Home Blog Page 11

Kurangnya Akal Perempuan Bukanlah Bentuk Perendahan

0

Perempuan merupakan salah satu anugrah yang Allah Subhanahu Wataala ciptakan dengan berbagai kelebihan. Diantara kelebihan mereka bisa memiliki perhatian dan kasih sayang lebih kepada anak-anak mereka. Mereka juga bisa menyerap ilmu banyak dari apa yang dipelajari. Bahkan dalam berbagai Lembaga Pendidikan sering dijumpai perempuan memperoleh nilai tertinggi.

Lalu bagaimana dengan hadis yang menyebutkan bahwa akal perempuan itu kurang?

Rasulullah Shallallu Alaihi Wasallam menyebutkan hal itu dalam sebuah hadis. Beliau bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ العَشِيرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ، قُلْنَ: وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: َلَيْسَ شَهَادَةُ المَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ، قُلْنَ: بَلَى، قَالَ: فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ، قُلْنَ: بَلَى، قَالَ: فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا.

Wahai para Wanita, bersedekahlah kalian karena sesungguhnya aku diperlihatkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah perempuan. Mereka (para Wanita) bertanya: “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Karena kalian sering melaknat dan mengingkari kebaikan suami, aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agama yang lebih mampu mengalahkan akal laki-laki yang bijak selain dari salah satu dari kalian.” Seorang wanita bertanya: “Apa yang dimaksud dengan kurang akal dan agama itu?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Bukankah kesaksian wanita setengah dari laki-laki?” mereka (para Wanita) menjawab: “tentu”, Beliau bersabda: “itulah kekurangan akalnya.  Jika wanita sedang haid, ia tidak shalat dan tidak berpuasa?” mereka (para Wanita) menjawab: “tentu”, Beliau bersabda: Itulah kekurangan agamanya.”  (HR Bukhari, Shahih Bukhari no: 304)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengaitkan kurangnya akal perempuan dengan persaksian. Dimana suatu persaksian yang disampaikan oleh perempuan dihitung sebagai setengah dari persaksian seorang laki-laki. Adanya dua orang saksi perempuan yang menggantikan persaksian laki-laki adalah untuk mengingatkan yang lain jika terjadi kesalahan. Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى

“Agar jika salah satu lupa, yang lainnya mengingatkan” (QS. Al-Baqarah: 282)

Lebih jauh lagi, para Wanita perlu menyadari bahwa penyebutan kurangnya akal bukan sesuatu yang negatif dikarenakan beberapa hal berikut ini:

1. Kurangnya Akal Bukan Kerendahan Intelektual

Sebagaimana kurangnya agama pada perempuan disebabkan haid tidak menjadikan imannya rendah. Begitu juga akal yang kurang, bukan berarti kecerdasan dan intelektualnya menjadi rendah. Bahkan banyak perempuan yang cerdas dan berpengaruh pada peradaban umat manusia.

Diantara sebab tersebarnya islam tidak lepas dari peran wanita pembelajar dan cerdas. Istri Nabi Muhammad yaitu Aisyah tercatat sebagai salah satu yang meriwayatkan hadis paling banyak dengan jumlah mencapai ribuan hadis. Dan masih banyak perempuan lain yang juga berperan besar dalam peradaban. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan tidak hanya  melekat pada diri seorang laki-laki saja, tapi perempuanpun juga bisa mendapatkan itu.

2. Kurangnya Akal Menjadikan Perempuan Bebas dari Tanggung Jawab Menafkahi

Syaikh As-Syinqithi menafsirkan ayat tentang derajat laki-laki lebih tinggi dari perempuan mengarahkan pada keunggulan laki-laki dalam hal kekuatan. Baik kekuatan fisik maupun akal. Sehingga laki-laki dituntut untuk mencari nafkah dan menginfakkannya kepada istri.

Sebaliknya, seorang istri tidak dibebankan tanggung jawab menafkahi suami maupun anaknya. Karena dari sisi kekuatan dan akal sudah Allah taqdirkan tidak melebihi laki-laki sejak lahir. Sebagaimana yang dikatakan Syaikh Syinqithi dalam tafsirnya:

“Para wanita memiliki kekurangan akal yang wajar sejak mereka lahir.” (Tafsir Adhwa`ul Bayan jld:1/hlm:104)

3. Perempuan Bisa Lebih Mulia dari Laki-Laki dalam Hal Taqwa

Bila seorang dengan kekurangan yang dia miliki memilih lebih fokus meningkatkan ketaqwaannya, maka sejatinya dia sedang berjalan di jalan orang-orang yang mulia. Karena Allah menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangan tidak untuk disbanding-bandingkan satu sama lain, tapi untuk Allah pilih siapa yang paling mulia dengan taqwanya. Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat:13)

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.15: Tawakkal

0

Tawakal adalah ibadah hati yang sangat penting. Banyak sekali para ahli ibadah, orang-orang yang zuhud dan orang-orang awam yang salah dalam memahami tawakal. Dalam permasalahan ini, mereka terjerumus ke dalam dua sikap ekstrem yang saling bertentangan, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Mereka menyalahkan sikap tengah-tengah yang menjadi karakter umat yang diberkahi Allah ini.

Kebutuhan seorang muslim yang berjalan di atas rel Allah untuk bertawakal merupakan kebutuhan yang mendesak. Khususnya dalam urusan rizki yang membuat sibuk pikiran dan hati banyak orang. Masalah rizki ini membuat badan mereka kecapekan dan hati banyak orang di antara mereka bahkan mayoritasnya penuh dengan kerisauan. Bahkan hal ini membuat mereka tidak bisa tidur nyenyak di malam hari dan harus bekerja keras di siang hari.

Bahkan terkadang masalah ini bisa menggiring mereka untuk menghinakan dirinya sendiri, menundukkan kepala dan mengurban kehormatan hanya sekedar untuk mencari penghidupan. Dia menyangka bahwa rizki itu dikendalikan oleh makhluk seperti dirinya. Kalau orang itu berkeinginan untuk memberi rizki maka dia akan mampu memberikannya namun kalau tidak berkeinginan maka dia tidak akan memberinya. Kehidupan dirinya dan anaknya berada dalam genggaman orang itu.

Bahkan terkadang ada orang yang lebih parah lagi daripada hal itu. mereka membolehkankan dirinya sendiri untuk makan harta haram, uang sogokan, menghalalkan riba dan makan harta dengan cara yang tidak benar. Hal ini dalakukan karena ketakutan akan tibanya masa tua setelah menikmati masa muda, jatuh sakit padahal sebelumnya segar bugar dan takut menganggur tanpa pekerjaan. Dia takut mati dalam keadaan meninggalkan anak keturunan yang lemah dalam sisi ekonomi. Solusi dari itu semua adalah konsisten untuk selalu tawakal kepada Allah ta’ala.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Tawakal itu separuh agama. Separuh yang lain adalah inabah (kembali kepada Allah, pent). Dien ini terdiri dari isti’anah (meminta pertolongan hanya kepada Allah, pent) dan ibadah (menyerahkan segala ibadah hanya kepada Allah, pent). Tawakal adalah isti’anah. Sedangkan inabah itu adalah ibadah. Bahkan tawakal adalah ibadah yang sejati dan tauhid yang murni. Demikian itu jika orang yang memiliki dua sifat di atas melaksanakan hal tersebut dengan penuh kesungguhan.(Tahdzib Madarij As Salikin hal. 336).

MAKNA TAWAKAL

1. Makna Etimologi.

Makna tawakal secara etimologi adalah bertanggung jawab terhadap suatu urusan, menyerahkan urusan kepada orang lain dan mempercayakan urusan kepada orang lain. Makna lain adalah meminta orang lain memenuhi kebutuhannya karena percaya bahwa orang tersebut mampu melakukannya atau dirinya tidak mampu untuk melakukan hal itu sendiri.

2. Makna Terminologi.

Orang yang bertawakal kepada Allah adalah orang yang mengetahui bahwa Allah akan menjamin rizki dan segala urusannya yang lain. Sehingga dia hanya akan bersandar kepada Allah tidak kepada yang selain-Nya.

Hakekat tawakal adalah benar-benar menyandarkan hati kepada Allah U untuk mendapatkan kebaikan dan menolak kejelekan baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya dan mengimplementasikan keimanannya bahwa tidak ada yang bisa memberi, mencegah, menimpakan marabahaya dan mendatangkan manfaat kecuali Allah.[2]

Ada juga yang berpandangan: “Makna tawakal adalah pengetahuan hati bahwa Allah akan mencukupi hamba-Nya.”(Tahdzib Madarij As Salikin hal. 336).

Tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada yang berhak mengatur urusan itu, menjauhkan hati dari sikap menentang kepada penguasanya, menyandarkan diri pada-Nya dalam segala urusan, merubah keyakinan bahwa yang mengatur segala urusan itu adalah diri, daya dan kekuatan kita sendiri menjadi keyakinan bahwa yang mengatur dan mengadakan segala urusan itu adalah Allah  bukan yang selain-Nya. Begitulah maksud dari tawakal.”(Tahdzib Madarij As Salikin hal. 336-337).

TINGKATAN MANUSIA DALAM TAWAKAL

  1. Orang-orang yang shalih dan alim. Mereka bertawakal kepada Allah dalam beriman, membela agama, meninggikan kalimat Allah, memerangi musuh-musuh-Nya, mencintai Allah dan menjalankan perintah-perintah-Nya.
  2. Orang yang bertawakal kepada Allah dalam upaya untuk membuat dirinya tetap konsisten, menjaga kondisinya agar senantiasa bersama Allah dan tanpa ada keterkaitan dengan orang lain.
  3. Orang yang bertawakal dalam perkara-perkara yang biasa dicari orang, seperti: rizki, kesehatan, kemenangan mengahadapi musuh, membimbing isteri, anak dan sebagainya.

Hal ini dipetik oleh Ibnul Qoyyim dari firman Allah ketika menceritakan kondisi kaum mukminin yang mengucapkan:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”

Tawakal yang paling utama adalah tawakal dalam perkara-perkara yang wajib. Maksudnya tawakal dalam kewajiban terhadap Allah, kewajiban terhadap makhluk dan kewajiban terhadap diri sendiri.

Tawakal yang paling luas dan bermanfaat adalah tawakal yang bisa memberikan pengaruh yang nampak berkenan dengan kemaslahatan agama dan bisa menolak kerusakan agama. Tawakal ini adalah tawakal para nabi dalam menegakkan agama Allah dan mengkounter kerusakan para perusak di muka bumi. Tingkat tawakal selanjutnya adalah tawakalnya ahli waris para nabi (ulama, pent). Tingkat dibawahnya adalah tawakalnya orang-orang selainnya dimana tawakal mereka berbanding lurus sesuai dengan semangat dan niatan mereka.

Al Qur’an banyak berbicara mengenai tawakal. Kehidupan para rasul bersama dengan umatnya baik dari barisan pembela maupun musuh-musuh mereka adalah satu contoh tawakal.

Jihad orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah-tengah masyarakatnya yang disebutkan dalam Al Qur’an misalnya adalah keluarga Fir’aun yang beriman, penduduk suatu kampung dalam surat Yasin yang beriman dan sebagainya adalah juga contoh tawakal.

Banyak sekali ayat-ayat dalam Al Qur’an yang mengajak untuk bertawakal, memperbaiki dan menyempurnakannya. Allah ta’ala berfirman:

وَ عَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوْا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

artinya: “Dan kepada Allah-lah kalian seharusnya bertawakal kalau kalian benar-benar beriman.”(QS. Al Maidah: 23).

Allah ta’ala berfirman:

وَ مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

artinya:  “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupi (keperluannya).”(QS. Ath Tholaq: 3).

Tatkala menjelaskan doa para wali Allah, Dia berfirman:

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَلْنَا وَ إِلَيْكَ أَنَبْنَا وَ إِلَيْكَ المَصِيْرُ

artinya:  “Ya Rabb kami, kami bertawakal kepada Engkau dan kepada-Mu kami kembali dan kepada-Mu pula tempat kembali.”(QS. Al Mumtahanah: 4).

Allah I berfirman ketika mengajari Rasul-Nya:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ المُتَوَكِّلِيْنَ

artinya: “Jika engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”(QS. Ali Imron: 159).

Tatkala Allah subhanahu memuji para sahabat, Dia berfirman:

الَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْاهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْمَانًا حَسْبُنَا اللهُ وَ نِعْمَ الوَكِيْلُ

artinya:  “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka.’ maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”(QS. Ali Imron: 173).

Ayat-ayat yang berbicara tentang permasalahan ini sangat banyak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan tawakal dan memberikan dorongan untuk melakukan tawakal. Bagaimana tidak, diantara nama beliau adlah Al Mutawakkil (orang yang bertawakal) sebagaimana terdapat dalam beberapa riwayat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa kepada Allah ta’ala dan menjelaskan rasa tawakal beliau kepada Allah. Beliau mengucapkan:

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ أَمَنْتُ وَ عَلَيْكَ تَوَكَلْتُ وَ إِلَيْكَ أَنَبْتُ وَلَكَ خَاصَمْتُ

artinya:  “Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri dan kepada-Mu aku beriman. Aku bertawakal kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu. Hanya karena-Mu aku memusuhi (seseorang).”(HR. Muslim, 17/202).

Beliau memerintahkan para sahabatnya untuk bertawakal. Beliau berkata kepada mereka:

مَنْ قَالَ –يَعْنِي إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ- بِسْمِ اللهِ تَوَكَلْتُ عَلَى اللهِ وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَةَ إِلاَّ بِاللهِ يُقَالُ لَهُ كُفِيْتَ وَ وُقِيْتَ وَ تُنَحَّى عَنْهُمُ الشَّيْطَانُ

artinya:  “Barang yang siapa yang keluar dari rumah dan mengucapkan: ‘Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.’, maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau telah dicukupi, dijaga dan dihindarkan dari setan.”(HR. Tirmidzi, 5/490 dan beliau mengatakan,”Hadits Hasan Shahih Gharib)

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Ikhlas Bag.4

0

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang pendek dan semua kaum muslimin pasti hafal, sering diulang-ulang, surat yang sangat agung maknanya meskipun hanya empat ayat, surat yang seharusnya umat islam ini bersatu di atasnya.

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang menceritakan tentang diri Allah sendiri, dari keesaan-Nya, kesempurnaan-Nya, dan peniadaan selain-Nya yang sekufu (setara) dengan-Nya baik segi dzat, shifat maupun perbuatan. Berbicara tentang kemurnian tauhid, dan juga bantahan untuk kelompok yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan keturunan seperti kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin Arab dahulu.

Mari pada tulisan kali ini kita lanjutkan Tadabbur surat al-Ikhlas

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

 اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

 وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

(لم يلد و لم يولد)

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Dalam artikel sebelumnya dijelaskan bahwa ayat ini menjadi bantahan terhadap tiga golongan, yaitu: Yahudi, Nashoro, dan Musyrikun. Mereka semua menganggap bahwa Allah ta’ala mempunyai anak. Allah maha suci dari apa yang mereka anggap dan mereka yakini.

Dalam surat maryam Allah menginformasikan perihal keadaan langit, bumi dan gunung-gunung ketika mereka mendengar perkataan sebagian manusia yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak, Allah berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا (88) لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. (QS. Maryam: 88-92)

Nabi Muhammad ‘alaihis sholatu was salam menyatakan dalam hadits qudsi yang dibawakan oleh sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma

 عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللهُ: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لَا أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

“dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Anak Adam (manusia) telah mengatakan kebohongan tentang Aku padahal ia tidak berhak melakukannya. Ia juga mencela-Ku, padahal ia tidak berhak melakukannya. Kebohongan yang ia perbuat tentang-Ku adalah ia menganggap Aku tidak mampu menghidupkannya kembali sebagaimana sebelumnya. Adapun celaannya kepada-Ku, yaitu ia mengatakan bahwa Aku mempunyai anak. Mahasuci Aku, sama sekali Aku tidak memiliki istri dan juga anak’.” (H.R. Bukhari)

Allah maha sempurna (غني عن العلمين) tidak butuh apapun dan tidak butuh bantuan dari siapapun, Dia pencipta alam semesta dan apa saja yang ada padanya, Dia yang ada tanpa ada yang mengadakan.

(ولم يكن له كفوا أحد) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Tidak ada yang serupa dengan Allah, tidak satupun selain Dia yang setara denganNya, karena selainNya adalah makhluk ciptaan Allah.

Imam ibnu Katsir rohimahullah menyatakan dalam tafsirnya: “Dia adalah raja diraja dari segala yang ada dan penciptanya, maka bagaimana ada sekutu bagiNya atau semisal denganNya ?!, maha tinggi dan maha suci bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

Ayat di atas senada dengan firman Allah:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan maha Melihat”. (QS Asy-Syuro: 11)

Ibnu Sa’di rohimahullah berkata dalam tafsirnya: “Tidak ada sekutu dan semisal dengan Allah, baik dari dzat, nama, sifat maupun perbuatanNya, sungguh semua namaNya husna (puncak keindahan dan baik), sifatNya sempurna dan agung, dengan perbuatanNya Dia menciptakan semua makhluk tanpa sekutu yang membantuNya, maka tidak ada yang semisal dengan Allah dikarenakan keesaanNya dalam kesempurnaan dari segala segi”.

Pelajaran amaliyah dari surat Al-Ikhlas ini adalah seorang muslim wajib bersungguh-sungguh dalam mengenal Allah, dan wajib berlandaskan keikhlasan kerena Allah semata dalam ketaatan peribadahan kepadaNya, semakin mengenal Allah maka semakin ikhlas dalam beribadah dan semakin mendekat kepadaNya.

Semoga Allah senantiasa memberikan ramatNya kepada penulis dan pembaca. Aamiin.

Referensi:

  • Tafsir ibnu Katsir
  • Tafsir ibnu Sa’di
  • tadabbur-alquran.com
  • taftaq.com

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Melek Pesantren: Membuka Mata Orang Tua terhadap Dunia Anak di Pesantren

0

Bagi sebagian orang tua, menyekolahkan anak ke pesantren adalah pilihan mulia yang dilandasi niat baik: ingin anaknya menjadi penghafal Al-Quran, berakhlak mulia, mandiri, dan dekat dengan agama. Namun, banyak dari mereka yang sebenarnya belum benar-benar memahami kehidupan di  pesantren. Akibatnya, muncul gap harapan dan realita, serta kurangnya dukungan emosional yang dibutuhkan oleh anak selama menempuh pendidikan di sana. Padahal suksesnya belajar anak itu haru seimbang antara peran orang tua, guru dan si anak itu sendiri.

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang perlu diketahui agar orang tua menjadi lebih “melek pesantren”:

1. Pesantren Bukan Tempat Sulap Akhlak Instan

Sebagian orang tua berharap anak yang masuk pesantren akan langsung berubah jadi pribadi shalih, bacaan Al-Qurannya bagus memiliki hafalan yang banyak. Padahal, proses pembentukan karakter adalah perjalanan panjang. Santri tetaplah remaja yang sedang bertumbuh, dengan segala dinamika emosi dan tantangannya. Pendidikan akhlak menekuni Al-Quran membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesinambungan, termasuk dukungan dari rumah.

Hargai setiap proses anak di pesantren dan berikan suport positif bagi mereka.

2. Adaptasi Bukan Hal Mudah

Banyak santri mengalami masa adaptasi yang berat di awal mondok: rindu rumah, sulit tidur, tekanan pergaulan, hingga rutinitas yang padat. Sayangnya, beberapa orang tua justru menanggapi keluhan anak dengan ketidakpedulian atau malah menyuruhnya “kuat-kuat saja”. Padahal, dukungan emosional dan empati orang tua sangat dibutuhkan di fase ini.

Dalam situasi ini orang tua haruslah bijak dalam berkomunikasi, serta penuhi kebutuhannya di pesantren dengan maksimal sewajarnya tanpa berlebih-lebihan. Bisa juga dengan meninformasikan kepada ustadz atau guru di pesantren kebiasaan-kebiasaan sang anak yang membuat mereka nyaman.

3. Aturan Adalah Pendidikan, Bukan Kekangan

Beberapa orang tua menganggap aturan pesantren seperti larangan membawa HP, bangun dini hari, atau disiplin ibadah sebagai sesuatu yang berlebihan. Padahal, aturan-aturan tersebut adalah bagian dari kurikulum pembentukan karakter: mendidik kedisiplinan, kesabaran, dan ketundukan pada nilai. Tanpa pemahaman ini, orang tua bisa salah tafsir dan justru melemahkan proses pembinaan.

Peraturan dan kebijakan-kebijakan di pesantren tentunya telah dirumuskan dan dimusyawarahkan oleh banyak orang guna mencapai tujuan pendidikan yang telah di visi dan misi kan oleh pesantren.

4. Anak Tak Selalu Bisa Cerita Apa yang Terjadi

Ketika anak tidak bercerita banyak, bukan berarti ia baik-baik saja. Bisa jadi ia bingung, takut mengecewakan, atau tidak terbiasa mengungkapkan perasaan. Orang tua perlu proaktif menjalin komunikasi yang empatik dan terbuka. Tanya bukan hanya soal pelajaran, tapi juga tentang perasaan, teman, mimpi, dan tantangan yang sedang dihadapi.

Orang tua bisa bertanya kepada wali kelas, musyrif halaqoh atau wali asrama anaknya sehingga dapat mengunpulkan informasi yang mungkin anaknya tidak ceritakan.

5. Peran Pengasuh Tidak Menggantikan Tanggung Jawab Ayah-Ibu

Banyak yang beranggapan bahwa setelah mondok, tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya diambil alih pesantren. Padahal, orang tua tetap memegang peran utama sebagai pembentuk nilai dan pemberi cinta. Hubungan spiritual dan emosional yang kuat antara anak dan orang tua tetap sangat penting, meskipun jarang bertemu.

6. Santri Tidak Hanya Baca Al-Quran

Ada yang menyangka bahwa kehidupan pesantren hanya diisi dengan ngaji dan ibadah. Faktanya, banyak pesantren yang membekali santri dengan ilmu umum, keterampilan hidup, hingga kegiatan organisasi. Justru di pesantrenlah banyak anak yang belajar menjadi pemimpin, kemandirian, kesederhanaan, kreatif, dan mampu memecahkan masalah secara nyata.

7. Bukan Semua Masalah Harus Langsung Dipulangkan

“Sudah kita cari sekolah lainnya saja” ini mungkin kalimat yang diucapkan sebagian orang tua ketika melihat anaknya kesulitan beradabtasi, kesulitan menghafal atau kesulitan belakar.

Saat anak merasa berat mondok, banyak orang tua yang tergesa menyarankan pulang. Padahal, setiap proses pendidikan pasti ada ujiannya. Dengan bimbingan dan komunikasi yang baik, anak justru bisa tumbuh lebih dewasa setelah melewati masa sulitnya di pesantren. Jangan cepat mengambil keputusan emosional.

8. Santri Butuh Doa dan Dukungan, Bukan Hanya Uang Saku

Mendoakan anak dengan tulus, menyebut namanya dalam munajat, dan menunjukkan bahwa orang tua peduli, adalah “energi” yang sangat berharga bagi santri. Uang saku memang penting, tapi perhatian dan kasih sayang jauh lebih bernilai bagi semangat belajar mereka.

“Melek pesantren” bukan hanya tahu bahwa anak sedang belajar di pondok, tapi benar-benar memahami dunia mereka: suka dukanya, sistem pendidikannya, dan kebutuhan emosionalnya. Dengan begitu, orang tua tidak hanya menitipkan, tapi juga menemani secara batin dan spiritual perjuangan sang anak dalam menapaki jalan ilmu dan iman.

donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Ikhlas Bag.3

0

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang pendek dan semua kaum muslimin pasti hafal, sering diulang-ulang, surat yang sangat agung maknanya meskipun hanya empat ayat, surat yang seharusnya umat islam ini bersatu di atasnya.

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang menceritakan tentang diri Allah sendiri, dari keesaan-Nya, kesempurnaan-Nya, dan peniadaan selain-Nya yang sekufu (setara) dengan-Nya baik segi dzat, shifat maupun perbuatan. Berbicara tentang kemurnian tauhid, dan juga bantahan untuk kelompok yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan keturunan seperti kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin Arab dahulu.

Mari pada tulisan kali ini kita lanjutkan Tadabbur surat al-Ikhlas

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

 اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

 وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

(الله الصمد) “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu”

Ayat ini tidak ada yang serupa dengannya, kalimat ini tidak disebutkan dalam Al-Quran kecuali hanya sekali saja, Allah menyatakan dalam ayat ini dengan lafadz الصمدdengan memakai alif lam (ال) karena sifat ini menjadi kekhususan Allah dan hanya Dia satu-satunya tempat bergantungnya seluruh makhluk.

Ada beberapa penafsiran dari kata الصمد, diataranya:

  1. السيد المطاع (tuan yang dipatuhi) Allah adalah sayyid untuk semua makhlukNya, sebagaimana Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam bersabda: السَّيِّدُ اللهُ تبارَكَ وتعالى sayyid (tuan) itu adalah Allah tabaaroka wa ta’ala. HR Abu Dawud.

Allah adalah sayyid yang semua makhluk tidak terlepas dari perintahNya, dan semua makhluk berjalan di atas kehendakNya, tidak ada yang keluar dari apa yang Allah kehendaki.

  1. الباقي بعد فناء الخلق (Dzat yang tetap hidup setelah makhlukNya tidak ada) Allah berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (QS Ar-Rahman: 26-27)

  1. الذي يُصمد إليه ويُقصد في الحاجات (Dzat yang kepadaNya tertuju semua kebutuhan makhluk) karena hanya Dialah yang kuasa untuk mewujudkan apa yang menjadi kebutuhan makhlukNya, kepadaNya semua makhluk bersandar dan menyandarkan kebutuhannya, maka semua makhkuk membutuhkanNya, sedangkan Dia tidak membutuhkan makhlukNya.
  2. صمد بذاته، ويُصمد إليه في الأمور، ويُقصد في الحوائج والشّدائد.( Dzat yang berdiri sendiri, dan kepadaNya segala perkara disandarkan, dan kepadaNya pula segala kebutuhan serta musibah dikembalikan)

الصمد termasuk sifat Allah yang maha sempurna, Dia tidak membutuhkan satupun makhlukNya tetapi semua makhluk membutuhkanNya.

(لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.

Dia tidak melahirkan, tidak mempunyai anak baik laki-laki maupun perempuan, dan tidak pula menjadikan satupun dari makhlukNya sebagai anak. Allah maha suci dari anak, ini menjadi sifat sempurna bagi Allah. Dia tidak dilahirkan dari seorang ayah dan ibu, karena Dia yang awal wujudNya tanpa ada yang mengawali. Sesuatu yang melahirkan dan dilahirkan tidak akan abadi, sedangkan Allah Dzat yang abadi tidak akan pernah mati.

Ayat ini sebagai bantahan bagi mereka yang menganggap bahwa Allah punya anak, seperti:

  1. Orang-orang Yahudi, Allah berfirman وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ(Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah”) (QS. At-Taubah: 30)
  2. Orang-orang Nashoro, Allah berfirman وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ(orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”) (QS. At-Taubah: 30)

Allah membantah perkataan mereka dan memeranginya

 ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Itu ucapan keluar dari mulut-mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah memerangi mereka, bagaimana mereka sampai berpaling ?!” (QS. At-Taubah: 30)

  1. Orang-orang musyrikin, Allah berfirman

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ إِنَاثًا ۚ أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ ۚ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban”. (QS. Az-Zuhruf: 19)

Disebabkan perkataan mereka yang menganggap Allah punya anak, langit bumi tidak terima dan seakan-akan akan pecah, dan gunung-gunung akan hancur karena marah kepada mereka.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Bukan Sekadar Melepas: Seni Orang Tua dalam Menemani Perjuangan Anak di Pesantren

0

Menitipkan anak ke pesantren bukan sekadar perkara melepas raganya dari rumah, melainkan sebuah keputusan besar yang menyangkut masa depan, akidah, dan karakter anak. Di pesantren, tersimpan perjuangan sunyi para santri dalam menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Namun, di balik itu semua, ada peran orang tua yang sering kali luput dari sorotan: peran sebagai pendamping, penyemangat, dan penopang doa dari kejauhan.

Menjadi orang tua santri adalah seni tersendiri, seni dalam memahami perubahan anak, seni dalam mengelola rindu, dan seni dalam membangun komunikasi serta harapan yang tak putus. Artikel ini mencoba mengurai bagaimana seharusnya orang tua tidak hanya ‘melepas’, tetapi juga ‘menemani’ perjuangan anak di pesantren, baik secara emosional, spiritual, maupun moral. Karena sejatinya, kesuksesan anak di pesantren bukan hanya ditentukan oleh program lembaga, tapi juga oleh sinergi yang kuat antara rumah dan pesantren.

Berikut ini beberapa kiat orang tua dalam mensuport anak di pesantren,

1. Niat dan Doa yang Tulus

Segala hal yang diniatkan karena Allah akan bernilai ibadah. Termasuk ketika orang tua menyekolahkan anak ke pesantren, niatkan untuk mencari ridha Allah dan menjadikan anak sebagai penjaga agama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnul Qayyim menyatakan bahwa doa orang tua adalah “salah satu sebab terbesar terbukanya pintu-pintu keberkahan bagi anak.”

Maka selain niat tulus dalam memondokkan anak di pesantren, orang tua juga harus senantiasa mendokan putra putri mereka dari rumah. Karena doa-doa tulus orang tua untuk anak-anak mereka insyaallah akan Allah ijabahi.

2. Bangun Komunikasi yang Hangat

Anak di pesantren sering merasa kesepian di awal. Komunikasi yang baik dari orang tua dapat menjadi penyejuk hati. Tanyakan kabar, beri semangat, dan jangan tanya dengan nada negatif seperti, “Kamu kuat nggak? Ingin pulang?”

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya memilih kata-kata yang lembut dan mendidik, karena kata-kata adalah jalan masuk ke hati. Jangan ceritakan semua kondisi rumah kepada anak, bahkan permasalahan yang ada di rumah, hal tersebut seringnya membuat anak tidak fokus di pesantren, rahanya ada di pesantren tapi pikirannya tidak, ia ikut memikirkan masalah-masalaj yang ada di rumah serta merasa cemah.

3. Tunjukkan Rasa Bangga dan Apresiasi

Anak akan lebih semangat jika merasa diakui perjuangannya. Tunjukkan kebanggaan orang tua atas perjuangannya yang tidak mudah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut (dengan mensyukurinya).”(QS. Adh-Dhuha: 11)

Hasan al-Bashri berkata: “Tunjukkan kegembiraanmu atas kebaikan orang lain, maka hatinya akan semakin kokoh.”

Apresiasi merupakan salah satu wasilah utama dalam mensuport anak, sedikit banyak perkembangan hafalan atau pembelajaran harus disyukuri dan di suport bukan malah ditekan dan dibanding-bandingkan dengan santri lainnya.

4. Pahami Dinamika Dunia Pesantren

Orang tua perlu tahu dunia anaknya agar bisa memberi dukungan yang sesuai. Jangan sampai memberi tekanan karena tidak tahu tantangan harian anak di pesantren.

Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Umar bin Khattab berkata, “Ajari anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman yang berbeda dari kalian.”

Diantara cara membuat anak nyaman dipesantren adalah, sampaikan kepada musyrfinya terkait kebiasaan sang anak, misal sang anak mudah dibangunkan tidur bula dipijat kakinya, sang anak suka bila diberi challange persaingan dengan teman-temannya, sang anak tidak suka dibanding-bandingkan. hal-hal semisal ini bisa disampaikan kepada musyrif pengampunya agar dalam lebih maksimal dalam membersamai ananda,

5. Jangan Bandingkan Anak

Setiap anak memiliki keunikan dan fase perkembangan yang berbeda. Membandingkan anak hanya akan menumbuhkan rasa rendah diri atau benci terhadap prosesnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“…Janganlah kamu iri terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)

Imam Ibn Hazm: “Orang tua yang membandingkan anak, ibarat tukang kebun yang menuntut semua tanamannya tumbuh dengan bentuk dan tinggi yang sama.”

Setiap anak adalah anugrah dari Allah, dan setiap mereka memliki kelebihan masing-masing, sangat tidak adail ketika orang tua menginingkan anaknya selalu sama dengan anak-anak lainnya.

6. Berikan Kesempatan Curhat Tanpa Menghakimi

Jadilah pendengar yang sabar dan penuh kasih, bukan penghakim. Kadang anak hanya ingin didengarkan, bukan diadili.

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Sebaik-baik orang tua adalah yang bisa menjadi telinga dan hati bagi anaknya, dengarkan kisah dan curhat anak dengan tulus, kemudian berkan suport dan soluli-solusi yang baik, dan tentunya tidak bertentangan denga tujuan pesantren atay peraturan yang ada di pesantren.

7. Kuatkan dengan Kisah-Kisah Inspiratif

Kisah para ulama, sahabat, dan hafidz Qur’an bisa menambah semangat anak. Ceritakan bagaimana Imam Syafi’i belajar di usia muda, atau bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal diuji dalam mencari ilmu.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)

Ibnul Jauzi berkata dalam Shifatus Shafwah, “Kisah orang-orang salih itu adalah bahan bakar semangat jiwa.”

Orang tua bisa membelikan buku-buku kisah ulama terdahulu dalam menuntut ilmu, kisah-kisah inspirasi dalam buku seringkali dalam meningkatkan kembali semangat anak ketika luntur danfutur.

8. Kunjungi dengan Niat Menguatkan

Kunjungan orang tua bisa menjadi vitamin batin bagi anak. Namun jika disertai kesedihan berlebihan, bisa menjadi bumerang. Tampilkan sikap tegar dan dukungan yang kokoh.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Salah satu bentuk cinta adalah kekuatan di hadapan orang yang kita cintai, agar ia tidak rapuh.

9. Perhatikan Kebutuhan Fisik dan Emosional

Bekali anak dengan kebutuhan yang cukup, bukan berlebihan. Pendidikan pesantren mengajarkan kesederhanaan. Orang tua yang bijak menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani anak.

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Keseimbangan antara ruh dan jasad adalah kunci istiqamah. berikan kebutuhan anak secukupnya bukan berlebih, baik itu makanan, uang jajan atau yan semisalnya

10. Sabar dan Tawakkal

Ingat, proses membentuk generasi berakhlak dan berilmu tidak instan. Sabar dan bertawakkal kepada Allah adalah dua pilar utama dalam mendidik anak.

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan bersabarlah; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Ibnu Qudamah mengatakan, “Sabar dalam mendidik anak adalah bagian dari sabar dalam jihad di jalan Allah.”

Semoga Bermanfaat

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.14: Tanda Taubat yang Benar

0

Taubat adalah jalan kembali menuju ampunan Allah setelah seseorang terjatuh dalam dosa. Ia bukan sekadar ucapan istighfar di lisan, namun sebuah perjalanan hati yang tulus, disertai perubahan nyata dalam perilaku. Dalam kehidupan seorang Muslim, taubat menjadi bukti kesadaran akan kelemahan diri dan kebesaran rahmat Allah yang Maha Pengampun. Namun, sering kali muncul pertanyaan: apakah taubat saya sudah benar? Artikel ini akan mengulas tanda-tanda taubat yang benar menurut panduan Al-Qur’an, Hadis, dan penjelasan para ulama, agar kita tidak hanya menyesal, tapi juga diterima dan diperbaiki oleh Allah Ta’ala.

Taubat yang benar memiliki tanda-tanda, diantaranya:

1. Kondisi seorang yang telah bertaubat itu lebih baik daripada kondisi sebelumnya.

2. Selalu dibayangi rasa takut dengan siksaan sebelum dia meninggal dan mendengar malaikat berkata kepadanya:

 أَلاَ تَخَافُوْا وَ لاَ تَحْزَنُوْا وَ أَبْشِرُوْا باِلجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Janganlah kalian merasa takut dan sedih. Gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan untuk kalian.”(QS. Fushilat: 30).

Pada saat itulah rasa takut menjadi hilang.

  1. Banyak menangis, merasa bersalah dan menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Juga termasuk dalam tanda-tanda taubat yang benar adalah timbulnya kesusahan yang aneh dalam hati yang tidak bisa digambarkan. Perasaan ini tidaklah timbul kecuali dalam diri orang yang melakukan perbuatan dosa. Hal itu tidaklah timbul semata karena rasa lapar dan cinta. Sesungguhnya rasa itu lebih dari pada itu semua. Hati merasa benar-benar bersalah di hadapan Allah. Rasa bersalah itu meliputi seluruh hatinya dari segala sisi. Rasa bersalah itu akan menimbulkan rasa rendah diri dan khusyuk di hadapan Allah.

Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain rasa bersalah, khusyuk, rendah diri, tawadhu, menyendirinya hamba di hadapan-Nya dan berserah dirinya seorang hamba kepada-Nya. Dalam keadaan demikian itu, sungguh betapa manisnya ucapan yang mengatakan:

“Aku hanya meminta rahmat-Mu dengan kemulian-Mu dan kehinaan diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan kekuatan-Mu dan kelemahanku, dengan kekayaan-Mu dan kemiskinanku. Inilah ubun-ubunku seorang pendusta dan berbuat kesalahan berada di hadapan-Mu. Hamba-Mu yang selain aku begitu banyak. Tidaklah aku memiliki Tuan kecuali Engkau. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksa-Mu kecuali dengan-Mu. Aku memohon kepada-Mu seperti permintaan orang miskin. Aku berdoa kepada-Mu sebagaimana doa orang yang tunduk dan merendahkan diri. Aku berdoa kepada-Mu seperti doanya orang yang takut dan buta. Aku meminta kepada-Mu seperti permintaannya orang yang leher dan dirinya telah tunduk kepada-Mu, orang yang air matanya berlinang karena-Mu dan orang yang hatinya merendahkan diri kepada-Mu.”

Demikian itu dan hal-hal yang semisalnya adalah pertanda taubat yang diterima. Barang siapa yang tidak menjumpai hal itu dalam hatinyanya, hendaknya dia kembali untuk memperbaiki taubatnya. Sebenarnya, betapa sulitnya taubat yang benar dan betapa ringannya kalau cuma sekedar ngomong dengan lisan dan mengaku-aku saja. Tidaklah seseorang itu melakukan suatu perbuatan yang terasa lebih berat daripada melakukan taubat yang tulus dan sejati. Tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah. (Tahdzib Madarij As Salikin: 125-126).

Umar bin Dzar (wafat: 153 H)  berkata: “Setiap kesedihan itu akan hilang kecuali kesedihan orang yang bertaubat dari dosa.”(Nuzhatul Fudhola,: 2/845).

  1. Merasa dunia itu sempit padahal sebenarnya luas. Orang yang berbuat dosa, hatinya merasa sempit sampai dia bisa bertaubat.

Rasa sempit yang timbul ini adalah sebagaimana firman Allah tabaraka wa ta’ala mengenai tiga orang sahabat y yang tidak mengikuti perang Tabuk dan kemudian mereka mendapatkan ampunan dari Allah. Allah berfirman:

artinya: “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (permintaan taubat) mereka, hingga apabila bumi itu telah sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. At Taubah: 118)

  1. Meninggalkan teman-teman yang jelek.

Orang yang mengaku bertaubat dengan benar kemudian dia tetap berkawan dengan teman-teman yang jelek dan tidak mau meninggalkan mereka maka boleh jadi dia adalah:

  • orang yang berdusta dengan statemen yang telah dibuatnya,
  • atau orang yang mengikuti dorongan hawa nafsunya yang begitu kuat. Akibatnya, nafsu menyetirnya untuk berteman dengan teman-teman yang jelek. Kalau dia tidak termasuk ke dalam dua kelompok di atas maka dia pasti akan meninggalkan teman-teman jeleknya sejak awal mula taubatnya.

Syaqiq Al Balkhi rahimahullah ta’ala mengatakan (wafat: 194) bahwa tanda orang yang bertaubat adalah menangisi perbuatannya yang dulu, takut terperosok dalam perbuatan dosa, meninggalkan teman-teman jeleknya dan berkawan dengan orang-orang yang baik.

KAIDAH DAN CATATAN PENTING

  1. Kejelekan orang yang bertaubat akan diganti dengan kebaikan. Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

إِلاَّ مَنْ تَابَ وَ آمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا فَأُلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئاَتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَ كَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَحِيْمًا

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Furqon: 70).

  1. Taubat yang paling berat adalah taubat nashuhah. Kami telah menjelaskan bahwa taubat nashuhah adalah bertaubat dari perbuatan dosa dan tidak lagi melakukan perbuatan itu sebagaimana air susu itu tidak akan kembali pada putingnya.

Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa taubat nashuhah itu bisa terwujud dengan tiga hal, yaitu:

  • Pertama, Bertaubat dari segala dosa. Tidak ada satupun dosapun melainkan kita bertaubat darinya.
  • Kedua, Benar-benar bertekad untuk menghindari dan tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
  • Ketiga, Melakukan taubat dengan ikhlash, bersih dari tendensi-tendensi duniawi. Tidaklah kita bertaubat seperti seorang yang bertaubat karena kedudukan, kehormatan, mempertahankan kedudukan dan kursi kepemimpinan. Kita juga tidak boleh bertaubat sebagaimana seorang yang bertaubat karena pamor kekuasaan, harta benda dunia, mendapatkan sanjungan orang dan agar terhindar dari celaan orang banyak. Kita tidak boleh bertaubat seperti taubat seseorang agar orang-orang bodoh tidak menguasai, membuat rugi dan memperlemah dirinya serta tendensi-tendensi negatif lainnya yang akan mencemari kebenaran dan kemurnian taubat kita kepada Allah U. Taubat seperti inilah yang merupakan taubat yang paling sempurna.
  1. Ada dua belas jenis perbuatan haram. Jika seorang hamba melakukannya maka dia harus segera bertaubat. Perbuatan-perbuatan haram itu menjadi inti dari dosa-dosa besar. Seluruh perbuatan-perbuatan haram itu termaktub dalam Al Qur’an, yaitu: kafir, syirik, nifak, fasik, maksiat, kejahatan, permusuhan, perbuatan keji, perbuatan mungkar, perzinaan, berkata tentang Allah tanpa dasar ilmu dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman.(Tahdzib Madarij As Salikin hal. 191).
  2. Taubat yang ideal dan sempurna bagi seorang hamba adalah bertaubat dari semua dosa baik dosa besar maupun dosa kecil dengan taubat nashuha. Terkadang ada orang yang bertaubat dari dosa besar akan tetapi tidak bertaubat dari dosa kecil. Terkadang seseorang bertaubat dari satu dosa besar atau lebih akan tetapi dia justru terperosok ke dalam dosa-dosa besar yang lainnya dan dia belum bertaubat dari dosa tersebut. Terkadang pula ada orang yang bertaubat dari dosa kecil akan tetapi tidak bertaubat dari dosa besar. Setiap kasus di atas bisa dialami oleh setiap orang. Hanya Allahlah tempat meminta pertolongan dan tempat untuk bersandar.
  3. Ada orang yang tidak mampu melakukan taubat padahal dia mengakui bahwa taubat adalah suatu hal yang penting dan memiliki keutamaan yang besar. Hal ini disebabkan pengaruh nafsu syahwat yang kuat. Solving problem dari permasalahan ini adalah dengan mengiringi setiap perbuatan jelek yang dilakukan dengan perbuatan baik. Tipe orang seperti ini termasuk ke dalam kelompok orang yang digambarkan Allah sebagai berikut:

“Mereka mencampurbaurkan antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka.”(QS. At Taubah: 102) ( Ittihaf As Saddah Al Muttaqin: I/749).

Semoga Allah mempermudah jalan taubat untuk orang seperti di atas karena dia senantiasa mengiringi perbuatan jelek yang telah dia lakukan dengan perbuatan baik. Kalau sekiranya dia belum bertaubat sampai ajal menjemputnya, semoga amal-amal kebajikannya akan menjadi lebih banyak daripada perbuatan jeleknya ketika terjadi penimbangan amal. Akibatnya, dia bisa selamat dari siksa Allah lantaran anugrah dan karunia yang diberikan oleh Allah. Kalau amal kebaikannya tidak lebih berat dibandingkan amal keburukannya maka orang tersebut sedang berada dalam bahaya yang besar.

  1. Orang yang bertaubat harus meninggalkan teman-teman jeleknya. Hal ini didasari dengan dua alasan:
  • Teman-teman yang jelek akan mendorongnya untuk mengingat kembali perbuatan maksiat, membuatnya rindu untuk kembali melakukan kemaksiatan bahkan memberikan support untuk melakukan perbuatan maksiat tersebut.
  • Meninggalkan teman-teman yang jelek adalah bukti taubat yang sejati dan bukti ketundukan kepada Allah. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin seorang mengaku-aku bertaubat, padahal dirinya masih bergumul dengan bekas-bekas perbuatan maksiat dan para pelaku maksiat? Dalam uraian di atas juga telah dibicarakan permasalahan mengenai meninggalkan teman-teman yang jelek.
  1. Seorang penyusun kitab Qamush Muhith mengatakan bahwa kata taubat terdapat dalam Al Qur’an dengan tiga makna, yaitu:
  • Jika digandeng dengan kata (على) maka maknanya mengampuni dan memaafkan. Contohnya adalah firman Allah ta’ala:

فَتَابَ عَلَيْكُمْ

Maka Allah mengampuni kalian.”(QS. Al Baqoroh: 54).

Allah ta’ala berfirman:

يَتُوْبُ عَلَيْهِمْ

Dia akan mengampuni mereka.”(QS. Ali Imron: 128).

Allah ta’ala berfirman:

يَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَا يَشَاءُ

Allah mengampuni orang yang dikehendaki-Nya.”(QS. At Taubah: 15).

  • Jika digandeng dengan kata (إلى) maka maknanya kembali. Contohnya adalah firman Allah ta’ala:

تُبْتُ إِلَيْكَ

artinya:  “Aku kembali kepada-Mu.”(QS. Al A’raf: 143).

Allah ta’ala berfirman:

فَتُوْبُوْا إِلَى بَارِئِكُمْ

Kembalilah kepada Rabb yang telah menjadikan kalian.”(QS. Al Baqoroh: 54).

Allah ta’ala berfirman:

وَ تُوْبُوْا إِلَى رَبِّكُمْ

artinya: “Maka kembalilah kepada Allah.”(QS. An Nur: 30).

  • Jika tidak bergandengan dengan kata (على) dan (إلى) maka maknanya adalah menyesal karena telah terpeleset sehingga jatuh dalam kesalahan. Contohnya adalah firman Allah ta’ala:

إِلاَّ الَّذِيْنَ تَابُوْ وَأَصْلَحُوْا

Kecuali orang-orang yang menyesali (perbuatannya) dan berbuat baik.” (QS. Al Baqoroh: 54).

Allah ta’ala berfirman:

فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Jika kalian menyesal maka hal itu lebih baik bagi kalian.”(QS. At Taubah: 30).

(Ittihaf As Saddah Al Muttaqin: 10/812-813. Pernyataan di atas adalah nukilan dari kitab Bashoirut Tamyiz buah karya Al Fairuz Abadi).

8. Allah ta’ala mengampuni dosa orang yang benar-benar bertaubat. Bahkan orang yang bertaubat bisa terbebas dari hukuman dunia jika dia bertaubat sebelum diketahui hakim dan didudukkan di meja hijau. Akan tetapi dalam hal ini terdapat pengecualian untuk tiga jenis orang:

  • Para tukang sihir karena sihir adalah perbautan kekafiran. Hal ini juga dikarenakan taubat tukang sihir tidak bisa dipastikan kebenarannya dan juga tidak bisa dipastikan bahwa tukang sihir tersebut tidak lagi menyakiti orang lain.
  • Orang yang melecehkan nabi padahal dahulunya dia adalah orang Islam. Hukum orang yang berbuat seperti ini adalah dibunuh.
  • Orang-orang zindiq, yaitu orang berpendapat bahwa semua agama itu sama, atau orang yang tidak beragama sama sekali. Walaupun demikian itu, dia tetap mengaku dirinya sebagai orang Islam.
  • Orang-orang Rafidhah, yaitu orang yang mencaci para sahabat. Demikianlah pendapat imam Abu Hanifah. (Ahkamut Taubah hal: 94-98).

Taubat keempat orang di atas tidaklah diterima di dunia bahkan mereka dijatuhi hukum bunuh. Akan tetapi kaitan antara dirinya dengan Allah ta’ala maka itu urusannya berbeda. Sesungguhnya Allah mengetahui hati-hati mereka. Dia juga mengetahui apakah taubatnya itu adalah taubat yang sejati ataukah sekedar taubat palsu. Pada hari kiamat, mereka akan diperlakukan sesuai dengan apa yang berada di dalam hati-hati mereka sebelum dijatuhi hukuman bunuh.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Ikhlas Bag.2

0

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang pendek dan semua kaum muslimin pasti hafal, sering diulang-ulang, surat yang sangat agung maknanya meskipun hanya empat ayat, surat yang seharusnya umat islam ini bersatu di atasnya.

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang menceritakan tentang diri Allah sendiri, dari keesaan-Nya, kesempurnaan-Nya, dan peniadaan selain-Nya yang sekufu (setara) dengan-Nya baik segi dzat, shifat maupun perbuatan. Berbicara tentang kemurnian tauhid, dan juga bantahan untuk kelompok yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan keturunan seperti kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin Arab dahulu.

Mari pada tulisan kalinini kita lanjutkan Tadabbur surat al-Ikhlas

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

 Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

 اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

 وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Inilah 4 ayat yang pendek-pendek tetapi mempunyai kandungan isi yang sangat padat dan istimewa, surat yang disebut dengan al-Ikhlas, dikarenakan kemurniaan pembahasan dalamnya hanya mengenai tauhid semata.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”

Mengapa dalam surat ini dimulai dengan fi’il amr (kata yang menunjukkan perintah) yaitu lafadz قل(katakan) ?

Ini adalah pembicaraan Allah ta’ala yang ditujukan kepada NabiNya ‘alaihis sholatu was salam dan juga umat beliau, didalamnya ada perintah untuk mengesakan Allah dalam sifsfNya dengan sifat yang paling sempurna, dan dengan ungkapan yang paling dalam.

Kata أحد (esa) adalah sebuah ungkapan yang mengandung makna bahwa Dia tidak ada bandingannya, tidak ada lawannya dan tidak ada sekutu. Maka Allah adalah esa dalam sifatNya, esa dalam dzatNya, dan esa dalam wujudNya. Allah esa dalam rububiyahnNya (perbuatanNya) seperti firmanNya

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا

“Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu (wali-wali) dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?” (QS. ar-Ro’d; 16)

Allah esa dalam uluhiyahNya (keberhakan untuk di sembah oleh hambaNya), seperti firman Allah

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. ali ‘imron: 2)

Allah esa dalam asma wa sifat (nama dan sifatNya), sebagaimana firmanNya

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Syuro: 11)

Sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan oleh sekalian kaum muslimin “Apakah kita benar-benar telah kenal Allah ta’ala ?” seandainya telah benar-benar kenal Allah, niscaya tidak akan melanggar perintahNya dan akan selalu takut dan cinta kepadaNya. Sungguh mengenal Allah adalah surga dunia sebelum akherat, siapa saja yang telah masuk surga dunia niscaya dia akan masuk surga akherat. Mengenal Allah adalah kewajiban pertama kali bagi seorang hamba.

(الله) Lafadz Allah adalah sebuah nama untuk dzat yang maha suci dan maha tinggi, dia adalah al-ismu al-a’dzom (nama Allah paling agung) yang meliputi semua nama-nama Allah dan sifatNya yang Allah telah kabarkan ke hambaNya lewat kitabNya (Al-Quran) dan RosulNya Muhammad ‘alaihis sholatu was salam, tidak ada satupun makhluk yang bernama dengannya dan tidak diperbolehkan menggunakan nama itu, kecuali dalam bentuk penghambaan, seperti ; Abdullah (hamba Allah).

Allah menyatakan dengan قل هو الله أحد(katakan “Dia Allah maha Esa) Allah tidak menyatakan dengan قل هو الرب(katakan “Dia tuhan… ) mengapa demikian ? Karena lafadz Allah di pakai untuk menunjukkan keagungan, kekuasaan dan kemuliaan, sedangkan lafadz Rob di pakai untuk menunjukkan rohmah (kasih sayang), penciptaan, pemberian rizki dan pengampunan. Dalam surat Al-Ikhlas ini konteksnya adalah tauhid, kekuasaan dan keagungan Allah buka konteks dalam pemberian rizki dan nikmat.

(أحد) Esa adalah lafadz yang menunjukkan pengesaan dan meniadakan persekutuan, maka Allah adalah Esa di dalam rububiyahNya (perbuatanNya) UluhiyahNya (keberhakan untuk di sembah) dan asma’ was shifat (nama dan sifatNya).

Bersambung insyaallah

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

10 Hal Seputar Bulan Muharram

0

Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah menjadikan waktu-waktu tertentu sebagai musim kebaikan, di mana amal saleh dilipatgandakan dan dosa-dosa dapat diampuni. Salah satu di antaranya adalah bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender hijriyah, yang disebut langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai “Syahrullah” (bulan Allah) sebuah julukan agung yang menunjukkan keutamaannya.

Muharram termasuk dalam empat bulan haram yang dimuliakan Allah Ta’ala, dan di dalamnya terdapat peristiwa besar dalam sejarah Islam yang layak untuk dikenang dan diambil ibrah. Sayangnya, tidak sedikit kaum Muslimin yang melewatkan kemuliaan bulan ini karena kurangnya pengetahuan tentang fadhilah dan sunnah-sunnahnya.

Tulisan ini berisi 10 hal penting seputar bulan Muharram, sebagai pengingat sekaligus panduan agar kita dapat menghidupkan Muharram dengan amalan yang diridhai oleh Allah Ta’ala

1. Muharram Termasuk Bulan Haram yang Dimuliakan

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ) yang dimuliakan Allah. Dalam bulan-bulan ini, Allah melipatgandakan pahala amalan kebaikan dan memperberat dosa keburukan. Bulan haram adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sejak zaman Jahiliyyah pun, bulan-bulan ini dijaga kehormatannya. Maka sebagai seorang Muslim, kita dianjurkan untuk lebih berhati-hati dan memperbanyak amal saleh di dalamnya.

Dalil:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…”
(QS. At-Taubah: 36)

2. Disebut Sebagai Bulan Allah (Syahrullah)

Rasulullah ﷺ secara khusus menyebut Muharram sebagai “Syahrullah” (شَهْرُ اللَّهِ), yang berarti “Bulan Allah”, dan tidak ada bulan lain yang mendapatkan penyebutan semacam ini. Ini menunjukkan keutamaan dan kehormatan bulan Muharram. Penyandaran sesuatu kepada Allah adalah bentuk pemuliaan, sebagaimana Ka’bah disebut “Baitullah”.

Dalil:

أفضل الصِّيام، بعد رمضان، شَهر الله المُحَّرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah – yaitu Muharram.”
(HR. Muslim no. 1163)

3. Dianjurkan Memperbanyak Puasa Sunnah

Muharram adalah momentum yang sangat baik untuk memperbanyak puasa sunnah, terutama karena Rasulullah ﷺ sangat menganjurkannya. Berpuasa di bulan ini akan membawa banyak keutamaan dan menjadi sarana pensucian jiwa. Para ulama menyatakan bahwa amalan di bulan haram, termasuk puasa, memiliki nilai dan pahala yang lebih besar dibanding bulan lainnya (selain Ramadhan).

Dalil:

أفضل الصِّيام، بعد رمضان، شَهر الله المُحَّرم

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)

4. Keutamaan Hari ‘Asyura (10 Muharram)

Hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram, adalah hari yang sangat agung dalam Islam. Pada hari ini banyak peristiwa besar terjadi, salah satunya adalah diselamatkannya Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Puasa di hari ini dianjurkan karena dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun sebelumnya.

Dalil:

وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162)

5. Disunnahkan Puasa Tasu’a (9 Muharram)

Untuk menyelisihi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram (‘Asyura), Rasulullah ﷺ bertekad untuk berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) sebagai bentuk pembeda. Ini menunjukkan pentingnya membedakan diri dari kaum non-Muslim dalam perkara ibadah.

Dalil:

لَئِن بَقِيتُ إلى قابلٍ لأصومنّ التاسِع

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim no. 1134)

6. Hari Diselamatkannya Nabi Musa AS

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ‘Asyura adalah hari agung karena Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari Firaun. Nabi Muhammad ﷺ lebih berhak meneladani Musa dibanding orang-orang Yahudi. Maka dari itu, beliau memerintahkan umat Islam untuk ikut berpuasa di hari itu sebagai bentuk syukur.

Dalil:

هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ

“Hari ini adalah hari yang agung di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Firaun dan kaumnya. Maka Musa pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur, dan aku lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

7. Dosa Diperberat di Bulan Haram, Termasuk Muharram

Dalam bulan-bulan haram, perbuatan dosa menjadi lebih besar dosanya di sisi Allah. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap waktu-waktu yang dimuliakan. Maka, kita diperintahkan untuk menjauhi segala bentuk kezaliman, maksiat, dan tindakan menyimpang selama bulan ini.

Dalil:

فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian dalam bulan-bulan itu.”
(QS. At-Taubah: 36)

8. Tidak Ada Ritual Khusus yang Diada-adakan

Sebagian orang melakukan amalan khusus yang tidak diajarkan Nabi ﷺ di bulan Muharram seperti menangisi tragedi Karbala, menyakiti diri, atau membuat ritual tertentu yang tidak berdasar. Islam melarang bentuk-bentuk ibadah yang tidak bersumber dari ajaran Rasulullah ﷺ.

Dalil:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini apa yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Bukan dari golongan kami orang yang memukul pipinya, merobek bajunya, dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”(HR. Bukhari dan Muslim)

9. Momen Muharram Cocok untuk Muhasabah dan Hijrah Hati

Karena Muharram adalah awal tahun hijriyah, sangat tepat bagi seorang Muslim untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan memperbaharui niat untuk menjadi lebih baik. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tapi juga berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari maksiat menuju taat.

Dalil:

المهاجر من هجر ما نهى الله عنه

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.” (HR. Bukhari)

10. Awal Penanggalan Hijriyah Dimulai dari Muharram

Walaupun peristiwa hijrah Nabi ﷺ ke Madinah tidak terjadi tepat 1 Muharram, tetapi pada masa Khalifah Umar bin Khattab, bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Ini karena bulan Muharram datang setelah bulan Dzulhijjah, di mana para sahabat berbaiat kepada Nabi ﷺ, dan hijrah dimulai setelah itu.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab bermusyawarah dengan sahabat-sahabat besar seperti Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, hingga akhirnya menetapkan awal penanggalan Islam dimulai dari bulan Muharram dan tahun hijrah Nabi sebagai patokannya.

Bulan Muharram adalah bulan suci yang penuh keutamaan dan berkah. Hendaknya kita sebagai Muslim mengisinya dengan amal ibadah, meninggalkan maksiat, memperbanyak puasa, dan meneladani perjuangan para nabi. Jadikan Muharram sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih bersih, lebih baik, dan lebih taat kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menghargai waktu, mencintai sunnah, dan terus berusaha memperbaiki diri dari tahun ke tahun.

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.13: Syarat Taubat dari Dosa Besar dan Kecil

0

Setelah pada tulisan sebelumnya kita bahas terkait macam-macam dosa. maka pada tulisan kali ini akan kita bahas syarat dan cara bertaubat baik dari dosa besar maupun dosa kecil.

Jalan untuk bertaubat dari dosa kecil, yaitu:

1. Menjauhi dosa kecil.

Diantara karunia Allah ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya adalah Dia menjadikan upaya untuk menjauhi perbuatan dosa besar sebagai penghapus dosa-dosa kecil.

Allah ta’ala berfirman:

إِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّأَتِكُمْ وَ نُدْخِلْكُم مُدْخَلاً كَرِيْمًا

Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang terlarang kalian untuk mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami akan memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).”(QS. An Nisa’: 31).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلاَوَاتُ الخَمْسُ وَ الجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ وَ رَمَضَانَ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَ الكَبَائِرُ

Mengerjakan sholat wajib lima waktu, sholat Jum’at satu dengan sholat Jum’at berikutnya, puasa pada bulan Ramadhan satu dengan puasa pada bulan Ramadhan lainnya bisa menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.”(HR. Muslim).

2. Beramal kebajikan.

Barang siapa yang berbuat kebajikan maka Allah akan menghapus dosa-dosa kecilnya. Contohnya adalah mengerjakan sholat secara berjamaah. Amalan ini bisa menghapuskan dosa-dosa kecil.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ لِصَلاَةٍ فَأَسْبَغَ الوُضُوْءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ المَكْتُوْبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوِ الجَمَاعَةِ أَوْ فِي المَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَهُ

Barang siapa yang berwudhu untuk mengerjakan sholat, kemudian dia menyempurnakan wudhunya. Dia lantas berjalan untuk mengerjakan sholat wajib. Dia mengerjakan sholat wajib itu bersama orang lain atau dengan berjamaah atau di masjid maka Allah akan mengampuni dosanya.”(HR. Muslim).

3. Memohon ampun.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam perkataan yang beliau hikayatkan dari rabbnya, Allah berfirman: “Ada seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa. Dia lantas mengucapkan: ‘Ya Allah, ampunilah dosaku’. Allah ta’ala lantas berfirman: ‘Ada seorang hambaku yang melakukan perbuatan dosa. Dia mengetahui bahwa dirinya memiliki Rabb yang akan mengampuni dosanya atau menghukumnya disebabkan dosa tersebut.’ Orang itu lantas mengulangi perbuatan dosa itu, lantas mengucapkan: ‘Duhai Rabbku, ampunilah dosaku.’

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Ada seorang hambaku yang melakukan perbuatan dosa dan dia mengetahui kalau dirinya memiliki Rabb yang akan mengampuni dosanya atau menghukumnya disebabkan dosa tersebut.’ Orang tadipun mengulangi perbuatan dosa itu lagi, lantas mengucapkan: ‘Duhai Rabbku, ampunilah dosaku.’

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: ‘Ada hambaku yang melakukan perbuatan dosa dan dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang akan mengampuni dosanya atau menghukumnya disebabkan dosa tersebut, berbuatlah sekehendakmu karena aku telah mengampunimu.”(HR. Muslim)

Yang dimaksud « berbuatlah sekehendakmu karena aku telah mengampunimu » adalah selama kita melakukan dosa lalu kita bersegera bertaubat maka Allah akan mengampuni kita.

4. Bertasbih dan berdzikir kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةُ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلُ عَشْرَةِ رِقَابٍ وَ كُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَ كَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يَمْسِيَ وَ لمَْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلُ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ. وَ مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةُ مَرَّةٍ حَطَتْ خَطَايَاهُ وَ لَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ

Barang siapa yang mengucapkan tiap hari sebanyak seratus kali: ‘Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan segala puji. Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu.’, maka balasannya setara dengan pahala memerdekakan sepuluh budak. Akan dicatat baginya seratus kebaikan dan dihapuskan darinya seratus kejelekan.

Dia akan memiliki benteng dari gangguan setan pada hari itu hingga petang. Tidak akan pernah ada seorangpun yang lebih baik daripada orang yang mengamalkan hal ini kecuali kalau ada yang mengamalkan lebih banyak daripada ini.

Barang siapa yang mengucapkan sebanyak seratus kali pada tiap hari: ‘Maha suci Allah dan aku memuji-Nya.’, maka kesalahan-kesalahannya akan dihapuskan walaupun sebanyak seperti buih di lautan.”(HR. Muslim).

Sedangkan jalan untuk bertaubat dari dosa besar, adalah:

  1. Menyesali dosa yang telah dilakukan.
  2. Segera meninggalkan perbuatan itu.
  3. Bertekad untuk tidak mengulanginya pada waktu yang akan datang.

Di antara bentuk kesempurnaan taubat adalah menyampaikan alasan kepada Allah. Yang kami maksudkan dengan “menyampaikan alasan” di sini bukanlah beralasan dalam rangka membela perbuatan dosanya. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah hendaknya seseorang itu mengucapkan dalam hati dan lisannya: ‘Ya Allah, aku tidak bisa terlepas dari dosa maka maafkanlah aku. Aku tidak memiliki kekuatan sehingga aku bisa menang mengalahkan-Mu. Aku adalah orang yang melakukan dosa dan memohon ampunan-Mu. Ya Allah, tidak ada alasan bagiku. Sesungguhnya itu adalah hak-Mu semata dan akulah yang berdosa. Ya Allah, maafkanlah aku. Kalaupun engkau tidak mau memaafkan maka sesungguhnya kebenaran itu tetap menjadi hak-Mu.

Ungkapan di atas adalah bentuk menyampaikan alasan dengan cara menampakkan kelemahan dan kehinaan. Kita juga menyadari bahwa kita adalah korban dan kalah dengan godaan setan dan pengaruh jiwa yang selalu menyuruh untuk melakukan perbuatan jelek.

Ucapan lain yang bisa kita sampaikan dengan lisan kita adalah: ‘Wahai Rabbku, bukanlah dosa yang telah kulakukan itu karena merendahkan kedudukan-Mu, bodoh tentang diri-Mu, tidak mengakui bahwa engkau mengawasi hamba-Mu dan meremehkan ancaman-Mu. Itu semua aku lakukan karena besarnya pengaruh hawa nafsu dan lemahnya kemampuan untuk melawan penyakit syahwat. Aku sangat mengharapkan ampunan-Mu dan mengandalkan maaf-Mu. Aku berbaik sangka kepada-Mu.

Aku berharap mendapatkan kemulian-Mu dan sangat menginginkan keluasan, kemurahan hati dan rahmat-Mu. Sungguh aku telah terperdaya dan jiwa ini selalu mengajak untuk berbuat nista. Turunkanlah tirai-Mu untuk menutupi dosaku. Kebodohanku telah membantuku untuk melakukan perbuatan dosa. Tidak ada jalan agar aku terlindung dari dosa kecuali dengan-Mu. Tidak ada pertolongan untuk taat kepada-Mu kecuali dengan taufik-Mu.’

Bisa juga dengan menggunakan kalimat yang lain yang mengandung ungkapan mohon belas kasihan, merendahkan diri, perasaan membutuhkan, mengakui kelemahan diri dan mengakui bahwa Allah adalah sembahan yang berhak untuk disembah. Itu semua merupakan bagian dari bentuk taubat yang sempurna. Ini adalah jalan yang ditempuh oleh orang yang cerdik dan bermurah hati terhadap dirinya sendiri karena Allah. Allah mencintai hamba-Nya yang bermurah hati terhadap dirinya karena-Nya.

Syarat-syarat di atas tepat bagi orang yang melakukan perbuatan dosa berkaitan dengan dirinya dan Allah. Sedangkan kalau dosa itu berkaitan dengan hak orang lain maka tiga syarat di atas harus ditambah dengan dua syarat lagi.

4. Meminta maaf kepada orang yang dianiya dan mengembalikan barang yang diambil dengan cara tidak benar.

Hal ini bisa dilakukan dengan membayarkan hak tersebut kepada orang yang dirugikan. Bisa juga dengan meminta kerelaan dari orang yang dirugikan dengan memberi tahu hal ini kepadanya. Itu semua kalau bentuknya berupa harta, penganiayaan terhadap badan seseorang atau penganiayaan terhadap anggota keluarganya. Hal ini sebagaimana tercantum dalam hadits Nabi r, dimana beliau bersabda:

مَنْ كَانَ ِلأَخِيْهِ مُظْلِمَةٌ مِنْ مَالٍ أَوْ عِرْضٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ اليَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَ لاَ دِرْهَمٌ إِلاَّ الحَسَنَاتُ وَ السَّيِّئَاتُ

Barang siapa yang masih membawa harta atau barang yang diambil dari saudaranya dengan cara lalim maka pada hari ini juga hendaklah dia meminta kerelaan barang tersebut sebelum (datang hari dimana, pent) tidak ada lagi dinar dan dirham. Yang ada ketika itu hanyalah kebaikan dan kejelekan.”(HR. Bukhari, 3/170).

Kalau perbuatan aniaya itu dilakukan dengan mencemarkan nama baik orang lain baik dengan gunjingan atau tuduhan berzina tanpa bukti, apakah taubatnya itu disyaratkan dengan menceritakan perbuatan itu dan meminta kerelaan kepada orang yang dicemarkan nama baiknya? ataukah cukup dengan memberi tahu bahwa dirinya telah mencemarkan nama baiknya tanpa harus untuk merinci perbuatan tersebut[1]? ataukah justru tidak disyaratkan melakukan itu semua dan taubat cukup hanya antara dirinya dan Allah tanpa harus menjelaskannya kepada orang yang telah difitnah dan dipergunjingkan? Dalam permasalahan ini, terdapat tiga pendapat:

Ibnul Qoyyim kemudian menyebutkan pendapat Imam Syafi’i, Abu Hanifah dan Malik yang mempersyaratkan taubat dari hal ini dengan menjelaskan dan meminta kerelaan kepada orang yang digunjing dan difitnah. Mereka menganalogkan hal tersebut dengan perbuatan menganiaya seseorang atau merampas harta benda. Dalam taubat yang kaitannya dengan dua perkara tersebut disyaratkan untuk menjelaskan, meminta kerelaan kepada orang yang dilalimi dan diterapkan hukum qishos.

Ibnu Taimiyah memilih pendapat yang mengatakan bahwa dalam hal ini tidak disyaratkan untuk menjelaskan kepada orang yang nama baiknya dicemarkan, difitnah dan dipergunjingkan. Akan tetapi taubat dari dosa ini cukup antara kita dengan Allah. Akan tetapi, hendaknya kita menyebutkan kebaikan orang yang telah kita fitnah dan pergunjingkan itu di tempat kita melakukan perbuatan tersebut. Hendaknya kita juga memintakan ampun untuk orang tersebut. Hal ini disebabkan kalau kita memberi tahu orang tadi maka justru akan menimbulkan dampak negatif dan tidak membawa mashlahat. Itu semua hanya akan menambah rasa dendam dan sedih. Padahal sebelum mendengar kabar itu, orang itu dalam keadaan bersenang hati. Kalau kasusnya demikian itu, maka Allah tidak memperkenankan perbuatan itu terlebih lagi memerintahkannya.

Cara bertaubat dari dosa fitnah dan ghibah dengan dosa menyakiti orang lain dan merampas barang orang lain itu berbeda. Pemberitahuan kita kepada orang yang kita sakiti badannya dan kita rugikan harta bendanya bisa bermanfaat kepada orang tersebut. Kalau kita memberi tahu kepada orang tersebut maka dia tidak akan merasa tersakiti dengan pengakuan tersebut dan tidak akan menimbulkan marabahaya dan memicu permusuhan. Bahkan terkadang dia akan merasa senang dengan penjelasan tersebut. Berbeda halnya kalau kita memberi tahu orang yang kita telah jatuhkan kehormatannya siang dan malam baik dengan ejekan, ghibah dan fitnah.(Tahdzib Madarij As Salikin hal. 162-163)

5. Taubat itu dilakukan pada waktunya.

Taubat tidak akan diterima dari seorang hamba yang bertaubat ketika sudah mendekati ajalnya. Taubat juga tidak akan diterima ketika matahari terbit dari barat dan hari kiamat telah benar-benar akan terjadi. Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُوْءَ بِجَهَالَةٍ مِنْ قَرِيْبٍ فَأُلَئِكَ يَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَ كَانَ اللهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا. وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ المَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الأَنَ وَ لاَ الَّذِيْنَ يَمُوْتُوْنَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُلَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيْمًا

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: Sesungguhnya saya bertaubat sekarang. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”(QS. An Nisa’: 18).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ العَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

artinya:  “Sesungguhnya Allah menerima taubat orang selama ruhnya belum sampai kerongkongan.”(HR. Tirmidzi, 5/547. Imam Tirmidzi mengatakan,”Hasan Gharib”).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ، وَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Pada malam hari, Allah membentangkan tangan-Nya untuk orang yang melakukan dosa pada siang hari. Pada siang hari, Allah membentangkan tangan-Nya untuk orang yang melakukan dosa pada malam hari. Demikian itu tetap terjadi sehingga  matahari terbit dari barat.”(HR. Muslim, 17/231).

[1]  Maksudnya tidaklah disyaratkan dalam taubat tersebut menjelaskan secara rinci cara kita menjatuhkan kehormatan seseorang. Akan tetapi cukup dengan menyebutkan perkataan secara global.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap