Home Blog Page 80

Serial Ahli Qiroat #5 : Manusia Kasturi

1
@unsplash

Bismillah…

“Qiroat apa yg paling engkau sukai?”

Pertanyaan ini dilontarkan oleh Abdulloh bin Ahmad bin Hanbal kepada ayahnya. Ia cukup penasaran dengan pendapat sang ayahanda.

“Qiroat Penduduk Madinah (qiroat Nafi’), jika tidak maka qiroat ‘Ashim”, jawab sang ayah.

Imam Nafi’ berasal dari Asbahan sebuah daerah di Persia dan lahir pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan. Ia memilih kota Nabi sebagai tempat tinggalnya, disinilah ia belajar Al-Quran dengan penuh semangat. Satu atau dua orang guru belum cukup memuaskannya, ia terus-menerus mencari guru talaqqi hingga mencapai puluhan. Tak heran jika ia nantinya menjadi seorang Qori masyhur serta rujukan utama di kota Madinah. Ia pernah berkata :

“Aku mempelajari Al-Quran dari 70 orang Tabi’in” ucapnya suatu ketika

Para ulama biasa menempatkan Imam Nafi’ di urutan pertama dalam daftar para qurro dalam kitab mereka. At taisir, Matan Syatibiyah dan Kitab An Nasyr diantara contohnya.

Sang Manusia Kasturi

Qori yang memiliki warna kulit gelap ini menghabiskan hidupnya untuk Al-Quran.
Murid-muridnya pun cukup banyak, baik dari dalam maupun luar Madinah. Diantara mereka adalah Imam Malik bin Anas rohimahulloh, sang Imam darul hijroh.

Satu hal yang cukup mengesankan dari Imam Nafi’ adalah mulutnya yg selalu mengeluarkan aroma wangi bak minyak kasturi saat berbicara. Suatu ketika salah seorang diantara mereka memberanikan diri untuk bertanya :

“Wahai Imam, apakah engkau selalu menggunakan wewangian dimulutmu setiap kali hendak mengajar Al-Quran?”
Mendengar pertanyaan tersebut beliau tersenyum dan menjawab :

“Aku tidak pernah melakukannya, namun suatu hari aku bermimpi bertemu dengan Rasulullolh shollallohu ‘alaihi wasallam. Dalam mimpi tersebut beliau membacakan Al-Quran didepan mulutku. Sejak saat itu keluarlah bau harum dari mulutku ini”.

Pujian Ulama

Keilmuan beliau tidak diragukan lagi, para ulama satu persatu melontarkan pujian kepadanya.

● Imam Malik rohimahulloh berkata : “Nafi’ merupakan Imam Qiroat di Madinah”
● Al Laits bin Sa’ad rohimahulloh pernah berkata : “Aku melaksanakan ibadah haji pada tahun 113 hijriyah dan Imam qiroat di Madinah saat itu adalah Nafi’”.
● Ibnu Mujahid rohimahulloh berkata : “Nafi’ adalah Imam qiroat penduduk Madinah”.

Wasiat Terakhir

Saat terbaring sakit menunggu ajal, anak-anak beliau berkumpul disekitarnya. Dengan penuh kesedihan mereka berkata :
“Apa yang engkau wasiatkan kepada kami wahai ayahanda?”

Beliau lantas membaca firman Allah ta’ala:

(فَاتَّ قوا ا َّ ﷲَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَیْنِكُمْ وَأَطِیعُوا ا َّ ﷲَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتمْ مُؤْمِنِینَ)

“maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.” [Surat Al-Anfal 1]

Beliau menghembuskan nafas terakhir pada tahun 169 hijriyah. Betapa indahnya kehidupan yg dipenuhi dan ditutup dengan Kitabulloh.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita khusnul khotimah.

______

Referensi : Ma’rifatul qurro kibar, Adz Dzahabi.

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, A.Md

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA)

Hamalatulquran.com

***

Mari bergabung menanam saham Jariyah dalam pembangunan PP Tahfidz Hamalatul Qur’an, Sanden, Bantul.

Klik gambar :

donatur-tetap

Menguap Saat Membaca Al-Quran

0
By @unsplash

Bismillah…

Membaca Al-Quran merupakan amalan yang amat mulia dan memiliki berbagai keutamaan. Bayangkan saja setiap huruf yang kita baca memiliki nilai 10 kebaikan disisi Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

 مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan tersebut dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan, Aku tidak katakana bahwa Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”

(HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syekh Albani)

Hadits di atas merupakan salah satu dari banyak hadits yang menjadi motivasi kaum muslimin untuk rajin membaca Al-Quran terutama saat memasuki bulan Romadhon. Siang dan malam dimaksimalkan untuk bertilawah pada bulan yang mulia ini.

Seringkali saat sedang membaca Al-Quran, rasa kantuk menyerang dengan begitu hebat hingga memaksa mulut untuk terbuka dan menguap. Sebagian orang masih terus membaca Al-Quran saat proses menguap sedang terjadi sehingga memicu suara yang sumbang lantaran bercampur dengan kegiatan menguap tadi.

Bagaimanakah para ulama memandang hal ini?

