Beberapa tahun terakhir, terutama sejak masa wabah Corona, pembelajaran secara online menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Kajian keislaman, pelatihan, seminar, bahkan perkuliahan kini banyak yang diselenggarakan secara daring maupun hybrid.
Kemudahan ini tentu merupakan nikmat. Kita dapat menghadiri kajian dari berbagai tempat, belajar kepada guru yang berada jauh dari kita, bahkan mengikuti majelis ilmu tanpa harus menempuh perjalanan panjang.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang jangan sampai kita lupakan: adab dalam menuntut ilmu.
Sebab, berpindahnya majelis ilmu dari ruang kelas atau masjid ke layar gawai tidak berarti adab dalam menuntut ilmu ikut berubah.
Justru, pembelajaran online menjadi salah satu keadaan yang memperlihatkan kesungguhan seorang penuntut ilmu. Apakah ia tetap berusaha memuliakan ilmu meskipun tidak duduk berhadapan langsung dengan gurunya? Ataukah karena merasa tidak berada di hadapan guru, ia kemudian menganggap kajian online sebagai sesuatu yang bisa diikuti sambil lalu?
Ilmu Tetap Harus Dimuliakan
Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah berkata:
مَنْ لَا يُكْرِمُ العِلْمَ لَا يُكْرِمُهُ العِلْمُ
“Barang siapa yang tidak memuliakan ilmu, maka ilmu tidak akan memuliakannya.”
Ucapan ini mengingatkan kita bahwa ilmu memiliki kedudukan yang mulia. Karena itu, cara kita memperlakukan ilmu juga semestinya menunjukkan penghormatan terhadapnya.
Ketika mengikuti kajian secara langsung, biasanya kita lebih mudah menjaga sikap. Kita datang dengan pakaian yang pantas, membawa buku atau kitab, duduk dengan tenang, memperhatikan guru, mencatat faedah, dan berusaha tidak melakukan aktivitas lain selama kajian berlangsung.
Lalu, bagaimana ketika kajian berpindah ke layar ponsel atau komputer?
Apakah karena guru tidak berada di hadapan kita, kemudian kita merasa bebas mengikuti kajian sambil tiduran, bermain media sosial, makan, berbincang, atau mengerjakan berbagai aktivitas lain?
Tentu tidak semestinya demikian.
Tidak hadirnya guru secara fisik bukan berarti majelis ilmu kehilangan kemuliaannya.
Syaikh Abdullah As-Sulmi hafizhahullah pernah menjelaskan dalam salah satu kajian online bahwa majelis kajian yang berlangsung secara daring, dengan izin Allah, tetap dapat menjadi majelis yang dikerumuni para malaikat. Mereka yang menyimak dengan sungguh-sungguh dari balik layar, memperhatikan penjelasan, bahkan mencatat pelajaran yang disampaikan, termasuk orang-orang yang menghadiri majelis ilmu tersebut.
Ini menunjukkan bahwa yang menjadi perhatian bukan semata-mata di mana kita duduk, tetapi juga bagaimana hati dan sikap kita ketika belajar.
Adab Bukan Hanya untuk Kajian Tatap Muka
Seorang penuntut ilmu hendaknya memahami bahwa adab bukan sekadar aturan ketika berada di hadapan seorang ustadz atau guru. Adab merupakan sikap yang seharusnya melekat pada diri seorang penuntut ilmu, kapan pun dan di mana pun ia belajar.
Imam Ahmad rahimahullah berkata:
إِنَّمَا العِلْمُ مَوَاهِبُ يُؤْتِيهِ اللهُ مَنْ أَحَبَّ مِنْ خَلْقِهِ
“Sesungguhnya ilmu adalah karunia. Allah memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari kalangan makhluk-Nya.”
Karena ilmu merupakan karunia dari Allah, seorang penuntut ilmu tidak hanya membutuhkan kecerdasan dan kemampuan menghafal. Ia juga membutuhkan pertolongan Allah. Dan salah satu sebab datangnya keberkahan ilmu adalah dengan menjaga adab.
Yusuf bin Al-Husain rahimahullah berkata:
بِالأَدَبِ تَفْهَمُ العِلْمَ
“Dengan adab, engkau akan memahami ilmu.”
Adab menjadi salah satu sebab seseorang dapat memperoleh manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Bisa jadi seseorang memiliki banyak kesempatan untuk belajar, memiliki banyak kitab, bahkan mengikuti berbagai kajian, tetapi sedikit ilmu yang benar-benar menetap dalam dirinya karena ia kurang menjaga adab.
Sebaliknya, seseorang yang menjaga adab akan lebih mudah mendapatkan keberkahan dan manfaat dari ilmu yang dipelajarinya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam Madarij As-Salikin bahwa adab merupakan tanda kebahagiaan dan keberuntungan seseorang, sedangkan kurangnya adab merupakan tanda kesengsaraan dan kerugian. Beliau juga menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih banyak mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat dibandingkan adab.
Maka, Bagaimana Seharusnya Mengikuti Kajian Online?
Jika kajian online juga merupakan majelis ilmu, maka sudah selayaknya kita berusaha menghadirinya dengan adab sebagaimana ketika menghadiri kajian secara langsung.
Di antara adab yang dapat kita jaga adalah:
1. Mengikhlaskan niat
Hendaknya kita menuntut ilmu karena Allah Ta’ala. Bukan semata-mata karena tuntutan sekolah, guru, orang tua, atau sekadar ingin mendapatkan pengakuan dari manusia.
Niat adalah perkara pertama yang harus diperhatikan, karena ilmu yang dipelajari untuk tujuan yang tidak benar dapat menjadi sebab keburukan bagi seseorang.
2. Mempersiapkan diri sebelum kajian
Jangan menjadikan kajian online sebagai aktivitas yang diikuti secara spontan tanpa persiapan.
Siapkan tempat yang nyaman, kitab atau buku yang diperlukan, alat tulis, serta perangkat yang digunakan untuk mengikuti kajian. Jika memungkinkan, pilih tempat yang tenang dan jauh dari berbagai gangguan.
Persiapan sederhana seperti ini merupakan bentuk penghormatan terhadap ilmu.
3. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh
Ketika guru menyampaikan materi, berusahalah untuk benar-benar mendengarkannya.
Jangan sekadar membuka layar kajian sementara perhatian kita berada di tempat lain.
Tubuh mungkin berada di depan layar, tetapi pikiran sibuk berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya.
4. Tidak menyela atau mengganggu guru
Jika kajian menyediakan sesi tanya jawab, gunakan kesempatan tersebut dengan baik dan tetap menjaga adab.
Hindari komentar, pesan, atau aktivitas lain yang dapat mengganggu jalannya pembelajaran.
5. Mencatat faedah
Biasakan membawa buku catatan ketika mengikuti kajian online.
Tulislah faedah penting, dalil, kesimpulan, atau hal-hal yang perlu dipelajari kembali.
Jangan hanya mengandalkan rekaman kajian. Sebab, mencatat membuat kita lebih aktif menyimak dan membantu ilmu lebih mudah diingat.
6. Memperhatikan kitab atau materi yang dibaca
Jika guru sedang membaca atau menjelaskan sebuah kitab, usahakan kita juga membuka kitab atau materi yang sama.
Dengan demikian, kita dapat mengikuti pembahasan dengan lebih baik dan mengetahui bagian yang sedang dijelaskan.
7. Berpakaian dengan pantas
Meskipun kamera kita tidak dinyalakan, tidak ada salahnya membiasakan diri berpakaian rapi ketika mengikuti kajian.
Sebab, yang kita hadiri adalah majelis ilmu. Pakaian yang pantas juga dapat membantu membangun suasana belajar yang lebih serius dalam diri kita.
8. Menjauhkan diri dari hal-hal yang mengganggu
Ponsel yang sama yang kita gunakan untuk mengikuti kajian juga dapat menjadi sumber gangguan.
Notifikasi media sosial, permainan, pesan masuk, video pendek, dan berbagai aplikasi lain dapat dengan mudah mengalihkan perhatian.
Karena itu, selama kajian berlangsung, berusahalah fokus pada materi. Jika tidak diperlukan, matikan notifikasi dan tutup aplikasi yang dapat mengganggu konsentrasi.
Jangan Sampai Kemudahan Mengurangi Adab
Teknologi telah membuat ilmu menjadi jauh lebih mudah untuk diakses. Dahulu seseorang mungkin harus menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri satu majelis. Sekarang, dalam hitungan detik, kita dapat menyimak kajian dari berbagai tempat.
Namun, kemudahan mendapatkan ilmu seharusnya tidak membuat kita meremehkan ilmu.
Justru karena ilmu semakin mudah dijangkau, kita perlu semakin serius menjaga adab ketika mengambilnya.
Jangan sampai kita memiliki ratusan rekaman kajian, mengikuti banyak grup ilmu, berlangganan berbagai channel, tetapi sedikit ilmu yang benar-benar mengubah diri kita.
Sebab, tujuan menuntut ilmu bukan sekadar mendengar lebih banyak, tetapi memahami, mengamalkan, dan mendapatkan keberkahan dari ilmu tersebut.
Maka, ketika layar ponsel menampilkan seorang guru yang sedang menyampaikan ilmu, hendaknya kita mengingat:
“Saya mungkin tidak sedang duduk di hadapan guru, tetapi saya sedang menghadiri majelis ilmu.”
Dengan kesadaran itu, semoga kita terdorong untuk menjaga niat, sikap, perhatian, dan adab selama belajar.
Baik di masjid maupun di depan layar.
Baik dalam majelis tatap muka maupun melalui kajian online.
Karena adab kepada ilmu tidak berubah hanya karena tempat belajarnya yang berubah.
Wallahu Ta’ala a’lam.
Referensi
- Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi, Ta’dzimul ‘Ilmi.
- Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi, Bahjah Ath-Thalab fi Adabi Ath-Thalab.
- Ibnul Qayyim rahimahullah, Madarij As-Salikin.







