Home Blog Page 81

Jangan Abaikan Doa (Part #1)

0
@wallpapershome

Bismillah..

Pembaca yang budiman

Bagaimanapun, manusia adalah hamba yang sangat bergantung kepada Robb-Nya. Sekaya apapun manusia dia tetap miskin di hadapan Allah, sepandai apapun makhluk dia tetap jahil di mata sang Kholiq. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang faqir (butuh) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (QS. Fathir : 15)

Allah maha kaya dan kekayaannya tidak terbatas, maha kayanya sesuai keagungan-Nya, dan manusialah yang memerlukan permintaan kepada-Nya, maka Allah sering menyeru hamba untuk berdoa kepada-Nya Dia yang maha tahu akan kebutuhan hamba.

Beberapa sebab kita berdoa :

Pertama, Berdoa adalah ibadah,

Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina””. (QS. Ghofir : 60)

Allah ta’ala menyebut doa dengan ibadah dan menyebut orang yang tidak mau beribadah termasuk orang-orang yang sombong, ketika seseorang mengadahkan tangannya meminta kepada Allah segala kebutuhannya untuk kebaikan dunia maupun akherat itu semua adalah bentuk dari ibadah.

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الدعاء هو العبادة

Sesungguhnya doa itu adalah ibadah. (HR. Ahmad)

Hadist di atas dalil bahwa doa sendirinya itu termasuk dari ibadah dan termasuk ibadah yang paling agung karena di dalamnya mengandung arti ketundukan dan kepasrahan diri seorang hamba kepada Allah dengan memohon segala hal hanya kepadaNya semata, ketika do’a sendirinya itu ibadah maka tidak boleh berdoa kepada selain Allah.

Kedua, Hamba yang tidak mau berdoa, Allah murka kepadanya

 من لم يسأل الله يغضب عليه

Barangsiapa yang tidak mau meminta/berdoa kepada Allah, Dia murka kepadanya. (HR Ahmad)

Semakin hamba sering mengadahkan tangannya, meminta kepada Allah, maka semakin dekat Dengan-Nya dan Allah semakin cinta kepadanya.

Ketiga, Kebutuhan manusia

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang faqir (butuh) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir : 15)

Inilah yang menjadi kenyataan bahwa manusia itu sangat bergantung kepada Robbnya sedangkan Allah sama sekali tidak butuh kepada makhluk.

Keempat, Janji akan dipenuhi

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُم

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan untuk kalian” Setiap doa yang dipanjatkan seorang hamba pasti akan di kabulkan oleh Allah jika syarat  terkabulnya doa terpenuhi.

Kelima, Allah dekat dengan hambaNya

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186)

Allah dzat yang maha mendengar maha melihat Dia sangat dekat dengan hamba-Nya sesuai dengan keagungan-Nya, lebih dekat lagi ketika hamba beribadah dan berdoa kepada-Nya. Dengan mengimani bahwa hakikat berdoa itu ibadah, Allah akan murka jika hamba tidak berdoa Kepada-Nya, berdoa itu kebutuhan hamba, dan setiap doa akan di dengar serta mengimani bahwa Allah sebagai Rob manusia itu dekat maka seorang hamba tidak akan melalui hari-harinya tanpa doa.

****

Ditulis oleh : Ahmad Fathoni, Lc.

(Alumni Universitas Islam Madinah, KSA, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta).

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Setoran Al-Quran Saat Berjalan, Bolehkah?

0

..

Bismillah..

Salah satu pemandangan yang tak asing di Masjid Nabawi ialah “talaqqi (setoran hafalan) sambil berjalan”. Terlihat seorang Syaikh berjalan dan disampingnya seorang siswa menyetorkan hafalannya. Hal ini merupakan bentuk memanfaatkan waktu seoptimal mungkin tentunya, sebab masjid nabawi yang luas cukup memakan waktu untuk berjalan dari satu sisi ke sisi yang lain.

Namun bagaimanakah pandangan ulama terhadap hal ini?

