Home Artikel Untuk Engkau yang Tertimpa Musibah

Untuk Engkau yang Tertimpa Musibah

568
0

Bismillah..
Kita menyadari bahwa kehidupan ini penuh dengan ujian. Dunia yang kita hidup di dalamnya ini tidak lepas dari dua kemungkinan, nikmat atau musibah. Dan semua manusia masing-masing mendapatkan ujian, baik itu orang yang kaya atau miskin, baik itu pejabat ataupun rakyat biasa.

Terkadang dia diuji dengan istrinya dan anak anaknya, terkadang diuji dengan hartanya dan seterusnya. Allah menegaskan dalam firaman nya:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S Al-Mulk;2)

Para Rosul dan Nabi pun mereka mendapatkan ujian yang sangat luar biasa, bahkan mereka mendapatkan ujian yang sangat berat, mereka adalah manusia-manusia yang paling berat ujian nya. Nabi pernah ditanya oleh seorang sahabat Mus’ab bin sa’id, “wahai Rasulullah siapakah manusia yg paling berat ujian nya?

Maka Nabi pun menjawab,

أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).

Nabi kita yang sangat mulia pun mendapatkan ujian yang sangat berat, beliau sudah ditinggal wafat oleh ayahnya ketika beliau masih dikandungan, beliau ditinggal wafat oleh ibunya ketika beliau masih kecil, Bahkan anak-anak beliau hampir keseluruhan meninggal di usia masih kecil. Ketika anak beliau yang bernama Ibrohim meninggal beliau bersabda,

العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون

“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih.” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194)

Maka jangan pernah mengira bahwa ketika kita sudah beriman kepada Allah lantas kemudian Allah tidak memberikan ujian kepada kita. Allah akan tetap berikan ujian kepada kita. Allah menegaskan dalam firmannya;

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Q.S Al-Ankabut: 2)

Oleh karenanya sikap seorang mukmin yang baik adalah bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah yang menimpanya. Semua ini adalah ketetapan Allah yang tidak mungkin kita terlepas darinya. Kewajiban seorang mukmin adalah bersabar ketika mendapatkan musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dari Allah. sebagaimana yang Nabi kabarkan;

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ
لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999).

Wallahua’lam bisshowab.
***

Ditulis oleh: Muhamad Reza Nurudin, Lc. (Pengajar Pondok Pesantren Hamalatul Quran Jogjakarta, Alumni S1 Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir, Fakultas Syariah Islamiyyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here