Home Artikel Alquran Seni dalam Mengajarkan Al-Quran

Seni dalam Mengajarkan Al-Quran

572
0

Seni dalam Mengajarkan Al-Quran

Tak bisa dipungkiri bahwa setiap ilmu memiliki tokoh yang ahli dalam bidangnya, pun demikian dengan ilmu tajwid. Ilmu ini sejatinya mampu dikuasai oleh setiap orang tanpa memandang spesialis apa yang ia geluti, sebab setiap muslim memiliki kewajiban untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Hanya saja ada satu hal yang perlu digaris bawahi, yaitu fakta bahwa tak semua orang yang mampu membaca Al-Quran dengan baik maka ia otomatis mampu “mentransfer” ilmu tersebut kepada orang lain. Sebab mengajar tajwid ataupun tahsin butuh “seni” tersendiri. Tak heran jika banyak lembaga yang mengadakan dauroh khusus untuk para calon pengajar Al-Quran.

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sendiri telah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya:

اسْتَقْرِؤُوْا القُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ : مِنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَأُبَيْ وَمُعَاذِ بنِ جَبَلٍ

“Pelajarilah Al Quran dari 4 orang : Abdulloh bin Mas’ud, Salim maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bi Jabal.” (HR. Bukhori)

Metode atau seni dalam mengajarkan Al-Quran memiliki peran penting dalam meraih kesuksesan belajar. Sebab metode yang salah justru akan membuat seseorang semakin sulit untuk menemukan titik terang dari materi yang dipelajari. Tak ubahnya dengan seorang musafir dari Jakarta yang ingin menuju Sumatra namun ia justru mengambil jalan ke arah Papua.

Saat menelisik lebih dalam sejarah pembelajaran ilmu tajwid dan qiroat, kita akan dibuat terkagum-kagum dengan upaya yang dikerahkan para ulama agar bisa menelurkan para penerus yang mumpuni.

Pikiran akan terbang jauh membayangkan bagaimana Imam Abu Hasan Al-Anthoki (wafat 377 H) rohimahulloh menggebrak kurikulum pembelajaran di Andalus yang nantinya berhasil menghasilkan para “alumni” yang tak hanya bersinar di negri Andalus, akan tetappi di seluruh negri islam.

Kita juga akan dibuat terperangah dengan metode madrasah di belahan negri Maghrib dan Afrika yang dikenal amat ketat dalam masalah hafalan. Belum lagi jika membicarakan daerah Syinqith yang terkenal “gila” dalam menghafal.

Kita juga akan dibuat termangut paham dengan alasan munculnya berbagai mandhumah atau matan ilmiyah dalam bidang ilmu tajwid dan qiroat yang nantinya menjadi “materi utama” yang wajib dipelajari oleh para penggiat ilmu ini.

Disamping itu, kita juga akan sadar bahwa metode yang tepat dalam belajar merupakan salah satu kunci keberhasilan para ulama terdahulu. Oleh sebab itu, suatu hal yang tepat jika tiap pengajar Al-Quran menguasai dengan baik metode mengajar Al-Quran, bukan sekedar membiarkannya mengalir tanpa arah dan tujuan.

Semoga Allah subhanahu wata’ala mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Amiin.

Sekedar cuplikan kerangka pikiran dari makalah tugas kuliah yang sedang disusun dengan judul “Madaris Al-Iqro”.

***

Ditulis oleh: Afit Iqwanuddin, Lc.
(Alumni PP Hamalatul Quran Yogyakarta dan mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Qiroat, Fakultas Al Qur’an, Universitas Islam Madinah)

Artikel: hamalatulquran.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here