Imam Ibnul Jazary rohimahulloh menjelaskan, “Aku tidak mendapati ada ulama yang melarang membaca Al-Quran sambil berjalan kecuali yang diriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau berkata : ‘Membaca Al Quran sambil jalan tidaklah kukenal”

Imam Abu dawud meriwayatkan bahwasanya Abu Darda rhodiyallohu ‘anhu biasa membaca Al-Quran saat berjalan.

Imam As Sakhowi rohimahulloh juga dikenal biasa melakukan hal serupa.

Diriwayatkan pula dari Umar bin ‘Abdul Aziz rohimahulloh bahwasanya beliau membolehkan hal tersebut.

Dari beberapa riwayat di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa mayoritas ulama menganggap bolehnya membaca Al quran saat berjalan. Dan diantara bentuknya ialah talaqqi atau menyetorkan hafalan kepada syaikh/guru. Namun Imam An Nawawi rohimahulloh menambahkan syarat : selama konsentrasi tidak terganggu.

Akan tetapi jika sebaliknya maka hal tersebut hendaknya dihindari sebagaimana Nabi melarang seorang yang sholat dalam keadaan mengantuk lantaran ada kemungkinan salah dalam bacaannya (karena kurangnya konsentrasi).

Penjelasan Imam Nawawi rohimahulloh diatas juga mengisyaratkan pentingnya mentadabburi apa yang kita baca, bukan sekedar melafadzkan huruf-huruf Al-Quran tanpa paham maknanya. Oleh karenanya dibutuhkan konsentrasi saat membaca Al-Quran. Allah ta’ala berfirman :

(كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ)

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shod : 29)

“Agar mereka menghayati ayat-ayatnya”
atau dalam qiroat Abu Ja’far : “litadabbaru” (لتدبروا آياته) yang memiliki makna : “Agar ‘kalian’ menghayati ayat-ayatnya”.

(Lihat: Munjidul Muqriin)

***

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, A.Md

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Asal-Usul Nama Surat Dalam Al Qur’an

0
@unsplash

Bismillah…

Ada 114 surat dalam Al-Qur’an, dan beberapa diantaranya dikenal namanya melalui hadis-hadis Nabi shallallahu’alaihi, seperti Al Fatihah, Al Baqarah, Ali Imran, Al Kahfi dan lainnya.

Para ulama berbeda pandangan, apakah penamaan seluruh surat dalam Al-Qur’an bersumber dari Nabi ﷺ (tauqifi) atau sebagiannya bersumber dari pendapat (ijtihad) para sahabat?

Mayoritas ulama lebih condong pada pendapat nama seluruh surat Al Qur’an bersumber dari Nabi ﷺ. Diantara yang memilih pendapat ini adalah Imam At Thobari, Imam Zarkasi, dan Imam Suyuti –rahimahumullah-.

Imam Suyuti –rahimahumullah– menegaskan,

وقد ثبتت جميع أسماء السور بالتوقيف من الأحاديث والآثار ، ولولا خشية الإطالة لبينت ذلك

Seluruh nama surat dalam Al-Qur’an adalah tauqifi bersumber dari hadis-hadis dan riwayat-riwayat Nabi ﷺ. Kalau bukan karena khawatir memperpanjang, tentu akan saya jelaskan hadis-hadis tersebut. (Al-Itqon, hal. 347)

Inilah insyaallah pendapat yang kuat dalam hal ini. Sebagaimana dinilai kuat oleh seorang ahli tafsir Syekh Sulaiman bin Muhammad Al Bujairimi rahimahullah (w.1221 H.),

“أسماء السور بتوقيف من النبيّ صلى الله عليه وسلم ؛ لأن أسماء السور وترتيبها وترتيب الآيات كل من هذه الثلاثة بتوقيف من النبيّ صلى الله عليه وسلم ، أخبره جبريل عليه السلام بأنها هكذا في اللوح المحفوظ” انتهى باختصار .

Nama-nama surat dalam Al-Qur’an bersumber dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Karena nama dan urutan surat demikian juga urutan ayat, tiga hal ini semuanya bersumber dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Sebagaimana dikabarkan oleh Jibril alaihassalaam bahwa Al Qur’an yang tersimpan di Lauh Al Mahfudz adalah demikian. (Lihat: Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khotib 2/163, dikutip dari islamqa.info)

Demikian, wallahua’lam bis showab..

____

Pernah dipublish oleh : https://konsultasisyariah.com

****

Ditulis oleh : Ahmad Anshori

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Lima Fakta Menarik Seputar Syatibiyah

0

Bismillah..

Syatibiyah adalah kumpulan ribuan bait syair yang menerangkan tentang ilmu Qiroat. Dalam bahasa pelajar disebut matan. Matan ini menjadi materi yang wajib dipelajari oleh setiap penuntut ilmu yang ingin mendalami ilmu Qiroat.

Pertama, tuna netra sejak lahir.

Pengarang dari matan ini lahir dalam keadaan buta kedua matanya, sebagaimana diceritakan oleh Imam Ibnul Jazary rohimahulloh.

Namun ada juga yg berpendapat bahwa ulama yg bernama Al Qosim bin Fîroh Asy syatiby rohimahulloh ini lahir dalam keadaan bisa melihat, kemudian Allah ta’ala mengujinya dengan mengambil penglihatannya.

Kedua, nama asli.

Nama asli dari matan ini adalah :

حرز الأماني ووجه التهاني

Seakan beliau katakan bahwa siapa saja yg ingin meraih mimpi untuk menjadi seorang Qori, maka karya beliau ini dengan senang hati akan membantu mewujudkan impian tersebut.

Ia dikenal dengan “Matan Syatibiyah” karena sang penulis berasal dari “Syatibah”, sebuah daerah di kota Andalus.

Ketiga, jumlah bait yang tak sedikit

Matan ini terdiri dari 1173 bait. Walaupun terlihat cukup banyak, namun karya satu ini mendapat sambutan yg sangat menakjubkan dari para ulama & penuntut ilmu.

Oleh karenanya meskipun banyak karya ulama lain yang lebih singkat dari syatibiyah, akan tetapi matan satu ini tetap menjadi pilihan utama di hati para pecinta ilmu qiroat.

Keempat, sang induk.

Induk dari matan ini adalah kitab “At Taisir fil qiroat as-sab'”. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama Andalus bernama Abu ‘Amr Ad Dani rohimahulloh (wafat tahun 444 H).

Sebelum lahirnya matan syatibiyah, para penuntut ilmu asal Andalus & Maghrib biasa menghafalkan kitab ini kata demi kata. Padahal jumlahnya ratusan halaman dan semuanya dalam bentuk makalah, bukan bait-bait syair.

Tak bisa dibayangkan jika penuntut ilmu di zaman ini harus menghafal kitab yg satu ini agar bisa menguasai ilmu qiroat, berapa banyak kira-kira yg sanggup??

Kelima, memuat berbagai cabang ilmu

Matan ini memang berisi ilmu qiroat, namun jangan salah, sebab ia juga mengandung berbagai cabang ilmu yang lain.

Disela-sela penjelasan seputar qiroat, sang pengarang biasa memasukkan berbagai faedah menarik. Bahkan para ulama menghitung setidaknya ada 10 cabang ilmu yang disisipkan dalam karya menakjubjan ini.

Diantara faedah yg disisipkan adalah seputar nasehat, pengobatan dan bahkan puisi cinta. Ya, puisi cinta yg ditujukan kepada bidadari surga. Menarik bukan??

Dan masih banyak fakta-fakta lain seputar matan fenomenal ini.

***

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, yang saat ini sedang study S1 di Universitas Islam Madinah KSA, Fakultas Qur’an)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Hukum Menirukan Suara Orang Lain dalam Membaca Al Quran

2

By: unsplash

Beberapa waktu terakhir cukup sering beredar video membaca Al Qur’an di berbagai media sosial yang ada. Para pemirsa dibuat takjub dengan keindahan suara dan kepiawaian sang Qori’ yang bisa menirukan suara berbagai imam terkenal. Bahkan terkadang belasan Qori’ sanggup ditirukan satu demi satu, suatu kemampuan yg tak dimiliki tiap orang tentunya.

Namun ada satu hal yang cukup menggelitik rasa ingin tahu : “Bolehkah sengaja menirukan suara imam tertentu dalam membaca Al Qur’an?“.

Cukup lama rasa penasaran hinggap di hati hingga suatu saat datanglah sebuah hadiah dari salah seorang Syaikh. Hadiah istimewa tersebut merupakan sebuah buku yang membahas cukup detail seputar hukum permasalahan yg disebutkan di atas. Tak butuh waktu lama segera penulis lahap habis buku tersebut.

Adapun isi dari buku tersebut akan kami paparkan dalam beberapa poin singkat namun jelas insya Allah :

4 Macam Menirukan Suara

Ada 3 macam atau model menirukan suara, yaitu :

Pertama, sekedar menirukan nada tanpa tajwid.

Pada jenis yang ini seseorang hanya bertujuan menirukan nada, seperti tinggi rendahnya suara, penekanan pada kalimat, irama dan sebagainya tanpa memperhatikan hukum-hukum tajwid yang diterapkan oleh Qori tersebut. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yg belum begitu memahami ilmu tajwid dan cara membaca Al Qur’an dengan benar.

Kedua, Tujuan utamanya hanya sebatas membuat suara semirip mungkin dengan Qori’ yang diikuti.

Meskipun dengan cukup kepayahan yang akhirnya justru menjatuhkannya pada Lahn Jally (kesalah membaca Al Qur’an yang fatal. Seperti memanjangkan dan memendekkan mad dan huruf yang tidak sebagaimana mestinya.

Ketiga, menirukan nada & tajwid sekaligus.

Mereka yang termasuk dalam kelompok kedua ini cukup bersemangat dalam mengikuti Qori yang mereka cintai, baik dari segi nada maupun pengucapan tiap huruf dan tajwidnya.

Keempat, Sebatas menirukan tajwid saja.

Jenis yang satu ini terhitung sedikit, sebab mayoritas orang yg menirukan Qori tertentu tidaklah melakukan hal tersebut kecuali karena takjub dengan suara orang yang diikuti.

Sebab & Tujuan Seseorang Menirukan Nada Orang Lain

Ada banyak sebab yg mendorong seseorang untuk menirukan orang lain dalam membaca Al Qur’an, diantaranya :

  • Anak kecil

seorang anak kecil biasanya tanpa sadar akan menirukan suara orang yg mengajarkannya membaca Al quran.

  • Sering mendengarkan murottal Qori tertentu
  • Takjub dengan suara Imam/Qori
  • Menghafal dg cara mendengarkan murottal berulang-ulang
  • Mauhibah
  • Agar dikenal banyak orang

Hukum Menirukan Suara Orang Lain

Ada 3 pendapat berbeda dalam masalah ini :

1. Haram secara mutlak
2. Boleh secara mutlak
3. Boleh namun dengan berbagai syarat & ketentuan.

Pendapat ketiga inilah yang dikuatkan oleh penulis kitab tersebut, yakni Syekh Dr. Faishol bin Jamil (imam Masjidil Haram), dalam kitab beliau : Al Muhakaah fi Qiro-atil Quranil Karim.

Adapun syarat & ketentuan yang perlu diperhatikan adalah :

  • Tujuan dari menirukan nada tersebut adalah untuk memperbaiki bacaan Al quran dan tajwid, bukan karena ingin dikenal serta mendapatkan perhatian di tengah masyarakat.

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan 3 orang yg akan dilemparkan pertama kali ke dalam Api Neraka, salah satunya adalah :

ورجلٌ تعلَّم العلم وعلَّمه وقرأ القرآن فأتي به فعرَّفه نعمَه فعرفها، قال فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن، قال كذبت، ولكنك تعلمت ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ، فقد قيل ثم أمر به فسُحبَ على وجهه حتى ألقي في النار

“Seseorang yg mempelajari Al Quran dan mengajarkannya, kemudian ditampakkan kepadanya karunia (yg Allah berikan di dunia) maka ia mengakui nikmat tersebut dan dikatakan kepadanya : “Apa yg kau lakukan dengan nikmat tersebut?”

“Aku belajar dan mengajarkan Al quran demi mengharap pahala dari Mu ya Rabb” jawabnya

Dikatakan kepadanya “Engkau berdusta, engkau belajar Al Qur’an dengan niat untuk mendapat gelar seorang yang Alim dan membacanya agar disebut sebagai seorang Qori dan engkau telah memperoleh hal tersebut”.

Kemudia Allah perintahkan agar ia diseret dalam keadaan tertelungkup lalu dilemparkan kedalam api neraka. (HR Muslim)

  • Hendaknya ia tidak hanya sebatas memperhatikan nada, akan tetapi berusaha untuk mentadabburi ayat-ayat yang ia baca

Allah ta’ala berfirman :

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. (Shaad : 29)

  • Menjauhi sesuatu yg dipaksa-paksakan.
  • Hindari menyalahi hukum-hukum tajwid.

Semoga Allah ta’ala menjadikan kita penghafal Al Qur’an yg sesungguhnya serta menjauhkan kita dari siksa api neraka, Amiin.

****

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, A.Md

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, yang saat ini sedang study S1 di Universitas Islam Madinah KSA, Fakultas Qur’an)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Sejarah Penulisan Al-Qur’an

0
By @unsplash

Bismillah…

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam secara bertahap mulai dari saat diutusnya beliau hingga ajal menjemput. Para sahabat pun biasa mengambil Al Quran secara talaqqi (belajar langsung) kepada Nabi akhir zaman ini.

Selain berpegang kepada talaqqi, mereka juga biasa menuliskan ayat-ayat Al Quran pada media yang ada saat itu. Jangan bayangkan mereka menuliskannya di atas kerta-kertas indah seperti sekarang, sebab saat itu kertas memang belum tersedia sebanyak saat ini.

Pelepah kurma, kulit dan tulang binatang sering menjadi media menuliskan ayat Al quran pada saat itu. Sebagaimana dipaparkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit rhodiyallohu ‘anhu :

كنا عند رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم نؤلف القرآن من الرقاع

“Dahulu di zaman Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam kami menuliskan Al quran di kulit binatang” (HR Al Hakim)

Para Penulis Al Quran di Zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam

Diantara sahabat yang dikenal rajin menulis Al quran saat itu adalah : Khulafa Ar Rasyidin, Zaid din Tsabit, Mu’awiyah, Kholid bin Walid dan masih banyak lagi. Tercata dalam sejarah jumlah mereka sekitar 40 orang rhodiyallohu ‘anhum.

Baca juga : Serial Ahli Qiroat #3 Zaid bin Tsabit Sang Penulis Wahyu

● Sahabat yang pertama kali menulis Al Quran di Makkah adalah :Abdulloh bin Abi Sarah

● Sahabat yang pertama kali menulis Al Quran di Madinah : Ubay bin Ka’ab

● Sahabat yang paling banyak menulis Al Quran adalah : Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Apakah Al Qur’an ditulis seluruhnya di zaman Nabi sholllallahu ‘alaihi wasallam?

Para ulama menjelaskan bahwa Al Qur’an ditulis secara lengkap di zaman Nabi, akan tetapi terpisah-pisah alias tidak dikumpulkan dalam satu tempat. Sebab saat itu belum ada kekhawatiran akan adanya kesalahan dalam membaca suatu ayat karena Nabi masih hidup ditengah-tengah mereka. Sehingga jika ada diantara mereka lupa atau ragu dengan hafalan yg dimiliki, bisa langsung datang kepada beliau.

Apakah Hadits juga Ikut Ditulis?

Ada perselisihan pendapat diantara ulama tentang permasalahan ini, sebab ada 2 hadits yang terlihat seakan bertentangan, yaitu :

لا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

“Janganlah kalian menulis dariku selain Al quran, barangsiapa menulis selain Al quran maka hendaknya ia menghapusnya” (HR Muslim)

Adapun hadits yang kedua merupakan pernyataan Abu Huroiroh rhodiyallohu ‘anhu :

ما من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أحد أكثر حديثا عنه مني إلا ما كان من عبد الله بن عمرو فإنه كان يكتب ولا أكتب

“Tidak ada satupun sahabat Nabi sholllallahu ‘alaihi wasallam yang melebihiku dalam mengumpulkan hadits kecuali Ibnu Umar, sebab dia biasa menulis (hadits) sedangkan aku tidak menuliskannya” (HR Bukhori)

Sebagian ulama kemudian berusaha mengkompromikan dua hadits diatas dengan beberapa kemungkinan :

Pertama, larangan Nabi pada hadits pertama ditujukan kepada mereka yang menuliskan Al quran dan hadits pada satu halaman yang sama. Hal ini ditakutkan akan tercampur antara keduanya.

Kedua, larangan tersebut bertujuan untuk memupuk semangat para sahabat dalam menghafalkan hadits-hadits beliau.

Ketiga, pada permulaan islam Nabi melarang hal tersebut, akan tetapi kemudian beliau membolehkannya.

Inilah sedikit gambaran seputar penulisan Al Quran di zaman Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Artikel selanjutnya insya Allah akan membahas seputar penulisan Al Qur’an di zaman Khalifah Abu Bakr rhodiyallohu ‘anhu.

______

Referensi :
– Samir Ath Tholibin, Syaikh ‘Ali Adh Dhobba’ rohimahulloh

****

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, yang saat ini sedang study S1 di Universitas Islam Madinah KSA, Fakultas Qur’an)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Hubungan Ilmu Qiro’at dengan Tafsir

0
@unsplash

Bismillah..

Ilmu qiroat termasuk dalam ilmu yang paling mulia, sebab ia berkaitan langsung dengan firman Allah ta’ala. Sebagaimana ungkapan para ulama :

“Kemuliaan suatu ilmu itu tergantung pada apa yang dipelajari”.

Namun sungguh amat disayangkan, banyak penuntut ilmu yang enggan untuk mempelajari cabang ilmu yang satu ini dengan alasan banyak menyita waktu untuk menghafal berbagai matan. Padahal sebaik-baik waktu seorang hamba adalah yang ia pergunakan untuk menuntut ilmu.

Baca juga : Belajar Qiroat, Pentingkah?

Ilmu qiroat sendiri memiliki hubungan yang amat erat dengan ilmu tafsir. Tak heran jika banyak kaedah dalam ilmu tafsir yang melekat dengan ilmu ini. Diantaranya ialah :

القراءات يُبيِّن بعضها بعضًا.

“Berbagai Qiroat saling menjelaskan satu dengan yang lainnya”

Kaidah diatas memiliki arti bahwa untuk memahami makna suatu ayat dengan sempurna harus melihat perbedaan qiraat yang ada pada ayat tersebut.

Salah satu dosen Ilmu Tafsir di Universitas Islam Madinah juga menjelaskan :
“Diantara syarat untuk menjadi seorang mufassir adalah memahami perbedaan qiraat, sebab satu qiraat dengan yg lain saling melengkapi makna yang terkandung didalamnya”.

Beberapa contoh penerapan kaidah diatas

Contoh pertama :

(وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ)

Terdapat 2 Qiroat pada lafadz بضنين :

● Riwayat Hafs yg kita kenal diriwayatkan menggunakan huruf Dhod (ض) sebagaimana tertulis dalam ayat diatas, yg artinya ialah kikir/bakhil, sehingga maknanya :

Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib (wahyu ilahi).
[Surat At-Takwir 24]

● Qiroat Ibnu Katsir, Abu ‘Amr & Kisai diriwayatkan menggunakan huruf dho’ (ظ) sehingga dibaca بِظَنِين yang maknanya adalah berdusta (menambah-nambah) dalam menerangkan wahyu dari Allah.

Maka dengan memahami 2 Qiroat diatas dapat kita simpulkan bahwa Allah ta’ala menjelaskan sifat amanah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dalam menyampaikan wahyu. Dimana beliau tidak mengurangi dan tidak pula menambah-nambah. Akan tetapi beliau sampaikan wahyu dari Allah sebagaimana adanya, tidak kurang dan tidak lebih.

Contoh kedua :

وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا

“dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.” [Surat Al-Kahf 51]

● Dalam Qiroat Hafs diriwayatkan dengan harokat dhommah pada lafadz “كنت” sehingga dibaca كنتُ

● Sedangkan Qiroat Abu Ja’far diriwayatkan denga harokat fathah sehingga dibaca كنتَ

Makna yang terkandung dalam riwayat hafs adalah tazkiyah dari Allah ta’ala kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alahi wasallam, sebab disebutkan bahwa Allah tidaklah memilih orang yang menyesatkan sebagai penolong agamaNya.

Sedangkan dalam Qiroat Abu Ja’far terkandung makna tazkiyah Allah ta’ala secara khusus kepada para sahabat rhodiyallohu ‘anhum sekaligus bantahan kepada para pencela mereka.
Sebab maknanya adalah :

“dan engkau (wahai Muhammad) tidak menjadikan orang yang menyesatkan sebagai penolong”

Contoh ketiga :

(وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ إِنَاثًا ۚ أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ ۚ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ)

“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka dan akan dimintakan pertanggungjawaban.”
[Surat Az-Zukhruf 19]

Terdapat 2 qiroat pada lafadz “أَشَهِدُوا” .

● Qiraat hafs sebagaimana yang tertulis diatas dibaca أَشَهِدُوا yg maknanya adalah :
“Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat2 tersebut?”
● Sedangkan qiroat yang lain dibaca : أَأُشْهِدُوْا yang maknanya adalah :
“Apakah mereka dihadirkan saat penciptaan para malaikat tersebut?”

Sehingga dengan dikumpulkannya dua qiraat yang ada akan semakin membantah kedustaan orang-orang musyrik tentang klaim mereka bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah, Maha suci Allah atas apa yang mereka katakan. Sebab mereka tidaklah hadir dan tidak pula Allah menghadirkan mereka saat penciptaan malaikat.

Masih banyak contoh-contoh lain seputar penerapan kaidah diatas yang akan semakin membuat kita takjub akan keindahan qiroat Al quran.

Wallahu a’lam.

______

Referensi :
-Al hujjah lil qurro as sab’ah, Abul fath Al farisi
-Al hujjah, Ibnu Kholawaih

****

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, Amd

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, yang saat ini sedang study S1 di Universitas Islam Madinah KSA, Fakultas Qur’an)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Talkshow PP. Hamalatul Quran, Yogyakarta di Puldapii TV

0
Source by : Puldapii tv

HAMALATULQURAN.COM — Bekasi, Setelah sebelumnya menghadiri Talkshow Pendidikan bersama Rodja TV, Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Yogyakarta kembali mendapatkan kesempatan untuk mengisi acara Talkshow Pendidikan di Puldapii TV, pada Kamis (14/02/2019) bertempat di studio Puldapii TV, Bekasi.

Acara yang disiarkan langsung melalui saluran parabola Puldapii TV dan via streaming ini bertujuan untuk mengenalkan pesantren dan sharing seputar pendidikan pesantren.

Turut hadir dalam acara ini narasumber Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Ustadz Syamhudi S.Pdi, Kepala Bagian Tahfidz, Ustadz Taufiq Hidayat Lc., Kepala Bagian Kurikulum, Ustad Ahmad Ansori Lc., dan Ananda Muhammad Ghifar Azhar, Ananda Ahmad Hanif, Dua santri berprestasi dari Pondok Pesantren Hamalatul Quran.

Pada akhir acara Direktur Pudapii TV, Al Ustadz Abu Ishaq -hafidzahullah- secara simbolis menyerahkan cindera mata kepada Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Yogyakarta.

Dengan ini kami mewakili Yayasan Hamalatul Quran, Yogyakarta mengucapkan terimakasih setulusnya kepada Puldapii TV atas segala bantuan dan kesempatan yang telah diberikan kepada kami. Semoga usaha yang sama-sama kita lakukan bermanfaat untuk pendidikan dan dakwah kaum muslimin.

Rekaman video talkshow bisa anda simak di sini : Mengenal PP Hamalatul Quran melalui Puldapii tv

(zusufAff./hamalatulquran.com)

donatur-tetap

Makan Sisa Makanan di Mulut Sholat Batal?

0
By : @unsplash

Hukum Makan Sisa Makanan Saat Sholat

Bismillah…

Khusyuk adalah rukun terpenting dalam sholat. Sampai orang yang terlalu lapar, diperintahkan makan terlebih dahulu baru kemudian melakukan sholat. Meski harus terlewat sholat di awal waktu. Karena meraih kekhusyu’an lebih penting daripada sholat di awal waktu.

Baca : Tak Ada Sholat Saat Makanan Telah Dihidangkan?

Dan sholat adalah ibadah yang penuh kesibukan. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

إن في الصلاة لشغلا

“Sesungguhnya dalam shalat itu sudah banyak kesibukan.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Sibuk konsentrasi pada bacaan sholat kita. Sibuk mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an. Sibuk munajat kepada Allah. Sibuk meraih kekhusyu’an dst. Maka tidak pantas mencapuri sholat dengan tindakan-tindakan di luar aktivitas sholat.

Oleh karenanya takbiratul ihram berfungsi untuk membuka sholat dan juga mengharamkan segala tindakan yang boleh dilakukan sebelum takbiratul ihram. Karena ihram dari kata haram bermakna larangan. Diantara aktivitas tersebut adalah makan.

Makan yang banyak, jelas hukumnya membatalkan sholat. Karena aktivitas semacam ini sangat bertentangan dengan makna ibadah.

Lantas bagaimana jika makan sedikit sisa makanan di gigi saat sholat?

Dalam Kifayatul Akhyar (kitab fikih Mazhab Syafi’i) diterangkan masalah ini :

إن أكل أقل من سمسمة لا تبطل وفي السمسمة أو قدرها وجهان :الصحيح البطلان

“Jika makan sisa makanan yang ukurannya lebih kecil dari wijen, maka sholat tidak batal.

Adapun jika memakan wijen atau sisa makanan yang seukuran wijen, ada dua pendapat dalam mazhab Syafi’i, yang tepat adalah sholat tetap batal.”

(Kifayatul Akhyar, 1/102).

Wijen adalah makanan seukuran butiran beras yang biasa ditabur di roti.

Demikian…

Wallahua’lam bis showab..

***

Ditulis oleh : Ahmad Anshori

donatur-tetap

Rumus Jitu Mengetahui Letak Kalimat (أفلم يسيروا في الأرض) Dalam Al Quran

0

Source by: unsplash.com

Bismillah…

Tahukah Antum ?

Disaat Halaqoh Tahfidz sedang berlangsung, ada salah satu murid di sebuah sekolah Tahfidz yang
bertanya kepada gurunya (Syaikh nya).

Dan meminta kepada gurunya agar menyebutkan surat-surat di dalam Al Quran yang di dalamnya
terdapat ayat :

“أفلم يسيروا في الأرض”

Maka sang guru mengatakan kepada muridnya agar mengucapkan kalimat ini :

“غفر الله للحج محمد يوسف”

(Ghofarallahu lilhajji Muhammad Yusuf)

Kemudian sang guru melanjutkan :

• غفر الله  adalah Surah Ghofir

• للحج  adalah Surah Al Hajj

• محمد adalah Surah Muhammad

• يوسف  adalah Surah Yusuf

Dan 4 surat inilah yang di dalamnya terdapat ayat :

“أفلم يسيروا في الأرض”

Maasyaallah ..

Ajiiib kaan ?

Itulah alasan kenapa menghafal Al Quran mengasyikkan, karena ada banyak keajaiban & keunikan di
dalamnya.

Jika ada suatu ayat yang bagi sebagian orang susah untuk dihafal & diingat.

Mungkin mereka belum tau rumus-rumus rahasia di dalam Al Quran yang sungguh luar biasa.

So, yuuuk terus belajar & berjuang, karena masih ada buanyakkkk rumus yang perlu kita ketahui untuk
memudahkan kita dalam menghafal maupun mengulang hafalan Al Quran.

Keep Fight !

 

***

Ditulis oleh : Syauqi Ahmad Labib

(Mahasiswa fakultas Qur’an, Universitas Islam Madinah, Alumni Ponpes Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap