Home Blog Page 10

Ibadah Hati Bag.17: Antara Golongan yang Mengingkari Usaha dan Mengagungkan Usaha Secara Berlebihan

0

ORANG-ORANG YANG MENGINGKARI USAHA

Ketahuilah bahwa orang-orang yang mengingkari usaha maka tawakalnya tidak akan pernah benar. Tawakal adalah sebab yang paling kuat untuk mendapatkan tujuan dari tawakal tersebut. Tawakal itu seperti doa. Allah menjadikan doa sebagai sebab untuk mendapatkan sesuatu sesuai dengan permohonan seseorang.

Jika ada orang yang berkeyakinan bahwa Allah tidak menjadikan tawakal dan doa itu sebagai sebab untuk meraih sesuatu maka dia telah terperosok ke dalam khayalan yang menyesatkan. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa rasa kenyang itu didapatkan setelah seseorang makan dan hilang dahaga itu didapatkan setelah dia minum. Jika orang tersebut tidak melakukannya maka dia tidak akan kenyang dan hilang dahaga. Allah menetapkan bahwa agar bisa berhaji dan sampai ke Mekah maka seseorang itu harus bepergian dan naik kendaraan. Kalau dia hanya nongkrong di rumahnya maka dia tidak akan pernah sampai ke Mekah.

Renungkanlah pernyataan orang-orang yang mengingkari usaha yang mengajak orang lain untuk meninggalkan usaha yang realistis. Mereka mengatakan bahwa kalau sekiranya Allah telah menetapkan dan menggariskan sejak dulu (azali: awal yang tak berawal) bahwa aku akan kenyang, hilang dahaga, berhaji dan sebagainya maka pasti akan terjadi padaku; baik aku bergerak ataupun diam dan pergi ataupun duduk. Kalau Dia tidak menetapkan sesuatu kepadaku maka tidak akan terjadi padaku; baik kukerjakan atau tidak kukerjakan.

Apakah ada orang yang mengatakan orang seperti di atas adalah orang yang berakal? Bukankah binatang ternak lebih pandai daripada dirinya? Binatang ternak saja berupaya untuk menempuh usaha dengan menggunakan hidayah yang bersifat umum atau yang disebut dengan insting.

Bahkan berlepas diri dari usaha secara global adalah suatu hal yang dilarang akal, syariat dan realita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan usaha sedikitpun. Pada perang Uhud beliau menggunakan dua baju besi. Beliau tidak pernah terjun di medan perang dalam keadaan telanjang sebagaimana dilakukan oleh orang yang bodoh lagi tolol. Beliau juga menyewa seorang penunjuk jalan yang musyrik karena tetap memilih agama suku beliau sendiri untuk menunjukkan jalan dalam rangka hijrah. Beliau juga menyimpan makanan pokok untuk keperluan keluarganya selama setahun padahal beliau adalah pimpinan orang yang bertawakal. Bahkan, jika beliau bepergian untuk jihad, haji atau umroh, beliau membawa perbekalan.(Tahdzib Madarijus Salikin, hlm.338-339)

Oleh karena itu, tawakal tidak bertolak belakang dengan upaya mencarai usaha yang Allah tetapkan untuk menjaga keteraturan alam ini. Mengikuti ketetapan-ketetapan tersebut sunnah-sunnah-Nya yang kauniyyah berjalan, takdir-Nya berlaku dan dengan memperhatikan ketetapan tersebut syariat-Nya diberlakukan.(At Tawakkal, hlm. 35)

Pernyataan di atas didasarkan pada hadits yang terkenal dari Anas bin Malik, dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki menunggangi unta dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat unta ini kemudian bertawakal ataukah aku melepaskannya kemudian bertawakal?” Nabi r bersabda: “Ikatlah unta itu dan bertawakallah.”

Keterangan di atas adalah nash yang jelas menyatakan bahwa kita harus memperhatikan usaha dan itu semua tidaklah meniadakan tawakal.

Betapa indahnya perkataan seorang penyair:

Bertawakallah kepada Ar Rahman dalam segala urusan,

     Jika engkau malas, jangan harap suatu hari peroleh permintaan.

Bukankah engkau tahu kepada Maryam, berkata Ar Rahman,

     Goyangkanlah batang pohon korma niscaya buah kan berjatuhan.

Kalau Dia menghendaki agar Maryam petik korma tanpa digoyang,

     Pasti dia kan bisa memetiknya, tapi segalanya butuh usaha yang dilakukan.

 

Orang yang mengingkari usaha secara keseluruhan tidak memiliki sandaran baik dalam Al Qur’an, hadis maupun amal perbuatan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik… Kalau seandainya orang-orang Islam pada jaman yang terbaik berjalan di atas jalan ini maka agama Islam tidak akan pernah menang, peradaban tidak pernah terintis dan mereka tidak akan memiliki kekuatan di muka bumi. Pengarahan yang bersifat negatif ini adalah sesuatu yang aneh bagi akal, ruh dan metode Islam. Islam berperan dalam membentuk individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara yang baik. Oleh karena itu orang yang mengingkari usaha ditentang oleh para ahli fikih yang diikuti banyak orang dan para ulama’ besar yang diakui. Berikut ini adalah Imam Sufyan bin Sa’id Ats Tsauri, beliau adalah imam dalam bidang ilmu fikih, hadis, zuhud terhadap dunia dan keyakinan yang tinggi terhadap Allah. Beliau berkata: “Jika orang alim tidak memiliki pekerjaan maka dia akan menjadi wakil orang yang lalim. Jika seorang budak tidak memiliki pekerjaan maka dia akan makan dengan menjual agamanya. Jika orang bodoh tidak memiliki pekerjaan maka dia akan menjadi wakil orang yang fasik.” (Tawakal hlm. 46).

Ibnul Jauzi rahimahullah ta’ala mengatakan: “Mengingkari usaha adalah ucapan orang yang tidak paham dengan makna tawakal. Mereka menyangka bahwa tawakal itu dengan meninggalkan usaha dan tidak menggunakan anggota badan untuk bekerja. Kami telah menjelaskan bahwa tawakal itu adalah amalan hati dan dia tidak meniadakan amal perbuatan badan. Kalau sekiranya orang yang berusaha itu bukanlah orang yang bertawakal maka para nabi bukanlah orang yang bertawakal. Nabi Adam u adalah petani, nabi Nuh dan nabi Zakariya adalah tukang kayu, nabi Idris adalah penjahit, nabi Ibrahim dan nabi Luth adalah petani, nabi Shalih adalah pedagang, nabi Sulaiman adalah pembuat kolam, nabi Dawud adalah pembuat baju besi dan beliau makan dari hasil penjualannya. Sedangkan nabi Musa, Syu’aib dan Muhammad adalah penggembala kambing. Semoga sholawat senantiasa tercurahkan kepada mereka.(At Tawakkal, hlm. 51)

ORANG-ORANG YANG MENGAGUNGKAN USAHA

Mereka adalah orang-orang yang sangat bergantung kepada usaha. Mereka sangat berlebihan dalam hal ini.

Mereka dalam bahaya yang sangat besar karena mereka melupakan Allah. Mereka seratus persen percaya penuh kepada usaha. Kalau kondisinya telah demikian maka usaha itu menjadi tercela, yaitu ketika hati telah bergantung hanya kepada usaha itu dan menjadikannya sebagai sandaran hati. Dia lupa dengan zat yang menetapkan usaha dan pencipta usaha. Dia tidak tahu bahwa usaha-usaha itu tidak bisa dilakukan begitu saja. Al Qur’an telah memberikan suatu contoh kepada kita tentang orang yang bersandar hanya kepada usaha-usaha yang nampak saja. Ternyata hasilnya adalah kosong belaka. Contoh itu terdapat dalam firman Allah ta’ala:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا وَ ضَاقَتْ عَلَيْكُمْ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِيْنَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak. (Ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kalian congkak karena banyaknya jumlah kalian. Jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun. Bumi yang luas itu telah terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian lari ke belakang dalam keadaan bercerai berai.”(QS. At Taubah: 25).

Mereka kalah padahal kuantitas mereka besar. Kuantitas telah menipu mereka sehingga membuat mereka lupa untuk bertawakal. Ternyata kuantitas itu tidak berguna  sedikitpun. Padahal ketika kuantitas mereka sedikit namun bersandar kepada Allah saja maka mereka bisa menang setelah mencurahkan segala kemampuan mereka.

Sikap yang tengah antara dua sikap ekstrim tersebut adalah sikap orang yang melakukan usaha dengan tetap bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Dia berusaha dengan anggota badannya dan bertawakal kepada Allah dengan akal dan hatinya. Orang yang bertawakal adalah orang yang memperhatikan sunnatullah yang berlaku pada makhluk-Nya dan hukum-hukum Allah dalam syariat-Nya. Dia yakin bahwa Allah-lah yang merancang usaha-usaha dan memerintahkan untuk melakukan usaha-usaha itu. Dia juga yang akan mewujudkan akibatnya baik secara takdir maupun syar’i. Jika Dia berkehendak, pada saat itu juga, Dia mampu menghilangkan usaha-usaha itu. Dia mampu menciptakan penghalang-penghalang yang bisa merintangi proses usaha itu atau bahkan meniadakan akibatnya.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Penerimaan Santri Baru 2026–2027 Pondok Pesantren Hamalatul Quran Bantul, D.I. Yogyakarta

0

Visi Pesantren

Mencetak calon ulama yang hafal Al-Quran, berakidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan berakhlak mulia.

Program Unggulan

  • Hafal 30 Juz Al-Quran di tingkat Salafiyah Wustha
  • Hafal Mutun Ilmiyah di tingkat Madrasah Aliyah
  • Fasih berbahasa Arab
  • Bagi yang memenuhi syarat, dapat berkesempatan mendapatkan sanad matan Jazari
  • Bagi yang memenuhi syarat, dapat berkesempatan mendapatkan sanad Al-Quran secara online

Program Pendidikan

Pendidikan wajib asrama selama 7 tahun bagi lulusan SD/MI/Salafiyah Ula/Paket A, terdiri dari:

  1. Salafiyah Wustha (Setara SMP): 3 tahun
  2. Madrasah Aliyah (Setara SMA): 3 tahun
  3. Pengabdian: 1 tahun

Lulusan akan memperoleh ijazah madrasah dan ijazah pesantren.

Standar Kelulusan

Santri diharapkan:

  • Hafal 30 Juz Al-Quran
  • Hafal Mutun Ilmiyah (Tuhfatul Athfal, Jazariyah, Tsalatsatul Ushul, Qawaidul Arba’, Aqidah Thahawiyah, Nadzm Al-Ajurumiyah, Arbain Nawawiyah, Baiquniyah, Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah As-Sa’di, Qawaidul Hisan)
  • Menguasai bahasa Arab aktif dan pasif
  • Berakidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
  • Berakhlak mulia
  • Menguasai dasar-dasar fikih
  • Menguasai fikih dakwah
  • Memiliki lifeskill (Microsoft Office, beladiri, public speaking, leadership)

Fasilitas

  • Para ustadz lulusan Universitas Islam Madinah, Al-Azhar Mesir, dan universitas dalam negeri (UNY, UAD, UST, UIN Sunan Kalijaga, STAI Masjid Syuhada dsb.)
  • 7 ustadz bersanad Al-Quran
  • Asrama, masjid, ruang kelas, perpustakaan, lapangan olahraga
  • Ekstrakurikuler: UKS, survival camping, dll.

Waktu Penting

  • Pendaftaran: 1 September 2025 – 18 Oktober 2025
  • Sosialisasi Pendaftaran: 19 Oktober 2025
  • Seleksi: 20 Oktober – 15 November 2025
  • Pengumuman: 21 November 2025

Alur Pendaftaran

Pendaftaran hanya dapat dilakukan secara daring melalui website resmi kami. Mohon ikuti langkah langkah berikut:

  1. Kunjungi psb.hamalatulquran.com
  2. Isi formulir pendaftaran dan transfer biaya pendaftaran
  3. Lengkapi data di akun PSB
  4. Pilih metode ujian (online/offline)
  5. Unggah berkas persyaratan di akun PSB
  6. Mendapatkan jadwal ujian Al-Quran, wawancara, tes potensi akademik dan IQ. Keterangan Jadwal Ujian: Waktu dan tanggal ujian sepenuhnya akan ditentukan oleh panitia.
  7. Mengikuti ujian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan
  8. Proses pendaftaran selesai (menunggu pengumuman hasil seleksi)

Persyaratan Umum

  • Laki-laki
  • Merupakan siswa kelas VI pada tahun ajaran 2025/2026 atau telah lulus SD/MI/Salafiyah Ula dan sederajat.
  • Merupakan siswa kelas IX pada tahun ajaran 2025/2026 atau telah lulus SMP/MTS/Salafiyah Wustha dan sederajat.
  • Lancar membaca Al-Quran
  • Membayar biaya pendaftaran Rp 300.000
  • Melengkapi berkas
    • Foto Pendaftar
    • Kartu Keluarga
    • Akta Kelahiran
    • Surat keterangan siswa aktif dari sekolah atau fotokopi ijazah bagi yang sudah lulus
    • Surat keterangan sehat dari fasiitas kesehatan (faskes)
    • Mengisi Surat Pernyataan Kesanggupan menaati peraturan/kebijakan pesantren dan sanggup menyelesaikan studi selama 7 tahun

Persyaratan Khusus:

  • Pendaftar tingkat MA/SMA: hafal min. 25 Juz dibuktikan dengan sertifikat atau SK hafalan dari lembaga tahfidz
  • Pendaftar beasiswa: menyertakan kartu PKH/KPS atau terdata di DTKS Kemensos

Keterangan : jika dinyatakan diterima  maka wajib melampirkan berkas kesehatan berupa, surat keterangan sehat bebas dari TBC berdasarkan hasil lab (tes mantoux atau  rontgen thoraks paru atau tes IGRA atau tes BTA-dahak) atau hasil lab negatif TBC dan surat keterangan sehat bebas Hepatitis B berdasarkan hasil lab (tes HBsAg) atau hasil lab negatif Hepatitis B (HBsAg)

Materi Tes

  • Baca Al-Quran
  • Potensi hafalan Al-Quran
  • Tes akademik & agama
  • Tes IQ/Psikotes
  • Wawancara

Biaya

  • Konsumsi & Akomodasi:
    • Rp 1.000.000/bulan
    • Beasiswa
  • Biaya Daftar Ulang:
    1. Uang Pangkal: Rp 6.000.000
    2. Uang Pembangunan: Rp 5 juta / Rp 7 juta / Rp 10 juta / > Rp 10 juta (pilihan)

Informasi & Kontak

Download Brosur

donatur-tetap

Membangun Keluarga Sakinah Bag.1: Visi yang Berawal Dari Takwa

0

Rumah tangga yang sering terlihat bahagia di media sosial sering dijadikan barometer sebagai keluarga sakinah. Padahal setiap keluarga memiliki masalah yang tidak diketahui orang lain. Oleh Karenanya, setiap perintis keluarga sakinah jangan mengukur suatu keluarga yang sakinah dari yang sampak di media sosial, namun hendaknya fokus pada proses terbaik yang bisa dilakukan.

Kebahagiaan di dunia yang Allah berikan kepada hambanya yang bertaqwa bisa dengan beraneka macam bentuk. Diantara kebahagiaan dunia adalah keluarga sakinah. Sebuah keluarga yang di dalamnya dihiasi ketenangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Mu`jam Al Wasith bahwa sakinah berarti ketenangan.

Keluarga yang penuh rasa tenang menjadi harapan semua manusia yang memulai kehidupan berkeluarga. Ketika ketenangan terpancar di setiap ruang-ruang rumah, maka masa-masa yang dilalui dalam menjalani kehidupan keluarga akan semakin nyaman dan bahagia karena membuahkan rasa kasih sayang antar sesama. Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:
 “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS Ar-Rum: 21)

Sebagai bentuk upaya untuk mendapatkan keluarga sakinah adalah dengan taqwa. Berikut ini diantara bentuk ketaqwaan yang perlu dijadikan bagian terpenting dalam proses  mendapatkan keluarga Sakinah, yaitu:

  1. Niat Menikah Karena Allah, Bukan Hanya Suka Sama Suka

Ciri orang yang bertaqwa adalah memiliki niat karena Allah dalam melakukan berbagai hal positif. Disebut taqwa karena seseorang melakukan kebaikan atas perintah dari Allah dan Rasulnya.  Sangat disayangkan apabila menikah bukan karena Allah, karena niat yang tidak tepat akan memberikan manfaat yang sifatnya tidak kekal.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Seperti menikah hanya karena suka sama suka. Perasaan suka ini bisa jadi timbul karena kelebihan tertentu pada dari pasangan. Apabila kelebihan pasangannya bersifat sementara dan perlahan luntur, maka secara perlahan rasa sayangnya pun juga bisa ikut luntur. Sehingga membuat mudah berkurang kepeduliannya terhadap pasangannya. Pada level yang memprihatinkan, ketidak pedulian tersebut berujung saling mengabaikan dan hilang sakinahnya

  1. Ikhtiar dengan Cara yang Diridhai Oleh Allah

Diantara bentuk taqwa dalam manapaki jalan menuju keluarga sakinah adalah melaui proses yang diridhoi Allah. Hal ini bisa terwujud dalam bentuk perbuatan yang dibenarkan menurut syari`at islam. Semakin tinggi taqwa seorang, semakin dekat dengan kemudahan yang diraih. Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS At-Thalaq: 2)

Sakinah bisa menjadi jalan keluar ketika ada masalah dalam rumah tangga. Apabila orang lain menghadapi masalah rumah tangga dengan penuh emosi, teriakan, adu fisik, maka keluarga yang dianugrai sakinah tidak mudah terseret ke dalam suasana  tersebut. Inilah salah satu bentuk jalan keluar yang Allah berikan dalam rumah tangga.

Dari ayat di atas, bisa dipahami kaedah sebaliknya, yaitu apabila Allah melarang proses yang tidak diridhoinya, perlu segera dihindari. Karena semakin jauh dari taqwa, semakin sulit mendapatkan jalan keluar dalam rumah tangga.

Sangat disayangkan banyak masyarakat di sekitar kita yang menganggap proses yang tidak baik sebagai proses yang harus dijalani. Seperti proses pacaran, yang mana proses ini tidak mungkin bisa  berjalan kecuali harus melewati masa-masa berudaan. Padahal syari`at islam dengan sangat jelas bahwa berduaan (ikhtilat) dengan lawan jenis selain mahramnya hukumnya terlarang. Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Janganlah seseorang dari kalian berkhulwah (menyendiri) dengan seorang perempuan kecuali bersama dengan mahramnya.” (HR Bukhari no. 5233)

Akibat dari khulwah ini, sudah banyak terjadi berbagai kerusakan. Bukan sakinah yang didapatkan, melainkan perzinaan dimana-mana, pembunuhan dikarenakan cemburu, pembuangan anak karena malu, perselingkuhan karena ingat kenyamanan palsu dengan mantan pacar.

  1. Menguatkan Keimanan Dalam Menghadapi Ujian Rumah Tangga

Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak tersentuh ujian. Justru semakin seorang bertaqwa akan semakin tinggi ujiannya. Namun ketika dihadapkan dengan ujian, orang yang bertaqwa sudah siap menjalaninya. Berawal dari keyakinan bahwa Allah lah yang membuat ujian itu hadir dalam keluarganya dan Allah lah yang mengganjar dengan pahala besar bagi yang berhasil menjalaninya.
Seorang muslim perlu mengetahui bahwa kehidupan orang yang paling bertaqwa penuh dengan ujian berat. Rasulullah Shallalllohu Alaihi Wasallam, sebagai manusia yang paling bertaqwa menjalani ujian yang komplit dari berbagai sisi kehidupannya. Ujian beliau mulai dari ekonomi yang sangat sulit ketika berdakwah. Secara sosial beliau dikucilkan, diboikot, dihina, dan diteror. Secara keyakinan, beliau diimingi-imingi kemewahan, wanita dan kedudukan agar berhenti berdakwah.

Ujian di atas sangat berpengaruh terhadap keluarga beliau. Namun tidak pernah tertuang dari tinta sejarawan bahwa beliau dan keluarganya mengeluh. Justru beliau menjalaninya dengan keimanan yang kuat. Sehingga beliau membawa ketenaangan jiwa saat pulang, yang membuat isi keluarganya merasakan kenyamanan dan penuh denganketenangan.

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Tadabbur Surat Al-Lahab Bag.1

0

Surat Al-Lahab juga dinamakan surat Al-Masad termasuk surat makkiyah dan termasuk suatu mukjizat yang nyata, berisi lima ayat tetapi penuh dengan ibroh, pelajaran, dan faedah yang sangat banyak.

Surat Al-Lahab ini bernuansa mencengangkan, menakutkan dan berisi suatu ancaman; karena didalamnya bercerita tentang akibat seorang hamba (abu Lahab) yang menentang seruan Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam, maka siapa saja yang mengikuti seperti jalannya abu Lahab pasti akan berakibat yang sama.

Surat Al-Lahab ini sebagai pembelaan Allah kepada rosulNya ‘alaihis sholatu was salam tatkala dakwahnya di tolak mentah-mentah oleh abu Lahab yang dia adalah keluarga beliau sendiri, dan sebagai pertolongan kepada beliau juga kepada agama Islam.

Sebab turunnya surat ini adalah, seperti yang diceritakan oleh ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, setelah turun ayat  وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” QS Asy-Syu’aro’ 214

Nabi ‘alaihis shalatu was salam keluar rumah dan menaiki bukit Shofa dan menyeruيا صباحاه (suatu panggilan darurat untuk mengumpulkan manusia), maka berkumpulah orang-orang Quraisy. Lantas Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika saya katakan bahwa di belakang bukit ini ada pasukan yang akan menyerang kalian kapan saja, apakah kalian akan mempercayaiku ?” mereka menjawab: “iya” beliau bersabda: “Sungguh saya ini orang yang memberi peringatan kepada kalian dari adzab yang keras”. Maka abu Lahab berkata: “Celaka kamu wahai Muhammad, apakah karena ini kamu mengumpulkan kami ?” dari peristiwa ini, maka Allah turunkan surat Al-Lahab. HR Bukhori.

Siapa abu Lahab ? Abu Lahab adalah salah satu dari paman Nabi ‘alaihis sholatu was salam yang bernama abu ‘Utbah Abdul ‘uzza bin Abdul Mutthollib, di sebut abu Lahab disebabkan wajahnya yang bersinar (ganteng), abu Lahab ini termasuk orang yang banyak menyakiti Nabi ‘alaihis sholatu was salam, marah kepadanya, sering mencela Nabi dan agamanya.

Salah satu contoh kebencian abu Lahab kepada Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam dan perlawanannya dalam menghadapi dakwah Rosul, seperti yang diceritakan oleh sahabat Robi’ah bin ‘Ibad (beliau dahulu adalah seorang jahiliyah kemudian masuk islam) beliau berkata: di waktu saya masih jahiliyah melihat Roululullah ‘alaihis sholatu was salam di pasar dzil majaz beliau mengajak manusia: “wahai para manusia katakan laa ilaaha illallah (tidak ada yang berhak di sembah kecuali Allah) pasti kalian beruntung” maka para manusia pada berkumpul kepadanya, tetapi dibelakang Rosul ada seseorang yang wajahnya cerah, bermata juling, rambutnya dikepang jadi dua berkata: “sesungguhnya dia ini (Rosul) orang yang berpindah agama (dari agama moyang dan kaumnya) dan dia pendusta” orang tersebut selalu mengikuti ke mana saja Rosul pergi, saya bertanya tentang orang yang membuntuti Nabi tersebut, maka mereka menjawab: “itu adalah pamannya yaitu abu Lahab”. HR Ahmad.

Abu Lahab meskipun dia paman Nabi ‘alaihis sholatu was salam, tapi tidaklah dia menjadi orang yang masuk Islam dan juga tidak menjadi orang yang membela beliau dari sisi kekeluargaan, tidak seperti paman-paman Nabi yang lainnya, meskipun mereka tidak masuk Islam, tetapi mereka tetap membela Nabi dari sisi kekeluargaan. Maka abu Lahab mendapat ancaman yang sangat besar dari Allah subhanahu wa ta’ala, khususnya dalam surat Al-Lahab ini. Allah menghinakannya dengan kehinaan yang sangat hina dan kehinaan tersebut akan terus menerus hingga hari kiamat. Setiap umat muslim membaca surat al-Lahab ini dia menghina abu Lahab dan mengecam atas tindakannya kepada Rosulullah ‘alaihis sholatu was salam.

Bersambung…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Ibadah Hati Bag.16: Tingkatan Tawakkal dan Keterkaitannya dengan Usaha

0

Pada tulisan sebelumnya telah kita bahas tentang pengertian tawakkal dan tingkatan manusia dalam tawakkal, adapun pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang tingkatan tawakkal itu sendiri serta keterkaitan antara tawakkal dan usaha.

Tawakal memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan diri, kekuatan iman, tekad dan semangat pelakunya, yaitu:

1. Mengenal Rabb dan sifat-sifat-Nya. Allah adalah dzat yang Maha Kuasa, Mencukupi dan berdiri sendiri. Segala urusan bergantung dengan ilmu-Nya. Semua urusan itu terjadi dengan kehendak dan kekuasan-Nya. Ini adalah tangga awal yang harus dipijaki orang untuk bertawakal.

2. Menetapkan sebab dan akibat. Sebab di sini maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditundukkan Allah untuk kita di dunia ini yang bisa kita gunakan untuk mempermudah urusan kehidupan kita. Karena pentingnya hal ini dan banyak orang yang berselisih dalam masalah ini, maka kami akan uraikan permasalahan ini secara lebih rinci.

3. Menanamkan tawakal hanya kepada Allah ke liang lubuk hati yang paling dalam.

4. Menyandarkan hati, menampakkan rasa pasrah dan kecenderungan kepada Allah. Tanda orang yang telah mencapai tingkatan ini adalah dia tidak peduli dengan dunia yang datang dan meninggalkannya. Hatinya tidak akan goncang dan berdebar tatkala tidak mendapatkan apa yang disukainya dan tatkala mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Hal ini disebabkan karena hatinya yang bersandar, berkencenderungan dan pasrah kepada Allah telah menjaga dirinya dari rasa takut dan berharap kepada dunia.

5. Berbaik sangka kepada Allah U. Tingkat tawakal seseorang itu berbanding lurus dengan tingkat baik sangka dan rasa harapnya kepada Allah.

6. Hati berserah diri kepada Allah, segala motivator hati tertarik hanya kepada-Nya dan tidak menyelisihi-Nya. Kalau seorang hamba bertawakal dengan tawakal seperti ini maka dia akan menyadari bahwa dia tidak akan memiliki sesuatu sebelum dia berusaha semampunya dan dia tidak akan merasa aman dari makar Allah.

7. Menyerahkan segala urusan kepada Allah. Ini adalah ruh dan hakekat tawakal. Maknanya adalah menyerahkan dan memasrahkan segala urusan kepada Allah dengan kemauan sendiri dan tanpa ada paksaan. Bagi orang yang telah pasrah maka tidak akan menyerahkan urusannya kepada Allah kecuali dengan maksud agar Allah memutuskan sesuatu yang lebih baik bagi dirinya dalam hidup dan matinya.

Kalau ketetapan Allah itu ternyata berbeda dengan yang diharapkannya maka dia tetap ridha kepada-Nya. Hal ini dikarenakan dirinya tahu bahwa ketetapan itu akan lebih baik baginya walaupun segi potisitipnya belum dia kethui. (Dinukil Tahdzib Madarij As Salikin hlm. 337-341 dengan sedikit perubahan)

Kebanyakan orang yang bertawakal itu mendapatkan kerugian disebabkan tawakalnya itu sendiri. Contohnya, orang mencurahkan tawakalnya untuk keperluan-keperluan yang bersifat parsial. Dalam hal  yang kecil ini, dia mencurahkan tawakalnya sekuat tenaga. Padahal dia masih bisa untuk memperoleh hal itu dengan sesuatu yang lebih mudah. Dia juga masih mampu mencurahkan hatinya dalam bertawakal untuk menambah iman, ilmu, membela agama dan memberi kontribusi yang positif bagi dunia. Bentuk tawakal seperti ini adalah bentuk tawakal orang yang lemah dan tidak memiliki semangat.

Contoh lain, orang yang mencurahkan semangat, tawakal dan doanya untuk suatu penyakit yang masih bisa diobati dengan mudah atau untuk rasa lapar yang masih bisa dihilangkan hanya dengan setengah suapan atau setengah dirham. Dirinya tidak mencurahkan itu semua untuk membela agama, memberantas ahli bid’ah, menambah keimanan dan memberikan peran positif bagi kaum muslimin.

Kondisi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya merupakan parameter dan timbangan bagi segala sesuatu. Dengan itu, hal yang baik dan yang buruk bisa dibedakan. Semangat mereka dalam bertawakal lebih tinggi daripada orang-orang yang sesudahnya. Tawakal mereka dipergunaka untuk membuka mata hati banyak orang, agar Allah disembah di seluruh negeri. Mereka taklukkan negeri-negeri kafir, lalu mereka jadikan sebagai negeri Islam. Hembusan angin spirit tawakkal pun berhembus menyentuh hati para pengikut sahabat. Oleh karena itu, hembusan tawakal memenuhi hati mereka dengan keyakinan dan keimanan.

KETERKAITAN ANTARA TAWAKAL DAN USAHA

Permasalahan ini adalah permasalahan yang sangat penting. Dalam permasalahan ini, ada orang yang salah paham dan adapula yang diberi petunjuk kepada kebenaran. Orang yang mendapatkan petunjuk itulah orang yang bahagia dan beruntung.

Barang siapa yang meninggalkan usaha, maka dia bertekad kuat untuk tidak melakukannya. Hal ini banyak dianut oleh orang-orang sebelum kita. Namun, hal ini jarang sekali terjadi pada jaman kita saat ini.

Di antara orang-orang yang melakukan usaha ada yang sampai berkeyakinan bahwa mereka tidak bisa melepaskan diri dari usaha, dia tidak bisa hidup kecuali dengannya dan dia meyakini bahwa dirinya akan binasa kalau tidak bergantung kepada usaha-usaha itu. Orang yang seperti ini justru adalah orang yang telah lupa akan tujuan hidup sehingga setan merasa senang. Kelompok orang yang seperti ini sangat banyak pada jaman kita ini. Bahkan pemikiran mereka telah merajalela dan menguasai pikiran orang banyak. Pagi dan sore, mereka mengajak orang-orang dengan penuh semangat dan antusias tinggi serta menakut-nakuti mereka dengan masa depan yang kelam seperti yang mereka gambarkan.

Orang yang berbahagia menurut mereka adalah orang yang memiliki harta benda dunia yang bisa mencukupi kebutuhan dirinya, anak-anak, cucu-cucu dan seterusnya. Sehingga jadilah usaha-usaha itu sebagai sesembahan yang disembah bersama Allah atau justru dijadikan sesembahan tersendiri oleh kebanyakan orang. Sedikit sekali orang yang bersikap tengah dan memahami keterkaitannya dengan kehidupan seorang muslim secara benar.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

donatur-tetap

Kehidupan Ini Adalah Pemberian

0

Sebuah pemberian akan menjadi Istimewa sesuai dengan kemulyaan sang pemberi, berbeda antara pemberian seseorang petani, dengn pemberian seorang presiden, lalu bagaimana jika yang memberikan adalah sang pencipta alam semesta, sang pengatur alam semesta, sang penguasa alam semesta, tentu pemberiannya sangat berharga.

lalu apa yang Allah ta’aala berikan kepada kita?

Semua yang kita miliki adalah pemberian Allah, dan terkhusus kehidupan yang kita miliki merupakan pemberin Allah ta’aala , bukan kemampuan kita untuk bisa hidup lagi dihari ini, bukan juga Kesehatan kita, akan tetapi bangunnya kita di hari ini merupkan ketetapan Allah,  Allah subhanahu wata’aala berfirman,

الذي خلق الموت و الحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الغفور

“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah diantara kalian yang terbaik amalannya, dan Dia Allah Maha Pekasa lagi Maha Pengampun” {QS. Al-mulk : 2}

وما كان لنفس أن تموت إلا بإذن الله كتابا مؤجلا

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya” {QS. Ali ‘Imran : 145}

و لكل أمة أجل فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة و لا يستقدمون

“Dan setiap umat memiliki ajal (batas waktu) maka jika telah datang ajal mereka tidak akan mampu menundanya sesaat-pun, dan tidak dapat (pula) memajukannya. {QS.Al-A’raf : 34}

Ayat-ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa Allah lah penentu kehidupan kita, sampai kapan kita hidup, dan kapan kita mati, yang menunjukan bahwa kehidupan yang kita Jalani pada hari-hari ini merupakan anugrah pemberian dari Allah subhnahu wata’aala.

Bahkan dalam hadits yang sering kita baca pada saat kita bangun tidur, sangat jelas menunjukan bahwa kehidupan kita adalah pemberian bukan kemampuan kita sendiri.

Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita dalam hdits yang dibawakan oleh sahabat Hudzifah dan Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhumaa berkata :

“كان رسول الله صلي الله عليه و سلم إذا أوى إلى فراشه , قال ((بسمك اللهم أحيا و أموت)) و إذا استيقظ قال ((الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا و إليه النشور)) رواه البخاري

“ Apabila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallama Ketika hendak tidur, beliau mengucapkan, ‘BISMIKA ALLOOHUMMA AHYAA WA AMUUT’ (dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan mati) dan apabila beliau bangun beliau mengucapkan, ‘ALHAMDU LILLAHILLADZI AHYAANAA BA’DA MAA AMATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR’ (segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kematian kami dan hanya kepada-Nya kami Kembali).” [HR. Bukhari, no. 6314 dan Muslim, no. 2711]

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan Syukur alhamdulillah Ketika pertamakali kita sadar setelah bangun tidur, baik dalam keadan sehat maupun sakit, siang maupun malam bersyukurlah karena Allah masih memberikan kepada kita kehidupan.

Faidah dari merenungkan pemberian kehidupan ini, akan menjadikan kita lebih menghargai waktu yang tersisa dalam hidup kita, sehingga kita lebih semangat dalam menjalani hari-hari yang ada dihadapan kita, untuk memperbaiki catatan amal kita, untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’aala.

Seseorang tidak akan menyia-nyiakan waktunya, selama dia menghargai dan berterima kasih terhadap pemberian yang istimewa  yaitu pemberian kehidupan dari sang-pencipta kematian dan kehidupan.

Semoga dalam coretan ini Allah berikan keberkahan bagi penulis maupun pembaca, sehingga mampu untuk mensyukuri nikamt kehidupan, wallahu ta’aala a’lam.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

donatur-tetap

Sound Horeg: Tipu Daya Iblis Memecahkan Umat

0

Fenomena “sound horeg” dewasa ini marak di tengah masyarakat modern. Tidak sedikit masyarakat yang mengundang sound horeg walau harus harus merogoh kocek yang tidak sedikit, padhal di satu sisi terdapat kondisi masyarakat yang bebeda-beda, ada yang sedang beribadah, ada yang sedang sakit dan semisalnya. Semua itu dapat terganggu dengan adanya soud horeg ini.

Sound horeg secara jelas lebih banyak madzarat dan kerusakannya dibandingkan dengan manfaatnya, sungguh orang yang berkoar-koar akan maslahat dan manfaat dari sound horeg ini, mereka adalah orang-orang yang terkena tipu daya iblis untuk memecah belah umat.

Dalam Islam, ketenangan, adab bertetangga, dan etika sosial sangat dijaga. Maka perlu dikaji bagaimana syariat Islam memandang kebisingan yang merugikan orang lain ini, melalui dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Definisi Sound Horeg dan Dampaknya

“Sound horeg” secara bahasa tidak ditemukan dalam kamus Arab, tetapi merupakan istilah lokal Indonesia yang berarti suara keras, bising, dan cenderung mengganggu. Dampak buruknya antara lain:

  • Mengganggu ibadah orang lain
  • Mengganggu waktu istirahat atau tidur
  • Menimbulkan stres dan kejengkelan
  • Merusak ketenangan lingkungan
  • Melanggar adab Islami
1. Larangan Mengeraskan Suara tanpa Hak

وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِيرِ

“Dan sederhanakanlah dalam berjalanmu serta lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqmān: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa suara keras dan kasar dicela dalam Islam, bahkan diibaratkan seperti suara keledai. Maka suara bising tanpa kebutuhan yang sah tidak sesuai dengan adab Islam.

2. Larangan Menyakiti Orang Beriman

وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَـٰنًۭا وَإِثْمًۭا مُّبِينًۭا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Aḥzāb: 58)

Mengganggu kenyamanan orang lain tanpa alasan syar’i termasuk menyakiti, dan itu adalah dosa besar menurut ayat ini.

3. Larangan Mengganggu Orang Lain dalam Ibadah

Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rasulullah ﷺ sedang beri‘tikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka membaca Al-Qur’an dengan suara keras, maka beliau membuka tirai dan bersabda: ‘Ketahuilah, setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Maka janganlah sebagian kalian mengganggu yang lain, dan janganlah sebagian dari kalian meninggikan suara atas yang lain dalam bacaan (Al-Qur’an).'” (HR. Abu Dāwud No. 1332)

Jika suara keras dalam bacaan Al-Qur’an saja dilarang karena mengganggu orang lain, apalagi suara keras dari hal yang tidak bermanfaat bahkan mengganggu seperti “sound horeg”.

4. Karakter Rasulullah ﷺ: Lemah Lembut dan Tidak Bersuara Keras

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Kebiasaan Nabi ﷺ adalah menjaga kelembutan suara dan tidak meninggikannya di tempat umum, apalagi sampai mengganggu.

5. Kaidah Fikih: Larangan Membahayakan

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan (diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan orang lain.”
(HR. Ibnu Mājah No. 2341 – Hasan)

Kaidah ini menjadi dasar kuat bahwa suara keras yang menyebabkan gangguan fisik maupun psikis masuk dalam kategori ḍarar, yang dilarang dalam syariat.

Berdasarkan dalil-dalil di atas dapat kita simpulkan bahwa:

  • Islam mencela suara yang keras dan mengganggu, bahkan jika dalam konteks ibadah.
  • “Sound horeg” termasuk perbuatan yang merugikan orang lain secara lahir dan batin.
  • Pelaku “sound horeg” bisa jatuh ke dalam perbuatan dosa karena menyakiti sesama dan melanggar adab.

Oleh karena itu, Umat Islam perlu Menjaga suara agar tidak berlebihan di tempat umum, Menghormati waktu istirahat, ibadah, dan kenyamanan orang lain dan Mematuhi adab sosial dan aturan dalam bermasyarakat. Pemerintah, tokoh agama, dan lembaga dakwah perlu mengedukasi masyarakat tentang bahaya dan hukum sound horeg, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun syar’iat.

donatur-tetap

Agar Suami Tidak Lalai dalam Memimpin Keluarga

0

Seorang suami yang bertanggung jawab bukan berarti  menjadi suami tanpa kesalahan . Karena usaha apapun yang dilakukannya pasti ada batas kemampuannya. Sehingga kesalahan dan kekurangan bisa saja nampak sewaktu-waktu. Ketika kesalahan dan kekurangan ini terjadi, suami perlu melakukan Langkah-langkah bijak agar tidak menjadi kesalahan yang membuatnya lalai dari tanggung jawab.

Diantara langkah-langkah bijak yang perlu segera ditempuh oleh suami adalah:

  1. Muhasabah

Suami perlu membiasakan diri mengevaluasi apa saja yang sudah dia lakukan untuk keluarganya.  Bisa jadi dia telah melakukan sesuatu yang dianggapnya baik, tapi bagi Allah itu hal buruk. Misalnya terkait proses mendapatkan harta perlu dia koreksi bagaimana cara mendapatkannya apakah sudah dipastikan halal atau belum. Setelah memastikan kehalalannya, seorang ayah juga perlu mengkoreksi apakah dia telah membagikan harta itu kepada anak-anaknya dengan adil atau justru membuat salah satu anaknya terdzolimi.

Perbuatan apapun yang diavaluasinya akan menyadarkan jiwanya untuk semakin terdorong memperbaiki diri. Apabila dia bersungguh-sungguh memperbaiki diri dalam mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka akan semakin kecil kemungkinan untuk lalai dari amanah tersebut.

Yang tidak kalah penting, bahwa dorongan untuk evalusi diri hendaknya didasarkan atas perintah dari Allah. Allah Subhanahu Wata`ala memerintahkan kepada setiap manusia agar selalu mengavaluasi diri mereka karena akan mempengaruhi bekal yang dibawa untuk kehidupan berikutnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Hashr: 18]

  1. Memperbaiki Niat

Berhenti berbuat baik terkadang berawal dari rasa kecewa berat. Seringkali manusia mudah kecewa jika dia melakukan sesuatu untuk seseorang namun orang tersebut tidak menghargainya atau bahkan merendahkannya. Namun bagi orang yang melakukan suatu kebaikan murni karena Allah, dia tidak mudah kecewa atas perlakuan yang tidak baik terhadap dirinya dari orang yang dia bantu.

Hendaknya hal ini perlu menjadi bekal bagi para suami agar merubah niat yang sebelumnya memperlakukan istri dengan baik karena alasan cinta, beralih menjadi karena Allah. Karena suami tidak tahu di momen seperti apa yang membuat dia kecewa akibat perlakuan istri yang menurutnya kurang berkenan. Jika perbuatan istri tersebut membuatnya kecewa, dia tidak akan mudah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai suami. Karena selama dia menjalani tanggung jawab bukan bergantung pada reaksi istri terhadapnya, tapi seberapa besar keridhoan Allah yang dia harapkan.

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”  (QS. Al-Insan: 9)

  1. Ikut Majlis Ilmu

Diantara usaha yang bisa dilakukan oleh seorang suami agar tidak lalai dalam memimpin keluarga adalah mengikuti majlis ilmu. Di dalamnya terdapat nasehat-nasehat yang mendorong agar semangat dalam berbuat kebaikan. Di dalam majlis juga dapat mengambil berbagai pengetahuan tentang perilaku-perilaku buruk yang perlu perlu dihindari.  Apabila seorang suami rutin mengikuti majlis ilmu dengan sungguh-sungguh, maka akan semakin tersingkap perbuatan apa saja yang tidak diridhoi oleh Allah. Baik perbuatan itu berkaitan dengan Allah maupun orang lain termasuk istri dan anak.

Suami yang sudah tertanam pada dirinya pengetahuan tentang perbuatan buruk dan juga ada semangat untuk menghindari keburukan tersebut, maka kelalaian dalam mengemban amanah sebagai kepala keluarga akan dia anggap sebagai kesalahan besar yang harus segera dia perbaiki.

Sahabat mulia Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu `Anhu bekata:

“Dulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sementara aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena aku takut terjerumus ke dalam keburukan itu.”

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

donatur-tetap

Fiqih Asmaul Husna (Bag.13): Nama Ar-Razzaaq & Ar-Raaziq

0

Kata Ar-razzaaq dalam Bahasa arab disebut dengan sifat mubalaghah yang bermakna banyak memberi rizki, Adapun Ar-raaziq dalam Bahasa arab disebut dengan isim faa’il yang bermakna sang pepmberi rizki.

Dalil-dalil yang menyebutkan nama Allah ta’ala Ar-razzaaq & Ar-raaziq diantaranya

  1. قُلْ إِنَّ رَبِّى يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥ ۚ وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

Artinya: Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya ( Saba’ : 38 ).

  1. إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

Artinya: Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh ( Ad dzariyat : 58 )

  1. قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً مِّنكَ ۖ وَٱرْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

Artinya: Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama”.

Dan sabda nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam :

  1. إن الله هو المسعر القابض الباسط الرازق وإني لآرجو أن ألقى الله وليس أحد منكم يطلبني بمظلمة في دم أو مال

Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.” (HR. Ahmad 12591, Abu Daud 3451, Tirmidzi 1314, Ibnu Majah 2200, dan dishahihkan Al-Albani).

Kandungan makna Ar-razzaq dan Ar-raaziiq diantaranya:

  • Allah ta’ala menjamin seluruh rizki makhluknya, bahkan rizki hewan melata sekalipun Allah yang menanggung semuanya. (وما من دابة في الأرض إلا علي الله رزقها ) (QS. Hud : 6)
  • Allah ta’ala menentukan rizki manusia sebagaimana Allah ta’alaa menentukan ajalnya Rasul salallahu’alaihi wasallam bersabda “لن تموت نفس حتي تستكمل رزقها” artinya tidak akan mati jiwa seseorang sampai mendapatkan seluruh jatah rizkinya (HR. Thabrany)
  • Allah ta’alaa menggandengkan nama الرزاق dengan ذوالقوة untuk menunjukan bahwa Allah ta’alaa mampu memberi rizki kepada makhluqnya yang begitu banyak dalam satu waktu, dan memberikannya secara terus menerus tanpa henti.
  • Allah ta’alaa memberi rizki sesuai dengan kehendak dan hikmahnya Allah ta’alaa berfirman ﴿۞ وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ﴾[ الشورى: 27] Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. [shura: 27]

Faidah beriman kepada nama Allah الرازق

  1. Yakin bahwa rizki Allah pasti akan datang baik dengan usaha maupun tanpa usaha sekalipun maka jangan merasa gelisah dengan perkara rizki, seperti bayi yang berada diperut ibunya Allah senantiasa memberi rizki kepadanya.
  2. Kita terhindar dari mencari rizki dengan cara yang haram.
  3. Kita tidak mendahulukan rizki dunia sehingga lupa dengan rizki akhirat

Semoga Allah memberikan manfaat dan keberkahan dalam coretan ini kepada penulis dan pembaca, insyaaAllah kami akan membahas nama Allah Al Ahad dan As-shamad di artikel yang akan datang, wallahu a’lam bisshawaab

Referensi : Fiqih Al Asmaa Al Husnaa yang di karang oleh syeikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafidzahullahu ta’aala, dan juga penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja hafidzahullahu ta’ala.

Ditulis Oleh: Badruzzaman, Lc

donatur-tetap

Hamalatul Qur’an Jadi Pilot Pesantren Ramah Anak di Yogyakarta

0

Pada Selasa, 22 Juli 2025, Pesantren Hamalatul Qur’an resmi mengikuti deklarasi Pesantren Ramah Anak yang diselenggarakan di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY. Hamalatul Qur’an terpilih sebagai salah satu dari 15 pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi pilot project dalam program nasional ini.

Deklarasi ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak. Acara tersebut dihadiri oleh pimpinan pondok pesantren, perwakilan Kemenag DIY, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY.

Kepala Kanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pesantren ramah anak bukan sekadar slogan, tetapi gerakan nyata untuk menciptakan ruang tumbuh yang sehat dan aman bagi para santri. “Kami berharap program ini menjadi awal dari gerakan besar yang bisa diadopsi oleh seluruh pesantren di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala DP3AP2 DIY, Erlina Hidayati Sumardi, menekankan pentingnya pendekatan berbasis perlindungan dan pemulihan anak dalam sistem pesantren. Ia menyebut bahwa semua bentuk kekerasan, baik fisik maupun psikis, harus dicegah dan ditangani dengan cepat, bahkan tanpa menunggu laporan dari korban.

Program Pesantren Ramah Anak ini dilandasi oleh Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan, serta Peraturan Daerah DIY Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perlindungan Anak. Dalam pelaksanaannya, setiap pesantren peserta pilot project akan membentuk satuan tugas perlindungan anak, menyediakan layanan pengaduan, hingga melakukan pembinaan lingkungan pesantren yang ramah dan inklusif.

Hamalatul Qur’an, sebagai salah satu pesantren terpilih, berkomitmen menjalankan prinsip asuh dan asih dalam setiap aspek pengasuhan santri. Hal ini sejalan dengan visi pesantren untuk menjadi tempat pendidikan yang tidak hanya menanamkan ilmu dan akhlak, tetapi juga memberikan rasa aman dan kasih sayang kepada seluruh santri.

Melalui deklarasi ini, Hamalatul Qur’an dan 14 pesantren lainnya menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pelopor perubahan dalam menciptakan ruang aman bagi anak-anak yang sedang menimba ilmu dan membangun masa depan mereka.

Dokumentasi Direktur pesantren Ust Alfian Nurdiansyah, Lc menandatangani kesiapan komitmen dalam program pesantren ramah anak.

donatur-tetap