Home Blog Page 13

Tadabbur Surat Al-Ikhlas

0

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang pendek dan semua kaum muslimin pasti hafal, sering diulang-ulang, surat yang sangat agung maknanya meskipun hanya empat ayat, surat yang seharusnya umat islam ini bersatu di atasnya.

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang menceritakan tentang diri Allah sendiri, dari keesaanNya, kesempurnaanNya, dan peniadaan selainNya yang sekufu (setara) denganNya baik segi dzat, shifat maupun perbuatan. Berbicara tentang kemurnian tauhid, dan juga bantahan untuk kelompok yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan keturunan seperti kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin Arab dahulu.

Surat yang siapa saja membaca dan memahaminya pasti kenal Allah,  menggetarkan hatinya, menenangkan jiwanya, maka sungguh mulia lisan membacanya, hati mentadabburi dan memahaminya, dan menjadi mulia orang yang cinta kepadanya.

Faedah:

1. Cinta kepada surat ini bisa memasukkannya ke dalam surga.

Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita bahwa ada seseorang yang senantiasa membaca Al-Ikhlas sebagai penutup dari bacaan al-qurannya di setiap imam sholat, maka Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam bertanya tentang sebab kenapa senantiasa melakukan hal itu ? dia menjawab إني أحبها”sungguh saya cinta kepadanya” maka Rosul ‘alaihis sholatu was salam menyatakan إن حبها أدخلك الجنة”sungguh cinta kepadanya memasukkanmu ke dalam surga” HR Tirmidzi

2. Pembacanya akan dibangunkan rumah di surga.

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari bapaknya dari Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam, beliau bersabda: “barang siapa yang membaca قل هو الله أحد(surat Al-Ikhlas) sebanyak sepuluh kali, Allah membangunkan sebuah rumah di surga” maka Umar bin Khottob bilang: “kalau begitu kita perbanyak (baca Al-Ikhlas) ya Rosulallah ‘alaihis sholatu was salam” beliau menjawab: “Allah, perbanyak dan perbaiki”. HR Ahmad.

3. Surat Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Quran

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam bersabda: “berkumpulah saya akan bacakan sepertiga Al-Quran” maka berkumpulah siapa yang berkumpul dari para sahabat, kemudian keluarlah Nabi dan membacakan قل هو الله أحد (Al-Ikhlas) kemudian beliau masuk lagi, maka para sahabat saling berkata “menurutku ini wahyu datang dari langit yang membuat beliau masuk” kemudian beliau keluar lagi dan bersabda: “sungguh saya telah katakan kepada kalian: saya akan bacakan sepertiga Al-Quran, ketahuilah bahwa dia (surat Al-Ikhlas) sebanding sepertiga Al-Quran”. HR Muslim.

Makna sepertiga Al-Quran adalah:

  • Isi kandungan Al-Quran terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: hukum, kabar dan tauhid, sedangkan surat Al-Ikhlas murni di bagian ketiga yaitu tauhid.
  • Al-Quran ada tiga sisi, yaitu: kisah, hukum dan sifat Allah, surat Al-Ikhlas meliputi sisi yang ketiga.
  • Al-Quran terbagi menjadi tiga bagian, sepertiga bagian hukum, sepertiga bagian janji dan ancaman (وعد و وعيد), sepertiga bagian asma wa shifat (nama dan sifat) Allah, surat Al-Ikhlas dari sepertiga bagian terakhir.
  • Secara keseluruhan bahwa agama tegak di atas tiga pondasi, tauhid dan peniadaan sekutu bagi Allah, kenabian dan syareat, dan akherat, Nabi ‘alaihis sholatu was salam menjadikan surat Al-Ikhlas menjadi satu dari tiga bagian tersebut.

Penamaan surat Al-Ikhlas

  1. Surat Al-Ikhlas benar-benar murni tentang sifat Allah dan pembicaraan tentangNya, tidak ada perintah ataupun larangan didalamnya, satu-satunya materi yang ada didalamnya adalah tauhid semata.
  2. Menerangkan kemurnian Allah dari hal-hal yang aib (sifat buruk), persekutuan, dan meniadakan dariNya semua yang kurang.

Ada banyak nama lain dari surat Al-Ikhlas ini, diantaranya adalah Al-Asaas, disebut demikian karena surat Al-Ikhkas menjadi pondasi aqidah. Meskipun surat ini mempunyai nama yang banyak, tetapi nama yang paling terkenal dan di kenal oleh kaum muslimin adalah Al-Ikhlas.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Orang Tua Galak, Anak Jadi Jauh

0

Menjadi orang tua adalah amanah besar yang tidak ringan. Anak-anak bukan hanya buah cinta suami istri, tetapi juga titipan Allah yang harus dijaga, dididik, dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang serta tanggung jawab. Sayangnya, banyak orang tua mengira bahwa sikap galak dan keras adalah bentuk dari ketegasan dalam mendidik. Padahal, galak dan tegas adalah dua hal yang sangat berbeda.

Galak sering kali lahir dari emosi dan kemarahan. Tegas lahir dari kasih sayang dan komitmen terhadap kebaikan.

Sikap galak biasanya muncul dalam bentuk kemarahan yang meledak-ledak, ancaman, dan hukuman yang tidak disertai penjelasan. Hal ini justru menimbulkan luka emosional dan menjauhkan anak dari orang tuanya.

  • Anak tidak menjadi paham mana yang benar dan salah, hanya takut pada amarah.
  • Anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang pendendam, tertutup, atau bahkan memberontak secara diam-diam.
  • Anak belajar berdusta untuk menghindari dimarahi, bukan karena memahami nilai kejujuran.

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (orang tuamu) dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabb-ku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.'”
(QS. Al-Isra: 24)

Jika kita diperintahkan bersikap lembut dan penuh kasih kepada orang tua, maka sebagai orang tua, tentu lebih utama untuk bersikap penuh kasih kepada anak-anak yang masih polos dan sangat membutuhkan bimbingan yang lembut.

Nabi Muhammad ﷺ Teladan dalam Mendidik Anak

Rasulullah ﷺ adalah sosok paling sempurna dalam mendidik umat. Beliau dikenal sangat lembut, penuh kasih sayang, dan tidak pernah menyakiti anak-anak. Bahkan ketika seorang anak melakukan kesalahan, beliau menasihatinya dengan bahasa yang mudah dipahami dan tanpa menyakiti hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain:

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama terdahulu dan orang-orang shalih sangat memahami pentingnya pendidikan anak yang lembut dan bijak.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

“Betapa banyak kerusakan yang terjadi pada anak-anak justru karena orang tua yang salah dalam mendidik. Mereka tidak mengajarkan kewajiban, membiarkan kesalahan, dan bersikap keras tanpa kasih sayang. Akhirnya anak tumbuh dalam keburukan, dan dosa itu kembali kepada orang tuanya.”
(Tuhfatul Maudud bi Ahkam al-Maulud)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Ajarkanlah anak-anak kalian adab sebagaimana kalian mengajarkan mereka ilmu.”

Adab tidak bisa ditanamkan dengan kekerasan. Ia tumbuh dari contoh, kasih sayang, dan keistiqamahan.

Belajar dari Masa Lalu

Mari kita renungkan bagaimana kita dulu dididik. Sebagian dari kita mungkin tumbuh di bawah pola asuh yang keras, namun kita tahu rasanya. Maka sebagai orang tua hari ini, jadilah generasi yang memperbaiki, bukan mewarisi pola keras yang tidak tepat.

“Orang tua adalah arsitek karakter anak. Bangunan jiwa anak tidak dibentuk dalam sehari, tapi oleh sikap-sikap kecil yang kita ulang setiap hari.”

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Berikut ini adalah langkah-langkah nyata yang bisa kita tempuh dalam mendidik anak dengan penuh kasih:

1. Jaga kedekatan dengan anak.
Bukan berarti memanjakan, tapi menjadikan diri kita tempat yang nyaman untuk mereka pulang, bercerita, dan menemukan arah.

