Home Artikel Hikmah dari Penindasan di Palestina (Bag.1)

Hikmah dari Penindasan di Palestina (Bag.1)

286
0

Ketidakmampuan seorang muslim untuk melindungi saudaranya yang tertindas sering membuat gelisah. Bagaimana tidak, ikatan persaudaraan atas dasar iman membuat hati turut merasakan kepedihan saudaranya. Ketika mereka tidak bisa makan dan minum, tidak bisa beristirahat dengan tenang, tidak bisa beribadah dengan nyaman, selalu menimbulkan bayang-bayang bagaimana kalau berada pada kondisi yang sama seperti mereka.

Bertebaran pengakuan di media sosial bahwa rata-rata muslim yang tidak bisa membantu sudaranya di Palestina bertekad untuk mendoakan. Doa yang dipanjatkan pun berbeda-beda, ada yang ingin agar saudara-saudara di palestina kembali diberikan kehidupan yang layak seperti sebelumnya. Ada yang berdoa agar musuh-musuh Islam yang menindas tersebut diberikan hidayah. Dan di belahan bumi lainnya juga banyak yang mendoakan agar mereka yang menindas itu dibinasakan.

Jika dihitung secara angka jumlah doa yang dipanjatkan umat islam jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kaum penindas tersebut. Karena secara fakta jumlah muslim jauh lebih banyak dibandingkan dengan israel. Tapi mengapa doa yang sangat banyak itu tidak membuat keadaan di palestina berubah lebih baik sampai hari ini.

Ada dua sebab minimal kenapa doa-doa itu belum merubah keadaan:

1. Allah lebih tau kapan doa itu perlu dikabulkan.

Tidak semua doa dapat terkabulkan sesegera mungkin. Bisa jadi Allah menunda terkabulnya doa orang terdzolimi di waktu yang tepat. Karena Allah mempunyai pengetahuan yang tidak dimiliki makhluqnya seperti pengetahuan tentang kejadian yang akan datang. Nabi Musa dan nabi Harun pernah berdoa karena kedzoliman Firaun yang sudah membuat sengsara kaumnya nabi Musa:

رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَة وَأَمۡوَٰلا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ

“Ya Tuhan kami, engkau telah memberikan kepada Fir`aun dan juga pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibatnya) mereka menyesatkan manusia dari jalanmu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka dan kuncilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat adzab yang pedih”. (Q.S Yunus:88)

Setelah nabi musa memohon dengan permohonan kebinasaan atas Firaun dan harta-hartanya, Allah mengabulkan do’anya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikutnya:

قَالَ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا فَٱسۡتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ

“Dia (Allah) berfirman, sungguh telah diperkenankan permohonan kamu berdua sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui” (Q.S Yunus:89)

Menurut pendapat banyak ahli tafsir, jarak antara doa yang dipanjatkan nabi Musa dengan terkabulnya adalah empat puluh tahun. Sebagaimana dikutip dalam tafsir Al-Jalalain bahwasannya setelah nabi Musa berdoa, Fira’un masih hidup sampai empat puluh tahun hingga terjadi penenggelamannya di laut  (Tafsir Al jalalain : 280). Bisa disimpulkan bahwa waktu yang dinanti-nantikan oleh umatnya nabi Musa untuk terkabulnya doa beliau tidak sebentar.

2. Murka Allah bisa menghalangi tekabulnya doa.

Banyaknya lantunan doa yang dipanjatkan tapi belum terkabul sesuai harapan mengingatkan kita atas dosa yang pernah kita perbuat. Terlebih lagi pada zaman sekarang ini, banyak hal baru dengan keanekaragamannya yang tidak disadari bahwa hal itu adalah suatu dosa. Sehingga secara tidak sadar, banyak yang menjadikan perbuatan terlarang itu justru menjadi ladang mencari rezeki.  Akibatnya tanpa disadari terbiasa mencari rizki yang haram, maka terbiasa juga mengkonsumsi yang haram. Hal ini lah yang membuat doa sangat sulit untuk dikabulkan. Sebagaimana yang pernah disebutkan dalam suatu hadis:

ثم ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ ‌أَشْعَثَ ‌أَغْبَرَ، ‌يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِك   .

“Kemudian beliau (Rasulullah Shallallohu Alahi Wasallam) menyebutkan tentang seorang laki-laki  yang melakukan perjalanan panjang dalam kondisi kusut dan kotor, kemudian dia mengadahkan tangannya ke langit dan berdoa “wahai tuhanku” “ wahai tuhanku” namun makanannya harom, minumannya harom, dan pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram. Lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?.” (H.R Muslim no:1015)

Hadis di atas menunjukkan bahwa rezeki yang didapat dan digunakan dalam hal yang haram membuat Allah enggan mengabulkan doa. Lebih dari tidak dikabulkannya doa, ternyata ada perbuatan yang lebih  mengerikan lagi dampaknya yaitu dosa yang diperangi oleh Allah dan Rasulnya. Karena orang yang melakukan perbuatan yang mengerikan ini hakikatnya sedang mengumumkan perang kepada Allah dan Rasulnya. Perbuatan tersebut adalah riba.  Allah berfirman:

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡب مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ

“ Jika kamu tidak melaksanakannya (meninggalkan riba), maka berilah pengumuman perang dari Allah dan Rasulnya” (QS Al-Baqarah: 279)

Dalam ayat ini sangat jelas bahwa yang mengumumkan perang kepada pelaku riba adalah Allah sang pencipta semesta alam dan juga Rasulnya. Allah dzat yang bisa mengabulkan permohonan hambanya diposisikan sebagai lawan oleh pelaku riba. Maka bisa direnungkan bagaimana mungkin Allah mengabulkan permohonan hamba yang secara terang-terangan justru menjadi poros lain yang diperangi Allah.

Sayangnya perbuatan ini sudah merajalela di berbagai negara muslim.  Praktiknya mulai dari kota hingga pelosok desa. Tidak hanya tersebar tapi sudah menggurita seolah-olah sulit terlepas dari perbuatan hina tersebut karena merasa sudah terlilit dengan system yang berjalan.

Semoga umat muslim di segala penjuru dunia dijauhkan dari murka Allah.

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

Artikel: HamalatulQuran.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here