Home Artikel Puasa Syawal Bag.1

Puasa Syawal Bag.1

539
0
campaign psb PPHQ 26-27

Setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan, diharapkan bagi seorang muslim untuk mempertahankan ibadah secara kualitas maupun kuantitasnya di bulan-bulan berikutnya. Ibadah yang biasa dilakukan di bulan Ramadan seperti; puasa, infak, berbagi dan sebagainya diharapkan menjadi amaliyah yang istiqomah.

Bulan Syawal menjadi tantangan awal terkait keistiqomahan ibadah kita. Apakah sudah hilang atau masih bisa dipertahankan. Berbagai hal yang menyangkut bulan Syawal secara umum akan coba dipaparkan pada tulisan kali ini.

BULAN PENUH BERKAH

Bulan Syawal adalah bulan penuh keberkahan dan ketaatan. Bulan ini adalah permulaan bulan-bulan haji; Syawal – Zulkaidah – Zulhijah. Pada bulan Syawal terdapat berbagai macam amal sunah yang disyariatkan seperti; puasa, qada iktikaf dan menikah.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan puasa di bulan Syawal dalam sabdanya,

من صامَ رمضانَ ثمَّ أتبعَه بستٍّ من شوَّالٍ كانَ كصومِ الدَّهرِ

“Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka baginya pahala puasa satu tahun penuh.”

donatur-tetap

Puasa ini hukumnya sunah, dianjurkan tidak wajib. Memiliki keutamaan yang agung dan pahala yang besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

مَن صام رَمضانَ فشَهرٌ بعَشْرةِ أشهُرٍ، وصيامُ ستَّةِ أيَّامٍ بعدَ الفِطرِ، فذلك تَمامُ صيامِ السَّنةِ

“Siapa yang puasa Ramadan maka satu bulan senilai sepuluh bulan dan puasa enam hari setelah idulfitri (senilai dua bulan), maka genap puasa satu tahun.”

Karena seorang muslim yang melakukan amal kebaikan maka balasannya sepuluh kali lipat pahala. Sebagaimana firman Alllah ta’ala

مَن جَاۤءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ

“Siapa yang datang membawa satu kebaikan maka baginnya balasan sepuluh kali lipat.”
Sebagaimana amal ibadah lain dilipat gandakan sepuluh kali lipat, puasa Syawal memiliki keistimewaan. Jika amal sunah lain dilipatgandakan dan dinilai pahala sunah, ibadah puasa Ramadan yang diiringi puasa Syawal dinilai pahala puasa wajib satu tahun.

Diantara manfaat puasa Syawal adalah menutupi dan mengganti kekurangan yang terjadi pada puasa wajib di bulan Ramadan. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ أوَّلَ ما يُحاسبُ به العبدُ يومَ القيامةِ مِن عملِه صلاتُه فإذا صلَحتْ فقد أفلحَ وأنجحَ وإن فسدَتْ خابَ وخسِر فإن انتقصَ من فريضتِه شيئًا قال الرَّبُّ تبارك وتعالى انظروا هل لعبدي من تطوعٍ فيكملُ بها ما انتقصَ من فريضتِه ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik sungguh dia beruntung dan sukses namun jika salatnya rusak maka sungguh dia merugi. Jika ada amal wajib yang kurang, maka Allah berfirman, ‘Lihatlah apakah hambaku memiliki amal sunah. Dilengkapilah amal fardu yang berkurang dengan amal sunah tersebut,’ Kemudian amal-amal lainnya juga seperti itu.”

MENDAHULUKAN PUASA WAJIB

Bagi seorang muslim yang memiliki uzur tidak berpuasa di bulan Ramadan, baga hendaklah ia menqada puasa wajib terlebih dahulu dari memulai puasa Syawal. Mulai menqada puasa wajib lebih cepat akan membersihkan tanggung jawab dan kewajiban. Kaedah dalam masalah ini adalah menuntaskan yang wajib lebih didahulukan daripada mengejar yang sunah.

Olehkarenanya, siapa yang menginginkan pahala yang terdapat dalam hadis yaitu ganjaran puasa wajib satu tahun maka menjadi kewajibannya menqada puasa wahib baru selanjutnya berpuasa enah hari di bulan Syawal. Hal ini didasarkan pula pada zahir hadis nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

ثمَّ أتبعَه بستٍّ من شوَّالٍ

“Kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal.”

Kalimat ini menunjukkan bahwasannya menjadi kewajiban seorang muslim untuk menuntaskan kewajiban puasa Ramadan terlebih dahulu kemudian selanjutnya puasa enam hari di bulan Syawal. Karena tidaklah terwujud bagi seorang muslim ‘mengikuti’ puasa Ramadan dengan puasa Syawal kecuali jika telah dia selesaikan puasa Ramadan terlebih dahulu.

Seorang yang memiliki hutang puasa Ramadan jika ia qada di bulan Syawal lalu tidak menjumpai hari untuk berpusa sunah dibolehkan qada puasa Syawal di bulan Zulkaidah. Orang seperti ini tetap tercatat baginya pahala puasa wajib satu tahun penuh. Karena penundaan yang dia lakukan dengan alasan darurat. Namun, jika seorang tidak segera menqada puasa yang ia tinggalkan di bulan Ramadan lalu habis waktu di bulan Syawal sehinga tidaak bisa melakukan puasa sunah Syawal, tidak dituntunkan baginya puasa Syawal di bulan Zulkaidah. Ulama fikih menyebut dengan istilah sunnatun fatat mahaluha ‘ibadah sunah yang telah berlalu waktunya.’

Referensi
21 Faidah fi Shiyam 6 Syawal karya Syeikh Muhammad Shalih al-Munajjid

Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here