Home Artikel Ibadah Hati Bag. 18: Catatan Penting Tentang Tawakkal

Ibadah Hati Bag. 18: Catatan Penting Tentang Tawakkal

442
0
campaign psb PPHQ 26-27

Bertawakal kepada Allah memiliki pengaruh yang besar, diantaranya adalah kedamaian, ketenangan, kekuatan, kemuliaan, kerelaan dan harapan. Dan di antara kiat untuk bertawakal adalah mengenal Allah ta’ala melalui nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Kiat yang lain adalah percaya penuh kepada Allah ta’ala, mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan manusia, mengetahui keutamaan dan urgensi tawakal

Adapun penghalang pokok dalam  tawakal adalah tidak mengenal Allah dan keagungan-Nya. Penghalang lain adalah tertipu dengan keadaan diri, cenderung kepada makhluk, cinta dunia sehingga tertipu dengannya.

Kaidah dan Catatan Penting Terkait Tawakkal

  1. Tawakal adalah ibadah hati yang paling vital karena berkaitan erat dengan asmaul husna.

Dari sisi orang yang bertawakal kepada Allah, maka tawakal memiliki keterkaitan dengan nama Allah Al Goffar (Maha Pengampun), At Tawwab (Maha Penerima Taubat), Al Ghafur (Maha Pengampun), Al ‘Afwu (Maha Pemaaf), Ar Raouf (Maha Penyantun) dan Ar Rahim (Maha Penyayang).

Tawakal juga berkaitan dengan nama Allah Al Fattah (Maha Pembuka), Al Wahhab (Maha Pemberi), Ar Rozzaq (Maha Pemberi Rizki), Al Mu’thi (Maha Pemberi) dan Al Muhsin (Maha Berbuat Baik).

Tawakal berkaitan dengan nama Allah Al Mu’iz (Yang Memuliakan), Al Mudzil (Yang Menghinakan), Al Khafidz (Yang Merendahkan), Ar Rafi’ (Yang Meninggikan) dan Al Mani’ (Yang Mencegah) dalam kaitan tawakkal dalam upaya untuk menghinakan, merendahkan dan menghalang-halangi kemenangan musuh-musuh Islam.

donatur-tetap
  1. Tawakal tidak meniadakan usaha untuk berobat.

Dalam hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau menceritakan karakter tujuh puluh ribu orang yang masuk sorga tanpa dihisab. Mereka memiliki karakter tidak meminta diruqyah, tidak memiliki anggapan sial karena suatu hal, tidak melakukan pengobatan dengan besi panas dan bertawakal kepada Allah.(HR. Bukhari, 7/174).

Makna yang bisa dipahami dari hadis di atas adalah berobat dengan ruqyah dan besi panas itu meniadakan tawakal. Sejumlah ulama’ besar telah menjelaskan kompromi hadits di atas dengan hadits yang menerangkan tentang pengobatan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan perintah beliau kepada sahabat untuk berobat. Diantara penjelasan yang bisa diterima adalah sebagai berikut:

a. Yang dimaksud dengan hadis di atas adalah menjauhi perbuatan di atas ketika tubuh dalam keadaan sehat, jadi berobat karena takut terjangkiti penyakit. Namun, kalau hal itu dilakukan ketika sudah terjangkiti penyakit maka hal itu diperbolehkan.

b. Mungkin yang dimaksud dengan orang-orang yang disebutkan dalam hadis di atas adalah orang-orang yang lupa dengan kondisi dunia. Mereka lupa tentang adanya kiat-kiat yang telah disiapkan untuk menyingkirkan berbagai penghalang. Mereka juga tidak mengetahui cara berobat dengan besi dan ruqyah. Mereka tidak memiliki tempat berlindung yang bisa menyelamatkan mereka kecuali dengan berdoa, berlindung kepada Allah dan rela dengan ketentuan-Nya. Mereka melupakan obat para dokter, bacaan tukang ruqyah. Bahkan mereka tidak bisa melakukan itu semua dengan baik.

c. Yang dimaksud dengan meninggalkan ruqyah dan pengobatan dengan besi panas adalah bersandar kepada Allah untuk mengusir penyakit, rela dengan ketentuan-Nya. Namun, tidak ada celaan bagi orang yang melakukannya. Hal ini dikarenakan adanya hadis-hadis shahih dan keterangan para ulama’ salaf. Akan tetapi sebenarnya, sikap rela dan berserah diri terhadap ketetapan Allah itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sikap memilih untuk melakukan usaha.(At Tawakkal, hal. 85)

Permasalahan ruqyah terdapat dalam ucapan, perbuatan dan persetujuan  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap perbuatan para sahabat. Bahkan terdapa hadis dari Nabi yang memuat berbagai lafal ruqyah yang telah banyak diketahui orang. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa yang tidak diperbolehkan adalah meminta ruqyah, bukan meruqyah itu sendiri.

Diantara ulama ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya hadis di atas tidak menunjukkan bahwa hanya tujuh ribu orang itu saja yang bertawakal. Akan tetapi hadis di atas menunjukkan bahwa mereka itu adalah golongan yang istimewa. Oleh karena itu, pelajaran yang bisa diambil dari hadits di atas adalah apa yang mereka tempuh adalah suatu hal yang sangat dianjurkan tapi bukan sesuatu yang harus mereka dimiliki.(At Tawakkal, hal. 88)

  1. Istikharah kepada Allah tabaraka wa ta’ala adalah salah satu bentuk dan gambaran dari tawakal.

Orang yang beristikharah itu bertawakal kepada Allah untuk mencari kejelasan mengenai hal yang baik dan hal yang buruk, hal yang bermanfaat dan hal yang membahayakan. Dia berserah diri kepada Allah dalam semua perkara tersebut. Wallahu a’lam.

Referensi: Al ‘Ibadaat Al Qolbiyyah wa Atsaruha fi Hayatil Mu’minin ditulis oleh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Uqail Musa Al-Syarif

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here