Home Artikel Adab Menasehati (Bag.4): Etika dalam Memberi Nasehat

Adab Menasehati (Bag.4): Etika dalam Memberi Nasehat

457
0

Dalam menasehati sering kali seseorang mendapatkan respon yang tidak nyaman, atau bahkan umpatan-umpatan dari orang yang dinaehati, hal tersebut dikarenakan nasehat yang di sampaikan boleh jadi serampangan, tanpa pandang bulu, dengan kemarahan dan semisalnya, sehingga sering kali kita mendapatkan respon negatif.

Dalam menasehati tentunya ada etika yang seharusnya di perhatikan sebelum seseorang menasehati orang lain, diantaranya sebagai berikut :

1. Etika dalam memberikan nasehat yang pertama adalah seseorang harus berilmu dan mengetahui hal yang akan di sampaikan kepada orang lain adalah kebenaran secara yakin, bukan hanya sekedar perkiraan, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

ولا تقف ما ليس لك به علم, إن السمع و الأبصار و الفؤاد كل أوْلائك كان عنه مسئولا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (QS. Isra’: 36)

Dapat kita fahami dari ayat di atas, bahwa Allah subhanahuwata’ala yang memerintahkan kepada kita untuk tidak mengikuti suatu hal yang kita tidak memilki ilmu didalamnya, dan ayat di atas ditafsirkan oleh syekh Ibnu baaz rahimahullah ta’aala “maksud ayat ini adalah : janganlah kalian mengatakan suatu hal yang kalian tidak diketahui”, terlebih lagi di dalam menasehati, karena salah dalam menaehati bisa menyesatkan orang banyak, semisal jika seseorang menasehati sepuluh orang, maka jika nasehatnya salah, dia telah menyesatkan sebelas orang termasuk dirinya sendiri, maka seseorang yang ingin menasehati setidaknya dia harus yakin dengan yang dia sampaikan kepada orang lain sebagai kebenaran.”

 

2. Etika yang kedua adalah mengamalkan apa yang di sampaikan kepada orang lain, dan etika ini adalah adab kepada Allah subhanahuwata’aala yang harus diperhatikan khususnya oleh para da’I penceramah dan umumnya untuk semua orang yang memberikan nasehat kepada orang lain, Allah subhanahuwata’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ (3)

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (2) (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (3). (QS. As-Shof : 2-3)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam shahih Bukhari hadis nomor 3027 :

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Pada hari qiyamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingnya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata; “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma’ruf dan melarang kami berbuat munkar?”. Orang itu berkata; “Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat ma’ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat munkar, namun malah aku mengerjakannya”.

Dua dalil di atas menjelaskan kerasnya ancaman bagi orang yang memberikan nasehat kepada orang lain akan tetapi dia tidak mengamalkannya.

Bukan berarti tatkala menyampaikan nasehat, seseorang harus menjadi baik terlebih dahulu, dalam artian mengamalkan semua yang dia sampaikan, akan tetapi setidaknya orang yang menyampaikan nasehat dia berusaha mengamalkan apa yang telah dia sampaikan kepada orang lain, syeikh Sa’id bin Jabir berkata : “Seandainya seseorang tidak memerintahkan kepada kebaikan dan melarang terhadap keburukan sampai dia mengamalkan semuanya terlebih dahulu, maka tidak ada satu orangpun yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran di muka bumi ini.”

Demikian artikel singkat ini semoga Allah memberikan manfaat kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah akan dilanjut di artikel nasehat bagian ke 5, Wallahu a’lam bis-showaab.

Refrensi : Syarh Bulughul Marom Kitaabul Jaami’ hadis pertama oleh Ustadz Abdulloh zaen, Lc. Ma.

Ditulis Oleh : Badruz Zaman, Lc

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here