Home Blog Page 3

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.5

0

Pada artikel lanjutan ini kita akan membahas Respon para sahabat terhadap larangan meninggikan suara di hadapan Nabi ‘alaihis shalatu was salam dan hukum yang terdapat didalamnya.

Para sahabat Nabi merupakan suri tauladan terbaik yang harus diikuti setelah Nabi ‘alaihis sholatu was salam dalam menerapkan syareat Islam, dalam menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan dalam hal kecepatan merespon panggilan Allah dan Rasul-Ny, Berikut ini sebagian respon para sahabat terhadap apa yang disebutkan dalam ayat 2 surah Al-Hujurat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suarabkalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amal kalian, sedangkan kalian tidak menyadari”. (QS. Al-Hujurat: 2)

Berikut respon dari sebagian sahabat:

  1. Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu berkata: tatkala diturunkan ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi”

Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Dzat yang menurunkan Kitab kepadamu, aku tidak akan berbicara kepadamu kecuali dengan berbisik.” (HR. Hakim dalam kitab mustadrok).

  1. Apa yang dilakukan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika turun ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi”

Sahabat Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma berkata: Umar tidak memperdengarkan suaranya kepada Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam hingga beliau menanyakannya. HR. Bukhori.

  1. Apa yang dilakukan oleh sahabat Tsabit bin Qois radhiyallahu ‘anhu tatkala turun ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi”

Beliau adalah orang yang memang suaranya keras, beliau berkata: “Akulah orang yang meninggikan suara di atas suara Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam; amalku sia-sia. Aku termasuk penghuni neraka”. Ia duduk dengan sedih di antara keluarganya, dan Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam mencarinya. Maka sebagian sahabat datang menemuinya dan berkata: Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam mencarimu, ada apa denganmu? Ia berkata: “Akulah orang yang meninggikan suara melebihi suara Nabi ‘alaihis shalatu was salam dan berbicara keras kepadanya. Amalku sia-sia; aku termasuk penghuni neraka.” Maka mereka pun pergi menemui Nabi ‘alaihis sholatu was salam dan mereka pun menceritakan kepada Nabi ‘alaihis sholatu was salam apa yang telah dikatakannya, lalu beliau menjawab: “Tidak, bahkan dia termasuk penghuni surga.” HR. Ahmad.

Hukum yang dapat diambil dari ayat:

  1. Kehormatan Nabi ‘alaihis sholatu was salam ketika wafat tidak berubah dengan kehormatan beliau di saat masih hidup, begitu pula kemuliaan sabdanya yang diriwayatkan sama kemuliaannya dengan sabdanya sewaktu masih dapat didengarkan, dari sisi wajibnya diam dan mendengarkannya dengan seksama, tidak boleh meninggikan suara ketika dibacakan sebuah hadits, sebagaimana tidak boleh pula berpaling darinya. Hal ini berdasarkan firman Allah:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al ‘A’raf: 204)

Sabda Nabi ‘alaihis sholatu was salam termasuk wahyu dari Allah, dia mempunyai kemuliaan sebagaimana kemuliaannya Al-Quran.

  1. Ketika menyebut nama Nabi ‘alaihis sholatu was salam, maka tidak diperkenankan menyebut nama langsung, tetapi dengan nama status, seperti Nabiyullah atau Rasulullah.

Panggilan kepada beliau hanya diperbolehkan sewaktu beliau masih hidup, adapun setelah wafat maka tidak diperbolehkan, seperti apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang memanggil-manggil beliau ‘alaihis sholatu was salam, dengan mengucapkan “Ya Rasulallah ya Rasulallah…”, padahal beliau telah wafat.

  1. Larangan meninggikan suara di sisi Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam ini bukan meninggikan dalam rangka merendahkan dan menghina beliau ‘alaihis sholatu was salam, karena hal itu menyebabkan pelakunya menjadi kafir atau keluar dari agama, tetapi larangan meninggikan suara di sisi Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam bagi mereka orang-orang mukmin yang berbicara keras tanpa ada rasa merendahkan atau menghinakan beliau, untuk supaya lebih beradab kepadanya.

Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, B.A, M.A

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Lima Nasehat Menjelang Ramadhan

0

Khutbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Khotib mewasiatkan kepada diri khotib pribadi dan jamaah sekalian agar kita semua senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena hanya dengan takwalah seseorang memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat. Takwa artinya seseorang menaati apa yang Allah perintahkan dengan semaksimal kemampuannya. Dan menjauhi segala yang Allah larang tanpa terkecuali.

Kaum muslimin rahimakumullah, hari-hari terus berlalu—betapa cepatnya! Bulan-bulan pun silih berganti—betapa singkatnya! Kini telah menyongsong kita sebuah musim yang agung, bulan yang mulia, tamu yang tercinta dan agung kedudukannya. Dalam beberapa waktu lagi, bulan Ramadhan yang penuh berkah akan datang kepada kita dengan suasananya yang harum, hari-harinya yang bercahaya penuh keberkahan, dan malam-malamnya yang gemerlap penuh kemuliaan. Sungguh sebuah kesempatan yang mulia; pada bulan itu jiwa-jiwa menjadi jernih, ruh-ruh menjadi suci, pintu-pintu surga dibuka, rahmat diturunkan, derajat diangkat, kesalahan diampuni, dan dosa-dosa dihapuskan. Maka segala puji dan syukur bagi Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tiada henti.

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan yang durhaka dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan; barang siapa terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan yang besar).” (HR. an-Nasa’i dan Ahmad).

Dalam mempersiapkan diri menyambut bulan ramadhan khatib mewasiatkan beberapa hal, yaitu”

Pertama, Luruskan Niat

Tanamkanlah niat yang baik sejak sekarang untuk menjalani Ramadhan dalam keadaan yang diridhai Allah. Niat adalah dasar dari setiap amal, bahkan niat seorang mukmin lebih dalam daripada amalnya. Imam Ahmad rahimahullah pernah berwasiat kepada putranya:

 يا بني انو الخير فإنك لا تزال بخير ما نويت الخير

“Wahai anakku, niatkanlah kebaikan, karena engkau akan senantiasa berada dalam kebaikan selama engkau meniatkan kebaikan.”

Maka, seperti apakah niatmu menghadapi Ramadhan sejak saat ini? Apa yang engkau bisikkan kepada dirimu? Bagaimana gambaran siang dan malammu nanti? Apa yang Allah lihat dalam hatimu sekarang? Tekad untuk semakin dekat kepada-Nya? Tekad untuk mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali? Tekad untuk tidak meninggalkan shalat berjamaah walau sekali pun selama Ramadhan? Tekad untuk tidak menyia-nyiakan shalat tarawih? Ataukah Allah melihat kelalaian dan kesia-siaan dalam hatimu atau bahkan rencana untuk menghabiskan waktu dengan mengikuti sinetron dan program yang tidak bermanfaat yang justru menjadi penghalang dari kedekatan dengan Allah, memutuskanmu dari ruhaniyah puasa, kenikmatan, dan manisnya ibadah?

Kedua, Memperbanyak Taubat

Memperbanyak taubat dan istighfar menjelang datangnya bulan Ramadhan merupakan hal yang sangat dianjurkan. Rahasia di balik kebutuhan ini adalah karena Ramadhan merupakan bulan penuh kemuliaan, dan kemuliaan yang paling agung adalah ketika Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya kebebasan dari api neraka. Sementara itu, dosa dan maksiat merupakan sebab terbesar yang menghalangi seorang hamba dari taufik, kebaikan, dan kemuliaan dari Allah Ta‘ala.

Oleh karena itu, renungkanlah doa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam ketika beliau memohon kemuliaan yang besar kepada Allah, yakni kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelahnya. Beliau berdoa:

 رب اغفر لي وهب لي ملكاً لا ينبغي لأحد من بعدي

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku.” (QS. Shad: 35).

Sebelum memohon kemuliaan berupa kerajaan yang agung, beliau terlebih dahulu memohon ampunan kepada Allah, karena beliau mengetahui bahwa kemuliaan tersebut tidak akan diraih kecuali setelah dosa-dosanya diampuni.

Di antara kemuliaan terbesar Ramadhan adalah karunia ruhaniyah yang dirasakan seorang hamba, berupa manisnya bermunajat bersama Al-Qur’an dan kenikmatan berinteraksi dengannya. Namun, kenikmatan itu tidak akan diraih oleh hati yang terluka dan terbebani oleh dosa dan kesalahan. Dosa-dosa dapat menghalangi akal dari tadabbur dan memahami Al-Qur’an, serta menutup hati dari kekuatan perenungan. Allah Ta‘ala berfirman:

لو نشاء أصبناهم بذنوبهم ونطبع على قلوبهم فهم لا يسمعون

“Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami timpakan kepada mereka akibat dosa-dosa mereka dan Kami kunci hati mereka, sehingga mereka tidak dapat mendengar.” (QS. Al-A’raf: 100)

Renungkanlah pula, wahai saudaraku, bagaimana orang yang ingin meraih kemuliaan Lailatul Qadar dan mendapatkan keutamaannya, diajarkan oleh Nabi ﷺ untuk banyak memohon ampunan dan pemaafan:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Seakan-akan maknanya, seseorang tidak akan dimuliakan dengan Lailatul Qadar kecuali setelah Allah memaafkan dan mengampuninya.

Ketiga, Memperbanyak Doa

Berdoalah kepada Allah Ta‘ala dan merendahkanlah diri di hadapan-Nya agar Dia menolong dan memberi taufik kepadamu dalam menjalani Ramadhan sesuai dengan apa yang Dia cintai dan ridhai. Sesungguhnya engkau tidak akan diberi keberhasilan dalam suatu kebaikan kecuali jika Allah menolongmu. Al-‘Izz bin ‘Abdussalam berkata:

والله ين يصلوا إلى شيء بغير الله فكيف يصلوا إلى الله بغير الله

“Demi Allah, mereka tidak akan mampu mencapai sesuatu tanpa pertolongan Allah; lalu bagaimana mungkin mereka dapat sampai kepada Allah tanpa Allah.”

Hakikat utama bukanlah sekadar sampainya jasad pada bulan Ramadhan, tetapi yang terpenting adalah Allah menyampaikan hatimu kepada keridhaan-Nya dan menjadikannya akrab dengan-Nya di bulan yang mulia ini. Betapa banyak orang yang sampai pada Ramadhan dengan tubuhnya, tetapi hatinya terputus dari Allah. Maka tidak ada taufik kecuali bagi orang yang diberi taufik oleh Allah.

Karena pentingnya doa dalam meraih taufik untuk mendekat kepada Allah, renungkanlah wasiat Rasulullah ﷺ kepada Mu‘adz bin Jabal, ketika beliau menganjurkannya untuk berdoa setiap selesai shalat:

 اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

Ya Allah, tolonglah aku agar dapat mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya

Keempat, Jauhi Teman Buruk

Waspadalah terhadap pergaulan dengan orang-orang malas dan penganggur yang dapat melemahkan semangatmu dalam beribadah di bulan Ramadhan. Tidak ada sesuatu yang lebih merugikan bagi orang yang sedang menempuh jalan menuju Allah selain kemalasan dan pergaulan dengan orang-orang yang lalai. Sebab, teman itu dapat menarik dan memengaruhi, dan seseorang biasanya mengikuti kebiasaan orang yang bersamanya.

Allah Ta‘ala telah memerintahkan makhluk terbaik, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, untuk bersama orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi orang-orang yang lalai. Allah berfirman:

 وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau (wahai Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya telah melampaui batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Dengan pergaulan yang baik, kalian akan saling mendorong untuk memanfaatkan setiap detik dan menit, serta saling mengingatkan untuk menjaga waktu-waktu yang berharga. Adapun orang-orang yang lalai, mereka mungkin hanya shalat tarawih sebentar, lalu begadang dengan hal-hal yang sia-sia hingga melalaikan shalat Subuh, sementara mereka mengira telah berbuat baik. Maka berhati-hatilah dari pergaulan seperti itu, dan bertemanlah dengan orang yang ucapannya mengingatkan kita kepada Allah Ta‘ala.

Kelima, Belajar Fikih Terkait Bulan Ramadhan

Pelajarilah fikih ibadah di bulan Ramadhan, atau yang bisa disebut sebagai fikih prioritas. Maksudnya, ada amalan-amalan utama yang lebih dianjurkan di bulan Ramadhan dibandingkan amalan lainnya. Termasuk kesempurnaan pemahaman agama adalah memberikan perhatian lebih kepada amalan-amalan tersebut, agar bulan Ramadhan tidak berlalu sementara kita sibuk dengan amalan yang mungkin baik, tetapi ada amalan lain yang lebih utama darinya. Siapa pun yang menelaah dalil-dalil tentang anjuran memanfaatkan Ramadhan akan mendapati bahwa amalan paling utama yang Allah dorong pada bulan ini antara lain:

1. Membaca Al-Qur’an.
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, Malaikat Jibril ‘alaihis salam turun pada bulan Ramadhan untuk mengulang dan mempelajari Al-Qur’an bersama Rasulullah ﷺ. Puasa dan Al-Qur’an adalah dua amalan yang saling berkaitan di dunia dan akhirat. Nabi ﷺ bersabda:

الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة ، يقول الصيام رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن منعته النوم بالليل فيشفعان

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat; puasa berkata: ‘Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.’ Al-Qur’an berkata: ‘Aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.’ Maka keduanya pun memberi syafaat.” (Hadis hasan menurut al-Albani).

2. Qiyam Ramadhan (shalat malam).
Keutamaannya sangat besar dan hampir sebanding dengan puasa, hanya saja puasa bersifat wajib. Untuk memudahkan manusia, disyariatkan shalat tarawih secara berjamaah. Termasuk karunia Allah, siapa yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala seperti shalat semalam penuh.

3. Sedekah dan memberi makan.
Ini termasuk amalan paling utama di bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin bertambah di bulan Ramadhan. Beliau bersabda:

 من فطر صائماً فله مثل أجره

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut.”

4. Doa.
Doa merupakan ibadah agung di bulan ini. Barangkali inilah rahasia disebutkannya ayat tentang doa di tengah ayat-ayat puasa. Nabi ﷺ bersabda:

 للصائم دعوة مستجابة وذلك عند فطره

“Orang yang berpuasa memiliki doa yang mustajab, yaitu ketika berbuka.”

5. Umrah.
Umrah di bulan Ramadhan memiliki keutamaan besar, bahkan pahalanya setara dengan haji bersama Nabi ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih dari beliau.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ

إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ

اللَّهمَّ نَسألُكَ حُبَّكَ ، وحَبَّ مَن يُحِبُّكَ ، وحُبًّا يُبَلِّغُني حُبَّكَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا ، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ

Referensi: https://saaid.org/mktarat/ramadan/723.htm

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.16): Nama Al- Hadi

0

Nama Allah ta’aala Al- Hādī (الْهَادِي) berarti: Dzat yang memberi petunjuk, membimbing hati dan amal hamba kepada kebenaran, iman, dan jalan yang lurus, dan memberikan petunjuk hidayahNYA kepada seluruh makhluk, sehingga mampu bertahan hidup dan terjaga dari keburukan.

Petunjuk (hidayah) dari Allah mencakup:

  • Hidayah ilmu dan penjelasan (mengetahui kebenaran),
  • Hidayah taufik (dimampukan untuk menerima dan mengamalkannya).
  • Hidayah yang kedua khusus milik Allah, tidak dimiliki oleh siapa pun selain-Nya.

Dalil dari Al-Qur’an tentang Allah sebagai Al-Hādī

وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan cukuplah Tuhanmu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.” (QS. Al-Furqan: 31)

وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj: 54)

Dan Allah ta’aala yang menciptakan makhluknya dan memberikan petunjuk kepada seluruh makhluknya berdasarkan firmanNYA

 الَّذِىۡ خَلَقَ فَسَوّٰى وَالَّذِىۡ قَدَّرَ فَهَدٰى

“Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya), yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” (QS. Al-A’la : 2-3)

Allah ta’aala memberikan hidayah petunjuk kepada makhluknya sehingga terciptanya suatuhal bermashlahat bagi manusia dan makhluk yang lainnya, dan memberikan petunjuk berupa penjelasan secara spesifik berupa Al-Qur’an, mengutus para Rasul, menerangkan perkara Halal dan Haram, menjelaskan seluruh perkara agama dari inti sampai dengan cabangnya, dan memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman agar terhindar dari neraka dan mampu memasuki surga, maka surat Al-A’la ke 3 mencakup seluruh perkara hidayah.

Berkata Ibnu ‘Athiyyah : hidayah yang terkandung dalam (فهدى) mencakup manusia dan hewan.

  1. Hidayah Umum (الهداية العامة)

Hidayah umum adalah: Petunjuk Allah berupa penciptaan, naluri (insting), dan kemampuan dasar yang Allah tanamkan pada seluruh makhluk agar dapat bertahan hidup dan menjalankan fungsi penciptaannya.

Hidayah ini mencakup Manusia (beriman maupun kafir) Hewan Bahkan tumbuhan dan benda langit (masing-masing sesuai ketetapan Allah).

Dalil Al-Qur’an: Hidayah Umum bagi Seluruh Makhluk.

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

“(Musa) berkata: Tuhan kami adalah Dzat yang memberi kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian Dia memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 50)

Insting bertahan hidup

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah…” (QS. An-Nahl: 68)

Wahyu di sini bukan wahyu syariat, tetapi ilham dan insting yang mengarahkan lebah membuat sarang, mencari makanan, dan menghasilkan madu.

  1. Hidayah Irsyād Adalah Petunjuk berupa penjelasan, pengarahan, pengajaran, dan penyampaian kebenaran agar seseorang mengetahui jalan yang benar.

Ciri utama hidayah irsyād:

Berupa ilmu dan penjelasan Bisa dilakukan oleh para nabi, ulama, da’i, dan orang tua

Tidak menjamin diterimanya kebenaran, karena penerimaan adalah hidayah taufik

Karena itu, seseorang bisa tahu kebenaran tetapi tidak mengamalkannya.

Kaum Tsamud: diberi petunjuk tapi memilih kesesatan

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ

“Adapun kaum Tsamud, telah Kami beri mereka petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk.” (QS. Fussilat: 17)

Ayat ini sangat tegas mereka sudah diberi hidayah, tetapi sengaja memilih kesesatan.

  1. Hidayah Taufīq Adalah Petunjuk Allah yang menanamkan iman di dalam hati, membuka dada untuk menerima kebenaran, dan memampukan hamba untuk mengamalkan ketaatan serta meninggalkan maksiat.

Hidayah ini bukan sekadar tahu, tetapi: menerima kebenaran, mencintainya, mengamalkannya secara konsisten.

Dan hidayah taufiq hanya milik Allah semata, tidak bisa diberikan oleh nabi, wali, atau siapa pun.

Dalil Al-Qur’an: Hidayah Taufiq Milik Allah bahkan Nabi ﷺ tidak mampu memberi hidayah taufiq

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Allah melapangkan dada orang yang diberi taufiq

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk Islam.” (QS. Al-An‘am: 125)

Kelapangan dada adalah tanda utama hidayah taufiq.

Hidayah taufiq adalah karunia murni

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya kalian termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 64)

Semoga Allah memberikan manfaat dan keberkahan dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Al-Wahhaab di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala.

Oleh : Badruz Zaman, Lc

donatur-tetap

Ketika Al-Quran Berbicara Tentang Dunia

0

Sering kali kita merasa bahwa hidup ini masih sangat panjang. Rencana-rencana besar kita susun, namun kerap kali sirna oleh kematian yang mengejar dan mendahului. Jika kita menilik kembali pada Al-Qur’an dan Hadits, kita akan tersadar bahwa dunia ini tak lebih dari sekadar perhentian sejenak. Hal ini mengingatkan agar kita lebih bijak memanfaatkan waktu dan menyusun skala prioritas beramal dalam hidup.

Realita Umur Manusia: 60 Sampai 70 Tahun

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran nyata mengenai rata-rata usia umat beliau. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali dari mereka yang melampaui itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550 dan Ibnu Majah no. 4236)

Angka ini sangatlah singkat jika dibandingkan dengan fase perjalanan kita selanjutnya. Bayangkan, setelah masa yang pendek ini, kita akan memasuki alam Barzah yang bisa memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun hingga kiamat tiba. Belum lagi dahsyatnya hari kiamat itu sendiri, ditambah Allah menjelaskan perbedaan sangat jauh antara waktu di dunia dan di akhirat.

كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“… yang kadarnya (satu hari) adalah lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij ayat 4)

Maka, sungguh sangat merugi jika kita menghabiskan seluruh energi hanya untuk masa yang 60–70 tahun, namun melalaikan masa yang abadi dan tak berujung kelak di akhirat.

Dunia Hanyalah Tempat Berteduh Sejenak

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling memahami hakikat kehidupan. Beliau memandang dunia bukan sebagai tujuan, melainkan sekadar sarana. Suatu ketika, beliau tidur di atas sebuah tikar kasar yang meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Melihat hal itu, para sahabat merasa iba dan menawarkan untuk membuatkan kasur yang lebih empuk. Namun, jawaban beliau menjadi pengingat berharga bagi kita semua. Beliau bersabda:

مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apalah artinya dunia ini bagiku? Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini adalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat sejenak kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

Hakikat Dunia dalam Pandangan Nabi:

  • Status Kita sebagai ‘Rakib’ (Pengendara): Rasulullah ﷺ menggunakan diksi rakib untuk menegaskan bahwa kita hanyalah pengembara yang sedang melintas. Seorang musafir yang cerdas tidak akan menghabiskan waktu dan tenaganya untuk membangun rumah yang besar dan mewah di tempat persinggahan sementara.
  • Dunia sebagai Tempat Berteduh: Pohon hanya memberikan perlindungan sementara dari terik matahari. Begitu pula dunia; ia hanya sarana untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju akhirat.

Metode Al-Qur’an dalam Menjelaskan Hakikat Dunia

Meskipun kita tahu dunia itu singkat, manusia sering kali terlena oleh harta, kekayaan, kesenangan, kesehatan, dan jabatan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menggunakan beberapa metode dalam Al-Qur’an untuk menegaskan hakikat dunia:

  1. Penamaan “Dunia” (الدنيا)

Secara bahasa, dunia mengandung makna kerendahan  (الداني)dan kedekatan  الدنو)

Ibnu Faris menjelaskan dalam kitab monumental beliau, Mu’jam Maqoyis Al-Lughah:

(دَوَنَ) الدَّالُ وَالْوَاوُ وَالنُّونُ أَصْلٌ وَاحِدٌ يَدُلُّ عَلَى الْمُدَانَاةِ وَالْمُقَارَبَةِ

“(Dawana): Huruf Dal, Wawu, dan Nun adalah satu asal (akar kata) yang menunjukkan makna al-mudanah (kedekatan) dan al-muqarobah (hampir/dekat).”

Para ulama menjelaskan tentang penamaan dunia:

إنما سميت الدنيا دنيا لأنها أدنى من كل شئ، وسميت الآخرة آخرة لأن فيها الجزاء والثواب

“Sesungguhnya dunia dinamakan dunia karena ia lebih rendah daripada segala sesuatu, dan akhirat dinamakan akhirat karena di sanalah terdapat balasan dan pahala.”

Hal ini menunjukkan bahwa dunia dinamakan demikian karena waktu berakhirnya yang sangat dekat dan derajatnya yang rendah (hina) jika dibandingkan dengan akhirat yang mulia dan abadi.

  1. Dunia adalah Mata’ (متاع)

Allah mensifati dunia sebagai mata’, yakni sesuatu yang digunakan untuk bersenang-senang sementara kemudian akan habis atau berakhir. Ibnu Manzur (711 H), pakar bahasa Arab, menjelaskan dalam Lisan Al-Arab:

والمَتاعُ: كُلُّ ما انْتُفِعَ بِهِ إِلى حِينٍ

“Dan Al-Mata’ adalah segala sesuatu yang dimanfaatkan hingga waktu tertentu.”

Allah Ta’ala menjelaskan hal ini dalam firman-Nya :

وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

“…Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (mata’) di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-A’raf: 24)

Serta dalam ayat lain :

 فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“… Padahal kesenangan kehidupan dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)

  1. Dunia Bagaikan Bunga yang Cepat Layu (Zahrah)

Dalam menjelaskan hakikat perhiasan dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih diksi yang sarat akan peringatan

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Penggunaan kata “Zahrah” (زَهْرَةَ) mengandung rahasia balaghah:

  • Indah namun Rapuh: Bunga adalah simbol keindahan sempurna namun tidak kekal. Memikat mata, namun cepat layu dan rontok. Begitulah harta, jabatan, dan kesenangan.
  • Sebagai Ujian (Fitnah): Allah menyambung sebutan bunga dengan kalimat linaftinahum fiihi (untuk Kami uji mereka). Dunia hanyalah persinggahan yang penuh cobaan dan ujian, bukan tempat tinggal abadi.
  1. Dunia Hanyalah Permainan dan Senda Gurau (Al-Lahwu wa Al-La’ib)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

  1. Makna Al-Lahwu (Senda Gurau) Senda gurau adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari urusan yang lebih penting.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan:

 تَلْهُو بِهَا الْقُلُوْبُ، وَتَلْعَبُ بِهَا الْأَبْدَانُ

“Hati lalai karenanya, dan fisik bermain-main dengannya.”

  1. Makna Al-La’ib (Permainan): Kelelahan yang Sia-sia Imam Al-Qurthubi menyebutkan dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an: اللعب : ليس له حقيقة ولا ثبت “Permainan itu tidak memiliki hakikat (kebenaran yang hakiki) dan tidak memiliki ketetapan (sifatnya labil/tidak kekal).”

Dunia diibaratkan permainan anak-anak yang melelahkan fisik namun akan berakhir begitu saja ketika malam tiba. Demikian pula kesibukan manusia mengejar harta dan jabatan; semuanya akan terhenti saat maut menjemput.

  1. Urutan Fase Hidup dalam Surah Al-Hadid

Allah merinci fase ketertarikan manusia pada dunia

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, bermegah-megah antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyak harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20)

Ibnu Asyur dalam tafsirnya At-Tahrir wa at-Tanwir menjelaskan urutan psikologis manusia seiring bertambahnya usia dalam memandang dunia:

  • Permainan (La’ibun): Fase anak-anak. Fokus utama mereka hanyalah bermain secara fisik tanpa tujuan yang jauh ke depan.
  • Senda Gurau (Lahwun): Fase remaja. Mereka mulai menyukai hal-hal yang menghibur, obrolan kosong, dan aktivitas yang melalaikan hati dari tanggung jawab.
  • Perhiasan (Zinatun): Fase pemuda/dewasa. Pada usia ini, manusia sangat memperhatikan penampilan, pakaian, kendaraan, dan segala sesuatu yang memperindah citra diri di mata manusia.
  • Bermegah-megah (Tafakhur): Fase paruh baya. Manusia mulai bangga dengan kedudukan, jabatan, nasab, dan status sosial dalam persaingan dengan sesamanya.
  • Berlomba dalam Harta dan Anak (Takatsur): Fase orang tua. Di usia senja, orientasi manusia sering kali beralih pada upaya menumpuk aset dan membanggakan kesuksesan anak keturunannya sebagai bentuk simbol kesuksesan.
  1. Perumpamaan Hujan dan Tanaman

Allah memberikan analogi visual yang jelas tentang siklus kehidupan dunia bahwa semua yang hidup lambat laun akan sirna, sebagaimana dalam lanjutan Surah Al-Hadid: 20:

 كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا

“…seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini menggambarkan betapa cepatnya perubahan kondisi manusia:

  • Air Hujan & Tanaman Hijau: Menggambarkan masa muda yang sehat, kuat, penuh energi, senantiasa diliputi kekayaan dan kejayaan yang tampak “hijau” memukau.
  • Menjadi Kuning & Kering: Menggambarkan masa tua. Kekuatan fisik pudar, kesehatan menurun, dan kemegahan mulai ditinggalkan.
  • Menjadi Hancur (Huthaman): Menggambarkan kematian. Manusia akan mati dan jasadnya hancur kembali menyatu dengan tanah.

Hal ini mengingatkan kita tentang singkatnya hidup. Namun, singkatnya hidup bukan berarti kita harus meninggalkan dunia secara total, melainkan kita harus menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Gunakanlah waktu yang singkat ini untuk mencari bekal amalan sebanyak-banyaknya dengan membuat skala prioritas: dimulai dari melaksanakan amalan yang wajib, amal jariyah, amalan sunnah lainnya, serta menghindari perilaku zalim kepada orang lain.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia yang semu, dan menjadikan akhirat sebagai muara dari segala ikhtiar kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Jalan Menuju Kebahagiaan yang Hakiki

0

Teks Khutbah Jum’at versi PDF unduh disini

Khutbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah

Ketahuilah bahwa kehidupan yang baik dan kebahagiaan sejati tidaklah diraih dengan banyaknya harta, tidak pula dengan beragamnya kenikmatan dunia. Akan tetapi, kebahagiaan itu diperoleh dengan iman dan amal shaleh, serta keridhaan terhadap apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Allah Ta‘ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Kaum muslimin rahimakumullah

Kebahagiaan bukanlah terletak pada kemewahan, memiliki rumah mewah, banyaknya harta, atau tingginya jabatan duniawi. Namun kebahagiaan yang sesungguhnya adalah dalam ketaatan kepada Allah, senantiasa mengingat-Nya, dan bertawakal dengan sebaik-baiknya kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الدنيا عَرَضٌ حاضرٌ يأكل منه البرُّ والفاجر، وإنَّ الآخرة هي دار القرار

“Dunia adalah kesenangan sementara, yang dapat dinikmati oleh orang baik maupun orang jahat, sedangkan akhirat itulah negeri yang kekal.” (HR. Muslim no. 2957)

Renungkanlah wahai kaum muslimin, betapa banyak orang kaya yang memiliki harta dan istana, namun hidup dalam kegelisahan, kesempitan, dan kebingungan. Dan betapa banyak orang miskin yang tidak memiliki apa-apa selain sekadar kebutuhan hariannya, namun hidup tenang, lapang dada, dan tenteram; karena kebahagiaan adalah rahasia di dalam hati, tidak dapat dibeli dengan harta dan tidak pula diraih dengan syahwat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبّ، وَلَا يُعْطِي الدِّيْن إِلَّا مَنْ أَحَبَّهُ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّيْن فَقَدْ أَحَبَّهُ

“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan juga kepada orang yang tidak Dia cintai, tetapi Dia tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Maka barang siapa yang diberi agama oleh Allah, sungguh Allah telah mencintainya.” (HR. Tirmidzi no. 2325, hasan shahih)

Harta hakekatnya bukan hanhya perhiasan, namun juga merupakan fitnah dan ujian. Allah Ta‘ala berfirman:

 إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِيْناَر، تَعِسَ عبدُ الدِرْهَم، تَعِسَ عبدُ الخَمِيْصَةُ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian mewah; jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia murka.” (HR. Bukhari no. 2887)

Maka orang yang berbahagia adalah orang yang merasa cukup dengan rezekinya dan ridha terhadap apa yang Allah bagikan kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ الله بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 6448 dan Muslim no. 1054)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِن الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (Muttafaq ‘alaih)

Barang siapa ridha kepada Allah sebagai Rabbnya, kepada Islam sebagai agamanya, dan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabinya, maka sungguh ia telah merasakan manisnya kebahagiaan yang sejati. Allah Ta‘ala berfirman:

 الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra‘d: 29)

بارَك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم،

 أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أمَّا بعد:

Kaum muslimin rahimakumullah

Sikap qana‘ah dan ridha adalah sebab ketenteraman hati dan ketenangan jiwa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَ المَالُ الصَالِحُ لِلرَّجُل الصَّالِح

“Sebaik-baik harta yang baik adalah harta yang dimiliki oleh orang yang saleh.” (HR. Ahmad no. 17096, dishahihkan Al-Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

سَبَقَ فُقَرَاءُ المُهَاجِرِيْن الأَغْنِيَاء إِلَى الجَنّةِ بِخَمْسِمِائَة عَام

“Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin mendahului orang-orang kaya masuk surga selama lima ratus tahun.” (HR. Tirmidzi no. 2352, dishahihkan Al-Albani)

Hal itu karena mereka bersikap qana‘ah, sabar, dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan bagi mereka.

Namun hal ini bukan berarti meninggalkan usaha dan mencari rezeki. Akan tetapi hendaklah harta berada di tangan, bukan di hati; digunakan untuk ketaatan kepada Allah, bukan untuk bermaksiat kepada-Nya. Maka bertakwalah kepada Allah, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, berbuat baiklah kepada sesama, sambunglah tali silaturahmi, dan bantulah orang-orang lemah serta yang membutuhkan. Dengan itulah kehidupan menjadi baik dan kebahagiaan diraih di dunia dan akhirat.

Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan ketaatan kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan-Nya, menunaikan kewajiban, memperbanyak amalan sunnah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada sesama, serta menjauhi kemaksiatan dan kemungkaran. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  *  الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ  * لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih; (yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka kabar gembira di kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS. Yunus: 62–64)

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ

اللَّهمَّ نَسألُكَ حُبَّكَ ، وحَبَّ مَن يُحِبُّكَ ، وحُبًّا يُبَلِّغُني حُبَّكَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا ، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/0/180182/

donatur-tetap

Serial Keutamaan Surat dan Ayat: Al-Baqarah Bag.2

0

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan hadis-hadis yang memuat keuataman surat Al-Baqarah dengan kualitas sahih atau hasan. Insya Allah tulisan ini akan memaparkan keragaman keutamaan surat Al-Baqarah namun berdasarkan riwayat yang terputus sanadnya maupun daif.

Dipaparkannya keutamaan berdasarkan hadis lemah agar kita memiliki wawasan yang luas serta dapat melihat keluasan khazanah dalam materi ini.

Keutamaan Berdasarkan Isnad Baik namun Terputus

  1. Perbendaharaan dibawah ‘Arsy

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” إِنَّ اللَّهَ خَتَمَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ بِآيَتَيْنِ أُعْطِيتُهُمَا مِنْ كَنْزِهِ الَّذِي تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَعَلَّمُوهُنَّ وَعَلِّمُوهُنَّ نِسَاءَكُمْ ؛ فَإِنَّهُمَا صَلَاةٌ وَقُرْآنٌ وَدُعَاءٌ “.

حكم الحديث: رجاله ثقات غير أنه مرسل

Dari Abu Az Zahiriyyah dari Jubair bin Nufair bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menutup surah Al-Baqarah dengan dua ayat yang diberikan kepadaku dari perbendaharaan-Nya yang berada di bawah ‘Arsy, maka pelajarilah dan ajarkanlah kedua ayat itu kepada istri-istri kalian, sebab keduanya adalah salat, Al-Qur’an dan doa.” (HR. Ad-Darimi)[1]

Disebutkan bahwa perawi dalam hadis tersebut tsiqoh (‘adl dan dhabit) – memiliki kredibilitas yang baik dalam segi perilaku maupun kecerdasan intelektual, hafalan yang baik pula. Namun, dijelaskan pula bahwa hadis ini adalah mursal yaitu rangkaian sanadnya tidak mencantumkan perawi di tingkat sahabat.

  1. Al-Baqarah sebagai Penyempurna Al-Qur’an

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ : إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا، وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَإِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ لُبَابًا، وَإِنَّ لُبَابَ الْقُرْآنِ الْمُفَصَّلُ.

قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ : اللُّبَابُ : الْخَالِصُ.

حكم الحديث: إسناده حسن

dari Abdullah bahwa ia berkata, Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki pemimpin, sesungguhnya pemimpin Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah. Dan sesungguhnya setiap sesuatu memiliki inti dan inti Al-Qur’an adalah Al Mufashshal. Abu Muhammad berkata, Lubab berarti inti. (HR. Ad-Darimi)[2]

Hadis diatas memiliki kriteria sanad yang sahih, namun dalam sanadnya terhenti pada sahabat dan tidak menyebut secara implisit sabda Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, sehingga hadis ini tergolong mauquf.

  1. Mahkota di Surga

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَسْوَدِ قَالَ : مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُوِّجَ بِهَا تَاجًا فِي الْجَنَّةِ.

حكم الحديث: إسناده حسن

dari Abdurrahman bin Al Aswad ia berkata, Barang siapa yang membaca surah Al-Baqarah, maka ia akan diberi mahkota kelak di dalam surga. (HR. Ad-Darimi)[3]

Status hadis: sanad hasan namun atsar terputus

Keutamaan Berdasarkan Hadis Dhaif

  1. Kemuliaan bagi Pembaca dan Orang Tuanya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا وَهُمْ ذُو عَدَدٍ، فَاسْتَقْرَأَهُمْ، فَاسْتَقْرَأَ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مَا مَعَهُ مِنَ الْقُرْآنِ، فَأَتَى عَلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا، فَقَالَ : ” مَا مَعَكَ يَا فُلَانُ ؟ ” قَالَ : مَعِي كَذَا وَكَذَا وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ. قَالَ : ” أَمَعَكَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ ؟ ” فَقَالَ : نَعَمْ. قَالَ : ” فَاذْهَبْ فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ “. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ : وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا مَنَعَنِي أَنْ أَتَعَلَّمَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ إِلَّا خَشْيَةَ أَلَّا أَقُومَ بِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ فَاقْرَءُوهُ وَأَقْرِئُوهُ ؛ فَإِنَّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ، كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوحُ رِيحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ، كَمَثَلِ جِرَابٍ وُكِئَ عَلَى مِسْكٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus rombongan para sahabat dalam jumlah banyak, beliau meminta kepada mereka untuk membaca, beliau meminta setiap orang dari mereka untuk membacakan apa yang dia hafal dari Al-Qur’an, beliau datang kepada seseorang yang paling muda umurnya di antara mereka dan bertanya, “Apa yang kamu hafal dari Al-Qur’an wahai Fulan?” dia menjawab, “Saya hafal ini dan ini dan surah Al-Baqarah, ” beliau bertanya, “Apakah kamu hafal surah Al-Baqarah?” dia menjawab, “Ya, ” beliau bersabda kepadanya, “Pergilah dan kamu yang jadi imam bagi mereka, ”

Seseorang yang paling terkemuka di antara mereka berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada yang menghalangiku untuk mempelajari surah Al-Baqarah selain karena aku takut tidak dapat mengamalkannya,”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pelajarilah Al-Qur’an dan bacalah, karena perumpamaan Al-Qur’an bagi orang yang mempelajarinya kemudian membacanya seperti kantong yang penuh dengan minyak wangi, dimana wanginya semerbak ke setiap tempat, dan perumpamaan orang yang mempelajarinya kemudian tidur (tidak mengamalkannya) padahal Al-Qur’an ada di hatinya seperti kantong yang berisi minyak wangi namun terikat.”(HR. At-Tirmidzi)[4]

At-Tirmidzi mengatakan hadis ini berstatus hasan (baik), dan diriwayatkan pula dari Al-Laits bin Sa’d dari Said al-Maqburi dari Atha’ sahaya Abi Ahmad dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mursal dan tidak menyebut didalamnya dari Abu Hurairah. Beberapa ulama seperti al-Albani mendaifkan hadis ini dengan memasukkan dalam kitabnya ‘Daif at-Tirmidzi’.

Kita bisa berpegang pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam sahihnya dengan keumuman fadilah belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَن تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَهُ. قالَ: وأَقْرَأَ أبو عبدِ الرَّحْمَنِ في إمْرَةِ عُثْمانَ، حتَّى كانَ الحَجَّاجُ قالَ: وذاكَ الذي أقْعَدَنِي مَقْعَدِي هذا

‘Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.’ — (HR. Al-Bukhori)[5]

  1. Tuan Ayat-Ayat dalam Al-Qur’an

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامٌ، وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَفِيهَا آيَةٌ هِيَ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ، هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ “.

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَقَدْ تَكَلَّمَ شُعْبَةُ فِي حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ وَضَعَّفَهُ.

حكم الحديث: ضعيف

dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap sesuatu memiliki puncak, dan puncaknya Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah, di dalamnya terdapat ayat yang merupakan tuannya ayat-ayat dalam Al-Qur’an yaitu ayat kursi.”

Abu Isa (At-Tirmidzi) berkata, Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hakim bin Jubair, sementara Syu’bah mempermasalahkan tentang Hakim bin Jubair dan melemahkannya.” (HR. At-Tirmidzi)[6]

  1. Setan Keluar Sambil Terkentut-Kentut

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : مَا مِنْ بَيْتٍ يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ إِلَّا خَرَجَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضَرِيطٌ.

حكم الحديث: إسناده ضعيف

dari Abdullah ia berkata, Tidak ada satu rumah pun yang di dalamnya dibaca surah Al-Baqarah kecuali setan keluar darinya dengan terkentut-kentut. (HR. Ad-Darimi)[7]

Sanad hadis ini lemah, selain itu tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhenti pada perkataan sahabat. Sehinnga tidak bisa dikategorikan hadis yang diterima. Cukuplah bagi kita mengambil faedah riwayat Abu Hurairah dalam sahih Muslim yang menyebutkan setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah.

  1. Nama Allah yang Agung

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : قَرَأَ رَجُلٌ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ، فَقَالَ : قَرَأْتَ سُورَتَيْنِ فِيهِمَا اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ، الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

Dari Abdullah ia berkata, Ada seseorang membaca surah Al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran di samping Abdullah, lalu ia pun berkata, Engkau telah membaca dua surat yang di dalamnya terdapat nama Allah yang paling agung, yang apabila digunakan ketika berdoa pasti diperkenankan dan apabila digunakan ketika meminta pasti dikabulkan. (HR. Ad-Darimi)[8]

Kesimpulan

Hadis-hadis keutamaan dengan kualitas sahih maupun hasan telah mencakup secara global keumuman fadilah surat Al-Baqarah sehingga hadis daif hanya sebagai gambaran maupun tambahan informasi yang telah tercantum pada hadis sahih/hasan.

Garis besar keutaaman yang bisa kita pedomani adalah; setan lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, mendapat keberkahan, perlindungan dan syafaat di hari kiamat digambarkan sebagai lelaki pucat, awan, burung atau naungan besar serta pembaca maupun orang tuanya mendapatkan kehormatan.

[1] HR. Ad-Darimi no. 3433

[2] HR. Ad-Darimi no. 3420

[3] HR. Ad-Darimi no. 3421

[4] HR. At-Tirmidzi no. 2876

[5] HR. Al-Bukhori no. 5027

[6] HR. At-Tirmidzi no. 2878

[7] HR. Ad-Darimi no. 3418, 3422 dan 3437

[8] HR. Ad-Darimi no. 3436

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Hakekat Hamba dan Bahaya Syirik Modern

0

Hakikat Kedudukan Hamba adalah: Makhluk yang Lemah dan Butuh kepada Allah

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fāṭir: 15)

Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Allah mengabarkan bahwa seluruh makhluk membutuhkan-Nya dalam segala keadaan, sedangkan Dia tidak membutuhkan mereka sedikit pun.”

Kedudukan hamba pada asalnya adalah fakir, lemah, dan bergantung penuh kepada Allah.

Kedudukan Paling Mulia Adalah Ketika Seseorang mendapat gelar Hamba (‘Abd)

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam …” (QS. Al-Isrā’: 1)

Allah menyebut Nabi ﷺ dengan gelar ‘abd (hamba) pada saat kedudukan beliau paling mulia (Isra’ Mi’raj).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:

أشرف المقامات مقام العبودية

“Kedudukan yang paling mulia adalah kedudukan sebagai hamba (Allah).” (Majmū‘ al-Fatāwā)

Semakin sempurna kehambaan seseorang, semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah.

Agar bisa menjadi HAMBA seseoang harus mengakui kedudukannya sebagai makhluk yang Allah ciptakan, mengakui bahwa seluruh yang dia miliki Adalah anugrah pemberian Allah ta’aala dan Allah lah yang mengatur segala sesuatu untuknya diatas muka bumi ini.

Dan beribadah kepada Allah ta’aala dengan keikhlasan dan beriman terhadap seluruh nama-nama Allah dan sifat-sifatnyaNYA yang mulia.

Sebaliknya Kedudukan Terburuk Hamba: Ketika melakukan kesyirikan kepada Allah ta’aala.

Syirik adalah menyekutukan Allah dalam rubûbiyah, ulûhiyah, atau asma’ wa shifât-Nya, baik dalam bentuk keyakinan, ucapan, maupun perbuatan.

Kesyirikan merupakan pengkhianatan terbesar dalam kehidupan seseorang, yaitu keika dia berkhianat kepada Rabb yang telah menciptakannya, dan dia memilih sesembahan selain Allah ta’aala.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (QS. An-Nisā’: 48)

Beberapa Contoh Kesyirikan Moderen :

  1. Percaya Jimat, Azimat, dan Benda Bertuah

Contoh modern:

Memakai gelang kesehatan “anti bala”

Menyimpan batu akik, besi kuning, rajah digital

Stiker atau tulisan tertentu di HP atau kendaraan untuk penolak sial

  • Kesyirikannya: Menggantungkan perlindungan kepada selain Allah.

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barang siapa menggantungkan jimat, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad – shahih)

  1. Mendatangi Dukun, Paranormal, atau Peramal Online

Contoh modern:

Konsultasi “orang pintar” via WhatsApp

Ramalan nasib lewat aplikasi, TikTok, atau Instagram

Tarot, zodiac, weton digital

  • Kesyirikannya: Mengklaim mengetahui perkara gaib.

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)

“Barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad)

  1. Tawakal kepada Makhluk atau Sistem, Bukan kepada Allah

Contoh modern:

“Tenang, saya sudah punya orang dalam”

“Uang dan koneksi segalanya”

Yakin penuh pada asuransi, jabatan, atau teknologi tanpa melibatkan Allah

  • Kesyirikannya: Bergantung hati kepada selain Allah.

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal jika beriman.” (QS. Al-Mā’idah: 23)

  1. Riya’ dan Pencitraan Ibadah (Syirik Kecil)

Contoh modern:

Sedekah, shalat, umrah demi konten

Ibadah agar dipuji followers atau jamaah

  • Kesyirikannya: Menghadirkan selain Allah dalam tujuan ibadah.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil (riya’).” (HR. Ahmad)

  1. Fanatisme Berlebihan kepada Tokoh atau Ustadz

Contoh modern:

Meyakini ustadz tertentu tidak mungkin salah

Membela tokoh walau jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah

Menolak dalil karena “guru saya tidak begitu”

  • Kesyirikannya: Mengangkat makhluk setara dengan Allah dalam penetapan hukum.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا

“Mereka menjadikan ulama dan rahib sebagai tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31)

  1. Meminta kepada Orang Mati atau Wali

Contoh modern:

Berdoa di kuburan untuk rezeki, jodoh, jabatan

Menganggap wali bisa mengabulkan doa

  • Kesyirikannya: Ibadah doa dipalingkan kepada selain Allah.

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Janganlah kamu berdoa kepada siapa pun selain Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)

  1. Menghalalkan yang Haram karena Tekanan Zaman

Contoh modern:

Menganggap riba halal demi “realistis”

Mengikuti aturan manusia walau melanggar hukum Allah

  • Kesyirikannya: Menjadikan selain Allah sebagai penentu halal-haram.

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ

“Apakah mereka punya sekutu yang menetapkan agama selain Allah?” (QS. Asy-Syūrā: 21)

Syirik modern sering tersembunyi, tampak rasional, bahkan dibungkus agama dan teknologi. Karena itu para ulama menekankan:

اعرف الحق تعرف أهله

“Kenalilah kebenaran, niscaya engkau mengenal siapa yang benar.”

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Isra Mi’raj Bukti Keagungan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam

0

Khutbah Pertama

الحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْه، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن سلك من إخوانه من المرسلين، وصار على نهجهم، واقتفى أثرهم وأحبهم، وذبَّ عنهم إلى يوم الدين، وسلَم تسليمًا كثيرا، أما بعد:

أيها الناس فإني أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فاتقوا الله حق تُقاته ولا تموتُن إلا وأنتم مسلمون.

Kaum muslimin yang Allah rahmati..

Allah  Ta’ala telah memuliakan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasllam dengan berbagai kemuliaan dan mukjizat yang agung. Allah menurunkan kepadanya kitab terbaik, mengutusnya dengan syariat yang paling sempurna, dan di antara bentuk pertolongan Allah kepadanya adalah dengan memberinya satu tanda yang menjadi pembeda antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir yang membangkang, yaitu peristiwa Isra dan Mi‘raj: perjalanan beliau ke Baitul Maqdis terlebih dahulu, kemudian naik ke langit.

Peristiwa ini menampakkan keutamaan beliau dan kemuliaan yang Allah berikan kepadanya di atas para nabi dan umat-umat lainnya. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra’: 1)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diisra’kan tiga tahun sebelum hijrah, dari Makkah yaitu dari rumah Ummu Hani’ menuju Baitul Maqdis. Dalam peristiwa ini terdapat banyak hikmah, di antaranya agar tampak kepemimpinan dan keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam atas para nabi, ketika beliau menjadi imam bagi mereka semua dalam shalat. Juga agar tampak kejujuran beliau kepada penduduk Makkah ketika beliau menggambarkan Baitul Maqdis, padahal beliau belum pernah melihatnya sebelumnya.

Hikmah lainnya adalah bahwa Baitul Maqdis merupakan kiblat kaum muslimin pada masa itu, dan juga kiblat Ahlul Kitab sebelum kita. Maka Isra’ ke tempat itu lebih dahulu bertujuan untuk melembutkan hati mereka, agar mereka mau mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beriman kepada agama serta syariatnya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sebagai imam bagi para nabi di Baitul Maqdis, kemudian dimi‘rajkan ke langit bersama Jibril, pemimpin para malaikat. Ketika sampai di langit pertama, Jibril meminta izin, lalu dibukakan pintu. Ditanyakan: “Siapakah bersamamu?” Jibril menjawab: “Muhammad.” Ditanya lagi: “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab: “Ya.” Maka beliau pun masuk dan bertemu Nabi Adam ‘alaihis salam. Adam menyambutnya seraya berkata: “Selamat datang nabi yang shaleh dan anak yang shaleh.”

Kemudian beliau dinaikkan ke langit kedua dan bertemu Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya ‘alaihimassalam. Keduanya berkata: “Selamat datang nabi yang shaleh dan saudara yang shaleh.” Lalu beliau naik ke langit ketiga dan bertemu Nabi Yusuf ‘alaihis salam, kemudian ke langit keempat bertemu Nabi Idris ‘alaihis salam, sebagaimana firman Allah:

وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا*وَرَفَعْنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56–57)

Kemudian beliau naik ke langit kelima bertemu Nabi Harun ‘alaihis salam, dan ke langit keenam bertemu Nabi Musa ‘alaihis salam. Nabi Musa menangis ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallammelewatinya. Ditanyakan kepadanya: “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab: “Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus setelahku, dari umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada dari umatku.” Tangisan ini adalah tangisan ghibthah (kekaguman dan harapan), bukan tangisan hasad (dengki).

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dinaikkan ke langit ketujuh dan bertemu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang berkata: “Selamat datang nabi yang saleh dan anak yang saleh.” Adam dan Ibrahim menyebut beliau sebagai “anak” karena Adam adalah bapak seluruh manusia dan Ibrahim adalah bapak para nabi, sedangkan nabi-nabi lainnya menyebut beliau sebagai saudara yang saleh.

Setelah itu beliau dibawa ke Sidratul Muntaha, lalu dinaikkan hingga beliau mendengar suara pena-pena para malaikat yang mencatat takdir dari Lauhul Mahfuzh: takdir tahunan, harian, dan sepanjang umur. Allah berfirman:

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍ

“Setiap hari Dia dalam urusan.” (QS. Ar-Rahman: 29)

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dinaikkan hingga menghadap Allah Yang Maha Perkasa, Yang Mahatinggi di atas ‘Arsy-Nya. Allah berbicara langsung kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mewajibkan atas beliau shalat lima puluh waktu, kemudian Allah meringankannya menjadi lima waktu. Ini menunjukkan betapa agung dan mulianya shalat, karena ia diwajibkan tanpa perantara, langsung ketika Allah berbicara dengan Nabi-Nya.

Kaum muslimin yang Allah rahmati..

Seandainya shalat tetap lima puluh waktu, niscaya hanya sedikit orang yang mampu mengerjakannya. Padahal shalat kini hanya lima waktu sehari semalam, namun masih banyak yang melalaikannya. Masjid-masjid penuh pada hari Jumat dan hari raya, tetapi sepi pada shalat-shalat lainnya. Padahal yang mewajibkan shalat Jumat adalah Dzat yang sama yang mewajibkan seluruh shalat fardu.

Maka bertakwalah kepada Allah, agungkan syiar-syiar-Nya dan kewajiban-kewajiban-Nya. Ketahuilah bahwa shalat lima waktu diwajibkan saat mi‘raj Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Peristiwa Isra dan Mi‘raj adalah kemuliaan bagi Nabi kita dan kehormatan bagi umat ini. Di dalamnya terdapat tanda-tanda kebesaran Allah yang agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallammelihat Sidratul Muntaha, melihat Jibril dalam rupa aslinya, dan melihat berbagai tanda kebesaran Rabb-nya.

Di antara pelajaran Isra dan Mi‘raj adalah bahwa shalat merupakan kewajiban terbesar setelah tauhid. Barang siapa menjaga shalat, maka shalat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya pada hari kiamat. Dan barang siapa tidak menjaganya, maka ia akan dibangkitkan bersama Fir‘aun, Haman, dan Umayyah bin Khalaf.

Shalat lima waktu adalah tiang agama. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir. Rasulullah ﷺ bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Muslim no.82)

أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْم

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ عَلَىٰ إحسانه، والشكر له عَلَىٰ توفيقه وامتنانه، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إعظامًا لشانه، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الداعي إِلَىٰ رضوانه، صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ وعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ومن سلف من إخوانه، وسار عَلَىٰ نهجهم، واقتفى أثرهم، واتبعهم وأحبهم وذبَّ عنهم إِلَىٰ يوم رضوانه، وَسَلّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Makkah, beliau berdiri di hadapan manusia dan mengabarkan peristiwa Isra dan Mi‘raj. Orang-orang musyrik mendustakan dan mengingkarinya. Mereka meminta beliau menggambarkan Baitul Maqdis, lalu beliau menggambarkannya seolah-olah beliau sedang melihatnya. Namun mereka tetap tidak beriman.

Mereka kemudian mendatangi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk menggoyahkan imannya. Namun Abu Bakar berkata: “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya.” Sejak itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Wahai hamba-hamba Allah, Isra dan Mi‘raj adalah bukti ketinggian kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bukti bahwa Allah Mahatinggi di atas seluruh makhluk-Nya, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya.

Peristiwa Isra dan Mi‘raj tidak memiliki tanggal pasti yang sahih menurut para ulama. Maka tidak benar menjadikannya sebagai perayaan tahunan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tidak pernah merayakannya. Setiap ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ adalah mengada-ada.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاخْذُلْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ، اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْمَعْ عَلَى الْحَقِّ كَلِمَتَهُمْ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا وَوَالِدِينَا عَذَابَ الْقَبْرِ وَالنَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ؛ فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Referensi: https://www.alukah.net/sharia/0/166541/

donatur-tetap

Landasan Pendidikan Qurani dari Juz ‘Amma

0

Al-Qur’an bukan hanya kitab petunjuk dalam urusan ibadah, tetapi juga merupakan sumber pendidikan yang menyeluruh bagi manusia. Salah satu bagian Al-Qur’an yang sangat kaya dengan nilai-nilai pendidikan adalah Juz ‘Amma. Meski surah-surahnya relatif pendek, kandungan maknanya sangat mendalam dan menyentuh berbagai aspek pembentukan kepribadian manusia.

Juz ‘Amma berperan besar dalam proses penanaman iman sejak dini. Ayat-ayatnya tegas, lugas, dan menggugah hati, sehingga sangat efektif dalam membentuk fondasi keimanan, akhlak, dan kesadaran hidup seorang muslim.

Landasan pendidikan Qur’ani dalam Juz ‘Amma mencakup enam aspek utama:

  • I’tiqodiyyah atau Akidah
  • Ruhiyyah atau Spiritual
  • Fikriyyah atau Intelektual
  • Akhlaqiyyah atau Akhlak
  • Jismiyyah atau Jasmani
  • Ijtimaiyy’ah atau Sosial

Pendidikan Akidah: Fondasi Utama Kehidupan

Juz ‘Amma menegaskan pendidikan akidah melalui keimanan kepada Allah, hari akhir, perkara gaib, kenabian Nabi Muhammad ﷺ, serta qadha dan qadar. Penanaman tauhid menjadi poros utama pendidikan yang harus dipupuk sejak dini.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlāṣ: 1–2)

Tentang hari akhir, Allah Ta’alaberfirman:

كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا

“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut.” (QS. Al-Fajr: 21)

Iman kepada qadha dan qadar melahirkan keberanian dan keteguhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ

“Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan mampu kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan untukmu.” (HR. Tirmidzi no.2516)

Pendidikan Spiritual: Penyucian Ruh dan Jiwa

Pendidikan spiritual dalam Juz ‘Amma menekankan tazkiyatun nafs, ibadah, doa, dan ketergantungan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Kesucian dan bersihnya jiwa seorang muslim adalah hal yang fundamental, dengan bersihnya jiwa akan membimbing diri pada berbagai kebaikan yang banyak

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Itulah hati.” (HR. Bukhari no.52)

Pendidikan Intelektual: Menghidupkan Akal dengan Iman

Juz ‘Amma mengajak manusia untuk berpikir dan merenungi ciptaan Allah, hakikat diri, dan sejarah umat terdahulu. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” (QS. Al-Ghāsyiyah: 17)

Ayat-ayat tentang Maha Pentionya ALlah Ta’ala sangat patut untuk dipelajari dan direnungkan. Jangan sekali-kali meremehkan satu atau dua menit yang kita sisihkan untuk mentadaburi ciptaan Allah. boleh jadi dengan waktu yang sedikit tersebut iman kita akan meningkat dan semakin kokoh.

Pendidikan Akhlak: Buah dari Keimanan

Nilai akhlak dalam Juz ‘Amma sangat menonjol, seperti kesabaran, kejujuran, optimisme, dan kelembutan. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirāḥ: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no.1162)

Dalam hadis di atas dijelaskan pentingnya akhlak, Karena akhlak yang benar itu refeksi adalah dari iman yang ada dalam hati.

Pendidikan Jasmani: Menjaga Amanah Tubuh

Islam memerintahkan menjaga kesehatan jasmani. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

المُؤمِنُ القَوِي خَيْر وَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ, وَفِيْ كُلّ خَيْر

“Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. dan semuamukmin itu baik” (HR. Muslim no.2664)

Pendidikan Sosial: Membangun Masyarakat Beradab

Juz ‘Amma menanamkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kepedulian sosial. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Naḥl: 90)

Optimisme dan kebaikan sosial menjadi sarana melunakkan hati dan mempererat hubungan antarmanusia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

Kaum muslimin yang semoga senantiasa Allah tahmati, Juz ‘Amma menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak bersifat parsial, melainkan menyeluruh dan berkesinambungan. Ia membangun iman, membersihkan jiwa, mengarahkan akal, membentuk akhlak, menjaga jasmani, dan menata kehidupan sosial. Oleh karena itu, menjadikan Juz ‘Amma sebagai fondasi pendidikan baik di keluarga, sekolah, maupun pesantren merupakan langkah strategis dalam melahirkan generasi muslim yang beriman kokoh, berilmu, dan berakhlak mulia.

Referensi: Ma’alim at-Tarbiyyah al-Quraniyyah min Juz ‘Amma karya syaikh Khalid bin Muhammad Al-Bābithin

donatur-tetap

Sempurnanya Adab Menunjukkan Sempurnanya Iman

0

Islam adalah agama yang tidak hanya menata hubungan manusia dengan Allah (ibadah), tetapi juga hubungan manusia dengan manusia (mu’amalah), bahkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam syariat yang luas ini, adab (etika dan budi pekerti) memiliki kedudukan yang sangat agung. Para ulama menyebut adab sebagai mahkota iman, karena iman seseorang tidak akan sempurna kecuali ia menghiasi dirinya dengan adab yang mulia.

Sebaliknya siapa yang kehilangan adab, seakan dia kehilangan mahkota keimanannya, oleh karnanya kita akan membahas lebih dalam dengan izin Allah, tentang bagaimana kita seharusnya memandang kedudukan adab dalam kehidupan kita.

1. Panutan terbaik kita yang kita semua mengaku cinta kepadanya beliau Nabi ﷺ diakui oleh Allah memiliki akhlak yang paling agung

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini menjelaskan bahwa kesempurnaan risalah dibangun di atas kesempurnaan adab. Bila Rasulullah yang paling sempurna imannya memiliki akhlak paling sempurna, maka akhlak adalah indikator keimanan seseorang, maka kita hendaknya mengoreksi diri kita masing-masing, tentang bagaimana perilaku kita kepada sesama.

2. Kelembutan dan adab adalah tanda rahmat Allah kepada orang beriman

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau menjadi lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Kelembutan adalah sifat utama adab. Allah menyandarkan sifat ini sebagai rahmat—menunjukkan bahwa orang yang jauh dari adab jauh dari rahmat, dan orang yang dekat dengan adab dekat dengan rahmat.

Kemuliaan di hadapan Allah diukur dengan takwa, dan adab termasuk bagian dari takwa itu sendiri.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Takwa menurut tafsiran para ulama mencakup kesempurnaan amal, akhlak, dan adab. Karena itu, semakin tinggi takwa → semakin sempurna akhlak → semakin sempurna iman.

3. Hadits paling jelas: sempurnanya iman dilihat dari akhlaknya

الْمُؤْمِنُ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Ini adalah dalil paling tegas bahwa indikator kesempurnaan iman bukan pada banyaknya ibadah lahiriah saja, tetapi pada kesempurnaan adab.

4. Diantara tujuan Nabi ﷺ datang adalah untuk menyempurnakan akhlak

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Misi risalah yang begitu besar ini menunjukkan bahwa akhlak dan adab adalah inti dari keimanan.

5. Orang yang paling dicintai Nabi adalah yang paling baik adabnya

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Jika Nabi mencintai orang yang beradab mulia, maka Allah pun mencintainya. Ini memperkuat bahwa adab mulia adalah puncak iman.

Perkataan Para Ulama tentang adab dan keimanan

  1. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

“الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ، فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ.”

“Agama itu seluruhnya adalah akhlak. Maka siapa yang lebih baik akhlaknya darimu, ia lebih baik agamanya darimu.”

Menurut beliau, agama tidak bisa berdiri tanpa adab. Orang yang paling sempurna adabnya adalah yang paling sempurna imannya.

  1. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali

“وَلَا يَتِمُّ إِيمَانُ الْعَبْدِ حَتَّى يَحْسُنَ خُلُقُهُ.”

“Tidak akan sempurna iman seorang hamba sampai baik akhlaknya.” (Jami’ al-Ulum wal-Hikam)

Beliau menjelaskan bahwa adab adalah buah dari iman, dan iman yang benar pasti melahirkan akhlak mulia.

  1. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di

“كمال الإيمان يكون بكمال الأخلاق والآداب”

“Kesempurnaan iman terwujud dengan kesempurnaan akhlak dan adab.”

  1. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu

“تَأَدَّبُوا تَعْلُوا.”

“Beradablah kalian, niscaya kalian akan mulia.”

Mulia di sisi Allah dan manusia adalah hasil dari adab yang baik, yang berakar dari iman.

Mengapa Adab Menjadi Barometer Keimanan?

  1. Karena adab adalah buah dari keyakinan

Bila seseorang yakin Allah melihatnya, ia tidak akan berkata kasar, tidak akan sombong, tidak akan zalim, Iman yang benar akan melahirkan adab.

  1. Karena adab adalah cerminan isi hati, Hati yang penuh iman pasti lembut, penyabar, santun, tidak mudah marah. Bila hati rusak, adab akan rusak.
  2. Karena adab adalah bukti kejujuran iman, Banyak orang mengaku beriman, tetapi adabnya tidak menunjukkan demikian, karena itu Nabi mengatakan: “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.” Ini adalah adab sosial yang tinggi.
  3. Karena adab menghiasi seluruh ibadah, tanpa adab, ibadah tidak bernilai: Shalat tanpa kekhusyukan → kehilangan ruh

Ilmu tanpa adab → tidak bermanfaat

Dakwah tanpa adab → menjadi fitnah

Nikmat tanpa adab → menjadi siksa

Kesempurnaan iman tidak hanya diukur dengan banyaknya ibadah fisik, tetapi dengan kesempurnaan adab yang lahir dari hati yang penuh iman. Al-Qur’an, hadits, dan perkataan ulama semuanya sepakat bahwa adab adalah cermin dan indikasi tingginya iman seseorang.

Karena itu, para salaf sangat menekankan adab, hingga mereka berkata:

“Kami belajar adab selama 30 tahun, dan belajar ilmu selama 20 tahun.”

Adab adalah mahkota yang menghiasi seluruh amal dan menjadi tanda bahwa iman seseorang benar dan kokoh.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

donatur-tetap