Home Artikel Inti Sari Surat Al-Fatihah

Inti Sari Surat Al-Fatihah

140
0

Sungguh surat al fatihah menjadi surat yang paling agung di dalam Al-Quran, dan ayat yang mengumpulkan inti dan hakikat agama islam ada di dalam ayat yang berbunyi إياك نعبد و إياك نستعين  “hanya kepada-Mu (ya Allah) kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”. Dalam ayat ini seorang pembaca mengakui dua perkara yang besar, yaitu:

1. Bahwa dia (pembaca) adalah seorang hamba milik Allah, seorang hamba tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya semata, dan tidak ditujukan dalam ketakutannya, pengharapannya, doanya, penyembelihannya, sholatnya, hidupnya, matinya dan semua bentuk peribadahan kecuali hanya kepadaNya.

2. Bahwa dia (pembaca ayat tadi) tidak meminta pertolongan untuk mewujutkan kebutuhan juga cita-citanya, dan untuk menghilangkan musibah yang menimpa padanya kecuali hanya kepada Allah dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu, Dia dzat yang kepada-Nya lah memohon pertolongan segala perkara.

Jika sudah demikian keadaannya, maka pembaca ayat tersebut mengakui bahwa Robbnyalah  yang memiliki kekuasaan secara mutlak, ilmu yang sempurna, rohmah yang luas, dan maha suci.

Ayat ini (ayat ke 5 dari surat Al-Fatihah) walaupun lafadznya sangat sedikit, tetapi mengandung makna yang mulia dan hakikat yang sangat tinggi, yang seharusnya setiap muslim senantiasa merenungkannya.

Berikut hal yang bisa menjadi renungan dari ayat tersebut:

  1. Ibadah didahulukan dari pada isti’anah (mohon pertolongan) karena ibadah adalah hak Allah sedangkan isti’anah hak makhluk, tanpa ada ragu bahwa hak Allah lebih diutamakan dan didahukan dari pada hak makhluk. Hal ini mengajari kita sebagai manusia bagaimana beradab kepada Allah Robb sekalian manusia yaitu senantiasa mengutamakan dan mendahulukan hakNya, perintahNya, laranganNya dari pada segala hak, perintah dan larangan dari siapapun selainNya, karena pengakuan terhadap karuniaNya, dan bentuk memuliakan juga pengagungan kepadaNya.
  2. Dalam ayat إياك نعبد و إياك نستعين ada dua fi’il (kata kerja) yang kedua-duanya memakai bentuk jama’ (نعبد و نستعين) “kami menyembah dan kami mohon pertolongan” tidak pakai kata tunggal (أعبد  و  أستعين)”aku menyembah dan aku mohon pertolongan”, dua kata fi’il ini memberikan isyarat bahwa kaum muslimin ada hubungan atara satu dengan yang lainnya, dalam ayat ini Allah mengingatkan kaum muslimin akan hal hubungan tersebut, hendaknya kaum muslimin senantiasa berjamaah dan bersatu dan berusaha untuk menyatukan serta menjahui sifat individulisme, di tambah dengan ketawadhuan yang sudah disadari sebelumnya bahwa dia adalah hamba Allah. Dengan bersama-sama beribadah dan memohon pertolongan kepada Allah dia bisa lebih mendekat kepada pengakuan. Pembaca ayat itu seakan-akan mengatakan “ya Allah tidak ada untukku dari ibadahpun yang bisa aku akui dengan ibadah tersebut, tetapi ibadahku bersama saudara-saudaraku seiman ini yang menjadi tempat untuk aku akui bagiMu dan wasilahku kepadaMu”, maka dengan ini semua sifat ‘ujub (bangga diri) dan riya terhadap amalannya, karena Allah tidak akan menerima amalan orang yang berbuat ‘ujub dan tidak akan mengijabahi doa orang yang sombong.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here