Home Artikel Bekal Ramadhan #1: Sejarah Pensyariatan Ibadah Puasa

Bekal Ramadhan #1: Sejarah Pensyariatan Ibadah Puasa

692
0
Bismillah..

Ibadah puasa adalah ibadah yang agung, bahkan ibadah puasa telah Allah subahanahu wa ta’ala syariatkan kepada umat-umat terdahulu. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menerangkan, “Puasa adalah suatu kewajiban atas semua umat, meski berbeda cara dan waktunya. Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Puasa orang sebelum kita adalah dari gelapnya malam hingga malam selanjutnya.”

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala syariatkan pula ibadah puasa tersebut kepada ummat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan dalam syariat Nabi kita ibadah puasa diwajibkan dengan tiga tahapan:

Pertama, Puasa Asyura.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura sebelum diwajibkannya puasa pada bulan Ramadhan, Ibunda Aisyah radhiyallahu anha berkata,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَا يَصُومُهُ

“Dahulu, hari Asyura adalah hari di mana kaum Quraisy berpuasa padanya pada masa jahiliyah. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura. Tatkala Beliau datang ke Madinah, Beliau juga berpuasa padanya, dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa padanya. Lalu ketika turun (wajibnya puasa) Ramadhan, barangsiapa yang mau ia boleh berpuasa padanya, barangsiapa yang mau ia boleh juga untuk tidak berpuasa padanya.” (HR. Bukhari)

Kedua, Diwajibkan Berpuasa Pada Bulan Ramadhan Akan Tetapi Dengan Pilihan antara Puasa atau Membayar Fidyah.

Allah berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan atas orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajiakan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 185)

Ketiga, Diwajibkan Ibadah Puasa Tanpa Pilihan.

Allah berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang bener dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.” (QS. Al Baqarah: 185)

Hikmah dalam tahapan pensyariatan ibadah ini adalah bahwa puasa padanya terdapat beban bagi jiwa, maka dari itu Allah ta’ala wajibkan secara bertahap.

Wallahu ta’ala a’lam
_____

Referensi :

– Ithaf Ahlu Al Iman bi Durus Syahr Ramadhan, Shaleh bin Fauzan Al Fauzan

https://www.alukah.net/spotlight/0/7173/

****

Ditulis oleh : Muhammad Fatwa Hamidan 

(Alumni PP. Hamalatul Quran dan mahasiswa sarjana fakultas syariah, Universitas Islam Madinah)

Mari bergabung menanam saham Jariyah dalam pembangunan Ponpes Tahfidz Hamalatul Qur’an, Sanden Bantul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here