Home Blog Page 86

Refleksi Umrah #4 : Menikmati Hidayah

0
@masjid Nabawi di Madinah by : ig_ @hamza doc

Bismillah..

Menikmati Hidayah

Menikmati hidayah, karena memang hidayah adalah nikmat sangat istimewa, yang harus disadari sebagai nikmat dari Allah. Dalam surat Al Fatihah, yang kita baca di setiap raka’at sholat, Allah menyebut orang yang mendapat hidayah itulah orang yang diberi nikmat.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Di ayat selanjutnya, Allah menyatakan orang yg telah mendapat hidayah yang dipinta pada doa ini, sebagai orang-orang yang diberi nikmat.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

(QS. Al-Fatihah, 6 – 7)

Mendapatkan kelapangan rizki, lalu mendapat hidayah Allah utk mempergunakan rizki itu berkunjung ke Baitullah, adalah nikmat di atas nikmat.
Tak banyak orang yang seberuntung ini. Orang yang diberi kelapangan rizki, banyak!

Namun tak semua mendapatkan nikmat utk terbetik rindu beribadah di kota Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan di Makkah Al Mukaromah; tempat yang paling Allah cintai di muka bumi.

Berkelana ke berbagai negeri menikmati keindahan pemandangan dan tempat rekreasi indah di sana, sudah…

Padahal tak ada yang mengundangnya ke sana. Bisa dibayangkan kalau yang mengundang  presiden Rusia utk menikmati wisata-wisata di negeri beruang itu, sebagai tamu kehormatan, atau presiden Amerika misalnya, dia diundang sebagai tamu kehormatan, ia akan persiapkan kepergiannya ke sana matang-matang. Bila perlu agenda-agenda penting atau mendesak sekalipun ditunda dulu. Karena ini moment istimewa dan langka. Bisa menjadi sejarah istimewa dalam hidupnya.

Tapi, ke Baitullah belum terbesit kerinduan untuk bersimpuh sujud di sana. Padahal, yang mengundang adalah, raja seluruh raja, raja semesta alam : Allah yang maha mulia.

Karena memang para jama’ah umrah adalah tamu Allah. Mereka datang ke tanah suci membawa predikat tamu istimewanya Allah.

Kita semua ingat apa yang kita ucapkan saat di miqot Dzulhulaifah (Bir Ali) dulu ?!

Labbaikallahumma umrotan..

(Arti : Ya Allah aku penuhi panggilan umrah Mu)

Kita sedang memenuhi undangan Tuhan semesta alam, raja langit dan bumi beserta isinya..!

Saat berjalan menuju Makkah, apa yang kita ucapkan??

Bertalbiyah..

Sambil bernostalgia  suasana hijrahnya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, melewati Padang pasir yang panas dan tandus itu..

Labbaikallahumma labbaik, labbaikalaa syariikala labbaik, innal hamda, wan ni’mata laka wal mulk, Laa syariikalak.

(Ya Allah, aku penuhi panggilan Mu, aku penuhi panggilan Tuhan yang tidak memiliki sekutu, sungguh segala pujian nikmat, kerajaan semesta adalah milik Mu, tak ada sekutu bagiMu).

Lebih tegas lagi, dalam sabdanya yang mulia, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyebut para jama’ah umrah adalah tamu Allah.

الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، يُعْطِيهِمْ مَا سَأَلُوا، وَيَسْتَجِيبُ لَهُمْ مَا دَعَوْا، وَيُخْلِفُ عَلَيْهِمْ مَا أَنْفَقُوا الدِّرْهَمَ أَلْفَ أَلْف

Para jama’ah haji ataupun umrah, adalah Tamu Allah. Allah pasti akan memberikan apapun yang mereka minta, mengabulkan apapun doa-doa mereka, dan mengganti apapun yang dibelanjakan mereka; satu dirham diganti dengan satu juta dirham.

(HR. Baihaqi, dalam kitabnya Syu’abul Iman).

Alangkah meruginya jika hidup di dunia yang sekali dan sebentar ini, tak sempet menikmati kesyahduan ibadah di samping Ka’bah, di Masjidil Harom, di roudoh, di masjid Nabawi.

Belum pernah merasakan nikmatnya menangis menyesali dosa dan mengagumi Rahmad kasih sayang Allah di sana.. sungguh sangat rugi.

Maka, bersyukurlah saat Allah telah panggil kita sebagai tamu istimewanya, dan Allah telah beri hidayah untuk memenuhi panggilanNya. Bersyukur dan bahagialah atas nikmat hidayah yang Allah berikan ini..

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Yunus 58)

Semoga dengan syukur ini, Allah tambahkan nikmat. Sehingga kita dapat kembali bersua dengan kota Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan kota yang mulia Makkah Al Mukaromah.

***

Ditulis oleh : Ahmad Anshori

(Pembimbing Nur Ramadhan Wisata Umrah dan Haji Khusus)

Jogjakarta Tercinta, 11 November 2018

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Yuk Hijrah…

0
Source: unsplash

Bismillah..

Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, maka ketika kita tidak mengenal suatu hal dengan baik dan benar maka bisa jadi kita salah memaknai dan memahami suatu hal tersebut, maka pada tulisan ini mari kita bedah sedikit tentang hakekat hijrah. sehingga kita tahu apa itu hijrah ? bagaimana tahapan-tahapan hijrah yang baik dan benar ?
Hijrah menurut bahasa arab artinya adalah “meninggalkan” sedangkan menurut syariat hijrah adalah meninggalkan apa yang Allah benci dan berpaling menuju apa-apa yang Allah cintai dan ridhai.
Perintah hijrah dalam Al Quran dijelaskan dalam beberapa ayat, diantaranya :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 218)
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal : 74)
Syikh Shalih bin Abdillah Al Ushoimi ketika mensyarah kitab Ushul At Tsalatsah beliau berkata,
“Hijrah itu terbagi menjadi tiga, pertama hijrah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk, kedua hijrah meninggalkan negeri yang buruk, ketiga hijrah meninggalkan teman yang buruk.”

Pertama, Hijrah Meninggalkan Perbuatan Buruk.

 

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
المُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللّٰه عَنْهُ
“Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang Allah larang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan meninggalkan apa-apa yang Allah larang dalah meninggalkan segala bentuk dan macam keburukan, baik itu berupa kekufuran, kefasikan, kemaksiatan atau mengikuti hawa nafsu.
Meninggalkan maksiat yang sudah menjadi kebiasaan seseorang Itu pada awalnya akan sangat berat.
Pasti akan timbul rasa rindu ingin kembali melakukan kemaksiatan tersebut, dikarenakan hati sudah menganggap bahwa itulah kebahagiaannya, padahal hakikatnya kebahagiaan tersebut hanyalah kebahagiaan yang semu.
Namun, apabila seseorang terus berusaha untuk meninggalkannya, melawan rasa rindu tersebut meski ia harus jatuh bangun dalam proses hijrahnya, suatu ketika ia terjatuh lagi dalam kemaksiatan tersebut, ia menyesal, kemudian ia mencoba lagi,
Bukan malah berputus asa seraya berkata:
“Sepertinya aku gak bisa meninggalkan kebiasaan ini”.
Akhirnya ia pun kembali melakukan kemaksiatan tersebut.
Disitulah sebetulnya Allah uji kejujuran hati seseorang. Apakah dia betul-betul serius ingin hijrah kepada Allah, atau tidak ?
Memang pada awalnya susah, berat, tapi yakinlah, keistiqomahan dan kejujuran hatimu itulah yang akan menguatkan langkah hijrahmu.
Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithy mengatakan:
.ماتاب عبد لله إﻻ وامتحن الله صدق توبته بتسهيل السبيل للذنب الذي تاب منه .
“Tidaklah seorang hamba bertaubat kepada Allah Azza wa jalla, melainkan Allah Azza akan kembali menguji kejujuran taubatnya dengan memudahkan jalan baginya menuju dosa yang pernah dia lakukan sebelumnya.”

Kedua, Hijrah Meninggalkan Negeri yang Buruk.

Hijrah dari negeri yang buruk ini sangatlah ditekankan oleh syariat yakni hijrah dari negeri yang penuh kemusyrikan menuju negeri islam, namun hal ini hukumnya menjadi wajib dengan 2 syarat :
1. Mampu untuk hijrah.
2. Karena dia tidak bisa bebas mensyiarkan agama islam di negeri tersebut.
Dan bila mana kedua syarat diatas tidak terpenuhi maka hijrah tidak wajib seseoran tersebut.

Ketiga, Hijrah Meninggalkan Teman yang Buruk.

 

Dalam proses hijrah terkadang kita harus rela mencoret satu persatu orang-orang yang memberikan pengaruh negatif dalam hidup kita dan pastikan bahwa diri kita dikelilingi oleh orang-orang yang berdampak positif dalam hijrah kita.
Pepatah arab mengatakan :
الصَاحِبُ سَاحِبُ
“Teman itu menarik”
Teman yang baik akan menarik dan mengajak kepada hal-hal yang baik sedangkan teman yang buruk cepat atau lambat pun akan menarik kepada hal-hal yang buruk.
Maka saat kita ingin hijrah kita harus siap untuk meninggalkan teman-teman yang buruk atau yang memberi dampak negatif tersebut, sehingga kedepannya dia tidak dapat menarik kita menuju hal-hal yang dilarang oleh Allah ta’ala.
Setelah itu carilah teman-teman yang shalih yang senantiasa menguatkanmu serta yang siap merangkul dan menggenggam tanganmu tuk berjalan bersama diatas jalan hijrah bersama-sama.
wallahu a’lam
_________
*Terjemah bebas Ta’liqoot ‘Ala Tsalatsah Ushul wa Adillatiha syeikh Sholeh bin Abdillah Al ‘Ushoimi hafidzahullah, dengan beberapa tambahan seperlunya.
***
Ditulis : Muhammad Fatwa Hamidan
Hamalatulquran.com
donatur-tetap

Refleksi Umrah #3 : Semuanya Sama…

0
Source : unsplash
Bismillah…
Semuanya Sama…

Islam adalah agama yang paling adil dalam memandang martabat manusia. Satu ukuran yang dijadikan ukuran kemuliaan, yang satu ini dapat diupayakan oleh siapapun, dimanapun, tanpa terbatasi ras, suku, warna kulit, status sosial dan bangsa.

Yaitu : ketakwaan hati..

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

(QS. Al-Hujurat :13)

Abu Nadhrah menceritakan isi khutbah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam saat beliau khutbah di haji wada’, di hari-hari tasrik, beliau mengatakan,

” يا أيها الناس، إن ربكم واحد وأباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على عجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا أسود على أحمر، ولا أحمر على أسود إلا بالتقوى، أبلغت؟

“Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (Nabi Adam).
Ingatlah… Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan.

Tidakkah aku sudah menyampaikan?”

“Iya,” sahut para sahabat, ” benar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan.”

Saat kita menjalani ibadah umrah kemarin, sangat terasa makna ini. Semua terasa sama, berpakaian ihram yang sama, dua helai kain yang membalut tubuh, bertowaf di tempat yang sama, sa’i pun demikian. Tanpa terbedakan, mana pemimpin mana rakyat, mana atasan mana karyawan, mana orang kaya mana yang miskin mana konglomerat mana orang pinggiran…

Semuanya sama, semua adalah hamba di hadapan Allah.

Kita disatukan pada satu tempat yang sama, dengan kondisi yang sama, dengan hamba-hamba Allah lainnya dari berbagai belahan dunia, yang disatukan oleh iman dan takwa…

Allah memandang hati kita, seberapa indahkah terhiasi oleh ketakwaan. Bukan indah rupa, paras tubuh atau kekayaan kita.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian, kata Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. ” Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim)

Semoga kita menjadi HambaNya yang bertakwa itu..

Aamiin…

***

Malam, lepas hujan mengguyur Jogja tercinta, 9 November 2018

Oleh : Ahmad Anshori

(Pembimbing Nur Ramadhan Wisata Tours Haji & Umrah)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Hafal Al-Qur’an Sejak Usia Dini

0
Sumber: wiemasen.com

Bismillah..

Imam Syafi’I –Rahimahullah- diserahkan oleh ibunya untuk menghafal al-Qur’an pada usia 4 tahun, dan hafal al-Qur’an di usia 7 tahun.

Imam Nawawi –Rahimahullah- diantar oleh ayahnya ke Maktab Rawahiyah untuk menghafal al-Qur’an pada usia 9 tahun, dan hafal al-Qur’an sebelum balighnya.

Ibnu Hajar al-‘Atsqalani disekolahkan ke Maktab untuk menghafal al-Qur’an pd usia 5 tahun, dan khatam al-Qur’an pada usia 9 tahun.

Imam Ibnul Jazaariy –Rahimahullah- selesai menghafal al-Qur’an pada usia 13 tahun.

Dan masih banyak lagi para ulama kita dari kalangan shalafus shalih yang membuka perjalanan ilmu mereka dengan menghafal al-Qur’an sejak usia dini dan mengkhatamkannya sebelum masuk usia baligh.

Mengapa?

Karena orang tua para Shalafus Shalih kita sangat faham dan mengerti bagaimana cara mempersiapkan anak-anak mereka menjadi orang-orang besar dizamannya nanti.

Ibarat tanah yang subur, maka tanah tersebut harus dipersiapkan benar-benar agar dapat ditanami dan menghasilkan tanaman yang berkualitas.

Mendidik anak-anak kita untuk mampu menghafal al-Qur’an diusia dini adalah sebuah persiapan yang sangat baik sebelum mereka mempelajari ilmu-ilmu lainnya.

Bahkan para ulama kita terdahulu, tidak menyukai seseorang yang ingin belajar ‘Uluum syar’i, tetapi belum menyelesaikan hafalan al-Qur’an.

Diriwayatkan, Imam al-Auza’i –Rahimahullah- pernah didatangi oleh seseorang yang ingin belajar fiqih kepadanya. Maka beliau menanyakan terlebih dahulu tentang hafalan al-Qur’an yg dimiliki oleh orang tersebut. Imam Auza’I pun menyuruhnya membacakan surah An-Nisaa ayat ke 11.

ﻳﻮﺻﻴﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻭﻟﺪﻛﻢ …

Orang tersebut tidak mampu melanjutkan ayat tersebut, lalu Imam Auza’i pun menyuruhnya kembali untuk menyelesaikan hafalan al-Qur’an terlebih dahulu.

(Lihat : Kaifa Tahfadzul Qur’an, yahya bin Abdurrazaq al-Ghautsani, hal. 25)

Subhaanallaah, semoga Allah memberikan kita Taufik-Nya untuk mengikuti jejak para Shalafus Shalih dalam mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak kita.

Wallahu Ta’alaa A’lam..

***

Ditulis oleh : Syauqi Ahmad Labib

(Alumni PP Hamalatul Quran Yogyakarta, yang saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Qur’an, Universitas Islam Madinah)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Refleksi Umrah #2 : Sahabat yang Baik

0
Ilustrasi : Payung-payung masjid Nabawi di Madinah An Nabawiyah.

Bismillah..

Diantara nikmat yang kita dapatkan dari perjalanan umrah, adalah dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang baik. Umrah sendiri sudah nikmat, apalagi ditambah dapat sahabat-sahabat yang baik.

Mereka adalah sahabat yang membantu kita dalam takwa. Sahabat yang bersama menggandeng tangan kita menuju surga Allah.

Nanti malam ke roudoh yuk..” 

“Besuk pagi kita sholat duha di masjid Nabawi yuk.”

“Ayo banguun kita tahajud di Masjidil Harom…”

“Towaf sunah lagi ayoo…”

“Malam ini biar bisa sholat deket Ka’bah, kita bangun mruput ya.. pasang alarm.”

Sahabat-sahabat seperjuangan berjalan dalam takwa. Kenangan manis saat di tanah suci, begitu indah dikenang. Berjalan bersama menuju roudoh, ziarah ke makam Rasul dan pada sahabat, bersama towaf mengelilingi baitullah dan sa’i. Bersama tadarus Alquran di Masjidil haram..

Memandang mereka saja, muncul semangat ibadah.

Tak berlebihan bila Nabi shalallahu’alaihi wa sallam menyebutnya,

أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض في الله

“ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ahmad)

Pengaruh Baik

Pengaruh baik kita dapatkan.

Mau tak mau, sadar tidak sadar, kita akan terbawa arus baik, dari sahabat yang baik. Demikian pula sahabat yang buruk, sadar tidak sadar, enggan tidak enggan pasti kita  mendapatkan pengaruh buruknya.

Nabi permisalkan sahabat itu seperti penjual minyak wangi.. Bersahabat dg penjual minyak wangi, sadar tdk sadar akan mndpt wewangian minyak wangi.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berpesan,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.

Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.

Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”

(HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Syafa’at

Bahkan, tak hanya bahagia dunia yang kita dapatkan. Sampai di akhiratpun, ketulusan persahabatan ini akan kita rasakan, di saat kondisi genting di hari kiamat nanti..

Mereka dapat memberi kita Syafa’at.

Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat jenis ini di hari kiamat,

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم..

Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat.

Mereka memohon, ” Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji…”

Dijawab, ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.”

  (HR. Muslim)

Rupanya kenangan indah persahabatan karena Allah, akan terkenang sampai ke akhirat kelak.

Tak berlebihan jika Imam Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berpesan kepada sahabat-sahabat beliau,

إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan, “Ya Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.”

Kemudian beliau menangis….

Hasan Al- Bashri menasehatkan,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafa’at pada hari klamat.”

***

Senja gerimis di Jogja Tercinta, 8 November 2018

Oleh : Ahmad Anshori

(Pembimbing biro haji dan umrah Nur Ramadhan Wisata)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Refleksi Umrah #1 : Membiasakan Lisan Berdzikir

0
Ilustrasi: Masjid Nabawi di Madinah
Bismillah…
Umrah ibaratnya seperti madrasah. Saat seorang pulang dari umrah seakan dia telah lulus dari madrasah iman, pulang membawa iman, takwa dan ilmu yang siap diamalkan. Diantaranya :

Membiasakan Lisan Berdzikir

Tak akan bergeser kaki seorang hamba di hari kiamat nanti, sampai ditanya diantaranya tentang, umurnya untuk apa dia habiskan. Banyak kita dapati waktu-waktu nganggur di kehidupan kita, yang sebenarnya berpotensi menghasilkan banyak pahala, dengan amalan yang ringan, yaitu berdzikir.
Saat macet di lampu merah, di jalan tol, ngantri di sbpu, puskesmas, rumah sakit, joging atau bahkan sambil nyuci piring dll, kita bertakbir, bertahmid atau istighfar, sangat ringan dan menjadikan aktivitas kita lebih khidmat dan barokah insyaallah.
Saat kita berada di tanah suci, kita sudah rasakan ternyata bisa beraktivitas sambil berzikir. Saat safar ke Makkah, sambil di jalan kita bertalbiyah.
Saat towaf berputar mengelilingi Ka’bah, kita isi dengan tahlil, istighfar, shalawat dll. Demikian juga Saat sa’i kita baca quran, berdzikir dan doa-doa.
Amalan-amalan ini sebenarnya menanamkan pembiasaan kepada kita, utk senantiasa membasahi lisan dengan berzikir, pada aktivitas-aktivitas yang kita lakukan.

Apa manfaat memperbanyak dzikir?

 

Pertama, Ketenangan Hati
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Oang-orang yang beriman hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
( Ar-Ra’d : 28)
Kedua, Surga
Allah berfirman,
وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (Al-Jum’ah: 10)
Ketiga, Ampunan
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Dan lelaki serta perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka keampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35
Keempat, Sebaik-baik amal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ألا أنبئكم بخير أعمالكم، وأرضاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم، وخير لكم من إعطاء الذهب والفضة، ومن أن تلقوا عدوكم فتربصوا أعناقهم، ويضربوا أعناقهم؟ قالوا: وما ذاك يا رسول الله؟ قال: ذكر الله
“Mahukah kamu aku beritahu tentang amalan yang paling baik dan paling diredhai di sisi Tuhan kamu, yang paling meninggikan derajat kamu dan lebih baik bagimu daripada bersedekah emas dan perak. Lebih baik daripada kamu bertemu musuh-musuh kamu lalu kamu menebas leher-leher mereka atau mereka menebas leher-leher kamu?
 Mereka berkata, “Apakah itu wahai Rasulullah? ”
Baginda bersabda, “Zikrullah; berdzikir mengingat Allah .”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah, At-Tirmizi, Al-Hakim dan lain-lain)
Kelima, Amalan andalan yang disarankan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Seorang sahabat bertanya,
“Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam sangat banyak untuk aku lakukan. Beritahu aku sebuah amalan yang boleh aku pegang teguh.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:
لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله
“Hendaklah lisanmu selalu basah oleh zikir mengingat Allah.”
(HR. Ibnu Abi Syaibah, Tirmizi dan lain-lain)
Dan masih banyak lagi…
Semoga bermanfaat..
***
Ditulis oleh : Ahmad Anshori, Lc
donatur-tetap

Pertahankan IPK Tinggi, Alumni Hamalatul Quran Raih Penghargaan Dekan Fakultas Al Quran UIM

0

HAMALATULQURAN.COM — Madinah, Salah satu alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta kembali torehkan prestasi. Adalah Afit Iqwanudin alumni Pesantren Hamalatul Quran tahun 2010 ini berhasil mendapatkan penghargaan IP terbaik dengan indeks prestasi sempurna 5.00 tahun ajaran 1440 H di Fakultas Al Quran Universitas Islam Madinah.

Ust Afit Iqwanuddin saat menerima penghargaan dari dekan Fakultas Quran, Universitas Islam Madinah KSA.

Pemberian penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Dekan Fakultas Alquran Universitas Islam Madinah Syaikh Ahmad As Sudais, pada Senin 1 Oktober 2018 di auditorium Fakultas Al quran Universitas Islam Madinah.

Dalam sambutannya Syaikh Ahmad As sudais menyatakan bangga dengan mahasiswa yang nilainya tinggi.

“Kami sangat bangga dengan mahasiswa yang nilainya tinggi. Dan hendaknya untuk terus belajar yang tekun serta terus hadir dalam perkuliahan”, ujarnya.

Afit berharap bisa terus mempertahankan prestasi ini dan bisa diterima di jenjang magister “iya, semoga bisa mempertahankan nilai yang sekarang didapat dan selanjutnya bisa melanjutkan ke jenjang S2”, ungkap alumni asal Cilacap ini.

Kami mewakili redaksi dan staf Pondok Pesantren Hamalatul Quran mengucapkan selamat kepada Afit Iqwanudin atas prestasinya, semoga ilmu yg didapatkan mendapatkan keberkahan Allah subhanahuwata’ala dan bermanfaat untuk kaum muslimin.

(zusufaff/hamalatulquran.com)

donatur-tetap

Pembagian Tauhid; Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ was Sifat

0

Setelah pada atikel sebelumnya kami mengulas tentang keutamaan tauhid, dalam tulisan ini kita akan belajar lebih dalam mengenai makna tauhid, pengertian tauhid beserta dalil-dalil tauhid.

Allah ta’ala menciptakan segala yang ada tidak dengan sia-sia tiada hikmah di balik itu, tidak juga untuk berleha-leha tanpa ada tujuan hidup, tidak juga di biarkan begitu saja tanpa ada peraturan, tetapi Allah menciptakan semua makhluk ada hikmah di balik itu, terutama penciptaan jin dan manusia yang Allah lengkapi dengan akal dan pikiran.

{أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ} [المؤمنون : 115]
Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?!

Syekh as sa’di – رحمه الله – berkata dalam tafsirnya :
عبثا أي: سدى وباطلا، تأكلون وتشربون وتمرحون، وتتمتعون بلذات الدنيا، ونترككم لا نأمركم، و[لا] ننهاكم ولا نثيبكم، ولا نعاقبكم؟
‘abast (sia-sia) : percuma tidak ada manfaat dan batil, makan minum, gembira ria, bersenang-senang dengan dunia, Kami tinggalkan saja tanpa perintah, larangan, dan tidak mengganjar serta tidak menghukum kalian..?!

Sekali-kali tidak demikian kehidupan ini, Allah berfirman di dalam banyak ayat yang tersirat bahwa mentauhidkan Allah lah tujuan hidup
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} [الذاريات : 56]
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Ibnu abbas – رضي الله عنهما- berkata :
“كل عبادة في القرآن فهو التوحيد”
“Setiap kata-kata ibadah di dalam alquran bermakna tauhid”

Pembagian Tauhid

Tauhid, apa yang anda ketahui tentang tauhid.. ?

Tauhid adalah pengesaan diri hamba akan keesaan Allah dalam tiga hal :

1- Tauhid rububiyah.

Yaitu seorang hamba mengesakan Allah di dalam perbuatanNya. Dia maha menciptakan, mematikan, pemberi rizki, pengatur jalannya alam ini, yang memberi manfaat mudzhorrot, tidak ada selainNya yang mampu berbuat demikian, ini hak mutlak perbuatan Allah semata. Allah ta’ala menciptakan makhluk di sertai fitroh terhadap tauhid rububiyah ini hingga orang musyrikpun mereka mengakui rububiyah Allah.

Surah 23 Al-Mu’minun, Ayat 84-89

قُلْ لِّمَنِ الۡاَرۡضُ وَمَنۡ فِيۡهَاۤ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ‏ ﴿23:84﴾ سَيَقُوۡلُوۡنَ لِلّٰهِ​ؕ قُلۡ اَفَلَا تَذَكَّرُوۡنَ‏﴿23:85﴾ قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبۡعِ وَرَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيۡمِ‏  ﴿23:86﴾ سَيَقُوۡلُوۡنَ لِلّٰهِ​ؕ قُلۡ اَفَلَا تَتَّقُوۡنَ‏ ﴿23:87﴾ قُلۡ مَنۡۢ بِيَدِهٖ مَلَكُوۡتُ كُلِّ شَىۡءٍ وَّهُوَ يُجِيۡرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ‏ ﴿23:88﴾ سَيَقُوۡلُوۡنَ لِلّٰهِ​ؕ قُلۡ فَاَنّٰى تُسۡحَرُوۡنَ‏ ﴿23:89

 

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Tauhid rububiyah ini tidak ada segolonganpun yang mengingkarinya karena hati sudah di fitrohkan untuk mengakuinya, sebagaimana firman Allah menceritakan perkataan para rosulNya :
{۞ قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ} [ابراهيم : 10]
Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?”

2- tauhid uluhiyah

Seorang hamba mengesakan Allah dengan perbuatan hamba itu yang dia perbuat untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang di syareatkan agama seperti doa, menyembelih, pengharapan, dll
Semua jenis ibadah baik yang lahir maupun yang batin di tujukan hanya kepada Allah semata dan tidak ada sedikitpun di palingkan dariNya. Tauhid uluhiyah ini inti dakwahnya para rosul – عليهم الصلاة والسلام – dari awal rosul hingga penutup para rosul, Allah berfirman :
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} [النحل : 36]
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”
{وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ} [الأنبياء : 25]
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
Sesungguhnya manusia sangat butuh menyembah Allah semata tidak mensekutukanNya, hakikat hamba adalah hati dan ruhnya dan dia tidak bisa menjadi baik kecuali dengan tuhannya, tidak akan merasa tenang melainkan ketika menyebut Robnya, seandainyapun dia mendapat kesenangan dengan selain Robnya maka itu hanya sementara adapun dengan Allah maka akan selama-lamanya di manapun dan kapanpun.
Tauhid ini ketika tidak terwujud di diri hamba maka yang terjadi adalah kesyirikan, dan syirik adalah dosa yang paling besar
{إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان : 13]
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
{وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأنعام : 88]
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Dan tauhid ini menjadi kewajiban pertama kali bagi seorang hamba :
{۞ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ.. } [النساء : 36]
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,..

3- Tauhid asma’ was sifat

Keyakinan seorang hamba akan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sudah tertera di dalam ayat-ayat alquran dan sunnah-sunnah nabi – صلى الله عليه وسلم – dengan keyakinan yang mendalam dan mensucikan dari sifat yang menjadi kekurangan dan kecacatan. Menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana Allah dan RosulNya telah menetapkan tanpa mengurangi sedikitpun
{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأعراف : 180]
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Rosulullah – صلى الله عليه وسلم – bersabda :
إن لله تسعة و تسعين اسما مئة إلا واحد من أحصاها دخل الجنة. متفق عليه
Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai 99 nama, 100 kurang 1, siapa saja yang menghitungnya dia masuk jannah.
Apa makna “menghitungnya”? Mari kita simak penjelasan syekh bin baz – رحمه الله – :
الإحصاء يكون بالحفظ، ويكون بالتدبر والتعقل لمعانيها، والعمل بمقتضى ذلك
Arti Menghitung (asmaul husna) adalah menghafal, mentadaburi, memahami maknanya, dan mengamalkan dari konsekuensinya.
https://binbaz.org.sa/fatwas/17046
Tidaklah setiap nama Allah melainkan mengandung sifatNya.

Demikian semoga bermanfaat.

Sumber :
Aqidatut tauhid karya syekh sholih alfauzan

Penulis : Ahmad Fathoni, Lc

(Alumni Universitas Islam Madinah KSA, beliau saat ini mengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

donatur-tetap

Keutamaan Tauhid

0

 

@unplash

Bismillah

Anda seorang muslim?

Alhamdulillah..

Tahukan anda keutamaan kalimat tauhid? Jika anda tahu akan kebesaran kalimat tauhid, niscaya anda akan sangat mengagungkannya.

Sungguh kalimat “Laa ilaa ha illallah”  adalah kalimat tidak sembarang kalimat, dia kalimat paling utama, paling agung, paling mulia dan paling tinggi. Karenanya tercipta makhluk, diutusnya para rosul, diturunkannya kitab, dan dengannya terpisahlah antara mu’min dan kafir, antara orang yang bahagia dan sengsara dan dialah tali yang kuat/’urwatul wustqo.

Kalimat tauhid adalah kalimat ketakwaan, tingkatan paling tinggi dalam iman, dialah jalan menuju surga, kunci kesuksesan dunia akhirat dan pondasi dari agama islam yang mulia ini.

Berikut sebagian dalil keutamaan kalimat tauhid :

Pertama, kalimat perjanjian yang ada di dalam ayat :

لَّا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا 

Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.

Ibnu abbas memberi tafsiran : Perjanjian adalah syahadat Laa ilaa ha illallah.

Kedua, Tali yang kuat, bagi yang berpegangan dengannya pasti selamat dan bagi yang lepas darinya akan celaka.

.. فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Maka barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ketiga, Sebaik-baik kebaikan.

{مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا وَهُم مِّن فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ} [النمل : 89]

Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (QS. An-naml : 89)

Ibnu mas’ud, ibnu abbas dan abu huroiroh : bahwa yang di maksud alhasanah/kebaikan di ayat adalah kalimat tauhid Laa ilaa ha illallah.

عَنْ أَبِي ذَرّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي قَالَ: “إِذَا عَمِلْتَ سَيّئَةً فَأَتْبِعْهَا حَسَنَةً تَمْحُهَا قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنَ الْحَسَنَاتِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَ: هِيَ أَفْضَلُ الْحَسَنَاتِ”. بهذه الرواية رواه الإمام أحمد في مسنده

Dari sahabat Abu Dzar -rdhiyallahuanhu – saya berkata, “Ya Rosulallah – shallallahu’alaihi wa sallam – beri aku wejangan..!”

Beliau bersabda, “Apabila kamu terjerumus ke kejelekan maka cepat cepatlah berbuat kebaikan sesungguhnya kebaikan itu akan menghapus kejelekan tadi.”

Aku bertanya , “Ya Rosulallah, apakah kalimat لا إله إلا الله termasuk kebaikan? Beliau menjawab : dia (kalimat tauhid) paling agungnya kebaikan.

Keempat, tauhid apabila di timbang akan lebih berat daripada ketujuh langit dan bumi.

عن عبد الله بن عمرو – رضي الله عنهما – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : ان نوحا قال لابنه عند موته آمرك بلا إله إلا الله فإن السموات السبع و الأرضين السبع لو وضعت في كفة و وضعت لا إله إلا الله في كفة رجحت بهن لا إله إلا الله… . مسند الإمام أحمد

Dari abdullah Ibnu ‘Amr -rdhiyallahuanhu- bersabda Rosulullah -shallallahualaihi wasallam – : Nabi Nuh alaihissalam berkata kepada anaknya menjelang beliau meninggal, “Aku perintahkan kamu -berpegang teguh- dengan لا إله إلا الله sungguh seandainya tujuh langit dan bumi di taruh di daun timbangan dan لا إله إلا الله di taruh di daun timbangan yang lain niscaya dia (kalimat tauhid) lebih berat dari langit dan bumi.

Kalimat tauhid penyelamat dari adzab neraka.

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – سمع مؤذنا يقول : أشهد ألا إله إلا الله، فقال : خرج من النار

Nabi – عليه الصلاة والسلام – beliau mendengar seseorang yang adzan membaca : أشهد أن لا إله إلا الله beliau bersabda : dia keluar dari neraka. (HR. Muslim)

Dan di dalam shohiihain beliau bersabda :

إن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله

Sesungguhnya Allah mengharomkan neraka bagi siapa saja yang berkata : لا إله إلا الله (tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Allah) dia melafadzkan kalimat itu hanya mencari wajah Allah.

Waallahu ‘alam.
Sekian semoga bermanfaat.

_________

Sumber :

– Kalimatut Tauhid “laailaaaha illallah” Syekh Prof. Dr. Abdur Rozaq Al Badr.

***

Penulis : Ahmad Fathoni, Lc

(Alumni Universitas Islam Madinah KSA, beliau saat ini mengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

donatur-tetap

Hamalatul Quran Yogyakarta Galang Donasi Peduli Palu dan Donggala, Ini Jumlah Donasi Terkumpul

0
@BMKG

HAMALATULQURAN.COM — Bantul, Pasca terjadinya gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, Pondok Pesantren Hamalatul Quran melakukan penggalangan donasi peduli Palu dan Donggala untuk para korban yang saat ini sedang tertimpa musibah.

Penggalan donasi ini dilakukan bersamaan dengan diadakanya pengajian rutin Ahad ke 2 bulan Oktober di Pondok Pesantren Hamalatul Quran, pada Ahad (14/10/2018).

Menurut Ustadz Ahmad Anshori selaku panitia, jumlah donasi peduli Palu dan Donggala yang terkumpul sebanyak 17.001.500 rupiah.

“Total donasi peduli Palu dan Donggala yang terkumpul dari Jamaah Haji Rindu Kabah, Jamaah kajian rutin ahad ke 2 Pondok Pesantren Hamalatul Quran, serta santri dan para ustadz sebesar 16.571.500 rupiah, ditambah dengan 106 riyal saudi (424.000 rupiah). Jadi total semua dalam bentuk rupiah sebanyak 17.001.500 rupiah”, jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dana terkumpul akan dibelanjakan terpal, mie instan, beras, minyak goreng. Selanjutnya penyerahan donasi disalurkan langsung oleh KABAG Divisi Humas dan Dakwah Masyarakat PP Hamalatul Quran Ustadz Setyo Susilo (Abu Ruqoyyah), melalui organisasi kemanusiaan Peduli Muslim, yang bermarkas di Yogyakarta, beserta sisa uang tunai sebanyak 758.000 rupiah.

Kami berharap donasi yang diberikan dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara kita di Palu dan Donggala yang saat ini sedang tertimpa musibah.

(zusufaff/hamalatulquran.com)

Berikut dokumentasi penyaluran bantuan peduli Palu dan Donggala.

donatur-tetap