Home Blog Page 8

Tidak Meremehkan Kebaikan

0

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda keapdaku:

 لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Jangan sekali-kali meremehkan perbuatan baik sedikitpun, walau hanya sekadar engkau menyambut saudaramu dengan wajah ceria.”
(Hr. Muslim, no. 2626)

Penjelasan Hadis

Perawi hadis ini adalah sahabat mulia Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu. Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah ada pula yang mengatakan Jundub bin Janadah. Beliau termasuk sahabat yang dikenal zuhud dan banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang sahabat pada dasarnya berlaku untuk seluruh umatnya, kecuali bila ada qarinah (indikasi khusus) yang menunjukkan pembatasan hanya kepada sahabat tersebut. Dalam hadis ini, tidak ada qarinah khusus untuk Abu Dzar, sehingga perintah tersebut berlaku bagi seluruh umat Islam hingga hari kiamat.

Hadis ini mengajarkan agar seorang muslim tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun, meskipun hanya berupa senyum atau wajah ceria ketika bertemu sesama. Hal ini karena kita tidak mengetahui amal mana yang paling diridai dan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bisa jadi amal yang dianggap kecil justru menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kita.

Dalam sebuah riwayat dicerikatan bahwa ada seorang wanita tunasusila dari Bani Israil yang diampuni disanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Hal ini menunjukkan bahwa amal yang tampak remeh bisa menjadi sangat agung di sisi Allah ta’ala.

Akhlak Mulia

Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan:

حسن الخلق هو كف الأذى، وبذل الندى، وطلاقة الوجه

“Akhlak yang baik adalah; tidak mengganggu, suka menolong dan memiliki wajah yang berseri-seri”

Dari perkataan beliau kita ambil intisari, tahapan atau langkah seorang memiliki akhlak yang mulia. Langkah yang pertama adalah tidak usil, kedua suka menolong dan yang ketiga adalah memiliki wajah yang enak dipandang.

Tidak usil berarti menjaga lisan dan tangannya agar tidak mengganggu sesama manusia. Menjaga agar tidak mengganggu fisik, harta, kehormatan maupun yang lainnya.
Seorang yang sudah bisa menjaga lisan dan tangannya agar tidak mengganggu sesama belumlah dikatakan memiliki akhlak yang baik, sampai dia suka menolong orang lain. Menolong mereka yang membutuhkan, memberikan bantuan bahkan sebelum mereka meminta bantuan kepada kita.

Point terakhir adalah memiliki wajah yang berseri-seri, wajah yang enak dipandang. Hal ini bsia kita latih bukan malah menyalahkan keadaan dengan mengatakan ‘wajah saya memang seperti ini dari dulu’ bahkan nabi mengajarkan

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah.”

Larangan zuhud terhadap Amal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ini melarang sikap zuhud terhadap amal kebaikan, yakni menganng remeh amal tertentu. Zuhud yang benar adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, bukan menyepelekan kebaikan kecil. Karena pada hakikatnya seluruh amal baik memiliki nilai yang besar bila diniatkan ikhlas karena Allah.
Ibnul Mubarak berkata,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.”
Hendaklah kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakan amal-amal kebaikan, dengan diiringi dengan niat yang baik. Semoga dengan niat yang baik, Allah jadikan amalan yang dipandang remeh oleh banyak manusia, menjadi besar di sisi-Nya.

Hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu di atas memberikan pelajaran penting bahwa seorang muslim tidak boleh meremehkan kebaikan apapun, sekalipun hanya berupa senyum atau wajah ceria ketika bertemu saudar aseimannya. Setiap amal memiliki potensi besar untuk menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Allah.

Dengan demikian hadis ini mendorong kita untuk senantiasa memperbanyak amal kebaikan, baik yang besar maupun yang kecil, karena kita tidak tahu amal mana yang akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat.

Kedudukan Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang nama lengkapnya adalah Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w. 261 H), salah seorang ulama besar hadis yang memiliki komitmen untuk mengumpulkan hadis-hadis sahih. Beliau kumpulkan hadis-hadis sahih tersebut dalam sebuah kitab berjudul shahih Muslim.

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Pelajaran Singkat dari Surat An-Nisa

0

Surat an-Nisa’ adalah surat keempat dari urutan surat dalam al-Quran, termasuk tujuh surat yang panjang atau disebut assab’ut thiwaal, kandungan dalam surat an-Nisa’ fokus dalam bab hukum.

Surat an-Nisa’ banyak membahas tentang hak orang-orang lemah, seperti: wanita, anak yatim, safiih (anak kecil belum tamyiz & baligh), ahli waris yang lemah, orang yang terdzolimi, dan hak orang-orang lemah lainnya. Tidak ada surat yang kandungan ayatnya perintah untuk berbuat adil yang lebih banyak dari pada dalam surat an-Nisa’ dan al-Maidah, walaupun sebagian ayat memerlukan pemikiran yang mendalam untuk mencapai titik terang, tetapi tetap berporos di bab berbuat adil memberikan hak kepada yang berhak.

Awal surat terdapat beberapa ayat yang menunjukkan untuk berlaku adil dan memberikan hak anak yatim dan wanita.

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. QS. an-Nisa’ 2-4

Dan di tengah surat terdapat beberapa ayat yang mengandung perintah untuk menunaikan hak  harta waris dan pendidikan kepada wanita (istri)

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ ۚ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا () الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS an-Nisa’ 33-34)

Dan di akhir surat juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan pembelaan untuk orang-orang lemah

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (QS an-Nisa’ : 75)

Islam mewajibkan penganutnya untuk senantiasa menjaga hak dan kewajiban yang ada.

Bersambung..

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

2 Santri Kelas 8, Berhasil Semaan 30 Juz dalam 2 Hari

0

HAMALATULQURAN.COM — Sleman, Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Yogyakarta kembali menggelar tasmi hafalan Al Quran 30 Juz dalam dua hari pada Jumat-Sabtu (19-20/09/2025) bertempat di Masjid Al-Halim komplek Pondok Pesantren Hamalatul Quran 2 Sleman.

Semaan hafalan Al Quran 30 Juz dalam dua hari kali ini cukup menarik karena dibacakan oleh 2 santri yang masih duduk di kelas 8 Salafiyah Wustah (Setingkat SMP). Mereka adalah ananda Aqil Arsyad Al Fauzan, santri berasal dari Sumenep, putra dari Bapak Surdiyanto dan Ibu Yuni Susilawati serta ananda Ahnaf Said santri berasal dari Enrekang putra dari Bapak Hariyanto Latif dan Ibu Nasikah.

Setelah berakhirnya semaan ananda Aqil Arsyad mengucapkan terima kasih kepada asatidzah dan kedua orangtuanya dan yang senantiasa memberi suport dalam menghafal Al-Quran yang kebetulan hadir dan ikut menyimak dalam acara akhir semaan. Selain itu juga ananda juga memberikan motivasi kepada teman-temanya agar semangat dalam menghafal Al-Quran. Setelah itu dilanjutkan ananda Ahnaf Said membacakan doa Khotmil Quran sebagai bentuk syukur atas segala kemudahan yang telah Allah berikan kepada keduanya sehinga lancar semaan  30 juz dalam 2 hari.

Dalam penutupan acara simakan 30 juz tersebut direktur pesantren Ustadz Alfian Nursiansyah, Lc memberikan nasehat dan apresiasi kepada ananda Aqil Arsyad Al Fauzan dan ananda Ahnaf Said

Kemudian dilanjutkan dengan pengetesan sambung ayat oleh asatidzah wali santri dan juga santri.

Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan bagi para santri untuk istiqomah dalam menghafal dan menjaga hafalan Al Quran. (redaksihq/hamalatulquran.com)

   

donatur-tetap

Hakekat HIjrah dan Tingkatan-Tingkatannya

0
Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, maka ketika kita tidak mengenal suatu hal dengan baik dan benar maka bisa jadi kita salah memaknai atau salah memahami suatu hal tersebut, maka pada tulisan ini mari kita bedah sedikit tentang hakekat hijrah.
Sehingga kita tahu Apa itu hijrah ? Bagaimana tahapan-tahapan hijrah yang benar ?
Hijrah menurut bahasa arab artinya adalah “meninggalkan” sedangkan menurut syariat hijrah adalah meninggalkan apa–apa yang Allah Ta’ala benci dan berpaling menuju apa-apa yang Allah cintai dan ridhai.
Perintah hijrah dalam Al Quran dijelaskan dalam beberapa ayat, diantaranya :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 218)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal : 74)
Syaikh Shalih bin Abdillah Al Ushoimi ketika mensyarah kitab Ushul At Tsalatsah dalam dauroh Muhimmatul ilmi beliau berkata,
“Hijrah itu terbagi menjadi tiga, pertama hijrah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk, kedua hijrah meninggalkan negeri yang buruk, ketiga hijrah meninggalkan teman yang buruk.”

Pertama, Hijrah Meninggalkan Perbuatan Buruk.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

المُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللّٰه عَنْهُ

“Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang Allah larang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan meninggalkan apa-apa yang Allah larang dalah meninggalkan segala bentuk dan macam keburukan, baik itu berupa kekufuran, kefasikan, kemaksiatan atau mengikuti hawa nafsu.
Meninggalkan maksiat yang sudah menjadi kebiasaan seseorang Itu pada awalnya akan sangat berat.
Pasti akan timbul rasa rindu ingin kembali melakukan kemaksiatan tersebut, dikarenakan hati sudah menganggap bahwa itulah kebahagiaannya, padahal hakikatnya kebahagiaan tersebut hanyalah kebahagiaan yang semu.
Namun, apabila seseorang terus berusaha untuk meninggalkannya, melawan rasa rindu tersebut meski ia harus jatuh bangun dalam proses hijrahnya, suatu ketika ia terjatuh lagi dalam kemaksiatan tersebut, ia menyesal, kemudian ia mencoba lagi,
Bukan malah berputus asa seraya berkata:
“Sepertinya aku gak bisa meninggalkan kebiasaan ini”.
Akhirnya ia pun kembali melakukan kemaksiatan tersebut.
Disitulah sebetulnya Allah uji kejujuran hati seseorang. Apakah dia betul-betul serius ingin hijrah kepada Allah, atau tidak ?
Memang pada awalnya susah, berat, tapi yakinlah, keistiqomahan dan kejujuran hatimu itulah yang akan menguatkan langkah hijrahmu.
Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqithy rahimahullah mengatakan:

ماتاب عبد لله إﻻ وامتحن الله صدق توبته بتسهيل السبيل للذنب الذي تاب منه

“Tidaklah seorang hamba bertaubat kepada Allah Azza wa jalla, melainkan Allah Azza akan kembali menguji kejujuran taubatnya dengan memudahkan jalan baginya menuju dosa yang pernah dia lakukan sebelumnya.”

Kedua, Hijrah Meninggalkan Negeri yang Buruk.

Hijrah dari negeri yang buruk ini sangatlah ditekankan oleh syariat, yaitu hijrah dari negeri yang penuh dengan kemusyrikan menuju negeri Islam, namun hal ini hukumnya menjadi wajib dengan adanya 2 syarat yang terpenuhi, yaitu :
1. Mampu untuk hijrah.
2. Karena dia tidak bisa bebas mensyiarkan agama islam di negeri tersebut.
Dan bila mana kedua syarat diatas tidak terpenuhi maka hijrah tidak wajib seseoran tersebut.

Ketiga, Hijrah Meninggalkan Teman yang Buruk.

Dalam proses hijrah terkadang kita harus rela mencoret satu persatu orang-orang yang memberikan pengaruh negatif dalam hidup kita dan pastikan bahwa diri kita dikelilingi oleh orang-orang yang berdampak positif dalam hijrah kita.
Pepatah arab mengatakan :
الصَاحِبُ سَاحِبُ
“Teman itu menarik”
Teman yang baik akan menarik dan mengajak kepada hal-hal yang baik sedangkan teman yang buruk cepat atau lambat pun akan menarik kepada hal-hal yang buruk.
Maka saat kita ingin hijrah kita harus siap untuk meninggalkan teman-teman yang buruk atau yang memberi dampak negatif tersebut, sehingga kedepannya dia tidak dapat menarik kita menuju hal-hal yang dilarang oleh Allah ta’ala.
Setelah itu carilah teman-teman yang shalih yang senantiasa menguatkanmu serta yang siap merangkul dan menggenggam tanganmu tuk berjalan bersama diatas jalan hijrah bersama-sama.
Ditulis Oleh : Muhammad Fatwa Hamidan
Artkel: HamalatulQuran.Com
donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.14): Al-Ahad

0

Berbicara tentang nama Allah الأحد  maka kita akan mengingat satu surat yang tidak asing lagi bagi kita, bahkan merupakan surat andalan, yang sering kita baca dalam sholat-sholat kita, selain pahalanya yang luar biasa, setara dengan sepertiga Al-Qur’an atau sepuluh juz, kandungannya pun luar biasa karena surat Al-Ikhlas (murni) membahas tentang Allah ta’aala tanpa membahas selainNya.

Penyebutan kata الأحد hanya disebut sekali didalam Al-Qur’an yaitu dalam surat Al-Ikhlash, Allah ta’aala berfirman :

قل هو الله أحد * ألله الصمد

“Katakanlah Dialah Allah yang esa” “Allah tempat bergantung” (QS. Al-Ikhlash : 1 & 2)

Adapun nama Allah الواحد banyak penyebutannya didalam Al-Qur’an, diantaranya Allah ta’aala berfirman:

 و إلاهكم إلاه واحد لا إلاه إلاهو الرحمان الراحيم

“Dan tuhanmu tuhan yang esa, tidak ada sesembahan melainkan Dia Maha pengasih Maha penyayang”. (QS. Al-Baqarah : 163)

أأرباب متفرقون خير أم الله الواحد القهار

“Apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam lebih baik ataukah Allah yang Maha esa Maha perkasa”. (QS. Yusuf : 39)

وما من إلاه إلا الله الواحد القهار

“Dan tidak ada tuhan kecuali Allah yang Maha esa Maha perkasa”. (QS. Shad : 65)

Yang bearti kedua nama Allah ta’aala الأحد dan الواحد benar-benar menunjukan ke Esa an Allah subhanahu wata’aala dalam sifat-sifat dan nama-namanya, dalam peribadatan, dalam penciptaan, dalam mengatur alam semesta, tidak ada yang sama denganNya, dan mustahil ada yang menyerupainya.

Sehingga iman kepda الأحد dan الواحد memberikan konsekuensi kepada orang-orang yang mengaku beriman untuk meng esakan Allah ta’aala dalam keyakinannya dalam perbuatannya dan dalam perkataanya, tidak ada sekutu baginya, harus mengakui kesempurnaanya secara mutlak,

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan nama Allah الأحد dan الواحد :

  1. Menafikan atau meniadakan persamaan kesetaraan penamaan dan sekutu dari segala aspek bagi Allah ta’aala, sebagaimana firmanNya dalam surat Maryam ke 65  (هل تعلم له سميا)  “Apakah kamu mengetahui bagiNya persamaan” dan juga firmanNya dalam surat Al-Ikhlas (ولم يكن له كفوا أحد) “dan tidak ada bagiNya yang sekufu (setara) satupun dan juga firmanNya dalam surat Asy-Syuro ke 11 (ليس كمثله شيء وهو السميع البصير) “Tidak ada yang semisal denganNya sesuatupun, dan Dia Maha mendengar Maha melihat.
  2. Kebathilan memikirkan kaifiyyah Allah, karena sesungguhnya manusia tidak memiliki wewenang dalam membicarakan tentang Allah kecuali yang telah Allah kabarkan dalam Al-Qur’an maupun hadits, karena keterbatasan manusia dengan akal fikirannya.
  3. Menetapkan seluruh sifat yang mengandung kesempurnaan tanpa adanya kekurangan bagi Allah, dan meng Esakan Allah di seluruh nama dan sifat-sifatnya yang sempurna.
  4. Meyakini kesempurnaan sifat-sifat Allah, bahwa sifat Allah merupakan sifat paling sempurna paling Istimewa dan puncak dari kesempurnaan sifat tersebut Allah berfirman An-Najm 42 (وأن إلى ربك المنتهى) “Dan bahwasannya kepada rabbmu lah akhir dari tujuan(kesempurnaan) dan juga dalam surat An-Nahl 40 (ولله المثل الأعلى) “Dan milik Allah lah sifat-sifat/perumpamaan tertinggi”.
  5. Meniadakan kekurangan dan aib bagi Allah di seluruh nama dan sifat-sifatnya yang menyerupai makhluq, sebagaimana Allah mensucikan dirinya dari memiliki anak Allah berfirman surat Az-Zumar ke 4 (سبحانه ، هو الله الواحد القهار) “Maha suci Allah (dari sifat beranak) Dialah Allah maha Esa maha perkasa.
  6. Meng esakan Allah dengan mengikararkannya dengan lisan dan hati, dan meng esakan Allah dalam beribadah kepadanya.

Semoga Allah memberikan manfaat dan keberkahan dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah As-shamad di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Serba-Serbi Asbabun Nuzul yang Kamu Harus Tahu

0

Secara umum Al-Quran Allah turunkan sebagai petunjuk bagi manusia, serta menjadi cahaya yang mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju jalan kebenaran. ALla Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dalam ayat di ats dipaparkan sebab umum ayat-ayat AL-Quran diturunkan, namun dilain sisi ada pula ayat-ayat dalam Al-Quran yang memiliki sebab turun ayat itu sendiri, atau sering disebut dengan istilah asbabun nuzul.

Apa itu Asbabun Nuzul?

Asbabun nuzul adalah suatu peristiwa atau pertanyaan yang terjadi di zaman Nabi shalallahu’alaihi wasallam, yang kemudian hal tersebut menjadi sebab turunnya sebuah ayat atau surat.

Bagaimana Mengetahui Asbabun Nuzul ?

Asbabun nuzul hanya bisa diketahui dengan dalil dan tidak ada ruang ijtihad dalam masalah ini, sedangkan rujukan utamanya adalah kitab-kitab hadis.

Dalam tema asbabun nuzul ini ada sebuah kaidah agung, yaitu:

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

“Yang menjadi tolak ukur adalah teks (ayat) yang bersifat umum/ atau general bukan sebab yang bersifat spesifik.”

Kaidah dalam Menentukan Suatu Kejadian atau Peristiwa menjadi Asbabun Nuzul Suatu Ayat ataukah Tidak

  1. Peristiwa tersebut haruslah terjadi pada masa Al-Quran diturunkan.
  2. Ayat tersebut turun setelah peristiwa terjadi bukan sebelum peristiwa terjadi
    3. Adanya Riwayat yang shahih akan terjadinya sebuah peristiwa tersebut.

Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul

1. Penjelasan bahwasannya Al-Qur’an benar-benar turun dari Allah ta’ala. Hal tersebut dikarenakan kadang Nabi shalallahu’aliihi wa sallam ditanya tentang suatu perkara, lalu beliau diam tidak menjawabnya hingga kemudian turun kepada beliau wahyu (menjawabnya); atau tersembunyi atas beliau tentang satu permasalahan yang terjadi, lalu turun wahyu yang menjelaskan tentangnya kepada beliau. Seperti dalam firman Allah ta’ala:

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah; Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Israa’: 85).

2. Penjelasan tentang pertolongan Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shalallahu’alaihi wasallam untuk membela beliau. Contohnya dalam firman Allah ta’ala:

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَٰحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَٰهُ تَرْتِيلًا

“Berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturnkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)” (QS. Al-Furqaan: 32).

3. Penjelasan tentang pertolongan Allah ta’ala kepada hamba-Nya dengan melapangkan kesusahan dan menghilangkan kesedihan mereka.

4. Memberikan pemahaman (makna) ayat secara benar.

Referensi: Al-Muyassar fi ulumil Quran

 

donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Lahab Bag.4

0

Allah Ta’ala berfirman,

وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. (QS. al-Lahab: 42)

Istri dari abu Lahab yaitu ummu Jamil nama aslinya adalah Arwa bintu Harb bin Umayyah, dia adalah saudari dari abu Sufyan, termasuk wanita terpandang dan mulia di kalangan Quroisy, tetapi Allah menyebutnya dengan حمالة الحطب pembawa kayu bakar.

Sebab di julukinya pembawa kayu bakar:

  1. Dikarenakan dia sering mengobarkan api kedengkian dan mengadu domba antar manusia, sehingga hubungan antar manusia menjadi rusak terkhususnya kaum muslimin.
  2. Dikarenakan dia merusak agama Islam dan kaum muslimin.
  3. Karena dia memikul dosa yang sangat banyak.
  4. Karena dia di waktu hidupnya membawa duri untuk menyakiti Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam

Hakikatnya adalah bahwa ummu Jamil ini benar-benar melakukannya, tatkala dia membawa duri dan dia taburkan di jalan yang sering dilalui oleh Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam dikarenakan saking bencinya kepada beliau, dia melakukan ini dikarenakan ingin mencelakai Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam secara fisik setelah tidak berhasil dengan cara verbal, dan dia juga membantu suaminya dalam kedzoliman, kekufuran, permusuhan dan dalam menutupi dakwah Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam juga dalam mengakiti kaum muslimin. Maka Allah jadikan ummu Jamil ini teman setiannya abu Lahab di neraka, sebagaimana dia teman di dunia dalam menyakiti kaum muslimin begitu pula dia temannya di neraka. Maka siapa saja yang membantu dalam memusuhi agama Allah dia akan menjadi temannya pula di akherat.

Sebagian ahli tafsir menyatakan: dia di neraka membawa kayu bakar dan dilemparkan untuk membakar suaminya, dikarenakan suaminya selalu menuruti istrinya yang mendorong untuk memusuhi Nabi dan kaum muslimin.

Inilah akibat jika seseorang menjadikan dirinya pagar penghalang dari tegaknya agama Allah dan RosulNya, meskipun nasab yang tinggi, harta yang melimpah, status sosial yang bagus tetap berakibat sengsara di akherat. Dan dari sini, maka nyatalah bahwa wanita mempunyai peran penting di dalam membina keluarga dan masyarakat, maka musuh-musuh Islam berusaha merusak akhlak wanita muslimah dengan berbagai macam cara, ketika wanita muslimah rusak maka rusaklah keluarga dan masyarakat muslimin.

فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ

Yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. al-Lahab: 5)

Dahulu semasa hidupnya ummu Jamil mempunyai kalung dari perhiasan yang sangat elok, dia menyatakan bahwa kalungnya akan di jual untuk menghalangi dakwah Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam dan memusuhinya juga memusuhi kaum muslimin. Maka Allah menggantinya dengan kalung dari rantai neraka yang panjangnya 70 hasta, dan Allah kalungkan ke leher ummu Jamil ini sebagai siksaan buat dia dan suaminya.

Tatkala ummu Jamil mendengar surat ini, maka dia marah sejadi-jadinya. Dia mendatangi Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam yang saat itu beliau sedang duduk di masjidil harom bersama sahabatnya abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu dengan membawa batu besar, tatkala dia berdiri di depan Rosul dan abu Bakr seketika itu Allah mencabut penglihatannya sehingga dia tidak bisa melihat Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam yang dia lihat hanya abu Bakr, lantas dia bertanya kepada abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu: “hai abu Bakr mana temanmu itu (Rosulullah) ? Saya dengar dia menghinaku, demi Allah kalau saya mendapatkannya sungguh saya akan pukul mulutnya dengan batu ini” dan berlalulah dia.

Abu Bakr berkata kepada Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam: “wahai Rosulullah apakah dia tadi tidak melihatmu ?” Maka beliau menjawab: “dia tidak melihatku karena Allah telah mencabut pendangannya kepadaku”.

Senantiasa memohon kepada Allah agar penulis, pembaca dan kaum muslimin dan juga khususnya wanita muslimah agar selalu dilindungi dari mara bahaya yang menimpa baik dunianya maupun ukhrowinya.

Sumber:

  1. Tafsir ibnu Katsir
  2. Tafsir ibnu Sa’di
  3. tadabbur-alquran.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Syarat Mendapatkan Perlindungan Dengan Ta’awudz

0

Manusia telah Allah ciptakan dalam kondisi lemah, manusia membutuhkan perlindungan dari berbagai macam marabahaya, khususnya gangguan setan, Allah menegaskan dalam banyak ayat bahwa setan adalah musuh bagi manusia, Allah ta’aala berfirman :

إن الشيطان لكم عدو فاتخذوه عدوا

“Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian (manusia), maka anggaplah mereka (setan) sebagai musuh(mu)” (QS. Fatir: 6).

Berbeda dengan marabahaya yang ditimbulkan oleh manusia, Allah memerintahkan kita untuk membalas keburukan dengan setimpal atau dengan memaafkan, atau membalasnya dengan kebaikan, Allah ta’aala berfirman:

خذ العفوا وأمر بالعرف و أعرض عن الجاهلين

“Jadilah pemaaf dan perintahkanlah (manusia) untuk berbuat kebaikan, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh,” (QS Al-A’raf : 199).

Dan juga firman Allah ta’aala :

إدفع بالتي هي أحسن السيئة نحن أعلم بما يصفون

“Balaslah perbuatan buruk mereka dangan cara yang lebih baik, kami lebih mengtahui apa yang mereka sifatkan (kepada Allah),” (QS. Al Mu’minun : 96)

Maka jelaslah bagi kita siapa yang harus kita jadikan musuh, dan kepada siapa perlawanan kita tertuju, yaitu kepada syaithon.

Kita ketahui bahwa Ketika kita hendak membaca Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepadaNya, hal ini menunjukan bahwa kita sebagai manusia yang lemah bukanlah lawan tanding yang setara dengan setan, karena logikanya jika memang manusia mampu melawan setan dengan dirinya sendiri tanpa pertolongan dari Allah, Allah akan memerintahkan kita untuk melawan bukan berlindung, sehingga jelas bagi kita bahwa manusia bukanlah lawan tanding setan.

Allah ta’aala berfirman :

يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينزع عنهما لباسهما ليريهماسوآتهما إنه يراكم هو و قبيله من حيث لا ترونهم إن جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون

“Hai anak adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah  mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga,ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya, sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka, sesungguhnya kami telah menjadikan syaithan-syaithan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman, (QS. Al-A’raf : 27).

Maka satu-satunya jalan agar manusia dapat selamat dari syaithan adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah ta’aala.

Muncul pertanyaan yang sering dialami oleh kebanyakan kaum muslimin, mengapa saya sudah meminta perlindungan dengan ta’aawudz dengan berdoa, akan tetapi kita tetap  tidak dapat khusyuk Ketika membaca Al-Qur’an, Ketika shalat atau Ketika melaksanakan ibadah yang lainnya?, bukankah Allah menjanjikan perlindungan jika kita telah membaca ta’aawudz!

Sejarah membuktikan bahwa ada seseorang yang meminta perlindungan dan Allah benar-benar memberikan perlindungannya, Allah ta’aala berfirman :

فلما وضعتها قالت ربي إني وضعتها أنثى و الله أعلم بما وضعت و ليس الذكر كالانثى وإني سميتها مريم و إني أعيذها بك و ذريتها من الشيطان الرجيم

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata : Ya tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak Perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak Perempuan, sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada engkau daripada syaitan yang terkutuk”, (QS. Ali Imran : 36).

Allah ta’aala benar-benar menjaga anak dari isteri Imran yaitu Maryam, bahkn Allah mengirimkan seorang nabi yaitu Zakariyya sebagai pelindungnya.

Maka boleh jadi doa perlindungan yang kita panjatkan belum kiat renungkan makna dan kandungannya, kita masih lalai dalam berdoa, hanya sebatas pengucapan lisan tanpa diiringi keikhlasan hati.

Kata أعوذ diambil dari kata الستر yang bermakna tirai, maka Ketika kita mengucapkan ta’aawudz kita harus berada dibalik tirai aturan Allah, karna jika kita melangkah maju dan menghiraukan tirai aturan Allah kita langsung berhadapan dengan syaitan, yang Allah perintahkan untuk meminta perlindungan kepadanya, bukan melawannya, atau kita akan kalah.

Makna kedua adalah لزوم المجاورة “senantiasa mendekat” kita harus senantiasa berusaha mendekat dengan cara berdzikir mengingatNya, beribadah shalat, membaca Al Qur’an memanjatkan doa, dan ibadah lainnya.

Maka berbicara tentang ta’aawudz bukan hanya sekedar membacanya, akan tetapi berusaha mendekat dan berlindung di balik tirai aturan Allah, jika kita maju dan menghiraukan tirai aturan Allah dan menjauh maka bersiaplah menghadapi syaitan seorang diri.

Mudah-mudahan Allah memberkahi coretan ini, wallahu a’lam bish-shawaab.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim

0

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لآ إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا.

قال الله تعالى: {يآأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون}

{يآأيها الذين الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تسائلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً}

{ يآأيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا. يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما}

أما بعد

فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Jama’ah, kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala

Alhamdulillah wa syukrulillah, dengan sangat gembira dan wajah berseri-seri kita bisa berkumpul di tempat ini untuk melakukan ibadah jumat sebagai tanda sukur kita kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dzat yang telah mengaruniakan kepada hambanya nikmat yang begitu banyak yang tidak dapat dihitung dengan bilangan angka. Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman :

” Dan jika kalian menghitung nikmat Allah Subhânahû wa Ta’âla maka kalian tidak dapat menghitungnya.”

Dan pada hari ini pula, kami mewasiatkan kepada diri kami sendiri dan kepada hadirin untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla dengan cara melakukan ketaatan yang Allah Subhânahû wa Ta’âla dan Rasul-Nya perintahkan dan menjauhi apa yang Allah Subhânahû wa Ta’âla dan Rasul-Nya larang. Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.”

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم

“Segala yang kularang maka jauhilah sejauh-jauhnya dan segala yang kuperintahkan maka jalankanlah sepenuh kemampuan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Jama’ah, kaum muslimin rahimakumullah

Sesungguhnya orang-orang yang berhasil, sukses dan beruntung di dunia dan akhirat adalah dengan mentaati Allah dan rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

..ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

“..Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan rasul-Nya maka sungguh mendapatkan keberuntungan yang besar.” (QS. al-Ahzab: 71).

Keberuntungan, kesuksesan, keberhasilan dan kejayaan bukanlah dengan harta yang melimpah, kendaraan mewah dan rumah megah tanpa sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) terhadap perintah dan larangan Allah I dan rasul-Nya.

إنما كان قول المؤمنين إذا دعوا إلى الله ورسوله ليحكم بينهم أن يقولوا سمعنا وأطعنا وأولئك هم المفلحون

“Ucapan orang-orang yang beriman jika diajak berhukum kepada aturan Allah dan rasul-Nya di antara mereka adalah ucapan kami mendengar dan mentaati (perintah). Dan hanya merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. an-Nur: 51).

Orang-orang yang beruntung (dunia dan akhirat) hanyalah orang-orang yang memiliki prinsip, semboyan dan motto “sami’na wa atha’na” (dengar dan taat) terhadap peraturan Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Dengan itulah kita akan dimasukkan ke dalam surga dan akan dijauhkan dari neraka. Allah Ta’ala berfirman:

..فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز

“..Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh adalah orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 185).

Jama’ah, kaum muslimin rahimakumullah

Ketika menceritakan kisah qurban yang dilakukan oleh bapak para nabi, Allah Ta’ala berfirman:

رب هب لي من الصالحين. فبشرناه بغلام حليم. فلما بلغ معه السعي قال يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترى قال يا أبت افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء الله من الصابرين

Ibrahim berdo’a, “Wahai tuhanku, berikanlah anak yang shalih untukku. Lalu kami berikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyantun. Tatkala anak tersebut sudah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, aku menyembelihmu. Maka fikirkan bagaimana pendapatmu?’. Dia berkata, ‘Wahai bapakku, laksanakan apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah akan engkau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffat: 100 – 102)

Jama’ah, kaum muslimin rahimakumullah

Satu pelajaran penting dalam kisah ini adalah profil pemuda harapan al-Qur’an, itulah pemuda yang rela berkorban apa saja demi taat pada Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Pemuda tersebut rela berkorban sekalipun nyawa harus jadi taruhannya. Pemuda Isma’il ketika diberi tahu oleh ayahnya bahwa dia akan disembelih, pemuda ini tidak meminta waktu kepada ayahnya untuk berfikir beberapa hari. Akan tetapi pada saat itu juga pemuda Isma’il ini memberikan jawaban tegas “Wahai bapakku laksanakan perintah yang diberikan kepadamu”, Allahu akbar, Subhanallah sungguh suatu sikap yang sangat luar biasa bagi seorang pemuda belia seusia beliau. Dia utamakan Allah I dan rasul-Nya di atas segalanya pada saat pemuda-pemuda lain seusia beliau asyik bermaksiat dan memuaskan hawa nafsu. Coba sedikit kita bandingkan dan kita renungkan antara pemuda Islam saat ini dengan pemuda Isma’il. Pemuda kita saat ini asyik dengan huru-hara, hidup hedonis, memuaskan syahwat perut dan sedikit di bawah perut. Betapa jauh perbedaan antara keduanya. Lalu di manakah pemuda-pemuda Islam semacam pemuda Isma’il atau yang sedikit mirip dengan beliau?? Tentunya Ismail jadi seorang laki-laki yang sejati karena keberhasilan ayahnya dalam mendidik dan membesarkannya sekalipun ia dibesarkan di tempat yang sangat tandus dan tidak ada tanaman di sekelilingnya. Sebagaimana Allah Subhânahû wa Ta’âla  berfirman dalam surat Ibrahim ayat ke-37:

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman dekat rumah-Mu (Ka’bah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan mudah-mudahan mereka mau bersyukur.”

Dan ternyata doa nabi Ibrahim Alaihi Salam dikabulkan oleh Allah Subhânahû wa Ta’âla dan di hari ini pula kaum muslimin yang memiliki kesempatan dan taufik dari Allah Subhânahû wa Ta’âla bisa berkumpul di Mekah Al Mukarramah guna melaksanakan ibadah haji dan mereka yang sudah datang ke Mekah akan mengetahui bahwa doa Nabi Ibarahim benar-benar terkabulkan dimana mereka yang tinggal di negeri tersebut mendapat karunia yang banyak sekali dengan melimpah ruahnya buah-buahan dan rizki yang turun dari langit. Allah Subhânahû wa Ta’âla memberikan janji kepada orang-orang yang mau mengamalkan syariat Allah Subhânahû wa Ta’âla akan diberi karunia dari langit sebagaimana Firman-Nya dala surat Al-A’raf ayata yang ke-96 :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi mereka mendustakan ayat Kami, maa Kami siksa mereka disebabkan perbuatan yang mereka lakukan.”

Jama’ah, kaum muslimin rahimakumullah

Allah Ta’ala berfirman:

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب

“Dan takutlah kalian terhadap sebuah bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat dosa di antara kalian saja. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Itu siksa-Nya sangat keras.” (QS. al-Anfal: 25).

Ketika menjelaskan ayat ini, Imam Syaukani mengatakan, “Maksudnya hati-hatilah dengan bencana dengan tidak hanya menimpa orang yang berbuat maksiat saja, akan tetapi menimpa orang yang shalih dan orang yang tidak shalih. Dan juga, bencana tersebut tidak hanya menimpa orang yang sedang berbuat maksiat di antara kalian saja.”[2] Oleh karena itu Ibnu Abbas mengomentari ayat di atas dengan mengatakan, “Allah I memerintahkan orang-orang yang beriman agar tidak membiarkan kemungkaran di tengah-tengah mereka, jika tidak Allah akan meratakan siksa-Nya terhadap mereka.”[3] Selanjutnya Imam Syaukani mengatakan, “Terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskan bahwa jika umat ini tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar maka Allah akan meretakan siksa-Nya terhadap mereka.”[4]

Dalam hadits pun Nabi juga sudah menegaskan hal ini, beliau bersabda:

إن الناس إذا رأوا الظالم فلم يأخذوا على يديه أو شك أن يعمهم الله بعقابه.

“Sesungguhnya apabila orang-orang melihat orang berbuat maksiat namun mereka tidak menghalanginya maka Allah segera akan maratakan hukuman-Nya terhadap mereka.”[5]

إن الناس إذا رأوا المنكر ولا يغيرونه أو شك أن يعمهم الله بعقابه.

“Sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran dan tidak mengubahnya, maka Allah akan segera meratakan siksa-Nya terhadap mereka.”[6]

Jama’ah, kaum muslimin rahimakumullah

Begitu banyak ujian yang Allah Subhânahû wa Ta’âla berikan kepada kaum muslimin lalu apakah kita sudah merasa takut dan selamat dari adzab Allah Subhânahû wa Ta’âla ? dan seberapa besar peran yang kita lakukan untuk menyingkirkan kemaksiatan dan kemungkaran yang berada di sekeliling kita? Terkadang kita saksikan orang berbuat salah tanpa memegang beban bahwa itu adalah dosa dengan dalih ini merupakan kebebasan individu atau yang kadang sering kita dengar dengan istilah bebas berekspresi dan berinovasi, demikian pula bid’ah yang merajalela yang dilakukan sebagian kaum muslimin dengan alasan keuntungan harta atau melestarikan budaya. Berbagi bentuk kesyirikan merajalela, kekufuran dihidupkan dan dibanggakan bahkan mungkin dibela dengan sekuat tenaga dengan dalih devisa atau pariwisata. Apakah kita sudah merasa aman dari adzab Allah Subhânahû wa Ta’âla  ataukah kita akan menunggu bencana menimpa pada kita, wal ‘iyadu billah.

Jama’ah sekalian yang dirahmati oleh Allah.

Sebelum khutbah ini kami akhiri ada beberapa firman Allah Ta’ala yang ingin kami ingatkan kepada para muslimah. Firman Allah ini Allah Ta’ala tujukan kepada istri-istri Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebaik-baik teladan bagi wanita beriman. Sudahkah mereka meneladaninya?.

فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض وقلن قولا معروفا. وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى وأقمن الصلاة وآتين الزكاة وأطعن الله ورسوله..

“Janganlah kalian melembutkan ucapan kalian sehingga timbullah keinginan yang tidak-tidak dalam diri orang yang hatinya mengandung penyakit dan ucapkanlah ucapan yang baik. Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan jangan berdandan / bersolek dengan dandanan ala Jahiliyyah yang dulu. Dan tegakkanlah shalat, tunaikan zakat serta taatilah Allah dan rasul-Nya.” (QS. al-Ahzab: 32-33).

Sudahkah wanita-wanita kita meneladani prilaku istri-istri Nabi sebagaimana dalam ayat-ayat di atas? Ataukah kita akan rela  anak perempuan kita, kita perintahkan untuk  berjilbab sementara istri kita tidak mengenakannya. Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Kita berdoa dan meminta kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla  semoga Allah Subhânahû wa Ta’âla memudahkan langkah kita untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang Allah Subhânahû wa Ta’âla dan Rasul-Nya perintahkan. Dan tak lupa mari kita bersama-sama bermunajat kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla agar kita diberi yang terbaik, dan semoga Allah Subhânahû wa Ta’âla menerima qurban kita sebagai lamban ketaqwaan kita kepada-Nya. Dan tak lupa kita meminta dan memohon kepada Allah Subhânahû wa Ta’âla agar kita senantiasa diberi pemimpin-pemimpin yang terbaik yang bisa mengayomi masyarakat sehingga berdirilah negara baldatun tayyibatun wa rabbun gafur.

 

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد.

اللهم اغفرلنا ذنوبنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم.

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعة وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابة.

اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

 

[1] (Zaadul Ma’aad 1/431)

[2] (Fathul Qadir, 2/376).

[3] (Fathul Qadir, 2/377).

[4] (Fathul Qadir, 2/377).

[5] (Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Bakr, Shahi Jami’ no. 1973).

[6] (HR. Ahmad dari Abu Bakr, Shahih. Shahih Jami’ no. 1974).

donatur-tetap

Bersinar dengan Al-Quran Bag.2

0

Satu ayat yang merubah kehidupan secara total, satu cerita dari seorang mukminah yang dia berubah hidupnya dikarenakan satu ayat.

Seorang mukminah tersebut bercerita: Sudah tiga tahun lamanya saya bermaksiat kepada Allah, saya telah berusaha untuk bertaubat dan meninggalkan maksiat tersebut, tetapi saya tidak bisa meninggalkannya. Suatu hari saya duduk termenung dan menangis sambil berbisik kepada Allah minta ampunan dariNya, maka saya mendengar suatu ayat dan saya baca ayat itu hingga Allah melapangkan dadaku dengan ayat tersebut, dan dengan ayat tersebutlah berubah kehidupanku, yaitu ayat yang berbunyi:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS an-Nisa’: 108)

Saya bertanya kepada diriku sendiri dengan kejujuran: apakah saya tidak malu atau bisa menerima jika ayah dan ibuku melihatku dalam keadaan seperti ini ? Atau apakah ada seseorang di dunia ini yang seperti saya ? Jawaban dari pertanyaan itu saya jawab sendiri dari dalam lubuk hati “tidak dan seribu tidak”

Jika saya malu kepada hamba, kenapa saya tidak malu kepada pencipta hamba, sedangkan Dia selalu mengawasi hambaNya dan mengetahui segala sesuatu ?! Maka saya malu dari penglihatanNya sedang saya bermaksiat kepadaNya. Dari sejak itu saya bertekat untuk meninggalkan maksiat yang saya terjatuh kedalamnya. Siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah pasti Allah ganti dengan yang lebih baik, dengan karunia dari Allah dan dengan nikmatNya akhirnya saya bisa meninggalkan maksiat itu, dan sekarang saya menikmati kebahagiaan hidup dengan karunia Allah.

Sungguh betapa agungnya ayat al-Quran memberi dampak kepada jiwa seorang mukmin, setiap orang yang mentadabburi ayat selalu akan bertanya kepada dirinya sendiri “sudah berapa ayat yang saya baca dan sejauh mana dampak ayat tersebut ke dalam kehidupanku ?” setiap kali ada bisikan dan dorongan untuk melakukan kemaksiatan seakan-akan Allah berbicara kepada seorang mukmin yang mentadabburi ayatNya

أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ

“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?” (QS. al-Mukminun: 105)

Maka dengan seperti itu, dia bisa benar-benar meninggalkan kemaksiatan yang ingin dia lakukannya.

Inilah al-Quran yang setiap hari di baca, menjadi pelita yang menyinari kegelapan hawa nafsu, tidak ada seorangpun berhujjah kepada Allah kecuali telah ada bantahannya dalam al-Quran ini.

Cerita di atas hanya sebagai salah satu contoh nyata dari dampak al-Quran ke dalam kehidupan manusia, jika memang seseorang ingin merubah kehidupannya yang penuh dengan kegelapan dia bisa merubahnya dengan sentuhan ayat-ayat al-Quran, bukankah Allah menyatakan dalam sebuah ayat:

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا

“Dan apakah orang yang sudah mati (dalam kekufuran dan kemaksiatan) kemudian dia Kami hidupkan (dengan ilmu, iman dan ketaatan) dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (QS al-An’am: 122)

Selalu berdoa semoga dengan al-Quran Allah meninggikan derajat kita, dan tidak membinasakan karena dosa-dosa atas kelalaian kita… Aamiiin.

Sumber : Kitab Tsalaatsuuna Majlisan fit Tadabbur

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap