Home Artikel Hikmah Dibalik Penindasan di Palestina (Bag.3)

Hikmah Dibalik Penindasan di Palestina (Bag.3)

80
0

Ketika terjadi suatu tindak kejahatan seperti penindasan, banyak pelaku yang melakukannya secara terus menerus. Ada rasa ketagihan pada diri mereka karena bagi  mereka hal itu menguntungkan. Tapi ada juga pelaku kejahatan yang setelah beberapa kali melakukannya mulai berfikir panjang sebelum mengulanginya kembali. Karena mereka menemukan titik celah penyesalan sehingga mereka sadar dan bertaubat karena sudah terlampau jauh dalam berbuat kejahatan.

Salah satu hikmah kenapa orang-orang yang melakukan penindasan tidak segera diadzab oleh Allah adalah karena Allah akan memisahkan orang-orang yang taubat dari orang-orang yang tidak mempunyai keinginan untuk taubat. Sehingga adzab yang akan ditimpakan benar-benar ditujukan kepada orang-orang yang sama sekali tidak merasa bersalah.  Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

       إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang menimpakan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan perempuan, lalu mereka tidak bertaubat maka mereka akan mendapat adzab  Jahannam dan mereka akan mendapat adzab yang membakar.” (QS Alburuj: 10)

Penindasan yang sedang terjadi di palestina mengingatkan kita tentang penindasan yang disebutkan pada ayat di atas. Dimana ada suatu kaum yang dibakar dalam sebuah parit yang digali disebabkan karena mereka beriman kepada Allah. Lalu Allah mengadzab para pelaku dengan neraka Jahannam. Sebelum mereka diadzab, Allah sudah berikan waktu untuk bertaubat tapi sebagaimana yang disebutkan dalam ayat mereka tidak mau bertaubat sehingga Allah mengadzab mereka.

Disisi lain Allah mengampuni orang-orang yang melakukan kejahatan setelah mereka benar-benar menyesali dan bertaubat. Sebagaimana kisah seorang pembunuh yang sudah membunuh banyak orang seperti yang dikisahkan oleh Nabi muhammad Shallallohu Alaihi Wasallam. Beliau bersabda:

“Dahulu sebelum masa kalian, ada seorang laki-laki yang membunuh sembilanpuluh sembilan orang. Lalu ia bertanya kepada orang yang disebut paling alim di muka bumi dan ia pun ditunjukkan kepada seorang rahib. Maka dia mendatangi rahib dan bertanya: “Jika seseorang telah membunuh sembilanpuluh sembilan jiwa, apakah taubatnya bisa diterima?” sang rahib menjawab: “tidak” lalu  pembunuh tadi membunuh sang rahib dan ia menggenapkan menjadi 100. Kemudian ia bertanya kembali tentang keberadaan orang yang disebut paling alim di muka bumi dan dia pun ditunjukkan keberadaan orang alim tersebut. Dia bertanya: “jika ada seorang yang sudah membunuh seratus jiwa apakah masih bisa pintu taubat dibuka untuknya?” orang alim tersebut menjawab: “tentu, siapa yang bisa menghalangi antara dirinya dengan taubat? hendaknya engkau pergi ke sebuah tempat ini dan itu karena di dalamnya ada orang-orang yang beribadah kepada Allah dan engkau juga segeralah beribadah bersama mereka dan jangan pulang ke tempatmu yang dulu, karena tempat itu adalah tempat yang buruk.” Lalu dia bersegera pergi hingga sampai di pertengahan jalan, maut menjemputnya dan membuat malaikat Rahmah dan malaikat adzab berselisih. Sang malaikat Rahmah berkata: “Dia datang dalam kondisi bertaubat, mencondongkan hatinya kepada Allah.” Sang malaikat adzab berkata: “Sesungguhnya dia belum melakukan amal kebaikan sedikitpun.” Lalu datang malaikat yang berbentuk wujud manusia dan merekapun bersepakat menjadikan malaikat ini sebagai penengah di antara mereka berdua.  Lantas malaikat penengah tersebut berkata: “Ukurlah jarak antara dua tempat (tempat masa lalu dan tempat yang sedang dituju) manakah dari dua tempat tersebut yang paling dekat (dengan tempat ia meninggal), maka orang itu bagiannya” Lalu para malaikat mengukur jarak kedua tempat dan mereka mendapati bahwa jarak yang lebih dekat adalah tempat yang ingin dituju hamba tersebut. Pada akhirnya nyawanya dicabut oleh malaikat Rahmah  (HR muslim no: 2766)

Hadis ini menunjukkan bahwa dosa yang besar seperti membunuh bisa diampuni oleh Allah jika orang tersebut bersungguh-sungguh ingin bertaubat. Adapun orang yang sudah merasa perilaku kejahatannya adalah hal yang biasa baginya tanpa ada rasa menyesal, maka Allah akan memberikan balasan. Karena Allah sudah memberi tenggang waktu untuk merenungi kejahatannya. Dan Allah maha adil terhadap pelaku kejahatan antara yang taubat dengan yang enggan taubat. Oleh karenanya Allah menyatakan di banyak ayat bahwa Allah tidak berbuat dzolim terhadap hambanya ketika Allah mengadzab, tapi mereka sendirilah yang dzholim. Allah Subhanahu Wata`ala berfirman:

وَمَا ظَلَمَهُمُ ٱللَّهُ وَلَٰكِنۡ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ

“Allah tidak mendzolimi mereka tapi mereka sendirilah yang mendzolimi diri sendiri.” (Q.S Ali Imron)

Ditulis Oleh: Malki Hakim, S.H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here