atas tidak ditemui di era transprotasi serba cepat ini. Maka safar tanpa mahrom diperbolehkan karena terbukti rata-rata perempuan merasa nyaman bepergian sendiri tanpa mahram dengan menggunakan kereta, pesawat, dan kendaraan moderen lainnya.

Namun menjadikan hikmah sebagai landasan untuk memperbaharui hukum tidaklah tepat. Karena  menurut para ulama ushsul fikih hikmah ada yang diketahui manusia dan ada juga hikmah yang hanya diketahui Allah Subhanahu Wataala saja. Bisa jadi hikmah di balik sebuah larangan sejauh yang diketahui manusia adalah hikmah yang sering terjadi. Tapi di momen – momen tertentu terjadi hal yang tidak bisa diprediksi manusia.

Hikmah yang tidak bisa diprediksi manusia saat bepergian jauh menggunakan kendaraan moderen contohnya seperti seorang yang hendak naik pesawat untuk pulang dari luar kota. Jarak yang ditempuh hanya memakan waktu tiga  jam untuk sampai di tempat tujuan. Tiba-tiba pesawat mengalami masalah sehingga harus menunggu lama. Apabila proses perbaikan pesawat tidak kunjung selesai dalam satu hari maka mau tidak mau penumpang harus menyewa penginapan. Mencari penginapan bisa jadi jauh dari bandara dan pengantarnya yang ada rata-rata adalah driver laki-laki. Jika hal ini dialami oleh seorang perempuan maka dia terjatuh pada dua larangan yaitu safar dengan waktu satu hari dan berduaan dengan selain mahrom.

Dari kejadian di atas manusia bisa saja mengira bahwa perjalanan menggunakan pesawat menjadi perjalanan yang cepat dan nyaman. Tapi ketika ada kejadian yang tidak disangka-sangka pada akhirnya berdampak pada bentuk pelanggaran lainnya.

Kesimpulan dari masalah ini adalah apa yang pernah disampaikan oleh syaikh Bin Baz Rahimahullohu Ta`ala bahwa adanya rahasia-rahasia dibalik aturan syariat tidak menjadikan aturan syariat itu diabaikan Beliau mengatakan:

فإن أسرار أحكام الشريعة الإسلامية كثيرة، وعظيمة، وقد يخفى بعضها علينا، فالواجب التمسك بالأدلة الشرعية، والحذر من مخالفتها من دون مسوغ شرعي لا شك فيه

“Sesungguhnya rahasia-rahasia yang ada dalam hukum-hukum islam sangat banyak dan agung namun sebagian tersembunyi dari pengetahuan kita maka yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh dengan dalil-dalil syar`i dan berhati-hati dari pelanggaran terhadapnya tanpa alasan yang syar`i serta tanpa keraguan didalamnya.”

Referensi:

  • Shahih Muslim
  • https://binbaz.org.sa/fatwas/14047

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Adab Menjenguk Orang Sakit

0

Sungguh menjenguk saudara semuslim yang sedang sakit sangat dianjurkan dalam syariat Islam, hal ini termasuk hak seorang muslim yang sakit yang menjadi kewajiban bagi muslim lainnya, Nabi ‘alaihis shalatu was salam menyatakan bahwa : “Lima hal menjadi hak sesama kaum muslimin : (diantaranya) membesuk orang sakit,….”. (Bukhari dan Muslim).

Adapun berkenaan dengan fadhilah/keutamaan membesuk orang sakit, dalam riwayat imam Tirmidzi dan Ibnu Majah bahwa Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda :

من عاد مريضا أو زار أخا له في الله ناداه مناد أن طبت وطاب ممشاك وتبوأت من الجنة منزلا

“Barangsiapa yang membesuk orang sakit atau mendatangi saudaranya karena Allah, maka ada penyeru yang menyeru “sungguh kamu orang baik dan sangat baik perjalananmu dan kamu telah mempersiapkan tempat tinggal di surga”

Dalam riwayat Muslim, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda :

إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا عَادَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Sesungguhnya seorang muslim apabila dia membesuk saudaranya yang sakit, dia senantiasa memetik kenikmatan surga sampai pulang.” (HR. Muslim)

Nabi ‘alaihis shalatu was salam menyerupakan orang yang beribadah berupa membesuk orang sakit seperti orang yang sedang panen buah, orang yang sedang membesuk saudaranya yang sakit sedang memetik buah-buah surga dengan pahala membesuk saudaranya yang sakit.

Diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh syekh Al-Albani dari sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata “aku mendengar Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ , وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إلا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّة

“Tidaklah seorang muslim membesuk seorang muslim lainnya di waktu pagi hari, kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat yang bersholawat (mendoakan) untuknya sampai sore hari, dan jika membesuk di waktu sore hari kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat yang bershalawat untuknya sampai pagi hari, dan dia baginya taman surga.”

Apa hukum membesuk saudara sesama muslim yang sedang sakit?

Membesuk saudara muslim yang sakit adalah suatu kewajiban yang menjadi hak saudara yang sakit itu, walaupun ini hak seorang muslim tetapi tidak sampai ke ranah wajib ‘aini (wajib setiap orang muslim secara personal). Sebagian ulama menyatakan bahwa hukum membesuk orang sakit adalah sunnah muakkad, tetapi sebagian yang lain seperti, syekhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan wajib kifai (jika sebagian muslim sudah membesuk, maka sebagian yang lain gugur kewajibannya) dan pendapat ini -insya Allah dan ilmu di sisi Allah- lebih tepat, karena hal itu sudah dinyatakan oleh Nabi ‘alaihis sholatu was salam menjadi suatu hak yang wajib ditunaikan oleh muslim yang sehat.

Dalam membesuk orang sakit ada beberapa adab, berikut diantaranya:

  1. Memilih waktu yang sesuai, hindari waktu-waktu yang biasa orang sakit pakai untuk istirahat
  2. Menanyakan perihal keadaan kepada orang sakit dan apa yang dirasakan, jika tidak memungkinkan maka bisa bertanya kepada yang berjaga, tetapi harus menjaga perasaan orang yang sakit tersebut
  3. Memperlihatkan perhatian kepada orang sakit, hal ini sangat dibutuhkan oleh orang sakit tersebut, karena dia sangat membutuhkan bantuan dari orang yang sehat
  4. Secara ikhlas dan khusyu’ mendoakannya dengan doa yang ma’tsur seperti

أسال الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك

As alullahal ‘adziim robbal ‘arsyil ‘adziim ay yasyfiyaka (aku memohon kepada Allah yang maha agung rob pemilik ‘arsy yang besar, semua Dia menyembuhkanmu) doa ini dibaca di sisi orang sakit sebanyak tujuh kali.

Atau doa lain seperti

اللهم اشف

Allahumma isyfi...(disebut nama yang sakit) ya Allah sembuhkan …..

  1. Memberikan rasa optimis kepada orang yang dibesuk, seperti yang dilakukan oleh Nabi ‘alaihis sholatu was salam dengan mengucapkan

لا بأس طهور إن شاء الله

Laa ba’sa thohuurun insyaAllah (tidak apa-apa in sya Allah ini menjadikan bersih)

  1. Menasehati untuk bersabar dan tidak berkeluh kesah

Inilah beberapa adab ketika menjenguk saudara sesama muslim yang sedang ditimpa sakit.

Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan penulis dan pembaca… Aamiiin

Referensi: https://islamqa.info/ar/answers/71968/

donatur-tetap

Tiga Alumni Hamalatul Quran Sampai di Kota Nabi

0

HAMALATULQURAN — Madinah, Sebanyak tiga alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran telah tiba di kota Nabi beberapa pekan lalu, mereka adalah Abullah Ariq, Hanif dan Zaki Abdillah. Ketiga alumni tersebut langsung beradabtasi dengan suasana kampus yang dirindukan banyak penuntut ilmu dari penjuru dunia yaitu Universitas Islam Madinah.  Dengan adanya tambahan tiga alumni ini maka jumlah alumni Pesantren Hamalatul Quran yang masih menimba ilmu di UIM adalah 12 orang, 11 di jenjang S1 dan 1 dijenjang S2.

Seperti biasa mahasiswa baru akan ditempatkan di kamar asrama oleh pihak kampus dengan beberapa fasilitas yang sangat cuku yaitu berupa lemari, ranjang, Kasur, bantal, meja dan kursi belajar.

Berikut sekilas foto kamar alumni Hamalatul Quran yang baru sampai di UIM.

Ketiga alumni tersebut selain aktif mengikuti perkuliahan mereka juga ikut kajian rutin di rumah syaikh Ahmad Gunaiman hafidzahullah yang tidak terlalu jauh dari kampus yaitu sekitar 350 meter. Beliau adalah putra dari pakar ilmu akidah yaitu syaikh Abdullah Ghunaiman sekaligus menantu dari pakar hadis kota Nabi yaitu syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahumallah.

Setelah kajian terkadang para alumni Hamalatul Quran mampir ke tempat makan yang terletak tidak jauh dari rumahnya, makan bersama menjalin keakraban, konsultasi dengan kakak kelas bila ada kendala dalm perkuliahan sekaligus saling menasehati agar senantiasa semangat dalam menuntul ilmu di kita Nabi.

Seorang penyair berkata,

إذا لم تطب بطيبة عند طيب
به طابت الدنيا فأين تطيب

Jikalau dirimu tak jua berubah baik di negeri yang baik (Madinah), padahal di sisimu terkubur manusia terbaik (Muhammad) yang dengan hadirnya menjadi baik seisi dunia, maka adakah tempat lain yang bisa kau harapkan untuk berbenah diri?

Semoga dengan bertambahnya alumni Hamalatul Quran yang menimba ilmu di kota Nabi dapat menjadi motivasi bagi para santri lainnya untuk lebih semangat dalam belajar dan menuntut ilmu.

donatur-tetap

Rahasia Dibalik Isti’adzah (Bag.1)

0

Isti’adzah adalah mengucapkan A’udzu billahi minas syaitanir rajiim (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk), bacaan isti’adzah ini sangat dianjurkan ketika hendak memulai membaca alquran, hal ini berdasarkan perintah Allah dalam alquran :

 فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ ٱلرَّجِیمِ

 “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur`ān, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An-Nahl 98)

Walaupun dalam ayat ini lafadznya adalah dalam bentuk perintah tetapi hukum membaca isti’adzah adalah sunnah tidak sampai kepada derajat wajib (yang jika ditinggalkan berdosa), hukum membaca isti’adzah sunnah ini telah menjadi ijma kesepakatan dari para ulama.

Seorang hamba ketika membuka dan meminta nur (cahaya) robbnya dengan membaca kitab-Nya yang mulia (Al-Quran), ditakutkan setan akan mengelabuhinya lewat bisikan hati, sehingga pembaca hanya membaca dengan lisan tetapi hati menjadi lalai sehingga apa yang dibaca tidak membuahkan manfaat kecuali hanya sedikit.

Apa itu setan ?

Setan adalah setiap yang membangkang dan menentang perintah Allah baik dari kalangan jin maupun manusia, adapun Iblis adalah induk dari syaiton di alam ini, dialah musuh kaum mukminin yang nyata, telah berjanji kepada Allah untuk membuat kerusakan di muka bumi dan menyesatkan penduduknya baik dari bangsa jin maupun manusia. Allah berfirman berkenaan dengan janji Iblis laknatullah ‘alaihi ini :

 قَالَ رَبِّ بِمَاۤ أَغۡوَیۡتَنِی لَأُزَیِّنَنَّ لَهُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِیَنَّهُمۡ أَجۡمَعِینَ  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِینَ

“Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (QS. Al Hijr: 39-40).

Allah telah mengusir Iblis la’latullah dari langit dan merajamnya (lempari) dengan bintang-bintang, maka iblis menghabiskan dan mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk mewujudkan janjinya kepada Allah dalam menyesatkan hamba-hambaNya, tidaklah hamba berbuat kebaikan malainkan Iblis akan menungganginya dengan berbagai macam fitnah, bisikan dan gangguan agar supaya hamba tidak jadi melakukan kebaikan atau bahkan menjahuinya, maka Allah menganjurkan kepada kaum mukminin untuk membaca ta’awudz sebagai penjagaan dan keamanan dari syaiton yang terkutuk. Mana lagi keamanan yang lebih besar dari pada keamanan Allah ?!

Lafadz isti’adzah kembali kepada seseorang yang berdoa  aku memohon perlindungan dan keamanan kepada Allah semata dari bujukan syaiton yang terlaknat dan terusir dari rahmat Allah, dan aku berlindung kepadaNya dari usaha setan untuk membahayakan agamaku dan duniaku, atau menghalangiku dari menunaikan hak-hak Allah.

Jika seseorang membaca ta’awudz ketika ingin baca Al-Qur’an dia hendaknya menghadirkan rasa maksud dan urgensi dari bacaan ta’awudz tersebut dan bersungguh-sungguh untuk mensucikan hatinya dari jalannya syaiton yang sangat lembut, meminta perlindungan kepada Allah dari syaiton yang terkutuk, pasti syaiton akan kabur dan lari dari menyesatkan seseorang tersebut.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Antara Syariat dan Permasalahan Kontemporer

0

Dalam hidup ini terkadang ada beberapa hal yang memaksa seseorang sedikit menunjukkan sikap lunak manakala menghadapi sebagian problematika yang berkembang di lapangan dan masyarakat terutama terkait dengan problematika-problematika mu’ashirah atau kontemporer. Hal ini banyak sekali menyita perhatian para pemuda generasi sekarang ini dan banyak pula kaum muslimin yang terjerumus ke dalamnya sementara mereka bingung antara memilih hukum-hukum syari’at dari satu sisi dan tuntunan dunia kontemporer dari sisi yang lain.

Contoh dari beberapa masalah tersebut adalah, Medsos, TV, internet, ikhtilath (percampurbauran antara bukan mahram), problematika seputar pariwisata, bunga riba dan problematika-problematika lainnya yang dapat melelahkan dan membingunkan generasi saat ini, terutama bagi mereka yang minim ilmu agama.

Lantas bagaimana berinteraksi dengan beberapa problematika kontemporer yang demikian rumit tersebut?

Tidak dapat diragukan lagi bahwa agama Islam adalah agama yang komfrehensif, dalam artian bahwa ia tidak membiarkan satu problematika kehidupan pun hingga hari kiamat melainkan telah memberikan solusi yang sesuai untuknya. Dan itu karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini sebagaimana dalam firman-Nya:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينًۭا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (QS. Al-Maidah: 3)

Dan hal yang tidak dapat disangkal dan dipandang sebelah mata bahwa para ulama k telah mengintisarikan fikih yang agung dari Al-Quran dan Sunnah, demikian pula sekian banyak hal yang menyoroti problematika-problematika dunia serta memberikan solusi-solusi yang bersifat universal. Semua solusi-solusi ini terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Sekarang kita tidak dapat mengingkari bahwa dunia saat ini diterpa oleh perubahan-perubahan dan beragam problematika yang tidak terhitung banyaknya akan tetapi seorang muslim yang sejati maka wajib baginya untuk mengembalikan solusi terhadap problematika-problematika dan perubahan-perubahan ini kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan sebagaimana yang kita ketahui bahwa dua sumber ini tidaklah menolak mentah-mentah sesuatu yang bermanfaat bagi seorang muslim akan tetapi keduanya menolak sesuatu yang berbahaya bagi individu dan kelompok.

Bila kita sendiri membaca dalil-dalil yang ada dari Al-Quran dan Sunnah namun kita tidak memahaminya, maka kita diperintahkan untuk bertanya pada ahlinya yaitu para ulama, Allah Ta’ala berfirman:

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43)

Sedangkan mengenai bagaimana cara seorang muslim menginvestasikan harta-hartanya, maka Islam telah meletakkan solusi dan cara-cara menginvestasikannya. Di sana ada yang namanya jual beli baik seorang muslim melakukannya sendiri ataupun dengan melakukan sistem mudharabah dengan orang lain sesuai dengan aturan syari’at, yaitu menyerahkan harta tesebut kepada orang yang menjual dan membelinya dengan imbalan sebagian keuntungan yang tidak ditentukan dengan jumlah nominal tertentu. Ataupun dengan cara menanamkan saham pada perusahaan-perusahaan yang bersih dan perusahaan yang produksi seperti perushaan-perusahaan industri, listrik dan transportasi. Yaitu perusahaan-perusahaan yang menginvestasikan harta-harta tersebut dengan cara investasi yang bersih. Banyak jalan yang dapat ditempuh seperti pada real estate, persawahan dan sebagainya, demikian pula membangun proyek-proyek produktif yang bersih.

Kembali kami tekankan bahwa segala problematika yang ada baik dulu, saat ini dan yang akan datang semua solusinya ada dalam syariat Islam. Bila anda belum menemukannya bukan berarti tidak ada, namun mungkin hanya karena anda belum mengetahui atau belum mengilmuinya

Referensi:

  • Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram.
  • Fatwa Syaikh Al-Fauzan 2/164-166

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap