Home Blog Page 2

Ramadhan Terlalu Berharga Untuk Hal yang Sia-Sia

0

Waktu adalah aset yang paling mahal dalam kehidupan seorang mukmin. Ia bukan sekadar deretan angka di kalender, melainkan modal utama yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah bahkan bersumpah demi waktu dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan urgensinya:

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1-2).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang surat ini:

لو تدبر الناس هذه السورة لوسعتهم

“Seandainya manusia benar-benar mentadabburi surat ini, niscaya surat ini akan mencukupi mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/499)

Ayat ini adalah pengingat keras bahwa tanpa iman, amal shalih, dan saling menasihati, setiap detik yang berlalu hanyalah kerugian yang menumpuk.

Kini, kita kembali berada di sebuah bulan yang penuh dengan keberkahan: Ramadhan. Ia adalah “musim panen” yang teramat singkat—hanya 29 atau 30 hari. Bayangkan, sebuah periode di mana pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079).

Ini adalah momentum emas bagi setiap jiwa yang rindu akan Rahmat serta ampunan untuk berlari sekencang mungkin menuju ridha-Nya. Namun, Mari sejenak kita bertanya pada diri sendiri dengan jujur: Akankah Ramadhan tahun ini hanya menjadi pengulangan rutinitas tahun-tahun sebelumnya?

Sangat disayangkan jika bulan yang mulia ini hanya menyisakan rasa lapar di siang hari dan dahaga di tenggorokan, tanpa ada setetes pun perubahan pada jiwa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan peringatan:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang berdiri (shalat malam), namun tidak mendapatkan dari qiyamnya kecuali begadang.”(HR. An-Nasa’i no. 3249 dan Ibn Majah no. 1690. Dishahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani)

Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi di musim penuh keberkahan; seperti orang kelaparan di tengah lumbung pangan, atau orang yang kehausan di tepi telaga yang jernih. Betapa merananya jika kesempatan terbentang luas, namun kita tak meraihnya. Mari kita tanamkan tekad dalam-dalam: Ramadhan ini terlalu mahal untuk disia-siakan, terlalu agung untuk dilewatkan tanpa perubahan.”

Hakikat Ramadhan: Sekolah Takwa, Bukan Sekadar Tradisi

Ramadhan bukan hanya acara tahunan yang identik dengan buka bersama atau suasana meriah. Ramadhan adalah sekolah ruhani untuk melatih kita menjadi hamba yang bertakwa.

Allah ﷻ berfirman dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ … لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Artinya, tujuan puasa adalah membentuk takwa — yaitu hati yang takut kepada Allah, bahkan saat sendirian. Kalau setelah berpuasa kita masih mudah bermaksiat ketika tidak ada yang melihat, berarti ada yang perlu kita perbaiki dalam puasa kita.

Selain itu, Ramadhan juga kesempatan besar untuk menghapus dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muhammad ibn Ismail al-Bukhari no. 38 dan Muslim ibn al-Hajjaj no. 760)

“Karena iman” artinya yakin bahwa puasa adalah perintah Allah.
“Mengharap pahala” artinya melakukannya hanya untuk Allah, bukan untuk dipuji atau sekadar ikut-ikutan.

Jebakan “Hal Sia-Sia” di Bulan Ramadhan

Sangat disayangkan jika puasa kita hanya berubah dari “tidak makan” menjadi “sibuk dengan ponsel”. Dalam Islam, ada musuh pahala yang sering tidak kita sadari, yaitu al-laghwu (hal-hal sia-sia).

Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Al-Tirmidhi no. 2317 dan Ibn Majah no. 3976)

Berkata Ibn Qayyim al-Jawziyya:

« فَهَذَا يَعُمُّ التَّرْكَ لِمَا لَا يَعْنِي مِنَ الْكَلَامِ، وَالنَّظَرِ، وَالِاسْتِمَاعِ، وَالْبَطْشِ، وَالْمَشْيِ، وَالْفِكْرِ، وَسَائِرِ الْحَرَكَاتِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، فَهَذِهِ الْكَلِمَةُ كَافِيَةٌ شَافِيَةٌ فِي الْوَرَعِ.

“Ini mencakup meninggalkan segala hal yang tidak berguna, baik berupa ucapan, pandangan, pendengaran, perbuatan tangan, langkah kaki, pikiran, maupun seluruh gerakan lahir dan batin. Kalimat ini sudah cukup dan sangat menyeluruh dalam menjelaskan makna wara’ (kehati-hatian dalam agama).” (Madarij al-Salikin, jilid 2, halaman 22.)

Kalau di hari biasa saja kita diperintahkan meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, maka di bulan Ramadhan perintah ini jauh lebih penting. Karena setiap detik di bulan ini sangat berharga.

Contoh kesia-siaan yang sering terjadi:

  • Terlalu lama bermain media sosial hanya untuk menunggu waktu berbuka.
  • Tidur berlebihan dari pagi sampai sore tanpa ibadah yang berarti.
  • Ghibah dan ucapan kasar, padahal sedang berpuasa.
  • Berbelanja atau berkumpul secara berlebihan sampai melupakan ibadah dan menghabiskan waktu tanpa nilai pahala.
  • Perdebatan sia-sia di dunia nyata maupun di kolom komentar yang hanya memancing emosi dan tidak membawa kebaikan.

Karena itu, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga diri dari dosa. Beliau bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Puasa bukanlah sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari perkataan sia-sia dan ucapan kotor.”(HR. Ibn Hibban no. 3479 dan Al-Hakim no. 1570)

Bahkan dalam peringatan yang lebih tegas, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap rasa lapar dan haus yang ia tahan.”
(HR.
Bukhari no. 1903)

Strategi Memuliakan Ramadhan & Bahaya Kehilangan Kesempatan

Mengetahui bahwa Ramadhan itu berharga saja tidak cukup. Kita perlu langkah nyata agar hari-harinya tidak terbuang sia-sia. Orang yang cerdas akan tetap menjalankan tugas dunia—bekerja atau belajar—namun memberi perhatian lebih untuk ibadah dan akhirat.

Beberapa amalan penting yang perlu diprioritaskan:

  • Perbanyak baca Al-Qur’an. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Jangan biarkan sehari pun berlalu tanpa tilawah. Lebih baik lagi jika disertai tadabbur atau menghafal walau sedikit.
  • Perbanyak sedekah. Terutama memberi makan orang berbuka. Pahalanya besar dan menjadi bukti kepedulian kita kepada sesama.
  • Hidupkan malam hari. Shalat Tarawih dan Tahajud adalah waktu terbaik untuk berdoa, memohon ampun, dan memperbaiki diri.
  • Jaga lisan dan akhlak. Hindari ghibah, dusta, dan perkataan kasar. Jadikan puasa sebagai latihan menjaga hati dan ucapan.
  • Perbanyak doa dan istighfar. Manfaatkan setiap waktu mustajab—terutama menjelang berbuka dan di sepertiga malam—untuk memohon ampunan dan kebaikan dunia akhirat.

Mengapa ini penting? Karena kehilangan momentum Ramadhan adalah kerugian besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Celakalah seseorang yang menjumpai Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan. (HR. Al-Tirmidhi no. 3545)

Bayangkan, berada di bulan penuh ampunan tetapi keluar darinya tanpa dosa yang dihapus—betapa besar kerugiannya.

Waktu tidak pernah kembali. Kita tidak tahu apakah masih akan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya, atau justru inilah Ramadhan terakhir yang Allah anugerahkan kepada kita. Karena itu, anggaplah ini Ramadhan perpisahan. Jangan biarkan kesibukan dunia dan hal-hal yang tidak bermanfaat merampas kesempatan emas untuk meraih Rahmat dan ampunan serta kemuliaan Lailatul Qadar.

Susunlah target yang jelas dan sungguh-sungguh: tingkatkan ibadah, perbanyak sedekah, dan bertekad memperbaiki diri. Ramadhan terlalu berharga untuk disia-siakan. Semoga kita keluar darinya sebagai hamba yang diampuni dosanya dan semakin kokoh takwanya. Aamiin.

Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Ramadhan Sebagai Madrasah Keimanan

0

Khutbah Pertama

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِضْمَارًا لِخَلْقِهِ لِيَسْتَبِقُوا إِلَى طَاعَتِهِ، وَفَرَضَ عَلَيْهِمُ الصِّيَامَ لِيُحَقِّقُوا تَقْوَاهُ وَخَشْيَتَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلَهٌ وَاحِدٌ أَحَدٌ فَرْدٌ صَمَدٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الْمُوَحِّدِينَ وَقُدْوَةُ الْعَابِدِينَ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, para sahabat Radiyallahu ‘Anhum, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Di mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Laksanakan segala perintah-Nya dan jauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan sunyi maupun ramai, dalam keadaan sempit maupun lapang.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Saat ini kita berada di dalam bulan Ramadhan yang mulia. Seringkali kita mendengar bahwa Ramadhan adalah Syahrut Tarbiyah (bulan pendidikan) atau sebuah madrasah bagi umat Islam. Namun, kurikulum utama apa yang sesungguhnya diajarkan di madrasah ini? Pelajaran terpenting yang sedang kita tempuh di bulan ini adalah pemurnian Tauhid dan pengokohan keimanan.

Puasa ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa adalah manifestasi tertinggi dari kejujuran iman seorang hamba kepada Tuhannya. Ibadah puasa memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tauhid, yaitu mengesakan Allah Ta’ala dalam niat, ibadah, dan tujuan hidup.

Setidaknya ada tiga aspek pendidikan Tauhid yang diajarkan oleh Ramadhan kepada kita:

Pertama: Ramadhan Mengajarkan Muraqabatullah (Merasa Diawasi Allah)

Ibadah puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Berbeda dengan shalat yang bisa dilihat orang gerakannya, atau sedekah yang bisa dilihat orang pemberiannya, atau haji yang bisa disaksikan orang prosesinya. Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala.

Seseorang bisa saja berpura-pura puasa di depan manusia, menahan makan dan minum saat berkumpul dengan orang banyak, namun saat ia sendirian di dalam kamar yang terkunci, siapa yang mencegahnya untuk meminum seteguk air? Padahal rasa haus sangat mencekik tenggorokannya. Tidak ada CCTV, tidak ada polisi, tidak ada istri atau anak yang melihat.

Yang mencegahnya hanyalah keimanan. Yang mencegahnya adalah keyakinan Tauhid bahwa Allah Subhaanahu Ta’ala Maha Melihat (Al-Bashir) dan Maha Mengetahui (Al-‘Alim).

Inilah hakikat Ihsan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadis Jibril ‘Alaihissalam:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika perasaan Muraqabatullah ini berhasil kita tanamkan selama 30 hari di bulan Ramadhan, maka lahirlah pribadi bertauhid yang tidak akan berani korupsi meski tidak ada audit, tidak akan berani berbuat maksiat meski sendirian, dan tidak akan mengambil hak orang lain meski ada kesempatan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Pelajaran Kedua: Ramadhan Membersihkan Hati d dari Noda Syirik Kecil (Riya’)

Salah satu penyakit yang merusak Tauhid adalah Riya’ (ingin dilihat dan dipuji manusia). Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya (pahalamya dilipatgandakan), kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari).

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan puasa adalah ibadah yang paling jauh dari sifat Riya’. Karena puasa tidak memiliki bentuk fisik yang bisa dipamerkan. Ramadhan melatih kita untuk Ikhlas, memurnikan tujuan hanya untuk Allah Subhaanahu Wata’ala.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”

Orang yang bertauhid murni tidak akan peduli dengan pujian atau cacian manusia. Fokus utamanya hanyalah keridhaan Allah Ta’ala. Jika di bulan Ramadhan kita mampu berpuasa dengan ikhlas, maka di bulan-bulan lainnya kita diharapkan mampu shalat, bekerja, dan beramal sosial dengan ikhlas pula.

Pelajaran Ketiga: Ramadhan Menguatkan Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah

Saat rasa lapar menyerang, kita menyadari betapa lemahnya kita. Kita sadar bahwa tubuh ini sangat bergantung pada seteguk air dan sesuap nasi. Ini mengingatkan kita pada Tauhid Rububiyyah, yakni keyakinan bahwa Allah Subhaanahu Wata’ala adalah satu-satunya Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki) dan Pemelihara kehidupan. Keangkuhan kita sebagai manusia runtuh seketika saat maghrib tiba, di mana seorang jenderal, pejabat, maupun orang kaya raya, semuanya tunduk menunggu rezeki dari Allah untuk berbuka.

Kemudian, Ramadhan juga menegakkan Tauhid Uluhiyyah (Pengabdian). Perhatikanlah, makanan yang ada di meja makan kita di siang hari bolong adalah makanan yang halal. Nasi itu halal, air itu halal, istri kita halal. Tetapi, mengapa kita tidak menyentuhnya?

Jawabannya adalah: Karena Allah Subhaanahu Wata’ala melarangnya di waktu tersebut. Kita taat mutlak. Kita tunduk patuh.

Jika terhadap yang halal saja kita mampu menahan diri karena perintah Allah Ta’ala, maka bagaimana mungkin seorang mukmin yang telah dididik oleh Ramadhan masih berani menyentuh yang haram? Bagaimana mungkin ia masih memakan riba, meminum khamar, atau memakan harta anak yatim?

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah

Ramadhan adalah bengkel hati untuk memperbaiki mesin Tauhid kita. Jika Tauhid kita benar, maka seluruh amal perbuatan kita akan lurus. Sebaliknya, jika Tauhid kita rusak, maka sia-sialah amal kita bagaikan debu yang beterbangan.

Mari kita manfaatkan sisa hari-hari di bulan Ramadhan ini untuk merenung, bermunajat, dan memperbaharui iman kita. Jangan biarkan Ramadhan berlalu hanya sebagai ritual menahan lapar tanpa membekaskan peningkatan kualitas keimanan di dalam dada.

Semoga Allah Ta’ala menerima puasa kita, meneguhkan Tauhid kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

(Khutbah Kedua)

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى مِنْ حَيْثُ أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah..

Di khutbah yang kedua ini, marilah kita kembali menyegarkan komitmen kita. Bahwa pendidikan keimanan yang kita dapatkan di bulan Ramadhan ini harus kita bawa keluar pasca Ramadhan. Tanda diterimanya amal kebaikan adalah munculnya kebaikan-kebaikan berikutnya setelah itu.

Orang yang bertauhid tidak akan menjadi “Hamba Ramadhan” yang hanya rajin ibadah di bulan puasa, tetapi ia akan menjadi “Hamba Allah” (Rabbaniyun) yang senantiasa menjaga keimanannya sepanjang tahun hingga ajal menjemput.

Ingatlah firman Allah Ta’ala:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajar).” (QS. Al-Hijr: 99).

 

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا وَتِلَاوَتَنَا، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِينَ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْكَرِيمِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

donatur-tetap

Masa Muda Bukanlah Sekadar Angka dalam Deretan Usia

0

Masa muda bukanlah sekadar angka dalam deretan usia, melainkan sebuah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya secara khusus. Dalam siklus kehidupan manusia, masa muda adalah “Puncak Kekuatan” yang diapit oleh dua fase lemah. Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rūm: 54)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di dalam kitab tafsirnya (Taisîr al-Karîm ar-Raḥmân) menjelaskan hikmah di balik ayat ini:

وَمِنْ حِكْمَتِهِ أَنْ يُرِيَ الْعَبْدَ ضَعْفَهُ، وَأَنَّ قُوَّتَهُ مَحْفُوفَةٌ بِضَعْفَيْنِ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ نَفْسِهِ إِلَّا النَّقْصُ، وَلَوْلَا تَقْوِيَةُ اللَّهِ لَهُ؛ لَمَا وَصَلَ إِلَى قُوَّةٍ وَقُدْرَةٍ

“Dan di antara hikmah Allah adalah Dia memperlihatkan kepada hamba-Nya kelemahannya; bahwa kekuatan manusia itu diapit oleh dua kelemahan; dan bahwa manusia tidak memiliki apa pun dari dirinya sendiri selain kekurangan. Seandainya bukan karena Allah yang menguatkannya, niscaya ia tidak akan sampai kepada kekuatan dan kemampuan.”

Ayat ini menegaskan bahwa masa muda adalah fase keemasan dalam kehidupan manusia. Jika diibaratkan matahari, masa muda laksana waktu zuhur, saat sinarnya berada pada titik paling terik dan terang. Pada fase inilah tenaga, semangat, dan peluang untuk beramal berada pada puncaknya, sehingga banyak hal dapat dilakukan dan diwujudkan.

Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah para pemuda bukan karena kedudukan atau jabatan mereka, melainkan karena kualitas iman, amal, serta keberanian dalam membawa perubahan dan menyebarkan kemaslahatan. Fase muda adalah fase ujian terberat sekaligus peluang pahala terbesar. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira mengenai kedudukan istimewa para pemuda taat di hari kiamat nanti:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …” (HR. Bukhari & Muslim)

Dinaungi oleh Allah Yang Maha Kuasa berarti mendapatkan perlindungan dan penjagaan yang sempurna, di saat seluruh manusia berada dalam ketakutan dan kepanikan yang luar biasa. Inilah balasan indah bagi seorang pemuda yang senantiasa patuh dan tunduk pada aturan-Nya; sosok yang lebih memilih sabar dalam ketaatan, di saat dunia seolah tak henti-hentinya menawarkan kesenangan yang melenakan.

Kehebatan pemuda di mata Allah terletak pada kemampuannya mengendalikan diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR. Ahmad)

Maksud “shabwah” adalah pemuda yang tidak condong kepada hawa nafsu dan dosa karena terbiasa dengan kebaikan serta memiliki tekad kuat untuk menjauhi keburukan, padahal usia muda adalah masa yang paling besar dorongan syahwatnya.

Allah menghadirkan teladan nyata dalam sosok pemuda dalam al quran, Sebagai berikut :

  1. Meneladani Nabi Ibrahim AS: Sang “Fatan” yang Tangguh

Al-Qur’an menggambarkan Nabi Ibrahim AS sebagai sosok pemuda (fatan) yang memiliki sifat dan akhlaq yang mulia melalui dua sisi:

a. Keberanian dalam Menegakkan Tauhid

Ibrahim AS menunjukkan bahwa masa muda adalah momentum untuk memegang prinsip, meskipun harus melawan arus mayoritas yang menyimpang. Beliau dengan cerdas dan berani menghancurkan berhala kaumnya untukbuktikan kebatilan syirik. Allah berfirman:

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ … قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

“Maka Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu menjadi berkeping-keping, kecuali yang terbesar… Mereka (yang lain) berkata, ‘Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) itu, yang bernama Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiyā’: 58–60)

b. Lemah Lembut dalam Menyelisihi Orang Tua

Ketegasan iman tidak melunturkan adab Ibrahim ‘Alaihissalam. Saat menolak ajakan ayahnya kepada kesyirikan, beliau tetap bersikap sangat santun. Beliau menggunakan panggilan kasih sayang “Ya abati” (Wahai ayahku sayang) dan mendoakan keselamatannya:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ… قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي…

“Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan… (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan tercurah kepadamu. Aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Tuhanku’.” (QS. Maryam: 44 & 47)

  1. Meneladani Nabi Yusuf  ‘Alaihissalam: Integritas di Tengah Godaan Syahwat

Nabi Yusuf ‘Alaihissalam adalah figure keteladanan dalam menjaga kehormatan diri. Beliau diuji dengan godaan syahwat yang sangat besar—ketika seorang wanita bangsawan yang cantik, kaya, dan memiliki kedudukan mengajaknya berbuat maksiat di ruang tertutup. Namun, Yusuf ‘Alaihissalam memilih takut kepada Allah.

Allah Ta’ala mengabadikan momen tersebut dalam firman-Nya:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Keteguhan hati pemuda seperti inilah yang mendapatkan janji istimewa dari Allah berupa naungan di hari kiamat kelak. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai golongan manusia yang dinaungi Allah:

…وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ

“…dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik jelita, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’.” (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Meneladani Ashabul Kahfi: Keteguhan Iman di Tengah Fitnah Zaman

Ashabul Kahfi adalah contoh usaha komunitas pemuda dalam menjaga iman di tengah fitnah zaman. Allah berfirman:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka” (QS. Al-Kahfi: 13–14)

Kisah Ashabul Kahfi mengajarkan bahwa masa muda adalah momentum untuk memilih lingkungan (bi’ah) yang mendukung keimanan. Ketika lingkungan tidak lagi memungkinkan untuk menegakkan tauhid, mereka lebih memilih mengasingkan diri ke gua yang gelap demi menjaga cahaya iman, daripada hidup nyaman namun terjerumus dalam kesyirikan.

Sikap ini selaras dengan pesan Rasulullah ﷺ tentang pentingnya lingkungan pergaulan. Beliau bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

  1. Meneladani Ashabul Ukhdud: Keteguhan Iman Tanpa Kompromi

Ashabul Ukhdud merupakan teladan puncak keteguhan iman di tengah siksaan yang kejam. Mereka rela dibakar hidup-hidup demi mempertahankan tauhid, tanpa sedikit pun keraguan terhadap keimanan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ * النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ * وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Binasalah orang-orang yang membuat parit berapi. Mereka menyiksa orang-orang beriman hanya karena orang-orang itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.”
(QS. Al-Buruj: 4–8)

5. Meneladani Putri Nabi Syu‘aib ‘Alaihissalam: Kemuliaan Rasa Malu (‘Iffah)

Putri Nabi Syu‘aib ‘Alaihissalam adalah teladan agung bagi setiap pemudi dalam menjaga kehormatan diri melalui sifat ‘iffah dan rasa malu. Allah Ta’ala mengabadikan keindahan akhlaknya saat ia berinteraksi dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam:

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan penuh rasa malu. Ia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan atas kebaikanmu memberi minum ternak kami’.”
(QS. Al-Qashash: 25)

Ayat ini menegaskan bahwa rasa malu adalah penjaga kehormatan dan pengarah kepada kebaikan. Semakin besar rasa malu seseorang, semakin kuat ia terjaga dari perbuatan yang tidak diridhai Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Bahkan, Nabi ﷺ menegaskan bahwa rasa malu merupakan bagian dari iman:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari teladan para pemuda dalam Al-Qur’an di atas, kita bisa mengambil pelajaran berharga bahwa masa muda bukanlah waktunya bermain dan berleha-leha, namun merupakan waktu untuk memaksimalkan potensi menebar manfaat serta senantiasa berusaha taat dan patuh kepada Allah. Masa muda adalah amanah singkat yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah Azza wa Jalla. Maka, sudah saatnya kita menggunakan masa muda menjadi fase memperbanyak amal dalam ketaatan.

Semoga Allah membimbing setiap langkah kita di masa muda ini agar senantiasa berada dalam limpahan taufik dan hidayah-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc

donatur-tetap

Menyelaraskan Ibadah dan Pekerjaan di Bulan Ramadhan

0

Ramadhan adalah bulan yang menghadirkan keseimbangan antara ibadah dan realitas kehidupan. Ia bukan hanya momentum memperbanyak ibadah  semisal shalat, tilawah, dan dzikir, tetapi juga terdapat ruang untuk memaknai aktivitas dunia—termasuk pekerjaan—sebagai bagian dari penghambaan kepada Allah Ta’ala. Islam tidak mengajarkan pemisahan antara ibadah dan kerja, karena keduanya dapat bernilai ibadah ketika dilandasi niat yang benar dan dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Banyak orang merasa bahwa produktivitas kerja akan menurun saat berpuasa, atau sebaliknya merasa pekerjaan menjadi penghalang untuk maksimal beribadah. Padahal Ramadhan justru mendidik seorang mukmin untuk mampu menata waktu, menguatkan niat, dan menghadirkan nilai ibadah dalam setiap aktivitas.

1. Konsep Dasar Islam: Kerja sebagai Ibadah

Dalam Islam, bekerja untuk mencari nafkah yang halal merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa setelah ibadah ritual, seorang muslim diperintahkan untuk bekerja dan berusaha.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, bekerja bukan penghalang ibadah, tetapi bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar.

2. Ramadhan: Bulan Produktivitas, Bukan Kemalasan

Sejarah Islam membuktikan bahwa Ramadhan bukan bulan pasif. Banyak peristiwa besar terjadi di dalamnya, seperti:

  • Perang Badar (17 Ramadhan)
  • Fathu Makkah (20 Ramadhan)

Hal ini menunjukkan bahwa puasa tidak menghalangi aktivitas besar dan produktif.

Allah berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.”
(QS. Al-Baqarah: 198)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bolehnya tetap beraktivitas dan bekerja dalam suasana ibadah.

3. Meluruskan Niat: Kunci Menyatukan Ibadah dan Pekerjaan

Amal dunia bisa bernilai akhirat jika diiringi niat yang benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bekerja di bulan Ramadhan dengan niat:

  • Menafkahi keluarga
  • Menghindari meminta-minta
  • Memberi manfaat bagi orang lain

Semua niatan baik di atas akan bernilai ibadah di sisi Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan:

إن كان خرج يسعى على ولده صغارا فهو في سبيل الله وإن كان خرج يسعى على أبوين شيخين كبيرين فهو في سبيل الله وإن كان خرج يسعى على نفسه يعفها فهو في سبيل الله وإن كان خرج يسعى رياء ومفاخرة فهو في سبيل الشيطان

“Jika ia keluar mencari nafkah untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka itu adalah fi sabilillah. Jika ia keluar mencari nafkah untuk kedua orang tuanya yang sudah tua renta, maka itu adalah fi sabilillah. (Bahkan) jika ia keluar mencari nafkah untuk dirinya sendiri dalam rangka menjaga kehormatannya (dari meminta-minta), maka itu juga fi sabilillah. Namun jika keluarnya tersebut karena pamer dan kesombongan, maka dia berada di jalan setan.” (Shahih at-Targhib no. 1692)

4. Manajemen Waktu Seorang Mukmin di Bulan Ramadhan

a. Mengutamakan Ibadah Wajib

Allah berfirman dalam hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan ia melakukan hal yang Aku wajibkan terhadapnya.” (HR. Bukhari)

Shalat lima waktu, puasa, dan kewajiban lainnya harus menjadi prioritas utama di sela pekerjaan.

b. Menghidupkan Waktu-waktu Utama

Waktu yang sangat strategis di bulan Ramadhan:

  • Sebelum fajar → sahur & qiyamullail
  • Waktu istirahat kerja → tilawah & dzikir
  • Menjelang berbuka → doa

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ … وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ

“Ada tiga doa yang tidak akan tertolak….. Dan seseorang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka” (HR. Tirmidzi dna di shahihkan oleh syaikh Al-Albani)

c. Membuat Skala Prioritas

Tidak semua aktivitas dunia harus diambil jika mengganggu kewajiban ibadah. Seorang muslim yang bijak tentunya dapat membuat skala prioritas baik ibadah atau pekerjaan pada bulan ramadhan.

5. Menjaga Kualitas Spiritual Saat Bekerja

Beberapa amalan ringan namun besar pahalanya:

  • Dzikir saat bekerja
  • Menjaga lisan dari ghibah
  • Bersikap jujur dan amanah

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari no. 1903)

Ini menunjukkan bahwa kualitas puasa juga ditentukan oleh akhlak dalam aktivitas sehari-hari, termasuk di tempat kerja.

6. Menghadirkan Nilai Ihsan dalam Profesionalitas

Bekerja dengan profesional, disiplin, dan penuh tanggung jawab adalah bagian dari ihsan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani no.891 dan dishahihkan oleh AL-Albani)

Di bulan Ramadhan, semangat ihsan ini justru harus meningkat, bukan menurun.

Para pembaca yang semoga senantiasa Allah rahmati..

Ramadhan mengajarkan bahwa seorang mukmin bukan hanya ahli ibadah di masjid, tetapi juga hamba Allah yang produktif di tempat kerja. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, karena bekerja dengan niat yang benar, cara yang halal, dan akhlak yang mulia adalah bagian dari ibadah.

Dengan manajemen waktu yang baik, niat yang lurus, serta menjaga kualitas spiritual dalam setiap aktivitas, seorang muslim akan mampu:

  • Sukses dalam pekerjaan
  • Maksimal dalam ibadah
  • Meraih keberkahan Ramadhan secara sempurna

Allah Ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Inilah prinsip keseimbangan dalam Islam: dunia menjadi jalan menuju akhirat, dan Ramadhan adalah madrasah terbaik untuk mewujudkannya.

donatur-tetap

Belajar Kandungan Surat Al-Hujurat Bag.6

0

Merendahkan suara di sisi Nabi ‘alaihis sholatu was salam adalah salah sstu bentuk rasa ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِندَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Hujurat: 3)

Imam ibnu Jarir At-Thabari menyatakan dalam tafsirnya: “Orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam, ialah orang-orang yang  hatinya telah diuji oleh Allah, yang dipilih dan disucikan olehNya untuk bertakwa, yakni untuk bertakwa kepada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana emas diuji dengan api, yang memurnikan kebaikan-kebaikannya dan menghilangkan noda-nodanya. (Tafsir At-Thobari)

Ketakwaan tidak akan diraih dalam hati seorang hamba, kecuali setelah mengalami cobaan dan ujian. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan perintah, larangan, dan cobaan. Barangsiapa yang menaati perintah dan larangan, dan tetap tegar menghadapi ujian serta tidak gentar dan tidak melawan, maka mereka itu akan meraih ketaqwaan, bagi mereka ampunan dan pahala yang agung disebabkan amal sholeh yang menjadi buah ketakwaan mereka.

Orang-orang yang merendahkan suara di sisi Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam, mereka adalah orang-orang yang hatinya di uji oleh Allah agar menjadi hati yang bertaqwa. Dan ini menjadi dalil bahwa hati seorang muslim akan di uji oleh Allah subhanahu wa ta’ala. As-Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Allah menguji hati-hati mereka untuk menjadi hati yang bertakwa, sehingga dengan ujian tersebut terlihat hasilnya, dengan pantasnya hati mereka menyandang ketakwaan, kemudian Allah menjanjikan bagi mereka ampunan untuk dosa-dosa mereka yang menjadikan hilangnya keburukan mereka, dan mendapat pahala yang besar dari Allah. Ayat ini menjadi dalil bahwa Allah menguji hati-hati dengan bentuk perintah, larangan dan ujian-ujian. Maka siapa yang senantiasa menunaikan perintah Allah dan mengikuti keridhoanNya dan senantiasa bersegera terhadap perkara tersebut serta senantiasa mendahulukannya dari hawa nafsunya, maka hatinya akan dibersihkan dan siap untuk menerima predikat takwa, dan siapa yang hatinya tidak demikian, maka dapat diketahui bahwa hatinya tidak layak untuk ketaqwaan”.

Hal ini menjadi bantahan bagi mereka yang tidak menjalankan syareat Islam dengan berdalih “yang penting hatinya bersih” sebagaimana ucapan wanita yang tidak mau memakai jilbab dengan mengucapkan “yang penting hatinya dijilbabin adapun kepala tidak mengapa untuk tidak dijilbabin” begitu pula mereka yang bermaksiat mengatakan “jangan melihat maksiatnya, joget-jogetnya, musiknya, karena yang penting hatinya bersih”. Jika hati mereka benar-benar beriman kepada Allah, maka seharusnya dia menaati perintahNya, karena itu menjadi konsekuensi dari keimanan dia kepada Allah. Jika mengaku bahwa dia beriman kepada Allah, namun tidak taat kepada perintahNya, ini membuktikan bahwa dia memang belum beriman kepada Allah. (kitab At-Taisir ust Dr. Firanda)

Sedangkan orang yang tidak merendahkan suara di sisi Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam adalah mereka orang yang tidak beradab

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ * وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar untuk menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat: 4-5)

Dalam ayat ini Allah mencela mereka yang memanggil-manggil Nabi ‘alaihis sholatu was salam dengan suara yang keras dari luar rumah beliau. Perbuatan mereka dikategorikan seperti orang yang tidak berakal dan tidak beradab, karena lazimnya orang yang berakal dia akan beradab, dan diantara bentuk adab seseorang dia akan merendahkan suaranya sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diajak bicara. Syekh Abdurrohman As-Sa’di rohimahullah menyatakan:

“Allah mencela mereka dengan tidak memiliki akal, karena mereka tidak memahami perintah-perintah Allah untuk beradab dan menghormati Rasul-Nya, karena tanda berakal adalah beradab”. (Tafsir As-Sa’di)

Kalau seandainya mereka (orang-orang yang teriak dari luar rumah Nabi) punya akal, niscaya mereka tidak akan melakukan perbuatan yang buruk ini, yang menunjukkan ketidakberadabannya mereka kepada Rasulullah ‘alaihis sholatu was salam.  (Tafsir maudhu’i Mahmud Tohmaz)

Semoga Allah menjadikan penulis dan pembaca menjadi hamba-hamba yang bertakwa dan berakhlak yang mulia.. Aamiiin

Ditulis Oleh: Muhammad Fatoni, B.A., M.A.

donatur-tetap

Serial Keutamaan Surat dan Ayat Bag.3: Ayat Kursi QS. Al-Baqarah Ayat 255

0

Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255) merupakan salah satu ayat Al-Qur’an yang paling dikenal oleh umat Islam. Keutamaanya tidak hanya dikenal secara turun-temurun, tetapi juga memiliki dasar kuat dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berdasarkan beberapa riwayat disebutkan keutamaan Ayat Kursi memiliki beberapa tema utama, yaitu keagugannya, fungsinya sebagai perlilndungan, pengaruhnya terhadap kekuatan hafalan, serta hubungannya dengan Nama Allah Yang Maha Agung.

AYAT YANG PALING AGUNG

Beberapa hadis sahih dengan jelas menyebutkan bahwa Ayat Kursi adalah ayat paling agung dalam Al-Qur’an. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud dan juga Sunan At-Tirmidzi dengan kualitas sanad yang sahih. Penegasan ini menunjukkan bahwa keagungan Ayat Kursi merupakan keterangan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Diantara hadis yang membicarakan terkait keagungan Ayat Kursi adalah

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : ” يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ ؟ ” قَالَ : قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : ” يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ ؟ ” قَالَ : قُلْتُ : { اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ }. قَالَ : فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ : ” وَاللَّهِ، لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ “.

 

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hai Abu Mundzir! Tahukah engkau, ayat manakah di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang paling agung?” Abu Mundzir berkata, Aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bertanya lagi, “Hai Abu Mundzir, tahukah engkau, ayat manakah di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang ada padamu yang paling agung?” Abu Mundzir berkata, Aku menjawab, “ALLAAHU LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUM.” Abu Mundzir berkata, Lalu beliau menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga engkau dianugerahkan ilmu, wahai Abu Mundzir.” (HR. Muslim)[1]

Dari Ibnu Al Asqa’, bahwa ia mendengarnya berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemui penghuni Shuffah dari kalangan Muhajirin, lalu ada seseorang bertanya kepada beliau, “Ayat manakah yang paling agung dalam Al-Qur’an?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘ALLAAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUUM, LAA TA`KHUDZUHUU SINATUN WA LAA NAUM (Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). tidak mengantuk dan tidak tidur…) ‘ (QS. Al-Baqarah: 255). (HR. Abu Dawud)[2]

Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah tentang penafsiran hadits Abdulah bin Mas’ud, ia berkata, “Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi lebih agung daripada ayat kursi.” Sufyan berkata, “Karena ayat kursi adalah Kalamullah, sementara Kalamullah lebih agung dari ciptaan-Nya seperti langit dan bumi.” (HR. At-Tirmidzi)[3]

Keagungan Ayat Kursi terletak pada isinya yang menegaskan keesaan dan kekuasaan Allah. Di dalamnya disebutkan bahwa Allah Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur, serta menguasai seluruh langit dan bumi. Karena itu, ayat Kursi menjadi inti ajaran tahud dalam satu ayat ringkas namun sangant dalam maknanya.

Selain hadis-hadis sahih tersebut, terdapat beberapa riwayat lain yang menyebutkan ayat Kursi sebagai ‘tuannya ayat-ayat Al-Qur’an’[4]. Namun, riwayat ini berstatus lemah. Walaupun demikian, isinya sejalan dengan hadis sahih, sehingga dapat dipahami sebagai penguat makna, bukan sebagai dasar utama

PERLINDUNGAN DARI GANGGUAN SETAN

Tema ayat kursi sebagai perlindungan merupakan tema yang paling banyak dibahas. Hadis sahih riwayat Imam al-Bukhori menceritakan kisah Abu Hurairah yang mendapat nasihat untuk membaca Ayat Kursi sebelum tidur agar terjaga dari gangguan setan. Nsasihat tersebut kemudian dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Lalu Abu Hurairah radhiallahu’anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursiy karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan setan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu setan”. (HR. Al-Bukhori)[5]

Kisah serupa juga diriwayatkan dalam hadis sahih At-Tirmidzi melalui cerita Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis ini disebutkan bahwa membaca Ayat Kursi di rumah dapat menghalangi setan untuk mendekat.

Dari Abu Ayyub Al Anshari ia memiliki rak berisi kurma, ada hantu datang dan mengambilnya, lalu ia mengadukan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Pergilah, bila kau melihatnya, ucapkanlah BISMILLAAH, turutilah Rasulullah.” lalu Abu Ayyub Al Anshari menangkapnya, hantu itu bersumpah tidak akan kembali.

Akhirnya Abu Ayyub melepasnya lalu ia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan tawananmu?” Abu Ayyub menjawab, “Ia bersumpah tidak akan kembali.” Beliau bersabda, “Ia dusta, memang ia terbiasa berdusta.”

Abdurrahman berkata, Abu Ayyub lalu menangkap yang kedua kalinya, hantu itu pun bersumpah untuk tidak kembali lagi, lantas Abu Ayyub melepasnya. Setelah itu Abu Ayyub datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Apa yang dilakukan tawananmu?” Abu Ayyub menjawab, “Dia bersumpah untuk tidak kembali.” Beliau bersabda, “Dia dusta, memang ia terbiasa berdusta.” Setelah itu Abu Ayyub menangkapnya lagi, lalu berkata, “Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku membawamu ke Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Hantu itu berkata, “Aku ingatkan padamu tentang sesuatu, yaitu ayat kursi, bacalah ayat kursi di rumahmu, niscaya setan tidak akan mendekatimu dan tidak juga yang lainnya.” Abu Ayyub pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan tawananmu?” Abdurrahman berkata, lalu Abu Ayyub memberitahukan apa yang diucapkan hantu itu, maka beliau bersabda, “Ia benar walaupun sebenarnya ia pendusta.”

Abu Isa berkata, Hadits ini hasan gharib. Dalam hal ini, ada hadits serupa dari Ubay bin Ka’ab. (HR. At-Tirmidzi)[6]

Selain dua hadis sahih tersebut, terdapat beberapa riwayat lain yang juga berbicara tentang perlindungan Ayat Kursi, tetapi kualitas sanadnya lemah atau tidak bersambung. Walaupun demikian, riwayat-riwayat tersebut sejalan dengan hadis sahih, sehingga dapat digunakan seabgai motivasi dalam beralam sealama tidak dijadikan dasar hukum atau keyakinan.

AYAT KURSI DAN KEKUATAN HAFALAN

Keutamaan Ayat Kursi juga dikaitkan dengan kekuatan hafalan Al-Qur’an. Hal ini disebutkan dalam riwayat Ad-Darimi

Dari Al Mughirah bin Subai’, ia termasuk sahabat Abdullah, ia berkata, Barang siapa yang membaca sepuluh ayat dari surah Al-Baqarah ketika hendak tidur, maka ia tidak akan lupa Al-Qur’an. Yaitu empat ayat dari awal surat, ayat kursi, dua ayat setelahnya dan tiga ayat terakhir. Ishaq berkata, Ia tidak akan lupa ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihafalnya. Abu Muhammad berkata, Di antara mereka yang mengatakan adalah Al Mughirah bin Sumai’. (HR. Ad-Darimi)[7]

Riwayat ini memiliki sanad yang sahih, tetapi perkataan bukan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat ini menunjukkan bahwa membaca ayat-ayat tertentu dari surat Al-Baqarah termasuk ayat Kursi, dapat membantu menjaga hafalan Al-Qur’an.

NAMA ALLAH YANG MAHA AGUNG

Hadis lain berkualitas hasan menyebutkan bahwa dalam Ayat Kursi terdapat Nama Allah Yang Maha Agung, yaitu lafadz Al-Hayy Al-Qayyum. Nama Allah ini memiliki keutamaan khusus, terutama dalam doa dan permohonan kepada Allah.

Dari Asma` bintu Yazid ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Nama Allah yang paling agung terdapat dalam dua ayat ini: LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM (Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)) dan WA ILAAHUKUM ILAAHUN WAHID (Rabb kalian adalah Rabb Yang Maha Esa).” (HR. Ad-Darimi)[8]

[1] HR. Muslim no. 810 dan Abu Dawud no. 1460

[2] HR. Abu Dawud no. 4003

[3] HR. At-Tirmidzi no. 2884

[4] HR. Ad-Darimi no. 3423

[5] HR. Al-Bukhori no. 2311 dan 3275

[6] HR. At-Tirmidzi no. 2880

[7] HR. Ad-Darimi no. 3428

[8] HR. Ad-Darimi no. 3432

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag.

donatur-tetap

Tiga Golongan Manusia

0

Kita telah banyak menuntut ilmu dari masa kecil, hingga hari ini, tak terhitung waktu tenaga fikiran yang kita curahkan untuk mendapatkan ilmu agama yang mulia ini yaitu ISLAM.

Berapa persen dari ilmu yang kita pelajari yang telah kita amalkan, dari amal yang kita lakukan berapa persen yang kita benar-benar Ikhlas dan khusu’.

Kita semua merasa minder jika membahas amal ibadah kita, banyaknya keropos kekurangan yang bahkan kita mulai tidak memperdulikannya lagi dalam ibdah-ibadah yang kita lakukan sehari-hari.

Ingatkah kita dengan ayat yang kita baca disetiap rakaat shalat kita, yaitu surat Al-fatihah yang ke 7

Allah Ta’aala berfirman:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS. Al-Fātiḥah: 7)

  • Ada Tiga Golongan Manusia dalam Ayat Ini, Dengan Status Ilmu Dan Amal Mereka:
  1. Golongan yang Dimurkai (الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ) Siapa Mereka?

Mereka adalah orang-orang yang tahu kebenaran tapi menolak dan melanggarnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ، وَالضَّالُّونَ النَّصَارَى

“Orang-orang yang dimurkai adalah Yahudi, dan yang sesat adalah Nasrani.” (HR. Tirmidzi no. 2954, Hasan)

Allah ta’aala berfirman

فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ

“Mereka kembali dengan kemurkaan di atas kemurkaan.” (QS. Al-Baqarah: 90)

Apkah terbatas pada kaum Yahudi? Tentu tidak, setiap dari kita yang telah dikaruniai ilmu oleh Allah ta’aala dan tidak beusaha mengamalkannya, mereka termasuk dalam golongan yang dimurkai.

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ هُمُ الَّذِينَ عَرَفُوا الْحَقَّ وَلَمْ يَعْمَلُوا بِهِ

“Yang dimurkai adalah orang yang mengetahui kebenaran, tapi tidak mengamalkannya.”

Ciri Golongan Ini berilmu tapi sombong menjual agama demi dunia sengaja melanggar syariat.

Ilmu tanpa amal = kemurkaan Allah.

  1. Golongan yang Sesat (الضَّالِّينَ) Siapa Mereka?

Mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah tapi tanpa ilmu yang benar.

Pada hadits sebelumnya

وَالضَّالُّونَ النَّصَارَى

“Yang sesat adalah Nasrani.”

Allah ta’aala berfirman

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Maukah Kami beritahu orang yang paling rugi amalnya? Yaitu yang sia-sia amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 103–104)

Dan semua orang yang beribadah, tanpa didasari dengan ilmu termasuk pada golongan ini.

Imam Al-Qurthubi رحمه الله berkata:

الضَّالُّونَ هُمُ الَّذِينَ عَبَدُوا اللَّهَ عَلَى جَهْلٍ

“Orang sesat adalah yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu.”

Ciri golongan ini semangat ibadah tapi menyimpang mengikuti hawa nafsu mengikuti bid’ah.

Amal tanpa ilmu = kesesatan.

  1. Golongan yang Diberi Nikmat (الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) Siapa Mereka?

Mereka adalah orang-orang yang mengenal kebenaran mengamalkan kebenaran ikhlas dan istiqamah

Allah menjelaskan dalam ayat lain:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ * مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ

“Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul, mereka bersama orang-orang yang diberi nikmat: para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.” (QS. An-Nisā’: 69)

Bagai mana mereka mampu mendapatkan keduanya? Yaitu dengan mengamalkan ayat sebelumnya

اهدنا الصراط المستقيم

“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah : 6)

Dengan memohon hidayah keberkahan ilmu kepada Allah, dan memohon kepada Allah hidayah agar mampu mengamalkan ilmu.

Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

هُمْ الَّذِينَ سَلَكُوا طَرِيقَ الْهُدَى

“Mereka adalah orang-orang yang menempuh jalan hidayah.”

Mereka adalah para nabi orang shiddiq syuhada orang shalih dan semua yang mengikuti mereka inilah jalan keselamatan.

Setiap hari kita membaca Al-Fātiḥah minimal 17 kali dalam shalat, berarti:

Kita memohon kepada Allah jalan kebahagiaan, dengan ilmu dan amal, tidak ad acara lain untuk mendapatkan kebahagiaan dari Allah ta’aala.

Perkataan Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله

مَنْ فَسَدَ مِنَ الْعُلَمَاءِ فَفِيهِ شَبَهٌ مِنَ الْيَهُودِ وَمَنْ فَسَدَ مِنَ الْعُبَّادِ فَفِيهِ شَبَهٌ مِنَ النَّصَارَى

“Ulama yang rusak mirip Yahudi, ahli ibadah yang rusak mirip Nasrani.”

Surah Al-Fātiḥah ayat 7 mengajarkan:

Seorang muslim harus:

  • Belajar agama
  • Mengamalkannya
  • Mengikuti sunnah
  • Menjauhi bid’ah
  • Menjaga keikhlasan

Oleh: Badruz Zaman, Lc

donatur-tetap

Khutbah Jumat: Sya‘ban, Gerbang Persiapan Menuju Ramadhan

0

Khutbah Pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمدُ لِـلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ وَأَظْهَرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ، هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا هُوَ أَهْلُهُ وَأَشْكُرُهُ شُكْرَ مَنْ يَسْتَزِيْدُهُ وَيَتَضَرَّعُ إِلَيْهِ وَحْدَهُ.

 وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَكَمَالِ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّداً عَبْدُهُ وَرُسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِينِ وَبَعْدُ.

يَا أَيَّهَا النَاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}

Kaum muslimin rahimakumullah

Ketahuilah Allah Ta’ala telah menjadikan waktu sebagai tempat memperbanyak amal perbuatan.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya; dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya (QS. Az-Zalzalah: 7–8).

Maka orang yang merugi adalah yang kehilangan kesempatan pada waktu-waktu terbaik, dan orang yang terhalang adalah yang terhalang dari musim-musim ketaatan. Allah menjadikan waktu sebagai jalan bagi orang-orang beriman untuk taat kepada Rabb mereka, namun menjadi penyesalan bagi yang lalai terhadap dirinya sendiri. Maka hidupkanlah diri kalian dengan ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya hati hidup dengan mengingat Allah.

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah (QS. Al-Baqarah: 110).

Waktu memiliki keutamaan yang berbeda-beda menurut bulan, hari, dan jamnya. Sebaik-baik aktifitas menghidupkan umur dan waktu adalah dengan amal-amal yang mendekatan diri kepada Allah, berbagai perbuatan baik, dan ketaatan. Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur (QS. Al-Furqan: 62).

Kini telah menaungi kita bulan Sya‘ban, bulan yang Allah tempatkan di antara dua bulan agung: Rajab yang mulia dan Ramadhan yang penuh berkah. Bulan ini dipenuhi peristiwa besar; di antaranya perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah pada tahun kedua hijrah, dan pada bulan ini pula diwajibkan puasa Ramadhan pada tahun kedua hijrah.

Dinamakan Sya‘ban karena orang-orang Arab dahulu “bercabang” atau berpencar di dalamnya, yaitu pergi mencari sumber air. Ada pula yang mengatakan karena mereka berpencar untuk peperangan setelah keluar dari bulan Rajab yang haram, dan ada yang mengatakan karena bulan ini tampak berada di antara Rajab dan Ramadhan.

Sya‘ban adalah bulan bercabangnya berbagai kebaikan. Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan ini. Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:

ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل شهرًا قط إلا رمضان، وما رأيته أكثر صيامًا منه في شعبان

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa sebulan penuh selain Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan pada bulan Sya‘ban.” (HR. Muslim).

Ini menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap puasa di bulan Sya‘ban, yakni berpuasa pada sebagian besar bulan, bukan seluruhnya. Ibnu Hajar berkata: “Puasa beliau di bulan Sya‘ban secara sunnah lebih banyak daripada bulan lainnya, dan beliau berpuasa pada sebagian besar Sya‘ban.” (Fathul Bari 4/214).

Bulan Sya‘ban juga mengingatkan orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan agar segera menunaikannya sebelum datang Ramadhan berikutnya. Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:

كان يكون عليَّ الصوم من رمضان، فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان

“Aku memiliki hutang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Sya‘ban.” (HR. Bukhari).

Maka segeralah membersihkan tanggungan kalian dari kewajiban puasa kepada Allah:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka hendaklah menggantinya pada hari-hari yang lain (QS. Al-Baqarah: 184).

Kaum muslimin jamaah shalat jumat rahimakumullah

Ketahuilah bahwa Sya‘ban merupakan pendahulu bagi bulan Ramadhan yang mulia, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Ia menjadi medan latihan, persiapan, dan kesiapan menyambut bulan iman, yakni Ramadhan. Sya‘ban bagi Ramadhan bagaikan shalat sunnah rawatib bagi shalat wajib; sebagai latihan untuk meringankan beban puasa Ramadhan dan merasakan manisnya ibadah puasa, sehingga seseorang memasuki Ramadhan dengan semangat dan kekuatan.

Karena Sya‘ban merupakan pendahulu Ramadhan, maka disyariatkan di dalamnya berbagai ibadah seperti puasa dan amal ketaatan lainnya untuk mempersiapkan hati menyambut Ramadhan, melatih jiwa dalam ketaatan kepada Allah. Oleh sebab itu, para ulama salaf bersungguh-sungguh di bulan Sya‘ban; mereka memperbanyak membaca Al-Qur’an sebagai persiapan Ramadhan. Amr bin Qais apabila masuk bulan Sya‘ban menutup aktivitas perdagangannya dan menyibukkan diri membaca Al-Qur’an. Ia berkata: “Beruntunglah orang yang memperbaiki dirinya sebelum Ramadhan.” Mereka juga berkata ketika masuk Sya‘ban: “Inilah bulan para pembaca Al-Qur’an.”

Ibadallah…. ada beberapa hal yang perli diperhatikan pada bulan Sya’ban ini, yaiutu amalan amalan yang tidak ada tuntunannya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yatiu perbuatan Bid’ah.

Di antara bid‘ah yang diada-adakan sebagian manusia adalah merayakan malam pertengahan Sya‘ban, mengkhususkan siangnya dengan puasa dan malamnya dengan ibadah tertentu serta doa-doa dan dzikir khusus. Semua itu tidak memiliki dasar hadis yang sahih dari Nabi ﷺ, melainkan riwayat yang lemah bahkan palsu sebagaimana disebutkan Ibnu Rajab dan ulama lainnya. Namun, siapa yang memang terbiasa qiyamul lail atau puasa sunnah, lalu bertepatan dengan pertengahan Sya‘ban, maka silakan ia tetap berpuasa dan beribadah seperti biasa.

Di antara bid‘ah yang muncul pula adalah saling mengirim pesan permintaan maaf khusus pada malam pertengahan Sya‘ban. Adapun hadis:

يطلع الله في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه، إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah melihat kepada makhluk-Nya pada malam pertengahan Sya‘ban lalu mengampuni semuanya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan,”

Para ahli hadis menilai sanadnya lemah. Kalaupun dianggap sahih, yang dimaksud “orang yang bermusuhan” adalah pelaku bid‘ah yang memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin sebagaimana dijelaskan Ibnu al-Mubarak. Pintu ampunan Allah selalu terbuka, dan syariat menganjurkan saling memaafkan sepanjang waktu, bukan hanya pada waktu tertentu.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول ما سمعتم فاستغفروا الله؛ إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَة

 اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

Referensi: https://www.alukah.net/spotlight/0/161260/

donatur-tetap

Ramadhan Level Up: Seni Menjadi Produktif di Bulan Penuh Berkah

0

Ramadhan merupakan bulan istimewa yang tidak hanya menghadirkan kewajiban ibadah puasa, tetapi juga menjadi ruang pendidikan ruhiyyah dan pembinaan karakter bagi setiap Muslim. Dalam perspektif Islam, Ramadhan adalah momentum tarbiyah yang melatih kedisiplinan, kesabaran, pengendalian diri, serta kesadaran terhadap nilai waktu. Oleh karena itu, pembahasan mengenai produktivitas Ramadhan menjadi penting, karena keberhasilan seseorang dalam memanfaatkan bulan suci ini tidak hanya diukur dari banyaknya aktivitas, tetapi dari kualitas amal, ketepatan prioritas, serta keseimbangan antara kebutuhan ruhani dan jasmani.

Di tengah perubahan ritme hidup selama Ramadhan—mulai dari pola makan, tidur, hingga aktivitas harian—seorang Muslim dituntut memiliki kemampuan manajemen diri yang baik agar tetap fokus dan konsisten dalam menjalankan kewajiban serta amal kebaikan. Oleh karena itu, tulisan ini akan menguraikan konsep produktivitas Ramadhan melalui beberapa aspek utama, yaitu pengantar produktivitas, skala prioritas amal, pengelolaan tidur, strategi mengatasi kemalasan, serta upaya menjaga fokus agar setiap momen Ramadhan dapat dijalani secara optimal dan bermakna.

 1. Ramadhan Harus produktif: Pengantar

Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi momentum besar untuk meningkatkan kualitas diri secara menyeluruh—spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Produktivitas Ramadhan dimulai dari kesadaran bahwa waktu terasa lebih cepat, energi fisik mungkin menurun, tetapi potensi pahala dan keberkahan justru berlipat ganda. Tujuan utama Ramadhan adalah membentuk ketakwaan yang tercermin dalam pengelolaan waktu dan amal.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ… لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)¹

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”²

Konsep produktivitas dalam Islam berbeda dengan paradigma modern yang hanya berorientasi pada output material. Produktivitas Ramadhan lebih menekankan kualitas amal, kebermanfaatan sosial, serta peningkatan hubungan dengan Allah. Para ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma‘arif menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan “musim kebaikan” (mausim al-khairat), di mana seorang mukmin dianjurkan memperbanyak amal prioritas. Penelitian dalam jurnal pendidikan Islam juga menegaskan bahwa rutinitas ibadah yang konsisten selama Ramadhan dapat meningkatkan kesadaran spiritual (spiritual awareness), yang berdampak pada peningkatan kinerja akademik dan profesional karena individu memiliki tujuan hidup yang lebih jelas.

2. Skala Prioritas di Bulan Ramadhan

Produktivitas membutuhkan kemampuan menentukan prioritas. Ibadah wajib harus menjadi fokus utama, diikuti ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar seperti tilawah, sedekah, dan qiyamul lail. Aktivitas duniawi tetap dijalankan dengan niat ibadah dan pengaturan waktu yang bijak.

Allah ﷻ berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)³

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

إِضَاعَةُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian.”⁴

Kajian dalam jurnal manajemen pendidikan Islam menunjukkan bahwa individu yang menyusun prioritas harian berdasarkan nilai spiritual memiliki tingkat stres lebih rendah dan tingkat produktivitas lebih tinggi. Hal ini karena aktivitas yang dijalankan memiliki makna transendental, bukan sekadar rutinitas. Metode yang sering digunakan adalah matriks prioritas berbasis nilai, di mana aktivitas diklasifikasikan menjadi: kewajiban agama, kebutuhan pribadi, tanggung jawab sosial, dan aktivitas tambahan (Mujahidin, dkk 2022).

3. Mengelola Tidur di Bulan Ramadhan

Perubahan ritme biologis selama Ramadhan menjadi salah satu tantangan utama produktivitas. Penelitian di bidang kesehatan dan psikologi menunjukkan bahwa pola tidur yang tidak teratur dapat menurunkan konsentrasi, daya ingat, dan kestabilan emosi. Oleh karena itu, pengelolaan tidur merupakan bagian penting dari manajemen energi (energy management), bukan sekadar manajemen waktu

Dalam perspektif Islam, keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan fisik sangat ditekankan. Konsep wasathiyyah (keseimbangan) mengajarkan bahwa tubuh memiliki hak yang harus dipenuhi agar seseorang mampu beribadah secara optimal. Beberapa penelitian mengenai praktik Ramadhan di kalangan mahasiswa Muslim menunjukkan bahwa pola tidur yang terstruktur—seperti tidur lebih awal dan melakukan power nap singkat—dapat meningkatkan produktivitas akademik dan menjaga kestabilan mood (Zain dkk 2023).

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.”⁵

Literatur klasik juga menyoroti pentingnya pengaturan waktu istirahat. Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma‘ad menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki pola hidup seimbang antara ibadah, aktivitas sosial, dan istirahat. Prinsip ini dapat diadaptasi dalam konteks modern dengan cara menyesuaikan jadwal kerja dan ibadah agar tetap menjaga kesehatan fisik. Dengan demikian, pengelolaan tidur bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi bagian dari strategi menjaga kualitas ibadah dan kinerja harian.

4. Mengatasi Rasa Malas dan Menunda-nunda

Dalam kajian psikologi perilaku, prokrastinasi (menunda-nunda) sering disebabkan oleh kurangnya motivasi intrinsik, kelelahan mental, dan ketidakjelasan tujuan. Dalam Islam, rasa malas dipandang sebagai hambatan spiritual yang harus dilawan dengan kombinasi antara doa, disiplin, dan pembiasaan amal. Penelitian dalam jurnal psikologi Islam menunjukkan bahwa individu yang memiliki orientasi ibadah sebagai tujuan hidup cenderung memiliki tingkat prokrastinasi lebih rendah karena aktivitas mereka didorong oleh makna spiritual.

Pendekatan praktis yang dianjurkan dalam kajian ilmiah meliputi teknik micro-habit, yaitu memulai dari aktivitas kecil yang mudah dilakukan. Misalnya, membaca satu halaman Al-Qur’an setiap selesai shalat. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan kecil yang konsisten lebih efektif membangun disiplin daripada target besar yang sulit dicapai. Selain itu, teknik pengurangan distraksi—seperti membatasi penggunaan media sosial—juga terbukti meningkatkan fokus dan mengurangi kecenderungan menunda pekerjaan (Nufus, dkk 2025).

Islam mengajarkan doa dan usaha nyata untuk melawan kemalasan. Olehkarena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.”⁷

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ، فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدِكَ

“Jauhilah menunda-nunda, karena engkau hidup di hari ini, bukan di hari esok.”⁸

Hasan al-Bashri menekankan pentingnya memanfaatkan waktu saat ini, karena masa depan tidak pasti. Dalam perspektif tarbiyah, kebiasaan disiplin selama Ramadhan dapat menjadi momentum membentuk karakter produktif yang berlanjut setelah bulan ramadhan berakhir.

5. Menjaga Fokus

Fokus merupakan aspek kognitif yang sangat penting dalam produktivitas. Dalam kajian neurosains modern, fokus berkaitan dengan kemampuan otak mengelola perhatian dan mengurangi gangguan eksternal. Dalam perspektif Islam, fokus erat kaitannya dengan konsep khushu’ dan ihsan, yaitu menghadirkan kesadaran penuh dalam setiap amal.

Penelitian dalam bidang pendidikan Islam menunjukkan bahwa praktik dzikir, tilawah, dan shalat dengan konsentrasi tinggi dapat meningkatkan ketenangan mental serta kemampuan mengontrol perhatian. Hal ini selaras dengan temuan psikologi modern mengenai efek meditasi dan mindfulness terhadap peningkatan fokus. Metode praktis yang direkomendasikan meliputi teknik time blocking, pembagian tugas menjadi bagian kecil, dan menciptakan lingkungan kerja yang minim distraksi (Dhora, dkk 2025).

Allah ﷻ berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ  * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)⁹

Para ulama menekankan bahwa fokus lahir dari hati yang bersih dan niat yang lurus. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menekankan kesungguhan dan fokus dalam setiap aktivitas ilmiah dan amal sebagai bentuk keikhlasan dalam mencari kebenaran.¹⁰ Dengan menjaga fokus, seorang Muslim dapat menjalankan ibadah dan aktivitas duniawi secara optimal, menjadikan setiap momen Ramadhan penuh makna dan produktif.

Referensi:

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah: 183; lihat Tafsir Ibn Katsir, Dar Thayyibah.
  2. HR. Al-Bukhari no. 38; Muslim no. 760.
  3. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah: 148; Tafsir Al-Tabari.
  4. Ibnul Qayyim, Madarij al-Salikin, Dar al-Kitab al-‘Arabi.
  5. HR. Al-Bukhari no. 5199.
  6. Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Riyadhah al-Nafs.
  7. HR. Al-Bukhari no. 6369; Muslim no. 2706.
  8. Diriwayatkan dalam karya-karya Zuhd seperti Hilyat al-Auliya’, Abu Nu’aim.
  9. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Mu’minun: 1–2; Tafsir Al-Qurtubi.
  10. Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  11. Zain, M. A., & Hanif, M. I. (2023). Optimalisasi Manajemen Waktu Tidur Demi Meningkatkan Produktivitas Remaja Dengan Pendekatan Kesehatan Dan Nilai-Nilai Islam. Jurnal Bintang Manajemen1(4), 153-161.
  12. Nufus, D. D., Rohati, S., & Ranuwijaya, U. (2025). MANAJEMEN WAKTU DALAM PANDANGAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kritis terhadap Al-Quran Surat Al-Ashr). TARBIYAH DARUSSALAM: JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN DAN KEAGAMAAN9(02), 484-498.
  13. Dhora, S. T., & Abbas, A. (2025). Peran Praktik Ramadhan dalam Meningkatkan Manajemen Waktu dan Diri pada Remaja Muslim. Journal of Knowledge and Collaboration2(4), 598-606.
  14. Mujahidin, E., Rachmat, R., Tamam, A. M., & Alim, A. (2022). Konsep Manajemen Waktu dalam Perspektif Pendidikan Islam. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam11(01), 129-146.
donatur-tetap

Hukum Had, Perspektif Fikih dan Akhlak Islam

0

PENDAHULUAN

Syari’at Islam diturunkan bukan semata untuk menghukum, tetapi juga untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta manusia. Dalam kerangka ini, hudud (hukuman yang telah ditetapkan syari’at) memiliki fungsi preventif, edukatif dan penyucian dosa. Namun, penerapannya diatur dengan sangat ketat agar tidak menimbulkan kezaliman atau kesewenang-wenangan.

Salah satu hadis yang menjadi rujukan dalam pembahasan hukum zina dan pelaksanaan had adalah kisah seorang wanita dari suku Juhaina yang datang menghafap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan hamil karana zina.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ ، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى، فَقَالَتْ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ. فَدَعَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَا، فَقَالَ : ” أَحْسِنْ إِلَيْهَا، فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا “. فَفَعَلَ، فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا، فَرُجِمَتْ، ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ ؟ فَقَالَ : ” لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى ؟

“Dari ‘Imran bin al-Husain radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya ada seorang wanita dari suku Juhaina datang menghafap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan hamil karena zina. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melanggar hukum, maka hukumlah aku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memanggil walinya dan bersabda, “Berdbuat baiklah kepadanya. Jika ia telah melahirkan, bawalah ia kepadaku.”

Setelah wanita itu melahirkan, ia dibawa menghadap Rasulullah. Maka beliau memerintahkan agar pakaiannya dikencangkan, kemudian beliau merajamnya. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalatinya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda pelaksanaan hukuman hingga wanita tersebut menyapih bayinya dan sang bayi mampu makan sendiri. Hal ini menyunjukkan perhatian besar Islam terhadap hak anak, meskipun ibunya telah melakukan dosa besar.

PELAKSANAAN HUKUMAN HAD

Hadis ini dalil yang kuat bahwa pelaksanaan hukuman merupakan wewenang penguasa, bukan hak individu atau masyarakat umum. Oleh karena itu:

  1. Rakyat tidak dibenarkan menegakkan hukuman secara mandiri
  2. Apabila penguasa tidak menetapkan had terhadap suatu kasus, masyarakat tidak berdosa dan tidak berkewajiban memaksa
  3. Pengecualian diberikan pada kasus budak, majika diberi kewenangan mtertentu untuk menegakkan disiplin sesuai syariat kepada budak yang dimilikinya

Kaidah ini bertujuan mencegah kekacauan, main hakim sendiri, serta penyalahgunaan hukum atas nama agama.

PENGAKUAN ZINA

Dalam hadis wanita Juhaina mengakui sendiri perbuatan zina yang ia lakukan. Pengakuan tersebut dinilai sah dan menjadi dasar penetapan hukuman.

Para ulama membahas apakah pengakuan zina harus diulang empat kali sebagaimana kesaksian empat orang saksi untuk kasus zina, ada yang mengharuskan pengakuan diulang sebanyak empat kali ada pula yang berpendapat cukup satu kali pengakuan dengan jelas dan sadar serta tanpa paksaan, maka pengakuannya diterima.

Pendapat terakhir dinilai lebih kuat karena tidak adanya dalil yang secara tegas mewajibkan pengulangan pengakuan hingga empat kali.

KEBIJAKSANAAN PENEGAKAN HUKUMAN

Salah satu sisi agung dari syariat Islam tanpak pada penundaan hukuman had terhadap wanita ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda hingga melahirkan, bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan menundanya hingga dapat disapih dan makan sendiri.

Ini menunjukkan hak anak yang tidak berdosa di dahulukan dan hukuman tidak boleh menimbulkan kezaliman.

KLASIFIKASI PELAKU ZINA

Pelaku zina dikategorikan menjadi dua; muhshan dan ghairu muhshan. Hukuman bagi pezina bisa jadi dirajam bisa jadi dicambuk seratus (100) kali

Pezina muhshan adalah orang yang sudah pernah menikah dengan pernikahan yang sah dan telah menggauli istrinya, lalu melakukan zina. Hukumannya adalah dirajam hingga meninggal dunia. Sedangkan pezina ghairu muhshan adalah orang yang belum pernah menikah atau pernikahannya tidak sah, atau menikan sah namun belum menggauli istrinya dalam pernikahan sah, kemudian melakukan perzinahan. Hukuman bagi pezina ghairu muhshan adalah dicambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun.

Terdapat riwayat lain yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencambuk pezina muhshan sebelum merajamnya. Tujuan cambukan tersebut adalah agar pelaku melemah sehingga tidak terlalu lama merasakan prosesi rajam.

Perbedaan ini menunjukkan adanya fleksibilitas penerapat hukuman sesuai pertimbangan maslahat oleh penguasa.

HAK MENJAGA KEHORMATAN

Sebelum pelaksanaan rajam, Rasulullah shallallalhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar pekaian wanita tersebut dikencangkan. Hal ini bertujuan agar auratnya tidak terbuka saat hukuman dilaksanakan.

Pelajaran penting dari hal ini adalah bahwa Islam tetap menjaga kehormatan manusia, bahkan saat ia menjalani hukuman berat. Pelaku dosa tidak boleh dipermalukan melebihi batas yang ditetapkan syariat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazah wanita yang dihukum rajam. Menjadi pelajaran bahwa hukuman had berfungsi sebagai penebus dosa di dunia, orang yang telah menjalani had tidak lagi menanggung dosa tersebut di akhirat dan pelaku dosa besar tidak otomatis keluar dari Islam.

Perbuatan Nabi ini juga menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa pelaku dosa besar tidak layak mendapatkan perhormatan sebagai seorang muslim.

PENUTUP

Hadis tentang wanita Juhaina memberikan gambaran utuh tentang keadilan Islam dalam menangani dosa besar. Syariat tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga memperhatikan hak anak, menjaga kehormatan, menutup pintu kezaliman dan membuka pintu taubat.

Pelaksanaan hukuman had dalam Islam bukanlah bentuk kekerasan, melainkan sarana penyucian dan pengaan moral masyarakat. Lebih dari itu, hadis ini menegaskan bahwa rahmat dan keadilan berjalan beriringan dalam ajaran Islam.

Dengan memahami hadis ini secara utuh dan proposional umat Islam diharapkan mampu memandang syariat dengan adil, bijak dan jauh dari sikap ekstrem.

Wallahu a’lam

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S. Ag.

donatur-tetap