Home Blog Page 9

Ibadah Hati Bag. 18: Catatan Penting Tentang Tawakkal

0

Bertawakal kepada Allah memiliki pengaruh yang besar, diantaranya adalah kedamaian, ketenangan, kekuatan, kemuliaan, kerelaan dan harapan. Dan di antara kiat untuk bertawakal adalah mengenal Allah ta’ala melalui nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Kiat yang lain adalah percaya penuh kepada Allah ta’ala, mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan manusia, mengetahui keutamaan dan urgensi tawakal

Adapun penghalang pokok dalam  tawakal adalah tidak mengenal Allah dan keagungan-Nya. Penghalang lain adalah tertipu dengan keadaan diri, cenderung kepada makhluk, cinta dunia sehingga tertipu dengannya.

Kaidah dan Catatan Penting Terkait Tawakkal

  1. Tawakal adalah ibadah hati yang paling vital karena berkaitan erat dengan asmaul husna.

Dari sisi orang yang bertawakal kepada Allah, maka tawakal memiliki keterkaitan dengan nama Allah Al Goffar (Maha Pengampun), At Tawwab (Maha Penerima Taubat), Al Ghafur (Maha Pengampun), Al ‘Afwu (Maha Pemaaf), Ar Raouf (Maha Penyantun) dan Ar Rahim (Maha Penyayang).

Tawakal juga berkaitan dengan nama Allah Al Fattah (Maha Pembuka), Al Wahhab (Maha Pemberi), Ar Rozzaq (Maha Pemberi Rizki), Al Mu’thi (Maha Pemberi) dan Al Muhsin (Maha Berbuat Baik).

Tawakal berkaitan dengan nama Allah Al Mu’iz (Yang Memuliakan), Al Mudzil (Yang Menghinakan), Al Khafidz (Yang Merendahkan), Ar Rafi’ (Yang Meninggikan) dan Al Mani’ (Yang Mencegah) dalam kaitan tawakkal dalam upaya untuk menghinakan, merendahkan dan menghalang-halangi kemenangan musuh-musuh Islam.

  1. Tawakal tidak meniadakan usaha untuk berobat.

Dalam hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau menceritakan karakter tujuh puluh ribu orang yang masuk sorga tanpa dihisab. Mereka memiliki karakter tidak meminta diruqyah, tidak memiliki anggapan sial karena suatu hal, tidak melakukan pengobatan dengan besi panas dan bertawakal kepada Allah.(HR. Bukhari, 7/174).

Makna yang bisa dipahami dari hadis di atas adalah berobat dengan ruqyah dan besi panas itu meniadakan tawakal. Sejumlah ulama’ besar telah menjelaskan kompromi hadits di atas dengan hadits yang menerangkan tentang pengobatan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan perintah beliau kepada sahabat untuk berobat. Diantara penjelasan yang bisa diterima adalah sebagai berikut:

a. Yang dimaksud dengan hadis di atas adalah menjauhi perbuatan di atas ketika tubuh dalam keadaan sehat, jadi berobat karena takut terjangkiti penyakit. Namun, kalau hal itu dilakukan ketika sudah terjangkiti penyakit maka hal itu diperbolehkan.

b. Mungkin yang dimaksud dengan orang-orang yang disebutkan dalam hadis di atas adalah orang-orang yang lupa dengan kondisi dunia. Mereka lupa tentang adanya kiat-kiat yang telah disiapkan untuk menyingkirkan berbagai penghalang. Mereka juga tidak mengetahui cara berobat dengan besi dan ruqyah. Mereka tidak memiliki tempat berlindung yang bisa menyelamatkan mereka kecuali dengan berdoa, berlindung kepada Allah dan rela dengan ketentuan-Nya. Mereka melupakan obat para dokter, bacaan tukang ruqyah. Bahkan mereka tidak bisa melakukan itu semua dengan baik.

c. Yang dimaksud dengan meninggalkan ruqyah dan pengobatan dengan besi panas adalah bersandar kepada Allah untuk mengusir penyakit, rela dengan ketentuan-Nya. Namun, tidak ada celaan bagi orang yang melakukannya. Hal ini dikarenakan adanya hadis-hadis shahih dan keterangan para ulama’ salaf. Akan tetapi sebenarnya, sikap rela dan berserah diri terhadap ketetapan Allah itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sikap memilih untuk melakukan usaha.(At Tawakkal, hal. 85)

Permasalahan ruqyah terdapat dalam ucapan, perbuatan dan persetujuan  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap perbuatan para sahabat. Bahkan terdapa hadis dari Nabi yang memuat berbagai lafal ruqyah yang telah banyak diketahui orang. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa yang tidak diperbolehkan adalah meminta ruqyah, bukan meruqyah itu sendiri.

Diantara ulama ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya hadis di atas tidak menunjukkan bahwa hanya tujuh ribu orang itu saja yang bertawakal. Akan tetapi hadis di atas menunjukkan bahwa mereka itu adalah golongan yang istimewa. Oleh karena itu, pelajaran yang bisa diambil dari hadits di atas adalah apa yang mereka tempuh adalah suatu hal yang sangat dianjurkan tapi bukan sesuatu yang harus mereka dimiliki.(At Tawakkal, hal. 88)

  1. Istikharah kepada Allah tabaraka wa ta’ala adalah salah satu bentuk dan gambaran dari tawakal.

Orang yang beristikharah itu bertawakal kepada Allah untuk mencari kejelasan mengenai hal yang baik dan hal yang buruk, hal yang bermanfaat dan hal yang membahayakan. Dia berserah diri kepada Allah dalam semua perkara tersebut. Wallahu a’lam.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Membangun Keluarga Sakinah Bag.2: Mencari Harta yang Berkah

0

Harta membuat seorang harus berurusan dengan berbagai lika liku dalam proses mendapatkannya. Apabila menjalani proses sambil memikirkan dampak baik dan buruk, maka dia selangkah lebih dekat dalam menghadirkan harta yang berkah.  Sebaliknya, ketidak pedulian dengan dampak baik dan buruk dari proses mencari harta sama saja dengan mengabaikan keberkahan harta.

Seorang muslim yang peduli dengan kebaikan keluarganya hendaknya menjadi  sosok yang dapat menghadirkan harta yang berkah. Karena harta yang berkah dapat memberikan dampak baik untuk keluarganya.

A. Hakekat Harta Berkah

Imam An-Nawawi mengaitkan berkah dengan kebaikan:

وَأَصْلُ الْبَرَكَةِ ثُبُوتُ الْخَيْرِ وَكَثْرَتُهُ

“Hakekat berkah adalah menetapnya kebaikan dan bertambah banyak (kebaikannya).” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3 : 194)

Harta yang berkah merupakan harta yang dapat memberikan kebaikan baik bagi pemiliknya ataupun orang lain. Sedikit ataupun banyak jumlah harta tersebut maka tetap membawa kebaikan. Bahkan yang sedikit tapi berkah bisa jadi lebih bermanfaat dari jumlah yang banyak tapi tidak berkah.

Harta yang mebawa kebaikan ini tentu dihasilkan dari proses yang disertai taqwa. Apabila cara memperolehnya dengan kehati-haian, menghindari kedzoliman, riba dan segala bentuk keharaman, maka harta itu diberkahi. Karena yang berhak menentukan keberkahan suatu dzat hanya Allah Subhanahu Wata`ala. Dan Allah tidak memberikan keberkahan pada sesuatu kecuali kepada orang-orang yang bertaqwa:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ

“Seandainya penduduk negri itu beriman dan bertaqwa, niscaya akan kami bukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.” (QS Al-A`raf: 96)

B. Sumber Harta yang Diberkahi

  1. Harta yang Halal

Apabila Allah menurunkan keberkahan kepada orang-orang yang bertaqwa, maka harta yang diberkahi pasti harta yang halal. Karena orang yang bertaqwa dalam masalah harta akan memastikan halalnya harta. Bahkan bukan hanya menjauhkan diri dari yang jelas keharamannya, tapi juga dari perkara yang syubhat (samar-samar).

  1. Perbanyak Do`a Keberkahan

Memohon kepada Allah agar diberikan harta banyak tidak ada larangan, bahkan doa agar banyak harta ini pernah dipanjatkan oleh Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasallam untuk anas. Akan tetapi beliau tidak meminta banyaknya harta kecuali menyelipkan permintaan berkah untuk harta tersebut.

                                   اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah perbanyaklah    hartanya, anaknya dan berikanlah keberkahan pada   apa yang engkau berikan kepadanya.” (HR Bukhori no. 6334)

Doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah untuk anas ini dikabulkan oleh Allah. Anas berumur panjang, memiliki harta melimpah dan ana yang banyak.

C. Dampak Harta yang Tidak diberkahi Terhadap Keluarga.

Berikut ini merupakan dampak buruk dari harta yang tidak diberkahi terhadap keluarga:

  1. Mengundang Murka Allah

Diantara bentuk murka Allah di dunia adalah dengan cara dilenyapkannya harta tersebut:

يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS Al-Baqarah : 276)

Allah melenyapkan harta dengan banyak cara, diantaranya dengan diberikan berbagai macam musibah kepada keluarga yang mendapat harta tersebut sehingga membuat harta yang tidak berkah itu tidak bisa dinikmati. (Tafsir As-Sa`di, hlm.109)

Kejadian yang terlihat di mata manusia bahwa sakit, bencana dan lain sebagainya sering dianggap sekedar musibah biasa. Padahal musibah-musibah tersebut bisa jadi bagian dari murka Allah yang menjadi peringatan bagi para pencari harta haram. Maka agar tidak mengundang murka Allah, perlu segera membersihkan harta tersebut agar keluarga tidak dibebani dengan musibah-musibah yang memberatkan.

  1. Adab Anak Semakin Memburuk

Harta haram banyak didapatkan dengan cara mendzolimi orang lain. Mengambil hak orang lain bisa dengan cara mencuri, korupsi, menipu dan lain sebagainya. Ketika ada hak orang lain yang diambil, maka berbagai cara dilakukan agar perilakunya tidak diketahui. Waktu dihabiskan dengan kesibukannya melakukan penghapusan jejek kedzolimannya. Setelah tiba di rumah pun, bukan hati tenang yang didapatkan tapi rasa kawatir yang bisa saja terus menerus muncul.

Orang tua yang hadir di rumah perlu membawa ketengan hati. Hati yang tenang tidak mudah emosi ketika ada faktor pemicu. Sebaliknya, hati yang serba kawatir dan takut jika kedzolimannya terbongkar, mudah meluapkan emosi walaupun  pemicunya hanya kecil. Emosi yang diluapkan bisa berbentuk marah, kata-kata kasar maupun perlakuan brutal. Apabila hal semacam ini menjadi konsumsi sehari-hari bagi anak, maka penanaman perilaku semacam ini mudah membuat anak kehilangan arah dalam beradab.

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Hadis tentang Sambutan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Zaid bin Haritsah

0

Dari Aisyah radhiyallahu anha dia berkata:

 قَدِمَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ الْمَدِينَةَ، وَرَسُولُ اللهِ ﷺ فِي بَيْتِي، فَأَتَاهُ فَقَرَعَ الْبَابَ، فَقَامَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَجُرُّ ثَوْبَهُ، فَاعْتَنَقَهُ وَقَبَّلَهُ.

 “Zaid bin Haritsah tiba di Madinah, sedangkan Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam sedang di rumahku. Maka ia mendatangi beliau dan mengetuk pintu. Nabi salallahu ‘alaihi wasallam berdiri menyambut dan menyeret bajunya, kemudian memeluk serta menciumnya.”  (Hr. Tirmidzi)[1]

Profil Aisyah radhiyallahu ‘anha

Aisyah adalah putri Abu Bakar ash-Shiddiq, khalifah pertama sekaligus sahabat paling dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal dengan julukan ummul mu’minin. Aisyah terkenal sebagai sosok yang cerdas, memiliki hafalan kuat, dan termasuk perawi hadis terbanyak. Bersama enam sahabat lainnya, ia menjadi salah satu dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Dari beliau, banyak umat Islam belajar tentang kehidupan rumah tangga Nabi, hukum-hukum fikih, serta akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Profil Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu

Zaid bin Haritsah memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah mantan budak Khadijah yang kemudian dimerdekakan dan dijadikan anak angkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum syariat menghapus tradisi adopsi dengan status nasab. Zaid sangat dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga para sahabat sering menyebutnya dengan julukan hubb Rasulillah (kekasih Rasulullah). Dari pernikahannya, Zaid memiliki seorang putra bernama Usamah bin Zaid, yang juga dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dijuluki hubb ibn hubb Rasulillah (anak dari kekasih Rasulullah).

Zaid adalah satu-satunya sahabat yang namanya secara eksplisit tercantum dalam Al-Qur’an, yaitu pada surat Al-Ahzab [33]: 37

…فَلَمَّا قَضٰى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًاۗ زَوَّجْنٰكَهَا  …

“… Maka, ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) …”

Zaid termasuk sahabat yang pernah hijrah ke Habasyah, kemudian kembali ke Madinah. Ketika sampai di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengetuk pintu, lalu Nabi segera berdiri menyambutnya dengan penuh kehangatan.

Hikmah dan Pelajaran dari Hadis

Riwayat ini menunjukkan betapa lembut dan penuh kasih sayang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para sahabatnya. Sambutan beliau kepada Zaid menjadi teladan dalam mempererat persaudaraan, menumbuhkan rasa cinta, serta menghargai kedatangan seseorang.

Hadis ini juga memberikan penjelasan mengenai adab berdiri (qiyām):

  1. Qāma ilaihi – berdiri untuk menyambut tamu; hukumnya sunnah.
  2. Qāma lahu – berdiri sekadar untuk penghormatan; hukumnya makruh kecuali ada kebutuhan.
  3. Qāma ‘alaih – berdiri di hadapan orang yang duduk; boleh bila terkait keamanan, tetapi haram bila hanya untuk pengagungan.

Selain itu, hadis ini juga mengajarkan beberapa faedah penting:

  • Bolehnya isbāl (menjulurkan pakaian) apabila terjadi tanpa sengaja.
  • Dianjurkannya memeluk dan mencium sahabat atau kerabat ketika bertemu, khususnya setelah lama berpisah.
  • Pentingnya menyambut tamu dengan penuh keramahan, sebagaimana akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian, hadis ini tidak hanya memperlihatkan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Zaid bin Haritsah, tetapi juga mengandung pedoman praktis mengenai adab menyambut tamu, bentuk penghormatan yang benar, serta etika pergaulan yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

[1] Hr. Tirmidzi no. 2732

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Lahab Bag.3

0

Surat al-Lahab

مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (QS al-Lahab 2)

Kata (ما)mempunyai beberapa tafsiran:

  1. استفهامuntuk pertanyaan, maka makna ayat di atas adalah: Apa manfaat kekayaan dan anak-anaknya bagi dirinya?
  2. نفي و استنكارpeniadaan dan pengingkaran, sehingga makna ayat adalah: tidak akan berguna baginya harta, anak-anaknya, dan apa yang telah diwariskan kepadanya dari bapak-bapaknya terdahulu, dan juga apa yang dia usahakan dengan kesungguhan dan keletihan.
  3. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa saja yang dia usahakan

ما كسب (apa yang dia usahakan) termasuk makna كسبadalah: anak-anaknya, karena anak seseorang termasuk hasil dari usahanya, maka ayat di atas memberi isyarat bahwa harta, kedudukan, tahta, anak dan apapun yang dia miliki tidaklah akan berguna bagi dirinya sedikitpun, seperti firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,” (QS al-Anfal 36)

Allah menceritakan keadaan orang-orang kafir yang nenjadi penghuni neraka, mereka berseru sambil meratapi penuh penyesalan مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ ۜ  هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ(Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dari padaku”.) QS al-Haqqoh 28-29

Ketika masuk neraka maka mana harta, kekayaan, kedudukan, anak ?! Semua tidak berguna.

Hartanya abu Lahab yang masih tersisa di dunia menjadi harta warisan, sedangkan anaknya berlepas diri dari padanya, dan sebagian ada yang masuk Islam.

Tatkala Nabi ‘alaihis sholatu was salam berdakwah dan mengajak manusia untuk beriman, abu Lahab berkata: jikalau seandainya apa yang dikatakan anak saudaraku itu (Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam) benar, maka saya nanti di hari Qiamat akan menebus adzab itu dengan hartaku dan anak-anakku, maka turunlah ayat مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

Akhir kehidupan abu Lahab, dia mati 7 hari setelah kejadian perang Badr tahun ke 2 hijriah, dengan tertimpa penyakit yang mematikan, tiga hari tubuhnya terlantar sampai muncul bau yang menyengat sehingga tidak ada orang yang berani menguburkannya, takut tertular oleh penyakitnya, karena rasa malu, maka keluarganya menggali lubang dan jasad abu Lahab di dorong dengan galah dan masuk ke dalam lubang tersebut. Inilah akhir dari orang yang menghalangi dari jalan Allah dan mengumandangkan peperangan kepada Allah dan agamaNya, dan siapapun yang bersikap seperti abu Lahab pasti akan bernasib sama.

Adapun jatah abu Lahab di kehidupan akhirat adalah lanjutan ayat, yaitu firman Allah ta’ala:

سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.) QS al-Lahab 3

Dalam ayat ini pemakaian kata dengan يصلىfi’il mudhori’ yang mempunyai arti التجدد و الاستمرارberkesenambungan dan terus menerus, maka keadaan kehidupan akhirat bagi abu Lahab dan orang-orang yang menyerupai dia lebih dahsyat kengeriannya, dia akan masuk neraka yang bergejolak tidak akan pernah padam selamanya. Wal ‘iyadzu billah.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Belajar Akidah dari Juz ‘Amma: An-Naba Ayat 17-30

0

Al-Qur’an telah Allah turunkan kepada kaum yang hidup pada masa jahiliyyah serta masa kegelapan, mereka adalah kaum yang tidak tahu helekat kematian, hari kebangkitan dan hakekat kehidupan yang hakiki.

Dan ketika Allah Ta’ala menginginkan kebaikan pada mereka, maka Allah utus Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam serta Allah turunkan pula bersamanya Al-Qur’an untuk mengeluarkan mereka dari kelalaian, menyadarkan dari kesalahan serta agar mereka dapat mengetahui bahwa Allah lah Tuhan yang Maha Esa dan yang berhak diibadahi.

Pada ayat ke-17 Allah menerangkan tentang Yaumil Fashl yang itu adalah salah satu nama lain dari hari kiamat, karena hari kiamat memiliki banyak nama, sebagaimana yang dipaparkan Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsirnya bahwa nama lain hair kiamat ada sekitar 80an nama, adapun Ibnu Katsir berpendapat nama-nama hari kiamat ada 50an nama. Nama-nama tersebut tersebut telah tertuang dalam ayat-ayat Al-Qur’an serta dalam Hadis Nabawiyah.

Allah Berfirman,

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا

“Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan”

Berikut ini beberapa nama lain dari hari kiamat:

1. Yaumuddin
2. Yaumut Taghanun
3. At-Thamah
4. Yaumut Talaq
5. Al-Haqah
6. Al-Ghasyiah
7. Al-Qoriah
8. Yaumil Hisab
9. Yaumil Hasyr
10. Yaumil Fashl

Kemudian pada ayat ke-18 sampai ayat ke-20  Allah Ta’ala jelaskan kejadian-kejadian pada hari kiamat, semisal doitiupnya sangkakala, langit terbelah dan gunung-gunung pun dalih bergeser berhalan. Allah Ta’ala berfirman:

َوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا * وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا * وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

“yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”

Pada ayat ke-21 sampai ayat ke-30 diterangkan akan nyata adanya neraka, orang-orang yang akan masuk neraka serta penjelasan bahwa perbuatan manusia itu senantiasa dicatat. Allah Ta’ala berfriman:

 إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا * لِلطَّاغِينَ مَآبًا * لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا * لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا * إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا * جَزَاءً وِفَاقًا * إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا * وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا * وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا * فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا

“Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pambalasan yang setimpal, Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” (QS. An-Naba’: 21-30)

Faidah dari Ayat

1. Penegasan akan adanya hari kebangkitan, serta Allah jelaskan kondisi manusia ketika dibangkitkan pada Hari kiamat.
2. Penetapan akan adanya hisab pada hari kiamat, manusia akan dihisap amalannya serta digunakan hak-haknya bilamana ketika di dunia belum tertunikan haknya.
3. Penetapan akan adanya Neraka,serta penjelasan macam-macam adzab yang ada di dalamnya
4. Keadilan Allah Ta’ala, karena balasan berbanding lurus dengan amal perbuatan.

Referensi: At-Tafsir Al-A’di li Jauzi ‘Amma karya Syaikh Ahmad bin Abdurrahman Al-Qodhi

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A
Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Lahab Bag.2

0

ALlah Ta’ala berfirman,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”

Kata tabbat (تبت) mempunyai makna: kerugian, kebangkrutan dan kebinasaan. Hal ini sebagai ganti dari perkataan abu Lahab kepada Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam yang dia mengatakan (تبا لك) “celaka kamu (wahai Muhammad)” dan ayat ini juga nemberi isyarat bahwa suatu perbuatan akan di balas dengan setimpal, seperti dalam kaidah الجزاء من جنس العمل “balasan suatu amal sesuai dengan jenis amal itu”. Ayat ini menjadi suatu laknat dari Allah untuk abu Lahab dengan kerugian dan kebinasaan yang pasti.

تبت يدا أبي لهب “Binasalah kedua tangan abu Lahab” yang di maksud dengan “kedua tangan” adalah :

  1. صاحب “pemiliknya atau orangnya” yaitu abu Lahab sendiri.
  2. كل “seluruhnya” bukan hanya tangannya yang binasa tetapi seluruh badannya. Cara pengungkapan seperti ini sudah lazim di kalangan Arab, hanya menyebutkan sebagian tetapi yang dimaksud keseluruhan.
  3. Ta’bir atau ungkapan dengan kedua tangan dikarenakan dia (abu Lahab) dahulu melempari Nabi ‘alaihis sholatu was salam dengan kedua tangannya, sehingga kebinasaan dia diungkapkan dengan anggota tubuh yang dipakai untuk menghina dan merendahkan Nabi ‘alaihis sholatu was salam.
  4. Pengungkapan dengan kedua tangan dikarenakan abu Lahab meyakini bahwa kedua tangannyalah yang akan mengalahkan dakwahnya Nabi, tetapi Allah berkehendak lain, Dia membalikkan keadaan dengan dibinasakannya abu Lahab.
  5. Ungkapan dengan kedua tangan dikarenakan kebanyakan perbuatan manusia dilakukan dengan kedua tangannya, maka dinisbatkan kebinasaan kepada anggota yang banyak dipakai untuk berbuat.
  6. Abu Lahab adalah paman Nabi ‘alaihis shalatu was salam yang bernama Abdul ‘uzza. Al-Quran menyebut abu Lahab dikarenakan nama abu Lahab ini yang di kenal oleh bangsa Arab, dan Al-Quran tidak menyebut dengan nama aslinya dikarenakan nama aslinya mengandung kesyirikan karena menunjukkan penghambaan kepada selain Allah.

Abu Lahab termasuk orang yang sangat memusuhi Nabi ‘alaihis sholatu was salam meskipun dia termasuk keluarga besarnya Nabi dan orang yang dekat dengannya dari sisi nasab. Abu Lahab tidak cukup hanya memusuhi Nabi ‘alaihis sholatu was salam dengan mencaci dan menghina beliau dengan lisannya semata, tetapi juga mendorong keluarganya, istri dan anak-anaknya untuk ikut memusuhi beliau, selalu mengobarkan permusuhan, berusaha memutus tali kekeluargaan.

Abu Lahab mempunyai beberapa anak, diantaranya ‘Utbah dan ‘Utaibah. ‘Utbah awalnya menikah dengan Ruqoyyah binti Rosulillah, sedangkan ‘Utaibah menikah dengan Ummu Kultsum binti Rosulillah, ketika Rosullullah ‘alaihis sholatu was salam mulai berdakwah secara terang-terangan, maka Abu Lahab menyuruh kedua anaknya tersebut untuk menceraikan kedua putri Rosul ‘alaihis sholatu was salam, akhirnya mereka berdua menceraikannya.

‘Utbah bin abu Lahab akhirnya masuk Islam di tahun fathu makkah (8 hijriyah), sedangkan saudaranya yaitu ‘Utaibah mendapatkan doa kejelekan dari Nabi ‘alaihis sholatu was salam dikarenakan permusuhannya kepada Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam yang sangat tinggi, beliau berdoa kepada Allah:

اللَّهُمَّ سَلِّطْ عَلَيْهِ كَلْبًا مِنْ كِلَابِكَ

“Ya Allah, kuasakan atasnya anjing di antara anjing-anjing-Mu.” (HR. Baihaqi, al-Hakim)

Akhirnya dia mati diterkam oleh binatang buas ketika perjalanan dagang ke negeri Syam.

(و تب) ini sebagai kabar dan penekanan bahwa kebinasaannya benar-benar terjadi, hal yang serupa pula akan terjadi kepada orang-orang yang menghalangi jalan dakwah yang haq, dan menghalangi manusia dari masuk Islam, dan mengikuti nabi Muhammad ‘alaihis sholatu was salam.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Bersinar Dengan Al-Quran

0

Manusia hidup di dunia ini dengan membawa dua unsur, yaitu: raga dan jiwa. Hidupnya raga dengan makan minum, sehingga raganya mendapatkan asupan nutrisi dari makan dan minumnya, sedangkan asupan jiwa tidak berbentuk benda yang bisa dikonsumsi, melainkan dengan hal-hal yang bersifat ketundukan dan kepatuhan kepada pencipta jiwa tersebut, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS al-Anfal: 24)

Asy-Syekh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah memberikan komentar dalam tafsir ayat:

‏إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Suatu sifat yang senantiasa melekat pada apa yang diserukan oleh Allah dan RosulNya, dan keterangan faidah dan hikmahnya dari seruan tersebut, sungguh kehidupan hati dan jiwa dengan penghambaan kepada Allah dan senantiasa taat kepadaNya juga kepada Rasul-Nya”

Dahulu para salafus sholeh sangat terdampak dari ayat-ayat al-Quran yang mereka baca, terlebih lagi Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam. Beliau hidup dengan al-Quran di tengah-tengah para sahabat, bahkan akhlak beliau adalah al-Quran, sebagaimana yang disifafkan oleh ibunda kaum muslimin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha : كان خلقه القرآن   akhlak beliau (Rosul alaihis sholatu was salam) adalah al-Quran. HR Ahmad

Al-Quran mampu merubah peringai manusia di zaman al-Quran turun atau zaman dekat dengan Nabi ‘alaihis sholatu was salam, kemampuan untuk mengubah keadaan manusia itu tidak akan hilang sampai al-Quran itu diangkat kembali oleh Allah ta’ala, bagi mereka yang benar-benar membacanya tidak sekedar membaca dengan lisan tetapi juga dengan mentadabburinya, yang meniti petunjuk yang ada didalamnya, berjalan di atas jalannya, pasti kebaikan umat ini akan langgeng sampai akhir zaman kelak, Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda:

مثل أمتي مثل المطر لا يدرى أوله خير أم آخره

“Perumpamaan umatku ibarat hujan yang tak diketahui apakah permulaannya yang baik ataukah akhirnya” (HR. Tirmidzi)

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab majmu’ fatawa dalam keterangan makna hadits: bahwa pada akhir dari umat ini ada orang-orang yang mirip dengan orang-orang terdahulu (para salaf) dan mendekati mereka sampai (karena saking miripnya) dia hampir tidak bisa melihat (menentukan) apakah ini lebih baik atau yang ini ?! Padahal kedua-duanya baik. Ini suatu kabar gembira bagi orang-orang yang mutaakhir (akhir zaman) bahwa diantara mereka ada yang sangat mirip dengan para salaf dahulu.

Berikut beberapa cerita seseorang yang berubah karena terdampak dari ayat-ayat al-Quran:

Ada seorang wanita muslimah yang berubah kehidupannya dengan sebab satu ayat yang beliau baca berulang kali, beliau bercerita: suatu hari saya baca ayat, sungguh seakan-akan ayat ini baru pertama kalinya saya baca, saya sungguh berhenti di ayat ini dan memikirkannya dalam waktu yang lama sampai tak terasa air mataku mengalir dengan deras, hal itu menumbuhkan dalam diriku yang sangat dalam untuk mengubah diriku sendiri dan umat ini walupun hanya satu kangkah ke depan, ayat itu seakan-akan berkata kepadaku “berubahlah atau kamu yang akan di ganti”, ayat itu adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Maidah: 54)

Allah memberi karuniaNya kepada yang Dia kehendaki, sungguh saya memohon kepadaNya untuk dijadikan sebagai hamba yang didatangkan bukan yang di ganti, dan dijadikan sebagai hamba yang dipakai untuk taat kepadaNya dan berkhidmah dalam agamaNya bukan hamba yang Allah ganti dengan kaum yang lain.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Melururskan Syubhat Apologet Kristen Bag.1: Islam JOrok Karena Perintah Mencelupkan Lalat

0

Kehidupan yang bersih dan sehat merupakan bagian yang tak terlepas dari keseharian Rasulullah Sahllalohu Alaihi Wasallam. Selain memberikan contoh, beliau juga memberikan perintah kepada umatnya agar menjaga dua hal penting tersebut. Namun bagi sebagian pengkritik islam, islam itu jorok. Kesimpulan ini diambil dari hadis tentang perintah mencelupkan lalat yang hinggap dipermukaan air minum.

Dalam rangka menimbulkan keraguan pada diri seorang muslim, mereka menekankan bahwa hadis itu adalah perintah mutlak. Jika perintah tidak dilaksanakan maka berakibat dosa. Namun jika dilasanakan, lalat membawa banyak bakteri karena hinggap di tempat-tempat yang kotor.

Berikut ini adalah hadis yang sering dijadikan bahan kesimpulan negative tentang islam oleh apologet Kristen:

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu `Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasallam Bersabda: “Jika seekor lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, celupkanlah seluruhnya, lalu buanglah, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawar.” (HR. Bukhari no. 3320)

A. Memahami Hadis

Pertama, Hadis ini berisi bimbingan untuk mencelupkan lalat yang jatuh ke dalam air minum. Alasan secara zahirnya adalah bahwa pada salah satu sayapnya terdapat obat, dan pada sayap lainnya terdapat penyakit. Sehingga dengan pencelupan tersebut timbullah obat bagi penyakit yang ada pada sayap yang lain. (Attaudih Lisyarhil Jami` As-Sahih, 27 : 570)

Kedua, perintah pencelupan bukanlah suatu hal yang wajib dan harus dilakukan. Akan tetapi perintah itu bagian dari bimbingan Rasulullah. Beliau membimbing dengan memberikan  solusi bahwa penyakit yang dibawa lalat bisa dihilangkan dengan mencelupkan sayap lalat tersebut. (Fathul Bari, 10 : 250)

Ketiga, apabila hal ini merupakan bimbingan dan bukan perintah yang hukumnya wajib, maka seorang muslim boleh memilih cara yang bagi dia nyaman untuk dilakukan. Diperbolehkan memilih mencelupkan lalat yang terlanjur jatuh pada minuman kemudian diminum. Atau juga boleh mengganti minuman lain yang belum tercampur lalat.

Keempat, bimbingan dari Rasulullah ini sangat menggemberikan terlebih lagi bagi mereka yang sedang kekurangan air. Seperti zaman dulu yang serba terbatas atau orang yang tinggal di daerah yang sulit mendapat air bersih. Apabila ada lalat jatuh pada minuman mereka, dan minuman tersebut  satu-satunya yang tersisa, maka tidak perlu khawatir untuk meminumnya karena Rasulullah sudah menyampaikan solusinya.

B. Fakta Ilmiah

Pertama,  apa yang disampaikan Rasulullah bukan kehendak beliau pribadi. Tapi bagian dari wahyu yang ilmunya bersumber dari Allah sang pencipta Alam.

     وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ

“Tidaklah yang diucapkannya itu dari keinginannya. Tidak lain itu Adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS An Najm : 3-4)

Ilmu Allah mencakup apa yang sudah diketahui manusia dan yang belum. Oleh karenanya banyak hal yang dahulu belum diketahui manusia tapi sudah disebutkan dalam Alquran maupun hadis dan terbukti sekarang.

              Kedua,  telah diteliti oleh banyak dokter bahwa apabila lalat digosokkan ke bagian yang terkena sengatan lebah dan kalajengking maka dapat memberikan manfaat yang nyata untuk luka tersebut. Tidak hanya itu, bahkan bengkak yang muncul di sekitar mata apabila digosok dengan lalat yang kepalanya sudah dipotong, maka bengkak itu insya Allah bisa sembuh (Zaadul Ma`ad, 4 : 103).

Ini menunjukkan bahwa apa yang dibawa lalat bukan hanya menjadi penawar penyakit yang dibawa lalat, tapi lebih dari itu bahkan bisa menjadi penawar untuk luka akibat  sengatan dan bengkak.

Ketiga,  telah dilakukan penelitian di Jerman pada tahun 1871, seorang ilmuan bernama Brefild dari Universitas Hall menemukan bahwa dalam badan lalat terdapat mikroba-mikroba (bakteri-kuman) yang diberi nama ambazamuski dari golongan antomofterali. Mikroba-mikroba tersebut dapat membunuh kuman-kuman penyakit. Mikroba tersebut terjaga dari bersentuhan dengan tempat mendaratnya lalat di tempat kotor sehingga dapat digunakan untuk penawar kuman penyakit (Isnayanti, 2025).

Keempat, terdapat uji coba oleh tim Departemen Mikrobiologi Medis, Fakultas Sains, Universitas Qashim. Mereka menggunakan beberapa spesies lalat dan menggunakan dua sempel air. Cawan satu terdapat air yang dicelupkan lalat dengan menenggelamkan tubuh secara sempurna. Adapun cawan kedua hanya salah satu sayapnya saja yang dicelupkan tanpa membenamkan semuanya.

Hasilnya, cawan kedua ditumbuhi oleh koloni bakteri Patogen tipe E.Coli yang menjadi sebab timbulnya banyak penyakit seperti diare. Adapaun cawan 1, pada mulanya terdapat koloni kecil tipe E.Coli, namun pertumbuhannya terhambat oleh mikro organisme yang disebut Actinomyces yang dapat memproduksi antibiotik. Inilah yang menjadi sebab terhambatnya perkembangan bakteri negative (Ulya Fiktriyati, 2019).

C. Mengembalikan Argumen dengan Fakta Bible

Dalam bible terdapat perintah yang mengaitkan dengan sesuatu diluar kebiasaan manusia yang sehat dan bersih. Diantaranya adalah:

Pertama, Ritual Minum “Darah Tuhan”

Yohanes 6:53 : Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging  anak manusia  dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.”

Yohanes 6:54: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.”

Yohanes 6:55: “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.”

Kedua, Perintah Memasak Makanan di Atas Kotoran

                                 Yehezkiel 4:12: “Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau    harus membakarnya di atas kotoran u  manusia yang sudah kering di hadapan mereka.”

D. Kesimpulan

1. Syari`at islam mengkonfirmasi bahwa pada lalat terdapat penyakit dan hal ini dibuktikan oleh penelitian. Sehingga umat islam dapat berhati-hati ketika ada lalat yang berterbangan disekitar makanan dan minuman. Sedangkan bible hanya menyebutkan objek yang kotor tanpa mengkonfirmasi bahwa objek tersebut terdapat bakteri dan penyakit.

2. Syari`at islam memberikan solusi ketika kondisi diluar kendali menusia seperti jatuhnya lalat pada minuman. Yang mana umumnya manusia tidak ingin minumannya dihinggapi lalat. Tapi karena di luar kendali mereka, sehingga diperlukan solusi atas kondisi tersebut. Sedangkan bible hanya memerintahkan untuk bertindak kotor.

3. Adanya obat penawar dalam hadis telah terbukti secara penelitian setelah 1000 tahun lebih sejak hadis tersebut diucapkan nabi. Ini menunjukkan mukjizat Nabi Shallallohu Alaihi Wasallam.

4. Perintah yang hukumnya wajib dijalankan berkaitan dengan objek yang dinaggap jorok, bukan terdapat pada hadis pencelupan lalat. Karena hadis pencelupan lalat bersifat Tindakan opsional. Tapi perintah yang terdapat penekanan justru terdapat pada bible untuk meminum darah karena didalamnya terdapat unsur ancaman “kamu tida mempunyai hidup dalam dirimu.”

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

13 Santri Menjadi Paskibra dalam Upacara Kemerdekaan RI Ke-80 di Kapanewon Sanden, Bantul

0

Sanden – Sebanyak tiga belas santri Madrasah Aliyah (MA) Hamalatul Quran meraih kehormatan sebagai bagian dari Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 yang digelar di Lapangan Gadingharjo, Kapanewon Sanden, pada Ahad (17/8/2025).

Para santri tersebut berhasil menjalankan amanah dengan penuh kedisiplinan dan kekompakan, mulai dari prosesi pengibaran Sang Merah Putih pada pagi hari hingga penurunan bendera sore harinya. Penampilan mereka mendapat apresiasi dari berbagai pihak, baik dari jajaran Forkopimkap Sanden, para tamu undangan, maupun masyarakat yang hadir.

Kepala MA Hamalatul Quran, Ustadz Zusuf Affandi, menyampaikan rasa bangganya atas prestasi dan kepercayaan yang diberikan kepada para santri.

“Alhamdulillah, ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi madrasah. Santri kita tidak hanya berprestasi di bidang akademik dan tahfidz Al-Qur’an, tetapi juga mampu menunjukkan disiplin, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan melalui paskibra,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pengalaman ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi para santri dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, dan cinta tanah air.

Dengan suksesnya pelaksanaan tugas tersebut, MA Hamalatul Quran semakin mengukuhkan diri sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya fokus pada pembinaan ilmu agama dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mendorong santri untuk aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan kebangsaan. (redaksihq/hamalatulquran.com)

donatur-tetap

Koreksi Keimanan

0

Apa yang menggerakkan kita melangkahkan kaki kita ke masjid?.

Apa yang menjadi motivasi kita untuk berbagi?.

Apa alasan kita untuk menahan lapar dan dahaga?.

Apa motif kita berangkat ke kota mekkah dan madinah yang jauh disana?.

Jawabanya adalah IMAN terhadap apa yang telah Allah subhanahu wata’aala janjikan.

Ibnul Qayyim Al jauzy rahimahullah berkata :

ليس الشأن أن تحِب ولكن الشأن أن تُحَب

“Perkaranya bukanlah bagaimanaengkau mengaku mencintai Allah, akan tetapi perkaranya apakah engkau dicintai oleh Allah.” (Rawdhatul Muhibbin Wa Nuzhatul Musytaqin 266)

Sama halnya dengan keimanan, perkarnya bukan kita mengaku beriman, akan tetapi apakah iman kita diakui oleh Allah subhanhu wata’aala.

Terdapat sebuah kisah yang menunujukan pengakuan Allah terhadap keimanan seseorang,

“Kala itu Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam Bersama 1400-1500 sahabat pergi ke Mekkah dari Madinah dengan tujuan beribadah umroh, pada saat itu kota Mekkah masih dikuasai oleh orang musyrik, Ternyata ada sekelompok orang yang menghadang Nabi dan para sahabat beliau di tempat yang Bernama Hudaibiyyah, maka Rasulullah mengutus ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu ke Mekkah, dengan misi mendapatkan izin untuk melaksanakan ibadah Umrah.

Tatkala Rasul dan para sahabat menunggu kembalinya ‘Utsman,   tersebarlah isu bahwa ‘Utsman terbunuh, Mendengar kabar tersebut Nabi merespon dengan cepat, beliau memutuskan untuk menghadapi kaum musyrikin dan seluruh kemungkinan terburuk, beliau mengumpulkan seluruh sahabat yang berkisar 1400-1500 orang, Rasulullah meminta kepada seluruh sahabat untuk bersumpah setia yang ber isi

على قتال المشركين و أن لا يفرو حتى يموتو” 

Untuk memerangi kaum musyrikin dan jangan lari dari peperangan sampai kalian mati” perlu diketahui bahwa Rasul dan para sahabat berangkat ke Mekkah dengan tujuan Umrah bukan untuk berperang, sehingga Rasul dan para sahabat tidak dibekali dengan senjata alias “tangan kosong”.

Para sahabatpun bersumpah setia untuk memerangi kaum musyrikin, lalu turunlah ayat

  لقد رضي الله عن المؤمنين إذ يبايعونك تحت الشجرة فعلم ما في قلوبهم فأنزل السكينة عليهم وأثابهم فتحا قريبا

“Sungguh Allah telah meridai orang-orang mukmin Ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahuiapa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenang atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,” [QS. Al-Fath : 18]

Allah mengakui keimanan mereka dengan turunnya ayat, dan Allah mengetahui isi dalam hati para sahabat yang bersumph setia, dan Allah menurunkan ketenangan kepada para sahabat denagan selamatnya ‘Utsman bin ‘Affan, dan Allah berikan kabar gembira kepada mereka dengan fathu Makkah yang sudah dekat.

Lalu Bagai mana dengan keimanan kita, tidak akan ada lagi ayat yang turun untuk mengakui keimanan kita, akan tetapi Allah memberikan tanda-tanda keimanan dalam Al-Quran

“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal” “Yaitu orng-orang yang melaksanakan shalat dan menginfakkan Sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka” “Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi tuhannyadan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia” [QS. Al-Anfal : 2-4].

Maka keimanan seseorang bisa di ketahui dengan beberapa hal diantaranya :

  1. Mendengarkan lantunan ayat Al-quran, apa yang ada dalm benak hati kita Ketika kita mendengarkan ayat, apakah kita menjadi semakin yakin dengan Agama islam, ataukah melemahkan keyakinan kita.
  2. Dengan shalat yang kita kerjakan, apakah shalat kita menambah keyakinan kita terhadap janji Allah di dalam Al-Qur’an dan hadits nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.
  3. Dengan berinfaq, apakah kita yakin dengan janji Allah bahwa Allah akan mengganti infaq kita dengan berlipat ganda, dan seterusnya.

Sejatinya setiap Amal ibadah yang kita lakukan bisa menjadi tolak ukur keimanan kita, maka koreksilah keimananmu, dan jadilah orang beriman yang sejati dan jangan kita berpaling dari kebenaran yang telah Allah wahyukan dalam Al-Quran dan Hadits nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

donatur-tetap