Home Blog Page 21

Mengelola Rasa Cinta

0

Cinta merupakan salah satu tema universal yang telah menjadi objek kajian berbagai disiplin ilmu, termasuk agama. Dalam tradisi keagamaan, cinta tidak hanya dipandang sebagai perasaan emosional semata, tetapi juga sebagai sebuah tindakan dan komitmen yang mendalam. Dalam konteks agama, cinta sering kali dihubungkan dengan hubungan manusia kepada Tuhan dan sesama. Konsep cinta berfungsi sebagai landasan moral dan etika, memandu umat dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kasih sayang dan pengetian.

Dalam agama Islam, cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama manusia diartikulasikan dalam berbagai ajaran dan praktik ibadah. Cinta tidak hanya perasaan dalam hati, namun masuk dalam kategori ibadah jika seorang hamba mampu untuk menuntun perasaan tersebut dengan konsep agama. Olehkarenanya penting bagi seorang muslim mengelola perasaan cinta dalam hatinya.

Berikut beberapa hal yang bisa kita telaah berkenaan dengan pengelolaan perasaan cinta;

Pertama, Wajib Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Seorang muslim hendaknya mengetahui, cintanya kepada sesama tidak boleh melebihi cintanya kepada Allah dan Rasulnya. Mencintai Allah subhanahu wa ta’ala adalah ibadah, Allah lah yang menciptakan, merawat, menjaga, memberikan rizki, memberikan kesehatan serta mengatur segala sesuatu.

Demikian pula mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau kita mengenal islam, mengetahu hal yang dilarang dan diperbolehkan. Beliau bersabda

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya” (HR. Bukhari, no. 14)

Cinta yang sejati akan membuahkan ketaatan, sebagaimana perkataan ulama ‘innal muhibba liman yuhibbu muthi’u’ – orang yang mencintai akan taat kepada yang dicintainya.

Kedua, Anjuran Mencintai Karena Allah

Orang yang saling mencintai karena Allah, kelak Allah akan menaungi mereka pada hari kiamat yang tiada naungan kecuali naungan dari-Nya – yang pada hari itu tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan pada hari kiamat, salah satunya adalah

وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ ؛ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“ … dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya. (HR. Bukhari no. 660)

Tentu, orang yang ia cintai adalah orang yang mendekatkan kepada Allah, selalu mendorong kepada kebaikan atau mengingatkan kepada kemungkaran. Menasehati dikala lalai, mensupport dikala butuh, sehingga lingkungannya adalah lingkungan yang penuh dengan kebaikan.

Ketiga, Tips Agar Dicintai

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Maukah kuberitahu sebuah amalan, yang apabila diamalkan kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Dalam kitab al-Adab al-Mufrad, imam al-Bukhori meriwayatkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Saling memberi hadiahlah niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no. 594)

Dua hadis tersebut mengisyaratkan cara agar orang lain mencintai kita; pertama, dengan gemar menebar salam. Kedua, dengan gemar memberi hadiah.

Berharaplah dicintai oleh orang yang Allah cintai, orang yang dengan mereka hubungan kita dengan Allah baik. Bukan berharap dicintai seluruh manusia, karena berharap dicintai seluruh manusia adalah perkara yang mustahil. Disebutkan dalam kitab Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya bahwa imam Sufyan al-Tsauri mengatakan[1]

رضى الناس غاية لا تدرك

“Berharap dicintai semua manusia adalah angan yang takkan tergapai.”

Dalam sebuah riwayat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan

مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

 “Barangsiapa yang yang mencari keridhaan Allah sekalipun memperoleh kebencian manusia, Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan dari Allah, maka Allah akan menjadikannya bergantung kepada manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2414)

Keempat, Penyesalan Salah Pergaulan

Allah menggambarkan penyesalan orang yang ketika di dunia salah dalam memilih teman bergaul, salah dalam mencintai/mengidolakan manusia, teman yang tidak mengingatkannya kedalam ketaatan atau membuatnya lupa dengan permasalahan agama dalam firman-Nya

یَـٰوَیۡلَتَىٰ لَیۡتَنِی لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیلࣰا – لَّقَدۡ أَضَلَّنِی عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَاۤءَنِیۗ وَكَانَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ لِلۡإِنسَـٰنِ خَذُولࣰا

Wahai celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulanitu teman akrab(ku), (28)

Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia. (29)

(QS. Al-Furqon [25]: 28—29)

Selektif dalam bergaul, melihat dengan siapa teman duduk kita, karena sejatinya agama seorang bisa dilihat dari teman duduknya.

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Nabi ﷺ bersabda, “Seorang laki-laki itu bergantung dengan agama teman gaulnya, maka hendaklah salah seorang melihat siapa yang menjadi teman gaulnya.” (HR. Abu Dawud, no. 4833)

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari, no. 6168)

Semoga Allah memberikan hidayah agar kita dapat mengelola rasa cinta sebagaimana aturan yang ditatapkan-Nya. Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari siapapun, mencintai manusia karena Allah, serta semoga dilindungi dari teman yang menjauhakan dari jalan Allah.

[1] Al-Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya v.5 hlm. 313

Ditulis Oleh: Fahmi Izuddin, S.Ag

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Beberapa Waqof Buruk yang Sering Terjadi Saat Membaca Al Quran

0

Membaca Al-Quran merupakan amalan yang mulia dengan segudang keutamaan. Allah subhanahu wat’ala sendiri sudah banyak memaparkan keutamaan membaca Al-Quran baik dalam firman-Nya maupun melalui lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam. Salah satunya adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits sahih :

( مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ )

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabulloh maka baginya 1 kebaikan. Dan satu kebaikan bernilai 10 kali lipatnya. Aku tidak katakan bahwa alif-lam-mim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Bani)

Namun satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa membaca Al-Quran memiliki adab serta tata cara yang perlu diperhatikan, sebab ia adalah kalamurrohman. Diantara hal yang perlu diperhatikan adalah dalam masalah waqf dan ibtida`, yaitu dimana kita harusnya berhenti serta dimana hendaknya kita memulainya.

Banyak diantara kaum muslimin yang masih belum memahami hal ini, padahal waqf dan ibtida` akan sangat berpengaruh terhadap makna yang terkandung dalam Al-Quran. Makna yang ada bisa jadi akan berubah 180 derajat jika kita salah berhenti pada suatu kalimat. Oleh sebab itu ilmu waqf &ibtida` merupakan ilmu wajib yang harus dimiliki oleh para pengajar Al-Quran agar mereka bisa mewariskannya kepada para muridnya kemudian. Sebagaimana pernah penulis singgung dalam : 10 Kiat menjadi Pengajar Al-Quran yang Baik & Profesional

Disini kami akan sedikit memaparkan beberapa contoh waqof buruk yang sering menimpa kaum muslimin tanpa mereka sadari saat membaca Al-Quran :

  • Surat Al Baqarah ayat 14

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

 

Sebagian kaum muslimin berhenti pada kalimat (إِنَّا مَعَكُمْ) kemudian memulai bacaan dengan kalimat (إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ)

Padahal, kalimat (إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ) merupakan perkataan orang-orang kafir yang Allah ceritakan dalam Al-Quran, sehingga tidak sepantasnya kita memulainya dengan kalimat tersebut.

Satu kaidah penting seputar hal ini pernah disampaikan oleh salah satu guru talaqqi kami, Syaikh Doktor Usamah Salim Al Maghribi hafidzahullah. Beliau tegaskan agar jangan sekali-kali memotong dan memisahkan antara suatu perkataan (dalam Al-Quran) dengan orang yang mengatakannya.

Diantara kasusnya adalah ayat diatas, dimana yang mengatakan adalah orang-orang kafir yang terkandung dalam lafadz (قَالُوا) yang artinya “Mereka (orang-orang kafir) berkata ..” , sedangkan perkataan mereka adalah (إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُون). Oleh sebab itu merupakan hal yang kurang tepat jika kita memisahkan lafadz (قَالُوا) dengan kalimat setelahnya (إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُون).

  • Surat Al Baqarah ayat 90

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ

Sebenarnya tidak mengapa saat seseorang berhenti pada lafadz (بَغْيًا), akan tetapi hal yang tidak tepat ialah setelah mengambil nafas ia justru memulai membaca dari lafadz tersebut. Sehingga ia membaca dari kalimat (بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ).

Hal tersebut kurang tepat lantaran mengubah makna yang terkandung dalam ayat, sebab lafadz (بَغْيًا) masih memiliki kaitan dengan kalimat sebelumnya.

  • Surat Al Baqarah ayat 120

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Hal ini sering terjadi, dimana seorang yang membaca Al Quran berhenti pada lafadz (مِنَ الْعِلْمِ ۙ) lantas memulai bacaan pada kalimat (مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ). Ini kesalahan yang cukup fatal dikarenakan keduanya masih memiliki hubungan yang erat.

Saat kita memulai pada kalimat (مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ) seakan-akan kita mengatakan bahwa Allah ta’ala tidaklah menjadi penolong bagi Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Padahal makna sempurna pada ayat tersebut ialah :

“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

Terdapat lafadz (وَلَئِنِ) yang artinya “dan jika”, hal ini dalam bahasa arab disebut dengan harfu syart. Dan sebuah kaidah yang juga disampaikan oleh guru kami bahwa harfu syart yang dalam kasus ini adalah (وَلَئِنِ) tidak boleh dipisahkan dengan kalimat yang melengkapinya atau dalam bahasa arab disebut diistilahkan dengan jawab asy syart.

  • Surat Ali Imron ayat 15

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Berhenti pada lafadz (تَجْرِي) merupakan kesalahan yang sering terjadi baik pada ayat ini maupun ayat serupa lainnya. Kesalahan ini akan merubah makna dari ayat tersebut, dimana saat seseorang berhenti pada lafadz (تَجْرِي) maka akan memiliki makna bahwa Allah menyediakan surga yang mengalir. Padahal surga tidaklah mengalir, akan tetapi makna yang tepat adalah Allah menyediakan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Maka hendaknya ia tidak berhenti pada lafadz (تَجْرِي) agar tidak merubah makna yang ada.

Wallahu a’lam

Beberapa contoh lain seputar kesalahan dalam masalah waqof dan ibtida` insya Allah akan kami posting pada artikel yang akan datang insyaallah.

Referensi :

Tajwidul huruf wa ma’rifatul wuquf, Hasan bin Muhammad Al Hulwati

***

Ditulis oleh : Afit Iqwanudin, A.Md., B.A

(Alumni PP Hamalatulqur’an Yogyakarta, mahasiswa Pascasarjana jurusan Ilmu Qiro’at, Fakultas Qur’an di Universitas Islam Madinah KSA)

Artikal: HamalatulQuran.com

 

 

donatur-tetap

Belajar Akidah dari Juz ‘Amma: An-Naba Ayat 6-16

0

Pada ayat 6-16 dipaparkan betapa mengagumkan, indah dan betapa luar biasanya ciptaan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala memulai pada ayat ke 6 tentang ciptaan Nya berupa bumi dengan kalimat tanya, dimana Dia lah yang telah menghamparkan bumi dengan sempurna dengan berbagai hal yang ada di atasnya, sebagimana Allah jelaskan pula hal ini dalam surat An-Naml ayat 61

أَمَّن جَعَلَ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا وَجَعَلَ خِلَٰلَهَآ أَنۡهَٰرٗا وَجَعَلَ لَهَا رَوَٰسِيَ وَجَعَلَ بَيۡنَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ حَاجِزًاۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ

“Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Kemudian Allah melanjutkan

وَٱلۡجِبَالَ أَوۡتَادٗا

“Dan gunung-gunung sebagai pasak”

Allah jadikan gunung-gunung di muka bumi ini bagaikan pasak, sebagaimana pasak untuk sebuah tenda, dimana tenda tidak dapat berdiri dengan tegak tanpa adanya pasak yang menancap ke tanah. Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala jelaskan

وَجَعَلۡنَا فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمۡ وَجَعَلۡنَا فِيهَا فِجَاجٗا سُبُلٗا لَّعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ

“Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Anbiya: 31)

Kemudia pada ayat selanjutnya Allah berfirman,

وَخَلَقۡنَٰكُمۡ أَزۡوَٰجٗا

“Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan”

Ayat ini menunjukkan betapa agungnya Allah terhadap penciptaan jiwa kita, dan itu semua baik langit, bumi, gunung dan jiwa kita semuanya adalah tanda kekuasaan Allah Ta’ala.

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur`ān itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushilat: 53)

Yang dimaksud dengan “Pasangan” adalah laki-laki dan perempuan. Dan Allah telah jadikan manusia menjadi banyak dengan adanya pasangan-pasangan yang menikah dan memiliki keturunan dan ini tidak hanya berlaku pada manusia saja bahkan hewan dan tumbuhan pun banyak yang demikian.

وَجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتٗا

“Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat”

Ini adalah bentuk keagungan Allah terhadap diri kita manusia, dimana tidur bukanlah kondisi terjaga atau pun kondisi mati, namun ini adalah kondisi pertengahan antara keduanya

Tidur sendiri sejatinya adalah saudara kematian, namun kematian kecil sebagai mana dijelaskan dalam hadis sahih riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.

Adapun kondisi hubungan badan dan ruh manusia itu ada 5 kondisi.

  1. Di janin ibu kita.
    2. Kondisi sadar, seperti kondisi kita hidup di dunia ini di dunia
    3. Ketika tidur.
    4. Di alam barzah.
    5. Hari kiamat setelah dibangkitkan dari kubur.

وَجَعَلۡنَا ٱلَّيۡلَ لِبَاسٗا * وَجَعَلۡنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشٗا

“Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian, Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan”

Allah jadikan hidup manusia memiliki jeda rehat antara malam dan siang hari, di malam hari beristirahat dengan tidur dan disiang hari bekerja untuk mengais rezeki yang halal.

وَبَنَيۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعٗا شِدَادٗا * وَجَعَلۡنَا سِرَاجٗا وَهَّاجٗا

“Dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh, Dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari)”

Allah ciptakan langit sebagai pengingat bagi hamba setiap kali memandang ke atas bahwa Manusia tidak ada apa-apanya bagi Allah dibandingkan ciptaanNya berupa langit.

Kemudian dijelaskan pula bahwa Allah menciptakan “Siraj” yaitu matahari yang menyinari sekaligus memberikan panas yang terik.

وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡمُعۡصِرَٰتِ مَآءٗ ثَجَّاجٗا * لِّنُخۡرِجَ بِهِۦ حَبّٗا وَنَبَاتٗا * وَجَنَّٰتٍ أَلۡفَافًا

“Dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya, Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman, Dan kebun-kebun yang rindang.”

Faidah :

1. Tauhid rububiyah adalah salah satu asas untuk menuntun kepada tauhid uluhiyah.

2. Pentingnya memaparkan dan menyampaika dalil terkait tauhid rububiyah beserta bukti-buktinya, baik dari hal-hal disekitar kita bahkan yang ada dalam diri kita sendiri.

3. Menyadarkan akal yang bodoh, dengan berfikir dan merenungkan berkali-kali terhadap ciptaan Allah.

4. Menyampaikan dalil dengan dalil yang mudah dan jelas, sebelum menuju dalil-dalil yang sulit dipahami atau nampak samar.

5. Menggunakan metode pertanyaaan dan pengulangan untuk membuat pendengar menjadi lebih perlahitan.

6. Gaya bahasa dan pertanyaan yang ada dalam Al-Quran hendaknya digunakan dan dipraktekkan oleh setiap dai dalam mendakwahi Mad’u mereka.

Referensi: At-Tafsir Al-A’di li Jauzi ‘Amma karya Syaikh Ahmad bin Abdurrahman Al-Qodhi

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan, B.A
Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Dahsyatnya Dzikir Bag.2

0

Berbicara tentang fadhilah dzikir adalah suatu hal yang sangat menyenangkan, karena dzikir adalah amalan ringan di lisan tetapi sangat bermanfaat di hati dan berat di timbangan hari kiamat esok. Dzikir adalah salah satu nutrisi hati dan ruh, tanpanya hati dan ruh akan gersang bahkan bisa menyebabkan kematian hati, pernahkah kita melihat ikan yang kekurangan air ? Tentunya ikan itu akan bisa mati karena kekurangan air, maka seperti itulah kebutuhan hati kepada dzikir mengingat Allah, seperti ungkapan syekh Ibnu Taimiyah

الذِكْر للقلب مثل الماء للسمك، فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء؟

“Dzikir untuk hati seperti air untuk ikan, bagaimana keadaan ikan jika pisah dari air?”

Berikut lima fadhilah dzikir:

1. Dengan dzikir hati menjadi hidup, Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda

مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه، مثل الحيِّ والميت

“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Allah dan orang yang tidak berdzikir kepada Robnya, seperti orang hidup dan orang mati”. HR. Bukhori Muslim.

Hati orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah akan hidup seperti jasadnya yang senantiasa diberi asupan nutrisi, sebaliknya orang yang tidak mengenal dzikir kepada Allah ibarat jasad yang ditinggal oleh ruhnya tidak ada kehidupan dalam jasad tersebut. Hadits di atas menjadi perumpamaan yang sempurna dan dorongan yang kuat agar umat muslim senantiasa berdzikir/mengingat Allah.

2. Dzikir sebab ketenangan hati, Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS Ar Ro’d 28

Ketenangan hati bukan di banyaknya simpanan harta atau ketika bisa melihat anak-anak yang riang gembira, tetapi hakikat ketenangan hati ketika hati itu selalu ingat penciptanya, lisan senantiasa dzikir kepada Allah. Banyak harta terkadang menjadikan hati lupa akan sang pemberi rizki, hal ini bisa menimbulkan malapetaka bagi pemiliknya, maka jadikan harta untuk senantiasa mengingat Allah dengan perbanyak shodaqoh dan amal kebaikan lainnya.

3. Dzikir adalah amalan yang terbaik dan paling suci di sisi Allah, Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda:

ألا أُنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم، وخيرٌ لكم من إنفاق الذهب والوَرِق، وخيرٌ لكم من أن تلقوا عدوَّكم، فتضربوا أعناقهم ويضربوا أعناقكم، قالوا: بلى يا رسول الله، قال: ذكر الله)؛ رواه الترمذي وابن ماجه

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sebaik-baik amal dan paling bersih/suci di sisi raja kalian (Allah), (amalan) yang derajatnya paling tinggi, lebih baik dari pada infaq emas dan perak, lebih baik dari pada berhadapan dengan musuh bisa jadi kalian yang membunuh mereka atau mereka membunuh kalian (jihad) ? (para sahabat) menjawab: tentu ya Rosulallah. Beliau bersabda : dzikir kepada Allah.” HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Semua ibadah lahiriyah maupun batiniyah intinya adalah dzikir kepada Allah, melaksanakan ibadah tanpa ada mengingat Allah seperti jasad tanpa ruh, maka dzikir/mengingat Allah menjadi inti di semua peribadahan.

4. Dzikir salah satu sebab mendapat ampunan dari Allah, Allah berfirman:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“… laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” QS Al Ahzab 35

Dzikir adalah satu sebab di antara sebab-sebab Allah mengampuni dosa-dosa hambaNya.

5. Dzikir merupakan upaya pengokohan iman, Rosul ‘alaihis sholatu was salam menjawab permintaan sahabat yang mengadu kepadanya , salah seorang sahabat bilang kepada Nabi ‘alaihis sholatu was salam: ya Rosulallah bahwasanya syari’at Islam sudah banyak saya terima, maka terangkanlah kepada saya sesuatu yang bisa mengokohkanku (agar mudah istiqomah dalam menjalankannya). Nabi menjawab: لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله عز و جلHendaklah lisanmu selalu basah dengan dzikir kepada Allah. HR Tirmidzi

Hendaknya dzikir tidak hanya di lisan, tetapi ketika lisan berdzikir hendaknya hati juga ikut bersamanya berdzikir, tentunya keadaan yang sempurna dalam berdzikir yang bisa benar-benar mencapai fadhilah dzikir.

Semoga penulis dan pembaca senantiasa diberi ilham oleh Allah untuk selalu berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiiin.

Sumber :

  • islamweb.net
  • alukah.net
  • Dll

Ditulis Oleh : Muhammad Fathoni, B.A

Artikel : HamalatulQuran.Com

 

 

 

 

donatur-tetap

Dahsyatnya Dzikir Bag.1

0

Manusia hidup terdiri dari dua unsur yang harus berjalan beriringan, jika salah satu dari keduanya cacat, maka jalan hidupnya tidak sempurna. Dua unsur tersebut adalah jasad dan ruh, dengan keduanya maka hidup manusia bisa berarti dan berjalan sempurna.

Jasad dan ruh masing-masing mengambil perannya tersendiri yang berbeda dengan yang lain, jasad berperan untuk amal-amal yang bersifat jasmani seperti berjalan, berbicara, makan, minum, dsb, sedangkan ruh mempunyai peran yang sangat penting untuk mengfilter apa yg muncul dari perbuatan secara jasmani itu, baik dan buruknya amal seseorang tergantung dari ruh yang ada dalam dirinya.

Jasad dan ruh membutuhkan nutrisi agar mampu hidup sejahtera, sejalan dengan apa yang diinginkan oleh penciptanya, nutrisi jasad sekedar makan dan minum yang sehat juga ditambah dengan oahraga secukupnya, adapun nutrisi ruh adalah bersifat keyakinan dan keimanan serta ketundukan hati kepada Robnya yaitu Allah ta’ala, semakin dia yakin dan patuh kepada Allah, maka semakin tercukupi nutrisi ruh tersebut.

Tanda seseorang beriman kepada Allah adalah senantiasa dzikir (mengingat) Dia, dan dengan dzikir kepadanya ruh ini akan tenang dan tentram. Allah berfirman

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوب

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ro’d: 28)

Sudah menjadi hak bagi hati untuk tidak ada ketentraman kepada sesuatu apapun kecuali kepada dzikir kepada Allah, sungguh tidak ada yang lebih baik untuk hati, tidak lebih diinginkan juga tidak lebih manis dari pada cinta kepada penciptanya, dan mengetahuinya. kadar tinggi pengetahuannya kepada Allah seperti itu kecintaannya kepada Allah, dan seperti itu pula dia mengingat Allah. Tafsir Ibnu Sa’di.

Semakin dia cinta kepada Allah maka semakin sering dia menyebut dan mengingatNya, sedikit ingat Allah tanda kemunafikan seseorang, Allah berfirman mensifati orang-orang munafiq

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut/mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142)

Inilah sifat orang munafiq di dalam amal yang paling mulia dan paling agung dalam syareat islam yaitu shalat, jika mereka berdiri untuk shalat tidaklah mereka lakukan kecuali dengan bermalas-malas, dikarenakan mereka berdiri tanpa niat, tanpa didasari keimanan, tidak ada ketenangan hati, dan tanpa penghayatan makna dari shalat itu.

Ibnu ‘Abbas berkata : dimakruhkan (harom) seseorang berdiri untuk sholat dengan bermalas-malas, tetapi hendaknya berdiri untuk sholat dalam keadaan wajah yang berseri-seri (senang), besar harapan, sangat bergembira karena meyakini sholat itu adalah bermunajaat dengan Allah, dan Dia ada didepannya, Dia mengampuni dosa-dosanya, dan mengijabahi doanya.

Ini sifat orang munafiq secara dzohir yaitu bermalas-malas untuk sholat, dan sifat mereka secara bathin yaitu tidaklah mereka melakukannya kecuali hanya sekedar ingin dilihat oleh kaum muslimin (riya’), dan mereka tidak ingat Allah dalam sholat mereka, dan inti dari sholat adalah ingat Allah وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي dan dirikanlah sholat untuk mengingatKu. QS Toha 14

Semoga Allah senantiasa membimbing penulis dan pembaca ke jalan yang Allah ridhai. Aamiin.

Bersambung.

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Tantangan Guru Al-Quran di Era Digital

0

Perkembangan era digital yang semakin cepat telah memberikan dampak kepada seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali para guru Quran.

Tidak sedikit diantara guru Quran yang mengalami kendala karena belum bisa beradaptasi dengan perkembangan digital ini.

Berikut ini beberapa tantangan yang kerap dihadapi oleh guru Quran di era digital ini, di antaranya:

1. Adaptasi Teknologi

Guru Quran harus mampu beradaptasi dengan teknologi, seperti menguasai platform pembelajaran online dan perangkat lunak untuk konferensi video, semisal WhatsApp, Telegram, Zoom, Google Meet, serta aplikasi Al-Quran digital. Tidak semua guru memiliki keterampilan atau akses untuk menggunakan teknologi dengan baik.

Ada baiknya sebuah lembaga pendidikan Al-Quran mengadakan pelatihan atau bimbingan penggunaan platfrom digital kepada seluruh civitas pada lembaga tersebut. Sebagai bekal bila sewaktu-waktu dibutuhkan menggunakan salah satu platfrom aplikasi yang semisal yang sudah kami sebutkan di atas.

2. Keterbatasan Interaksi Tatap Muka

Pembelajaran Al-Quran sering kali memerlukan bimbingan langsung bahkan ini yang paling utama, terutama untuk pelafalan tajwid yang benar. Pembelajaran online disatu sisi memng memberikan kemudahan namun hal ini dapat mengurangi kualitas interaksi langsung antara guru dan murid, membuat pengawasan pelafalan lebih sulit.

Hal ini kerap terjadi ketika jumlah peserta pembelajaran banyak, sehingga idealnya ketika melakukan pelajaran Quran via online maka peserta hendaknya dibatasi.

Penerapannya bisa dengan membagi waktu pembelajaran ke angka 15 (15 menit). Karena 15 menit adalah waktu ideal untuk pembelajaran satu orang terutama untuk pembenaran bacaan/tajwid, maka bila waktu pelajaran 1 jam idealnya diikuti oleh 4 peserta didik dan jika waktu 1,5 Jam maka diikuti 6 peserta.

3. Gangguan dari Media Sosial dan Konten Hiburan

Murid itu lebih rentan terhadap gangguan dari media sosial dan konten hiburan digital. Fokus mereka dapat dengan mudah teralihkan dari pembelajaran.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), sekitar 196,71 juta orang Indonesia atau sekitar 73,7% telah terhubung dengan jaringan internet pengguna sepanjang tahun 2019-2020.

Di tahun 2024 ini tentunya jumlah pengguna tersebut terus meningkat, dan tidak hanya dari kalangan dewasa saja, banyak anak-anak pun yang sudah tidak asing lagi dengan internet dan media sosial.

Maka disini peran orang tua menjadi sangat penting yaitu untuk mendisiplinkan atau mengatur penggunaan media sosial dan perangkat digital oleh sang buah hati agar mereka dapat menggunakan media sosial dengan bijak.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no.1093)

4. Kurangnya Pemahaman Teknologi oleh Murid

Selain guru, murid juga mungkin menghadapi tantangan dalam menggunakan teknologi, terutama di kalangan anak-anak atau mereka yang tinggal di daerah dengan akses internet terbatas.

Maka disini peran guru dan orang tua adalah memberikan pengarahan, pemahaman dan pelatihan terkait bagaimana mengoperasikan teknologi yang aka digunakan dalam pembelajaran Al-Quran.

5. Konten Digital yang Kurang Terverifikasi

Banyak sekali konten Quran di internet, tetapi tidak semua dapat dipercaya atau sesuai dengan ajaran yang benar. Guru perlu memastikan bahwa murid-murid mengakses sumber yang benar dan sesuai.

Tidak sekedar menarik kemudian ditonton dan diikuti, karena banyak konten Qur’an yang nyatanya hanya berfokus pada irama yang indah namun ternyata tajwid berupa makhorijul huruf dan sifatul huruf masih amat jauh dari kata baik.

Maka pemilihan konten Qur’an untuk dilihat dan dipelajari ini menjadi penting agar tidak salah langkah dalam belajar Al-Quran.

6. Menjaga Kehangatan Pembelajaran

Pengajaran Al-Quran sering melibatkan hubungan spiritual yang kuat antara guru dan murid. Dalam format digital, kehangatan dan kedekatan ini bisa berkurang, dan menjadi tantangan bagi guru untuk tetap menjaga keterhubungan spiritual.

Guru Al-Quran bisa meluangkan beberapa menit dari pertemuannya untuk mencairkan suasana dengan obrolan ringan, sehingga waktu pembelajaran tidak kaku dan hanya fokus 100% dengan materi saja.

Diantara hal yang bisa dilakukan oleh guru Al-Quran adalah melakukan ice breaking atau game-game ringan agar pembelajaran bersama murid terasa hangat dan nyaman.

7. Keterbatasan Infrastruktur

Tidak semua guru atau murid memiliki akses ke perangkat yang memadai atau jaringan internet yang stabil, yang menjadi hambatan untuk pembelajaran online.

Ini adalah PR bersama, yaitu bagi lembaga pendidikan Quran serta bagi wali murid. Bila menyediakan infrastruktur yang ideal belum bisa dilakukan maka kedua belah pihak harus bermusyawarah untuk menggunakan perangkat digital yang bisa segera digunakan dengan baik tanpa adanya banyak kendala dalam pembelajaran.

Mengatasi tantangan-tantangan ini tentunya memerlukan pendekatan inovatif, pelatihan teknologi, serta komitmen dari guru dan murid untuk memanfaatkan teknologi secara bijaksana dalam mendalami Al-Quran.

Bagi yang ingin menghafal Al-Quran secara online dan fleksibel, baik untuk keluarga, diri sendiri, anak, orang tua atau kerabat. Saat ini Al-Quran Center Hamalatul Quran Yogyakarta masih membuka pendaftaran program Tahfidz Online sampai tanggal 31 Oktober 2024. Info selengkapnya klik

Referesnsi:

عمر سعيد سالم بازرعه. (2022). درجة استخدام التكنولوجيا الحديثة في تعليم مادة القرآن الكريم ومعوقات استخدامها من وجهة نظر معلمي المرحلة الثانوية بمدينة المكلا. مجلة جامعة القرآن الكريم والعلوم الاسلامية17(2).

donatur-tetap

Rahasia Kemuliaan Seorang Hamba

0

Sesungguhnya tingginya kemuliaan seseorang hanyalah diraih dengan bagaimana dia berpegang teguh dengan Al-Quran, bagaimana orang-orang salaf (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut taabi’in) mereka meraih begitu tinggi derajat kemuliaan dan mendapat keberkahan yang Allah turunkan juga kemenangan dari musuh-musuhnya melainkan karena mereka dalam berpegang dengan alquran sangatlah teguh.

Ketika lembaran sejarah dibuka kembali, maka kita akan mendapati bangsa Arab di masa jahiliyah sangatlah tertinggal dan terkucilkan, tidak hanya itu tetapi juga jauh dari peradaban, namun ketika muncul seseorang pembawa pembaruan yaitu Muhammad bin Abdullah ‘alaihis shalatu was salam utusan Allah tidak membutuhkan waktu yang lama hanya -+ 23 tahun bangsa Arab mampu bersaing dengan bangsa adidaya di zaman itu; yaitu bangsa Romawi dan Persia, kemudian perjuangan dilanjutkan oleh para sahabatnya tidak sampai 50 tahun telah menaklukkan Persia dan sebagian dari Romawi.

Menjadi pertanyaan “dengan apa mereka (bangsa arab) itu mampu meraih apa yang telah mereka raih ?”

Jawabannya sederhana dan simpel, yaitu mereka menjadi “manusia qurani” manusia yang beramal dengan quran, berakhlak dengan alquran, bermuamalah dengan alquran dan yang paling tinggi adalah beraqidah dengan Al-Quran. Hal inilah yang menjadikan mereka generasi emas, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Nabi ‘alaihis shalatu was salam memberi pelajaran kepada umatnya bahwa kaum muslimin yang paling afdhol, paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah mereka yang belajar alquran baik dari bacaan, hafalan, tadabbur, penafsiran dan pengamalan, juga mengajarkan alquran yang dimilikinya kepada orang lain, tentunya dia mengamalkan isi kandungan dari ayat-ayat alquran itu, inilah rahasia manusia yang menginginkan kemuliaan di sisi Allah.

Al-Quran adalah undang-undang kehidupan seorang muslim, dengannya mereka beraqidah, dengannya mereka berakhlak, dan dengannya mereka beramal. Siapa saja berpegang dengannya pasti kemuliaan akan menghampirinya, akan menjadi pemimpin umat, siapa yang mengabaikan alquran pasti dia akan dihinakan dan kehancuran akan menyelimutinya. Sahabat mulia, amirul mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata :

أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِين

“Sesungguhnya Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sungguh, dengan kitab ini Allah akan mengangkat suatu kaum dan merendahkan kaum yang lain.” (HR Ibnu Majah)

Ucapan sahabat Umar di atas menjadi cambuk untuk kita yang lalai dari alquran, bahwa orang yang lalai dan mengabaikan alquran -cepat maupun lambat- pasti Allah akan hinakan dia.

Pastinya seorang muslim cinta kepada Allah dan Rasulnya, tetapi pengakuan cinta kepada Allah dan Rasulnya tidak hanya sekedar ungkapan lisan semata, tetapi mengharuskan adanya bukti kuat dari pengakuannya itu, Sahabat Ibnu mas’ud berkata :

من أحب أن يعلم أنه يحب اللهو رسوله فلينظر فإن كان يحب القرآن فإنه يحب الله و رسوله

“Siapa yang ingin mengetahui orang yang cinta Allah dan Rasulnya, hendaknya melihat; jika dia cinta alquran maka dia cinta Allah dan Rasulnya”. Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam kitab fadhoilul quran.

Cinta Al-Quran tidak hanya pengakuan saja melainkan dia mengharuskan kepada dirinya untuk benar-benar mengikuti apa yang di kata oleh alquran, tidak hanya sebagai pajangan di dinding-dinding ruang tamu melainkan harus di baca dan ditadabburi, karena hakikat Allah menurunkan Al-Quran ini untuk ditadabburi

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambanya yang qurani.

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

 

 

 

 

donatur-tetap

Serial Ahli Qiraat #21: Khalaf, Ulama yang Mempelajari Seluruh Qiroat

0

Beliau adalah Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab AlBazzar. Khalaf adalah pakar dalam qiroat dan hadis, telah meriwayatkan hadis darinya Ahmad bin Hanbal dan ulama lainnya. Beliau lahir pada bulan Rajab pendapat lain mengatakan bulan Ramadhan pada tahun 150 Hijriyah pada masa kekhalifahan Al-Manshur.

Idris bin Abdil Karim rahimahullah salah satu murid beliau berkata: “Aku mendengan Khalaf bin Hisyam bercerita; Aku hafal Al-Quran saat berumur 10 tahun, dan aku mengajar AL-Quran pada umur 13 tahun”

Imam Khalaf memang dikenal sebagai periwayat dari Imam Hamzah, namun sejatinya beliau tidak secara langsung berguru kepada Imam Hamzah melainkan melalui perantara Sulaim bin Isa Al-Kufi murid senior yang terkenal dari imam Hamzah.

Imam Khalaf berkata: “Aku belajar Al-Quran kepada Sulaim bin Isa Al-Kufi berkali-kali, dan aku bertanya kepadanya di sedikit waktu longgarnya, “Bolehkah aku meriwayatkan darimu bacaan Al-Quran ini yang telah aku bacakan kepadamu dari riwayat Hamzah? Maka ia menjawab: Ya, silahkan”

Mempelajari Seluruh 7 Qiraat 

Berbicara tentang imam Khalaf nampaknya tidak akan afdhal bila tidak diceritakan keistimewaan ini, dimana keistimewaan ini tidak dimiliki oleh seluruh perawi qiraat sab’ah kecuali dirinya Imam Khalaf sendiri telah belajar kepada 5 dari 7 imam qiroah sab’ah, yaitu riwayat Nafi’ dari jalur Al-Musaibi, riwayat Ibnu Amir dari jalur Hisyam, riwayat Ibnu Katsir dari jalur ibnu ‘Aqil, riwayat Abu ‘Amr dari jalur Abi Zaid dan riwayat Hamzah dari jalur Sulaim bin Isa.

Pendapat lain menyatakan bahwa imam Khalaf telah belajar seluruh qiroat dari ketujuh imam qiraat, beliau telah belajar riwayat Imam Al-Kisai hanya saja belum membacakannya di hadapan Al-Kisai. Adapun riwayat bacaan beliau dari Imam ‘Ashim beliau telah menulisnya dan mendapatkannya melalui jalur Yahya bin Adam

Guru dan Murid

Diantara jajaran gurunya adalah Salim bin Isa dari jalur Hamzah, Abdurrahman bin Abi Hammad dari jalur Hamzah, Ya’qub bin Khalifah al-A’sya, Abu Zaid Sa’id bin Uwais al-Anshari

Adapun jajaran muridnya adalah Ahmad bin Yazid Al-Halwani, Ahmad bin Ibrahim, Muhammad bin Yahya Al-Kisai Ash-Shaghir, Idris bin Abdilkarim Al-Haddad, Muhammad bin Al-Jahm.

Pandangan Ulama Hadis

Meriwayatkan hadir sari beliau seperti imam Muslim, Abu Dawud Ahmad bin Hambal, Abu Zur’ah Ar-Rozi, Abu Hatim Ar-Razi

Ketika Imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang imam Khalaf maka beliau berkata:

والله عندنا الثقة الأمين

“Demi Allah dalam pandangan kami ia adalah seorang Tsiqah dan terpercaya”

Wafat

Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada umur 78 tahun di kota Baghdad, tepatnya pada hari sabtu 7 Jumadil Akhir tahun 219 Hijriyah pada masa kekhalifahan Al-Watsiq Billah.

Referensi:

  • Ahasin Al-Akhbar, Abdul Wahhab Al-Hanafi.
  • Mabahits fi ‘Ilmi Al Qiroat, Abdul Aziz bin Sulaiman Al Muzaini
  • Ma’rifat Al-Qurro, Adz-Dzahabi.
  • https://www.alukah.net/culture/0/86484/

Ditulis Oleh: Muhammad Fatwa Hamidan

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

Nikmat di Atas Sunnah Bag.2

0

Apa itu sunnah ? 

Sunnah bisa diartikan ke beberapa arti, tergantung dari segi apa dilihat. 

Menurut ulama’ hadits sunnah adalah: setiap yang disandarkan kepada Nabi ‘alaihis sholatu was salam dari perkataan, perbuatan, sifat dan pengakuan, dengan kata lain sunnah adalah hadits. 

Fuqoha’ (ahli fikih) menyatakan: semua perbuatan Nabi ‘alaihis sholatu was salam dan juga perintah dari beliau tetapi tidak dengan keharusan dengan kata lain sunnah adalah anjuran yang tidak sampai batas wajib, juga ada diantara ulama yang menyatakan bahwa sunnah adalah lawan dari bid’ah, maka sunnah adalah hal-hal yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ‘alaihis sholatu was salam baik segi aqidah, fikih, muamalah, ibadah maupun akhlak. 

Hidup di atas sunnah adalah hidup di atas apa yang telah diajarkan oleh Nabi ‘alaihis sholatu was salam, maka semua aspek kehidupannya disandarkan kepada beliau, setiap keyakinan, perbuatan serta peribadahan selalu di cari petunjuknya dari Nabi ‘alaihis sholatu was salam sehingga keyakinan, perbuatan dan peribadahannya selaras dengan Nabi ‘alaihs sholatu was salam. 

Begitu banyak jumlah kaum muslimin, yang mereka menyatakan beragama islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang benar-benar di atas sunnah Nabi ‘alaihis sholatu was salam, maka banyak dijumpai dari kaum muslimin yang melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran Nabi ‘alaihis sholatu was salam. 

Allah berfirman tentang kepribadian Nabi Muhammad ‘alaihis sholatu was salam yang bisa dicontoh oleh semua umatnya  

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21) 

Imam ibnu Katsir mengomentari ayat diatas dalam tafsirnya : “Ayat yang mulia ini menjadi pondasi yang sangat kokoh dalam mencontoh kepada Rosulullah ‘alaihis sholatu wasallam baik dalam perkataan, perbuatan maupun keadaan.”  

Tidaklah umat mencontoh Nabi ‘alaihis sholatu was salam dengan sebenar-benarnya kecuali mereka benar-benar mengharap keberuntungan nanti di akherat, berjumpa dengan Allah dalam keadaan berseri-seri wajahnya. Barangsiapa yang menginginkan keselamatan ketika bertemu dengan Allah, maka contohlah baginda Nabi ‘alaihis sholatu was salam, tidak hanya mencontoh beliau dalam hal ibadah dan akhlak tetapi mencontoh beliau dalam semua aspek kehidupan.  

Mencontoh baginda Rasul ‘alaihis sholatu was salam adalah kewajiban seorang mukmin, Allah berfirman  

 وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ 

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7) 

Sungguh hidup yang sangat beruntung ketika mendapati nikmatnya sunah, dia muslim dan di atas sunah. Berikut keberuntungan orang yang berada di atas sunah: 

1. Keyakinan yang benar dan istiqomah di atas haq (kebenaran) hingga wafat. 

2. Selamat di dunia hingga akherat, selamat di dunia dari kebid’ahan yang merupakan musuhnya sunah, sedangkan selamat di akherat dari sengatan api neraka dikarenakan dia istiqomah di dalam meniti jalan yang haq 

3. Selamat dari kebimbangan, karena hidup di atas sunah senantiasa mengikuti dalil, ada dalil dilaksanakan tidak ada dalil ditinggalkan 

4. Irit tenaga dan harta, orang yang mengenal sunah tidak akan membuang-buang tenaga dan hartanya dalam perkara di luar dari pada sunah Nabi ‘alaihis sholatu was salam, sehingga tenaga dan hartanya benar-benar diperuntukan di dalam meniti sunah Nabi ‘alaihis sholatu was salam.

5. Tenang dalam menghadapi hidup, karena yakin yang dikerjakan dan yang dilakukan adalah kebenaran berdasarkan dalil dan pemahaman salaf. 

Bersyukurlah bagi yang mengenal sunah dan masuk kedalamnya, semoga penulis dan pembaca diberi hidayah untuk berpegang dengan sunah Nabi ‘alaihis sholatu was salam. Aamiin…

Ditulis Oleh: Muhammad Fathoni, B.A

Artikel: HamalatulQuran.Com

donatur-tetap

9 Prinsip Dasar yang Harus Dimiliki Guru Al-Quran

0

Menjadi pengajar Al-Quran merupakan profesi yang sangat mulia, baik di dunia maupun di akherat. Nabi menyampaikan bahwa Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 5027)

Kemuliaan menjadi pengajar Al -Quean ini akan menjadi lebih indah ketika para guru Quran memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai seorang guru Quran.

Berikut ini beberapa prinsip yang seharusnya dimiliki oleh Guru Al-Quran:

1. Keikhlasan

Niat dalam mengajarkan Al-Quran haruslah murni karena Allah semata, dengan tujuan menyebarkan kebaikan dan ilmu agama kepada orang lain. Keikhlasan ini penting agar proses pengajaran berkah dan bermanfaat.

Ikhlasnya niat amat dibutuhkan dalam setiap amalan termasuk dalam mengajarkan Al-Quran. Tanpanya sebuah amalan shaleh akan berubah menjadi bencana.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengisahkan bahwa diantara golongan pertama yang akan merasakan pedihnya api neraka adalah mereka yang membaca Al-Quran demi mendapatkan pujian manusia

“Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. At-Turmudzi No. 2382)

2. Pemahaman Ilmu Tajwid dan Ilmu Waqf wal Ibtida’

Seorang guru Quran harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang isi Al-Quran, terutama adalah ilmu tajwid karena Ilmu ini merupakan bekal utama dan pertama yang harus dimiliki oleh seorang pengajar Al-Quran.

Bagaimana dia akan mengajar anak muridnya jika belum menguasai ilmu tajwid yang merupakan pondasi utama dalam membaca Al-Quran?

Adapun ilmu Waqf dan Ibtida’ Adah tatacara berhenti dan memulai bacaan Al-Quran dalam sebuah ayat.

Ilmu perlu dipahami dengan baik oleh seorang guru Quran. Sebab seringkali seorang yang baru belajar Al-Quran akan salah berhenti pada suatu kalimat dan berakibat merubah makna suatu ayat.

Jika sang guru tidak memahami ilmu ini dengan baik ia akan menganggap benar dan tidak memperingatkan muridnya. Kesalahan yang dilakukan oleh anak didiknya tersebut akhirnya akan terus melekat hingga dewasa serta sulit untuk diperbaiki.

3. Kesabaran dan Kelembutan

Guru Quran harus sabar dalam membimbing murid-muridnya, terutama bagi mereka yang mengalami kesulitan. Kelembutan dalam mendidik dapat membantu murid belajar dengan lebih baik dan merasa nyaman.

Ada sebuah kaidah yang berbunyi

الأصل في الدعوة الرفق واللين

Asas pokok dalam dakwah (dan mengajari orang lain) adalah dengan lembut dan kasih sayang

4. Tawadhu’ (Rendah Hati)

Seorang guru harus bersikap rendah hati, tidak merasa sombong dengan ilmunya. Mereka harus selalu terbuka untuk belajar lebih banyak dan menerima kritik yang membangun.

Sebagaimana peribahasa “Jadilah seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk”. Oleh karenanya, jangan sampai ia merasa lebih baik dari orang lain serta bangga terhadap dirinya, sebab ini merupakan penyakit berbahaya yang akan mengotori hati dan membuatnya selalu dihantui rasa kecewa.

5. Akhlak Mulia

Seorang guru Quran harus menjadi teladan dalam akhlak. Mereka harus mengamalkan ajaran-ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan kejujuran, kasih sayang, dan sikap hormat kepada murid-muridnya.

Karena sejatinya Al-Quran itu sendiri merupakan sumber akhlak terbaik yang harus diteladani dan diamalkan oleh setiap muslim

6. Disiplin dan Konsistensi

Pengajaran Quran membutuhkan keteraturan dan konsistensi, baik dari sisi waktu maupun metode pengajaran. Disiplin dalam mengajar akan membantu murid dalam menghafal dan memahami Al-Quran dengan lebih baik.

Senantiasa disiplinkan santri dengan waktu halaqah Al-Quran, jangan bermudah-murdah membiarkan mereka untuk tidur, ngobrol dan bermain di halaqoh.

7. Komunikasi yang Baik

Guru harus mampu menyampaikan materi dengan cara yang jelas dan mudah dipahami. Komunikasi yang efektif membantu murid menangkap pelajaran dengan lebih cepat.

Denga komunikasi yang baik pula nasehat yang disampaikan kepada murid akan lebih mengena dan mudah dipahami.

8. Sesuaikan Metode Pengajaran dan Tempat Halaqah

Setiap murid memiliki kemampuan yang berbeda, sehingga guru harus fleksibel dalam menyesuaikan metode pengajarannya agar setiap murid bisa belajar sesuai dengan kemampuannya.

Ada baiknya guru Quran sesekali memindah tempat Halaqoh, semisal ke kebun, taman dan semisalnya agar para murid tidak jenuh dengan suasana yang ada.

Selain itu usahakan ruang Halaqoh lapang dan luas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

خير المجالس أوسعها

“Sebaik-baik majlis adalah yang paling luas”
(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani)

9. Memotivasi dan Menginspirasi

Guru harus bisa memberikan motivasi kepada murid untuk mencintai Al-Quran, baik melalui contoh perbuatan, cerita inspiratif, atau nasihat yang penuh hikmah.

Syaikh Shaleh Al Ushoimi menerangkan akan pentingnya sifat Nasih (pemberi nasehat) pada pribadi seorang guru

Seorang guru keliru bila ia megira bahwa hubungannya dengan murid hanyalah sebatas menyampaikan materi pelajaran saja, padahal sebenarnya ada perkara lain yang tidak kalah penting dari itu, yaitu memberikan nasehat kepada murid. Bukankah telah sampai kepada kita sebuah hadia dari sahabat Tamim Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama adalah nasehat.”

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, seorang guru Quran dapat membantu muridnya tidak hanya dalam mempelajari Al-Quran secara teknis, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan langkah kita dalam mempelajari dan mengajarkan kitab-Nya.

Referesnsi: Hilyah Ahlul Qur’an fii Aadabi Hamalati Al-Qur’an Al-Karim, Markaz ad-Dirosaat wa al-Ma’lumaat Al-Quraniyyah Mahar al-Imam asy-Syatiby

donatur-tetap