Mujahid rohimahulloh pernah berkata : “Jika engkau menguap saat membaca Al-Quran, maka berhentilah sejenak dari membacanya hingga menguap selesai”

Ikrimah rohimahulloh juga berkata: “Hal tersebut merupakan bentuk pengagungan terhadap Al-Quran”

Rasa kantuk yang menyerang ditengah membaca Al-Quran bisa kita lawan dengan kembali mengambil air wudhu yang insya Allah akan menyegarkan badan dan menambah semangat dalam membaca Al-Quran.

Semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk istiqomah dalam membaca kitab-Nya.

________

Referensi :

Ar Ri’ayah litajwid al qiroah wa tahqiq lafdzi at tilawah, karya : Makki bin Abi Tholib rohimahulloh.

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, A.Md

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA)

Hamalatulquran.com

***

Mari bergabung menanam saham Jariyah dalam pembangunan PP Tahfidz Hamalatul Qur’an, Sanden, Bantul.

Klik gambar :

donatur-tetap

Patungan Wakaf Pembangunan PP Hamalatul Quran Sanden Bantul

0

Bismillah, dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala..

Pesantren Hamalatul Quran yang saat ini berada di Kasihan, Bantul, tak lagi dapat menampung banyak santri dan tidak memungkinkan dilakukan perluasan. Sementara animo masyarakat mendaftarkan anaknya di Hamalatul Quran, sangat besar, meningkat setiap tahunnya. Tahun ini saja, tercatat 519 pendaftar dari berbagai penjuru Nusantara, sementara kami hanya bisa menerima 74 santri. Karena daya tampung pesantren yang masih sangat terbatas.

 

 

Dari sinilah kemudian kami berencana untuk merelokasi Pondok Pesantren Hamalatul Quran di tempat yang memudahkan pengembangan ke arah yang lebih baik insyaallah. Alhamdulillah Allah memilihkan Sanden sebagai tempatnya. Tepatnya di dusun Wonoroto, Desa Gadingsari, kecamatan Sanden, Bantul, DIY.

Diharapkan dengan adanya pembangunan ini, Pondok Pesantren Hamalatul Quran bisa semakin bertambah banyak dalam menerima santri para penghafal Al Quran, dalan berbagai tingkat pendidikan.

Patungan wakaf PP Hamalatul Quran

Jika dalam dagang, para pedagang begitu antusias mencari tempat dagang yang strategis, supaya meraih keuntungan sebesar-besarnya. Maka pembangunan Pondok Pesantren Hamalatul Quran Sanden ini, insyaallah lahan jariyah yang sangat strategis. Siang dan malam akan digunakan para santri untuk menghafal Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Sepanjang waktu itu, pahala akan mengalir kepada Anda insyaallah.

Dan tentu, perdagangan dengan Allah, hanya satu kemungkinannya, yaitu untung. Allah berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. (QS. Fathir : 29)

Tabungan Pajala Jariyah

Kesempatan emas untuk menabung Jariyah. Sebagai tabungan masa depan atas amal yang kita lakukan, meskipun kita tak lagi aktif beramal di kehidupan dunia ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga amalan : (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang manfaat, dan (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.”
(HR. Muslim, no. 1631).

“Diantara bukti luasnya kedermawanan Allah ta’ala… ” Terang Imam Ibnul Arobi -rahimahullah” ….

أن يثيب على ما بعد الحياة كما يثيب على ذلك في الحياة..

“Allah akan memberi pahala kepada orang yang sudah meninggal dunia, sebagaimana pemberian pahala yang diberikan kepadanya ketika masih hidup.”

Video progres pembangunan relokasi PP Hamalatul Quran terkini :

Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal, Di Sini Kesempatannya

Anda yang ingin berbakti kepada orangtua, kakek nenek, guru atau orang yang telah berjasa kepada anda dan sudah meninggal dunia, inilah kesempatannya.

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan kisah seorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan manfaat sedekah atas nama ibunya yang telah wafat. Sahabat tersebut mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ »

“Ya Rasulullah, Ibuku meninggal tiba-tiba. Beliau belum sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya beliau menyampaikan wasiat, pasti beliau mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya?”

“Iya…” Jawab Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

(HR. Bukhori dan Muslim)

Donasi Yuuuk….

Maka dari itu, kami mengajak kaum muslimin sekalian untuk ikut andil dalam “patungan wakaf” pembangunan Ponpes Tahfidz Hamalatul Quran, Sanden, Bantul Yogyakarta, melalui REKENING BERIKUT :

Bank Mandiri
No Rekening : 137 002 002 2014
an. Yayasan Hamalatul Quran

KONFIRMASI TRANSFER dengan menghubungi salah satu nomor berikut :
Ust. Samhudi, SPdi 0817705083 (Sms/WA)
Ust. Aris Munandar, MPi 08157985796 (Sms/WA)
Ust. Amri Suaji, Lc 081227150771 (Sms/WA)

Kami ucapkan jazakumullah Khoiron.
Semoga Allah membalas kebaikan anda sekalian.

 

donatur-tetap

Jangan Abaikan Doa (Part #2)

0
By@unsplash

Bismillahirrahmanirrahim..

Baca tulisan sebelumnya : Jangan Abaikan Doa #1

Pembaca yang budiman semoga Allah memberi taufiq kepada anda.

Pembahasan lalu ada beberapa hal sebab kita berdoa, insyaallah pada tulisan ini akan membahas adab-adab berdoa, adab tidak hanya berlaku sesama makhluk tetapi juga untuk hamba berhubungan dengan Robnya, di antaranya ketika kita berdoa kepada Allah, maka berikut ini ada beberapa adab di dalam kita berdoa :

Pertama, berdoa dengan hati yang penuh dengan tauhid kepada Allah dan senantiasa memenuhi ppanggilanNya. Allahsangat dekat dengan hambaNya yang senantiasa memenuhi panggilanNya dengan mentaati perintah dan menjahui larangan

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ} [البقرة : 186]

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Kedua, berdoa dengan penuh keyakinan bahwa doanya akan di kabulkan Allah dan menghadirkan hati di dalam berdoa.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاهٍ

Berdoalah kepada Allah dengan rasa yakin akan diijabahi, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengijabahi (mengabulkan) doa sedangkan hatinya lalai. ( HR. Tirmidzi)

Ketiga, memuji Allah dan bersholawat kepada nabiNya sebelum berdoa.

عن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال : سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يدعو في صلاته لم يمجد الله تعالى ولم يصل على النبي صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” عجل هذا “ثم دعاه فقال له أو لغيره : “إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه جل وعز والثناء عليه ، ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ، ثم يدعو بعد بما شاء “.

Dari sahabat fadzolah bin ubaid – rodziallahu ‘ahnu- berkata : Rosulullah – shollallahu alaihi wa sallam – mendengar seseorang berdoa di dalam sholatnya dengan tidak mengagungkan Allah dan tidak bersholawat kepada nabi terlebih dahulu, maka rosulullah – ‘alaihis sholatu was salam- bilang : “dia ini tergesa-gesa”, kemudian beliau memanggilnya dan bersabda kepadanya atau kepada orang lain : “jika kalian sholat (dan ingin berdoa) maka mulailah dengan mengagungkan Allah dan memujiNya kemudian bersholawatlah kepada nabiNya kemudian terserah mau berdoa apa saja”. (HR. Abu dawud)

Keempat, mengangkatkedua tangan ketika berdoa.

Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

Sungguh Rob kalian itu maha pemalu dan pemurah, Dia malu dari hambaNya apabila mengangkat kedua tangannya (berdoa) kepadaNya dan Dia mengembalikannya dengan tangan kosong (tidak mengijabahi). (HR. Abu dawud)

Kelima, makan, minum, dan pakaian yang halal.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إِلا طَيِّبًا ، وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ ، فَقَالَ : ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ) ، وَقَالَ : ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ) ، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah itu baik, tidak mau menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang Mukmin seperti yang telah diperintahkan kepada para Rasul, Allah berfirman, ‘Wahai para Rasul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih.’ [QS. Al-Mukminun [23]: 51]

Dan Dia berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.’ [QS. Al-Baqarah [2]: 172]

Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan.” (HR. Muslim)

Keenam, berdoa dengan suara yang lembut dan dengan merengek

{ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ} [الأعراف : 55]

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Syekh as sa’di berkata dalam kitab tafsirnya

الدعاء يدخل فيه دعاء المسألة، ودعاء العبادة، فأمر بدعائه { تَضَرُّعًا } أي: إلحاحا في المسألة، ودُءُوبا في العبادة، { وَخُفْيَةً } أي: لا جهرا وعلانية، يخاف منه الرياء، بل خفية وإخلاصا للّه تعالى…

Doa, termasuknya doa masalah (permintaan) dan doa ibadah (semua jenis ibadah) , Allah menyuruh untuk berdoa kepadaNya dengan تضرعا merengek dalam doa masalah dan bersungguh-sungguh dalam doa ibadah, dan dengan خفية tidak keras dikarenakan takut riya’ tetapi lirih/lembut dan ikhlas karena Allah ta’ala semata…

Ketujuh, optimis dan bertekat dalam berdoa serta menghindari pesimis.

لا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ ، لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ ، فَإِنَّ اللهَ لا مُكْرِهَ لَهُ

janganlah kalian berkata (dalam doa) : ”Ya Allah ampunilah aku jika Engkau sudi, ya Allah rohmatilah aku jika Engkau sudi”. Tetapi hendaknya bersungguh-sungguh/optimis dalam memohon sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksa. (HR. Bukhori dan Muslim.)

Itulah beberapa adab di dalam kita berdoa kepada Allah, semoga kita termasuk hamba Allah yang selalu berdoa hanya kepadaNya dan beradab dalam segala hal.

Sekian, semoga bermanfaat.

__________

Referensi :

1. Alquran dan tafsirnya
2. Tafsir ibnu sa’di
3. Islamqa.info
4. Dll

****

Ditulis oleh : Ahmad Fathoni, Lc.

(Alumni Universitas Islam Madinah, KSA, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta).

Hamalatulquran.com

Mari bergabung menanam saham Jariyah dalam pembangunan Ponpes Tahfidz Hamalatul Qur’an, Sanden Bantul.

⬇⬇⬇

donatur-tetap

Bekal Ramadhan #2: Ramadhan Bulan Istimewa

0
Bismillah

Tak terasa bulan Ramadhan semakin dekat, Ramadhan bak bulan semi bagi hati-hati yang beriman, orang-orang shaleh senantiasa menanti dan berdo’a untuk dapat bersua kembali dengannya.

Kenapa demikian ? Karena Ramadhan itu istimewa, apa yang membuat bulan ini istimewa ? Mari simak penjelasan singkatnya dibawah ini.

Pertama, ramadhan bulan Al-Qur’an

Allah ta’ala telah menurunkan Kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi umat manusia, obat penyembuh bagi orang-orang yang beriman, petunjuk kepada jalan yang lurus, penunjuk kepada jalan kebajikan di bulan Ramadlan yang penuh dengan kebaikan. Allah ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الّذِيَ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لّلنّاسِ وَبَيّنَاتٍ مّنَ الْهُدَىَ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).  Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al-Baqarah : 185).

Syeikh Shaleh bjn Fauzan Al Fauzan menerangkan, “Ini adalah salah satu keutamaan yang amat besar, karena Allah turunkan Al Quran yang menjadi petunjuk bagi umat manusia di bulan ini, maka membaca Al Quran dibulan ini pun akan menjadi lebih indah dibandingkan membacanya di bulan-bulan lainnya.”

Kedua, setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, dan pintu-pintu surga dibuka.

Pada bulan yang penuh berkah ini, kejahatan di muka bumi ini menjadi sedikit, karena jin-jin jahat dibelenggu dengan rantai sehingga mereka tidak bisa melakukan pengrusakan terhadap umat manusia sebagaimana mereka bisa melakukannya pada bulan-bulan selain Ramadlan.  Karenanya kaum muslimin menjadi lebih berkonsentrasi menjalankan puasa yang merupakan pengekang hawa nafsu, dan juga mereka sibuk membaca Al Qur’an dan berbagai macam ibadah lainnya yang mampu mendidik sekaligus menyucikan jiwa.

Ditutuplah pintu neraka dan dibuka pintu-pintu surga karena banyak amal shalih serta ucapan dan perkataan yang bagus dilakukan.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين

“Jika bulan Ramadlan tiba, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu” (HR. Muslim).

Allah belenggu setan-setan untuk mengaganngu orang-orang yang beriman dibulam ramadhan ini, namun hal ini berbeda bagi orang munafik dan orang kafir bagi mereka Allah tetap bebaskan setan-setan tersebut untuk mengganggu mereka.

Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا

“Tidakkah engkau melihat, bahwa sesungguhnya Kami telah mengutus setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk mendorong mereka (berbuat maksiat) dengan sungguh-sungguh?.” (QS Maryam: 83)

Maka sungguh setan senantiasa mengajak mereka kepada keburukan baik itu di bulan ramadhan ataupun di bulan lainnya.

Ketiga, lailatul-Qadr 

Allah ta’ala telah memilih bulan Ramadlan dikarenakan pada bulan tersebut Al-Qur’an diturunkan.  Pada bulan tersebut terdapat Lailatul-Qadar, malam penuh barakah yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (QS Al Qodr: 1-3)

Jika dihitung dengan tahun maka itu lebih dari sekitar 80 tahun, dan semuanya  terhitung dalam bulan-bulan ketaatan, maka hal ini adalah keutamaan yang amat agung.

Dan maksud dari diturunkannya Al Quran di malam lailatul qadr adalah Allh subhanawu wa ta’ala pertama kali menurunkannya pada malam itu kemudian setelah itu barulah diturunkan bertahap kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, ada yang diturunkan ayat per ayat ada juga yang diturunkan per surat sehingga sempurnalah Al Quran sebelum beliau wafat.

Keempat, shalat Tarawih

Allah subhanahu wata’ala mengkhususkan bulan ini dengan syariat shalat tarawih, dan dengan beginilah Allah ta’ala benar-benar ingin mendidik hamba-hambanya menjadi hamba yang bertaqw dengan ibadah puasa di siang hari dan ibadah shalat tarawih dimalam hari, bahkan keduanya pun memiliki keutamaan yang amat besar disisi Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Muslim).

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menerangkan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. dan yang dimaksud dengan “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetao harus diiringi  dengan bertaubat kepada Allah ta’ala.”

Wallahu ta’ala a’lam.

_______

Referensi :

– Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam An Nawawi.
– Majlis Syahr Ramadhan Al Mubarak, Shaleh Fauzan Al Fauzan.
***

Ditulis oleh : Muhammad Fatwa Hamidan

(Alumni PP. Hamalatul Quran dan mahasiswa sarjana Fakultas Syariah, Universitas Islam Madinah)

Artikel: HamalatulQuran.com

Mari bergabung menanam saham Jariyah dalam pembangunan Ponpes Tahfidz Hamalatul Qur’an, Sanden Bantul.

 

donatur-tetap

Bekal Ramadhan #1: Sejarah Pensyariatan Ibadah Puasa

0
Bismillah..

Ibadah puasa adalah ibadah yang agung, bahkan ibadah puasa telah Allah subahanahu wa ta’ala syariatkan kepada umat-umat terdahulu. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menerangkan, “Puasa adalah suatu kewajiban atas semua umat, meski berbeda cara dan waktunya. Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Puasa orang sebelum kita adalah dari gelapnya malam hingga malam selanjutnya.”

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala syariatkan pula ibadah puasa tersebut kepada ummat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan dalam syariat Nabi kita ibadah puasa diwajibkan dengan tiga tahapan:

Pertama, Puasa Asyura.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura sebelum diwajibkannya puasa pada bulan Ramadhan, Ibunda Aisyah radhiyallahu anha berkata,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَا يَصُومُهُ

“Dahulu, hari Asyura adalah hari di mana kaum Quraisy berpuasa padanya pada masa jahiliyah. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura. Tatkala Beliau datang ke Madinah, Beliau juga berpuasa padanya, dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa padanya. Lalu ketika turun (wajibnya puasa) Ramadhan, barangsiapa yang mau ia boleh berpuasa padanya, barangsiapa yang mau ia boleh juga untuk tidak berpuasa padanya.” (HR. Bukhari)

Kedua, Diwajibkan Berpuasa Pada Bulan Ramadhan Akan Tetapi Dengan Pilihan antara Puasa atau Membayar Fidyah.

Allah berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan atas orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajiakan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 185)

Ketiga, Diwajibkan Ibadah Puasa Tanpa Pilihan.

Allah berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang bener dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.” (QS. Al Baqarah: 185)

Hikmah dalam tahapan pensyariatan ibadah ini adalah bahwa puasa padanya terdapat beban bagi jiwa, maka dari itu Allah ta’ala wajibkan secara bertahap.

Wallahu ta’ala a’lam
_____

Referensi :

– Ithaf Ahlu Al Iman bi Durus Syahr Ramadhan, Shaleh bin Fauzan Al Fauzan

https://www.alukah.net/spotlight/0/7173/

****

Ditulis oleh : Muhammad Fatwa Hamidan 

(Alumni PP. Hamalatul Quran dan mahasiswa sarjana fakultas syariah, Universitas Islam Madinah)

Mari bergabung menanam saham Jariyah dalam pembangunan Ponpes Tahfidz Hamalatul Qur’an, Sanden Bantul.

donatur-tetap

Momen Setoran Terakhir Nabi Muhammad kepada Malaikat Jibril

0
@unsplash

Al ‘Ardhotul Akhiroh : Momen setoran terakhir Nabi Muhammad kepada Malaikat Jibril.

“Aku sadar ini merupakan isyarat bahwa ajalku sudahlah dekat” (HR Bukhori).

Inilah sabda Rasulullah shollallhu ‘alaihi wasallam setelah melakukan setoran/talaqqi terakhir kepada Malaikat Jibril atau yang dikenal dalam sejarah sebagai “Al ‘ardhoh Al akhiroh”. Sebuah momen penting yang semakin menegaskan bahwa cara yang tepat dalam mempelajari Al-Quran adalah dengan metode talaqi.

Momen ini juga yang nantinya menjadi landasan utama dalam penulisan Al-Quran pada zaman kekhalifahan Abu Bakar serta penulisan Mushaf Utsmani pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan rhodiyallohu ‘anhuma. Tak heran jika dua khalifah ini menunjuk ketua panitia yang sama untuk penulisan Al-Quran dimana sahabat yang ditunjuk sangat memahami peristiwa “Al ‘ardhoh Al akhiroh” ini.

Silahkan baca : Serial Ahli Qiroat : Zaid bin Tsabi Sang Penulis Wahyu

Definisi Al ‘ardhoh Al akhiroh
Al Mu’arodhoh (المعارضة ) ialah sebuah Talaqqi Al quran antara Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihiwasallam dan Malaikat Jibril yang dilakukan setiap bulan romadhon.

Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Kata (المعارضة ) mengandung arti bahwa aktivitas tersebut terjadi dari 2 belah pihak, dimana orang pertama membaca dan yg lain mendengarkan dan sebaliknya secara bergantian.”

Kebiasan para qurro sejak dahulu dalam mempelajari Al-Quran ialah dengan metode Mu’arodhoh. Dimana sang guru akan memperdengarkan bacaan Al-Quran dan murid mendengarkan, setelah itu murid akan mengulang bacaan tersebut dan sang guru menyimaknya.

Hal ini merupakan metode robbani dalam mempelajari Al-Quran sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah ta’ala :

(فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ)

“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”
[Surat Al-Qiyamah 18]

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam juga kerap memperdengarkan bacaan Al-Quran kepada para sahabat serta memotivasi mereka untuk saling mengajarkannya satu sama lain sebagaimana dahulu beliau mempelajari Al Quran dari Malaikat Jibril. Beliau pernah bersabda kepada sahabat Ubay bin Ka’ab rhodiyallohu ‘anhu :
“Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk mengajarkan Al Quran kepadamu” Ubay rodhiyallohu ‘anhu yang dipenuhi perasaan takjub lantas bertanya :
“Apakah Allah menyebutkan namaku?”
Beliau menjawab : “Iya” .
Seketika air mata pun membasahi pipi sahabat mulia tersebut. (HR Bukhori Muslim)

Abu Ubaid Al Qosim bin Sallam rohimahulloh menjelaskan bahwa hadits diatas menunjukkan keinginan Nabi agar Ubay mempelajari Al quran darinya serta menegaskan bahwa metode ‘Ardhul Quran merupakana sunnah”

Imam Abu ‘Amr Ad Dani rohimahulloh berkata : “Hadits diatas merupakan dalil diwajibkannya memahami tajwid serta tata cara pengucapan tiap huruf dengan benar. Dimana hal ini merupakan keharusan bagi tiap Qori untuk mempelajarinya. Selain itu metode ini juga harus diterapkan oleh setiap pengajar Al-Quran sebagai bentuk meneladani cara Nabi Muhammad shollallohu ‘alahi wasallam dalam mengajarkannya.”

Dilain kesempatan Nabi shollallohu ‘alaihiwasallam juga memotivasi para sahabat untuk mempelajari Al-Quran dari beberapa sahabat yang mumpuni dalam hal ini, beliau bersabda :

“Pelajarilah Al Quran dari 4 orang : Abdulloh bin Mas’ud, Salim maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bi Jabal” (HR Bukhori)

Baca juga : Serial Ahli Qiroat : 4 Sahabat Ahli Qiroat yang direkomendasikan oleh Nabi

Para ulama menjelaskan beberapa kemungkinan dikhususkannya 4 sahabat ini dalam hadits diatas :

• Mereka adalah sahabat yang memiliki hafalan paling banyak serta paling mahir dalam membacanya, meskipun banyak sahabat lain yang lebih faqih dalam memahami isi kandungan Al-Quran.

° Mereka meluangkan waktu untuk bisa mempelajari Al-Quran langsung dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, sedangkan sebagian sahabat mencukupkan diri dengan belajar dari sahabat yang lain.

• Mereka meluangkan waktu lebih banyak untuk mengajarkan Al-Quran kepada sahabat lain.

• Ini merupakan isyarat dari Rasul shollallohu ‘alaihi wasallam agar nantinya kaum muslimin mempelajari Al-Quran dari 4 sahabat ini setelah wafatnya beliau.
Masih banyak faedah dari peristiwa ‘Ardhotul Akhiroh ini yang merupakan gerbang utama untuk memasuki pembahasan seputar Al Ahruf Sab’ah dan lautan ilmu qiroat yang cukup luas. Tak perlu terburu-buru, biarkan ia mengalir sedikit demi sedikit namun konsisten, bukankah gurun hanyalah kumpulan dari butiran-butiran pasir yang kecil?

Bersambung.. insya Allah .

____

Referensi : Al ‘ardhoh Al Akhiroh dilalatuha wa atsaruha, Nashir Al Qotsami.

***

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, A.Md

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA)

Hamalatulquran.com

donatur-tetap

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Ponpes Hamalatul Quran di Sanden, Bantul

0

HAMALATULQURAN.COM — Bantul, Pembangunan Pondok Pesantren Hamalatul Quran di Wonoroto, Gadingsari, Sanden, Bantul akhirnya dimulai. Proses Pembangun tersebut diawali dengan dilakukanya peletakan batu pertama bangunan Masjid Hamalatul Quran oleh pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Quran Ustadz Amri Suaji, Lc. pada Kamis (14/03/2019)

Turut Hadir dalam acara tersebut

Kasi Kemas Kecamatan Sanden, Kepala KUA Sanden, Kanit Reskrim Polsek Sanden Aiptu Purwanto, Bhabinkamtibmas Desa Gadingsari Bripka Mochlis Humavianto, Lurah Desa Gadingsari Mashuri, Kadus Wonoroto, Toga, Tomas, Bapak Harto Subar selaku waqif tanah Pesantren Hamalatul Quran, Pengasuh PP Hamalatul Qur’an Ustadz Amri Suaji Lc, Santri PP Hamalatul Qur’an serta tamu undangan.

Ustadz Amri Suaji, selaku Pengasuh PP. Hamalatul Quran dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur kepada Allah subhanahuwata’ala dan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu lancarnya proses pembangunan Pesantren.

“Alhamdulillah Allah subhahuwata’ala memudahkan Hamalatul Quran untuk mengembangkan atau kelak menjadi pusatnya, dan alhamdulillah Allah ta’ala pilihkan lokasinya di Sanden, Bantul.”

Selanjutnya proses pembangunan Pesantren dengan luas 18.000 meter persegi ini ditargetkan selesai pada tiga tahun depan. Semoga pembangunan Pondok Pesantren baru ini Allah subhanahuwata’ala berikan kemudahan dan dapat memberikan manfaat pendidikan untuk kaum muslimin.

(zusuf.aff/hamalatulquran.com)

_____

Mari ikut andil dalam Pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz Hamalatul Qur’an, Sanden, Bantul, Yogyakarta.

Proyek ini insyaallah kesempatan emas bagi anda untuk :
meraup pahala jariyah, atau
➡ berbakti kepada kedua orang tua yg telah meninggal dengan berdonasi atas nama beliau, atau
➡ bersedekah atas nama org yg kita cintai

Anda bisa dapatkan insyaallah melalui saham jariah dalam pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz Hamalatul Quran, Sanden, Bantul. Donasi melalui rekening berikut :
Bank Mandiri
No Rekening : 137 002 002 2014
an. Yayasan Hamalatul Quran

Konfirmasi transfer dengan menghubungi salah satu nomor berikut:

– Ust. Samhudi, SPdi. 0817705083 (Sms/WA)
– Ust. Aris Munandar, MPI. 08157985796 (Sms/WA)
– Ust. Amri Suaji Lc. 081227150771 (Sms/WA)

Jazakumullah Khoiron.
www.hamalatulquran.com

Dokumentasi acara :

donatur-tetap

Buah Indah Beriman Kepada Qadar

0

Bismillah

Iman terhadap taqdir adalah salah satu dari rukun iman yang enam, maka barangsiapa yang tidak mengimani qadar maka tidak sempurna iman seorang hamba.

Maka dari itu marilah kita sejenak mempelajari apa itu qadar serta buah indah apakah yang akan diraih oleh seorang hamba ketika ia dapat beriman terhadap qadar dengan baik dan benar.

Apa Itu Qadar ?

Qadar secara bahasa artinya adalah taqdir “penentuan” sedangkan qadha’ secara bahasa artinya adalah hukum keputusan. Qadha’ dan qadar adalah dua istilah bika keduanya berpisah, maka maknanya sama dan bila berkumpul maknanya berbeda.

Jiika disebut qadar Allah maka semakna dengan qadha’ Allah, begitu pula sebaliknya. Dan jika disebut bersama-sama maka masing-masing memiliki makna yang berbeda, yaitu:

– Qadar adalah apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala wa tentukan semenjak dahulu dahulu dan akan terjadi pada makhlukNya.

– Qadha’ adalah apa yang Allâh subhanahu wa ta’ala putuskan pada makhlukNya, yang berupa mewujudkan, meniadakan, atau merubah. Sehingga qadar mendahului qadha’

Apa Saja Buah Indah Beiman Terhadap Qadar ?

1. Menyempurnakan Tauhid.

Beriman kepada taqdir adalah salah satu bagian dari tauhid rububiyyah, dan barangsiapa yang dapat menerapkan iman keoada taqdir dengan benar maka ia telah menerapkan tauhid rububiyyah secara utuh dalam kehiduannya, dan demikian pula barangsiapa yang tauhid rububiyahnyabtelah sempurna maka itu akan memudahkan seorang hamba untuk menerapkan tauhid uluhiyah.

2. Menambah Iman dan Mendapatkan Hidayah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. At-Taghabun: 11)

Al Qomah ketika ditanya tentang ayat ini maka beliau berkata: “(Maksud ayat ini adalah ketika seorang lelaki mendapati sebuab musibah kemudian ia sadar bahwa semua itu adalah ketentuan (taqdir) Allah subhanahu wa ta’ala maka dia pun menerimanya dan ridho terhadap musibah tersebut, kemudian Allah berikan ia petunjuk”.

3. Menguatkan Keilhlasan.

Karena saat seseorang beriman terhadap qadar maka sejatinya dia telah tahu bahwa apa-apa yang terjadi dalam hidupnya telah digariskan oleh Allah subhanawu wa ta’ala, Dialah yang Maha menberi atau menahan segala sesuatu untuk hambaNya, maka dengan kesadaran tersebut ia akan lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan.
4. Menguatkan Tawakkal.
Tawakkal adalah asas dan pokok dari ibadah, maka saat seorang hamba sadar semua ketentuan berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia akan memasrahkan segala hasil usahanya kepada Allah ta’ala, maka saat itulah ia telah menerapkan tawakal yang sejati dalan hidupnya.
Terkait hakekat tawakal yang sejati Syeikh Shaleh bin Abdul Aziz As Sindi hafidzahullah berkata:

التوكل هو ترك الإعتماد على الأسباب بعد بذلها

“Tawakal adalah tidak bersandar kepada sebab-sebab (usaha hamba) setelah ia melaksanakannya”.

5. Menambah Rasa Takut Kepada Allah.

Orang yang beriman terhadap qadar dengan benar makan ia sadar bahwa tidak tahu bagaimakah dengan akhir hayatnya akankah husnul khatimah ataukah su’ul khatimah, denga hal ini maka akan membuat hatinya senantiasa bergetar dan menambah rasa takutnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Atha’ berkata: “tidaklah ku temui Sufyan Ats Tsauri melaikan ia sedang menangis, maka ku bertanya kepadanya, ada apa denganmu ? maka ia menjawab : sungguh aku takut kelak aku menjadi di hari kiamat menjadi orang yang celaka”.

6. Menguatkan Kesabaran Dalam Hidup.

Ketika seorang hamba sadar bahwa musibah atau bala’ yang menimpanya adalah kehendak dari Allah subhanahu wa ta’ala maka dia akan mampu tuk semakin sabar menghadapi cobaan tersebut dan tidak akan mencaci atau mengumpat atas musibah yang dialaminya. bahkan ia bersabar dan mengharap kebaikan atau musibah yang menimpanya, bukankah Allah ta’ala telah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al-Insyirah: 5-6)

7. Ridha.

Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitab “Madarij As Salikin” berkata: “Siapa saja yang hatinya dipenuhi oleh ridha terhadap taqdir Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah akan memenuhi hatinya denga kekayaan serta rasa aman dan qona’ah, dan menjadikan hatinya semakin cinta kepada Allah dan senantiasa bertawakal kepadaNya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan langkah kita tuk senantiasa mendekatkan diri kepadaNya, dan agar kita dapat meraih manisnya iman kepada Allah ta’ala.

wallahu ta’ala a’lam

Referensi :

– Mudzakiroh Tauhid, Syeikh Shalih bin Abdul Aziz As Sindi Hafidzahullah

– Syarh Aqidah Washithiyyah, Syeikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah

Ditulis oleh : Muhammad Fatwa Hamidan

donatur-tetap

Rajab, Bulan yang Suci

0

Bismillah..

Para pembaca yang dirahmati Alloh, tak terasa kita telah memasuki bulan yang Allah muliakan dari bulan-bulan yang lain, Allah ciptakan dalam satu tahun ada 12 bulan, 4 bulan di antaranya Allah pilih menjadi bulan harom (mulia) Firmannya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At taubah: 36)

Dalam hadist Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الزمانَ قد استدار كهيئتِه يومَ خلق اللهُ السّمواتِ والأرضَ، السّنةُ اثنا عشرَ شهرًا، منها أربعةٌ حُرُمٌ، ثلاثةٌ مُتوالياتٌ ذو القعدةِ، وذو الحجّةِ، والمحرّمِ، ورجبُ مضرَ الذي بين جمادى وشعبانَ

“Sesungguhnya zaman sudah berjalan sebagaimana semestinya pada saat Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan. Empat di antaranya ialah bulan-bulan yang haram, tiga di antaranya berturut-turut, yaitu bulan Dzulqa’idah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadilakhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Mengapa Disebut Bulan Harom?

Pertama, karena harom di dalamnya berperang
Kedua, karena perbuatan harom di dalamnya dosanya lebih besar dibandingkan dengan bulan lainnya.

Sebab penamaan bulan Rojab dengan Rajab mudzor :

Pertama, mudzor adalah nama sebuah suku. Mereka ini dahulu tidak merubah keharoman bulan rojab ke bulan lain. Tidak seperti yang dilakukan oleh suku-suku lain, kebiasaan merubah keharoman bulan-bulan harom ke bulan lain.

Disebut oleh Allah dengan nasii’ “النسيء” sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ ۖ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِّيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ ۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS At Taubah: 37 )

Kedua, orang-orang suku mudzor sangat mengagungkan bulan Rajab melebihi yang lain.

Adakah Keutamaan dalam Bulan Rojab?

Keutamaan bulan Rajab adalah termasuk bulan harom yang Allah muliakan, maka tidak boleh di dalamnya berbuat dzolim, walaupun perbuatan dzolim selamanya tidak boleh tetapi perbuatan dzolim di waktu atau tempat  yang Allah lebih muliakan dari yang lain lebih tidak boleh lagi Seperti tafsiran Imam Qotadah dan Ibnu Abbas:

وقال قتادة في قوله : ( فلا تظلموا فيهن أنفسكم ) إن الظلم في الأشهر الحرم أعظم خطيئة ووزرا ، من الظلم فيما سواها ، وإن كان الظلم على كل حال عظيما ، ولكن الله يعظم من أمره ما يشاء

“Sungguh kedzoliman pada bulan-bulan harom suatu kedzoliman yang besar dari kedzoliman di selain bulan harom, walaupun semua jenis kedzoliman itu besar perkaranya, tetapi Allah mengagungkan dari urusan-Nya sesuai kehendak-Nya.”

عن ابن عباس قوله : ( إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا ) الآية ( فلا تظلموا فيهن أنفسكم )في كلهن ، ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما ، وعظم حرماتهن ، وجعل الذنب فيهن أعظم ، والعمل الصالح والأجر أعظم .

Ibnu abbas menafsirkan ayat di atas “فلا تظلموا فيهن”  janganlah kalian berbuat dzolim di dalamnya yaitu di semua bulan kemudian di khususkan dari bulan-bulan itu empat bulan dan di jadikan harom(mulia) dan dilebihkan kemuliaannya, dan dijadikan dosa di dalam bulan harom itu lebih dari bulan lain begitu juga amal sholeh akan di lipat gandakan pahalanya.

Ini keutamaan yang ada di dalam bulan Rajab dan umumnya di bulan-bulan harom yang bersifat umum, adapun keutamaan yang bersifat khusus pada bulan Rajab maka tidak ada dalil secara khusus.

Adakah Amalan-amalan Khusus Di Bulan Rajab?

Secara umum amal sholeh dianjurkan di setiap waktu kecuali waktu-waktu terlarang, pengkhususan suatu amal di waktu tertentu membutuhkan dalil, dan tidak ada dalil yang bisa di jadikan hujjah untuk mengkhususkan suatu amal di bulan Rajab, berkata al hafidz ibnu Rajab :

لم يرد في فضل شهر رجب , ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين , ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة.”

“Tidak ada riwayat tentang keutamaan pada bulan rojab tidak pula puasa, sholat di dalamnya  secara khusus yang shohih yang dapat di jadikan hujjah.” (tabyiinul ‘ujab)

Ibnu Qoyyim rahimahullah juga mengatakan :

كل حديث في ذكر صيام رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب مفترى

“Semua hadist yang menyebutkan puasa rojab dan sholat sebagian malam dari rojab adalah kadzib (dusta) yang di buat-buat.” (almanaarul muniif)

Sayyid Sabiq berkata :

وصيام رجب ليس له فضل زائد على غيره من الشهور , إلا أنه من الأشهر الحرم , ولم يرد في السنة الصحيحة أن للصيام فضيلة بخصوصه , وأن ما جاء في ذلك مما لا ينتهض للاحتجاج به

“Dan puasa rojab tidak ada keutamman yg lebih dari bulan lain, melainkan rojab termasuk dari bulan harom, dan tidak ada dalam sunnah yang shohih bahwa puasa di bulan rojab ada keutamaan khusus, dan yang ada dari riwayat-riwayat tidak bisa di pakai untuk berhujjah.” (Fiqih Sunnah)

Sehingga kesimpulannya pada bulan Rajab tidak ada anjuran amalan-amalan khusus.

Wallahu A’lam Bishawab.

_____
Referensi:
1- Alquran
2- tafsir as sa’di
3- tafsir ibnu kastir
4- berbagai sumber

****
Ditulis oleh : Ahmad Fathoni, Lc.
(Alumni Universitas Islam Madinah, KSA, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta).

Artikel Hamalatulquran.com

donatur-tetap