Home Artikel Alquran Inti Sari Surat Al-Fatihah (Bag.2)

Inti Sari Surat Al-Fatihah (Bag.2)

125
0

Madih dalam pembahasan insti sari surat Al-Fatihah.

Diantara hal yang bisa menjadi renungan dari ayat إياك نعبد و إياك نستعين

3. Dalam ayat tersebut ibadah didahulukan dari pada isti’nah, ini sesuai dengan pembagian dalam hadits qudsi dari Nabi ‘alaihis sholatu was salam bahwa Allah berfirman : قسمت الصلاة بيني و بين عبدي نصفين” Aku membagi sholat antara Aku dan hambaKu menjadi dua bagian”.

Satu bagian untuk Allah dan satu bagian yang lain untuk hambaNya. Surat alfatihah terdiri dari 7 ayat dimulai dari alhamdulillahi robbil ‘alamiin (bagi yang berpendapat basmalah tidak dari alfatihah), tiga ayat setengah awal untuk Allah dan tiga ayat setengah terakhir untuk hambaNya, tiga ayat setengah awal yaitu الحمد لله رب العلمين sampai إياك نعبدsedangkan tiga ayat setengah terakhir adalah و إياك نستعينsampai ayat terakhir, menurut ulama yang memandang basmalah bukan dari alfatihah, ayat terakhir di bagi menjadi dua ayat, yaitu صراط اللذين أنعمت عليهمmenjadi satu ayat dan غير المغضوب عليهم و لا الضالينadalah ayat terakhir.

4. Bahwa agama islam terbagi menjadi dua, yaitu: ibadah dan permohonan perlindungan agama seseorang tidak akan sempurna sampai dia menjalankan keduanya dengan sebaik-baiknya, contohnya sholat, dia adalah ibadah juga minta pertolongan, berdoa juga suatu ibadah dan isti’anah, hamba yang paling afdhol adalah dia yang menunaikan keduanya dengan sebaik-baiknya dan dalam keadaan sesempurna mungkin, sedangkan seburuk-buruk manusia mereka yang meninggalkan ibadah dan meninggalkan isti’anah dalam menunaikan kebutuhannya, menghilangkan musibah, mempermudah urusan maupun melapangkan dada.

Ada sebagian hamba sholeh  yang menunaikan ibadah tapi kurang di dalam isti’anah, dia tetap menunaikan hal-hal yang diperintahkan dan meninggalkan hal-hal yang dilarang melakukan hal tersebut dengan tertib, tetapi ini semua dilakukan dengan keadaan kurang dalam isti’anah kepada Allah, maka hal ini dia telah meninggalkan bagian yang sangat agung dari merasa butuh yang sangat kepada Allah dan serah diri kepadaNya. Jenis seperti ini terjerumus ke dalam kelengahan melakukan isti’anah dikarenakan ketidaktahuan terhadap kedudukan isti’anah, yang iman seorang hamba tidak sempurna kecuali dengannya, dan dikarenakan kelalaian dari mencontoh para Nabi dan Rosul yang mereka bersungguh-sungguh dalam isti’anah kepada Allah.

Renungkan keadaan nabi Musa kaliimur Rohman ‘alaihis salam tatkala beliau membunuh seseorang dari suku Qibthi (sukunya Fir’aun) dan datang kepada beliau seseorang dari ujung kota memberi peringatan, Allah berfirman:

 فَخَرَجَ مِنۡهَا خَاۤىِٕفࣰا یَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِی مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِینَ . وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلۡقَاۤءَ مَدۡیَنَ قَالَ عَسَىٰ رَبِّیۤ أَن یَهۡدِیَنِی سَوَاۤءَ ٱلسَّبِیلِ

“Maka keluarlah beliau (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” (QS Al Qoshosh 21-22)

Tatkala Nabi Musa masuk kota Madyan, beliau membantu dua gadis mengambil air tanpa upah,

  ثُمَّ تَوَلَّىٰۤ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّی لِمَاۤ أَنزَلۡتَ إِلَیَّ مِنۡ خَیۡرࣲ فَقِیرࣱ

“… kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS Al Qoshosh 24)

Nabi Muhammad ‘alaihis sholatu was salam tuan anak Adam tatkala perang Badr dan peperangan sedang berkecamuk beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa dan beristiqhotsah dengan doa seorang hamba yang sangat membutuhkan kemenangan

اللهم أنجز لي ما وعدتني اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض

 “Ya Allah tunaikan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah jika Engkau binasakan kelompok dari kaum muslimin ini niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi”. (HR Muslim) terus menerus beliau melakukan hal itu sampai-sampai Abu Bakr merasa iba kepadanya.

Sungguh para Nabi dan Rasul mereka melakukan peribadahan kepada Allah dengan paling sempurna dan melakukan isti’anah kepadaNya dalam apapun situasinya. Wa Allahu a’lam.

Bersambung

Ditulis Oleh: Muhammad Fathani, B.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here