Home Artikel Membangun Keluarga Sakinah Bag.2: Mencari Harta yang Berkah

Membangun Keluarga Sakinah Bag.2: Mencari Harta yang Berkah

474
0
campaign psb PPHQ 26-27

Harta membuat seorang harus berurusan dengan berbagai lika liku dalam proses mendapatkannya. Apabila menjalani proses sambil memikirkan dampak baik dan buruk, maka dia selangkah lebih dekat dalam menghadirkan harta yang berkah.  Sebaliknya, ketidak pedulian dengan dampak baik dan buruk dari proses mencari harta sama saja dengan mengabaikan keberkahan harta.

Seorang muslim yang peduli dengan kebaikan keluarganya hendaknya menjadi  sosok yang dapat menghadirkan harta yang berkah. Karena harta yang berkah dapat memberikan dampak baik untuk keluarganya.

A. Hakekat Harta Berkah

Imam An-Nawawi mengaitkan berkah dengan kebaikan:

وَأَصْلُ الْبَرَكَةِ ثُبُوتُ الْخَيْرِ وَكَثْرَتُهُ

“Hakekat berkah adalah menetapnya kebaikan dan bertambah banyak (kebaikannya).” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3 : 194)

donatur-tetap

Harta yang berkah merupakan harta yang dapat memberikan kebaikan baik bagi pemiliknya ataupun orang lain. Sedikit ataupun banyak jumlah harta tersebut maka tetap membawa kebaikan. Bahkan yang sedikit tapi berkah bisa jadi lebih bermanfaat dari jumlah yang banyak tapi tidak berkah.

Harta yang mebawa kebaikan ini tentu dihasilkan dari proses yang disertai taqwa. Apabila cara memperolehnya dengan kehati-haian, menghindari kedzoliman, riba dan segala bentuk keharaman, maka harta itu diberkahi. Karena yang berhak menentukan keberkahan suatu dzat hanya Allah Subhanahu Wata`ala. Dan Allah tidak memberikan keberkahan pada sesuatu kecuali kepada orang-orang yang bertaqwa:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ

“Seandainya penduduk negri itu beriman dan bertaqwa, niscaya akan kami bukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.” (QS Al-A`raf: 96)

B. Sumber Harta yang Diberkahi

  1. Harta yang Halal

Apabila Allah menurunkan keberkahan kepada orang-orang yang bertaqwa, maka harta yang diberkahi pasti harta yang halal. Karena orang yang bertaqwa dalam masalah harta akan memastikan halalnya harta. Bahkan bukan hanya menjauhkan diri dari yang jelas keharamannya, tapi juga dari perkara yang syubhat (samar-samar).

  1. Perbanyak Do`a Keberkahan

Memohon kepada Allah agar diberikan harta banyak tidak ada larangan, bahkan doa agar banyak harta ini pernah dipanjatkan oleh Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasallam untuk anas. Akan tetapi beliau tidak meminta banyaknya harta kecuali menyelipkan permintaan berkah untuk harta tersebut.

                                   اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah perbanyaklah    hartanya, anaknya dan berikanlah keberkahan pada   apa yang engkau berikan kepadanya.” (HR Bukhori no. 6334)

Doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah untuk anas ini dikabulkan oleh Allah. Anas berumur panjang, memiliki harta melimpah dan ana yang banyak.

C. Dampak Harta yang Tidak diberkahi Terhadap Keluarga.

Berikut ini merupakan dampak buruk dari harta yang tidak diberkahi terhadap keluarga:

  1. Mengundang Murka Allah

Diantara bentuk murka Allah di dunia adalah dengan cara dilenyapkannya harta tersebut:

يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS Al-Baqarah : 276)

Allah melenyapkan harta dengan banyak cara, diantaranya dengan diberikan berbagai macam musibah kepada keluarga yang mendapat harta tersebut sehingga membuat harta yang tidak berkah itu tidak bisa dinikmati. (Tafsir As-Sa`di, hlm.109)

Kejadian yang terlihat di mata manusia bahwa sakit, bencana dan lain sebagainya sering dianggap sekedar musibah biasa. Padahal musibah-musibah tersebut bisa jadi bagian dari murka Allah yang menjadi peringatan bagi para pencari harta haram. Maka agar tidak mengundang murka Allah, perlu segera membersihkan harta tersebut agar keluarga tidak dibebani dengan musibah-musibah yang memberatkan.

  1. Adab Anak Semakin Memburuk

Harta haram banyak didapatkan dengan cara mendzolimi orang lain. Mengambil hak orang lain bisa dengan cara mencuri, korupsi, menipu dan lain sebagainya. Ketika ada hak orang lain yang diambil, maka berbagai cara dilakukan agar perilakunya tidak diketahui. Waktu dihabiskan dengan kesibukannya melakukan penghapusan jejek kedzolimannya. Setelah tiba di rumah pun, bukan hati tenang yang didapatkan tapi rasa kawatir yang bisa saja terus menerus muncul.

Orang tua yang hadir di rumah perlu membawa ketengan hati. Hati yang tenang tidak mudah emosi ketika ada faktor pemicu. Sebaliknya, hati yang serba kawatir dan takut jika kedzolimannya terbongkar, mudah meluapkan emosi walaupun  pemicunya hanya kecil. Emosi yang diluapkan bisa berbentuk marah, kata-kata kasar maupun perlakuan brutal. Apabila hal semacam ini menjadi konsumsi sehari-hari bagi anak, maka penanaman perilaku semacam ini mudah membuat anak kehilangan arah dalam beradab.

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

Artikel: HamalatulQuran.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here