2. Arahkan anak pada kebaikan dengan sabar dan istiqamah.
Pendidikan agama harus ditanamkan sejak dini, bukan dengan paksaan, tetapi melalui keteladanan dan penjelasan yang menyentuh hati.

3. Bimbing ketika anak salah.
Jangan hanya memarahi, tapi tunjukkan kebenaran dengan cara yang mereka pahami. Jadikan kesalahan sebagai momen belajar, bukan trauma.

4. Ajarkan anak untuk berdoa.
Bimbing mereka mengenal Allah, cinta pada ibadah, dan ajari mereka bahwa doa adalah senjata kehidupan.

5. Mohon kepada Allah agar melembutkan hati.
Tidak hanya hati anak, tetapi juga hati kita sebagai orang tua. Hati yang lembut lebih mudah mencintai, mengampuni, dan memimpin dengan cinta.

Penutup

Anak adalah amanah, bukan milik yang bisa diperlakukan sekehendak hati. Mereka bukan objek pelampiasan emosi, tetapi taman-taman hati yang harus dirawat dengan cinta dan kesabaran.

🌱 Galak hanya akan menumbuhkan ketakutan. Tapi kasih sayang akan menumbuhkan kepercayaan, cinta, dan ketaatan.

Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang lembut dalam sikap, kuat dalam prinsip, dan sabar dalam mendidik. Aamiin.

donatur-tetap

Kiat Sukses Belajar Bag.3

0

Sebelumnya telah dipaparkan kiat sukses menuntut ilmu; meminta pertolongan kepada Allah, memiliki niat yang baik, berdoa, memiliki hati yang baik, dan memiliki kecerdasan. Tulisan ini akan melanjutkan bahasan kiat-kiat sukses dalam belajar

Kiat keenam, antusias untuk mendapatkan ilmu

Antusias adalah sebab mendapatkan ilmu dan sebab Allah membatu seorang hamba untuk memperoleh ilmu.

Allah ta’ala berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَࣖ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat sebaik-baiknya.” (Qs. An-Nahl [16]:128)

Berbuat sebaik-baiknya bisa diwujudkan manakala seroang itu antusian untuk mendapatkan sesuatu. Diantara cara untuk menunbuhkan antusias dalam menuntut ilmu adalah memahami nilai yang ada dalam ilmu tersebut. Ilmu adalah perkara agung yang semestinya diupayakan agar didapatkan oleh seseorang.

Sehingga menjadi kewajiba penuntut ilmu memiliki antusias yang besar, antusias menghafal hal-hal yang perlu dihafal dan memahami bagian yang perlu difahami. Diantara bentuk antusias belajar adalah dengan mengulang materi, membaca berulang-ulang kalimat yang sulit difahami kemudian bertanya terkait hal tersebut.

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah antusias untuk duduk bersama dengan ulama, belajar bersama mereka, membaca serta memanfaatkan umur dan waktu dengan sebaik-baiknya. Ciri orang yang antusias adalah pelit dengan waktu, dia tidak ingin waktunya berlalu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Kiat ketujuh, rajin dan tidak malas

Pembelajar sejati menjauhkan diri dari malas dan perasaan tidak bisa. Siap untuk berperang melawan setan dalam dirinya. Karena setan selalu melemahkan agar seorang lemah dalam menuntut ilmu. Kiat penting sukses dalam belajar adalah ‘tega dengan diri sendiri’ denga siap berperang mengalahkan hawa nafsunya sendiri.

Karena, pada dasarnya seorang condong kepada leha-leha, santai dan bermasal-malasan jika seorang melawan itu semua, dia akan menjadi orang yang rajin. Ketika seorang menempuh jalan rajin dalam menuntut ilmu, ada harapan keberhasilam dalam menuntut ilmu.

Diantara sebab yang membantu untuk bisa rajin dalam belajar adalah membaca biografi dan sejarah para ulama. Dalam biografi mereka terdapat kisah kesabaran dan proses mereka dalam mendapatkan ilmu. Bagaimana mereka memuliakan ilmu, semangat mereka dalam membaca dan lain sebagainya.

Kiat kedelapan, memiliki modal

Seorang akan lebih fokus belajar apabila memiliki modal. Sehingga tidak memikirkan kegiatan lain kecuali belajar. Apabila tidak memiliki modal, seringkali pikiran sudah terkuras dalam bisnis sehingga tidak maksimal dalam belajar.

Maksud memiliki modal adalah seorang penuntut ilmu bisa mencurahkan secara maksimal usahanya sehingga mencapai apa yang menjadi keinginannya dalam ilmu. Selain itu, kuat dalam ilmu dalam sisi hafalan maupun pemahaman dan meletakkan kaedah pondasi keilmuan.

Seorang penuntut ilmu haruslah fokus dalam belajar, fokus dalam belajar perlu dukungan finansial. Bisa jadi seorang memiliki finansial untuk belajar atau ada muhsinin yang mendanainya untuk belajar.

Kiat kesembilan, membersamai guru

Sejatinya ilmu diambil langsung dari lisan para ulama. Penuntut ilmu seyogyanya duduk bersama dan belajar bersama orang yang berilmu. Sehingga dia belajar diatas pondasi yang benar. Melafalkan teks ayat Al-Qur’an dan hadis nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan pelafalan yang benar, tidak salah baca dan tidak ada perubahan.

Selain itu membersamai atau duduk bersama guru bisa mendapatkan pemahaman yang benar serta mendapatkan manfaat dari masalah adab maupun akhlak. Seperti memahami bagaimana adab bertanya, berbicara, berinteraksi dengan orang lain. Serta belajar penerapat akhlak wara maupun sifat baik lannya.

Guru tidak hanya mentransfer ilmu. Melainkan lebih dari itu, membagikan ilmu terkait masalah akhlak yang tidak bisa digantikan dengan peran teknologi.

Menjadi kewajiban penuntut ilmu adalah memiliki guru. Jangan sampai seorang belajar tanpa guru, belajar hanya dari buku atau yang lainnya. Otodidak murni ini tidak boleh dalam ilmu agama. Karena dasar ilmu agama harus dalam bimbingan seorang guru. Pengembangan pengetahuan bisa dengan tekun membaca, namun orang yang gurunya hanya buku maka akan banyak kesalahannya dan sedikit benarnya.

Tidaklah seorang yang menonjol dalam ilmu kecuali dia adalah seorang yang terdidik dan seorang yang belajar melalui guru yang berilmu.

Kiat kesepuluh, sabar berproses

Penuntut ilmu tidak boleh menyangka bahwa aktivitas belajar akan selesai dalam satu dua hari, satu dua tahun saja. Bahkan sesungguhnya menuntut ilmu itu perlu kesabaran bertahun tahun. Sebagaimana ungkapan Muhammad Rahin At-Tobakh,

فطالب العلم يحتاج إلى مال قارون، وعمر نوح، وصبر أيوب

‘Penuntut ilmu (untuk bisa menguasai ilmu) perlu harta seperti harta Qorun, umur seperti umur Nuh dan sabar seperti sabarnya Ayyub.’

Al-Qadhi ‘Iyadh ditanya, ‘sampai kapankah seorang menuntut ilmu?’ maka kata beliau ‘sampai dia meninggal, lantas dituangkanlah wadah tintanya di kuburnya.’

Imam Ahmad mengatakan, ‘Aku duduk belajar pembahasan haid selama sembilan tahun sehingga aku benar-benar memahaminya.’

Penuntut ilmu yang cerdas terus-menerus duduk bersama ulama puluhan tahun, bahkan sebagiannya duduk bersama guru hingga Allah wafatkan.

Penutup

Demikianlah 10 kiat sukses dalam belajar; meminta pertolongan kepada Allah, memiliki niat yang baik, berdoa, hati yang baik, memiliki kecerdasan, antusias, rajin, memiliki modal, membersamai guru dan bersabar dalam proses.

Semoga Allah ta’ala memudahkan kita menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Wallahu a’lam bish shawab

Referensi: Kitab ar-Rakaiz al-Asyr Littahshil al-Ilm karya Syeikh Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag.

donatur-tetap

Menghargai Proses Anak di Pesantren Tanpa Membandingkan: Wujud Cinta dan Tanggung Jawab Orang Tua

0

Di tengah berbagai pilihan pendidikan zaman sekarang, anak yang menempuh pendidikan agama dan menghafal Al-Qur’an di pesantren adalah anugerah besar. Namun, dalam perjalanannya, tak sedikit orang tua yang terjebak dalam membandingkan anaknya dengan anak lain: dari segi jumlah hafalan, capaian akademik, atau kecepatan belajar. Padahal, setiap anak memiliki jalan, kemampuan, dan ujian yang berbeda. Menghargai proses tanpa membandingkan adalah bentuk cinta sejati dari orang tua dan bekal terbaik bagi keberhasilan anak, dunia dan akhirat.

1. Setiap Anak Unik: Allah Menciptakan dengan Takaran yang Berbeda

Allah Ta’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki batas dan kemampuan berbeda-beda, dan kita sebagai orang tua tidak boleh memaksakan standar yang sama untuk semua. Belajar dan menghafal Al-Quran itu bukan hal instan namun butuh proses untuk hasil yang terbaik. Maka dampingilah dan semangatilah anak-anak kita dalam proses ini.

2. Membandingkan Bisa Meruntuhkan Semangat Anak

Saat anak merasa dibandingkan dengan teman atau saudara yang lebih cepat menghafal, lebih pintar, atau lebih disiplin, mereka bisa merasa tidak cukup baik, lalu kehilangan semangat dan kepercayaan diri. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan:

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan kita untuk senantiasa menebarkan kasih sayang kepada semua makhluk, baik kepada sesama manusia maupun makhluk lain. Kasih sayang adalah kunci untuk mendapatkan rahmat dan cinta dari Allah.
Hari ini, mari kita mulai dengan langkah kecil untuk menunjukkan kasih sayang kita terutama kepada anak-anak kita.

Menyayangi anak artinya menerima prosesnya, mendukung perjuangannya, bukan menuntut seperti anak orang lain.

3. Proses Menuntut Ilmu Adalah Amal Mulia

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Abu Dawud no. 3641)

Anak yang belajar agama dan menghafal Al-Qur’an sedang menempuh jalan surga. Bahkan jika hafalannya belum banyak atau prosesnya lambat, perjuangannya tetap berpahala besar. Maka orang tua yang sabar dalam mendampingi juga ikut dalam pahala tersebut.

4. Fokus pada Usaha, Bukan Hanya Hasil

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Allah tidak menilai siapa yang hafal paling banyak, tetapi siapa yang paling ikhlas dan sungguh-sungguh. Maka tugas orang tua adalah menguatkan usaha anak, bukan membandingkan hasil yang kelihatan.

BIsa pula kita coba melihat aktifitas anak kita, apakah sudah memanfaatkan waktu yang dimilik secara maksimal ataukah belum, bila belum maka nasehati dan movitasi anak kita gar memanfaat waktu-waktu yang ada secara maksimal untuk meraih target yang diinginkan, namun bila ternyata sudah dimaksimalkan semua waktu yang ada akan tetapi belum meraih target yang diinginkan, maka kuatkan lago doa kita kepada Allah agar anak-anak kita diberi kemudahan dlam belajar agama dan menghafal Al-Quran.

5. Pujian dan Doa Lebih Baik dari Perbandingan

Anak akan jauh lebih termotivasi jika dihargai atas usaha mereka. Doakan mereka, pujilah perjuangan mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:

ثلاثُ دَعَواتٍ لا تُرَدُّ : دعوةُ الوالدِ

“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua kepada anaknya…” (HR. Al-Baihaqi no.6619)

Doa dan dukungan tulus dari orang tua jauh lebih berdampak dibanding tekanan atau kritik karena “tidak seperti anak si Fulan”.

Jadilah Orang Tua yang Menguatkan, Bukan Membandingkan

Anak bukanlah proyek prestasi, tapi amanah dari Allah yang harus dibimbing dengan cinta, kesabaran, dan doa. Di pesantren, mereka sedang berjuang untuk menjadi hamba yang dekat dengan Allah. Proses itu penuh ujian dan tidak semua terlihat oleh mata. Maka, berhentilah membandingkan, dan mulailah menghargai.

Karena anak yang merasa dicintai tanpa syarat, akan lebih kuat dan istiqamah dalam menuntut ilmu dan mencintai Al-Qur’an.

Wallahu ta’ala a’lam

donatur-tetap

Kiat Sukses Belajar Bag.2

0

Pada tulisan yang lampau telah dipaparkan 2 kiat sukses belajar; pertama, meminta pertolongan kepada Allah dan kedua memiliki niat yang baik dalam menuntut ilmu. Tulisan ini akan melanjutkan bahasan mengenai kiat sukses dalam menuntut ilmu.

Kiat ketiga, Merendah kepada Allah dan Berdoa

Kiat pertama berkenaan dengan kondisi tawakkalnya hati, sedang kiat ketiga berkenaan dengan langkah nyata agar seorang penuntut ilmu selalu menyematkan doa, berdoa kepada Allah agar diberi tambahan ilmu. Karena seorang hamba adalah orang yang membutuhkan Allah dan Allah mendorong hamba-hamba-Nya untuk meminta dan merendah kepada-Nya dengan firmannya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ

“Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan,” (QS. Ghafir [40]:60)

Diantara doa terbaik yang dilakukan seorang hamba adalah ketika sepertiga malam yang terakhir, sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

يَنْزِلُ رَبُّنا تَبارَكَ وتَعالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إلى السَّماءِ الدُّنْيا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فيَقولُ: مَن يَدْعُونِي فأسْتَجِيبَ له، مَن يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَن يَسْتَغْفِرُنِي فأغْفِرَ له.

“Allah turun setiap malam ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir. Kemudian berfirman ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, siapa yang meminta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari)

Allah ta’ala memerintahkan nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu sebagaimana firman-Nya

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Dan berdoalah ‘Ya Allah, tambahkanlah ilmu untukku.” (Qs. Thaha [20]:114)

Allah tidaklah pernah memerintahkan nabi-Nya untuk meminta tambahan apapun kecuali tambahan ilmu. Allah tidak mengajari nabi-Nya untuk meminta tambahan harta, anak, istri namun yang Allah sampaikan adalah mengajari nabi-Nya dan memerintahkan nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu.

Dan Allah ta’ala berfirman, melalui lisan nabi Ibrahim

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَۙ

“Ya Allah berikanlah kepadaku ilmu dan gabungkanlah diriku bersama orang-orang yang saleh.” (QS. Asy-Syu’ara [26]:83)

Nabi juga mendoakan Abu Hurairah agar hafalannya kuat serta mendoakan ibnu ‘Abbas agar diberi ilmu

اللهمَّ فَقِّهْه في الدِّينِ، و علِّمْه التأويلَ

“Ya Allah fahamkanlah ia (Ibnu Abbas) tentang agama dan ajarilah padanya tafsir.”

Allah ijabahi doa nabi-Nya, sehingga Abu Hurairah tidaklah mendengar sesuatu kecuali hafal dan jadilah Ibnu Abbas ulama umat dan penafsir Al-Qur’an.

Dari ayat dan hadis point ini bisa dipetik pelajaran bahwa usaha menuntut ilmu perlu disandingkan dengan doa. Berdoa agar diberi ilmu dan mendoakan orang lain terlebih anak keturunan untuk mendapatkan ilmu. Sehingga seroang tidaklah berharap mendapatkan ilmu sekadar dengan usahanya sendiri.

Kiat keempat, Memiliki Hati yang Baik

Hati adalah wadah ilmu. Jika wadah itu baik, dia akan menyimpan semua yang ada didalamnya. Namun, jika wadah itu rusak, dia akan telantarkan semua isinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan hati adalah asas segala sesuatu, beliau bersabda,

 ألَا وإنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً: إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، ألَا وهي القَلْبُ

“Ingatlah! Bahwasannya di badan ada seerat daging. Jika baik, seluruh badan akan baik. Jika rusak, seluruh badan akan rusak. Ingatlah, itulah hati.”  (HR. Bukhari no. 52)

Hati akan sehat dan baik dengan cara mengingat Allah, nama, sifat dan perbuatan-Nya. Demikian pula memikirikan makhluk cipataan Allah dan ayat-ayat-Nya. Hati itu baik dengan merenungkan Al-Qur’an, banyak sujud dan salat malam.

Selain itu diiringi dengan menjauhi hal-hal yang merusak hati. Karena jika di dalam hati dijumpai ada penyakit maka hati tidak akan mampu membawa ilmu. Seandainya dia bawa ilmu dengan hafalan sedang hatinya dalam keadaan sakit ia tidak akan bisa memahaminya dengan baik. Sebagaimana firman Allah tentang orang-orang munafik – yang sakit hatinya,

لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ

“Mereka memiliki hati namun tidak mereka gunakan untuk memahami.” (QS. Al-A’raf [7]:179)

Penyakit hati ada dua macam; penyakit syahwat (keinginan-keinginan yang terlarang) dan Syubhat (racun pemikiran dan akidah)

Syahwat seperti, mencintai dan sibuk dengan dunia dan kenikmatannya. Melihat dan mendengar hal-hal yang haram. Sedangkan fitnah syubhat adalah racun pemikiran yang merusak hati dan keyakinan. Semacam berbagai macam akidah yang rusak. Pola pikir yang menyelisihi ajaran kebenaran.

Diantara penyakit hati yang menghalangi dari ilmu adalah dengki. Bisa jadi dengki kepada sesama penuntut ilmu. Ganjalan hati dan sombong. Selain itu hal yang merusak hati adalah tidur, berbicara dan makan secara berlebihan.

Menjauhi penyakit-penyakit ini adalah sebab baiknya hati. Jika hati sudah baik maka layak menjadi tempat ilmu.

Kiat kelima, Memiliki Kecerdasan

Ada orang yang datang ke majelis ilmu dengan niat agar mendapat ganjaran menuntut ilmu. Ada pula yang berniat mendapatkan ilmu. Jika seorang datang ke majelis ilmu dengan niat ingin mendapatkan ilmu maka harus memiliki kecerdasaan. Kecerdasan itu bisa jadi telah dimiliki seorang sejak lahir – memiliki potensi kecerdasan atau kecerdasan yang diupayakan.

Jika seorang sudah memiliki potensi kecerdasan sejak lahir, hendaklah ia kuatkan kecerdasannya. Jika dia tidak memiliki bawaan kecerdasan, maka perlu usaha ekstra untuk melatih dirinya sehingga mendapatkan kecerdasan. Kecerdasan adalah sebab kuat yang membantu untuk terwujudnya ilmu. Dengan kecerdasan seorang bisa menghafal ilmu, faham ilmu, bisa membedakan antara satu masalah dengan masalah yang lain serta bisa menggabungkan diatara berbagai macam dalil dan sebagainya.

Point penting kiat ini adalah menyadari bahwa kecerdasan ada dua; ada orang yang membang sudah diberikan kecerdasan sejak kecil ada pula kecerdasan yang perlu dilatih. Jika seorang belum memiliki kecerdasan, perlu latih diri untuk belajar cerdas sehingga dia mendapatkan kecerdasan.

Wallahu a’lam

Referensi: Kitab ar-Rakaiz al-Asyr Littahshil al-Ilm karya Syeikh Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag.

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.9: Kaidah-Kaidah Keikhlasan

0

Terkait keikhlasan, terdapat beberapa kaidah yang patut untuk kita ketahui bersama agar segala ibadah yang kita lakukan dapat terjaga nita ikhlas di hati kita.

Beriku ini Kaedah-kaedah seputar keikhlasan:

1. Keikhlasan yang sempurna adalah suatu hal yang sulit.

Tidak mungkin terbetik dalam hati kita adanya keikhlasan yang sempurna kecuali dari orang yang tenggelam dalam rasa cinta kepada Allah dan perhatian kepada akherat. Karena manusia itu sering lupa, memiliki minat yang tinggi kepada dunia, dan mudah tertipu dengan dunia. Jika demikian keadaanya maka tidak akan terbayang adanya keikhlasan yang sempurna kecuali dari orang yang mendapat taufik dari Allah. Misalnya, siapa diantara kita yang tidak menginginkan makanan karena dia adalah makanan namun karena makanan tersebut menguatkannya untuk beribadah kepada Allah? Siapa yang tidur agar kuat beribadah kepada Allah? Siapa yang memenuhi kebutuhan pokoknya karena bisa mengosongkan hati dari ketergantungan dengan dunia dan agar memiliki hubungan yang bagus dengan Allah?

Jika demikian, kita seyogyanya berusaha semaksimal mungkin, memancangkan keikhlasan yang sempurna di depan mata kita dan tidak mempedulikan was-was setan dalam masalah ini. Was-was setan merupakan lintasan hati yang menghancurkan. Namun kita tidak boleh meremehkan was-was ini yang tercampur dengan amal saleh manakala kita mampu untuk membersihkannya dari hal-hal yang menyebabkan amal menjadi sia-sia dan pahalanya pun sirna.

2. Tidak boleh meninggalkan amal saleh karena khawatir tercampur dengan riya’

Abu Thalib al Makky (Muhammad bin ali bin Athiyyah al Haritsi, wafat 386 H) mengatakan: Seorang tidak boleh meninggalkan amal saleh karena khawatir rusak karena hal tersebut merupakan senjata musuh. Namun hendaklah beramal sebagaimana niat awalnya yang benar. Jika niat tersebut lalu terkena hal-hal yang merusak maka hendaknya diberi obat yang bisa berfungsi menghilangkan dan menyingkirkan hal-hal tersebut. Sehingga orang tersebut bisa tetap tegar di atas niat yang benar dan sikap yang baik. Seorang tidak boleh meninggalkan amal karena merasa malu terhadap orang lain dan tidak ingin orang lain meyakini bahwa dirinya adalah orang yang saleh. Beramal karena orang adalah kesyirikan sedangkan tidak beramal karena manusia adalah riya’. Tidak beramal karena khawatir ada hal-hal yang akan merusak amal adalah sebuah kebodohan. Tidak meneruskan amal karena terasuki pengrusak amal merupakan sebuah kelemahan. Barangsiapa memulai suatu amal karena Allah dan menyelesaikan amal tersebut dalam keadaan karena Allah maka lintasan-lintasan yang terjadi diantara dua fase tersebut tidaklah masalah asalkan lintasan tersebut dipupus dan tidak terus menyertai hingga amal selesai dilakukan.(Ittihaf as Saadah al Muttaqin 13/105).

3. Memperbaiki niat yang rusak adalah suatu hal yang mungkin.

Sebagian orang memiliki anggapan bahwa jika suatu amal diawali dengan niat yang tidak benar maka amal tersebut harus segera ditinggalkan. Namun yang benar niat itu bisa diperbaiki tanpa perlu ditinggalkan dengan tetap meneruskan amal yang telah dilakukan. Banyak ulama’ salaf yang mencari ilmu agama tanpa didasari niat yang benar seratus persen. Mereka lalu tersadar, bertaubat lalu memperbaiki niat mereka dan menuntut ilmu dengan niat yang benar.

Imam Adz Dzahabi (wafat  748 H)  mengatakan bahwa Abdur Razaq (wafat  211 H) menyatakan bahwa Ma’mar (wafat 154 H) menuturkan kepada kami “Dulu dikatakan bahwa ada seorang yang mencari ilmu tidak karena Allah namun ilmu tidaklah mau dicari kecuali karena Allah.

Aku (Imam Adz Dzahabi) mengatakan, “Memang, pada awalnya menuntut ilmu karena dorongan cinta ilmu, ingin mengusir kebodohan dari dirinya, ingin mendapatkan pekerjaan dan lain-lain, namun pada saat itu belum mengetahui bahwa keikhlasan dan niat yang benar adalah sebuah kewajiban. Setelah tahu maka orang tersebut lalu mengintropeksi dirinya dan merasa takut dengan bencana yang akan menimpanya disebabkan hal yang rusak tadi sehingga dia memiliki niat yang benar secara sempurna atau masih kurang sempurna. Boleh jadi orang tersebut lalu menyesal dan bertaubat dari niat yang rusak. Hal tersebut ditandai dengan tidak mau menonjol-nonjolkan  diri atau suka berdebat. Barangsiapa bermaksud untuk membangga-banggakan ilmunya atau mengatakan aku lebih alim daripada A maka sungguh celakalah dirinya. (Nuzhatul Fudhala 2/560).

Dalam kesempatan lain, Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa para ulama salaf menuntut ilmu karena Allah, akhirnya mereka berhasil dan menjadi ulama-ulama besar yang diikuti oleh banyak orang. Namun ada juga ulama’ salaf yang pertama kali menuntut ilmu tidak karena Allah akhirnya mereka mendapat banyak ilmu dan mereka mengintropeksi diri. Pada gilirannya ilmu menyeret mereka untuk ikhlas di tengah perjalanan menuntut ilmu, sebagaimana Mujahid (wafat 101 H) dan yang lainnya mengatakan, “Kami mencari ilmu tanpa memiliki niat yang sungguh-sungguh. Namun kemudian Allah memberikan niat yang benar” (Nuzhatul Fudhala’ 2/560).

4. Hal-hal yang mencampuri keikhlasan itu hanya mempengaruhi pahala amal tanpa menggugurkan amal.

Orang yang bermaksud mencari wajah Allah dengan amalnya dan dilakukan dengan penuh keikhlasan namun maksud ini dicampuri pamrih-pamrih duniawi disebabkan kelalaian hati atau menuruti syahwat maka tidak seluruh pahala amalnya lenyap. Ini merupakan sebuah nikmat dan karunia dari Allah.

Kita berlindung kepada Allah, andai hal tersebut seperti itu karena hal ini menimbulkan kesulitan di dunia dan menyebabkan keputusasaan merayap di tengah-tengah umat Islam. Karena campuran-campuran seperti itu sangat sulit terhindar dari diri seorang manusia. Oleh karena itu pengaruhnya hanya mengurangi pahala amal, dan tidak menggugurkan amal secara total.

Oleh karena itu hendaknya seorang hamba setelah berusaha sungguh-sungguh selalu dalam kebimbangan apakah amalnya diterima atau ditolak dan selalu khawatir jangan-jangan dalam ibadah yang dia lakukan terdapat penyakit yang menimbulkan bencana jauh lebih besar daripada pahala yang didapat. Demikian, orang yang berada dalam kekhawatiran adalah orang yang memiliki bashirah (pandangan yang tajam). Demikianlah, hendaknya sikap orang yang memiliki bashirah (Ittihaf Saadah al Muttaqin 13/120).

5. Boleh menampakkan sebagian amal shaleh dengan tujuan yang mulia.

Pada dasarnya amal shaleh seharusnya disembunyikan dan tidak diketahui oleh seorangpun kecuali amal yang memang harus dinampakkan seperti berhaji dan melaksanakan shalat jamaah. Menampakkan beberapa amal shaleh dan menceritakannya hanya dibolehkan bila dua syarat berikut dipenuhi:

  1. Terjaga dari riya’.
  2. Terdapat manfaat dari sudut pandang agama disebabkan menampakkan amal shaleh. Misal menyebabkan orang yang kurang kuat beramal terdoring untuk mengikuti yang mampu melaksanakannya atau menimbulkan ketenangan dan rasa suka cita dalam hati orang-orang lain yang melakukan hal yang serupa. Contoh dalam hal ini adalah ucapan Abu Sufyan bin Harits, sepupu Nabi, kepada anggota keluarganya ketika beliau hendak meninggal dunia “Janganlah kalian menangisiku karena aku tidak melakukan sebuah dosa pun semenjak aku memeluk Islam”.(Ittihaf asSadah Muttaqin, 10/162)

Semoga Alah mudahkan kita untuk memurnikan dan membersihkan niat-niat baik kita dalam beribadah kepada Allah.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Kiat Sukses Belajar Bag.1

0

Ilmu agama memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam kehidupan seorang muslim. Mempelajari ilmu agama bukan sekadar untuk menambah wawasan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَن سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ له به طَرِيقًا إلى الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (Hr. Muslim no. 2699)

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya belajar agama dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mempelajari ilmu agama tidak cukup hanya dengan semangat. Diperlukan kiat-kiat tertentu agar proses belajar dapat berjalan dengan efektif dan membuahkan hasil.

Tulisan ini akan membahas 10 kiat sukses dalam mempelajari ilmu agama.

Kiat Pertama, Meminta Pertolongan kepada Allah – Berharap Pertolongan Allah ta’ala

Pada dasarnya manusia itu lemah dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Apabila manusia dibiarkan tanpa bantuan Allah, maka mereka akan binasa dan terlantar serta tidak terurus. Namun, jika seorang menyerahkan urusan kepada Allah dan meminta tolong kepada-Nya untuk bisa sukses menuntut ilmu, Allah akan menolongnya.

Allah ta’ala memotivasi hamba-Nya untuk berharap dan meminta tolong kepada-Nya dalam firman-Nya.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

“(Ya Allah) hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta tolong.” Qs. Al-Fatihah [1]:5

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ

“Siapa yang tawakkal (pasrah, mengandalkan dan bersandar) kepada Allah, pasti Allah akan mencukupinya.” Qs. At-Thalaq [65]:3

وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakkal, jika kalian orang yang beriman.” Qs. Al-Maidah [5]:23

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

لو أنَّكم توَكَّلتم على اللهِ حقَّ توَكُّلِهِ، لرزقَكم كما يرزقُ الطَّيرَ، تغدو خماصًا ، وتروحُ بطانًا .

“Seandainya kalian bertawakkal dan mengandalkan Allah dengan sebenar-benarnya, maka Allah akan memberikan rizki kepada kalian, sebagaimana burung diberi rizki. Burung berangkat meninggalkan sarangnya di pagi hari dalam keadaan perut lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan perut kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344)

Keterkaitan hadis ini dengan ilmu adalah, rizki atau karunia Allah yang paling penting adalah ilmu. Maka, nabi katakan tawakkal kepada Allah adalah sebab mendapatkan rizki, sehingga tawakkal adalah sebab mendapatkan ilmu. Nabi adalah seorang yang senantiasa tawakkal kepada Allah, berharap pertolongan kepada rabb-Nya dalam semua urusan.

Inti kiat pertama ini adalah mengandalkan Allah ta’ala untuk sukses dalam belajar. Jangan mengandalkan kecerdasan kita, kepandaikan kita kekuatan kita di masa muda, namun andalkanlah Allah subhanahu wa ta’ala.

Kiat Kedua, Memiliki Niat yang Baik

Hendaklah seorang penuntut ilmu menjadikan niat belajar karena Allah ta’ala. Tidak menginginkan sum’ah (reputasi dan citra), popularitas, dan bukan pula mencari harta dunia. Dalam hal ini perlu dibedakan mencari popularitas dan mendapatkan popularitas. Jika seorang mendapatkan popularitas tanpa mencarinya, maka itu karunia yang Allah berikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Namun, jika mencari popularitas dan perkara dunia maka itu termasuk rusaknya niat.

Barangsiapa menjadikan niatnya karena Allah maka akan Allah beri taufik dan pahala atas hal itu. Menuntut dan menyebarkan ilmu adalah ibadah. Tidaklah seorang mendapatkan pahala dengan amalnya kecuali jika amal tersebut ikhlas karena Allah ta’ala dan dalam beramal mengukuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah ta’ala

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَࣖ

“Sesungguhnya Allah bersama orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.” Qs. An-Nahl [16]:128.

Bentuk takwa yang paling agung adalah memurnikan niat karena Allah. Orang yang riya, pamer dalam menuntut ilmu, selain merugi di dunia dia akan mendapatkan hukuman di akhirat. Dalilnya adalah hadis tentang tiga orang yang diseret pada wajahnya kemudian dimasukkan ke dalam neraka. Padahal tiga-tiganya adalah orang yang mengamalkan amalan istimewa, salah satunya adalah orang yang mencari ilmu, semangat belajar, semangat ngaji, namun tujuannya supaya disebut alim, ustadz, kyai dan supaya dihormati orang lain.

Orang tersebut telah mendapatkan semua penghormatan itu di dunia, maka di akhirat mendapat neraka Allah ta’ala.[1]

Niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah niat untuk mengamalkan ilmu, menghilangkan kebodohan pada diri sendiri maupun orang lain disamping niat menjaga agama Allah. Inilah niat benar dalam menuntut ilmu. Belajar itu untuk beramal dan menghilangkan kebodohan bukan untuk membodoh-bodohkan orang lain.

Wallahu a’lam

Referensi: Kitab ar-Rakaiz al-Asyr Littahshil al-Ilm karya Syeikh Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri

[1] Hr. Muslim no. 1905

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag.

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.8 : Ketika Keikhlasan Ternoda

0

Setelah sebelumnya kita bahas akan sulitnya berbuat ikhlas namun manfaat agung akan diraih bagi yang mampu mengikhlaskan niat dalam ibadah. maka pada tulisan kali ini kita akan membahas bentuk-bentuk ketidak ikhlasan hati atau ikhlas sudah tercampur

Imam Ghozali menyebutkan bentuk-bentuk ketidakikhlasan atau keikhlasan yang sudah tercampur dengan hal yang selainnya. Membaca hal tersebut menyebabkan hati berkeping-keping karena banyak orang terjerumus di dalamnya, perkara-perkara ini demikian samar dan orang yang melakukannya menyangka bahwa dia adalah termasuk orang-orang yang berbuat baik.

Beliau rahimahullah mengatakan, “Sekarang kita akan membicarakan tentang orang yang melakukan ibadah dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah namun dorongan ini tercampuri dorongan lain semisal riya’ atau interes pribadi yang lain. Contohnya adalah:

1. Berpuasa dalam rangka mendapatkan berbagai pencegahan penyakit yang dihasilkan oleh puasa disamping bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah.

2. Memerdekakan budak agar tidak lagi terbebani biaya untuk menghidupi budak tersebut dan terhindar dari perilakunya yang buruk.

3. Berhaji agar dikatakan pernah bepergian, terbebas dari marabahaya yang ada di negerinya, atau karena menghindar dari musuh yang ada di rumahnya, atau karena kesal dengan anak dan isterinya atau karena ingin beristirahat dari kesibukan yang menyita waktunya.

4. Memerangi musuh untuk mempraktekkan teori perang dan belajar cara-cara perang yang baik sehingga mampu dengan baik mengatur dan membentuk pasukan.

5. Shalat malam dengan tujuan untuk mengusir kantuk sehingga bisa mengawasi isterinya dan menjaga rumahnya.

6. Belajar ilmu agama agar mudah mendapatkan harta yang bisa mencukupi atau agar disegani di tengah-tengah masyarakat atau agar harta dan rumah yang ditempatinya terlindungi dari orang-orang yang memiliki maksud yang tidak baik dikarenakan kemuliaan ilmu.

7. Menyibukkan diri dengan mengisi pengajian dan memberikan nasehat agar punya kesempatan untuk bicara dan tidak tersiksa karena tidak ada kesempatan untuk berbicara.

8. Rajin melayani ulama dan para ahli ibadah agar mendapatkan penghormatan dari mereka dan dari masyarakat atau agar mendapatkan teman di dunia.

9. Menyalin mushaf Al-Quran dengan tulisan tangan untuk meningkatkan kualitas tulisan karena terbiasa menulis.

10. Berwudhu agar bersih atau segar.

11. Meriwayatkan hadits agar diketahui memiliki ilmu yang tinggi.

12. Berpuasa agar tidak sering masak atau agar bisa berkonsentrasi menangani pekerjaannya sehingga waktunya tidak tersita untuk makan.

13. Bersedekah kepada pengemis agar dia berhenti meminta-minta kepadanya.

14. Membezuk orang sakit agar jika sakit dibezuk.

15. Mengiringi jenazah agar ada orang yang mengiringi anggota keluarganya yang meninggal.

Atau melakukan hal-hal di atas agar dikenal dan disebut orang yang shaleh serta dipandang sebagai orang yang shaleh sehingga mendapatkan penghormatan. Jadi jika motivator untuk beramal adalah mendekatkan diri kepada Allah namun dilengkapi dengan lintasan-lintasan di atas sehingga mengerjakan amal terasa lebih ringan disebabkan hal ini maka amalnya telah keluar dari batasan ikhlas.

Ringkasnya seluruh kesenangan dunia yang disukai oleh hati dan jiwa baik sedikit ataupun banyak jika menyusup ke dalam suatu amal shaleh maka amal yang semula jernih berubah menjadi keruh dan sirna keikhlasannya. Namun manusia itu terikat dengan kesenangan dan tenggelam dalam syahwat sangat sulit membersihkan amal dan ibadah yang kita lakukan dari pamrih dan tujuan duniawi semisal di atas.

Karena itu ada orang yang bilang “Barangsiapa pernah sekejap mata dalam hidupnya bisa berbuat ikhlas karena semata mengharap wajah Allah maka dia telah selamat karena ikhlas adalah suatu hal sulit dan karena membersihkan hati dari hal-hal yang menodai keikhlasan adalah suatu hal yang tidak mudah (Ittihaf as Saadah al Muttaqin 13/93-95).

Termasuk salah satu bentuk keikhlasan yang ternodai adalah orang yang berusaha mati-matian agar bisa ikhlas dalam shalatnya. Namun demikian ada seseorang atau sekelompok orang masuk ke dalam masjid, lantas dia berkata dalam hatinya: Shalatlah dengan baik sehingga orang ini memandangmu dengan penuh penghormatan, menilaimu sebagai orang yang saleh, tidak meremehkanmu serta tidak menggunjingmu. Anggota tubuhnya lantas berubah menjadi tenang, tidak bergerak-gerak dan dia melaksanakan shalat dengan baik.

Ada pula bentuk yang lebih halus dan lebih tersamar dalam kaitannya dengan keikhlasan. Seorang yang melaksanakan shalat tanpa peduli dan memperhatikan setan dan waswasnya, akhirnya setan menggoda dengan cara yang lain. Setan mengatakan, “Engkau adalah orang yang diikuti dan diperhatikan banyak orang, serta dijadikan teladan. Semua yang kau lakukan diikuti orang lain dan dicerita-ceritakan. Engkau akan mendapatkan pahala orang yang mengikutimu jika engkau melaksanakan shalat dengan baik namun sebaliknya engkau akan mendapatkan dosa jika shalatmu tidak bagus. Oleh karena itu perbaguslah shalatmu di hadapan orang tersebut mudah-mudahan khusyu’ dan memperbagus ibadah yang kaulakukan akan diikutinya”. Ini merupakan tujuan yang terpuji namun jika orang tersebut ketika shalat sendirian tidak melaksanakannya dengan khusyu’ dan dengan bagus dan berbeda jika dilakukan di hadapan banyak orang maka hal ini termasuk was-was dan tipuan Iblis.

Adalagi bentuk yang lebih tersamar dariapda bentuk di atas. Orang yang mengerjakan shalat sebenarnya telah mengetahui bahwa ikhlas adalah manakala shalat yang dikerjakan sendirian itu sebagaimana ketika dilakukan di hadapan banyak orang. Orang tersebut malu terhadap dirinya sendiri dan kepada Allah jika di hadapan orang banyak dia lebih khusyu’ yang tidak biasa dia lakukan. Oleh karena itu, dia lalu melaksanakan sholat ketika seorang diri dan dia perbagus shalat yang dia kerjakan sebagaimana yang ingin dia kerjakan di hadapan banyak orang. Lalu dia kerjakan shalat di hadapan banyak orang seperti itu. Hal ini termasuk riya’ yang samar karena orang tersebut memperbagus shalatnya ketika sendirian agar ketika di hadapan banyak orang shalatnya tetap bagus. Jadi orang tersebut tidak membedakan antara shalat ketika sendirian dan ketika di hadapan banyak orang. Ketika seorang diri dan ketika di hadapan banyak orang, perhatiannya tertuju kepada makhluk. Padahal ikhlas adalah manakala shalat yang dikerjakan di hadapan hewan atau di hadapan orang itu sama saja. (Ittihaf Saadh al Muttaqin 13/107-110).

Ada lagi tingkatan riya’ yang lebih halus daripada kasus di atas. Setan berkata kepada orang yang mengerjakan shalat di hadapan banyak orang  “Renungkanlah keagungan dan kebesaran Allah dan saat kau akan berdiri di hadapanNya. Merasalah malu manakala Allah memandang hatimu saat hatimu lalai dariNya”. Hati orang tersebut lantas menuruti nasehat ini dan seluruh anggota tubuhnya menjadi tenang. Orang tersebut mengira bahwa inilah ikhlas yang sebenarnya. Padahal ini merupakan makar dan tipuan yang sebenarnya. Karena andai kekhusyuan tersebut karena memandang keagungannya tentu kiat ini muncul ketika dia shalat sendirian.

Riya’ dengan bentuk ini mungkin tidak disadari oleh seseorang sehingga setan bisa mencuri keikhlasannya, Laa haula wala Quwata illa billah.

Sesungguhnya tidak akan selamat dari godaan setan kecuali orang yang memiliki pandangan yang jeli dan mendapatkan perlindungan, taufik dan hidayah-Nya, karena setan itu selalu menguntit orang yang hendak beribadah kepada Allah tanpa pernah silap darinya meski hanya sekejap mata sehingga setan berhasil menumbuhkan riya’ dalam seluruh gerak geriknya, sampai-sampai ketika mencelaki mata, menggunting kumis, memakai parfum pada hari Jum’at dan saat mengenakan pakaian.

Semoga Alah mudahkan kita untuk memurnikan dan membersihkan niat-niat baik kita dalam beribadah kepada Allah.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.7: Faidah Agung di Balik Keikhlasan

0

Setelah pada tulisan sebelumnya kita bahas pengertian ikhlas serta tidak mudahnya hati untuk senantiasa mengikhlaskan amalan, maka pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang faidah-faidah ikhlas.

Ikhlas adalah suatu hal yang sangat urgen, hal ini nampak dari poin-poin berikut ini:

1. Ikhlas Merupakan Tiang Penyangga Amal, Serta Amal yang Paling Puncak.

Hal ini karena orang yang beramal tanpa diiringi keikhlasan adalah orang yang memberatkan dirinya sendiri tanpa mendapat pahala apa-apa. Allah berfirman:

وَ قَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوْا مَنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُوْرًا

Kami nampakkan kepada mereka amal yang telah mereka lakukan lalu kami jadikan debu yang bertebaran (QS. al-Furqan : 23).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَ هِجْرَتُهُ اِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَا هَاجَرَ اِلَيْهِ

Semua amal itu pasti diiringi oleh niat. Setiap orang hanya mendapatkan sebagaimana niat yang dia miliki. Barangsiapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia atau menikahi seorang wanita maka dia hanya mendapatkan niat hijrah yang dia miliki (HR Bukhari 1/2).

Imam al Fudhail bin ‘Iyadh mengomentari firman Allah:

الَّذِيْ خَلَقَ المَوْتَ وَالحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً

Dialah yang menetapkan kematian dan kehidupan untuk menguji siapakah diantara kalian yang paling bagus amalnya (QS al-Mulk: 2)

Dengan mengatakan: Amal yang paling bagus adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Para sahabat beliau mengatakan wahai Abu Ali, apakah itu amal yang paling ikhlas dan yang paling benar? Beliau mengatakan: Amal yang ikhlas namun tidak benar tidak akan diterima. Demikian juga amal yang benar namun tidak ikhlas juga tidak akan diterima. Amal baru diterima jika ikhlas dan benar. Ikhlas adalah jika karena Allah sedangkan benar adalah jika sesuai dengan sunnah. Beliau kemudian membaca firman Allah:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan rabbnya maka hendaklah dia beramal shalih dan tidak menyekutukan dengan seorangpun dalam beribadah kepada rabbnya (QS. al-Kahfi : 110).

Nabi juga telah menceritakan nasib orang yang tidak mengikhlaskan amalnya untuk allah dalam sebuah hadis yang sangat mencengkamkan, tentang tiga golongan yang kelak akan menjadi bahan bakar pertama nerakan dimana ketiganya beramal tiak ikhlas karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan pandangan baik di mata manusia.

2. Ikhlas Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Amal.

Allah Ta’ala akan menyuburkan amal yang diiringi dengan keikhlasan. Allah membalas amal-amal orang-orang yang ikhlas dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal tersebut sehingga pada hari kiamat amal tersebut lebih besar dan lebih baik daripada apa yang ada dibenak orang yang melakukannya.

Imam Abdullah bin Mubarok (wafat tahun 181 H) mengatakan,

“Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar disebabkan niat. Dan berapa banyak amal yang besar berubah menjadi tidak bernilai juga dikarenakan niat” (Nuzhatul Fudhala’ 2/657).

Ada seorang yang shalih mengirim surat kepada sahabatnya. Isi surat tersebut: “Berniatlah dengan ikhlas dalam seluruh amal yang kau lakukan, niscaya amal yang sedikit sudah mencukupimu (Ittihaf as Saadat al Muttaqin karya az Zubaidi 13/87).

3. Ikhlas Menghilangkan Berbagai Hal yang Mengganggu Hati

Hati selalu berubah-ubah, ada banyak hal yang menyebabkannya menjadi lalai. Hati mudah berpaling meninggalkan kebaikan hanya karena perkara sepele. Keikhlasan dijamin bisa menjernihkan hati dan menyebabkan hati cenderung kepada tuhannya. Nabi bersabda:

ثَلاَثٌ لاَ يَغِلُّ عَلَيهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ : إِخْلاَصُ العَمَلِ ِللهِ وَ مُنَاصَحَةُ وُلاَةِ الأَمْرِ وَلُزُوْمُ جَمَاعَةِ المُسْلِمِيْنَ فََاِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Ada tiga hal yang bisa menghilangkan kedengkian dari hati seorang muslim. Tiga hal tersebut adalah beramal ikhlas karena Allah, menasehati penguasa dan komitmen dengan jamaah umat Islam karena doa mereka meliputi mereka (Diriwayatkan oleh para imam ahli hadits melalui beberapa jlaur periwayatan yang sebagiannya menyebabkan sebagian yang lain menjadi hasan. (Majmauz Zawaid 1/142-144).

Makna لاَ يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ adalah tidak terdapat padanya hasad. Hati yang mengandung tiga hal ini tidaklah mengandung kedengkian. (Tahdzib Madarij as Salikin hlm. 123).

Abu Sulaiman ad-Darani (Abdurrahman bin Ahmad bin Al ‘Ansi ad Darani wafat tahun 215) mengatakan: “Jika seorang berbuat ikhlas maka akan lenyap darinya berbagai was-was dan riya’” (Tahdzib Madarij as Salikin hlm. 322).

4. Tegar Untuk Beramal Shalih.

Keikhlasan menyebabkan kita memiliki kekuatan untuk kontinyu atau terus-menerus dalam beramal. Seorang yang beramal untuk manusia, nafsu perut atau kemaluan tentu akan menghentikan amalnya jika tidak mendapatkan susuatu yang bisa memuaskan nafsunya. Orang yang beramal karena mengharapkan agar bisa tenar ataupun agar mendapat jabatan akan menunda-nunda dan merasa berat jika ternyata harapannya itu sulit untuk dijangkau. Orang yang beramal untuk cari muka di hadapan atasan atau pemimpin akan menghentikan amalnya sesudah atasan atau pemimpinnya meninggal atau sudah tidak lagi memiliki jabatan.

Sedangkan orang yang beramal karena Allah maka tidak pernah sama sekali berhenti beramal tidak pula menunda-nunda untuk beramal karena motivatornya untuk beramal shalih tidak pernah lenyap, tidak pula hilang. Wajah Allah abadi pada saat segala wajah selain-Nya pupus sirna. Oleh karena itu orang-orang yang shalih mengatakan, “ Segala sesuatu yang karena Allah itu kekal dan berlanjut. Sedangkan segala sesuatu yang tidak karena Allah itu pasti berakhir dan terputus”. Hal ini telah diakui oleh realita. Demikianlah apa yang kita lihat dan kita saksikan dan hal itu terus kita saksikan pada setiap ruang dan waktu. (an-Niyat wa Ikhlash hlm. 103-104).

5. Menjadikan Hal-Hal yang Mubah Menjadi Bernilai Ibadah.

Ikhlas merupakan obat yang mujarab, bila mengenai suatu amal meski hanya berstatus mubah maka obat tadi berubah menjadi bernilai ibadah dan qurbah (amal yang bisa mendekatkan diri) kepada Allah.

Allah berfirman mengenai orang-orang yang berjihad di jalan-Nya:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيْبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمْصَةٌ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَطَئُوْنَ مَوْطِأً يَغِيْضُ الكُفَّارَ  وَ لاَ يَنَالُوْنَ مِنْ عَدُوٍ نَيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللهَ لاَ يُضِِيْعُ أَجْرَ المُحْسِنِيْنَ وَلاَ يُنْفِقُوْنَ نَفَقَةٌ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً وَلاَ يَقْطَعُوْنَ وَادِيًا إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمْ اللهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Yang demikian itu, ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yagn membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Dan mereka tidak menafkahkan harta yang sedikit atau banyak dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS at Taubah: 120-121).

Dalam ayat di atas, Allah menjadikan rasa lapar, haus, berjalan dan berinfak yang mereka lakukan sebagai salah satu tambahan catatan kebaikan untuk mereka di sisi Allah selama itu semua di jalan Allah. Bahkan yang lebih hebat daripada hal itu adalah hadits mengenai pahala orang yang mempersiapkan kuda untuk berjihad di jalan Allah. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda:

مَنِ احْتَبَسَ فَرَسًا فِي سَبِيْلِ اللهِ اِيْمَانًا بِاللهِ وَ تَصْدِيْقًا بِوَعْدِهِ فَإِِنَّ شَعْبَهُ و  َرَيِهِ وَ بَوْلِهِ فِي مِيْزَانِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

Barangsiapa yang memelihara kuda di jalan Allah karena beriman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya maka rasa  kenyang dan segar yang dirasakan kuda tersebut, demikian juga tahi dan kencingnya, itu semua ada di timbangan kebaikannya pada hari kiamat (HR Bukhari 4/34).

6. Keikhlasan Merupakan Kiat untuk Mendapatkan Kebersamaan dan Pertolongan Allah.

Allah berfirman mengenai para sahabat yang ikut Baitur Ridhwan:

لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ المُؤْمِنِيْنَ إِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوْبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًا

Sungguh Allah meridhai orang-orang yang beriman ketika mereka membait dirimu di bawah pohon. Lalu allah mengetahui isi hati mereka lalu Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan meberikan kepada mereka kemenangan yang dekat. (QS. al-Fath: 18).

Amirul Mukminin Umar pernah berkirim surat kepada Abu Musa al Asy’ari saat telah diangkat sebagai gubernur Bashrah. Isi surat tersebut: “Barangsiapa memiliki niat yang ikhlas maka Allah akan mencukupi kebutuhannya berkaitan dengan sesama manusia. Namun barangsiapa pamer untuk orang lain berbeda dengan isi hatinya sebagaimana yang Allah ketahui maka Allah akan memberikan keburukan pada dirinya”. (Ittihaf Sadatil Muttaqin 13/87, riwayat ini menurut az Zubaidi diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Hilyah).

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Bagaimana Mengetahui Amal Ibadah Kita Diterima?

0

Ketika seseorang beribadah kepada Allah, tentunya yang dia harapkan adalah diterimanya amal ibadahnya tersebut dan memberikan manfaat yang akan kembali kepadanya di waktu yang sudah tidak bisa lagi seorang hamba beramal, ada beberapa tanda yang kemungkinan besar itu menjadi tanda bahwa amal ibadah seseorang diterima oleh Allah, berikut ulasannya :

1. Tidak kembali ke perbuatan dosa.

Sungguh kembalinya seseorang setelah ibadah ke perbuatan dosa, menjadi tanda kerugian bagi dirinya dan kemurkaan dari Allah, imam Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata:

من استغفر بلسانه وقلبه على المعصية معقود , وعزمه أن يرجع إلى المعصية بعد الشهر ويعود , فصومه عليه مردود , وباب القبول في وجهه مسدود

“Barangsiapa yang beristighfar dengan lisannya sedangkan hatinya bermaksiat sesungguhnya dia terikat (terhalang), dan dia ada keinginan untuk kembali ke perbuatan dosanya setelah sebulan nantinya pasti akan kembali ke perbuatan dosanya, maka ibadah puasanya tertolak, dan pintu diterimanya amal tertutup “.

Banyak orang yang bertaubat tetapi selalu ada perasaan bahwa suatu saat nanti juga akan terulang, maka janganlah punya perasaan seperti itu, tetapi bertekatlah dengan tekat yang kuat dan bilang pada diri sendiri “in sya Allah saya tidak akan kembali lagi ke kemaksiatan”.

2. Senantiasa takut jikalau amal ibadahnya tidak diterima.

Allah sama sekali tidak butuh akan ketaatan dan ibadah hambaNya, Allah berfirman

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sungguh Kami telah berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Luqman : 12)

“sesungguhnya Allah Maha Kaya” Dia tidak membutuhkan hambaNya, dan perbuatan hamba tidak akan memberikan mara bahaya kepadaNya sama sekali.

Juga berfirman:

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu..” (QS. Az Zumar: 7)

Seorang muslim itu meskipun sangat bersungguh-sungguh dalam menunaikan ketaatan kepada Robnya, dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendekat kepadaNya, tapi tetap saja selalu mawasdiri jikalau amalannya belum diterima. Ibunda kaum mukminin Aisyah rodhiyallahu ‘anha bertanya kepada baginda Nabi ‘alaihis sholatu was salam tentang ayat

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mukminun: 60)

أهم الذين يشربون الخمر ويسرقون؟

“apakah mereka itu para pemabuk dan pencuri ?

قال: (لا يا ابنة الصديق! ولكنهم الذين يصومون ويصلّون ويتصدقون، وهم يخافون أن لا يقبل منهم، أولئك الذين يسارعون في الخيرات).

Beliau ‘alaihis sholatu was salam menjawab: “Bukan ya putri As Shiddiq (Abu Bakr) tetapi mereka orang-orang yang puasa, sholat, dan bershodaqoh dan mereka takut jikalau tidak diterima amalnya itu, mereka itulah orang-orang yang bergegas dalam kebaikan” HR Tirmidzi.

3. Lebih giat untuk menunaikan amal sholeh setelahnya.

Termasuk tanda diterimanya amal adalah dia diberi taufiqNya untuk mengamalkan ketaatan setelah menunaikan ketaatan, kebaikan setelah kebaikan sehingga seakan-akan kebaikan itu memanggil-manggil saudaranya yang lainnya.

Amal sholeh itu ibarat pohon yang bagus dan indah, supaya tetap bagus dan indah dia perlu senantiasa di siram dan di rawat supaya tetap elok dan bisa dimanfaatkan. Hal yang paling urgen untuk selalu di jaga adalah menjaga keutuhan amalan yang pernah ditunaikan. Wa Allah a’lam bis showab.

Inilah tiga hal yang menjadi tanda diterimanya amal ibadah. Semoga penulis dan pembaca senantiasa Allah beri taufiqNya.

Sumber : https://www.saaid.org/Doat/ameer/55.htm#gsc.tab=0

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

donatur-tetap