Home Artikel Masa Muda Bukanlah Sekadar Angka dalam Deretan Usia

Masa Muda Bukanlah Sekadar Angka dalam Deretan Usia

234
0
campaign psb PPHQ 26-27

Masa muda bukanlah sekadar angka dalam deretan usia, melainkan sebuah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya secara khusus. Dalam siklus kehidupan manusia, masa muda adalah “Puncak Kekuatan” yang diapit oleh dua fase lemah. Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rūm: 54)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di dalam kitab tafsirnya (Taisîr al-Karîm ar-Raḥmân) menjelaskan hikmah di balik ayat ini:

وَمِنْ حِكْمَتِهِ أَنْ يُرِيَ الْعَبْدَ ضَعْفَهُ، وَأَنَّ قُوَّتَهُ مَحْفُوفَةٌ بِضَعْفَيْنِ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ مِنْ نَفْسِهِ إِلَّا النَّقْصُ، وَلَوْلَا تَقْوِيَةُ اللَّهِ لَهُ؛ لَمَا وَصَلَ إِلَى قُوَّةٍ وَقُدْرَةٍ

“Dan di antara hikmah Allah adalah Dia memperlihatkan kepada hamba-Nya kelemahannya; bahwa kekuatan manusia itu diapit oleh dua kelemahan; dan bahwa manusia tidak memiliki apa pun dari dirinya sendiri selain kekurangan. Seandainya bukan karena Allah yang menguatkannya, niscaya ia tidak akan sampai kepada kekuatan dan kemampuan.”

Ayat ini menegaskan bahwa masa muda adalah fase keemasan dalam kehidupan manusia. Jika diibaratkan matahari, masa muda laksana waktu zuhur, saat sinarnya berada pada titik paling terik dan terang. Pada fase inilah tenaga, semangat, dan peluang untuk beramal berada pada puncaknya, sehingga banyak hal dapat dilakukan dan diwujudkan.

donatur-tetap

Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah para pemuda bukan karena kedudukan atau jabatan mereka, melainkan karena kualitas iman, amal, serta keberanian dalam membawa perubahan dan menyebarkan kemaslahatan. Fase muda adalah fase ujian terberat sekaligus peluang pahala terbesar. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira mengenai kedudukan istimewa para pemuda taat di hari kiamat nanti:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …” (HR. Bukhari & Muslim)

Dinaungi oleh Allah Yang Maha Kuasa berarti mendapatkan perlindungan dan penjagaan yang sempurna, di saat seluruh manusia berada dalam ketakutan dan kepanikan yang luar biasa. Inilah balasan indah bagi seorang pemuda yang senantiasa patuh dan tunduk pada aturan-Nya; sosok yang lebih memilih sabar dalam ketaatan, di saat dunia seolah tak henti-hentinya menawarkan kesenangan yang melenakan.

Kehebatan pemuda di mata Allah terletak pada kemampuannya mengendalikan diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR. Ahmad)

Maksud “shabwah” adalah pemuda yang tidak condong kepada hawa nafsu dan dosa karena terbiasa dengan kebaikan serta memiliki tekad kuat untuk menjauhi keburukan, padahal usia muda adalah masa yang paling besar dorongan syahwatnya.

Allah menghadirkan teladan nyata dalam sosok pemuda dalam al quran, Sebagai berikut :

  1. Meneladani Nabi Ibrahim AS: Sang “Fatan” yang Tangguh

Al-Qur’an menggambarkan Nabi Ibrahim AS sebagai sosok pemuda (fatan) yang memiliki sifat dan akhlaq yang mulia melalui dua sisi:

a. Keberanian dalam Menegakkan Tauhid

Ibrahim AS menunjukkan bahwa masa muda adalah momentum untuk memegang prinsip, meskipun harus melawan arus mayoritas yang menyimpang. Beliau dengan cerdas dan berani menghancurkan berhala kaumnya untukbuktikan kebatilan syirik. Allah berfirman:

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ … قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

“Maka Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu menjadi berkeping-keping, kecuali yang terbesar… Mereka (yang lain) berkata, ‘Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) itu, yang bernama Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiyā’: 58–60)

b. Lemah Lembut dalam Menyelisihi Orang Tua

Ketegasan iman tidak melunturkan adab Ibrahim ‘Alaihissalam. Saat menolak ajakan ayahnya kepada kesyirikan, beliau tetap bersikap sangat santun. Beliau menggunakan panggilan kasih sayang “Ya abati” (Wahai ayahku sayang) dan mendoakan keselamatannya:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ… قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي…

“Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan… (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan tercurah kepadamu. Aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Tuhanku’.” (QS. Maryam: 44 & 47)

  1. Meneladani Nabi Yusuf  ‘Alaihissalam: Integritas di Tengah Godaan Syahwat

Nabi Yusuf ‘Alaihissalam adalah figure keteladanan dalam menjaga kehormatan diri. Beliau diuji dengan godaan syahwat yang sangat besar—ketika seorang wanita bangsawan yang cantik, kaya, dan memiliki kedudukan mengajaknya berbuat maksiat di ruang tertutup. Namun, Yusuf ‘Alaihissalam memilih takut kepada Allah.

Allah Ta’ala mengabadikan momen tersebut dalam firman-Nya:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Keteguhan hati pemuda seperti inilah yang mendapatkan janji istimewa dari Allah berupa naungan di hari kiamat kelak. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai golongan manusia yang dinaungi Allah:

…وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ

“…dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik jelita, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’.” (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Meneladani Ashabul Kahfi: Keteguhan Iman di Tengah Fitnah Zaman

Ashabul Kahfi adalah contoh usaha komunitas pemuda dalam menjaga iman di tengah fitnah zaman. Allah berfirman:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka” (QS. Al-Kahfi: 13–14)

Kisah Ashabul Kahfi mengajarkan bahwa masa muda adalah momentum untuk memilih lingkungan (bi’ah) yang mendukung keimanan. Ketika lingkungan tidak lagi memungkinkan untuk menegakkan tauhid, mereka lebih memilih mengasingkan diri ke gua yang gelap demi menjaga cahaya iman, daripada hidup nyaman namun terjerumus dalam kesyirikan.

Sikap ini selaras dengan pesan Rasulullah ﷺ tentang pentingnya lingkungan pergaulan. Beliau bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

  1. Meneladani Ashabul Ukhdud: Keteguhan Iman Tanpa Kompromi

Ashabul Ukhdud merupakan teladan puncak keteguhan iman di tengah siksaan yang kejam. Mereka rela dibakar hidup-hidup demi mempertahankan tauhid, tanpa sedikit pun keraguan terhadap keimanan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ * النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ * وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Binasalah orang-orang yang membuat parit berapi. Mereka menyiksa orang-orang beriman hanya karena orang-orang itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.”
(QS. Al-Buruj: 4–8)

5. Meneladani Putri Nabi Syu‘aib ‘Alaihissalam: Kemuliaan Rasa Malu (‘Iffah)

Putri Nabi Syu‘aib ‘Alaihissalam adalah teladan agung bagi setiap pemudi dalam menjaga kehormatan diri melalui sifat ‘iffah dan rasa malu. Allah Ta’ala mengabadikan keindahan akhlaknya saat ia berinteraksi dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam:

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan penuh rasa malu. Ia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan atas kebaikanmu memberi minum ternak kami’.”
(QS. Al-Qashash: 25)

Ayat ini menegaskan bahwa rasa malu adalah penjaga kehormatan dan pengarah kepada kebaikan. Semakin besar rasa malu seseorang, semakin kuat ia terjaga dari perbuatan yang tidak diridhai Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Bahkan, Nabi ﷺ menegaskan bahwa rasa malu merupakan bagian dari iman:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari teladan para pemuda dalam Al-Qur’an di atas, kita bisa mengambil pelajaran berharga bahwa masa muda bukanlah waktunya bermain dan berleha-leha, namun merupakan waktu untuk memaksimalkan potensi menebar manfaat serta senantiasa berusaha taat dan patuh kepada Allah. Masa muda adalah amanah singkat yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah Azza wa Jalla. Maka, sudah saatnya kita menggunakan masa muda menjadi fase memperbanyak amal dalam ketaatan.

Semoga Allah membimbing setiap langkah kita di masa muda ini agar senantiasa berada dalam limpahan taufik dan hidayah-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Ditulis Oleh: Azza Saifa, Lc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here